Kenalan
Chapter 9
.
.
.
"Cukup sekian materi untuk hari ini. Minggu depana kita akan melanjutkan ke bab yang selanjutnya. Jangan lupa untuk membuat resume dari materi yang telah difotokopikan oleh ketua kelas,selamat siang…"
"Siang, Sensei!"
Naruto langsung bangkit dan merenggangkan tubuhnya yang kaku setelah tiga jam penuh menerima materi trigonometri yang lumayan menguras otaknya. Diliriknya ke arah Sasuke yang terlihat 'agak' panik di matanya (meskipun paniknya Sasuke berupa perasaan 'gelisah' dengan gesture melihat keluar ataupun memandang ke arah lain dengan tatapan kosong).
Sekelebat perasaan bersalah bergelayut di dalam pikiran Naruto mengenai sikapnya pada Sai. Apakah Sai bercerita pada Sasuke mengenai perkataannya pada si pucat waktu itu?
Namun Naruto segera menyangkal pemikirannya. Yang ada berupa Sai yang kemungkinan besar tidak mau bercerita mengenai apa-apa yang didengarnya dari Naruto. Sai itu tipe diam akibat masa lalu yang tidak mengijinkannya untuk berbicara dan lebih sering mendengarkan.
Dan Naruto yakin kalau Sasuke menyadarinya.
Naruto mulai berpikir-pikir bagaimana jika Sasuke dalam posisi marah-marah. Apakah dia akan langsung to the point begitu?
Tidak…
Kalau Naruto bercerita dan minta maaf pada Sasuke, Naruto yakin kalau jawaban si raven berupa dirinya yang harus minta maaf secara personal pada Sai. Apalagi kelihatannya Sasuke dan Sai sedang mengalami konflik secara batin kali ini.
Walah,
Naruto bingung harus berbuat apa.
Tiba-tiba saja Sasuke beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah loker penyimpanan ponsel yang memang telah disediakan. Tumben sekali seorang Uchiha Sasuke yang terkenal akan sikap patuh akan peraturan yang ada.
Dan sekarang si raven itu sibuk menyalakan ponselnya dan terlihat bimbang. Lalu dengan langkah perlahan (dan sambil memijat pelipisnya) Sasuke bergerak menuju keluar kelas.
Mata Naruto segera terbelalak ketika Sasuke yang awalnya biasa-biasa saja tiba-tiba terjatuh. Seisi kelas segera bergerak dan kemudian menyingkir demi memberikan ruang untuk Sasuke. Beberapa orang yang tercantum sebagai anggota PMR segera maju dan memberikan pertolongan pertama.
Naruto segera mengekori Sasuke yang dibawa menuju ke UKS. Perasaan tak menentu juga ikut menyelimuti hatinya. Kemarin Sai, sekarang Sasuke.
Hingga kelopak mata sang raven terbuka tepat ketika tubuhnya ditidurkan di atas ranjang UKS.
"Walah! Uchiha udah bangun tuh! Woy Sas! Dari kemaren kok ga fit mulu?! Ujian sudah sebentar lagi woy! Kok malah sakit-sakitan!" ujar salah satu teman sekelas si raven. Naruto sendiri tidak segera datang demi merubungi sahabatnya demi memberi ruang untuk bernapas Sasuke.
"Daijoubu?" tanya sang penjaga UKS. Sasuke bangun dan duduk secara perlahan. Tangan kanannya memegangi pelipis dan kemudian tiba-tiba saja dia menutupi seluruh wajahnya dengan telapak tangan kanannya.
"Hn. Chotto ne," ujarnya dengan tenang kembali.
"Bagaimana dengan berbaring dahulu? Dan kalian semua! Ada orang sakit malah dikerubungi begitu! Minggir-minggir! Beri napas! Sudah kembali ke kelas lagi sana!" ucap Shizune dengan aura horror dan tidak sampai beberapa detik para siswa sudah ngacir duluan.
Namun ketika Shizune beralih pada ruangan dekat pintu UKS, Naruto segera duduk di kursi dekat ranjang Sasuke. Sasuke sendiri memperhatikan tingkah laku Naruto dengan lirikan saja.
"Kau bertingkah aneh," komen Naruto. Sasuke yang berpikiran mengenai ceramah panjang nan lebar dari sang surai kuning pun segera menoleh. Lalu dia menghela napas panjang.
"Kau tahu, hari ini aku merasa sehat."
"Sehat gundhulmu, Sas! Apanya yang sehat? Sikap gelisah, mijit-mijit kepala kaya Sarutobi-sensei yang nangani tugas makalah satu angkatan? Itu yang namanya sehat?"
Sasuke menurunkan tangan kanannya dan duduk agak membungkuk. Pandangannya terfokus pada kerutan-kerutan di selimut yang menutupi dirinya dari ujung kaki hingga pinggang.
"Aku serius."
"Njaa…."
"Entah kenapa tiba-tiba aku kepikiran Sai…"
Naruto terkesiap. Otaknya mulai memproses input yang masuk. Dimulai dari Sasuke yang merasa sehat, Sasuke yang bertingkah aneh secara tiba-tiba dan si raven yang kepikiran raven?
"Kemungkinan itu hanya paranoid saja, Sas. Bukankah Sai sehat begitu? Mungkin sekarang dia lagi keluar rumah dan jalan-jalan seenak udelnya…" ucap Naruto dengan maksud untuk menenangkan Sasuke. Namun ekpresi Sasuke yang belum pernah dilihatnya membuat si surai matahari itu hanya terdiam. Hingga sebuah ide terbersit dalam kepalanya.
"Mau telepon rumah?" tanyanya. Sasuke segera menoleh secara tajam ke arahnya dan berekspresi seakan-akan kalimat itu merupakan kalimat yang hanya akan didengar oleh si raven ketika bumi akan meledak dalam hitungan detik.
Dan Naruto merasa illfeel ketika melihat ekspresi seperti itu. Dia hanya beranjak dari kursi dan berjalan menuju ke pintu keluar ruang UKS. Sebelum melewati palang pintu, dia menoleh sejenak ke arah Sasuke.
"Tunggulah disini. Kuambilkan ponselmu."
Dan Naruto benar-benar tidak percaya dengan penglihatannya sendiri ketika melihat Sasuke dengan ekspresi takjub dan kagum seperti itu.
Mirip seperti Sai…
Dan jangan lupakan senyum uniknya berupa sudut bibir kiri yang terangkat dan mata yang hampir terpejam itu…
.
.
.
Naruto segera berlari ke arah UKS ketika berhasil mendapatkan ponsel yang dia inginkan (ponselnya Sasuke). Ucapkan terima kasih pada desas-desus serta obrolan yang tak senagja di dengarnya (Naruto sempat melewati ruang staff TU dan mendengarkan kalau akan terjadi jam kosong dari jam pelajaran setelah istirahat hingga pulang) yang membuatnya tidak khawatir akan omelan sang guru.
Dengan aura semangat dan membara bak kerasukan Kyuubi, Naruto membuka pintu kamar tempat Sasuke berbaring (lebih tepatnya duduk) dan mengacungkan ponsel yang berhasil didapatkannya.
"Sas! Nih ponselmu! Dan…."
Ucapan Naruto terhenti ketika dirinya melihat Sasuke yang terduduk lesu. Matanya terfokus pada buliran-buliran bening yang terus meluncur dari kedua mata onyx itu. Namun yang membuatnya tercengang adalah ekspresi Sasuke yang menggambarkan bahwa air mata yang keluar dari orbs onyxnya adalah hal teraneh di dunia ini.
Sasuke pun menoleh ke arah Naruto. Naruto pun mendekat dan duduk di samping ranjangnya. Perlahan tangan kanannya meraih pundak Sasuke.
"Sas?"
"Aku tak tahu…"
Naruto mengernyit.
"Ap-"
"Sungguh. Aku tidak tahu mengenai ini… ini… kenapa?" tanya Sasuke seakan-akan baru pertama kalinya dia mengalami hal yang disebut dengan 'menangis'. Naruto pun bingung.
Sangat bingung.
"Apa maksudmu, Sasuke?"
"Aku hanya memikirkan mengenai keadaan rumah dan tiba-tiba saja….ukh… kenapa tiba-tiba hatiku terasa sakit? Dan Sai?"
"Tenanglah dulu, Sasuke. Tenanglah. Aku bawa ponsel. Bagaimana kalau kau menghubungi rumah untuk memastikan dan menenangkan sikap parnomu itu. Ya ampun, Sas! Parno mu itu sudah mencapai ke tingkat yang begitu membahayakan!" omel Naruto.
Sasuke segera mendial nomor yang akan ditujunya. Buliran air mata terus menetes dan Sasuke tidka merasa terganggu akan hal itu. Naruto yang merasa risih sendiri segera mengambil box tisu yang terletak tidak jauh dari ranjang Sasuke. Dengan muka sebal dan memonyongkan mulutnya,Naruto segera menyodorkan kotak tisu itu pada Sasuke.
Sasuke menoleh dan berekspresi penuh tanya akan kotak tisu yang berada di depannya. Naruto pun 'terbakar'.
"Usap dulu air matamu, Sas! Hadehh…. Jadi ini yang namanya Uchiha Sasuke yang terkenal akan kemampuannya mengendalikan diri? Ya ampun… kalau ada orang lain yang lihat kejadian ini,dijamin tuh titel udah melayang jauh dan bisa-bisa kecantol ke arah Shino aburame dari kelas sebelah!"
Sasuke yang baru menyadari apa maksud dari Naruto segera menarik kotak tisu yang disodorkan ke arahnya secara paksa. Naruto sendiri hanya memasang muka sewot. Tapi setidaknya Sasuke mau memikirkan keadaan dirinya sendiri.
Namun apa yang dipikirkannya saat ini begitu berbeda dengan kenyataan yang terjadi saat itu…
Kotak tisu yang awalnya berpindah tangan dari sang surai matahari secara sengaja melayang ke arah kepalanya. Dan disitulah sang pelaku, si raven dengan muka penuh aura iblis yang agak aneh (karena air mata yang tidak terhapus dari tadi) memandangnya dengan muka yang sulit diidentifikasi.
"WOY! Aku disini mau nolongin kamu! Kok malah dapet kotak tisu melayang sih!" ucap Naruto sambil memegangi kepalanya dengan ekspresi seakan-akan kotak tisu melayang itu mampu membuat kepalanya benjol.
Sasuke hanya memandang ke arah lain. Perlahan dihapusnya air mata yang membasahi pipinya dengan kerah bajunya. Naruto yang melihat hal itu hanya tersenyum ketika melihat Sasuke kembali ke sifat aslinya yang menunjukkan bahwa dia adalah 'Sasuke'.
Terkadang Naruto merasa 'ngeri' ketika melihat 'Sai' pada Sasuke. Oke, mereka memang kembar. Namun Naruto tidak dapat menghilangkan perasaan 'takutnya' akan diri Sai yang terlihat pada Sasuke maupun sebaliknya.
Diperhatikannya Sasuke yang sibuk menekan tombol-tombol yang tertera di ponselnya. Dan diperhatikannya pula ekspresi Sasuke yang tidak sabar akan nada tunggu yang terus berdering di telinga si raven.
Hingga dua kali dial, tidak ada jawaban. Hingga Sasuke memutuskan untuk menghubungi sang kakak. Setelah tiga kali usaha untuk men-dial sang kakak, tidak ada jawaban yang muncul.
Ekspresi Sasuke kembali seperti tadi…
Aura penuh rasa khawatir, takut dan rasa cemas…
Dan tiba-tiba saja air mata yang awalnya sudah berhenti mengalir kini mengalir lagi dengan deras. Membuat Sasuke segera menutupi kedua matanya dengan lengan kanannya. Ponselnya terabaikan di telapak tangan kirinya.
"Sudah kuduga…" ucap Sasuke dengan nada suara bergetar. Dia segera menarik napas dalam dan memejamkan kedua matanya. Dengan kedua kaki yang meringkuk dan lutut yang bersentuhan dengan dahinya, Sasuke terlihat seperti sedang berkonsentrasi akan sesuatu.
Naruto hanya diam saja. mungkin saja Sasuke berusaha untuk tetap tenang dengan posisi seperti itu…
Namun ketika Sasuke membuka matanya dengan perlahan, Naruto dapat melihat ekspresi sayu dan sedih yang tergambar di wajah sang surai raven.
"Maksudmu apa, Sasuke?"
"Sebenarnya aku sangat membenci perasaan ini. Aku selalu berharap kalau perasaan seperti ini tidak akan muncul lagi," ucap Sasuke dengan ekspresi frustasi. Berkali-kali dia mengusap rambutnya dengan cara mengarahkan rambutnya ke belakang dengan tangan kanannya. Membuat surai yang terkenal keren seantero sekolah itu kini berubah menjadi tidak beraturan.
"Lagi?"
"Dan aku tidak bisa merasakannya…"
"Merasakan apa?"
Sasuke menarik napas dalam. Dan ketika dia menghembuskannya, air mata mulai meluncur dengan deras.
"Aku… aku tidak bisa merasakan Sai," ucap Sasuke dengan posisi meringkuk semakin dalam. Naruto pun berusaha untuk tenang. Namun sikap Sasuke yang seperti itu mau tak mau membuatnya panik.
Pikiran buruk mulai menghantui Naruto dan mau tidak mau membuatnya parno.
Yang dimaksud Sasuke itu Sai kan?
Sai yang terlihat biasa-biasa saja tapi menyimpan banyak rahasia?
Sai yang ternyata mengalami hal yang sama dengan ibunya yakni kemampuan hidup yang sulit terdeteksi itu kan?
Sai yang terkadang terlihat masa bodoh bahkan mampu bertingkah normal disamping beban yang dibawanya itu kan?
Naruto tahu kalau Sai mengidap gangguan kesehatan yang tidak bisa dianggap sepele. Namun sikap Sai yang tenang dan pembawaannya yang seperti orang 'normal' sukses membuat Naruto terkagum-kagum. Naruto yakin kalau Sai terkadang harus meminum obat yang memang dapat memulihkan salah satu organnya namun disisi lain merusak organ lainnya.
Naruto kagum akan hal itu.
Bahkan Naruto tidak yakin bisa menghadapi semuanya ketika dirinya berada di posisi Sai.
"Aku… tidak bisa merasakan Sai, Naruto…" ucap Sasuke dengan nada bergetar. "Aku sebenarnya sangat membenci kemampuan ini. Aku selalu berharap kalau yang kurasakan ini salah dan Cuma perasaan paranoid saja."
Naruto hanya terdiam dengan muka penuh simpati.
"Aku takut, Naruto. Aku takut…."
Naruto menghela napas panjang dan kemudian beranjak dari tempat duduknya. Sasuke hanya memperhatikan tingkahnya dari sudut matanya.
"Nanti bebas. Bagaimana kalau bolos sekarang saja? bukankah kau mampu melewati pagar pembatas sekolah yang berada di dekat lapangan bola basket itu?" ucap Naruto sambil mengulurkan tangan ke arah Sasuke.
Naruto berpikiran kalau Sasuke akan memandang telapak tangannya saja tanpa ada niatan untuk meraihnya. Namun semuanya diluar dugaan ketika senyum dengan sudut bibir kiri naik keatas itu muncul.
Dan Naruto tidak perlu menebak-nebak lagi ketika tangan kanannya teraih oleh si raven.
.
.
.
"Ojamasimasu…."
Meskipun sudah lebih dari sekali main ke rumah si Uchiha, Naruto tidak bisa bertingkah biasa-biasa saja ketika melihat arsitektur rumah keluarga Uchiha yang masih memegang teguh unsur tradisionalnya. Dia segera mengikuti perilaku Sasuke yang melepaskan dan menata sepatunya dengan rapi.
Sasuke segera berjalan menuju ke lantai dua. Naruto berniat untuk menyusul akhirnya menyadari akan keanehan yang muncul.
Suasana rumah terlalu sepi.
Dan entah kenapa matanya begitu tertarik akan sticky note yang tertempel persis di depan televisi yang berada di ruang tamu…
Aku, Kaasan serta Tousan keluar dahulu
Sai sakit
Jaga rumah ya.
Jangan khawatir, Sai tidak apa-apa kok.
Itachi
Naruto pun segera berlari untuk menjemput Sasuke. Namun baru satu langkah ditempuhnya, Sasuke sudah berjalan menuruni tangga dengan pakaian harian dan juga dandanan keluar rumah.
Naruto hanya mengisyaratkan Sasuke untuk melihat apa yang baru dibacanya. Sasuke hanya menatapnya sebentar dan mengangguk. Naruto pun hanya terdiam hingga dia memanggil Sasuke.
"Boleh ikut?"
"Aa…"
"Kok enak banget ya?"
"Kurasa dengan adanya tambahan berupa dirimu,Sai bisa mengalihkan perhatiannya."
"Heeh… gitu ya?"
"Aku percaya padamu."
"Maksudmu?"
"Aku hanya percaya kalau kau mampu menjadi temannya."
"Gitu ya? Kalau jadi temanmu?"
Sasuke hanya tersenyum geli ketika melihat Naruto yang berekspresi bak model yang menawarkan diri untuk iklan sabun mandi. Namun dalam hatinya muncul perasaan lega.
Karena dia yakin kalau Naruto dapat menjadi penengah dan juga sebagai seseorang yang menemani Sai ketika semuanya berjalan tidak semestinya.
Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik secara perlahan….
.
.
.
To be continued.
.
.
.
Gomen for the late update. Kasumi udah sereing ganti-ganti plot untuk chapter yang ini karena sulit banget nyesuain sama endingnya nanti. Ini adalah 'usulan' ke-4 dan akhirnya setelah gubahan sana-sini, Kasumi akhirnya yakin seyakin-yakinnya kalau chapter ini layak publish.
.
.
See you in the next chapter…
