Disclaimer
Naruto©Masashi Kisimoto
Witch In The North Forest©Green Maple
.
.
.
Genre : Rated M, Fantasy, Romance, Hurt/Comfort
Peringatan : Cerita, nama tokoh dan tempat dalam fiksi ini semua hanyalah karangan author belaka. Mohon para pembaca dapat menyikapinya dengan bijak.
.
.
Chapter 3
The Huntsman Uzumaki Naruto
Selamat membaca
.
.
.
Awalnya Naruto terlahir tanpa seorang ayah. Ayahnya meninggal saat ia masih di dalam kandungan. Ibunya yang hanya seorang buruh di toko roti mulai sakit-sakitan saat ia masih berumur 6th. Dan saat di umurnya yang menginjak 10th ibunya meninggal karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Lima hari setelah kematian ibunya, tiga orang laki-laki datang kerumahnya. Mereka mengambil paksa rumah satu-satunya peninggalan ayahnya. Saat itu ia masih kecil, ia hanya bisa menangis memohon. Orang-orang dewasa itu bilang bahwa ibunya menunggak pajak berbulan-bulan.
Pajak yang terlalu tinggi memaksa beberapa orang harus gulung tikar karena tidak bisa membayarnya. Semenjak saat itu ia hidup menggelandang. Pekerjaan apapun ia lakukan. Bertahun-tahun hidup di jalanan membuatnya tahu kerasnya hidup. Namun, disaat itulah ia bertemu Shikamaru yang sekarang menjadi sahabatnya dan sudah ia anggap keluarga sendiri.
.
.
Saat senja mulai berganti matahari mulai menyusup diperaduan berganti malam yang dingin, tiga sekawan akhirnya memutuskan untuk bermalam disebuah hutan. Setelah mengikat kuda-kuda mereka tak jauh dari tempat mereka bermalam, merekapun mulai mencari kayu bakar untuk membuat api unggun.
"Haaah, aku lelah seperti ini. Aku ingin tidur diranjang. Badanku terasa sakit semua tidur di atas batu." Kiba meringis saat badannya mulai direbahkan di atas tanah berbatu. Terkadang terbersit rasa menyesal mengikuti Naruto berkelana, benar-benar tidak mengenakan.
Ia rindu rumah, ia ingin pulang merasakan empuk dan hangatnya ranjang dan lezatnya masakan rumah. Tapi ia sendiri bingung kerumah siapa ia harus berpulang. Mengingat ia tidak memiliki rumah dan sanak saudara, masa ia harus berpulang kerumah Tuhan dan menumpang?
Hii, seketika ia bergidik ngeri berpikir seperti itu. Itu namanya cari mati. Oh Tuhan ia masih muda masih belum menikah. Ia masih ingin berumur panjang. Biarkan Kiba merasakan dulu bagaimana enaknya mempunyai istri.
"Ini semua salahmu dattebayo!" Naruto yang mendengar keluhan Kiba seketika menyembur dengan jengkel, sebenarnya ia juga ingin tidur di ranjang yang empuk. Kiba yang tidak diterima disalahkanpun membalas.
"Heh, apa katamu rubah?"
"Jika bukan karena kau menghabiskan uang saat di kedai tadi kita pasti tidak akan tidur di sini."
"Apa? Seperti kau tidak pernah saja."
"Eeh, apa kau bilang?"
Shikamaru yang melihat pertengkaran kedua sahabatnya ini tidak mau ambil pusing. Mulai lagi drama kecil di keluarga sedikit bahagia ini, mungkin. Oke ini tidak akan selesai jika dibiarkan saja. Lihatlah kelakuan mereka berdua bisa-bisa mereka akan membangunkan serigala yang ada disini dan berakhir mengenaskan dengan kepala yang terlepas dan menjadi mainan anak-anak serigala, usus terburai dari perut, satu mata yang tercongkel keluar, kaki kanan yang terlepas dan menjadi rebutan para serigala, dan sebagainya dan sebagainya.
"Hei hentikan kalian berdua!"
Ah akhirnya Shikamaru kau menyelamatkan kami, jujur saja aku sudah tidak tahan dengan berisiknya mereka berdua.
"Apa kalian tidak tahu kalau hutan ini berhantu?" Tidak disangka dua orang bodoh dengan posisi mereka yang tidak elite-si kepala durian yang menindih dengan memiting si kepala coklat dan si kepala coklat yang membelitkankan kakinya di sekitar pinggang lawan main-demi dewa Jashin kak Hidan posisi kalian seperti orang gay yang sedang bercinta-menghentikan pergulatan panas mereka setelah mendengar celetukan dari orang sebelah.
Mereka berdua menoleh dengan mata membeliak ngeri, dengan cepat mereka melepas diri satu sama lain dan mendekati Shikamaru.
"Shi-Shikamaru,be-benarkah itu?" Perlu digaris bawahi Kiba adalah orang yang penakut soal hantu.
"Hei, ja-jangan bercanda. Bodoh, mana ada hantu di hutan. Haha." Naruto tertawa garing. Perlu digaris bawahi sekali lagi Naruto adalah orang yang sangat penakut soal hantu.
Mungkin lebih baik bertemu hantu daripada bertemu siluman. Dua siluman yang membelit lengan dan tubuhnya seperti ini. Tidak disangka bahwa ia akan terjebak dalam bualannya sendiri. Shikamaru mendesah menyesal, malas memperpanjang hal ini akhirnya ia pasrah saja.
"Sudah cukup lebih baik kita tidur." Daripada bertemu hantu lebih baik mereka mengikuti saran si kepala nanas. Tidur meringkuk dengan menempel satu sama lain. Oyasuminasai.
.
.
Bunyi cicit-cicit burung dan suara bersin-bersin Kiba adalah alarm tersendiri bagi mereka. Sinar matahari yang menelusup masuk diantara dedaunan memberikan kehangatan di pagi hari.
"Hei, bangun!" Seseorang menendang kakinya, siapa gerangan brengsek yang berani mengganggu hibernasinya.
"Woi, cepat bangun bodoh!" Tendangan itu naik mencoba mengguncangkan badan. Intensitasnya semakin sering dan mulai terdengar dengusan dan kata merepotkan.
Kelopak matanya mengerjap-mengerjap, manik sapphire yang tersembunyi di dalamnya perlahan terlihat. Ia melenguh dan menguap lebar. "Shikamaru lima menit lagi." Hanya untuk meminta perpanjangan waktu.
"Rubah, cepat bangun. Atau kau akan kami tinggal, hatchuuu...!"
"Huh, merepotkan. Naruto cepatlah kita harus bergegas atau kau akan mati disini dimakan binatang buas."
"Iya, iya aku bangun." Dengan malas-malasan dan sedikit menggerutu Naruto mengikuti perintah Shikamaru. Melipat alas tidur dan mantel coklat yang dijadikan selimut semalam.
Sambil berbenah mata birunya menelisik sekitar. Api unggun sudah mati dan hanya meninggalkan asap, suasana sejuk hutan di pagi hari, Kiba masih beberes dan Shikamaru yang mulai menyiapkan kuda.
"Shikamaru apa rencana kita selanjutnya?"
Shikamaru yang mendengar pertanyaan Naruto pun berhenti dari mengelus kepala kuda dan menoleh ke arah kawannya.
"Kita akan pergi ke pusat kota. Ada seorang informan disana"
"Wah benarkah?"Akhirnya mereka akan mendapatkan petunjuk dan mengakhiri pencarian ini secepatnya.
"Makanya cepatlah sedikit."
"Baiiik..!"
Mereka bertiga pun bergegas meninggalkan hutan dan memacu kudanya ke arah pusat kota.
"Tapi, ngomong-ngomong darimana Shikamaru mendapatkan informan itu?" Naruto menoleh ke arah Kiba yang berjalan disampingnya. Perasaan Shikamaru kerjaannya hanya tidur saja sepanjang waktu.
"Aku juga tidak tahu, sudahlah yang penting pekerjaan ini segera selesai supaya kita bisa bersenang-senang." Pikiran Kiba melayang membayangkan sekantong emas digenggamannya.
"Hihihi, aku ingin makan ramen dattebayo."Mendengar kata bersenang-senang dari Kiba membuat Naruto tergiur. Ia ingin makan ramen sampai puas. Huuh, betapa ia merindukan ramennya sekarang.
Jarak hutan tempat mereka bermalam semalam dengan pusat kota cukup jauh. Selama perjalanan mereka hanya di isi dengan saling melempar ejekan satu sama lain dan kuapan dan kata merepotkan Shikamaru. Tak terasa gerbang kota tujuan mereka terlihat menjulang di depan.
"Kerajaan Uchiha. Hei Shikamaru kita berada di kerajaan Uchiha." Kiba yang melihat lambang kipas kerajaan di gerbang sadar bahwa ia memasuki pusat wilayah salah satu kerajaan adi daya di negara Hi.
"Aku tahu bodoh. Memangnya kita mau kemana lagi." Seharusnya mereka tahu bahwa tempat mereka bermalam semalam merupakan wilayah kerajaan Uchiha bagian barat.
Kerajaan Uchiha adalah kerajaan besar yang memiliki banyak kota besar dan pusat kota mereka merupakan tempat terdekat dari istana inti kerajaan. Kota Uchiha. Kota yang penuh dengan para bangsawan dan saudagar kaya raya.
Mereka akhirnya tiba disebuah kedai kecil di tepi jalan. Mengikat kuda mereka di sebatang pohon dekat kedai, tiga sekawan itupun masuk kedalam.
"Yosh, akhirnya kita minum-minum lagi." Kiba bersorak senang saat mengetahui bahwa mereka mampir ke kedai.
"Aku peringatkan kalian berdua, kita kesini tidak untuk bersenang-senang."Mendengar sorakan Kiba tak ayal membuat Shikamaru memberikan peringatan kepada kawannya.
Suasana kedai yang ramai menyambut mereka saat tiga pasang kaki tersebut menginjakan langkah pertama di dalamnya. Ketiga kepala berbeda warna itu memindai seisi ruangan. Dan tepat saat kepala nanas menoleh pada arah jam 11 ia menemukan orang yang dicari.
Melangkah pasti menuju si target, kedua kawannya pun mengekor di belakang. Saat mendekati meja bundar dengan empat kursi-dua diantaranya terisi-Shikamaru dan Naruto duduk pada kursi kosong sedangkan Kiba hanya berdiri bersandar pada dinding.
Terlihat dua lelaki duduk di depan mereka. Lelaki bersurai hitam dengan jenggot duduk di depan Shikamaru sedangkan lelaki dengan surai coklat duduk di depan Naruto.
"Sudah lama?" Shikamaru memulai pembicaraan saat tangannya menggeser kursi kayu.
"Yaah, begitulah." Pria berjenggot dengan pakaian hitam di depannya menjawab.
"Jadi, bagaimana?"
"Santai dulu Shikamaru. Minumlah dulu, haha. Kau pasti kelelahan karena perjalanan panjang." Lelaki itu menyeringai sembari menyodorkan segelas bir.
"Tidak perlu, cepatlah Asuma. Jangan membuang waktuku."
"Shikamaru, apakah dia informan kita?" Naruto yang penasaran pun berbisik lirih pada Shikamaru yang duduk di sebelahnya dan hanya dibalas dengan gumaman.
"Yah baiklah, sebenarnya bukan aku yang mengetahui informasinya tapi pria ini yang mengetahuinya." Pria bernama Asuma itu menunjuk lelaki yang duduk disampingnya. Tiga pasang mata berbeda warna tersebut seketika melirik pria bersurai coklat yang duduk di depan Naruto.
"Katakan pada mereka Genma apa yang kau tahu." Asuma mendorong pria yang bernama Genma untuk segera berbicara.
"Yang aku tahu kejadian ini sudah lama terjadi bertahun-tahun yang lalu. Dan dari kabar yang ku dengar dia lari ke Utara."
"Utara? Dimana tepatnya?" Naruto mulai sedikit tidak sabar mengorek informasi dari pria yang bernama Genma. Shikamaru memicing.
"Kau tidak akan mau kesana jika aku memberitahumu."
"Apa maksudmu?" Kiba yang dari tadi hanya berdiripun ikut menimpali. Shikamaru hanya mendengar percakapan mereka dengan tenang.
"Itu tempat yang berbahaya."
"Katakan saja dimana tempatnya."
"Ah sudahlah, aku mau pulang. Aku masih ada urusan." Melihat Genma yang akan berdiri membuat Naruto secepat kilat mencengkeram kerah bajunya. Ia mendesis memperingatkan lelaki di depannya untuk tidak beranjak sedikitpun atau ia akan menebas kepalanya.
Asuma yang tahu situasi memanas mencoba melerai. Shikamaru hanya menguap dan menggaruk kepala belakang seraya melontarkan kata andalannya.
"Genma, katakan yang jelas." Asuma mencoba mendorong Genma sekali lagi untuk menyelesaikan ini sebelum terjadi keributan besar.
Genma akhirnya duduk kembali setengah tidak rela, ia sudah menghabiskan satu jam sia-sia disini hanya untuk menunggu tiga cecunguk ini. Seharusnya ia bisa berkencan dengan gadisnya sekarang.
"Dengar, ada yang bilang seseorang pernah melihatnya pergi ke utara tepatnya ia memasuki Hutan Utara."
"Hutan Utara?" Naruto membeo, ia baru dengar ada hutan yang bernama Hutan Utara.
"Kau tidak tahu?" Asuma melotot melihat bocah pirang di depannya memasang wajah bodoh.
Shikamaru yang mendengar nama hutan tersebut mulai mempertajam pendengarannya.
Saat pria berkepala durian itu akan membuka mulut, Shikamaru memotongnya.
"Apa kau tahu bagaimana ciri-cirinya?"
Genma mengalihkan perhatiannya pada pria berkuncir di depannya."Ku dengar ia seorang perempuan. Anak dari petani dan tidak memiliki saudara. Dan dia berambut merah muda. Hanya itu yang aku tahu."
Setelah memberikan semua informasi yang ia tahu Genma pun beranjak.
Asuma yang mengetahui kemana arah tujuan tiga sekawan ini akan pergi mulai mempertanyakan.
"Apa kalian akan tetap pergi kesana?"
"Tentu saja ttebayo."
Asuma meringis mendengar ucapan pemuda di depannya yang nyengir. Tidak disangka bahwa mungkin ini adalah pertemuan terakhirnya dengan mereka. Shikamaru yang mengerti akan hal ini segera memberikan upah kepada Asuma.
"Terimakasih, ku harap keberuntungan selalu bersama kalian." Dan kemudian Asuma beranjak pergi dari hadapan mereka. Kiba yang melihat itu segera ambil duduk di depan kawan-kawannya. Meneguk segelas bir yang belum terjamah di meja.
"Baiklah ttebayo,kita harus pergi ke hutan apa itu tadi namanya?"
"North Forest." Kiba menimpali, masih asyik dengan minumannya.
"Ya, ya dan segera membawa gadis itu kembali." Naruto berseru bersemangat sembari mengepalkan kedua tangannya ke atas.
Saat itulah dia baru menyadari bahwa berpasang-pasang mata melihatnya.
"Err, kenapa mereka melihatku? Apakah aku terlalu mempesona?" Naruto yang tidak enak saat menjadi pusat perhatian mulai menurunkan kedua tangannya dan berbisik lirih kearah Shikamaru. Shikamaru hanya menggeleng, kedua temannya ini tidak tahu situasi.
"Bukan bodoh. Ayo kita pergi dari sini. Akan aku ceritakan saat dijalan."
Shikamaru pun beranjak di ikuti Naruto kemudian Kiba.
Suasana diluar kedai masih ramai, tiga sekawan itupun mulai beranjak pergi dari kedai. Saat melintasi daerah yang sedikit sepi, Naruto yang penasaran dengan perkataan Shikamaru tadi mulai menagih penjelasannya. Akhirnya Shikamaru pun menjelaskan semua rumor tentang hutan Utara.
Setelah mendengar tentang rumor itu Kiba bergidik ngeri. Pantas saja orang-orang yang di dalam kedai tadi melihat mereka. Naruto hanya diam seribu bahasa. Shikamaru yang mengerti akan teman seperjuangannya yang shock hanya bisa menghela nafas.
"Sialan pantas saja pria itu hanya memberi kita sedikit informasi." Kiba mulai pucat, ia tidak ingin mati sia-sia. Mengingat gadis itu masuk ke hutan terlarang pasti dia sudah mati bertahun-tahun lalu.
Ini adalah umpan agar mereka mau mengambil pekerjaan ini dengan memberikan informasi yang setengah. Jika ia tahu informasi ini dari awal, ia tidak akan mau mengambil pekerjaan ini.
"Naruto, bagaimana menurutmu?" Shikamaru yang melihat sahabatnya diam saja merasa heran.
"Dia bilang ada seseorang yang pernah melihatnya kan?"
"Ya."
"Na-Naruto jangan bilang kau akan.." Kiba meneguk ludah saat melihat gelagat pria rubah disampingnya.
"Hehehehe, tentu saja dattebayo. Ayo kita cari gadis itu." Naruto tersenyum lebar, ia tidak ragu untuk mengambil misi ini karena pada dasarnya ia memang menyukai tantangan.
"NARUTO! APA KAU GILA?!" Kiba mulai berteriak frustasi saat melihat pemimpin kawanan mereka mengambil misi berbahaya ini.
"Hei, Shikamaru. Kau ikut juga kan?" Mengacuhkan teriakan Kiba, Naruto melempar cengiran kearah sahabat sejak kecilnya sembari menepuk pelan dadanya. Melihat cengiran lebar yang menyebalkan itu membuat Shikamaru mendengus.
Lagipula nasi sudah menjadi bubur, jika mereka melarikan diri dari misi ini bukan tidak mungkin mereka juga akan mati di tangan pria kaya raya itu sebagai buronan.
"Tck, merepotkan."
"Hehe, baiklah! Ayo kita berburu!"
Kepalan tangan kanan beradu dengan telapak tangan kiri saat pria pirang dengan kumis kucing dikedua pipinya berseru semangat. Sinar matahari yang berada di atasnya membuat wajahnya bercahaya. Jubah cokelatnya berkibar saat angin bertiup kencang, memainkan surai pirang di kepalanya. Kiba hanya bisa pasrah dan meratapi nasib jika dia harus mati sia-sia. Mungkin Tuhan memang tidak menghendakinya untuk menikah.
Ketiga pemuda dengan tekad yang sama akan mempertaruhkan nyawanya demi sebuah misi.
.
.
.
.
Bersambung
