Chapter 3
Disclaimer: Selamanya punya Masashi Kishimoto semata.
.
.
.
Naruto segera mempercepat larinya bak melakukan buzzer beater ketika melihat sosok Sai yang berjalan santai sambil memasukkan kedua tangan di saku samping jaketnya. Karena terlalu bersemangat, Naruto tidak dapat mengerem laju larinya dan berakhir dengan menabrak punggung Sai yang-
Namun sepertinya Sai memiliki reflek yang cukup bagus dengan menghindar ke arah kiri sebelum tabrakan terjadi. Dan dengan cepat ditariknya kerah belakang Naruto agar cowok berambut kuning cerah itu tidak terjungkal ke depan (kebetulan di depan mereka ada lubang yang cukup horror untuk ukuran lubang aspal di jalan raya).
"Uwogh! Uhuk-uhuk! Sai!" Naruto yang niatnya memarahi Sai karena tarikan di tengkuk itu dihadapkan pada Sai yang bersikap stoic sambil memiringkan kepalanya ke sebelah kiri. Teringat akan tujuan utamanya, Naruto berniat untuk memulai percakapan saja.
"Kenapa lari tergesa-gesa begitu? Dan bukankah arah rumahmu itu berlawanan?"
Apa?!
Sai hanya memandang datar wajah Naruto yang tiba-tiba membesar di depannya dengan aura terkejut ala komik. Namun Naruto segera kembali ke posisi awalnya.
"Darimana kau tahu?"
"Tahu aja."
Walah! Enggak Sasuke, enggak juga Sai. Dua-dua bener-bener dah…
"Ditanya malah begitu."
"Aku kan sudah bilang, aku Cuma asal tahu saja."
"Humph!"
"Ngambek?"
Naruto segera menunduk dan menyamakan langkah dengan Sai. Konbini yang dituju oleh Sai masih cukup jauh dan langkah kaki Sai cukup lambat.
"Lalu?"
Naruto menoleh ke arah Sai dengan muka terkejut (lagi). Dan Sai hanya menghela napas. Naruto pun dengan agak ragu-ragu menjawab pertanyaan Sai.
"Kamu enggak bilang kalau konbini yang kamu maksud itu yang jauh begitu. Enggak takut dicariin Sasuke?"
"Kenapa? Apakah aku terlihat seperti bocah yang gampang hilang gitu?" ucap Sai dengan nada innosen. Padahal Naruto berharap lebih dari itu.
"Kau takut aku ngambek? Woy Naruto! Mukamu!"
"Hehehe…. Wa-warui…"
"Hah…."
"Nde-"
"Buat apa aku ngambek? Buang-buang tenaga. Kau sudah berteman dengannya berapa lama? Kalau kau bisa mengenalnya, maka kau tahu sikapnya," ucap Sai enteng. Naruto hanya menatap jauh ke depan. Hal tersebut hampir membuat Sai merasa kalau dirinya menyinggung perasaan Naruto.
Memangnya,
Siapa Naruto itu?
Dia itu temannya Sasuke.
Pemikiran-pemikiran yang muncul di kepalanya membuat Sai menghentikan sikap paranoidnya. Namun tanpa disangka Naruto malah tersenyum kikuk sambil menggaruk bagian tengkuknya. Membuat Sai agak terkejut (dengan gesture berupa mata yang agak membesar dalam waktu sepersekian detik, cukup untuk membuat lawan bicara tidak menyadarinya).
"Hyaa… aku kan baru bisa dekat dengannya ketika tahun ajaran ini. Ya maklum aja deh… hehehe…."
Respon yang jauh dari apa yang dia pikirkan.
"Sou."
"Ne ne… apakah hubungan kalian kaya gitu?"
"Gitu gimana?"
"Ya yang kaya tadi…"
"Kenapa tanya-tanya?"
"Ya Cuma mau tahu doang kok… masa enggak boleh?"
"Masih memikirkan aku yang marah akibat insiden tadi ya? Tenang saja, aku tidak marah. Aku hanya merasa jengkel saja."
"O-oo…."
"Lagipula kenapa sekhawatir itu? Aku saja yang mengalaminya tidak sampai sebegitunya. Sasuke apalagi."
"Tapi kan-"
"Tenang saja. kenalilah Sasuke dan kau bakalan tahu sendiri kok. Aku malas menjelaskannya padamu. Yang jelas beginilah kami."
"Yokatta…"
"Atau jangan-jangan kau khawatir tentang dirimu yang menjadi pemicu?"
"HA?!"
"Naruto…. Mukamu itu lho!"
.
.
.
Naruto hanya ber-facepalm ria ketika mengetahui tujuan Sai untuk mendatangi konbini yang letaknya jauh dari rumahnya. Dengan alasan berupa disana ada onigiri favoritnya dan…. Pokari?
Namun dia hanya bisa mengikuti Sai dan akhirnya pergi ke stan yang memajang roti-roti ukuran sedang. Sai sendiri sibuk dengan kegiatannya berupa scanning berbagai onigiri. Ketika mata Sai menunjukkan ketertarikan dan mengambil salah satu onigiri, matanya akan ber-'oh' ria lalu dengan perlahan ditaruhnya kembali ke rak.
Mungkinkah…
Naruto yang sudah selesai dengan tiga bungkus roti melon dan juga roti kare segera menghampiri Sai yang masih saja sibuk dengan stan onigiri. Hingga dirinya melihat sebuah hoodie yang cukup familiar di matanya. Jangan bilang kalau itu…
Belum sampai Naruto menerka-nerka,sosok berhoodie itu segera menoleh ke arah Naruto dan memamerkan senyum lebarnya plus lambaian tangan.
"Yo Naruto! Tumben kok mampir kesini!"
"Yo'i! lagi pengen aja. Sibuk dengan ekskul baseball lagi ya, Kiba?"
"Yup. Lagi sibuk ama anak-anak baru yang masih belajar dasar-dasarnya. Wogh! Beli apaan tuh?"
"Hehehe…-"
Naruto pun teringat akan Sai yang akhirnya tidak jadi membeli onigiri dan lebih memilih sebotol pokari dan roti ukuran sedang. Dengan cepat dia berjalan mundur dan melambai ke arah Kiba. Kiba pun menoleh ke arah tujuan Naruto dan matanya terbuka secara cepat.
"Kenalin ini temenku, namanya Sai. Sai, ini Kiba anak yang jago main baseball di sekolahku!" ucap Naruto sambil merangkul bahu Sai bak seseorang yang akrab dan berteman dalam kurun waktu yang lama.
'Teman?'
'Apakah itu benar?'
"Wogh! Kalo dilihat-lihat kau itu mirip Sasuke yang enggak makek gell rambut ya! Kenalin! Kiba Inuzuka!" ucap Kiba sambil mengulurkan tangan ke arah Sai. Sai sendiri masih sibuk dengan pemikirannya. Sehingga Kiba merasa terabaikan.
"Woy! Keburu keram nih!" canda Kiba yang menyadari kalau Sai sedang melamun. Naruto pun menyentil pelipis kanan Sai.
"It-itte!"
"Ditawarin jabat tangan itu lho!" ucap Naruto bak ibu-ibu yang anaknya tidak mau menerima pemberian dari tetangga sebelah. Sai hanya mengusap-usap pelipisnya yang agak nyeri dan menatap ke arah Kiba yang malah sibuk menahan tawa. Diarahkannya tatapannya ke bawah dna ditemukannya uluran tangan dari sang empunya.
"O-oh…" ucap Sai agak terkejut dan menjabat tangan Kiba. Naruto menaikkan sebelah alisnya dan Kiba ikut-ikutan bingung.
"Cuma gitu doang?!" ucap Kiba sok dramatis.
'Hey, namamu siapa?'
'Ooo… gitu ya? Salam kenal ya?'
'Siapa ya?'
"Sai. Uchiha Sai," ucap Sai dengan nada tanpa semangat hidup. Namun hint yang dikeluarkannya secara tidak sadar segera terhapuskan oleh tatapan tidak percaya dari Kiba dan wajah penuh kemenangan dari Naruto bak seorang siswa yang membenarkan penjelasan guru di kelas.
"Ya ampun! Pantesan kok mirip ama Samurai-man yang dari kelasmu itu, Naruto! Ternyata…. Sama-sama Uchiha-nya toh…. Eh, kamu kenal sama yang namanya Sasuke Uchiha gak?" tanya Kiba dengan muka harap-harap cemas. Sai berniat untuk menjawab namun segera disela oleh Naruto yang entah kenapa memegangi rambutnya dan membentuk sesuatu di atas kepalanya. Belum sampai disitu juga, tangan Naruto mengarahkan tangannya untuk melipa di depan dada.
Dengan muka bak orang yang berhasil membuat replica Monalisa dengan tangan sendiri, Naruto tersenyum puas. Sedangkan Kiba malah sweatdrop ria.
"Masa enggak tahu sih?"
"Kalau maksudmu dia punya hubungan kekerabatan sama Sasuke, aku juga udah tahu, Naruto," ucap Kiba dengan muka bergaris-garis biru. Jangan lupakan sweatdropnya. Namun disini dia malah prihatin pada Sai yang pasrah 'dibentuk-bentuk' oleh setan kuning itu.
"Sini ya, biar kuberi tahu. Bukannya kenal lagi! Dia itu saudara kembarnya Sasuke!" ucap Naruto dengan muka seorang siswa yang menjelaskan kalau sendi putar itu adanya di leher. Kiba melongo dan mendekatkan wajahnya ke arah Sai yang menaikkan sebelah alisnya.
"Pantesan! Eh tapi kok enggak identic gitu ya? Ah… jangan bikin fitnah lu, Naruto!" ucap Kiba sambil melambai-lambai tidak jelas di depan Naruto yang agak gusar. Sai sendiri tidak mempermasalahkan akan hal itu. Mereka kan bukan kembar identic yang berasal dari satu sel telur yang akhirnya membelah menjadi dua embrio. Mereka kan cuma dua sel telur yang diproduksi bersama-sama dan terbuahi bersama-sama.
Setidaknya itulah yang dia pikirkan ketika mempertanyakan kenapa dirinya tidak mirip dengan Sasuke. Bahkan ketika dia masih 'sekolah' dulu, dirinya dan Sasuke pernah dijadikan 'kuis' mengenai siapa yang anak angkat dan siapa yang anak kandung sebenarnya.
Hal itu terjadi sebelum dia menyadari bahwa bukan mengenai proses terbentuknya sel telur yang menyebabkan dirinya dan Sasuke tidka identic seperti anak kembar pada umumnya.
Melainkan karena alasan lain .
'Ah… masa lalu…'
'Dan sekarang masih terus berjalan…'
Sai hanya bisa tersenyum sinis mengingat akan hal itu. Tersenyum akan ke-'konyol' annya sendiri. Sedangkan Naruto yang menyadarinya salah mengartikan senyum sinis dari seorang Sai yang disamakan dengan senyum menahan tawa ala Sasuke.
"Emangnya kembar itu harus identic ya? Hah… buka wawasan dikit dong… noh lihat! Sai sampai nahan tawa itu lho! Jangan malu-maluin dong! " ucap Naruto dengan muka marah yang dibuat-buat. Sedangkan Kiba hanya geleng-geleng karena tidak mengetahui clue yang dibuat oleh Naruto.
"Terus kalo misalnya anak kembar itu harus identik kaya Sakon-senpai sama Ukon-senpai berarti mukanya Sakura sama Sasori itu sama dong!"
Yups,
Dua kembar pengantin yang sedang duduk-duduk di teras rumah mereka sukses dibuat bersin secara bersamaan akibat apa yang dikatakan oleh Naruto.
"Ooo… kembarnya yang enggak langsung ya… warui warui… haduh… jadi salah persepsi gini ya? Eh, sudah sore nih! Aku duluan ya!" ucap Kiba sambil melambai menuju ke kasir. Sedangkan Naruto sendiri membalas lambaian Kiba dengan sikap cengengesannya.
"Nde, sudah selesai belum? Dan kenapa jalan-jalan di stan onigiri akhirnya Cuma dapet itu?" tanya Naruto sambil menunjuk-nunjuk barang bawaan Sai. Sai hanya menaikkan kedua bahu dan berjalan mendahului Naruto yang masih dalam mode penuh tanya.
"Walah! Tungguin woy!"
.
.
.
"Aku bawa Hp."
Sai hanya menoleh penuh tanya ke arah Naruto yang sibuk memakan roti melonnya. Menyadari tatapan Sai, Naruto menoleh ke arah Sai dan kembali fokus ke arah jalanan beraspal yang terus menerus kejatuhan tetesan air hujan dengan frekuensi yang cukup banyak.
"Enggak niat telepon rumah?"
Sai hanya menggeleng sambil membuka segel minumannya. Seharusnya dia sudah sampai di rumah jikalau dirinya dan Naruto bersikap nekat menerobos rintikan hujan sebelum rintikan kecil berubah menjadi hujan yang sangat deras. Namun entah kenapa Naruto dengan beribu macam alasan mengajak (baca: memaksa) untuk berteduh di halte bus.
Dan disinilah mereka.
Naruto yang sibuk memandangi jatuhnya rintikan hujan dan Sai yang terus saja menunjukkan tampang gusar akan rintikan hujan yang seakan-akan mengajaknya berkelahi. Naruto yang menyadari akan hal itu tidak tahu harus berbuat apa.
"Enggak usah."
"Lupa nomor telepon rumah?" tanya Naruto penasaran. Sai hanya menggeleng karena teringat perkataan sang ibu mengenai dirinya yang dulunya berbakat dalam hal mengingat apapun dibandingkan Sasuke.
"Enggak."
"Enggak takut dicariin Sasuke? Atau kau memang marah mengenai hal tadi?" canda Naruto yang ternyata menyadari kalau semenjak tadi Sai memang ngambek pada sang kakak kembar. Mengetahui kalau asumsinya benar, Naruto pun ngakak sambil memegangi perutnya. Sedangkan Sai lebih memilih fokus ke arah kemasan roti yang dipegangnya, lalu dengan perlahan dibukanya bungkusan roti itu dan diarahkannya ke arah Naruto yang masih ngakak.
"Eh, enggak dah… enggak usah…" ucap Naruto sok tidak kepingin roti isi daging yang dimasak bumbu teriyaki. Namun Sai sudah menduga akan hal itu yang berakibat pada dirinya yang menyodori roti itu ke arah Naruto sampai…
"Hehehe… njja… kuambil separuh ya… eh kedapetan dagingnya. Ini kubalikin," ucap Naruto sambil kikuk sendiri ketika dirinya mendapatkan potongan rotinya yang ada dagingnya sedangkan si empunya Cuma rotinya doang. Namun sebelum Naruto memotong (lagi) di bagian yang sudah dia ambil, Sai segera menarik bungkusan rotinya dan memakan isinya yang tinggal separuh.
Naruto akhirnya (harap-harap) mau tak mau memakan bagiannya.
Andaikan saja yang disebelahnya adalah anak sekelasnya (kecuali Sasuke), dijamin mereka akan terpingkal-pingkal akan ulah Naruto. Sedangkan Sai (dan Sasuke) hanya menganggap bahwa hal itu biasa terjadi di dunia ini. Dia hanya memakan dalam diam sambil sibuk mencuri lirik ke arah Sai yang menghela napas kesal ketika hujan semakin deras.
"Kau tahu, aku dan Sasuke itu sebenarnya kembar identik," ucap Sai tiba-tiba sebelum meneguk pokari yang sejak tadi berdiri manis di sebelahnya. Naruto yang sibuk mengunyah akhirnya tersedak. Membuat Sai mengulurkan pokari ke arahnya.
Sungguh,
Untuk pertama kalinya Naruto merasa bak orang yang tidak punya 'modal'.
"O-oo.. apakah kalian pernah berpisah gitu? Jadinya agak beda dikit gitu?"
Sai hanya bersandar sambil menatap langit-langit halte.
"Kurasa kau tahu jawabannya," ucap Sai singkat. Naruto baru menyadari alasannya ketika strap di pergelangan tangan Sai masuk ke dalam area pandangnya. Membuatnya menyadari apa maksud dari perkataan Sai. Dan Naruto tergoda untuk bercerita mengenai ibunya.
"Kenapa kau masih memakai strap itu?"
Sai menoleh ke arah pergelangan tangannya dan menoleh ke arah Naruto yang meneguk pokari sekali lagi. Tanpa menoleh, Naruto berbicara sambil memperhatikan tetesan air yang terus menerus membasahi bumi.
"Kau tahu, ibuku dulu pernah memakainya. Saat itu aku masih kecil sehingga aku tidak tahu apa maksudnya. Dan ketika aku sudah cukup umur untuk menyadarinya, semuanya sudah terlambat."
Sai hanya terdiam dan Naruto tahu kalau Sai menginginkan kelanjutannya. Dia menarik napas untuk menghilangkan rasa perih di dadanya dan mencoba untuk mengingat-ingat senyuman sang ibu.
"Namun setidaknya aku punya kesempatan untuk membuat ibuku merasakan kehidupan yang 'normal'," ucap Naruto sambil merenggangkan tubuhnya dan menaruh botol pokari yang tinggal seperempat isinya di antara dirinya dan Sai.
"Karena aku dapat bersikap biasa-biasa saja di depannya. Aku baru menyadarinya dan aku bersyukur akan hal itu. Setidaknya Okaa-san tidak mengingat akan keadaannya barang sekejab saja."
Lalu Naruto menepuk bahu Sai.
"Kau pasti menyadarinya kan? Namun… kurasa mereka sayang padamu. Dan itu terjadi secara reflek. Aku tidak tahu harus bilang apa.. tapi kau mengalaminya kan? Dan aku yakin entah minimal sepersekian detik di dalam hatimu menginginkan hal yang 'normal'."
Hening kembali menyelimuti ketika Naruto menarik telapak tangannya. Merasa memiliki 'utang budi', akhirnya Sai memberanikan diri untuk menatap hal yang paling dibencinya.
"Aku membenci hujan."
Namun Naruto tidak tahu kalau Sai berniat untuk membalas budi.
"Tentu saja. kalau keadaannya begini ya pastinya benci sama yang namanya hujan," ucap Naruto sambil memonyongkan bibirnya akibat rasa gusar pada hujan yang tidak henti-hentinya turun.
"Karena hujan menguak keadaan tubuhku disaat yang tidak tepat."
Naruto mencoba untuk mencerna apa maksud dari perkataan Sai.
"Aku punya banyak teman dulunya. Namun karena aku jarang bertemu akibat hujan itu akhirnya aku meragukan kata teman."
Ditolehnya Naruto yang mengernyitkan dahinya. Dia menjadi teringat akan Naruto yang menyebut dirinya sebagai teman di hadapan Kiba tadi.
"Maaf, bukan bermaksud untuk menyinggung. Namun dulu aku punya teman baik. Dan karena aku yang jarang bertemu dan bermain bersama lagi, akhirnya kami menjadi 'teman'. Dan ketika kita sulit untuk berpapasan di jalan, lama kelamaan status kami hanya sebagai 'kenalan'."
Naruto hanya terdiam.
Jadi itu maksudnya?
"Kau mengenalkan dan mengakuiku sebagai teman di hadapan Kiba. Dan hal itu sama persis dengan yang dilakukan oleh dia."
"Jadi itu maksudmu? Ketahuilah, aku tidak akan seperti dia kok. Aku menyadari makna seorang teman."
Naruto mendongak dan melihat kalau hujan sudah mulai reda. Sebuah pemikiran muncul di kepalanya.
"Kena hujan dikit enggak apa-apa kan? Lagipula kau kan make hoodie. Aku khawatir kalau Sasuke jadi samurai beneran di jaman edo akibat saudaranya ngambek terus memutuskan untuk minggat," ucap Naruto sambil berdiri dan membunyikan buku-buku tangannya.
Dan Sai hanya bisa menurut.
.
.
.
Hujan pun reda secara perlahan-lahan, namun ketika mereka mencapai pertengahan jalan, cuaca mulai membaik. Sai menurunkan hoodie-nya dan disambut dengan Naruto yang memberikan ekspesi 'apa-kubilang-?'
Namun ketika mereka sampai di gerbang rumah Sai, Naruto segera menarik tubuh Sai. Sai sendiri hanya melebarkan matanya dan ditanggapi dengan muka menahan tawa dari Naruto.
"Noh liat! Saudaramu kepalanya mau botak tuh! Dari tadi bingung di depan rak payung!" bisik Naruto sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mukanya sudah memerah menahan tawa. Sai mengikuti arah yang ditunjuk oleh Naruto dan tersenyum simpul.
.
.
.
Tbc…
See you next chap… ^_^
