Kenalan

.

Chapter 11

.

.

He knows what you think. He can feel what you want. As the result,he can (and capable) to make some (many) 'silent sacrifice' for you. Why?

Because he loves you just like his love for his own family. You're a half part of him, isn't?

.

Saran BGM: when the cold winter wind comes by Max Changmin. Entah kenapa Kasumi dapet feel buat chapter ini dari lagu ini. Meskipun agak jauh,Kasumi justru dapet nulis chapter ini karena ada part 'kembali meskipun tidak sama seperi dulu'...hiks...#mohon abaikan karena bagian yang mewek2 ada d chapter mendatang *bagi2 bocoran-plak*

.

.

"Sas..."

"Hn?"

"Kau yakin? Maksudku... Aku hanya ragu apakah benar kau tidak menyukainya? Dan... Apakah semuanya tidak bisa dibicarakan?"

"Yang kutahu adalah prioritas utama adalah Sai."

"Ya,aku tahu perasaanmu. Tapi... Apa kau pernah membicarakan masalah ini pada Sai? Secara langsung?"

Sasuke hanya menoleh ke arah lain. Matanya terlihat menerawang jauh entah kemana. Naruto duduk di sampingnya dan menatap langit. Jujur,dirinya juga tidak pernah mengalami hal serupa sehingga tidak mampu memberikan saran yang tepat bagi sang sahabat. Namun disisi lain Naruto ingin sekali bertemu dengan Sai dan... yah... berbicara mengenai hal ini. Dirinya merasakan ada yang janggal disini.

"Aaarrhhggg...!"

Sasuke yang sedang berpikir nyaris terjungkal ketika Naruto yang berada di sebelahnya tiba-tiba saja berjingkat sambil menarik-narik rambut pirangnya. Naruto yang menyadari tatapan penuh aura keanehan dari Sasuke segera mendengus dan berjalan meninggalkan Sasuke.

"Di kulkas sudah ada makanan. Kalau sungkan ya bilang aja jam berapa kau pulang dari main-mainmu."

Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Seharusnya kan yang sumpek itu dirinya. Kok malah Naruto yang butuh udara segar? Namun dia lebih memilih untuk jalan-jalan saja daripada diam di rumah orang yang kosong melompong ini.

Sasuke berniat untuk menanyakan kemana tujuan si rambut duren. Namun Naruto segera memotongnya dengan menunjuk ke arah luar.

"Kalau kau tidak mau menemuinya ya aku saja. Aku yakin dia kesepian disana. Jadi kuputuskan untuk bertemu dengannya. Lagipula aku sumpek dengan masalah kalian. Jadi aku datang kesana dengan maksud untuk menemuinya sebagai teman saja."

Sasuke hanya melirik ke arah lain ketika Naruto memakai jaketnya dan mengambil kaus kaki yang berada di tumpukan pakaian.

"Hey,Sas."

Yang dipanggil pun mendongak.

"Jadi keluar ga? Mau ku kunci lho!"

Sasuke segera bergegas untuk keluar kamar. Ada baiknya untuk berjalan keluar dengan maksud untuk refreshing saja. Namun ketika teringat tujuan Naruto...

"Na-"

"Aku tidak akan bilang apapun kok."

Ketika sampai di depan pekarangan rumah,mereka pun berpisah dan menuju ke jalan masing-masing. Naruto hanya bisa melirik ke arah Sasuke. Ternyata kebiasaan Sai untuk 'kabur' ketika penuh masalah yang mendera juga dimiliki oleh Sasuke. Naruto tidak tahu harus berkata apa mengenai hal ini.

Di langkah kan kakinya dengan tempo lambat menuju ke kediaman keluarga Uchiha. Ketika sampai di depan rumahnya,dia menemukan Itachi yang sibuk memanjat pohon buah jeruk yang memang berada di depan rumah. Ketika melihat di sekelilingnya,dia juga menemukan Sai yang menatap sang kakak yang berada di bawah pohon.

Secara reflek Naruto pun berlari ke arah Sai yang masih cengo. Mulutnya ingin mengatakan 'awas kejatuhan buah' namun yang akan di beri peringatan malah sibuk berlari ke arahnya.

"Sai,ohis-ouc ouch oughh..."

Sai hanya bisa mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Naruto. Hal itu dia lakukan sekitar 4 kali mengingat sekitar 4 buah jeruk manis warna kuning nan berukuran jumbo sukses menimpuk si kepala duren.

Sebelum Sai berniat untuk membantu si kepala duren,Tiba-tiba saja sang kakak melompat ke bawah tepat di samping Naruto yang mengelus-elus kepalanya. Sontak Naruto berjingkat dan bergulung-gulung di tanah yang berlapiskan rumput hias di depan pekarangan keluarga Uchiha.

"Uwoogghh... maaf ya Naruto! Enggak sengaja. Tadi maunya ngejatuhin tepat di belakangmu. Tapi karena tanganku kelebihan muatan ya... aakhirnya ada yang melepaskan diri..."ucap sang pelaku penjatuhan buah jeruk dengan sedikit cengirannya. Naruto manyun.

"Itachi-san gimana sih?! Gimana nanti kalau gagar otak? Gimana nanti kalau kepalaku bocor?!" ucap Naruto sambil ngambek.

Itachi hanya bisa memasang senyum mohon maafnya. Namun akhirnya Naruto membantunya untuk membawakan jeruk-jeruk yang bbarusan dijatuhkan.

Hingga terdengar gelak tawa dari orang ketiga yang sedari tadi mengawasi mereka. Itachi hanya tersenyum sedanakan Naruto sudah diambang kesabaran dan berniat untuk melempari Sai dengan jeruk yang berada di tangannya. Bukan merasa terancam Sai malah tertawa makin keras dan sukses membuat dua orang yang berada di depannya bengong.

"Sai? Masih waras?" tanya Itachi.

"Ppfftt... itu...itu... haduh... rasanya sampai mau nangis..."

"Apanya?"

Sai menunjuk ke arah Naruto yang dalam pose tangan kanan siap melemparkan jeruk dan tangan kiri membawa beberapa jeruk lainnya sebagai amunisi cadangan.

"Monyet pirang... ie.. Monyet kepala duren...ppfftt..."

"..."

"Itachi-san, kau paham maksudnya Sai?"

"Entahlah... Kupikir aku akan ikut tertawa. Namun akal sehatku memberikan pertanyaan mengenai alasan dan hubungan dirimu dengan monyet..." ucap Itachi sambil memperhatikan Naruto lekat-lekat. "Untuk kepala durennya aku mengerti... tapi kalau monyet..."

"Aku pernah melihat di televisi mengenai monyet yang menaiki cabang pohon kenari. Lalu monyet-monyet itu melempari sang pemangsa dengan biji kenari juga..."

Dan pernyataan Sai sukses membuat Itachi tertawa terbahak-bahak.

Sedangkan Naruto memilih untuk menyerah dan hanya bisa memperhatikan dua orang dengan pemikiran absurb di depannya.

Tawa mereka berdua pun seiring waktu mereda. Naruto akhirnya diajak untuk masuk ke dalam rumah atau lebih tepatnya di tempat bagian belakang rumah yang ternyata memiliki kolam ikan koi yang cukup unik. Sebagian wilayah kolam berada di bawah teras sehingga Naruto hanya bisa tergagap ketika menyaksikan Sai yang menggulung lengan dan bagian kaki dari pakaiannya.

Lalu dengan mudahnya Sai duduk di bagian pinggiran kolam dengan kaki yang sedikit menyentuh air kolam. Jadi maksudnya mainan air?

Sai segera mengambil kotak plastik yang ternyata menyimpan makanan untuk ikan-ikan koi yang berada di bawahnya. Cukup dengan menaruh beberapa remah-remah di telapak tangannya dan ketika dia mencelupkan tangannya di permukaan air,ikan-ikan koi yang ukurannya lumayan besar segera menyerbu tangannya.

Naruto pun ingin mencobanya dan segera mengkopi langkah yang dilakukan oleh Sai.

"Ayo ikan-ikan gembul... ikutan yok... ini aku juga bawa makanan lho!" ucap Naruto bersemangat. Namin semangatnya segera padam ketika melihat siluet hitam yang cukup besar yang bisa dibilang seukuran pahanya mendekati tangannya. Dan ketika siluet itu naik ke atas,muncullah wajah menyeramkan dari seekor ikan lele jumbo. Naruto segera berjingkat dan bersembunyi di belakang Sai. Sai hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya yang cukup nyeleneh itu.

"Uwooggh... Sai... ada pen-pen-penampakan!"

Sai hanya terus memberi makan ikan koi yang lain. Ikan lele yang cukup besar tadi ternyata sudah kembali ke dasar kolam.

"Apanya yang penampakan? Itu kan cuma ikan lele,Naruto..."

"Tapi... Tapi..."

"Dia memang sudah tua. Makanya bisa sebesar itu..."

"Weleh-weleh... bikin jantungan aja..."

Sai hanya tersenyum dan memandangi kolam ikan yang berada di depannya dengan miris. Entah kenapa di saat-saat seperti ini dirinya teringat akan masa lalu ketika...

Sai tidak bisa mengungkapkannya dan yang ada kini dia meringkuk dengan posisi duduk dan menyelusupkan kepalanya di lipatan kedua lengannya yang berada di atas lututanya yang ditekuk.

Setelah merasa tenang,dirinya menoleh ke arah Naruto yang ternyata sibuk mencari penampakan ikan lele raksasa yang mendiami dasar kolam. Seulas senyum muncul dan Sai berusaha mati-matian untuk menjaga agar apa yang dia rasakan tadi malam naik lagi ke permukaan dan sukses membuat si rambut duren itu khawatir.

"Naruto..."

Suara rendah namun cukup didengar masuk ke pendengaran Naruto. Dia pun menoleh dan menemukan Sai yang menatap permukaan kolam dengan tatapan kosong. Lalu beberapa detik kemudian,Sai menarik napas dalam dan menyunggingkan senyum ke arahnya.

"Bagaimana keadaannya? Dia tidak tertekan kan di rumahmu?"

Perasaan was-was menyeruak di dalam hati Naruto... jangan-jangan...

"Maksudmu?"

"Dia masih mau menjaga kesehatan dan tidak terjerumus ke hal yang tidak-tidak,kan?" ucap Sai dengan tatapan yang seolah-olah mampu menembus pikiran Naruto.

"Yah... dia persis seperti kau yang kabur dan memilih menenangkan diri ketika banyak masalah..."ucap Naruto sambil menatap langit. Sai segera duduk dengan posisi awal dan menarik napas lemah.

"Tolong jaga dia ya,Naruto... Aku takut kalau terjadi apa-apa dengannya..."ucap Sai yang mampu membuat Naruto menoleh tajam ke arahnya.

"Darimana kau tahu kalau..."

Sai pertanyaan Naruto. Dia lebih memilih untuk memperhatikan gerakan ikan koi yang meliuk-liuk dengan lemah gemulai. Ketika di rasa 'cukup',dia menoleh ke arah Naruto. Naruto yang melihat ekspresinya hanya bosa terkejut...

Sebuah senyum tanpa arti terpampang di wajah pucat Sai. Lalu tiba-tiba Sai memiringkan kepalanya ke kanan dan menunjukkan senyuman manis namun miris di mata Naruto.

.

.

.

'Onichan,mintak yang itu...'

'Kau baru saja kena pilek. Enggak usah makan yang ada es nya...'

'Hiks,Onichan jahat...'

'Tuh kan... berpikiran buruk ama kakak sendiri... uangku ini kalau kubelikan es ujung-ujungnya ga cukup buat beli 2 porsi ramen di depan jalan itu...'

'Jadi? Kita mau makan mi ramen?'

'Yup!'

Dua anak kakak beradik itu segera berjalan dengan langkah pelan menuju ke kedai mi ramen yang terletak di seberang jalan. Tanpa mereka sadari,sepasang mata menatap nanar ke arah mereka karena apa yang mereka lakukan membuat sang penatap mengingat akan masa lalu.

Namun dia tidak mampu untuk pulang...

Tidak...

Karena dia belum siap dengan segalanya...

Dia yakin kalau Sai akan memaafkannya. Namun dia tidak akan tega menyuarakan keinginannya. Keputusan yang diambil memang sangat beresiko. Namun bukankah masih ada yang lain?

Maksudnya...

Selain dia?

Terkadang rasa gusar muncul secara tiba-tiba. Kenapa harus dia? Apakah yang dia lakukan selama ini masih kurang?

Dan pemikiran itu terus berputar dan berputar ...

Dan tanpa terasa senja telah membuat langit berwarna orange kecoklatan. Membuat langit menjadi begitu teduh untuk dipandang mata. Pikirannya teralih ke arah jalan kecil yang berliku.

Apakah ini benar?

'Sai...'

'Hm?'

'Kau yakin? Bukankah itu sangat beresiko?'

'Kan yang melakukan ini aku,bukan kamu.'

'Tapi...'

'Dan aku juga tidak pernah dan tidak akan menyesal akan apa yang kulakukan maupun pada keputusan yang kuambil. Jadi jangan. khawatir,ya?'

Sai...

Apakah keputusan ini tepat?

.

.

.

"Nja... bagaimana kau bisa tahu?"

"Cuma tahu aja. Feeling ku mengatakan kalau kau mengetahui dimana keberadaan Sasuke. Cuma itu..."

"Insting,ya?"

"Hu umb..."

Naruto memperhatikan Sai yang duduk sambil memeluk kedua betisnya. Matanya menerawang jauh. Naruto tahu kalau saat ini pikirannya sedang kalut. Belum lagi perasaan bersalah yang tentu saja bergelayut di dalam hati Sai.

"Aku tahu sejak awal..."

"Tahu apanya?"

"Kalau aku hanyalah beban. Seharusnya aku sudah tiada sejak dahulu. Seharusnya aku tidak membuat usaha mereka yang berada di sekitarku sia-sia. Seharusnya-"

"Kau tidak salah,Sai."

Sai menarik napas panjang. Dia sudah tahu kalau Naruto akan mengatakannya. Di pikirannya sekarang adalah masa-masa yang telah terlewati bersama semuanya. Termasuk bersama si rambut duren yang berada di sebelahnya. Seulas senyum pun muncul,namun karena kalimat konyol itu hanya menenangkan hatinya sejenak dan kemudian tergantikan dengan perasaan yang begitu miris menyebabkan Sai menggigit bibir bawahnya.

Tidak...

Dia tidak akan menangis lagi seperti waktu itu.

Seperti ketika dirinya mendengarkan pertikaian dan menemukan seluruh anggota keluarganya kecuali dirinya yang begitu frustasi.

Tidak...

Sai tidak menginginkannya.

Namun disisi lain...

'Aku tidak pernah menyia-nyiakanmu,Nak. Aku rela membagi kasih sayangku karena kau adalah darah dagingku yang juga kusayang. Ibumu ini menyayangimu seperti yang lain. Ibu bahkan rela dan tidak akan pernah menyerah untuk berharap bahwa aku bisa melihat KETIGA anakku menuju ke kebahagiaan yang semestinya. Ibu tidak akan pernah menyerah... Maka dari itu,kalau sudah tidak ada lagi alasan untuk hidup,maukah kau hidup demi ibu?'

Tanpa sadar,Sai sudah menggigit bagian dalam bibirnya hingga berdarah. Namun segera ditelannya darah yang mengalir itu.

"Aku lelah,Naruto..."

Naruto bergerak dan mengalungkan lengan kanannya pada bahu Sai.

"Aku lelah menjadi sumber pertengkaran keluargaku. Aku lelah untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa mengenai apa yang terjadi. Aku lelah melihat seluruh anggota keluargaku sedih. Aku lelah..."

Naruto hanya bisa mengusap-usap punggung Sai karena dia juga tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Ne,Naruto..."

"Hm?"

"Bolehlah aku minta tolong?"

"Apaan?"

"Tolong jaga Sasuke selama dia tidak ada di rumah. Aku khawatir padanya dan kumohon,tolong jaga dia hingga kekisruhan ini berhenti dan dia mau pulang. Kau mau kan,Naruto?"

"Tak usah kausuruh aku juga bakalan melakukannya,kok..."

"Terimakasih sebelumnya,Naruto."

Dan akhirnya Naruto bisa melihat sosok Sai yang seperti biasanya. Mau tak mau dirinya merasakan kelegaan yang cukup luar biasa.

Mereka mengobrol hingga sore. Naruto pun pamit undur diri dan memakai sepatunya. Sai sendiri menyuruh Naruto untuk membawa satu kantung plastik besar berisi jeruk yang berasal dari usaha memanjat Itachi.

"Ja...Aku pulang dulu,ya..."ucap Naruto sambil berbalik. Hingga tiba-tiba Sai memanggilnya.

Naruto pun menoleh dan tiba-tiba saja sepasang lengan melingkar di punggungnya. Dia tidak mampu berkata apa-apa lagi ketika Sai membenamkan wajahnya di lehernya.

Naruto hanya bisa terdiam hingga akhirnya mengusap-usap punggung Sai.

"Jaga Sasuke,ya..."desis Sai. Naruto pun mengangguk. Dengan perlahan Sai melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar.

"Makasih..."

.

.

.

to be continued.

.

.

See u in th next chapter...