Kenalan Chapter 5
.
.
Disclaimer: Naruto beserta chara-charanya hanya milik Masashi Kishimoto semata.
Recommended song : Kalafina – Gloria *lebih cocok buat ending-ending chapt…
.
'Aku tahu kalau aku salah. Maafkan aku yang masih belum bisa menerima kenyataan. Namun kau hanya tersenyum dan mengatakan kalau waktu itu kita masih anak-anak.-
.
.
Dan kalau beranggapan begitu,
.
.
Entah kenapa aku merasa kalau tidak pernah melakukan apa-apa untukmu. Dan aku yakin kalau waktu kita masih kecil adalah kesempatan terakhir bagiku untukmu'
.
.
"Kau mau pulang? Enggak mau nunggu seminggu lagi gitu…. Nanggung lho!"
"Kurasa tidak,Deidara. Aku pulang nanti sore."
"Ahh… enggak seru dong kalo Itachi-senpai pulang…. Ayolah Senpai… kan pekan sunyi-nya dua minggu lagi. Nungguin dulu seminggu baru pulang deh!"
"Kora kora! Kalian ini jangan menghalangi Itachi! Sudah sana! Urusin tuh anak-anak yang mau daftar UKM drama kita! Itachi!"
Yang dipanggil pun menoleh ke arah sang ketua.
"Jangan lupa oleh-ol- ITTA!"
Sebuah kipas kertas tepat mendarat di ubun-ubun sang ketua dari sang wakil. Itachi hanya memandang datar pertengkaran yang terjadi di depannya. Sedangkan yang lainnya berusaha untuk menahan tawa mereka dan memilih untuk mengalihkan pandangan mereka ke tugas lain.
"Uwoohh… udah Konan! Udah! Oh ya Itachi, hati-hati di jalan ya! Salam buat adek-adekmu. Moga nambah bawel biar kau lebih betah di kampus daripada di rumah!"" ucap Pein dengan posisi dicekik oleh sang wakil sambil melambai-lambai ke arah Itachi yang berlalu meninggalkan ruangan UKM Akatsuki alias UKM drama yang cukup terkenal pamornya dan keahlian aktingnya.
Sesampainya di depan gerbang kampus, Itachi berjalan menuju halte sekelebat doa tak guna dari seorang Pein menyambangi pemikirannya.
'Bawel,ya?'
"Hmp!"
Dua orang itu apa bisa bawel? Setahunya level 'bawel' mereka berupa cemberut ataupun ber-'hn' ria sambil bertatapan sinis. Itachi segera teringat akan kejadian beberapa tahun yang lalu dan dengan cepat dikoreksinya pernyataan itu. Itu untuk Sasuke.
Sedangkan Sai?
Entahlah.
Itachi menyandarkan tubuhnya di kursi yang telah disediakan. Sai? Bawel? Yang benar saja!
Namun di lubuk hati terdalam, Itachi masih berharap kalau Sai memasang wajah marah, kesal ataupun membawa senjata tajam sekalian padanya. Namun disisi lain, Itachi hanya bisa menganggap kalau ini adalah karma untuknya.
Sikap diam darinya benar-benar menyiksa lubuk hati Itachi.
Ditekannya tombol di layar touchscreen miliknya. Sebuah pesan kalau dirinya akan sampai di rumah nanti sore. Selain berharap penyambutan yang 'meriah', Itachi juga berharap akan sambutan yang lebih dari satu orang.
.
.
.
"Nyem… nyem…"
"A-ano…."
"Hm? Nyem napa nyem … Hinata?"
Gadis pemalu itu hanya bisa terkesiap ketika siswa yang dipanggilnya menoleh dengan cara yang tidak biasa ke arahnya. Awalnya dia ingin memanggil siswa berambut ngejreng itu dari belakang. Naruto yang sedang makan pun mau tak mau mengambil cara cepat untuk menoleh dengan cara melenturkan lehernya dan menatap Hinata dengan posisi kepala terbalik. Sontak Hinata berjingkat kaget.
Namun sikap kaget dari Hinata menular pada Naruto yang akhirnya kebablasan hingga punggungnya mencium lantai dengan mesranya. Hinata pun segera membantu Naruto untuk berdiri. Namun karena beban tubuh mereka yang berbeda (dan Naruto beranggapan kalau dirinya ditarik secara paksa oleh Sasuke sehingga dia tidak mengeluarkan tenaga apapun untuk berusaha naik) akhirnya Hinata pun terjatuh juga.
Hinata hanya bisa memejamkan matanya karena dia yakin kalau jatuh muka duluan. Namun dua telapak tangan yang cukup kuat mendarat di ketiaknya. Lalu perlahan dia terangkat ke atas. Dan terdengar sorak penuh fangirling-an dari para cewek.
Hinata mencoba untuk membuka matanya dan menemukan seorang siswa yang terkenal akan dingin dan charisma yang luar biasa mengangkatnya hingga dalam posisi berdiri.
"A-arigatou, Sasuke-kun."
"Hn."
Hinata tidak merasa tersinggung ataupun kesal karena selama dua tahun sekelas dengan Sasuke, dia sudah tahu kalau Sasuke bukan tipe orang yang banyak omong. Diliriknya Naruto yang malah manyun-manyun gak jelas.
Dan entah kenapa di mata Hinata…
Pemandangan itu terlihat sangat kawaii…..
Dan tawa Hinata membuat Naruto mendekati gadis itu. Sontak yang didekati pun memerah wajahnya. Dan Naruto pun melihat Hinata dengan tatapan selidik.
"Ne Hinata! Apakah kau juga berpikir kalau Sasuke itu keren dan ganteng?! Kuso! Kupikir Cuma kamu yang kebal sama tuh rambut pantat ayam! Dan disini diriku yang malah bikin kau suka sama tuh pantat ayam!"
Hinata tidak tahu apa yang dikatakan oleh Naruto karena dia sudah tidak sadarkan diri…
Dan sebagai endingnya, Naruto dipiting kepalanya oleh para siswa yang marah padanya akibat mengganggu cewek yang terkenal akan lemah lembut dan tidak dapat menyakiti siapapun itu.
.
.
.
Sasuke hanya duduk dengan tenang sambil membuka-buka buku yang baru dipinjamnya dari perpustakaan. Isinya mengenai rumus-rumus yang begitu rumit (di mata Naruto). Menyadari kalau ada orang di sebelahnya, Naruto segera kembali ke posisi penuh aura kebiruan yang membuat siapapun segera menjauh daripada kena bunuh (?).
Namun kali ini yang Naruto hadapi adalah Sasuke. Dengan muka manyun-manyun tidak jelas, usahanya untuk mendapatkan kalimat pertanyaan penuh perhatian dari seorang Uchiha Sasuke pun gagal total karena meskipun tahu kalau orang di sebelahnya sedang dalam posisi pundung, Sasuke cuek bebek sambil asik membuka lembar demi lembar rumus yang ada bak sedang sibuk membaca komik keluaran terbaru.
Dan Naruto pun kehilangan kesabarannya….
"TEME!" ucap Naruto sambil meraih kerah baju Sasuke dengan kedua tangannya. Lalu dengan aura non-manusiawi diguncang-guncangnya tubuh Sasuke yang terlihat berisi itu. Dan Sasuke hanya memejamkan matanya sambil menaruh buku rumus di sebelahnya.
"Kenapa sih kamu kok selalu tenar di setiap saat! Arrghhh!"
Klek!
Sasuke merasa kalau salah satu baut di dalam tubuhnya rontok (?)
"Kau tahu betapa sulitnya jadi temannya orang yang kaya kamu?!"
Goncang
Goncang
Setelah beberapa lama, Naruto pun kelelahan sendiri. Sedangkan Sasuke hanya menghela napas sambil kembali duduk dengan tenang.
"Sudah puas?" ucap Sasuke pada Naruto yang cengo akan tingkah laku Sasuke yang sebegitunya. Sasuke pun angkat bicara. Namun sebelum kalimat pertama keluar, terdengar getar ponsel-nya yang menandakan bahwa ada pesan yang masuk.
Sasuke segera melihat isi pesan yang berasal dari sang kakak. Matanya menunjukkan ekspresi agak aneh namun segera berubah bak dirinya teringat akan sesuatu. Naruto pun sampai bingung mau berkata apa.
"Dari Aniki," ucap Sasuke sambil kembali duduk dan menikmati rumus-rumus yang terpapar di depannya. Naruto hanya ber-'oh' ria.
"Dia mau pulang ya? Sou ka…. Pasti bawa pulang oleh-oleh… enak ya jadi Sai sama kamu itu…"
Namun ekspresi Sasuke segera berubah.
Dan Naruto tahu apa maksudnya.
"JAdi…"
"Enggak kok. Ita-nii sudah berubah. Kurasa faktor umur dan pengalamn mempengaruhi. Dan sekarang aku tidak merasa khawatir lagi."
"Namanya juga masa anak-anak. Kan bisa saja rasa iri membuat dia memperlakukan kalian berdua dengan kasar ataupun tidak baik. Jadi kan sekarang dia udah baik."
"Kau salah, Naruto."
"He? Kalau Itachi-san udah baek dari dulunya sama kalian, kenapa masang muka begituan?!" ucap Naruto kesal. Dia memikirkan kalau kedua bocah kembar yang dijahati oleh sang kakak karena perhatian yang beralih ke arah sang adik.
"Bukan kalian, tapi Sai."
"HE?!"
Sasuke tersenyum miris. Lalu ditutupnya bukunya dan beralih untuk mengambil tas yang tergeletak manis menunggu sang empunya. Naruto pun menggunakan 'pengalaman' masa lalunya dan menemukan titik terang.
"Kau tahu,"
Naruto mengalihkan perhatiannya pada Sasuke yang menunjukkan senyum yang mampu membuat para wanita kelepek-klepek. Tolong tambahkan backlight(?) berupa sinar orange-kuning yang berasal dari jendela kelas dari atas kepala Sasuke.
"Ucapanmu mengingatkanku pada seseorang. Dan tak kusangka kalau pemikiranmu sama dengannya," ucap Sasuke dengan senyum lebar dan mata menyipit. Naruto pun mulai teringat akan Sai. Seandainya Sai mau menunjukkan senyum sejatinya, past tidka beda jauh dari Sasuke yang sekarang….
"Maksudmu Sai, 'kan?" tanya Naruto dengan nada main-main. Sasuke hanya berjalan meninggalkan kelas sambil melambai ke belakang.
"Duluan ya!"
Dan Naruto merasa beruntung untuk bisa melihat apa yang berada di balik topeng seorang Samurai-man.
.
.
.
Itachi berjalan sambil menikmati tumbuhan yang bertebaran di pinggiran jalan. Meskipun baru tiga bulan ditinggal, entah kenapa rasanya begitu lama juga. Beberapa kali dirinya tersenyum ketika melihat sesuatu yang masih ada hingga sekarang (contohnya saja kursi panjang di dekat taman yang dulunya digunakan olehnya untuk mengawasi adik-adiknya yang sibuk bermain di taman ketika liburan).
Diliriknya pagar yang terlihat di sudut matanya. Rumahnya memang tidak pernah berubah. Dan yang membuat matanya memancarkan cahaya teduh adalah seekor kucing yang sibuk mengajak seseorang untuk bermain. Sedangkan yang diajak hanya sibuk dengan serangga yang tak sengaja jatuh di kepalanya.
Lalu dengan perlahan diraihnya serangga itu dan ditaruhnya di dahan pohon maple depan rumahnya.
Dan dengan perlahan tangan itu bergerak untuk mengusap belakang telinga si kucing. Saking fokusnya, Itachi baru menyadari kalau sosok itu menoleh ke arahnya. Sebuah senyum tersingkap.
"Okaeri, Onii-san."
Itachi hanya bisa tersenyum biasa. Karena setiap melihat senyum yang seperti itu, perasaan bersalahnya mulai muncul lagi.
"Aa…."
Lalu sosok itu bangkit dan berjalan masuk sambil membukakan pintu masuk hingga mencapai lebar maksimal.
"Masuk?" tawarnya. Itachi hanya tersenyum sambil berjalan menghampirinya.
"Aa…"
Namun jawaban yang dia berikan segera terpotong ketika sosok itu berjalan menuju ke dapur.
"Okaa-san! Nii-san sudah pulang!" ucap sosok itu sambil melongok ke arah dapur. Itachi hanya mendesah geli. Dengan cepat dia berjalan menuju ke kamarnya yang dekat dengan televise.
"Kau sudah pulang?"
Terdengar suara baritone yang membuat Itachi menoleh ke arah sosok yang sedang duduk di depan televise. Sebuah acara yang menyangkan berita terkini disetel dalam volume rendah. Itachi pun dengan reflek membungkuk sedikit.
"Hai. Otou-san."
"Hn."
Itachi pun segera beralih menuju ke kamarnya. Meskipun sudah ditinggal dalam jangka waktu yang cukup lama, kamar itu sama sekali tidak berdebu. Pasalnya sang ibu selalu membersihkan kamarnya dan berkali-kali menyebarkan bunga moe-moe ketika menemukan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya versi chibi-chibi dulu (auw… kau masih menyimpan ini Itachi-kun~ ya ampun… ini kan pas waktu kamu masih lima tahun dulu… eh ini kan… ya ampun… sampai sekarang masih suka baca komik ini?).
Ah,
Sudahlah…
Namun ketika dirinya melihat satu pak krayon yang tergeletak di bawah ranjang, pikirannya segera melayang ke masa lalu. Ketika dirinya masih belum bisa bersikap sebagai seorang kakak yang baik.
Ketika dirinya melarang siapapun menyentuh krayon-nya karena digunakan untuk ujian mewarnai saat itu. Tentu saja barang yang dipersiapkan harus dalam keadaan prima seperti si empunya. Namun dirinya memang masih belum bisa mentolerir sifat anak-anak yang begitu penuh dengan rasa penasaran.
Kontan ketika adiknya mencoba untuk menorehkan warna hitam dari krayon miliknya di kertas coretan (yang sudah tidak dia pakai lagi), dia segera meraih krayon itu secara paksa dan membuat tangan sang adik terulur dengan puppy eyes-nya.
"Pinjam…"
"Enggak boleh! Buat aku ujian…"
Puppy eyes pun berubah menjadi berkaca-kaca. Namun adiknya yang satunya segera berjalan mendekati dan mengulurkan warna biru.
"Mau yang itu…"
"Aku punya yang satunya…"
Dan mereka pun beralih keluar.
Itachi kembali merasa bersalah. Terutama ketika si kecil itu bertransformasi menjadi seseorang yang terlalu baik sikapnya di hadapan Itachi.
"Ne Nii-san? Kenapa enggak keluar-keluar? Sibuk merapikan barang?"
"Enggak. Kenapa?"
"Dipanggil Okaa-san sama Tou-san."
"Duluan sajalah."
"Hn."
Itachi segera mengganti kemeja dan celana jeans-nya dengan kaos dan celana santai. Ketika mencapai daun pintu, ditolehnya sekali lagi kotak berisi 12 macam krayon itu. Lalu pandangannya beralih ke punggung adiknya yang berjalan lebih dahulu.
Seulas senyum pun muncul tanpa dia sadari
.
.
.
Klek!
"kok patah sih?! Aish!"
Bocah yang sibuk menggambar untuk tugas musim panas itu menghentikan tugasnya karena krayon yang dia gunakan patah. Tiba-tiba dirasakannya aura keberadaan yang sedang mengintip di balik pintu kertas di sebelahnya.
"?"
Dengan perlahan, sosok mungil yang memperhatikannya beringsut dan dengan seenak jidatnya duduk di sebelah sang kakak. Satu kotak krayon yang masih baru berada di pelukannya. Sang kakak menaikkan sebelah alisnya. Si kecil hanya sibuk membuka kotak itu dengan susah payah sedangkan sang kakak hanya duduk sambil menikmati perjuangan sang adik. Dalam hati berniat mengejek karena dia agak gusar dan iri dengan apa yang dipegang adiknya saat ini.
"Mau pamer?"
Namun karena tidak ada balasan, perempatan imajiner pun muncul. Sebelum sang kakak mengeluarkan uneg-unegnya, sang adik mengambil potongan krayon yang patah dan mencocokkan warnanya dengan krayon baru miliknya.
"Iya iya… aku tahu…"
Tangan cubby itu pun akhirnya menemukan warna yang sama dengan krayon miliknya.
"Ketemu!" ucapnya dengan nada imut sambil mengacungkan krayon yang sama warnanya milik sang kakak. Sang kakak menaikkan alisnya makin tinggi.
Dan sang adik pun menaruh krayon yang sama warnanya itu di atas kertas tugas sang kakak.
"Oi oi! Kalo mau coret-coret jangan di kertasku!"
Namun sang adik hanya menaruhnya dan tersenyum polos di hadapan sang kakak.
"Buat Onii-chan!"
.
.
.
To be continued
.
.
Author's note:
Here we go the last puzzle! *keceplosan*
Yang jelas, setelah semuanya udah Kasumi kenalin, let's go to the main part!
See you next chapt! ^_^
