Kenalan

.

.

Chapter 11

.

.

Sometimes, when we remember something unpleasant in the past, is there some feelings that bothering you to remake and repair those memories?

.

.

"Walah! Apa-apaan ini?! Uwaaa! Kepalaku rasanya mau meledak!"

"Diamlah! Kau sudah mengganggu konsentrasiku, Dobe!"

"Pffttt…"

"Terus saja ketawa, Sai! Lihat saja suatu hari nanti kau akan kualat karena meremehkan anak-anak yang berusaha untuk belajar!"

"Siapa yang menghina kalian, aku kan dari tadi menonton film komedi di televise," kilah Sai sambil menunjuk siaran televise yang sedang berlangsung. Sontak Naruto hanya bisa cengo dan Sasuke malah ber-evil smirk ria di balik buku pelajaran matematika.

"Jangan bohong lu! Dari tadi kau melirik-lirik kesini dan apa-apaan tuh muka?!"

Dan peperangan pun pecah. Sasuke hanya bisa menghela napas kesal namun ujung-ujungnya hanya bisa tersenyum ketika melihat Sai yang tertangkap dan berguling-guling di atas lantai dengan Naruto yang sibuk memukuli kepalanya dengan bantal besar nan empuk dari sofa.

"Rasain! Dasar anak durhaka lu!" ucap Naruto bak emak-emak yang kesal pada anaknya yang tidak pernah mau menurut. Sai sendiri malah tergelak sambil berusaha untuk menjauh dari Naruto. Namun yang namanya Naruto si pelari ulung nan ahli dalam olahraga basket tentu saja selalu dapat meraih Sai.

"Pfftt…"

Dan seketika itu juga dua orang yang sedang sibuk 'bertengkar' itu pun menoleh dengan muka cengo ke arah Sasuke. Naruto bahkan menatap horror seakan-akan Sasuke yang tertawa merupakan hal yang begitu langka di dunia ini. Sedangkan Sai yang berada di bawahnya hanya tertawa ketika melihat Naruto.

"Sasuke juga manusia, Naruto. Sebegitukah kau tidak percaya bahwa Sasuke adalah satu-satunya makhluk yang tidak bisa tertawa?" ucap Sai di sela-sela tawanya. Naruto hanya menatap Sai dengan wajah penuh harap.

"Bayangin aja! Selama di kelas alias di sekolah, Sasuke itu terkenal dengan muka datar nan dinginnya itu. Aku jamin kalo dia disuruh megang es, esnya bakalan lama mencairnya. Oh ya, gimana kalau kita buat kesepakatan,Sai?"

"Hei hei! Jangan bawa Sai dalam rencana jelekmu, Naruto!" ucap Sasuke sambil mengacungkan penggaris segitiga yang digunakannya untuk menggambar proyeksi. Naruto hanya menatap sinis Sasuke sambil berbisik-bisik di telingan Sai. Sai sendiri setelah mendengarkan penuturan Naruto langsung memasang muka tidak percaya.

"Benarkah?"

"Hu umb! Kujamin deh!" ucap Naruto sambil mengacungkan jempolnya. Sai melihat Sasuke sekilas dan kemudian tersenyum ke arah Naruto.

"Gomen ne, aku masih sayang Sasuke."

"Woy! Apa yang kau katakan pada Sai, Naruto!" ucap Sasuke berapi-api. Sedangkan Naruto hanya bisa memohon ampun sambil cengengesan.

"Geezz… andaikan kalian bukan saudara kembar, kalian bisa dicap sebagai orang yang yaoi-an tahu!" ucap Naruto sambil bergidik ngeri. Sai sendiri hanya memiringkan kepalanya ke kiri hingga akhirnya dia tahu apa yang dimaksud oleh Naruto.

"Aku juga sayang kamu kok, Naruto-kunnn…" ucap Sai dengan nada main-main. Naruto hanya manyun.

"Iddiihhh…. Amit-amit jabang bayi- woy!"

Naruto pun segera bangkit dan berusaha untuk berlari demi menyelamatkan diri dari pelukan maut ala seorang Sai. Sasuke hanya ber-evil smirk ria ketika Sai berhasil mendapatkan Naruto yang sudah membiru itu.

"Kau mau jadi sahabatnya Sai? Kalau kau mau sepenuhnya menjadi sahabat Sai kau harus tahu sifat rahasianya Sai," ucap Sasuke ketika dirinya dimintai tolong Naruto yang sibuk untuk berusaha melepaskan diri dari seorang Sai. Namun apa daya, Sai sudah terlanjur clingy padanya.

"Jadi ini sifat terpendammu, Sai? Walah.."

"Hehehehe… baru tahu?"

"Itu tandanya Sai sudah menerimamu menjadi sahabatnya, Dobe."

"Jadi selama ini aku apa? Hiasan yang sering jalan sama kamu?" ucap Naruto. Sai hanya menaikkan sebelah alisnya.

"Kau sudah mirip cewek yang digantung harapanya, Naruto. Aku tidak jadi dekat denganmu," ucap Sai sambil melangkah menjauhi Naruto dan kembali fokus ke acara televise yang diabaikannya beberapa saat yang lalu.

"Kok aku merasa bak cewek yang diputusin ya?" ucap Naruto sambil memasang pose berpikir. Sai sendiri hanya sibuk menonton televise hingga Sasuke beranjak menuju ke dapur.

Naruto pun kembali mengerjakan tugas sambil berguling-guling di atas lantai ketika kepalanya tidak dapat berpikir lebih jauh lagi untuk memecahkan masalah yang muncul.

Hingga Sasuke muncul sambil membawa nampan berisi 2 piring melon yang telah dipotong-potong. Ditaruhnya di hadapan Naruto yang sedang sibuk berpikir. Sedangkan yang satunya ditaruh di sebelah Sai.

Diam-diam Naruto memperhatikan bagaimana Sasuke duduk di samping Sai yang sudah mencomot sepotong melon dan mengemutnya. Sesekali Sasuke melirik sebentar ke arah Sai dan kembali menonton acara yang dilihat Sai. Tiba-tiba saja Sasuke mengarahkan telapak tangannya ke dahi Sai. Sai sendiri hanya diam saja.

Begitu hangat ya?

Begitulah isi pikiran Naruto mengenai kedua anak kembar di depannya.

"Kau hangat."

"Hm?"

"Istirahat?"

"Tidak, aku tidak apa-apa."

"Kau yakin? Ini hangat lho!"

"Tidak apa-apa. Aku sering begini."

"Pusing?"

"Enggak. Belajarmu?"

"Nanti saja. mau refreshing."

"Sou…."

Tiba-tiba Naruto tersadar akan suatu hal.

"Woy! Kalian ninggalin aku gitu ceritanya? Ck ck ck!"

Dua orang yang sedang asyik dengan dunianya sendiri itu hanya menoleh sebentar lalu menatap satu sama lain. Hingga senyum mereka pun muncul saat itu juga.

"Kenapa tidak datang kesini saja, Naruto/Dobe," ucap keduanya dengan akhiran yang berbeda. Hal itu cukup membuat Naruto terkikik gelid an ikut bergabung dengan mereka. Dengan tenaga super dia segera menyela orang-orang yang berada di depannya dengan cara duduk di antara Sasuke dan Sai.

.

.

.

Jam-jam yang seharusnya dihabiskan dengan belajar intensif akhirnya hanya bisa dihabiskan separuhnya dengan menonton acara televise mengenai film-film action. Karena Naruto berada di tengah-tengah mereka, berkali-kali dia mendapati pandangan penuh telepati yang melewatinya.

Geez… padahal dia juga ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Dan hal itulah yang menyebabkab dirinya untuk duduk diantara mereka. Namun yang namanya telepati…

Naruto hanya bisa manyun sambil fokus ke arah acara yang berada di depannya. Biarlah si kembar yang berada di kanan kirinya ini bertelepati ria sambil menonton televise. Ah… rasanya seperti orang luar saja ya?

Tiba-tiba saja Naruto merasakan beban di bahunya. Ketika dia berusaha untuk menoleh ke arah kanan (karena beban itu berada di bahu kanannya), dia bisa merasakan surai lembut nan tipis berwarna hitam yang menutupi penglihatannya. Walah…. Sai mulai clingy lagi rupanya.

"Ck ck ck… woy Sai, walah… malah merem gini gimana aku geraknya? Woy! Udah pegel nih! Apa kau mau aku berjalan dengan bahu yang miring sebelah?" ucap Naruto. Sasuke yang awalnya sibuk memperhatikan acara di televise pun mau tak mau menoleh ke arah Naruto yang sibuk membangunkan Sai yang menumpangkan kepalanya di atas bahu Naruto.

Ternyata sifat jahil Sai muncul juga….

Sasuke hanya bisa ikut prihatin atas hal yang telah terjadi.

Namun entah kenapa…

"Woy Sai! Walah, kok tidurmu kaya orang mati gini sih! woy Sasuke! Kau kan pawangnya, cepetan bangunin nih kebo bule!" ucap Naruto sambil berusaha untuk berpindah tempat namun takut jika kepala Sai mendarat di lantai marmer yang begitu dingin.

Sasuke merasakan hal yang begitu mengganjal di hatinya…

Dengan cepat di beralih ke samping kanan Sai untuk mengecek saudaranya itu. Dia tahu kalau ada hal yang begitu mengganjal disana.

"Hei.. bangunlah. Kalau kau lelah bagaimana kalau kau kuantar ke kamar?" ucap Sasuke. Matanya menatap penuh waspada pada setiap pergerakan yang ditunjukkan oleh Sai.

Diperhatikannya Sai yang bernapas pendek-pendek. Sasuke mulai tidak yakin kalau orang biasa bisa bernapas dengan kandungan oksigen sedikit seperti itu.

"Hei…"

Dan Sai masih terpejam.

"Shimata! Naruto! Cepat bantu aku! Dia sedang kritis!" teriak Sasuke di depan Naruto yang masih memasang wajah shock di depannya.

.

.

.

Setelah kejadian itu, Naruto jarang sekali bertemu dengan Sasuke kecuali ketika mereka berada di kelas. Sasuke sering terlambat dan pulang cepat akhir-akhir ini. Namun hal itu tidak pernah mengganggu prestasinya. Benar-benar anak jenius….

Hingga akhirnya Naruto menemukan Sasuke dengan wajah tertekuk di depan pintu rumahnya. Ayahnya yang sedang berkerja membuatnya sendirian di rumah. Naruto sebenarnya mengharapkan teman bermain karena suasana rumah yang begitu sepi dan horror . dan harapannya terkabul dengan cara yang sangat aneh dan begitu tak terduga.

"Boleh aku menginap di rumahmu? Keadaan rumahku sedang tidak kondusif," ucap Sasuke. Naruto hanya mengiyakan mengingat mereka sudah melewati ujian dan tinggal menunggu pengumuman kelulusan dan nantinya mereka akan mengambil jurusan kuliah masing-masing.

"Tentu saja," ucap Naruto sambil membukakan pintu dan mempersilahkan Sasuke untuk masuk. Ketika memasuki kamarnya, Naruto menggelar futon di sebelah ranjangnya dan Sasuke pun segera berbaring di atasnya.

Malam pun berlalu dalam keadaan sunyi dan sepi.

"Sai kritis…"

Naruto pun segera menoleh ke arah Sasuke. Memang selama ini dia jarang mengunjungi si duo Uchiha itu dikarenakan jadwal persiapan ujian kelas tiga yang begitu ketat.

"Dia memiliki 2 masalah. Jantung dan ginjal…"

Naruto pun hanya diam dan Sasuke menangkap sinyalnya untuk melanjutkan ceritanya.

"Kau tahu? Sai mengalami kelainan di jantungnya sejak kecil. Oleh karena itu dia harus menjaga dan berhati-hati akan segala sesuatu. Aku pun bisa mepercayainya karena aku yakin kalau dia lebih tahu keadaan dirinya sendiri dibandingkan orang lain. Namun karena efek obat-obatan keras yang diminumnya sejak kecil, terjadi kerusakan pada ginjalnya karena tidak mampu mengatasi efek samping dari obatnya…"

Ginjal?

"Oh ya, kami terlahir dengan 3 ginjal. Saat itu Sai diperkirakan tidak akan bertahan selama ini. Sehingga aku memiliki sepasang ginjal untuk menopang tubuhku. Namun siapa sangka jika Sai sudah lama bertahan hingga saat ini?"

Dan disitu Naruto menemukan sedikit hint penyesalan dan juga kekecewaan. Jangan bilang kalau Sasuke berharap Sai untuk tidak bisa bertahan selama ini. Berharap agar Sai meninggal ketika masih kecil dulu.

Itu…

Tidak mungkin kan?

Sasuke yang begitu perhatian dan…

"Aku tahu kalau aku memang harus mengalah… namun bukankah semuanya ada batasannya?"

"Apakah mereka menginginkan kau untuk menyumbangkan ginjalmu,kan?"

"Dan aku tidak ingin menjadi orang yang 'berhati-hati' seumur hidup, Naruto. Aku hanya ingin mengejar cita-citaku juga. Aku tidak iri maupun menuntut keadilan dalam hal kasih sayang maupun perhatian yang ada. Namun…"

"Ucapanmu menunjukkan kalau kau tidak rela, Sasuke. Kau berusaha untuk menutupinya."

Sasuke hanya menoleh ke arah lain.

"Terkadang aku menganggap Sai bak diriku sendiri. Karena kami memang saling memiliki satu sama lain. Namun ada saatnya kalau aku merasakan hal yang tidak adil…"

Naruto teringat akan perkataannya pada Sai waktu itu. Inikah yang dirasakan oleh Sai ketika dia memiliki maksud lain namun dipaksa untuk memahami apa yang tidak ingin dia pahami?

"Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, Sasuke. Yang kutahu seandainya kau merasakan hal itu, maka tak dapat dipungkiri kalau Sai juga merasakannya. Apa kau pernah bertanya padanya? Meskipun kalian mirip seperti buku yang terbuka satu sama lain, aku yakin kalau Sai memiliki sebuah halaman yang terselip secara rahasia di dalamnya."

"Lalu? Aku harus apa? Apakah aku harus memberikan ginjalku dan.."

"Mengkhianati mimpimu? Apa kau pernah membicarakannya pada Sai?"

"Ternyata dugaanu benar. Kau tidak bisa mengerti."

"Buat aku mengerti. Mungkin ini terkesan kasar bagimu. Terkadang kita memiliki porsi yang berbeda."

"?"

"Ketika Sai berbicara masalah 'A' padamu, dia akan menyembunyikan masalah 'B' darimu. Dan ketika dia menyembunyikan masalah 'A' dariku, dia akan menunjukkan masalah 'B' untukku. Apakah kau pernah merasakannya?"

.

.

.

To be continued….

.

.

.

Here we go for the next chapter…

See you in the next chapter