Chapter 4
.
.
A/N : disarankan untuk mendengarkan lagu berjudul 'This love' yang dinyanyikan oleh Angela Aki plus "I'll be your home" yang dinyanyiin sama Rin Oikawa selama membaca fic ini. Meskipun tema lagunya cinta-cintaan, tapi menurut Kasumi lagunya agak ada berasa dikit ama chapter ini.
.
'Yang kutahu dan yang selalu kuingat adalah diriku yang memiliki hutang yang tak pernah bisa kubayar darimu.'
.
.
.
Sasuke tidak habis pikir, dia merasa bak seseorang yang begitu bodohnya bermain api di dekat alcohol yang sedang terbuka tutupnya. Perkataan Naruto baru bisa dicerna olehnya ketika sosok berambut kuning terang itu melesat pergi dan tak terlihat punggungnya lagi. Ketika dirinya berada dalam suasana yang cukup tenang, barulah dia menyadari kalau ada yang salah pada perkataannya.
Namun yang membuatnya heran adalah Sai sendiri. Baru pertama kalinya selama dia mengenal Sai (dan Sai yang mengenalnya), dirinya mampu membuat saudaranya itu merasa jengkel.
Padahal,
Seingatnya dulu,
Sai tidak pernah merasakan jengkel.
Ataupun perasaan marah
Senang pun jarang.
Dan sekarang…
Sai sudah bisa menunjukkan dirinya kalau dia sedang jengkel dan marah.
Sasuke tidak tahu apakah dirinya harus merasa senang ataukah khawatir.
.
.
.
Sasuke hanya bisa tersenyum sarkastik ketika melihat Naruto yang belum membawa pulang Sai. Padahal waktu telah menunjukkan sore hari. Kemungkinan besar Naruto sedang sibuk menyuruh-nyuruh Sai untuk pulang.
Dan menurutnya…
Sai akan pulang…
Mengingat akan pemikiran Sai yang seperti itu
Tidak perlu diminta pulang…
Sai akan pulang sendiri…
Namun selintas pemikiran muncul di benaknya…
Mengenai Sai yang mampu menunjukkan perasaaannya ..
Heh…. Sai memang sejak dahulu dapat menunjukkan apa yang sedang dia rasakan. Dia tidak jauh beda dengan yang lainnya. Hanya saja, dia tidak memiliki sesuatu yang harus ditunjukkan.
Sasuke mendongak.
Langit kebiruan mulai berubah menjadi agak gelap dan semakin menggelap. Hujan akan segera turun dan belum ada tanda-tanda mengenai Naruto yang menyeret-nyeret Sai di depan pagar. Mengingat akan hal itu, Sasuke hanya bisa menahan tawa. Dia membayangkan Sai yang ikut-ikut saja ditarik-tarik oleh Naruto. Naruto sendiri akan berceloteh seperti ibu-ibu yang anaknya bandel tidak mau pulang ketika petang.
Rintik-rintik hujan mulai membasahi rerumputan di depannya.
Sebentar lagi sang ayah akan pulang dari kerjanya.
Sang ibu pun juga akan pulang.
Kakaknya (dan Sai) mempercepat tugasnya dan akan pulang esok hari.
Dia merasa kalau keluarganya akan terasa 'penuh' kembali besok. Ada dirinya yang duduk di sebelah sang ayah, Itachi yang sibuk menarik-narik Sai dan mengajaknya untuk duduk bersebelahan, sang ibu yang sibuk mengambilkan nasi tambahan untuk sang kakak tertua (Itachi selalu makan yang paling banyak dengan alasan kalau dirinya jarang menemukan masakan rumahan di apartemennya), sang ayah yang bersikap netral namun diam-diam memperhatikan ketiga anaknya dalam lirikan sepersekian detik dan Sai yang makan dalam diam.
Ya.
Sasuke tidak akan pernah berkata kalau Sai memiliki 'kelainan'. Dia sering memperhatikan Sai ketika hanya ada mereka berdua dan sebuah tv yang menyala di depan mereka.
Sai tidak pernah 'merasakan' apa-apa.
Rasa yang dimaksud disini adalah perasaan secara psikologis. Terkadang Sasuke sering menemukan Sai dalam tatapan kosong.
'Disini agak sakit.'
Membayangkan Sai yang dengan wajah datar dan berkata demikian membuatnya teringat akan kejadian beberapa tahun yang lalu. Tepat setelah Sai jarang bertemu teman-temannya lagi. Ketika Sasuke menemani Sai ke tempat lain sementara kedua orang tuanya sibuk berbisik-bisik dengan sang dokter…
'Ne, bisakah aku kuliah dan menjadi seorang guru?'
Bagi seorang saudara yang baik, tentu saja jawabannya adalah, 'Tentu saja!'. Namun hal yang membuat Sasuke mengurungkan niatnya adalah nada sarkastis yang ikut mengiringi pertanyaan Sai.
Sasuke hanya tersenyum.
Dan Sai hanya bisa melihat ke depan sambil melihat-lihat guguran pohon maple yang begitu indah dimatanya. Tanpa memperhatikan Sasuke.
Sasuke menghela napas berat.
Secara tak sadar disentuhnya pinggang bagian kirinya.
Permainan Kendo-nya yang cukup terkenal.
Kemampuan atletik-nya yang mampu membuat orang berdecak kagum.
Ketahanan tubuhnya yang patut diacungi jempol.
"Gomen ne…." desisnya lirih sambil menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan kedua tangannya. Hujan rintik-rintik serasa bagaikan lullaby yang membelai indra pendengarannya dan menimbulkan rasa rileks yang melegakan.
Namun tidak cukup melegakan ketika sebuah sembilu imajiner mengiris jantungnya. Lalu dia menyadari akan sesuatu.
'Oh, kurasa ini yang dirasakan olehnya.'
.
.
.
Sasuke melirik ke arah jam dinding yang terus menimbulkan bunyi berdetak setiap pergantian detik. Sudah dua jam dan Sai belum kembali juga. Biasanya Sai akan pulang dengan sendirinya. Dirinya juga tidak suka memberikan perhatian berlebih pada Sai.
Namun perasaan tidak enak menyelimuti hatinya. Dia hanya merasakan perasaan campur aduk yang tidak karuan saat ini. Humph, apakah ini akibat dari beberapa minggu bersama dengan Sai dulu?
Namun meskipun mereka telah berpisah (lebih tepatnya dipisah), Sasuke sering merasakan perasaan yang campur aduk seperti ini. Diliriknya rintik-rintik hujan yang telah berubah menjadi hujan deras di balik kaca teras rumahnya. Sepertinya hujan ingin mengokohkan keinginannya bahwa dia tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
Sungguh
Baru kali ini dia merasakan perasaan khawatir yang begitu besar pada Sai. Sejak dulu dia selalu berusaha untuk mencari jawaban mengenai hujan dan hubungannya dengan sistem sirkulasi. Dan rasa penasarannya pada hujan ternyata berbanding terbalik dengan Sai yang membenci hujan.
Sasuke dapat memakluminya.
Karena hujan adalah sesuatu yang mengubah hidup Sai secara drastis.
.
.
.
Digelengkan kepalanya dan dengan segera diraihnya sebuah jaket untuk dirinya (dia tahu kalau Sai suka sekali memakai jaket sehinga tidak perlu membawakan Sai jaket) dan beranjak menuju ke tempat payung. Terdapat tiga buah payung dengan warna yang berbeda pula. Tiap anggota keluarga memiliki satu dan sang ibu dengan baik hati melebihkan dua buah payung seandainya ada teman dari anaknya yang menolak diajak menginap karena hujan.
Sasuke hanya bisa memperhatikan sebuah payung berwarna hitam serta gantungan kunci penguin berwarna hitam yang duduk manis di tatakan payung. Sudah berapa lama payung itu tidak disentuh?
Oh ya,
Sejak yang punya menginjak bangku SD ya?
Terselip rasa geli ketika menyadari kalau dulunya sang ibu membelikan dua payung dengan model yang sama namun warna yang berbeda. Yang satu dominan warna hitam dan yang satunya dominan warna biru gelap.
Yang satunya sering terpakai…
Yang satunya hanya pernah disentuh sekali oleh yang punya…
Kini si payung dominan warna hitam duduk sendirian tanpa sang partner yang ternyata telah rusak lebih dahulu. Sasuke tersenyum miris. Andaikan saja nasib yang punya sama dengan payung dominan hitam itu, pastinya…
Akan sangat…
Entahlah…
Senang mungkin?
Sasuke sendiri bingung tentang bagaimana harus menggambarkan perasaannya. Hubungannya dengan Sai cukup renggang. Namun mereka mampu memahami satu sama lain tanpa perlunya komunikasi yang berarti. Sehingga mereka dapat saling toleransi dan memahami mood masing-masing.
Mungkin karena toleransi itulah yang menyebabkan mereka semakin merenggang…
Ataukah…
Akibat mereka yang jarang bertatap muka seiring berjalannya waktu?
Sasuke tidak menyadari kalau lamunannya hampir membuat Naruto tertawa terbahak-bahak akibat berhasil mengagetkan dirinya. Kebetulan Naruto sudah siap dengan kamera handphone-nya untuk mengabadikan moment terhina bagi seorang pangeran sekolah yang terkenal dengan sikapnya yang dingin namun hot di mata para cewek.
Sayangnya,
Sai agak berbaik hati dengan membuat bunyi langkahnya terdengar di telinga Sasuke. Dan saat itu Sasuke menyadari…
Kalau dirinya benar-benar mengenal Sai seperti mengenali dirinya sendiri…
Diliriknya Sai yang bersandar di pintu masuk rumah. Matanya sibuk memperhatikan para burung gereja yang berterbangan. Lalu matanya beralih pada rerumputan yang terlhat begitu segar akibat berkah dari yang maha kuasa.
'Maaf…'
Namun kata itu tak bisa Sasuke ucapkan secara spontan. Untuk pertama kalinya Sasuke begitu iri pada Naruto yang bertipe asal ceplos di depan Sai. Sedangkan dirinya, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan kata tersebut.
Sai sendiri melepaskan tali sepatunya dan Sasuke dengan reflek menyingkir dari pintu masuk untuk membiarkan Sai lewat. Sai menoleh sebentar dan tersenyum.
'Daijoubudesu yo!'
Setidaknya itulah yang dapat diartikan oleh Sasuke dari senyum seorang Sai. Tanpa sadar Sasuke pun ikut tersenyum. Tersenyum karena Sai yang dia inginkan berangsur-angsur 'membaik'.
Naruto yang memang dasarnya seorang perusak suasana malah sibuk menolehkan kepalanya dari kanan (ke arah Sasuke) dan ke kiri (ke arah Sai). Dan entah secara kebetulan atau apa, Sai dan Sasuke secara bersamaan menoleh ke arah Naruto. Naruto langsung berjingkat dan melambaikan kedua tangan di depan dada.
"Waduh udah jam segini nih! Walah kapan aku belajarnya nanti?! Ya udah deh aku pamit duluan ya!" ucap Naruto sambil melesat pergi meninggalkan kedua orang yang cengo setengah mati akan tingkah si rambut durian itu.
Mengingat kata durian membuat Sasuke tertawa. Sai sendiri malah menaikkan sebelah alis hingga akhirnya mengerti apa maksud dari Sasuke.
"Soudesuka ne… untung saja tadi waktu pulang aku tidak menemukan anak-anak yang membawa balon…" ucap Sai yang membuat Sasuke tidak jadi menghentikan tawanya.
"Lagipula, Sasuke…"
"Hm?"
"Tingkahmu yang seperti tadi tidak cocok buatmu. Percayalah," ucap Sai sambil menepuk bahu Sasuke. Lalu dengan perlahan Sai mendekatkan mulutnya di telinga Sai.
"Percayalah, kau dengan kata maaf itu jauh sekali. Lagipula aku sudah terbiasa dengan sikapmu yang dulu. Naruto bahkan menertawakan dirimu yang sibuk melamun di depan rak payung."
Lalu Sai menoleh ke arah payung berwarna dominan hitam dan beralih lagi ke Sasuke sebelum berjalan menuju ke kamarnya. Ketika hampir mencapai tangga naik menuju kamarnya, Sai memunculkan kepalanya ke arah Sasuke yang secara tidak sengaja sibuk menatapi payung ukuran kecil yang ditatap Sai tadi.
"Lagipula, mana mungkin aku memakai payung itu diumur segini? Oh ya, rencananya payung itu mau kuberikan sama Hanabi. Adiknya Neji yang tinggal dua blok dari sini."
Sebelum Sasuke melontarkan jawabannya, Sai lebih dahulu menyela.
"Karena aku merasa kalau payung itu kesepian akibat tidak pernah digunakan dan temannya yang satu lagi sudah migrasi ke tempat sampah beberapa tahun yang lalu. Setidaknya kalau di tangan Hanabi, payung itu akan lebih memberikan guna bukan?"
Sasuke hanya bisa menatap nanar tangga yang menuju ke kamar Sai.
Namun dia merasa kalau hubungan mereka tidak serenggang yang mereka kira.
Sasuke segera menaiki undakan teras dan melepaskan jaket yang dipakainya. Yah… biarlah semuanya berjalan dengan sendirinya. Lagipula Sai juga tidak menginginkannya. Namun disisi lain, Sasuke masih merasa kalau dirinya mempunyai hutang yang begitu besar pada Sai.
Saking besarnya,
Sasuke rasa,
Dia tidak akan pernah mampu membayarnya.
Apalagi mengingat…
Ah,
Sudahlah…
.
.
.
To be continued
.
.
.
A/N:
Yeah, here we go!
Karena Kasumi lebih menuju ke arah satu konsep tiap chapter, maka chapter ini jadinya agak pendek mengingat chapter ini Cuma mengandung satu ataupun dua hints yang nantinya bakalan show-off (?) di saat penyelesaian.
See you in next chapt… ^_^
