'Ten, cepatlah pulang, temani adikmu yang manis ini menonton pertandingan baseball'
Ten mengerutkan dahi saat membaca pesan dari Tern. Ia baru saja menyelesaikan semua kelasnya hari ini. Dan sejak kapan adiknya ini menyukai baseball?
Tangannya mulai mengetik balasan untuk pesan dari adiknya 'Tidak mau, kau kan bisa menontonnya bersama Both'
'Both yang bertanding, bodoh. Ayolah, atau kau mau foto-foto memalukanmu aku sebarkan ke teman temanmu hah?'
Adiknya ini pandai sekali membuatnya tidak berdaya. Dia benar benar tau cara mengancam kakaknya. Kalau begini caranya Ten tidak akan punya pilihan lain.
'Cih, baiklah'
Setelah membalas pesan terakhirnya. Ten memilih untuk pulang naik bus, untuk apa susah susah berlari seperti tadi pagi hanya untuk menemani adiknya menonton pertandingan baseball pacarnya.
Ten turun di halte yang berjarak sekitar tiga ratus meter dari rumahnya. Keberangkatan bus tadi sempat tertunda selama sekitar lima belas menit karena gangguan pada mesin bus. Ia mengecek waktu dari handphonenya, sudah lewat tiga puluh menit sejak Tern mengiriminya pesan. Ten berani bertaruh, adiknya pasti sudah menunggu di depan gerbang rumah mereka. Dan jika Ten sudah tiba, ia pasti akan langsung menyeret kakaknya tanpa membiarkannya mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu.
Dan benar saja, Tern sudah berdiri di depan gerbangnya dan membawa tote bag? Ia tidak heran jika adiknya hanya membawa tas, tetapi kali ini ia membawa dua tas, salah satunya adalah tas selempang kecil yang ia biasa bawa saat bepergian. Namun tas yang satunya lagi, tote bag itu terlihat penuh dan Ten bisa menebak kalau isinya adalah pakaian karena ia dapat melihat kain yang sedikit keluar dari tas tersebut. Apa yang sebenarnya direncanakan oleh adiknya? Bukankah mereka hanya akan menonton pertandingan baseball?
"Akhirnya kau datang juga. Ayo cepat!" Tern menarik pergelangan tangan Ten segera setelah matanya menemukan sosok kakaknya itu. Tidak memberikan waktu bagi kakaknya untuk protes. Dan mereka berjalan menuju halte tempat Ten turun tadi.
Heh, seharusnya dia menelpon adiknya saja tadi. Perjalanan tiga ratus meter yang sia sia.
"Tern, kenapa kau membawa banyak pakaian?"
Langkah kaki adiknya terhenti sejenak, otomatis Ten juga ikut diam. "Diam saja, kau akan tahu nanti"
Kenapa Tern menyuruhnya cepat cepat kalau perbandingannya belum menunjukkan tanda tanda akan segera dimulai sampai sekarang?
Ten merintih, memegang perutnya yang kesakitan, dia tidak ada makan apa apa selain makan siang tadi. Apalagi ia sempat mengeluarkan sebagian isi perutnya karena karena melihat lovebirds yang baru saja bertemu itu. Ugh, lambungnya meronta-ronta ingin diisi. Ten menatap penuh harap ke adiknya, meminta izin untuk mengisi perutnya yang kosong.
Tern mendengar rintihan kakaknya. Kepalanya menunduk melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya, pertandingan akan dimulai empat puluh lima menit lagi, masih ada cukup banyak waktu. Ia menatap kakaknya lalu mengangguk seolah mengerti apa yang diinginkan oleh kakaknya. Tetapi sebelum itu, Tern menyerahkan tote bag yang ia bawa pada Ten.
"Ganti pakaianmu, aku tidak ingin mempermalukan diriku di depan Both dengan membawa rainbow cake yang bisa berjalan."
Kali ini Ten mendengus, tentu saja, apa yang ia bisa harapkan dari orang sekitarnya, terutama Tern? Tidak ada yang pernah benar-benar perhatian padanya, kecuali kedua orangtuanya.
Masa bodoh, lebih baik ia segera mengganti pakaian dan mengisi perutnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Ten untuk menemukan toilet di stadion yang benar-benar luas ini. Instingnya sangat kuat, padahal luas stadion ini kemungkinan sama seperti luas stadion permainan sepakbola yang pernah ia tonton dulu.
Ten mematut dirinya di depan cermin toilet, merapikan rambutnya yang berantakan. Adiknya membawakannya t-shirt kebesaran yang berwarna abu-abu. Beserta celana jeans yang panjangnya hanya mencapai setengah pahanya. Ten mundur sedikit dari posisinya, dan mengetahui kalau ia memasang celananya terlalu keatas. Hah, kalau seperti ini ia terlihat seperti tidak memakai celana. Ten membenarkan posisi celananya, setidaknya agar dapat terlihat dari luar.
Selesai!
Sekarang tinggal mengurus masalah pada perutnya. Kafetarianya tidak berada jauh dari toilet, atau lebih tepatnya, Ten mengganti pakaian di toilet yang berada di kafetaria.
Ten membaca dengan seksama daftar harga makanan yang terpasang di buku menu. Matanya membelalak 'Kenapa mahal sekali!'
Ia merogoh dompet yang berada di dalam tasnya. Mengecek isinya, lalu membandingkannya dengan harga masing masing menu yang ada. Dan menemukan fakta bahwa ia hanya dapat membeli sepotong kebab size medium. Yah, lebih baik daripada membiarkan lambungnya kesakitan dan membuatnya meninggalkan seluruh kelas pada keesokan harinya.
Ten menghela nafas, ini adalah hari terburuk sepanjang sejarah hidupnya. Terlalu banyak kejadian yang tidak diinginkan terjadi hari ini.
Pelayan itu menyodorkan Ten sebuah nampan yang diatasnya terdapat kebab pesanannya. Ten tersenyum kecil dan menggumamkan 'terima kasih' sebelum mengambil makanannya dan melenggang pergi keluar dari kafetaria.
Jujur saja, ia sangat takut berada di dalam sana tadinya. Ruangannya cukup luas, namun hanya ada beberapa orang di dalam sana. Pencahayaannya juga tidak terlalu bagus, Ten dapat merasakan lampu yang berada di sudut sana berkedip-kedip sejak tadi. Apalagi suhu di dalam sana lumayan rendah karena pendingin ruangan di dalamnya.
Bulu kuduknya merinding membayangkan suasana di kafetaria tadi. Persetan, yang penting saat ini Ten sudah aman dari gangguan hantu dalam khayalannya. Kakinya bergerak menuju tempat pertandingan semula, mencari-cari keberadaan adiknya dan bersorak kecil saat menemukannya.
Tangan kanannya membawa kebab size medium, tangan kirinya menenteng tote bag yang berisi pakaian yang dipakainya tadi pagi, sementara di punggungnya masih setia menempel tas ransel kesayangannya.
Ten dapat merasakan beberapa pasang mata memperhatikannya, dan ia juga sempat mendengar ada yang mengatakan tubuhnya ini begitu ramping untuk seukuran laki-laki. Sebagian besar yang berbicara adalah perempuan. Tapi Ten tidak peduli, ia yakin adiknya sudah memilih pakaian yang benar untuk kakaknya.
Tern membelalakkan matanya setelah melihat penampilan kakak tercintanya. "Oh my god, Ten, kenapa kau memakai celana milikku?! Oh tapi tidak apa-apa, kau cocok memakainya"
What? Jadi ini celana adiknya? Heh, pantas saja bentuknya seperti ini. Lagipula, lebih baik mana pakaiannya tadi dengan yang sekarang?
"Bloody hell, jadi celana ini milikmu? Kenapa kau memasukkannya kedalam tas sialan ini?!"
"Tidak tahu!" Tern membentak kakaknya. "Kalau kau ingin protes terus, sekarang juga lepaskan celana milikku dari pinggangmu!"
"Tidak, tidak, tidak. Aku menyukainya." Lebih baik Ten mengalah daripada harus berurusan dengan adik sialannya ini. "Dan sekarang aku akan diam." Ia benar-benar berhenti berbicara dan memakan kebabnya dalam hening. Beberapa orang pasti sudah mengomentari betapa berisik kedua kakak beradik ini. Tetapi Ten tidak peduli, ia sudah terbiasa dengan tatapan aneh dari orang lain, entah karena pakaiannya atau apapun itu.
Matanya mengekori arah kemana bola melayang. Ia tidak tahu tim mana yang harus didukungnya, bahkan ia tidak tahu dalam Tim mana Both berada. Ten melihatnya, namun ia tidak tahu yang mana teman satu timnya. Semua terlihat sama, seragam kedua tim terlihat mirip. Alisnya berkedut, bagaimana mungkin orang yang masih melajang bisa menonton pertandingan ini dengan baik. Ia membayangkan bagaimana jadinya jika salah satu pemain disana masih melihat dunia yang hitam putih. Pasti akan sangat sulit baginya
"YAYY HOME RUN! BOTH! AKU MENCINTAIMU"
Ten terkesiap. Teriakan adiknya menyadarkannya dari lamunannya. Ia kembali melihat ke lapangan pertandingan. Tidak ada yang menarik, seumur umur ia tidak pernah tertarik dengan olahraga yang bernama baseball ini.
Menghela nafasnya, Ten menyadari bahwa ia kemari untuk menghibur dirinya, bukan malah menambah beban pikiran otaknya. Ralat, sebenarnya Ten hanya mengikuti permintaan adik manisnya yang satu ini.
Terserah lah, Ten akan menonton pertandingan ini dengan khidmat mulai detik ini. Ten menutup mata, mengatur hembusan nafasnya, menenangkan pikirannya. Kemudian ia membuka matanya secara perlahan.
Dan menemukan sebuah bola berwarna putih dan garis merah sedang melaju kencang ke arahnya.
"KAKAK! AWAS!"
Ten terduduk di atas ranjang di dalam ruang kesehatan. Tidak, dia tidak ada pingsan sama sekali. Tangan kirinya menahan seplastik es batu yang ditempelkan di lengan kanannya, tempat dimana bola baseball itu mengenainya. Dan Tern duduk di sebelahnya, asyik memainkan ponsel, anak itu
Ten bersyukur, untung saja bukan wajah tampannya yang menjadi sasaran. Kalau iya, baseball akan menjadi urutan paling pertama dari semua hal yang dibencinya, menomorduakan adiknya.
"Hei, Tern.." Ten menaruh plastik es batunya di atas mangkok yang ditaruh di nakas sebelah ranjang yang kini ia duduki.
Masih dengan mata yang melekat di layar ponselnya, adiknya menjawab. "Ya?"
"Bagaimana rasanya?"
"Hah?" Tern mematikan layar ponselnya lalu menaruhnya diatas ranjang. "Apa maksudmu?"
Dapat dirasakannya pipi miliknya sendiri memanas. "I-itu, saat kau pertama kali bertemu dengannya, dengan Both"
Tern terdiam sejenak, "Rasanya sangat menakjubkan," senyuman kecil terbentuk di bibirnya "Kau akan dengan mudah menemukannya dilautan banyak orang, sesuatu yang bercahaya, atau kalau kau beruntung, kau dapat melihat beberapa warna lain, aku bahkan bertemu dengan Both saat sedang menonton konser." Sunggingan senyum di bibirnya semakin melebar. "Lalu saat bagian tubuhmu bersentuhan dengannya, ledakan warna akan menyebar dari titik itu. Dan kau akan melihat dunia dalam warna yang berbeda."
Mata Ten berbinar, apakah benar-benar semenakjubkan itukah bertemu dengan orang asing itu? Sungguh, ini membuatnya ingin segera merasakan perasaan menakjubkan seperti yang dikatakan adiknya.
"Kau akan segera merasakannya, aku yakin" Tern berdiri, beranjak dari tempat duduknya. "Dan aku ada kencan dengan Both setelah ini, kalau kau mau pulang, pulang saja sendiri. Katakan pada ibu untuk mempercayakan anaknya yang manis ini pada pasangannya, byee" Setelah kalimat terakhirnya Tern pergi dan menutup pintu ruangan kesehatan.
Adiknya itu cenayang, dia bisa menebak hal hal yang akan terjadi dengan tepat. Berarti, boleh saja kan kalau Ten mengharapkannya agar segera terjadi?
Baru saja Tern menutup pintunya, tak sampai semenit kemudian, pintunya kembali terbuka dan menampilkan sesosok pemuda, sudah pasti bukan adiknya, entah siapa Ten tidak mengenalnya. Tetapi dari pakaian yang dikenakannya, sepertinya ia merupakan salah satu anggota tim yang tadi bermain.
Terbentuk kerutan di dahi milik Ten. Bertanya-tanya apa tujuan orang itu kemari. Semoga saja bukan untuk melemparinya dengan bola baseball lagi. "Kau yang melempariku dengan bola baseball tadi?"
Orang itu tertawa kecil. "Ah, iya. Sebagai kapten tim, aku minta maaf atas kesalahan temanku tadi. Ia tidak bermaksud melemparnya kearahmu"
Ten mendesah pelan, kenapa malah orang lain yang meminta maaf padanya. Sudut bibirnya ia tarik keatas, membentuk senyuman yang dipaksakan, berusaha bersikap ramah.
"Dimana temanmu itu?"
"Dia masih di luar sana. Karena terlalu lama memikirkan apa yang harus ia katakan untuk meminta maaf, jadi aku kemari terlebih dahulu." Orang itu memposisikan dirinya untuk duduk di sebelah Ten.
"Oh, begitu." Ten bergeser menjauh, menjaga jarak dengan orang asing itu. Ia terlihat sangat kecil saat berada di sebelah orang bertubuh jangkung itu.
"Johnny,"
Ten terdiam, berusaha mengerti apa maksudnya.
"Namaku," lanjutnya.
"Oh! Johnny, aku Ten" kali ini senyuman lebar yang menghiasi bibir Ten. Entah sudah berapa lama sejak dia mempunyai kenalan baru.
Johnny terkikik mengetahui betapa lucu makhluk di depannya ini. Tangannya terulur untuk mencubit pipi milik Ten. "Oh, astaga. Ten, bisakah kau berhenti bersikap menggemaskan?"
Ten tertawa bahagia, kapan terakhir kali orang lain memujinya?
"Hyung? Kupikir kau sudah punya pasangan?"
Kedua orang yang berada dalam ruangan tersebut menoleh secara bersamaan ke asal suara. Johnny melepaskan pegangan tangannya dari kedua pipi Ten. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, suasana disini canggung sekali.
Ten menunduk, ia sepintas melihat warna coklat di jaket orang itu. Pipinya memanas, jantungnya berdegup kencang, kedua tangannya meremas celana pendeknya. Coklat, warna yang ia lihat pertama kali adalah coklat.
Dengan tetap menundukkan kepala ia berbisik pada Johnny "Siapa dia?"
"Taeyong, orang yang tadi memukul bola sampai mengenaimu"
Oh?
Ten mendongakkan kepalanya, dan menemukan sepasang iris dark brown tengah menatapnya juga, kedua pasang manik mereka bertemu. Ia terdiam, otaknya bekerja dengan lambat hari ini.
"Ekhem, aku masih disini" Johnny mencoba memecah keheningan.
Hening, tak ada balasan. Baik Ten ataupun Taeyong terlalu sibuk memperhatikan satu sama lain. Empat buah sudut siku-siku terbentuk di sisi pelipis Johnny, ia benci saat-saat seperti ini. Persetan, suhu di dalam sini benar-benar meningkat, lebih baik ia segera keluar.
Dan kini tinggal mereka berdua.
Taeyong menoleh ke belakang, mengecek apakah Johnny sudah benar benar pergi atau belum. Setelah benar benar memastikan kalau orang itu sudah pergi, Taeyong menutup pintu ruang kesehatan. Ia berjalan ke depan, menuju Ten yang masih duduk di sisi ranjang.
"Hai," Taeyong menyeringai kecil. "Kita belum berkenalan kan?" Tangan kanannya ia ulurkan kedepan.
Ten sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah kurva terbentuk di bibirnya. Dengan yakin, ia menyatukan kedua tangan mereka.
Dan yang terjadi selanjutnya benar benar menakjubkan, persis seperti yang dikatakan oleh adiknya. Saat kedua telapak tangan mereka bersentuhan. Ten dapat melihat ledakan warna menyebar dari sana. Jantungnya berdegup dengan kencang, nafasnya tercekat di pangkal tenggorokannya. "Kau melihatnya?"
Taeyong mengerutkan keningnya "Apa maksudmu? Aku tidak melihat apapun"
Ten melempar tatapan datar. Orang di depannya ini harus belajar berakting lagi. Oh tentu saja, karena Ten suka bermain roleplay
"Ahaha," Taeyong tertawa canggung, tidak menyangka kalau aktingnya ketahuan. "Aku Taeyong, orang yang mencetak homerun sampai mengenaimu." Ia tertawa kecil. "Maaf, aku tidak sengaja."
"Aku Ten —pasanganmu?" Ten tersenyum, matanya memperhatikan tiap lekuk wajah Taeyong, mulai dari ujung rambut, kening, mata, hidung, garis rahangnya, hingga berhenti di bibirnya. Ia terdiam, namun otaknya memikirkan hal-hal lain. Entah apa yang dipikirkannya hingga membuat wajahnya memerah.
"Kita baru saja bertemu dan kau sudah memikirkan macam-macam, eh?" Taeyong melepaskan jabatan tangan mereka berdua.
Detik selanjutnya, Ten menemukan dirinya sendiri melompat memeluk Taeyong, mencoba menutupi rasa malunya. Dan, hampir saja mereka terjatuh kalau bukan karena Taeyong yang sigap menahan beban tubuhnya.
Yang lebih tinggi diantara mereka berdua mengusap-usap surai hitam milik pasangannya. Bibirnya ia dekatkan ke telinga kanan orang yang sedang ia peluk
"Terimakasih telah hadir dalam hidupku, mewarnai dunia yang hitam-putih ini." Segaris senyum terbentuk di bibir Taeyong."Thanks, you make my life colorful"
Ten tersenyum, percayalah, bertemu dengan orang baru tidak pernah semenyenangkan ini baginya. Kedua telapak tangannya mendorong dada Taeyong dengan perlahan, mencoba melepaskan pelukan mereka berdua.
"Ten,"
Ten mendongak, mempertemukan kedua pasang manik mereka. "Ya?"
Taeyong meraba lengan kanan Ten, di area kulitnya yang membiru. "Apakah ini sakit?"
"Apakah aku perlu menjawabnya?" Ten menghela nafas. "Kalau aku boleh jujur, aku tidak pernah merasakan memar sampai sesakit ini. Pukulan home run-mu kuat sekali."
Mata Taeyong membulat, mulutnya menganga tidak percaya. "Oh Crap, aku benar benar minta maaf. Aku tidak bermaksud, sungguh." Ia menggigit bibirnya sendiri, takut kalau Ten tidak mau menerima permintaan maafnya.
Ten tertawa kecil "Ekspresimu lucu sekali," tatapan matanya melembut, "Kalau pukulanmu tidak mengenaiku. Bukankah kita tidak akan bertemu hingga saat ini?"
Taeyong tersenyum, benar juga apa yang dikatakannya. Heh, haruskah ia bahagia telah mengenai pukulan home run-nya ke orang lain?
"Ten,"
"Apalagi?"
"Lain kali, kau jangan menggunakan celana sependek ini. Aku tidak suka." Bibir Taeyong mengerucut.
"Kalau aku menggunakannya lagi, apa yang akan kau lakukan?" Ten terkikik. Lagipula, lelaki mana yang mau memakai celana milik adik perempuannya berkali-kali.
Mata Taeyong memicing tajam. "Oh, tentu saja aku akan menghukummu"
Ten menyeringai, ia tahu kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut. "Baby will looking forward for it." Ten mengalungkan kedua lengannya di leher Taeyong.
Kini, giliran Taeyong yang menyeringai "Kau agresif sekali, eh?" Tangan kirinya meraih pinggang Ten, menariknya mendekat, sementara tangan kanannya membingkai wajah sebelah kiri Ten, mengusap-usap pipinya dengan pelan sebelum ia merunduk dan dengan perlahan namun penuh keyakinan, Taeyong menghapus jarak diantara mereka berdua. Ten menutup matanya, merasakan hembusan nafas Taeyong menggelitik pipinya. Bibir mereka bertemu, Ten mengerang pelan. Dengan lembut, tangan Taeyong merangkak menuju tengkuk pasangannya, menariknya mendekat untuk menuntut lebih. Ten tersentak ketika merasakan lidah Taeyong menyapu bibirnya, sebelum akhirnya mengeratkan kedua lengannya yang masih ia kalungkan di leher Taeyong, membiarkan instingnya mengambil alih permainan ini. Taeyong membiarkan Ten menjelajahi seluruh isi mulutnya, membuatnya mendominasi permainan kali ini.
Ten yang pertama kali melepas ciuman mereka, kedua alisnya tertekuk. Taeyong memandangnya heran "Kau kenapa?" Tanyanya.
"Kenapa kau diam saja tadi?!"
"Pfft" Taeyong menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, menahan tawa yang ingin keluar dari bibirnya. "Jadi karena itu?"
Ten memalingkan wajahnya, menolak untuk menjawab pertanyaan yang diberikan untuknya.
Taeyong menghela nafasnya. "Ayolah, jangan seperti ini." Tangan kanannya ia gunakan untuk mengubah posisi kepala Ten agar menghadapnya, ia mendorong dagu Ten keatas agar pandangan mereka bertemu. "Kalau begitu, biarkan aku melakukannya lagi." Taeyong merunduk, berniat mencium pasangannya lagi.
"Aku harus menunggu berapa lama lagi agar kalian menyadari keberadaanku?"
—atau tidak
Taeyong meneguk ludahnya kasar, Ten juga sepertinya melakukan hal yang sama, ia memutar badannya agar bisa melihat orang yang berada di belakangnya.
"TERN! Oh my gosh!"
Taeyong menoleh ke belakang, berbisik pelan "Siapa dia?"
Ten mengisyaratkan Taeyong untuk diam sebentar. Nafasnya tidak beraturan, "A-apa yang kau lakukan disini? B-bukankah kau ada kencan dengan Both?" Ten menggigit bibirnya, merutuki kebodohannya yang hampir berciuman dengan pasangannya di depan adiknya sendiri.
"Tidak usah gugup begitu, aku sudah melihatnya dari awal." Tern melenggang santai memasuki ruangan, mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. "Aku hanya ingin mengambil ini." Ia menepuk pundak kakaknya dan berbisik "Baru beberapa menit lalu aku mengatakannya, dan sekarang kau sudah menemukan orang itu. Aku ikut bahagia, dengan ini, aku tidak perlu malu mengajakmu kemana mana." Kemudian Tern melenggang pergi meninggalkan kakaknya. Menutup pintu ruangannya kembali.
Ten menarik ujung jaket Taeyong, kepalanya menunduk. Taeyong yakin pipinya pasti memerah saat ini. Ia dapat menebaknya dengan mudah hanya dengan melihat telinganya yang juga memerah.
"D-dia melihat semuanya, dari awal" Ten berkata pelan, namun Taeyong masih dapat mendengarnya.
"Lalu, apa masalahnya? Ia tidak keberatan kan?"
Ten mengangkat kepalanya, wajahnya merah padam saat ini. Taeyong berkali kali mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak menyerang makhluk imut dihadapannya ini. "A-aku yang malu, tahu!"
Taeyong sudah diambang batas kesabarannya, kenapa orang seimut ini bisa diciptakan? Tinggal satu dorongan lagi, dan ia tidak akan segan-segan menyerang Ten saat ini juga.
Ten membenamkan wajahnya di dada Taeyong, menutupi wajahnya yang merah padam saat ini. Hidungnya mengendus-endus baju yang dikenakan pasangannya saat ini. "Aroma tubuhmu seperti aroma musim semi, kau tahu itu?"
"Tidak, aku tidak pernah menyempatkan waktu untuk mencari tahu seperti apa aroma tubuhku." Taeyong terkikik. "Lagipula, sudah ada kau yang memberitahuku."
Ten tersenyum, ia menengadahkan kepalanya ke atas. Pasangannya ini dilihat dari sudut manapun tetap terlihat menawan. "Tae," matanya berbinar menatap Taeyong penuh harap. "Lagi."
Kening Taeyong berkerut. "Apanya yang lagi?"
Ten menggembungkan pipinya. "Tidak jadi." Ia berjalan menjauhi Taeyong, kakinya ia hentak-hentakkan dengan keras.
Sebelum Ten dapat membuka pintu ruangan, Taeyong menarik pergelangan tangan Ten. Membawa tubuh mungil Ten ke dalam rengkuhannya. Tangannya ia sisipkan ke pinggang pasangannya
"Maksudmu ini?" Sebelum Ten sempat menjawab, Taeyong sudah menariknya kedalam sebuah ciuman yang hangat. Ten menutup kedua matanya, menikmati semua momen kebersamaan mereka. Tidak seperti ciuman pertama mereka, kali ini hanya ciuman lembut yang penuh dengan perasaan dari masing-masing pihak.
Ten mendorong pasangannya, merengut kesal. "Aku membencimu!"
Taeyong tersenyum. "Aku juga mencintaimu."
Dan ia menarik Ten kedalam pelukannya. Ten menarik kedua sudut bibirnya keatas.
'Bahkan, setelah hujan deras sekalipun akan selalu ada pelangi bukan?'
Fin
Lol, segini aja? XD oke, saya tau ini pendek, alurnya kecepetan. Saya sendiri ngga puas pas baca ulang. Tapi ya mau gimana lagi, saya masih kena writer block, huhu.
Ps NCT DREAM Debut! Omg, my babies are so damn cute. I'm a proud mom
Special thanks to : 238130821217, TiwaiGF95, tenneo3, taetenrise2701 (especially, for our almost 5 pages long pm xD), 1004jh, smoppi, AnggiChannieYL, teny, chitchit, nichi, Chikuma Aihara, TaoRisJae, pandagame, , octo93, mroseh, bngtnxoap, Ryuu Sakamaki, MrsChoi305, Hime Taeyong, Fujoshimulfan, xyzhangie, nana nct, dalnim96, dan semua yang sudah nyempatin waktu buat baca ff ini :))
Akhir kata, byeee. Sampai jumpa di judul berikutnyaa~~
