Kenalan chapter 10

Disclaimer: Naruto beserta chara-charanya hanyalah milik Masashi Kishimoto semata…

.

.

.

Tap

Tap

Tap

Si surai matahari terus menerus mengumpat dalam hati ketika langkahnya yang terbilang sama jaraknya dengan si raven semakin lama semakin menjauh jaraknya. Sebenarnya si raven itu hanya berjalan cepat tanpa adanya suara yang cukup mengingatkannya akan kucing yang diam-diam sering dielus lehernya oleh Sai.

Kira-kira bagaimana keadaan kucing hitam dengan kaki dan leher putih yang sering nongol di halte tempat Sai biasanya duduk-duduk itu ya? Naruto yakin kalau kucing itu memang sengaja duduk-duduk disitu untuk bertemu Sai. Bahkan kali ini tanpa sadar diusapnya pergelangan tangan kanannya yang masih memerah akibat dicakar si kuro itu.

"Woy Sas! Tungguin dong!"

"Huuushshs!"

"Tehe… gomen-gomen…"

Sasuke yang berjalan penuh dedikasi (?) bahkan tidak menoleh ke arah Naruto yang terlihat dibully oleh petugas rumah sakit. Naruto sendiri bingung bagaimana bisa Sasuke tahu bangunan bahkan ruangan tempat Sai dirawat tanpa perlu bertanya pada si receptionist.hebat bener…

Dan langkah kakinya yang lebar-lebar dan cepat membuat Naruto bertanya-tanya apakah tujuan fakultas Sasuke ketika mereka lulus SMA nanti adalah fakultas ilmu keolahragaan.

Di ujung sana terlihatlah sosok yang benar-benar dikenali oleh Naruto yakni si sulung dari keluarga Uchiha. Namun Naruto tidak melihat kedua orang tua Sasuke. Sasuke pun segera bergerak dengan cepat namun tanpa suara. Naruto hanya memperlambat gerakannya karena dia sudah tahu tujuan si Raven itu.

"Kau ini. Kubilang dia tidak apa-apa kok malah kesini?"

"Salah ya? Kalau dia tidak apa-apa kenapa sampai masuk ke rumah sakit?" tanya Sasuke dengan duduk menatap ke arah nomor kamar yang berada di depannya. Naruto pun ikut duduk di sebelah Sasuke.

"Kenapa bisa masuk?"

"Awalnya dia panas tinggi. Ketika dia mulai mengigau aku tahu kalau hal itu akan segera terjadi. Namun ketika aku berniat untuk memberitahukan Okaasan, dia meraih lenganku dan mengatakan kalau dia tidak ingin ditinggal… bahkan ketika aku duduk kembali di sebelahnya, dia malah bilang maaf karena membuatku marah…." Ucap Itachi dengan hints yang tertuju pada Sasuke. Sasuke sendiri malah memejamkan matanya dan mengarahkan pandangannya ke bawah.

Naruto dapat melihat dengan jelas kalau kedua onyx itu berkaca-kaca. Namun dalam satu kedipan Sasuke sudah kembali seperti sedia kala. Ketika Naruto menghela napas, Sasuke malah bersandar di sandaran kursi dan menutupi kedua matanya dengan telapak tangan kanannya.

"Jadi mimpi tentang masa lalu,ya? Tapi aku yakin kalau Sai akan menyembunyikannya. Dia tahu akan kepentingan sekolahmu serta ujian kenaikan kelasmu yang sudah di depan mata."

"Ya."

"Dan perkataan maaf itu?"

"Hmph! Itu hanyalah salah satu dari sikap nyeleneh Sai. Kau tahu sendiri kan pemikiran Sai itu bagaimana?"

"Characteristic yang uncharacteristic."

"Pfftt… benar juga. Dia tidak punya rumus maupun pattern yang mutlak."

"Naruto, kau sendiri bagaimana? Sudah pernah mengalaminya?" tanya Itachi sambil menoleh ke arah Naruto. Naruto hanya menaikkan sebelah bahunya ketika mendengarkan pertanyaan dari sang sulung.

"Yah… namanya juga Sai. Enggak tahu kapan seriusnya dan kapan becandanya…" ungkap Naruto sambil menaikkan kedua telapak tangannya.

Ketika Itachi dan Naruto sibuk bercerita mengenai sikap-sikap nyeleneh Sai, Sasuke memilih untuk menyandarkan belakang kepalanya ke dinding rumah sakit yang dingin. Perlahan matanya terpejam untuk memutar memori yang baru saja dia temukan ketika dirinya masih kecil.

"Akum au ikut Sasuke maen…"

"Jangan… Sai main sama Ita-nii saja ya? Sasuke soalnya mau ke sekolah… bukan main-main hujan diluar…"

"Enggak.. okaasan bohong. Masak Sasuke hari libur mau main hujan sih?"

"Aku mau ke rumah temen untuk kerja kelompok… bukan mau ke sekolah. Jadi kau di rumah saja. kan ada Itachi-nii di rumah.."

"Enggak mau. Ita-nii sibuk main game… huwe…."

"Sasuke-kun… maukah kamu menemani Sai hingga dia tertidur… nanti ketika dia tertidur kamu bisa pergi keluar…"

"Kaasan… bagaimana jika aku terlambat? Acaranya akan dimulai setengah jam lagi…"

"Kumohon… lakukanlah demi Sai. Kamu bisa lihat sendiri kan kalau Sai tidak bisa lengket dengan Itachi-nii? Sebentar sajalah… nanti akan Kaasan pikirkan agar kamu bisa keluar dan menghadiri acara sekolah…"

"Wakata… sai, ayo kemarilah. Kita lihat-lihat ikan Koi-nya Paman Hiashi yang dititipin di kolam kita."

"Souka…"

Sasuke menoleh ke arah sang kakak yang menghela napas berat.

"Begitu dong daritadi. Kau tahu kan kalau Sai sulit lengket denganku?"

"Itu salahnya Nii-san sendiri yang kurang berusaha."

Itachi hanya manyun ke arah adiknya yang masih menginjak kelas 2 SD itu. Andaikan dia bisa mengalihkan perhatian Sai tentu saja Sai sudah bermain dengannya dari tadi. Lagipula Sai itu orangnya gampang bosan sehingga mudah sekali mengalihkan perhatiannya ke arah lain.

Ketika berjalan menuju kolam tempat kedua adiknya sibuk mengamati gerakan ikan Koi (Itachi yakin kalau hobi orang-orang tua itu menurun ke arah adiknya melalui Kakek Madara), dia bisa melihat mata Sai yang mulai mengantuk.

Tuh kan…

Coba dari tadi Sasuke bertindak. Tentu saja semuanya akan berjalan dengan lancar. Sasuke sudah bisa pergi dengan tenang (?) ke acara sekolahnya.

Dengan perlahan Itachi menggendong Sai yang sudah tertidur sambil memberikan kode-kode aneh berupa gerakan mulut ke arah Sasuke untuk segera kabur. Dengan perlahan digoncang-goncangnya Sai agar kembali terlelap.

Namun entah kenapa Sai segera terbangun ketika Sasuke mencapai gerbang depan rumah. Sontak tangisan menggelegar pun sukses memecah derasnya hujan yang saat itu masih ukuran sedang.

Sasuke yang berjalan menggunakan payung serta merta menoleh ke arah Itachi yang sibuk menenangkan Sai. Bahkan sang Ibu juga kewalahan ketika Sai berniat untuk turun dari gendongan.

Seakan mengerti isi hati Sai, hujan yang awalnya sedang-sedang saja tiba-tiba semakin deras. Sasuke merasa sia-sia saja memakai payung karena genangan air yang terkena hujan akan memercik ke atas dan mengenai celananya.

Dengan menatap kembali jalan raya yang mengalirkan hujan ke selokan, Sasuke memejamkan matanya sebentar lalu menghela napas berat.

"Hah…! Iya iya! Ayo main sama aku!" ucap Sasuke sambil berlari dengan muka ditekuk menuju ke rumahnya. Dari sana dia bisa melihat senyum bangga dari sang Ibu dan sang Kakak.

Dengan cepat Sai meminta turun (yang kali ini diijinkan oleh sang kakak) dan bergerak mengikuti Sasuke yang melewatinya untuk menuju ke kamar. Diperhatikannya Sasuke yang melemparkan tasnya ke arah Kasur dengan asal-asalan serta meremas selembar kertas yang kemudian dibuang di tempat sampah.

Sasuke yang mukanya terlipat sempurna kini tertekuk 90 derajat….

Dengan perlahan dia mengatur napas serta detak jantungnya dengan cara menutup mata dan menarik napas dalam-dalam. Namun beberapa detik kemudian suara isakan tangis pun terdengar. Dengan cepat ditolehnya ke arah sumber suara.

"Kenapa kau menangis? Aku akan bermain bersamamu…."

"hiks….hiks"

"Sekarang apalagi..? maunya gimana?"

"Sasu…."

"Hm?"

"Sasuke marah padaku… huwe…."

"Dengar, aku tid-"

"Uwa…huwa…"

"Hoy Sasu…. Sai kau apakan diatas, huh?"

Mendengar hardikan sang Kakak dari bawah, Sasuke pun panik. Namun panik sendiri tidak akan menyelesaikan masalah apapun. Dengan gerakan cepat dia memeluk Sai yang masih menangis keras saat itu.

"Daijoubu. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi…"

Tidak akan…

"Hoy, Sas! Ngapain bengong disitu? Kita sudah diperbolehkan masuk lho!"

Ucapan Naruto akhirnya menyadarkan lamunan Sasuke. Sedangkan Itachi sudah pergi untuk membeli minuman bersoda di luar gedung. Dengan langkah ragu-ragu dihampirinya Sai yang sedang menghadapi sikap hyperactive-nyaNaruto dengan muka datar.

"Walah! Apakah demammu merusak sel-sel otakmu?! Hwaduh Sai, kok jadi dingin gini sih?! jahatnya…" kelakar Naruto yang sama sekali tidak membuat Sai tersenyum. Mata onyx-nya segera menghampiri ke arah seseorang yang memiliki karakteristik yang sama.

Tidak sampai sedetik Sasuke menaikkan sebelah alisnya bersamaan dengan senyuman pada Sai. Sai sendiri malah tersenyum lebar hingga kedua matanya tertutup. Naruto hanya menyaksikan keduanya dengan senyum penuh arti.

Namun lama-lama Naruto bosan juga.

"Woy, kalian berdua membuatku merasa ngeri, tahu!"

Dan gelak tawa dari dua orang audience membuatnya memanyunkan bibirnya sambil mengarah ke arah lain. Mengetahui akan hal itu, Sai yang masih tergelak segera memberikan tepukan penuh simpati di bahu kirinya. Sedangkan Sasuke menarik kursi yang berada di samping kanan Sai dan duduk disana.

"Maaf, sengaja," ucap Sasuke dengan ekspresi datar nan tak terduga. Hal itu membuat bibir Naruto semakin manyun.

"Kalian berdua memang cocok sekali dalam masalah yang beginian. Seharusnya aku diberi penghargaan karena betah berteman dengan kalian berdua."

Tiba-tiba saja Sai tersenyum ke arahnya. Lalu sedikit tepukan di bahunya membuat Naruto bingung harus berkata apa.

"Naruto…."

"Kenapa lagi? Mau bilang kalau aku yang monyong itu jelek, hah?!"

"Terima kasih…" ucap Sai dengan senyum simpulnya.

"Ap-apa?"

Tiba-tiba saja Sasuke menyela pembicaraannya dan sukses membuat Sai yang awalnya condong ke arah kiri (tempat Naruto duduk) segera condong ke arah kanan. Peristiwa itu sukses membuat Naruto bak berada di dunia lain dimana dia adalah sang makhluk transparan.

"Jangan kacangin aku dong! Woy!" ucap Naruto sambil berusaha untuk mengalihkan perhatia kedua anak kembar itu dengan berbaga cara. Untuk saja Sai berada di ruang isolasi. Namun tetap saja usaha yang dia lakukan menimbulkan kerusuhan sehingga sebuah jeweran bersarang di telinganya.

"Itte itte! Lepas- hah?! Obaachan?"

"Jangan mengganggu pasien yang sedang istirahat, Naruto!"

"Ampun… ampun!"

Kini perhatian kedua anak kembar itu sukses tertuju pada Naruto yang terus menerus dijewer oleh seorang dokter yang ber-name tag Tsunade itu. Sayangnya Naruto tidak mampu melihat hasil dari usahanya tadi.

Namun ketika disuruh keluar, Naruto tetap berjalan masuk dan kini mengambil posisi di sebelah Sasuke. Sasuke sendiri segera bangkit untuk memberi ruang pada sang dokter.

"Dari skala 1 hingga 10. Seberapa sakit tubuhmu saat ini?" ucapnya sambil mengecek jalannya selang infus karena khawatir akan ulah Naruto yang seenak udelnya tadi.

"Tujuh."

"Sou ka…"

Naruto pun terbelalak. Skala tujuh dan masih bisa bertingkah senormal itu? Disisi lain Naruto begitu kagum akan Sai namun di sisi satunya dia merasa khawatir.

"Sai memiliki toleransi rasa sakit yang sangat tinggi. Jadi aku tidak akan khawatir," ucap Sasuke dengan nada datar. Namun Naruto masih bisa menemukan sepercik rasa bangga dan lega dibalik nada itu.

"Gitu ya? Ne, Sai itu hebat ya?"

"Kau baru tahu? Kemana saja kau selama ini?"

"Hah.. iya iya… wahai tuan Uchiha Sasuke… aku mengaku kalah…" ucap Naruto sambil mengangkat kedua tangannya. Lalu perhatian mereka berdua teralih ke arah Sai yang masih bersikap seperti biasanya padahal sedang kesakitan.

"Namun terkadang kemampuannya itu cukup merepotkan juga. Aku hanya khawatir kalau dia tidak bisa membedakan antara rasa sakit karena keadaan tubuhnya yang kritis ataukah memang dalam keadaan yang tidak berbahaya."

"Kurasa itu benar adanya. Tapi bukankah kau mengetahuinya, Sas?"

"Ya, namun aku tidak selalu berada di sampingnya. Apalagi mengingat ujian semester yang semakin dekat."

Tiba-tiba saja Naruto menjentikkan jarinya.

"Kenapa tidak belajar sambil mengawasinya saja? terus kau juga bisa mengandalkanku yang akhirnya kita bisa belajar bareng, iya kan?"

"Belajar bersama denganmu hanya membawa hasil yang sia-sia."

"Jahat!"

"Baru tahu?"

Naruto dan Sasuke terus berdebat tanpa menyadari bahwa sang dokter sudah pergi keluar ruangan. Sai sendiri hanya mengamati mereka dan sesekali tersenyum geli akan tingkah kedua orang yang berada di depannya.

.

.

.

To be continued

.

.

Here you go…

Chapter ini merupakan pembuka untuk masalah-masalah (?) lainnya. Sehingga bisa dibilang Kasumi belum ada niatan untuk mencapai ending di chapter mendatang. Gomen ne bagi yang sudah mengharapkan ending namun belum ending-ending juga … *plaakk!

See you in the next chapter…..