Kenalan
Chapter 8
.
.
Terkadang orang yang paling tidak sensitif pun sebenarnya mampu merasakan apa yang orang lain rasakan…
.
.
Atau mungkin saja mereka sulit untuk mewujudkan sebuah sikap yang menunjukkan bahwa mereka merasakan apa yang orang lain rasakan…
.
.
.
'Dan kau meninggalkannya sendiri?'
Oke, Sai akui memang dia adalah orang yang tidak sensitif. Namun dia cukup senang karena sikap itu merupakan harapannya ketika kecil. Dengan demikian dirinya tidak perlu merasakan khawatir akan perasaan yang lain.
Sehingga dia mampu mengatakan apapun pada kedua orang tuanya maupun kepada kedua saudaranya.
Tanpa merasakan keraguan yang tentu saja menjadi hambatan.
Namun terkadang…
Ketika dalam keadaan sendiri, Sai sering mengingat akan perlakuannya dan setelah itu dia akan mulai menilai keadaan dirinya. Berkali-kali renungan malam itu akan membuahkan dirinya yang lebih baik lagi.
Namun di dunia ini tidak ada yang sesempurna itu…
Dan sebagai akibatnya…
Sebuah kata terus terngiang dalam benaknya. Kata-kata yang awalnya muncul secara tiba-tiba itu akhirnya menyatu membentuk sebuah kalimat yang cukup menyakitkan jikalau diucapkan oleh orang lain.
Karena…
Ketika Sai mengucapkannya dalam hati, rasanya begitu menyakitkan. Apalagi jika harus orang lain yang tidak tahu apa-apa yang mengucapkannya.
'Egois'
Itulah kata yang terus menghantui diri Sai hingga saat ini. Ketika dirinya melihat ke belakang, sudah berapa banyak kasih sayang yang ditumpahkan oleh kedua orang tuanya hanya untuk dirinya.
Berapa kali wajah sang kakak yang agak gusar ketika dalam rapat wali murid, orang tua dari Uchiha Itachi tidak bisa menghadiri akibat urusan keluarga yang tidak bisa ditinggal. Padahal, saat itu urusan keluarga yang dimaksud adalah Sai yang tidak mau ditinggal sendiri di rumah sakit.
Padahal Sasuke sudah tidak masuk selama tiga hari…
'Apa lagi yang kurang? Kau sudah ditemani oleh Sasuke, sudah mendapatkan kasih sayang yang "sempurna"….. maunya apa lagi?'
Sai agak tersenyum ketika suatu malam sang kakak mendatangi dirinya yang termenung sambil memperhatikan ikan koi tiga warna kesayangan sang ayah. Pada awalnya sang kakak hanya menjelaskan kalau ikan itu bisa tertidur seperti manusia. Hanya saja mereka tidak memiliki kelopak mata sehingga matanya tidak dapat tertutup.
Dan percakapan terus berlanjut. Semuanya mengenai Sai yang tidak segera tidur, sang kakak yang sibuk menanyakan bagaimana keadaannya…
Hingga berujung pada permintaan maaf secara tersirat dari sang kakak…
Pada awalnya Sai bersikap tidak mengerti karena kakak yang dia ingat adalah kakak yang pengertian, baik hati, mampu memahami semuanya…
Hingga sebuah ingatan tersirat begitu saja. membuatnya menyadari kalau permintaan maaf itu mengenai hal yang pernah terjadi dulu. Dengan enteng dan perasaan tulus dia memaafkan segalanya karena yang berlalu biarlah berlalu. Namun kalau dipikir-pikir…
Bukankah selama ini dirinya yang 'salah'?
Dirinya yang egois?
Perkataan dari Naruto mungkin ada benarnya…
Tidak!
Semuanya benar!
.
.
.
Sai hanya bisa menaikkan sebelah alis ketika melihat kejadian yang cukup awkward di depannya. Niatan awal berupa melepaskan sepatu dan masuk ke dalam kamar pun segera menghilang selama beberapa saat ketika sosok yang tidak diduga muncul di depannya dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.
Pada awalnya sosok yang lahir bebarengan dengannya itu berlari bak mendapatkan hadiah lotere padanya. Namun ketika jarak antara mereka semakin sedikit, sosok itu kemudian menaikkan sebelah alis ke arahnya.
Memangnya aku salah apa? Apakah ada yang aneh? Dan katanya sakit…
Kok malah lari-lari begitu?
Halah,
Orang yang keluyuran macam dirinya tentu tidak cocok untuk mengucapkan kalimat itu.
Dan Sai malah tidak menyadari kalau kedua tangan Sasuke terangkat untuk memberikan gesture yang cukup obvious juga. Namun sayang, Sai sedang sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri. Dan Sasuke secara awkward menurunkan tangannya dan bingung harus berlaku apa.
"Ba-baru pulang?"
"Mmm."
"O-oh.. souka.."
Dan Sasuke berbalik dengan niatan untuk meninggalkan Sai yang masih sibuk dengan pemikirannya. Namun langkahnya terhenti. Dengan gerakan cepat (yang cukup membuat kepalanya pusing seketika), dia memandang punggung Sai yang sedang sibuk melepaskan jaketnya.
"Yang tadi, aku minta maaf."
Sai terhenti sejenak dengan menghela napas.
"Tidak perlu maaf-maafan. Seharusnya aku yang minta maaf. Gomen na, 'Suke."
Kata terakhir dari Sai membuat Sasuke membelalakkan kedua orbs onyx-nya. Dia berharap kalau Sai mengatakannya dengan senyum seperti yang waktu itu. Namun ekspresi Sai tetap datar. Bahkan nada yang terdengar cukup datar bak formalitas.
"Um….-"
"Aku lelah. Gomen kalau tidak bisa menemanimu siang ini…"
"Ti-tidak apa-apa. Aku juga sudah baikan. Lebih baik kau istirahat saja."
Sai tidak merespon dan langsung berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai 2. Sesaat Sasuke teringat akan sesuatu yang membuatnya tidka sengaja memanggil Sai dengan nada yang agak keras.
"SAI!"
"Hm?"
Oke, katanya Naruto anak kembar itu punya telepati. Entah apakah itu benar ataukah tidak, namun Sasuke merasakan desir aneh yang menyatakan kalau selanjutnya tidak akan baik-baik saja. Desir aneh itu terus bergelayut di dadanya hingga secara tidak sadar Sasuke menempelkan telapak tangannya di dada kirinya.
"Kalau ada apa-apa, bilang saja," ucap Sasuke dengan nada ragu-ragu. Entah kenapa perasaannya begitu tidak enak.
Yang jelas,
Perasaan samar itu meliputi Sai yang tidak baik-baik saja.
Entah itu secara fisik ataukah secara psikis.
Menilik dari kejadian tadi, Sasuke dapat menarik kesimpulan kalau 'perasaan tidak baik-baik saja' itu adalah secara psikis. Namun dirinya tidak tahu harus berbuat apa.
Percuma saja kalau 'tahu' tapi tidak dapat berbuat apa-apa seperti ini. Sasuke merasa tidak berguna.
"Aku tidak tahu maksudmu bagaimana, namun aku akan mengetuk dinding kamarku yang kebetulan bersebelahan dengan kamarmu. Bagaimana?"
Sasuke menarik sudut bibirnya. Jawaban dari Sai merupakan jawaban yang cukup melegakan untuk seorang Sasuke.
"..."
.
.
.
Malam berjalan dengan sangat lambat. Sasuke bahkan berguling-guling di atas futon karena gelisah. Oke, dia memang kekanak-kanakan. Sasuke akui itu.
Diperhatikannya dinding yang berada dekat dengan meja belajarnya. Setelah memejamkan matanya untuk berfikir sejenak, Sasuke akhirnya memantapkan diri untuk mendekatkan futonnya dengan dinding yang memisahkan kamarnya dengan kamar Sai.
Setelah semuanya tertata rapi, sasuke akhirnya mencoba untuk tidur lagi. Namun akhirnya hanya bisa gelisah dan memutuskan untuk begadang meskipun esok harinya dia harus berangkat sekolah. Dia memiliki dua pilihan yakni segera tidur dan bangun tengah malam ataukah tidak tidur sama sekali.
Ditempelkannya telapak tangannya di dinding itu. Dipandanginya lagi dinding yang memisahkan mereka berdua. Ah, kira-kira dulu umur berapa ya ketika mereka begitu bahagianya menerima kamar baru yang terpisah.
Oh tidak.
Sasuke yakin seyakin yakinnya kalau hanya dirinyalah yang senang waktu itu. Sai sendiri malah inginnya tidur bersama dan menginginkan ranjang tingkat dalam satu kamar.
'Bagaimana? Seru gak kamarnya?'
'Hn! Bagus!'
'Kalau Sai-chan gimana?'
'Um….'
'Nde?'
'Hum! Sai suka!'
"Karena aku suka, kau berpikir kalau kau pasti akan suka, 'kan?" ucap Sasuke tanpa sadar. Secara perlahan senyum pun terukir. Dia tahu kalau Sai sudah terlelap di kamar sebelah. Sehingga dia tidak perlu takut kalau ocehannya terdengar dari kamar sebelah.
Sasuke akhirnya terlelap dengan penyebab yang cukup menggelikan. Yakni terlalu lama menatap tembok yang memisahkan dirinya dan Sai.
.
.
.
Sai hanya melirik ke arah tembok yang memisahkan dirinya dan Sasuke. Tumben sekali Sasuke sudah menggelar futon di jam segini. Biasanya jam tidur Sasuke lebih malam daripada Sai.
Oke, Sai akui kalau masalah tidur dirinyalah yang paling 'jago'. Entah kenapa dirinya sering merasa lelah sehingga ketika berniat untuk berbaring sebentar ujung-ujungnya malah ketiduran. Belum lagi dia harus merahasiakan kalau dirinya menderita maag.
Oke,
Sai hanya menyimpulkannya sendiri. Lagipula, rasa sakitnya akan hilang ketika 'dibawa' tidur. Sehingga dengan begitu dia tidak perlu membuat seisi rumah kalang kabut seperti waktu dia masuk angin dulu.
Penasaran akan tingkah Sasuke yang tidak biasa, dilipatnya ujung lembaran buku hadiah dari sang kakak. Lalu dengan perlahan ditutupnya buku itu dan diletakkannya di sebelah bantalnya (dengan harapan setelah menyelidiki Sasuke, dia akan melanjutkan membaca buku mengenai fisiologi hewan itu).
Dengan perlahan dia membuka pintu dan berjalan menuju ke kamar Sasuke. Tiba-tiba saja muncul perasaan aneh yang berdesir di dadanya. Perasaan itulah yang mendorong dirinya untuk membuka pintu kamar Sasuke dan menemukan Sasuke yang…
Sai segera menghampiri Sasuke dan membenarkan selimutnya. Pipi yang memerah, mulut yang setengah terbuka untuk melahap oksigen sebanyak-banyaknya serta banjir keringat yang tidak wajar.
Oke,
Sai tahu penyebabnya.
"Dare?"
"Masih sadar?"
"Apa maksudmu?"
"Jangan disembunyikan. Aku tahu kau sedang demam."
Sasuke mendengus geli. Sai hanya memiringkan kepalanya ke kiri dengan sudut bibir yang terangkat.
"Mau air putih?"
"Enggak."
"Yakin? Akan lebih baik jika meminum air putih. Mau kuambilkan kompres?"
"Berani keluar jam segini?"
"Ini masih terhitung malam. Bukan tengah malam. Lagipula maksudku itu bukan kompres dari kain dan air hangat. Siapa pula yang mau memasak air jam segini? Ini sudah lewat jam tidurku."
"Lalu?"
"Pakai kompres yang ditempelkan saja? gimana? Nanti kubuat seperti bando," ucap Sai dengan muka stoic bin malicious.
"Enggak, makasih. Aku bisa atasi ini. Beri aku satu malam penuh untuk istirahat dan esok harinya aku akan kembali seperti semula," ucap Sasuke sambil melambai-lambaikan tangannya dengan maksud mengusir Sai secara halus. Namun Sai hanya terkekeh.
Dari balik selimut, Sasuke tersenyum ketika melihat ekspresi Sai yang seperti itu. Sai begitu 'lepas'. Dia tidak menyadari tatapan Sai yang mengerutkan kedua alisnya.
"Sasuke, kau sehat? Ya ampun, kurasa demammu sudah membakar otakmu hingga terjadi hubungan arus pendek," ucap Sai sambil mengecek suhu tubuh Sasuke. Perempatan kecil muncul di jidat Sasuke.
"Urusai!"
"Ya.. ya… panggil aku kalau kau butuh sesuatu. Cukup ketuk dinding kamarku."
"Aa…"
Namun Sai tidak begitu tega untuk meninggalkan Sasuke. Mengingat ketika di rumah sakit dulu, dirinya pernah mengalami demam yang sedang dalam puncaknya dan harus sendirian di kamar.
Dengan langkah yang perlahan, diraihnya buku hadiah dari sang kakak beserta sebuah senter. Dengan gerakan halus dipasangkannya compress di kepala Sasuke. Lalu diambilkan sebuah teko berisi air putih beserta gelas yang ditaruh dekat meja belajar Sasuke. Karena kondisi kamar Sasuke yang gelap (untung saja waktu itu sedang bulan purnama) maka Sai melanjutkan kegiatan membacanya dengan ditemani sebuah senter.
Setiap jam dirinya harus menutup buku dan mengecek ataupun menenangkan Sasuke yang mulai gelisah karena demam (bahkan lengan Sai sukses menjadi cengkraman sementara Sasuke). Namun sai hanya menarik sudut bibirnya ketika Sasuke sudah tenang.
Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 4 pagi. Sasuke kemungkinan besar akan bangun sebentar lagi. Namun karena dia sedang 'sibuk' dengna bacaannya, dia tidak menyadari kalau Sasuke sudah bangkit dengan posisi duduk dan menoleh ke arahnya yang sedang membaca ditemani lampu senter.
Suasana horror pun muncul.
Tambahkan sedikit halusinasi akibat demam yang belum tuntas…
Wajah Sai yang pucat…
Sinar senter yang begitu 'sesuatu' yang menyinari wajah Sai dengan angle yang sempurna…
"HHWAAAA!"
.
.
.
Sai berusaha untuk menahan tawa malam itu.
.
.
.
Sasuke pun akhirnya mengingkari janjinya untuk 'memperhatikan' Sai. Yang ada dia malah molor semalaman dan bangun kesiangan. Namun pandangannya tertuju pada kamar sai. Kamar itu menunjukkan ciri-ciri kalau pemiliknya mah tertidur disana.
Sebegitu lelahkah Sai kemarin?
Ketika melewati kamar Sai, dia bisa mengintip secara cepat kalau futon masih tergelar, kaki menyembul di balik selimut, Sai yang berbaring miring dan…
Aniki?
Sasuke segera masuk dan menemukan Sai yang berbaring mirin ditemani sang kakak. Ada apa ini?
Apakah perasaan berdesir kemarin merupakan pertanda kalau Sai…
"Aku tidak apa-apa. Cuma maag."
"Mattaku! sejak kapan kau punya maag? Kok kaya anak kuliahan yang kebanyakan tugas saja! Dan bisa-bisanya tidak bilang siapa-siapa!" ucap Itachi agak ketus namun telapak tangan kanannya mengusap lembut kepala Sai. Itachi menoleh ke arah Sasuke dan tersenyum.
"Daijoubu. Lebih baik kau segera bersiap ke sekolah. Biar kuurus si zombie satu ini! Huuuhh!" ucap Itachi sambil mengacak-acak kepala Sai.
.
.
.
"Sifat koligatif merupakan sifat yang tergantung pada jumlah, bukan pada jenis zat…"
Sasuke hanya duduk berpangku tangan ketika mendengarkan review dari sang guru yang berada di depan kelas. Say thank untuk ingatannya yang tajam sehingga dia tidak perlu membuka-buka catatan lamanya hanya untuk memastikan.
Nyut
Sasuke menempelkan tangan kanannya di dada kirinya…
Perasaan ini?!
.
.
.
To be continued.
.
.
.
Sorry for the late update. Kasumi udah usahain untuk update secara teratur tapi enggak bisa soalnya feel-nya sering naik turun sehingga butuh momen-momen tertentu buat membangun kronologinya (?).
Oke, Kasumi bingung mau ngomong apa lagi. Yang jelas, see you in the next chapter….
