Kenalan,
Chapter 2
Disclaimer: Naruto dan chara-charanya hanyalah milik Masashi Kishimoto-sensei semata
.
.
.
"Dari angle yang begini, kalau memakai lensa yang begini…"
Naruto yang duduk di bangku paling belakang sebagai peserta seminar fotografi (beberapa anak jurnalis merasa kalau pesertanya kurang sehingga mereka mencomot beberapa anak secara random untuk mengikuti seminar dengan iming-iming gratisan) menoleh ke arah Sasuke yang baru saja bergabung.
Sasuke memang tidak ada sangkut pautnya dengan fotografi. Namun karena dia merupakan anggota OSIS yang mengurusi ekskul jurnalisitik, maka dia mau tidak mau mengikut saja. dia segera bergabung di dekat Naruto karena seluruh bangku depan telah terisi penuh.
Seorang panitia memberikan sebuah kotak berwarn putih yang berisi lima macam kue-kue untuk Sasuke. Sasuke hanya ber-'hn' ria. Hal itu cukup membuat sang cewek yang memberikannya merasa kecewa. Naruto hanya menahan tawa sambil mengambil sepotong brownies.
Sasuke hanya mengambil kertas-kertas yang berisi materi yang disampaikan. Tanpa menoleh kea rah kotak yang masih saja dipegangnya dengan tangan kanannya. Setelah mengambil kertas-kertas materi, dimasukkannya kotak berisi kue-kue tadi ke dalam tas.
Naruto penasaran.
"Ne Teme."
"Hm?"
"Kalau enggak mau kasihkan aku aja. Di dalam kotak ada jajan yang mudah basi lho! Kan sayang dibuang…"
Sasuke mengambil kotak yang baru saja dimasukkannya ke dalam tas dan meneliti isinya. Naruto pun ikut-ikutan melongok ke dalam. Anjrit! Kuenya dobel-dobel porsinya! Apakah ini efek dari menjadi 'orang penting'?
"Kita pulangnya jam berapa?"
"E-eetoo…. Oh ya! Jam 12 an kali! Kan kita bebas setelah istirahat nanti!"
"Sou."
Sasuke menoleh ke arah jam tangannya dan membuat gerakan menghitung.
"Kurasa masih ada waktu," ucap Sasuke. Dia lalu menoleh ke arah samping kanan dan menemukan Naruto dengan puppy eyes no jutsu. Sasuke menghela napas dengan mengambilkan sebuah kue tart ukuran kecil untuk Naruto. Naruto menerimanya dengan takzim.
"Makasih brohhhh! Muahahaahaha!"
"Jika kau teruskan sekali lagi, kau akan mengganggu acara seminar- puh!"
Tiba-tiba saja Sasuke menunduk dan terlihat seperti seseorang yang sedang menahan tawa. Naruto mulai meraba dahi Sasuke namun sebelum hal itu terjadi Sasuke sudah kembali ke posisi stoic-nya lagi. Naruto mulai menanyakan kewarasan sahabat sekaligus rivalnya ini.
"OI Teme! Kau tidak sedang menertawakanku,'kan?" ucap Naruto dengan nada was-was. Sasuke? Bercanda? Naruto yakin kalau Sasuke bercanda pasti akalnya sudah jauh dari batas normal.
"Aku hanya teringat akan impresi Sai mengenai dirimu."
Naruto melongo.
"Dia bilang kau harus menjauh dari anak-anak yang membawa balon."
Balon?
"Maksudnya?"
"Ya cari saja sendiri. Sai bilang dia tidak ingin kau tahu mengenai impresi yang dia pakai."
Walah!
Enggak Sasuke, enggak Sai, semuanya sama saja dan sukses membuat Naruto panas tepat di ubun-ubun. Apakah ini juga termasuk dalam sikap mereka sebagai anak yang kembar? Sampai sebegitunya?
"Ne Sasuke,"
Sasuke masih sibuk dengan daftar materi yang dipegangnya namun arah ekor matanya masih memperhatikan Naruto.
"Sai sekolahnya dimana?"
Sasuke melirik sebentar ke arahnya dan menulis sesuatu di kertas materi.
"Home-schooling."
"O-oh… njaa…"
"Dengan keadaan seperti itu masuk sekolah yang normal? Apa kau bercanda, Dobe?"
Naruto menyesal menanyakannya. Seharusnya dia bisa mempertimbangkan segalanya sebelum bertanya dan sekarang jadinya begini. Naruto hanya bergerak canggung dan kembali memperhatikan penjelasan pemateri. Meskipun dirinya hanya berpura-pura dan lebih melirik ke arah Sasuke yang masih memperhatikan pemateri dengan wajah stoic-nya.
"Sorry ya."
"Hm?"
Dan entah kenapa Naruto benar-benar 'tidak tega'.
.
.
.
"Woy Teme! Kau masih punya catatan yang dulu itu engga? Tentang sifat koligatif larutan apa unsur yang gitu-gitu?"
Sasuke hanya menengok sedikit dan kembali menata buku-bukunya. Untuk ukuran cowok cool, pasti tidak ada yang menyangka kalau susunan buku di dalam tasnya benar-benar teratur. Buku-buku diurutkan dari yang ukuran paling luas yang berada di belakang dan yang berukuran sempit di depan. Naruto sendiri sampai terperangah. Benar-benar cowok idaman pria.
"Hari ini tidak ada pelajaran kimia," ucap Sasuke singkat dan agak menjauh dari topic yang disebutkan oleh Naruto. Namun sebagai sahabat yang sudah paham tingkah laku Sasuke, Naruto tahu maksud SAsuke.
"Njaa…. Aku ke rumah kamu saja ya! Kan kimianya masih tiga hari lagi. Minjem catetanmu dulu ya! Biar aku fotokopi…"
Sasuke hanya ber-'hn' ria.
Naruto tertawa bahagia.
Sebenarnya Naruto bisa saja meminjam catatan para siswi yang berada di kelasnya. Selain tulisan mereka bagus-bagus dan setara dengan buku paket mata pelajaran, rasanya kurang afdol saja kalau tidak minta tolong sama sahabat dekatnya dulu.
Sasuke saja tidak keberatan kok.
Mereka berjalan beriringan sambil diiringi Naruto yang malah sibuk bersiul-siul penuh kebahagiaan. Catatan Sasuke itu sudah persis bak buku paket isinya. Cuma bedanya hanyalah lebih ringkas saja. berbeda sekali dengan catatan Naruto yang isinya Cuma rumus-rumus dan bagan-bagan sok pinter yang ujung-ujungnya ketika di baca lagi, si empunya bingung itu rumus apa.
Mereka memasuki rumah Sasuke yang bergaya ala Jepang tradisional. Naruto sampai kebingungan mau bagaimana dan lebih baik menunggu si empunya rumah masuk duluan dengan tujuan agar dia bisa meniru segala macam gerakan Sasuke.
Dan ketika sampai di ruang tengah, Naruto hampir saja melompat kaget ketika menemukan sesuatu yang berada di atas sofa. Sasuke menghela napas berat dan berjalan ke arah sofa. Dengan perlahan ditepuknya sesuatu yang mirip bahu (courtesy of Naruto sebenernya).
Dan sosok di balik selimut itu segera terbangun. Dan Naruto pun terperanjat ketika melihat si kulit pucat itu lagi. Sai terbangun dan mengucek-ucek kedua matanya.
"Maaf ketiduran."
"Hn."
Naruto pun hanya bisa duduk di bawah sambil menyaksikan Sai yang beringsut mengganti posisi tubuhnya dari berbaring menjadi duduk. Sasuke pun mengambil space yang tersedia dan segera melepaskan tas ranselnya.
"Siapa yang naruh?"
Naruto cengo.
Apanya yang naruh?
"O-oh, entahlah. Mungkin saja Onii-san."
"Itachi masih mau pulang tiga hari lagi."
"Mana kutahu. Seingatku aku sedang menonton televise dan tahu-tahu kau membangunkanku."
"Jam berapa?"
"Enggak tahu."
Sasuke tiba-tiba menatap Sai tajam. Naruto bahkan berniat untuk mencari perlindungan di kantor polisi terdekat. Namun Sai yang berada di depan Sasuke hanya menaikkan bahunya bak melihat Sasuke dalam keadaan normalnya. Sungguh, Naruto hanya bisa bertindak sebagai penonton disini. Meskipun dia lebih memilih duduk-duduk dan (pura-pura )sibuk dengan tasnya , percakapan di atas sofa lebih menarik perhatiannya.
"Kau susah tidur tadi malam?"
"Hm?"
"Lupakan," ucap Sasuke sambil mengambil kotak berisi kue yang didapatkannya dari acara seminar fotografi tadi. Jadi ini maksudnya Sasuke menyimpan kotak berisi kue-kue tadi? Untuk dikasihkan ke Sai?
"Hm?"
Sai dengan polosnya masih menggosok kedua tangannya dengan lengan kanannya. Ketika disodori sebuah kotak, Sai hanya menghentikan sebentar kegiatannya dan melirik Sasuke dengan mata kirinya yang memicing.
Karena tidak sabar, Sasuke hanya mendorong kotak itu hingga ke dada Sai dan melepaskannya. Diluar perkiraan Naruto, Sai dengan reflek menangkap kotak itu dengan satu tangan.
'Kurasa dia tidak terlalu parah dari yang kuperkirakan.'
Setidaknya itulah yang berada di benak Naruto sekarang. Sasuke hanya berjalan meninggalkan Sai yang sibuk melihat-lihat bagian luar kotak yang baru saja diterimanya. Sedangkan Sasuke kelihatannya berjalan menuju ke kamarnya.
Dia kemudian menoleh ke arah Naruto yang cengengesan sambil menunjuk-nunjuk ke arah kotak yang dipegang oleh Sai.
"Buka aja. Dia bela-belain enggak nyicipin isinya demi kamu lho."
"Sou."
Sai pun membuka kotak itu dan reaksi muka yang berbinar-binar (yang dinanti Naruto) tidak muncul. Yang ada hanyalah ekspresi datar sambil menilik-nilik isi kue yang ada bak kue-kue itu begitu asing di matanya.
Hingga Sai mengambil sebuah kue yang Naruto ketahui bernama kue 'mochi'. Sai hanya memandanginya dan pandangannya beralih pada Naruto yang cengo.
"Ini cara makannya gimana? Digigit gitu? Kok lengket gini?"
Naruto pun tertawa terbahak-bahak sambil berguling-guling di atas tatami.
"Woah! Sai! Becandamu kelewatan bener dah! Masak enggak pernah ketemu sama tuh kue sih?! Aneh-aneh saja!"
Namun ekspresi serius Sai membuat Naruto bersikap kikuk. Dia segera menghampiri Sai dan mengambil satu lagi kue mochi untuk mengajari Sai. Dengan gaya sok seorang Sensei yang 'ahli', dia mengajari Sai cara makannya.
"Ini ya… diginiin… terus dimakan… hoaaaammm…. Dan humpphhnyaaahhh…. Nyem-nyem-nyem…."
Sai hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Naruto. Namun apa daya, mulut si pemakan segala ala Naruto tidak sebanding dengan kemampuan Sai yang masih 'belajar'. Alhasil, Sai terbatuk-batuk dan suaranya menggema di mansion Uchiha yang begitu kental suasana tradisionilnya.
Naruto segera berlari ke tempat yang disebut sebagai 'dapur'. Dengan cepat diraihnya sebuah ceret untuk menuangkan segelas air di dalamnya. Dan Naruto pun dengan perlahan membantu Sai untuk minum.
Belum sampai tiga teguk, keadaan 'diperparah' ketika pintu dari ruang keluarga dibuka secara kasar. Dan muncullah Sasuke dengan keadaan masih memakai boxer dan menenteng kaos berwarna biru tua. Tubuhnya yang topless membuat kedua saksi mata menganga.
"SAI!"
Dan Naruto pun mulai membuat kesimpulan kalau datang ke rumah keluarga Uchiha dapat membuatmu membakar kalori di perut lebih banyak dibandingkan melakukan dribble dan pivot selama satu jam penuh.
"Aku tidak apa-apa. Cuma tersedak waktu makan kue tadi."
Namun Sasuke masih memiliki aura tidak percaya di wajahnya. Dia bahkan melupakan dirinya yang masih dalam kondisi yang mampu membuat para fangirl nosebleed berjamaah (menjadi anggota ekskul kendo cukup baik untuk mengimbangi antara kegiatannya yang cukup padat dan butuh 'pembentukan tubuh' ideal) dan menghampiri Sai dan Naruto. Diliriknya Naruto yang cengengesan dan ditemukan sisa kue mochi di sudut bibir Naruto.
"Siapa suruh kau makan kuenya?" ucap Sasuke dengan aura membunuh yang paling kuat. Naruto menunduk dengan takzim dan segera meminta maaf.
"Iya iya deh! Besok kuganti kuenya…."
"Kenapa harus ganti? Aku kan tidak keberatan. Lagipula ini kan punyaku," jawab Sai dengan polosnya dan suaranya sukses memecahkan suasana panas yang sedang terjadi di depannya. Sasuke menatapnya.
"Apa kau sudah lupa yang waktu itu?"
"Hm? Yang mana?"
Sasuke hanya menghela napas kekalahan.
"Sou. Kau sudah lupa."
"?"
"Lupakan."
Sai cemberut.
"Semuanya lupakan. Ini lupakan, itu lupakan. Mananya yang harus kuingat?" ucap Sai dengan agak sedikit penekanan. Namun di detik berikutnya, tidak ada jawaban dari Sasuke. Hal itu membuat Sai menunduk dan tersenyum miris.
"Soudesukana…. Jadi begitu… ya?"
Naruto hanya bisa mengangkat kedua tangannya dengan maksud menenangkan Sai. Sai hanya melihat ke arah Naruto dengan tatapan tidak senang. Dan hal itu sukses membuat Naruto kebingungan. Sasuke yang awalnya berniat untuk kembali ke kamarnya segera berbalik tajam ketika Sai bangkit dari sofa.
Sebelum Sasuke membuka mulut, Sai lebih dahulu menjawab pertanyaan yang belum sempat dikemukakan oleh Sasuke tanpa menoleh ke belakang.
"Mau pergi, beli pokari, ittekimasu," ucap Sai dingin dan berjalan keluar. Naruto segera menoleh ke arah Sasuke yang menaikkan tangan kanannya seperti ingin meraih sesuatu di depannya. Lalu dilihatnya Sai yang telah menghilang.
Dengan cepat dihampirinya Sasuke dan ditepuknya bahu sang raven.
"Apa yang kau lakukan! Cepat kejar dia, bodoh!" ucap Naruto. Namun Sasuke sepertinya lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dan hal itu cukup membuat Naruto geram dan berlari untuk mengejar Sai yang sudah di jalan.
Dengan cepat Naruto segera mengambil inisiatif untuk mengejar Sai. Meskipun dia masih merasa sebagai orang luar, entah kenapa semuanya terasa begitu déjà vu. Dia hanya merasakan kalau semuanya akan memburuk jika hal sesepele ini tidak segera ditangani.
.
.
.
To be continued.
.
.
Author's note:
Yeah! I'm back! –abaikan.
Gomen for the late update. Sebenernya Kasumi udah bikin 'oath' kalau di waktu luang bakalan Kasumi terusin. Tapi gara-gara ada temen Kasumi yang ngasih anime dengan muka mencurigakan akhirnya dia sukses bikin Kasumi fangirlingan ama tokoh yang pengisi suaranya Junichi Suwabe (itu tuh, yang juga ngisi suaranya sang panther di fandom anime olahraga sebelah….)
Yup, mohon abaikan dan disini Kasumi udah mantepin kalau jadinya ini friendship Sasu-Sai-Naru. Ada yang keberatan? Kasumi tidak peduli-plaakkk!
Yang jelas, bakal ada banyak kejutan disini. Berhubung Kasumi seringnya Cuma bikin family doang soalnya….
Akhir kata,
See you in the next chapter….
