Disclaimer: Naruto beserta chara-charanya bukan milik Kasumi, Kasumi disini cuma ceritanya aja…

Kenalan

Chapter 6

.

.

Terkadang aku berpikir,

Siapa yang lahir lebih dahulu antara aku dan dirinya…

Dilihat dari sikap kami berdua, Kupikir dia yang lahir lebih dahulu...

Namun penjelasan dari Aniki memberikan fakta yang sebenarnya….

Kalau begitu…

Kenapa aku tidak bisa mengimbanginya?

.

.

.

Pit!

"Nah! Sudah puas dengan pemanasannya?"

Seluruh penghuni kelas yang tumpah ruah di lapangan sepak bola sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menjawab pertanyaan dari sang guru olahraga yang terkenal dengan kemampuan dan daya tahan tubuhnya yang luar binasa (?). Pandangan mereka beralih dari sang guru menuju ke ujung lapangan. Dari kejauhan terlihat dua orang yang sangat hideous jika dibandingkan dengan suasana hijau lapangan berumput di belakang sekolah.

Naruto hanya bisa berjalan bak Zombie dengan aura putih yang berkoar-koar di sekitar tubuhnya. Bahkan seorang siswa bernama Neji yakin seyakin-yakinnya kalau dari mulut Naruto keluar sesuatu yang berwarna putih (bukan iler lho!) yang diidentifikasikan sebagai nyawa yang tidak sempurna masuk dan bersemayam di dalam tubuh (?).

Di sebelahnya terlihat si raven yang merupakan idola para cewek (ganteng, pinter, cool dsb) sedang berlari santai dan sekali-kali melirik dan mengucapkan sesuatu yang entah kenapa membuat si kepala duren mempercepat larinya.

Ouch,

So sweet-nya…

Adegan itu membuat para cewek berniat untuk menyusun rencana nista demi bersama sang idola. Namun untuk teman sekelas Sasuke dan Naruto, pemandangan tersebut sudah biasa di mata mereka. Jika dilihat dari luar, Sasuke itu bak cowok yang memiliki karakter badass di segala aspek.

Namun selain menguasai dalam segala aspek (bahkan bukan dibilang mengusai lagi, lebih ke arah terampil), Sasuke terkenal dengan sikap gentle –nya di hadapan para gadis.

Untung saja para fangirl fanatic-nya tidak ada yang sekelas dengannya.

"Woy yang disana?! Kalian berdua cepatlah berbaris! Udah jamuran nih nungguin kalian berdua!" ucap Maito-sensei dengan aura bersemangatnya. Beberapa siswa hanya menghela napas berat dan para siswi hanya kicep akibat tidak tahu harus bilang apa akan sikap esentrik sang guru.

Dan dalam beberapa detik, dua orang yang dipanggil segera berlari dengan cepat dan berbaris. Namun mereka masih merasakan dingin yang tidak wajar (alias merinding) ketika senyum sang guru terlihat begitu mencurigakan.

"Kalian terlambat."

"Maaf…."

"25 kali push-up!"

"HA?!"

Untuk yang terakhir merupakan pernyataan si rambut duren dengan muka membesar dan mulut menganga lebar. Sedangkan si raven sudah mengambil posisi push-up. Naruto sendiri bingung harus bagaimana dan akhirnya mengikuti saja apa yang dikatakan oleh sang Sensei.

Di sela-sela push-up, Naruto menoleh ke arah sang teman dan agak terkejut ketika melihat raut wajah Sasuke yang biasa-biasa saja. bahkan cenderung lebih putih dari biasanya. Apakah ini 'wujud' sebenarnya dari Sasuke? Mengingat Sai juga putih seputih kertas gambar begitu…

Jujur, wajah Naruto sekarang saja seperti tomat masak yang di oven (?). Sedangkan Sasuke sendiri malah biasa-biasa saja begitu. Belum lagi rambut Naruto yang sudah tidak berbentuk duren lagi. Naruto sengaja mengarahkan rambutnya ke belakang akibat keringat yang mengganggunya.

"Oi Teme."

Sasuke tidak menjawab apa-apa. Namun Naruto tahu kalau Sasuke juga ikutan mendengarkan.

"Kok mukamu begitu sih?"

Diam….

Oke,

Naruto mulai 'panas' dan akhirnya lebih memilih untuk menghadap ke arah lain sambil manyun. Namun beberapa detik kemudian, terdengar suara seperti sebuah benda yang dijatuhkan dengan ketinggian yang lumayan rendah.

Bug!

Naruto pun tengok kanan dan tengok kiri,

Dan menemukan Sasuke terkapar bak mayat dengan posisi menelungkup (salahkanlah posisi mereka berdua yang sedang push up). Naruto pun menahan tawa dengan kedua pipi yang menggembung.

"Puffttt…. Cepetan bangun Teme! Woy! Nanti di semprot ama Sensei lho!" bisik Naruto sambil menyodok-nyodok pinggang Sasuke. Namun yang disodok pinggangnya tidak bergeming sama sekali….

Dan itu artinya…

Naruto pun segera bangun dan membalikkan tubuh Sasuke. Dan benar saja…

"Minna! Tolongin!"

.

.

.

"Hatchi!"

"Pffttt!"

Sai hanya memandangi kedua orang yang duduk di depannya. Berkali-kali dia melayangkan ekspresi penuh tanya yang dibuat-buat dengan satu alis yang naik ke atas kepada Sasuke. Sedangkan Naruto malah sibuk menahan tawa tiap Sasuke bersin.

"Jadi kamu pingsan gara-gara flu?"

"Urusai."

"Pffttt! Kau tahu, Sai? Posisinya Sasuke ketika pingsan itu hina banget lho! Dijamin bikin ngakak kalo waktu itu aku enggak panik!" ucap Naruto sambil mengacungkan kedua jempolnya. Sedangkan Sai hanya tersenyum geli. Pose yang cukup hina juga ya…

"Sudah kubilang untuk meminum obat flu tadi pagi dan kau mengabaikanku," ucap Sai dengan nada datar dengan posisi kaki disilangkan dan kedua lengan yang dilipat di depan dada. Sasuke hanya membuang muka ke arah lain.

Naruto sendiri hanya memperhatikan cara komunikasi si kembar Uchiha tanpa maksud untuk ikut campur. Dari percakapan mereka, Naruto jadi tahu kalau Sasuke sudah terkena flu sejak dua hari yang lalu. Dan yang paling mencengangkan adalah tubuh Sasuke mengalami kenaikan drastis dalam hal suhu tubuh tadi malam.

"Aku bisa mengatasinya…" ucap Sasuke sambil tetap menoleh ke arah lain. Naruto hanya bisa (dan masih) menjadi seorang pendengar. Kali ini Sai terlihat menahan tawa dengan menutup mulutnya dengan punggung tangan kanannya. Sasuke pun segera menoleh ke arah Sai. Jika kelakuan Sai seperti itu, itu tandanya terjadi sesuatu yang konyol yang melibatkan dirinya, sang kakak atau bahkan Sai juga.

"Apanya yang lucu? Yang jelas aku sudah bisa mengatasinya…"

"Ya… aku tahu kalau sistem imunmu terkadang membuatku iri. Namun yang namanya manusia…"

"Apa? Yang namanya manusia bisa sakit gitu?"

"Hn… enggak… enggak gitu maksudku…"

"Katakan saja…" ucap Sasuke dengan nada santai. Namun otaknya terus memproses kemungkinan yang terjadi yang cukup membuat Sai berekspresi seperti itu.

"Jadi kau tidak ingat ya? Sou… lupakan saja kalau begitu. Lagipula saksi kuncinya hanyalah aku…"

Sasuke semakin bingung. Dan sebagai hasilnya, mulutnya terbuka untuk memberikan jawaban atas pernyataan Sai. Sebelum hal itu terjadi, Sai sudah beranjak dari kursi sofa dan berjalan menuju ke arahnya. Sebuah telapak tangan bertengger di dahinya.

"Hm… sudah mulai turun ya? Tapi kurasa kalau malam bakalan naik. Lebih baik kau ganti baju dan kuambilkan obat serta air putih. Naruto, bisa minta tolong?" ucap Sai sambil menoleh ke arah Naruto. Naruto pun mengacungkan jempolnya.

"Oh iya…"

"Ada apa, Naruto?"

"Aku mau melakukan apa yang kau minta asal dengan satu syarat…" ucap Naruto dengan senyum evil. Sai hanya memiringkan kepalanya ke kanan. Naruto pun mendekatkan bibirnya di telinga Sai.

"Kasi tahu dong tentang hal yang konyol yang dilakukan Sasuke semalam~~~~ "

Bletakk!

"Itte na! woy Sasuke! Udah sakit masih aja mukulin orang yang berjasa…. Bilang makasih gitu napa sih!"

"Urusai!"

"Maa… ma…Sasuke…."

"Hm?"

"Ayo ganti baju dan makan lebih dahulu…" ucap Sai sambil membantu Sasuke berdiri. Namun Sasuke segera menepis telapak tangan Sai yang sudah dalam posisi memegang lengannya. Sai sendiri hanya tersenyum dan memperhatikan Sasuke yang cemberut.

"Aku bisa sendiri…"

"Hai hai…" ucap Sai dengan nada main-main. Lalu perhatiannya terarah ke Naruto.

"Gomen ne… Sasuke memang gitu orangnya…" ucap Sai. Naruto malah memandang Sai penuh tanya.

"Enggak gitu juga sih. Tapi yang bikin aku agak aneh adalah kamu."

"Hm?"

"Kamu enggak tersinggung gitu?" tanya Naruto was-was. Sai malah tersenyum geli akibat Naruto yang berpikir sampai segitunya.

"Kenapa harus tersinggung?"

Kini Naruto merasa bingung akan sikap Sai. Yah, mungkin saja Sai itu memang berkulit badak sehingga perkataan apapun tidak bisa menembus hatinya akibat ketebalan lapisan pelindungnya (si kulit badak tadi).

"Oh ya, mengenai yang kau minta tadi… kau bisa mendengarkannya esok hari. Upayakan datang ya. Kujamin besok Sasuke tidak masuk sekolah."

.

.

.

"Enggak nginep sekalian, Naruto?"

"Aa… aku masih ada banyak tugas dan gitu deh…"

"Gitu ya? Yaudah. Makasih ya sudah mengantar Sasuke ke rumah."

"Iya.. namanya juga temen kok, Itachi-san. Yaudah, aku pamit dulu. Met sore!"

"iya…."

Itachi ikut melambaikan tangan untuk membalas lambaian si surai kuning hingga menghilang dari pandangan. Lalu ditolehnya ke arah lantai atas tempat kedua adiknya yang sedang sibuk bergulat demi kesehatan Sasuke.

Oke,

Itachi rasa kata bergulat kurang cocok untuk didengar. Namun hal itulah yang terjadi ketika dirinya menggeser pintu kertas yang menghubungkan antara lorong dan kamar Sasuke. Terlihat Sai yang awalnya cemberut dan melipat kedua lengan di depan dada ketika Sasuke bersikeras untuk mandi. Dan detik selanjutnya adalah Sai yang berjalan tenang dan dengan tiba-tiba menutupi seluruh tubuh Sasuke dengan futon yang baru.

"Bukan begini maksudku, Sai!"

"Kau bilang kau tidak mau tidur dalam keadaan kotor. Aku tahu kalau demammu naik ketika malam hari. Kujamin futonmu kotor karena keringat dinginmu. Jadi biar kuambilkan selimut baruku…"

"Bukan begitu maksudku! Aku mau mandi Karena tubuhku rasanya lengket sem-"

Belum selesai Sasuke menjawab, Sai sudah berada di depannya sambil menempelkan telapak tangannya ke dahi Sasuke. Sasuke pun diam tanpa kata saking kagetnya. Dan ekspresi selanjutnya dari Sai menandakan kalau suhu tubuh Sasuke tidak memperbolehkan Sasuke untuk mandi.

"Aku kemarin man-"

"Dan pagi tadi pingsan?" sela Sai sambil berdiri lagi dan menatap Sasuke dengan tatapan yang sulit diartikan (bahkan bagi seorang Sasuke sendiri). Itachi berniat untuk segera masuk karena dia tahu kalau perdebatan ini akan berujung ke hal yang tidak baik. Dia yakin kalau salah satu dari kedua adiknya akan tersinggung (mengingat keduanya memiliki potensi mengeluarkan perkataan yang cukup menusuk kalau sedang emosi ataupun tidak mau diganggu).

"Diamlah… aku berbeda denganmu. Dan aku tidak sepertimu yang kalau terlanjur sakit susah sembuhnya…"

Belum sampai Itachi masuk untuk melerai, kalimat itu sudah lebih dahulu diperdengarkan. Ingin rasanya Itachi memiting leher Sasuke atas perkataannya tadi. Dia yang mengambil posisi berupa bersandar di dinding dekat kamar Sasuke hanya bisa tercekat.

"Sou…"

Dan dirinya bisa melihat dengan jelas kalau Sai berjalan keluar kamar. Itachi tidak berani menyapanya karena dia tahu apa yang sedang terjadi dan terpikirkan oleh Sai. Sehingga dia hanya memperhatikan Sai yang menghilang di belokan lorong. Menghela napas berat, dia berjalan dan bersandar di pintu kertas kamar Sasuke.

"Oi."

Namun panggilan singkat dari sang kakak tidak diindahkan oleh Sasuke yang dalam posisi bergumul dalam selimut baru milik Sai (bahkan Sasuke dapat mencium bau kain pabrik yang menandakan kalau Sai belum pernah sekalipun memakai selimut itu). Sasuke hanya mencoba untuk memeluk pinggiran selimut itu dengan erat dan mencoba untuk menghilangkan perasaan berkecamuk di dalam hatinya.

Namun dia lupa kalau Itachi masih berada di kamarnya dengan posisi kedua lengan melipat di depan dada dna bersandar di pintu masuk kamarnya.

"OI!"

Belum ada balasan.

Oke, Itachi agak gusar juga.

"OI! Dengarkan ak-"

"WAKATTERU!"

Itachi mendengus.

"Tahu? Apa yang kau tahu? Kalau kau tahu mengapa kau masih disini?"

"Urusai!"

"Oke… oke… the almighty one than his other self…." Sindir Itachi.

"Gunakan Bahasa Negara sendiri. Jangan sok…"

"Hmph! Soudesuka na… oke lah, kalau kau maunya begitu. Terser-"

"Itachi-nii… bisa tolong minggir?"

Itachi yang awalnya ingin memberi pelajaran pada Sasuke segera berjingkat ketika sebuah kaki menendang-nendang kecil ke arah pergelangan kakinya. Ditolehnya Sai yang sedang keberatan membawa baskom yang cukup besar yang berisi air hangat. Di bahunya terselampir handuk putih.

Wajahnya menunjukkan ekspresi agak jengkel ketika Itachi masih memproses data yang masuk.

"Minggir dikit dong, Nii-san…."

"O-oooo….."

Sai pun berjalan perlahan sambil menaruh baskom berisi air hangat di dekat kaki Sasuke. Lalu dia membenarkan posisi handuk yang berada di bahunya. Itachi masih terlalu kagum dengan apa yang sedang terjadi saat itu. Sedangkan Sai menghela napas dan menunjuk-nunjuk buntalan selimut yang berisi Sasuke sambil terus memanggil-manggil namanya.

"Sasu…. Hei…. Jangan tidur dulu…" ucap Sai. Itachi pun sweatdrop melihat tingkah Sai bak seseorang yang terlalu takut untuk memastikan binatang berbahaya yang berada di depannya sudah mati atau belum (kalau di televisi, biasanya sang tokoh akan menusuk-nusuk si binatang dengan kayu, sedangkan Sai malah menusuk-nusuk pinggang Sasuke dengan telunjuk kanannya).

Dan saking kesalnya (menurut Itachi), gumpalan selimut itu pun segera terbuka dan muncullah Sasuke dengan muka marahnya sambil menunjuk-nunjuk Sai.

"Bisa diam ti-"

Sasuke yang awalnya mengira kalau Itachi yang mengganggunya akhirnya kaget ketika melihat Sai yang tersenyum di depannya.

"Kalau mandi sore ini pasti bakalan dingin. Bagaimana dengan mandi pakai air hangat dan diusap pakai handuk?"

.

.

.

.

"Hah…."

Sasuke hanya bisa berguling-guling sambil terus merasakan dahinya dengan telapak tangan kanannya. Panasnya sudah menurun dan say thanks pada Sai yang menemaninya semalaman. Meskipun dia tidak terlalu ingat apa yang telah mereka lakukan sampai pagi (Sasuke yakin seyakin yakinnya kalau dia tidak tidur secara tenang tadi malam), namun yang jelas dia harus berterima kasih pada Sai yang sudah repot-repot menyusup ke kamarnya untuk menemaninya.

Dipejamkannya matanya sekali lagi…

Hari sudah siang namun kepalanya yang pening mencegahnya untuk bangun dari futon. Suhu udara yang cukup panas di siang hari tidak membuatnya berniat untuk meloloskan diri dari selimut super tebal yang menutupi tubuhnya.

Diliriknya ke arah kanan dan dengan cepat dia menemukan sebuah teko berisi teh herbal yang masih hangat lengkap dengan cangkirnya. Sasuke jadi berasumsi kalau bukan Sai tentu ibunya yang mengganti mangkuk bubur hangat yang telah tandas isinya (say thanks lagi buat sang kakak yang memegangi kedua tangannya dan Sai yang menyuapinya dengan senyum penuh perhatian yang sebenarnya Cuma senyum evil berlapis rasa khawatir) dengan nampan berisi teko dan cangkir tadi.

Ah…

Berbaring sebentar kelihatannya enak…

Sasuke memejamkan matanya dan merilekskan dirinya…

Nafasnya mulai teratur dan tenang….

Kepalanya yang pening sudah bukan masalah lagi…

Dan-

"Teme…..! dimana elu! Keluar! Gue ama teman-temen mau ngejenguk!"

Anjrit bener…..

Sasuke yang awalnya mulai tertidur malah membuka matanya dengan cepat (bahkan bisa dibilang hampir melotot) dan mencoba merangkak untuk mencapai jendela kamarnya. Ketika melihat penampakan si duren beserta beberapa teman sekelasnya, dengan cepat diraihnya botol teh plastik (hadiah dari Itachi berupa teh botol aroma melati) yang telah kosong. Meskipun pandangannya terkadang sering mengabur akibat rasa pening yang belum hilang, dia masih mampu menentukan target dan melesat dengan sempurna.

Naruto yang masih dalam pose berteriak bak orang gila dengan dua telapak tangan di taruh dekat pipi (sebagai pengganti toa) tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang cukup berat namun kosong (?) jatuh ke kepalanya. Di belakangnya, Shikamaru, Tenten dan Chouji hanya bisa bergetar bahunya akibat menahan tawa.

Mereka menahan tawa bukan karena Naruto yang ketimpuk botol bekas minuman teh kemasan…

Namun ekspresi Naruto yang sudah freeze dengan posisi mulut menganga dan kedua telapak tangan di dekat pipi (posisi toa yang akan berteriak namun terhenti) plus mata yang memutih bak anime face.

Setelah mengolah data yang masuk, output pun dihasilkan sebagai hasil dari jatuhnya input (botol teh kosong).

"WOYY! Teme! Juahat banget sih! Dijenguk malah ngelemparin yang ngejenguk!" ucap Naruto dengan posisi tangan kanan terkepal ke arah atas alias ke arah Sasuke yang ber-evil smirk ria di jendela kamar.

"Urusai! Kau itu bukan membuat orang sakit jadi sembuh tapi malah bikin kambuh!" ucap Sasuke sambil berlalu masuk ke balik jendela (?).

Krik

Krik

Krik

Ketiga orang tersebut merasa kalau mereka tidka dipersilahkan masuk oleh si pemilik rumah. Naruto pun menoleh ke arah ketiga temannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Hah… biarin aja si Teme itu… rumahnya ini emang sepi… kakaknya lagi maen ke rumah temennya… kedua ortunya pada kerja… dan-"

"Hoam…. Dochirasamadesuka?"

Keempat orang menoleh dan Tenten sebagai satu-satunya cewek disana melebarkan matanya.

Disana…

Iya…

Disana…

Muncullah seorang cowok imut (Tenten masih tidak percaya mengenai Sasuke yang bisa seimut itu) dengan rambut acak-acakan, posisi bersender di daun pintu, sedang mengucek-ucek mata kanan dengan kepalan tangan kanan…

Dan kulit yang terlalu putih?

Ah.. Sasuke kan lagi sakit…

Untuk kali ini Tenten lebih memilih untuk tidak mengambil ponselnya dan mengabadikan moment unyu sang Samurai-man SMA Konoha. Kasihan juga kan… dia nya lagi sakit begitu dan susah-susah turun dair lantai dua buat menyambut temen-temen yang menjenguk…

"Sa-"

"SAI!"

Sai?

Siapa itu?

Tiga mata hanya bisa memperhatikan Naruto yang meninju bahu cowok itu (cowok itu kan Sasuke!- pikir Tenten, Shikamaru dan Chouji) dan tergelak.

"Hmm…. Kok ada duren melayang ya?"

"Waahhh… dasar anak kembar! Sakit tahu! Sakit!" ucap Naruto lebay sambil pura-pura bergaya bak orang yang terkena serangan jantung. Namun pandangan Sai yang mengarah ke belakangnya membuat Naruto nyengir dan menunjuk satu-persatu temannya dengan ibu jarinya.

"Yang nanas itu Shikamaru…. Yang cepol onde-onde itu Tenten… terus yang ototnya kebanyakan lemak itu Chouji…"

"WOY NARUTO!"

"Tehe…. Sai bisa mengingat dengan mudah jikalau ada pembandingnya… oh ya… ini namanya Sai… emang mirip sih ama Sasuke…. Dia kembarannya soalnya…" ucap Naruto sambil memperkenalkan si pucat yang mash memicingkan matanya untuk memperhatikan ketiga teman sekelas Sasuke.

Tiga orang yang diperhatikannya hanya bisa speechless….

.

.

.

To be continued…

.

.

.

Author's note:

Maaf karena lama banget update-nya. Tiba-tiba aja Kasumi kena writer block dan akhirnya semedi di fandom lain biar dapet inspirasi (aka silent reader) yang ujung-ujungnya malah tambak blank . tapi setelah ngedengerin lagu-lagu yang menginspirasi fic ini akhirnya Kasumi nemuin cara buat menguraikan ide pokok chapter ini dan voila! Jadilah nih chapter….

Gomen karena chapter ini kurang nyesek ataupun kurang berasa… salahin Kasumi aja deh karena baru bangkit dari writer block ….

See you in the next chapt…. ^o^