Disclaimer
Naruto©Masashi Kisimoto
Witch In The North Forest©Green Maple
.
.
.
Genre : Rated M, Fantasy, Romance, Hurt/Comfort
Peringatan : Cerita, nama tokoh dan tempat dalam fiksi ini semua hanyalah karangan author belaka. Mohon para pembaca dapat menyikapinya dengan bijak.
.
.
.
Chapter 2
The Beginning
Selamat membaca
.
.
.
"Hosh, hosh, hosh !"
Bunyi kecipak air dari genangan yang terinjak dan suara gesekan dedaunan semak semakin menjadi saat kaki-kaki kecil telanjang itu menapak tanah berlumpur di bawahnya. Berkali-kali tubuh kecilnya menabrak pohon dan ranting yang menjulur di depannya. Merobek dress putih pemberian ibunya. Ia tak peduli walaupun tubuhnya penuh dengan luka.
Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, matanya membulat awas, uap-uap air keluar dari mulutnya saat nafasnya berlomba keluar masuk dari paru-paru. Ia terus berlari, tidak peduli apa yang akan menyambutnya di depan. Yang terpenting adalah Ia harus selamat.
"Ibu, Ayah!"
Isak tangis keluar dari mulutnya, namun itu tidak menghentikan pelariannya. Hutan yang rimbun dan gelap membuatnya takut dan menggigil. Tapi tekatnya yang tidak ingin tertangkap dan berakhir mati membuatnya terus masuk menerobos gelapnya hutan.
Suara-suara teriakan di belakangnya membuatnya takut setengah mati.
'Bagaimana ini? Ibu, ayah tolong aku!'
Ia tersandung, kelelahan dan putus asa mulai melanda. Derai air matanya tak berhenti. Wajahnya pucat pasi. Nafasnya masih tersengal-sengal. Namun saat itulah ia melihat ada lubang besar di bawah pohon. Secercah harapan menghinggapi wajahnya. Tanpa pikir panjang ia merangkak masuk kedalamnya. Bersembunyi, menekuk lutut dan membungkam mulutnya untuk meredakan isakan.
Derap-derap langkah kaki mulai terdengar mendekat. Suara tebasan pohon dan teriakan orang dewasa mulai terdengar jelas.
"Sialan! Dimana dia?"
Tubuh gadis kecil itu meremang, nafasnya tercekat. Tangan kecil yang mulai berkeringat dingin itu susah payah membungkam derus nafas dan isakannya.
Seseorang berdiri diatasnya. Ia memekik kecil saat matanya melihat banyaknya cacing dibawah kakinya dan seekor kelabang yang mulai merayap di dalam bajunya. Ia hanya bisa menutup mata keras. 'Tuhan tolong aku, tolong akuuu!'
.
.
Di sebuah kedai
"Hei kau kemari!" Seorang pria muda berambut coklat dengan tato di kedua pipinya berteriak lantang saat matanya melihat wanita pelayan kedai. Wanita itu mendekat dengan membawa nampan.
"Ya tuan?"
"Bawakan aku segelas bir lagi!"
"Baik." Lalu pelayan wanita itu pun pergi. Tak berapa lama ia kembali dengan gelas besar terbuat dari kayu dan menyerahkan pesanan pria tersebut.
"Kiba, hentikan! Ini sudah gelas yang keempat bodoh." Seorang pria berbaju coklat tua dengan sepatu boot hitam besar bersurai pirang menepuk keras pundak lelaki bernama Kiba disampingnya.
"Ah, lepaskan! Aku ingin bersenang-senang. Jangan ganggu aku Naruto!" Kiba berusaha menghempaskan keras tangan yang berada dipundaknya.
"Kau tidak ingat kalau kita masih ada urusan. Kenapa kau malah mabuk begini. Merepotkan saja. Aku tidak mau tahu kalau kau sampai membuat kekacauan dan tergeletak di tengah jalan." Naruto pria bersurai pirang itu memukul kepala belakang Kiba sembari menggerutu.
Ini bukan wilayahnya jadi ia tak ingin membuat keributan sedikitpun. Walaupun teman seperjuangannya sudah hangover, ia tidak mungkin meninggalkannya sendirian ditempat seperti ini. Banyak bandit, perampok dan penjahat disekitar sini. Ia tahu itu, pengalamannya berkelana bertahun-tahun mengajarkannya. Ini dunia yang penuh dengan tipu muslihat. Hampir separuh hidupnya ia lakukan untuk berkelana. Ia hanya ingin bebas, menjadi pribadi yang independent tanpa memusingkan aturan.
Awalnya ia pergi hanya dengan Shikamaru-sebenarnya ia dipaksa-pria pemalas yang sialnya jenius-sampai sekarang, ini masih menjadi misteri bagaimana seorang gelandangan seperti Shikamaru yang tidak mengecam pendidikan tinggi bisa memiliki otak sejenius itu. Uzumaki Naruto dan Nara Shikamaru adalah teman sejak kecil. Mereka yatim piatu dan besar bersama-sama di jalanan di daerah Konoha.
Hidup ini keras, mereka harus berjuang hidup untuk menyambung nyawa. Menjadi pelayan kedai, pembersih kandang kuda seorang kaya raya hingga mencuri pernah ia lakukan agar ia dapat bertahan hidup. Hingga saat dia berumur 18th, Naruto memutuskan pergi dari desa dan mulai berkelana bersama sahabatnya.
Dan saat mereka berada di perbatasan desa Iwagakure, mereka menemukan Inuzuka Kiba tergeletak bersimbah darah didekat parit kecil. Mereka kemudian menolongnya dan saat itulah Kiba memutuskan untuk ikut Naruto berkelana dengan alasan ia sudah tidak mempunyai tujuan hidup lagi.
Sudah 8 tahun mereka berkelana sembari mencari uang dengan mengambil semua pekerjaan yang bisa mereka lakukan, tentu dengan upah yang tinggi. Naruto, Shikamaru dan Kiba tidak pernah memusingkan pekerjaan yang mereka dapat walaupun itu kriminal asalkan mereka tetap hidup. Cara yang kasar memang, tapi beginilah hidup. Siapa yang lemah dia yang tertindas.
Dan sekarang mereka mempunyai misi.
Naruto melirik ke kiri, kakinya menendang tubuh pria yang tergeletak di atas kursi tak jauh dari tempatnya duduk."Hei, Shikamaru. Bangun bodoh!" Dengan wajah malas yang bersungut-sungut Shikamaru-pria berambut hitam yang dikuncir tinggi-terpaksa bangun. Ia melirik sinis pada Naruto dan menggerutu.
"Cepat kita harus pergi dari sini." Naruto berbicara lirih tanpa melihat lawan bicaranya. Mata birunya awas menyisir suasana di dalam kedai. Memindai orang-orang yang ikut menghabiskan waktunya di sana.
Pria berjubah coklat dengan tanda garis di kedua pipinya itu seketika bangkit dan menyeret paksa Kiba dari sana. Ia tidak ingin terlalu lama menghabiskan waktu di sana. Tempat yang memuakkan dan sedikit berbahaya. Shikamaru kemudian bangun dan berjalan mengikuti dua pria di depannya dengan malas-malasan. Menyisir rambutnya ke belakang dan menguap lebar.
"Ah, merepotkan!"
.
.
Saat berada di luar kedai, hari sudah semakin gelap. Mereka harus segera pergi dari sini dan mencari penginapan, ah atau mungkin mereka harus tidur di tengah hutan lagi mengingat uang persediaan mereka semakin menipis. Tidak ingin memakan waktu lebih lama lagi, tiga sekawan itupun pergi menemui kuda mereka yang terikat di sebuah kayu di dekat kedai. Dua kuda jantan berwarna coklat dan satu kuda jantan berwarna putih.
"Naruto, ini sudah hampir seminggu dan kita sama sekali tidak memiliki petunjuk." Kiba meringis merasa mulai putus asa, tidak pernah selama ini mereka melacak seseorang tanpa memiliki petunjuk.
"Aku tahu, apa mungkin mereka hanya mengerjai kita?" Naruto cemberut saat mengingat perkataan orang yang berpakaian mewah saat itu.
"Huh, bodoh!"
Mendengar ejekan seseorang yang menurut mereka menjengkelkan, dua kepala coklat dan pirang itu secepat kilat menoleh ke sumber suara.
"Apa kau bilang hei kepala nanas?!" Kiba orang pertama yang menyembur.
"Shikamaru, diantara kita bertiga kau yang paling jenius. Tapi kenapa kau sendiri tidak punya petunjuk apapun. Kerjaanmu hanya tidur, dan berkata merepotkan-merepotkan. Hidupmu memang sudah merepotkan, tapi jangan jadi orang yang merepotkan dengan merepotkan kami." Semburan kedua dari pria berkepala durian mendapat pukulan dikepala belakang mereka dari pria berkepala nanas.
Anehbuah memukul buah, dimana rasa kasih sayang mereka? Persetan.
Shikamaru hanya bisa meratapi nasib. Hidupnya sedang di uji. Menghabiskan hampir separuh hidupnya bersama dua orang bodoh sama sekali tidak ada dalam rencana masa depannya. Ia hanya bisa menghela nafas. Mengingat apakah dulu waktu kecil ia pernah menginjak kotoran ayam sehingga nasibnya sial seperti ini. Kata orang jika kau menginjak kotoran ayam, maka kau akan bernasib sial. Hah bodoh! Tentu saja yang namanya menginjak kotoran itu sial, mana ada itu disebut keberuntungan. Jika memang itu suatu keberuntungan pasti orang-orang akan berlomba menginjak kotoran.Sial, sudah cukup. Itu menjijikan, mana mungkin ada orang-orang berlomba untuk mengin...
Menghela nafas sekali lagi.
Shikamaru memijit pangkal hidungnya. Tidak ingin memperpanjang pertengkaran bodoh dengan kedua cecunguk itu ia pun naik ke kudanya dan memacu kuda cokelatnya berlari menjauh. Tidak berapa lama dua sahabatnya pun mengekor di belakangnya sambil menggerutu.
.
.
Ia tidak tahu untuk urusan apa dia dipanggil kemari. Di saat ia sedang beristirahat membaca buku di perpustakaan pribadinya tiba-tiba saja salah satu pengawal istana datang menemuinya.
Suara ketukan sepatunya yang beriringan menggema di lorong istana. Beberapa pelayan yang berpapasan dengannya membungkuk memberi hormat. Pria itu tidak peduli, dengan wajah datar ia melangkahkan kakinya menuju pintu ganda besar berwarna coklat di depannya.
Saat pintu terbuka, ia melihat sosok pria berjubah mewah dengan mahkota dikepalanya sedang memunggunginya. Ia mendekat, membungkuk memberi hormat kepada sang Raja.
"Yang Mulia."
Mendengar suara yang sangat dikenalnya, Sang Raja menoleh.
"Kau sudah datang. Duduklah!" Sang Raja kemudian berjalan ke sebuah kursi besar di ruangan tersebut. Menyuruh pria tersebut untuk duduk dikursi di dekatnya.
"Kau sudah tahu bukan bagaimana kondisi Konoha?"
"Iya, Yang Mulia."
"Aku sudah mengutus seseorang untuk meredam keadaan di sana. Tapi, keadaan malah semakin kacau. Jadi, aku perintahkan kau untuk kesana menyelesaikan semuanya." Sang Raja, Uchiha Fugaku memberikan mandat pada sosok pria yang duduk dikursi tunggal disampingnya.
Konoha adalah salah satu bagian di daerah utara dari wilayah kerajaan besar Uchiha. Kota ini merupakan kota yang memiliki tambang berlian yang besar. Para bandit dan pencari kekayaan yang mengetahui hal ini berlomba-lomba untuk merebutnya. Dari melibatkan segelintir orang menjadi perang yang melibatkan banyak orang.
Mengetahui kota yang menyumbang pendapatan kerajaan sedang dilanda kekacauan, Sang Raja pun mengutus salah satu orang kepercayaannya untuk meredamnya. Namun, tanpa disangka setelah kembalinya orang tersebut ia dikejutkan dengan berita adanya pemberontakan. Ternyata kekacauan ini dimanfaatkan oleh sekelompok pemberontak.
Jaraknya yang cukup jauh dari kerajaan merupakan salah satu kendala dalam upaya misi kali ini. Butuh waktu hampir 3 hari dengan berkuda. Jika ia ingin mempersingkat waktu ia harus melewati Hutan terlarang, North Forest. Hanya butuh waktu sehari ia bisa sampai di Konoha. Namun, sesuai dengan namanya banyak kabar beredar jika seseorang masuk kedalam hutan itu maka ia tidak akan pernah keluar dari sana.
Hutan itu luas, gelap dan sering berkabut. Banyak rawa-rawa dan lumpur hisap di dalamnya. Konon katanya pohon-pohon di dalam hutan tersebut bisa berbicara. Dan mereka akan saling membisikan satu sama lain jika mereka melihat keberadaan manusia di dalam hutan.
Disaat kau kebingungan dan kelelahan, kau tidak akan sadar bahwa ada mahluk yang mengintaimu dari kejauhan. Tidak ada yang pernah melihat bagaimana rupanya. Mereka hanya mendengar rumor bahwa makhluk itu tidak menyukai manusia. Besar seperti Troll, hanya saja mereka tidak bodoh. Dan para penduduk menyebutnya The Guardian.
Ia tahu akan rumor yang beredar soal North Forest. Tapi ini tidak akan menghentikannya. Ia bertekad akan membawa lagi kejayaan kerajaan di Konoha. Mata sehitam jelaga itu berkilat tajam. Tanpa berpikir panjang sosok priatersebut menerima perintah dari Sang Raja.
"Kau akan pergi dengan Kakashi. Dan aku tidak ingin ada kabar tidak menyenangkan saat kepulanganmu."
"Baik, Ayah."
Uchiha Sasuke kemudian bangkit dan keluar dari ruangan itu setelah membungkuk hormat kepada Sang Raja.
Ia harus bersiap-siap.
.
.
Jalanan basah dan berlumpur terlihat penuh dengan jejak-jejak kaki. Hiruk pikuk padatnya aktivitas pasar di kerajaan Uchiha menjadi pemandangan biasa dipusat kota. Seorang wanita bercadar menapak jalanan pasar dipagi hari itu. Tubuh dan rambut yang tertutup jubah tersebut mencoba untuk melakukan barter dengan pedagang sekitar. Ia memang tidak mempunyai uang cukup, jadi ia harus melakukan ini. Menukar hasil berkebunnya dengan barang yang dibutuhkan.
Setelah mendapatkan hal yang ia inginkan, wanita itu pun berlalu.
Teriakan-teriakan dari arah gerbang pasar mengalihkan atensinya. Ia menoleh, melihat dari mana asal suara tersebut. Derap-derap langkah kaki kuda memasuki indra pendengarannya. Seketika ia menepi, menjauh dari kerumunan orang-orang yang ingin ikut melihat gerombolan kuda-kuda tersebut sebelum terinjak-injak.
"Minggir!" Seorang lelaki berkuda yang paling depan berteriak-teriak memperingatkan.
Sepertinya itu pasukan kerajaan. Mata hijau itu fokus saat seorang pria berhelai darkblue dengan jubah perang yang dilapisi sedikit warna emas lewat di depannya dengan kuda hitam yang besar. Pria dingin yang berkarisma. Matanya menyipit, seakan tersadar ia segera berlalu pergi dari kerumunan. Menyingkir, berbelok disebuah jalan kecil.
Tempat tinggalnya memang jauh dari pusat kota. Derap langkahnya terburu-buru saat netranya melihat hutan yang familiar di depannya. Matanya sedikit awas melihat sekitar, tidak ingin seseorang melihatnya. Saat dirasa aman, ia kemudian menghilang ditelan gelapnya rerimbunan hutan.
.
.
.
.
Bersambung
