Kenalan chapter 7
.
.
Kau tahu?
Banyak yang bilang kalau kesabaran seseorang itu ada batasnya…
Begitupun denganku…
Aku heran…
Apakah kau kurang peka ataukah apa…
Tapi yang jelas…
Aku mengalaminya…
.
.
.
.
.
.
Dan…
Aku menyesal telah mengakuinya….
Dan untuk yang keberapa kalinya…
Aku merasa kesulitan…
Untuk meminta maaf…
.
.
.
"Mau jenguk Sasuke?"
"Enggak! Aku mau nebeng makan ke rumah kalian! Ya tentu aja mau jenguk si pantat ayam itu! Kau ini gimana sih?" ucap Naruto sambil merangkul leher Sai. Sai sendiri kemudian mengangguk dan mempersilahkan Naruto dan teman-temannya untuk masuk dan memanggil Sasuke.
Shikamaru yang baru bisa mengerti setelah mendengar kalimat panjang dan lebar sari seorang Naruto uzumaki akhirnya menoleh ke arah perginya Sai. Kedua alisnya terlihat seperti berusaha untuk menyatu.
"Heeh… jadi dia kembarannya Sasuke ya? Sekolah dimana?"
Naruto terjingkat mendengar pertanyaan dari Chouji. Sai kan…
"Ara ara… temennya Sasuke ya?"
Muncullah seorang wanita yang cukup anggun dengan apron yang menutupi tubuhnya. Tangan kanannya memegangi sebuah spatula yang mereka yakini kalau digunakan untuk menggoreng sesuatu. Naruto cukup bersyukur karena dia merasa terselamatkan oleh sang ibu dari Sasuke dan Sai. Sedangkan untuk yang tiga orang lainnya, perhatian mereka teralihkan ke arah sang ibu yang penuh bunga moe-moe dan berjalan menuju ke dapur untuk membuatkan teh dan camilan.
"Aah… ibunya Sasuke bener-bener sesuatu ya… udah anggun… cantik… awet muda… putih bening bling-bling… kyaaa… pantesan anaknya begitu semuanya.. gen memang menakjubkan ya…" ucap Tenten dengan aura lovey dovey. Chouji hanya menghela napas dan Shikamaru hanya memasang wajah datar.
Karena terlalu lama menunggu, Naruto pun dengan keberanian tingkat dewa memasang jiwa penuh berani dan bergegas ke dapur untuk meminta ijin pada sang ibu keluarga Uchiha. Alasannya untuk menjemput Sasuke. Naruto tidak akan percaya seratus persen kalau Sasuke itu masih guling-guling lemes di atas futon. Buktinya saja yang tadi pagi berupa lemparan serupa atlet tolak peluru yang sukses mengenai kepalanya.
"Temanmu ada di bawah…"
"Aku malas menemui mereka…"
"Sou…"
"Hentikan tatapanmu itu. Kau tahu ka- aish! Kau ini!"
"Kau mau menemui mereka?"
"Hentikan tatapanmu itu dan aku mau menemui mereka. Mattaku! mereka temanku dan kau yang sibuk sendiri! Yang punya temen itu sebenarnya aku atau kamu sih?"
"….."
"Sa-"
"Mereka sudah menunggu. Aku mau mandi dulu."
"sa-"
Naruto yang tidak sengaja menguping pembicaraan mereka berdua segera berniat untuk memasang scenario agar mereka merasa nyaman ketika tahu kalau tidak ada yang menguping. Namun gerakan secepat kilat dari seorang Sai yang pintar menghindar dan (kerennya) bergerak gesit untuk keluar ruangan membuat Naruto sedikit terpesona dan tanpa sadar menghalangi seseorang yang berniat untuk mengejar Sai.
Brug!
Dan tabrakan pun tidak dapat dihindari…
"Do- uhuk uhuk…"
"Makanya hati-hati dong kalo jalan! Dan aku enggak tahu kalau Sai bisa segesit itu bro! keren!" ucap Naruto dengan niatan untuk menutupi fakta bahwa dia (sedikit) tahu mengenai apa yang terjadi saat itu. Sasuke masih terbatuk-batuk dengan posisi terduduk sambil menatap koridor yang baru saja dilewati oleh Sai. Tidak dihiraukannya batuk yang terus melanda.
Ketika tahu bahwa yang mengangkat tubuhnya adalah Naruto,
Sasuke baru menyadari kalau dia benar-benar melakukan sebuah kesalahan fatal…
.
.
.
"Teme, kenapa kau murung begitu? Segitu kesalkah dirimu pada aku yang mengganggu acara tidur untuk kesembuhanmu?" ucap Naruto penuh canda. Namun candaan itu memberikan arti berbeda bagi yang mendengarnya.
"Dia… tidak kembali…"
Dan Naruto pun menghela napas panjang. Namun dia berusaha untuk pura-pura tidak tahu demi-
"Ketika aku dalam keadaan yang buruk, dia akan selalu menoleh ke arahku. Dan tadi dia sama sekali tidak mau menoleh ataupun berhenti sebentar untuk melihat keadaanku."
Sumpah,
Ini bukan Sasuke yang dia kenal…
Dia berniat untuk menyuruh Sasuke untuk mengejar Sai. Namun dalam hati dia merasa agak geram juga dengan Sai yang bertingkah seperti itu. Padahal si kakak sedang sakit dan ujung-ujungnya ini yang dilakukan pada si kakak?
Naruto tahu kalau Sai memang seperti itu. Namun pada akhirnya, setidaknya Sai tahu diri dan lebih mementingkan si kakak yang sedang sakit. Bukankah Sai pernah sakit sebelumnya?
Hati Naruto menjadi bimbang…
Terdapat dua kubu yang terus menyuarakan maksud mereka.
Kubu yang pertama yakni menemani Sasuke dan membujuknya agar percaya kalau Sai masih seperti dulu. Nanti juga pulang dan bersikap seperti biasanya.
Kubu yang kedua lebih memikirkan Sai yang bersikap tidak peduli, Sasuke yang dalam keadaan yang memburuk dan perasaan yang muncul mengenai Sasuke yang kepikiran dan stress lalu berakibat pada makin parahnya penyakit yang diderita Sasuke.
Dan kubu yang kedua pun memenangkan pertarungan.
Tepat ketika mereka berpamitan dan Naruto mendengar sayup-sayup suara sang ibu dari keluarga Uchiha yang menanyakan dimana si Sai, Naruto pun berusaha menahan amarahnya hingga mereka berempat berpisah di pertigaan jalan.
Setelah memasang wajah bahagia dan melambaikan tangan, dia pun segera menekan tombol di layar ponselnya untuk menghubungi Sasuke. Dia tidak tahu dimana si pucat itu berada karena dia belum begitu mengenalnya.
Namun ketika mendengarkan nada tunggu yang mengalun, pemikirannya segera mengarah pada ingatan mengenai pembicaraan tadi. Dan otaknya pun memproses sedemikian rupa dan membuat dirinya merasakan apa yang dirasakan Sai.
Namun sebelum semuanya terproses secara sempurna, sesosok bayangan lewat di depannya dan Naruto pun segera membatalkan panggilannya.
"SAI!"
Sosok itu menoleh dan tersenyum… senyum palsu…
Namun saat itu Naruto masih dalam keadaan tak terkendali.
"Sasuke sakit dna kau disini?"
"Okaa-san sudah mengurusnya."
"Kau tahu, tadi Sasuke mengkhawatirkanmu…"
"So-"
"Dan aku pergi sendiri? Meninggalkan Sasuke? Apa kau bagaimana perasaannya? Dan apakah kau tahu bagaimana perhatiannya padamu? Seharusnya kau menyadarinya ketika dia seperti itu,bukan? Dan aku yakin, Sasuke bukan tipe seseorang yang mudah jatuh…."
Naruto bahkan tidak dapat menyadari kalimat apa saja yang terlontar. Sedangkan Sai yang awalnya memasang wajah terkejut dan sakit hati, namun dalam waktu beberapa detik dirinya menarik napas dalam dan tersenyum dalam hati. Tersenyum akan kekonyolan dirinya yang begitu egois, mudah percaya dan berbagai macam perasaan ikut berkecamuk dalam dadanya.
Namun pada akhirnya dia hanya bisa mendengarkan satu persatu kata yang keluar dair mulut sahabat barunya ini. Kedua tangan dilipat di depan dada, telingan mendengarkan lamat-lamat apa yang diucapkan sahabatnya, alam bawah sadar yang menyarankan untuk melepaskan intisari dari perkataan Naruto…
Dengan kata lain, Sai berusaha untuk mendengarkan saja. dia tidak ingin memasukkan bahkan memahami apa perkataan Naruto yang isinya mudah sekali dia tebak.
Sangat mudah.
Karena dia pernah mengalami hal yang seperti ini.
Iri?
Tentu saja…
Sakit hati?
Maaf, Sai tidak ingin sakit hati lagi. Oleh karena itu dirinya hanya berusaha untuk 'mendengarkan' dan menunggu hingga Naruto selesai bicara. Dengan begitu Sai akan menyuarakan kalimat yang terpendam dalam lubuk hatinya.
'Ternyata semua sama saja. pada akhirnya tidak ada yang benar-benar mengikatku untuk tetap bertahan disini.'
Namun kalimat itu tidak pernah tersampaikan…
Naruto yang baru menyadari perkataannya akhirnya terdiam. Pikirannya melayang mengenai percakapan yang terjadi beberapa waktu yang lalu dalam versi sudut pandang Sai. Sai sendiri menaikkan sebelah alis seolah-olah menanyakan:
'Sudah selesai ceramahnya?'
Namun sebelum Naruto mengomentari tingkah laku Sai, sosok yang berada di depannya akhirnya tersenyum. Senyum yang muncul mungkin terlalu lebar dengan mata yang hampir menyipit. Senyum yang dibuat karena 'latihan' dalam waktu lama.
Bukan senyum yang muncul tanpa sadar akibat peristiwa penting di sekitarnya.
"Sou…. Maafkan aku kalau begitu. Sudah sore, kau tidak mau pulang?" ucap Sai dengan nada yang sangat berbeda. Nada dingin dan begitu kosong… seolah-olah nada itu keluar dari mesin yang diprogram untuk menyapa ataupun berkata-kata pada manusia.
"Akh, go-"
"Aa… kau tidak salah kok, Naruto. Aku yang salah. Jaa ne," ucap Sai sambil berlalu melewati Naruto. Namun Naruto tidak tinggal diam, dia menarik lengan baju Sai dan berusaha untuk menatap mata Sai.
Kosong…
Sai telah kembali seperti dulu…
Sai berniat untuk me-reset segalanya dan kembali ke perasaannya yang awal…
"Daijoubu. Aku akan minta maaf."
Naruto tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ucapan Sai bak menyarankan bahwa seisi dunia itu benar dan Sai adalah yang salah. Bak Sai adalah yang selalu salah disini.
Naruto tidak menginginkannya…
Sama sekali tidak…
Entah kenapa dirinya merasa kalau yang namanya Sai merupakan teman yang sudah sangat lama bersama dengannya. Meskipun jeda waktu yang mereka habiskan masih terbilang singkat untuk dibilang sebagai seorang sahabat.
"Pulanglah. Aku janji aku akan minta maaf. Dan jangan khawatir."
Singkat.
Benar-benar singkat bagi seorang Naruto. Yang memungkinkan Naruto untuk terdiam dan tidak ingin melakukan apapun. Membuat Naruto merasa kalau Sai adalah orang asing ataupun partner dalam waktu singkat dan kemudian berpisah…
Membuat Naruto bak merasa kalau Sai adalah seorang kenalan. Bukan seorang teman apalagi sahabat.
.
.
.
"Walah-walah.. temen-temenmu baek banget ya… dibawain kue.. roti… dna apa ini? Jus tomat? Muahahaha!"
"Urusai!"
"Jangan marah-marah gitu dong… kalau orang marah itu sarafnya banyak yang mati… terus nantinya penuaan dini…"
"Yang bener itu sel, baka Aniki…"
"Ya ya… si pinter ini emang belagu ya? Huh! Lihat saja nanti kalau kau masuk satu jurusan kuliah! Disana kau akan merasakan bahwa materimu selama SMA dan dibawahnya akan terkikis dan menghilang.. pooof… seperti bedak bayi yang ketiup angin…" ucap Itachi sok dramatis. Membuat Sasuke memandangnya dengan penuh aura jijik.
"Apa-apaan tuh muka?!"
Sebuah bantal mendarat tepat di jidatnya.
"Ada pepatah lain selain bedak bayi?!" ucap Sasuke geram. Yang ada bukan Itachi yang menciut namun gelak tawalah yang muncul. Membuat Sasuke sedikit meragukan kesehatan sang kakak.
"Warui warui…. Cuma keinget kalian berdua yang begitu heran dan suka main niup-niup bedak bayi… muahahaha… dan ketika kubuatkan sebuah origami berbentuk bangau, pandangan kalian membuatku bak seorang ahli sulap terkenal dan paling keren di dunia…"
Sasuke hanya memandang ke arah lain sambil mendecih. Wajah Itachi yang awalnya bersinar kini sedikit menunduk dan senyum simpul pun muncul. Ekspresinya berubah menjadi seseorang yang teringat akan kenangan yang begitu indah.
"Dan Sai yang menoleh ke arah televisi akhirnya berinisiatif untuk membuat pesawat dari kertas tanpa bantuan siapapun… saat itu aku berpikir kalau aku memiliki kedua adik yang paling jenius sedunia…"
Sasuke menoleh dan menghadap ke arah Itachi.
"Dia mampu mengingat bagaimana cara memutar video anak-anak di komputermu. Padahal saat itu dia belum tahu huruf maupun tulisan… ah… dia bahkan belum bisa membaca…"
"Hm… jadi kau ingat?"
"Hm?"
"Ah… seharusnya aku tidak keceplosan tadinya. Ne, apakah kau masih merasakannya? Kalau kau masih merasakannya, lebih baik buang jauh-jauh. Se-"
"Aku tidak pernah merasakannya sejak saat itu…"
"Saat itu? Aahh… itu ya? Baguslah, karena dia menyumbangkan separuh miliknya untukmu," ucap Itachi sambil menyodok-nyodok pinggang Sasuke dengan bantal yang tadi berhasil di tangkapnya setelah mampir di jidatnya.
"Terkadang aku berpikir…"
"Kau memang selalu berpikir. Kau kan tipe pemikir…" ucap Itachi yang secara langsung merusak suasana.
"ANIKI!"
"Aah… gomen-gomen. Separuh hati… satu ginjal… dan…"
"Jantung yang tidak sempurna?"
"Yeah, tapi itu juga bukan karena dirimu kan? Lagipula hati merupakan organ yang dapat meregenerasikan diri ke bentuk semula. Dan…"
"Kenapa bukan organ yang paling vital yang bisa beregenerasi? Dan obat-obatan pasti mempersulit kerja hati dan ginjal…"
"Hm…"
"Dan dia hanya punya satu…"
"Dan kau punya dua. Dalam ilmu logika, waktu itu diantara kalian berdua kaulah yang paling kuat. Apalagi jantungmu normal. Maka dari itu…"
"Mereka memberikan kesempurnaan padaku dan yakin bahwa Sai tidak akan selamat dalam operasi pemisahan bayi kembar siam itu. Namun takdir berkata lain, tch!"
Itachi hanya bersandar di dinding. Mencoba untuk mengingat-ingat bagaimana Sai yang masih begitu kceil mendengarkan secara tak sengaja cerita yang sebenarnya dikhususkan untuk Sasuke. Agar Sasuke menyadari bahwa tiada yang sempurna di dunia ini. Bahwa dia tidak perlu iri karena Sai sendiri juga terkadang iri padanya.
Namun ingatan itu ia tutup kuat dan tak pernah dia buka…. Mungkin…. Untuk selamanya.
Karena dia tidak tahu harus berbuat apa.
.
.
.
To be continued.
.
.
.
Gomen buat update-nya yang telat. Computer Kasumi lagi bermasalah jadi agak takut juga buat ngoperasiinnya. Namun akibat tekad kuat membara (plus rasa was-was), akhirnya Kasumi berhasil mengatasi error yang muncul pada computer Kasumi.
Maa… pada akhirnya…
See you in the next chap… ^_^
.
.
