Disclaimer
Naruto©Masashi Kisimoto
Witch In The North Forest©Green Maple
.
.
.
Genre : Rated M, Fantasy, Romance, Hurt/Comfort
Peringatan : Cerita, nama tokoh dan tempat dalam fiksi ini semua hanyalah karangan author belaka. Mohon para pembaca dapat menyikapinya dengan bijak.
.
.
Chapter 4
The Prince Of Uchiha
Selamat membaca
.
.
Uchiha Sasuke adalah seorang lelaki dingin yang penuh perhitungan dan rasional. Ia hampir tidak mempercayai adanya hantu atau hal-hal magis di dunia ini.
Ia memang pernah mendengar cerita tentang adanya makhluk yang menghuni di daerah kawasan hutan utara. Tapi itu masih hanyalah omong kosong baginya. Tidak ada bukti, hanya cerita simpang siur yang sialnya bertahan sampai bertahun-tahun dan sekarang menjadi rumor yang menjengkelkan.
Sejak kecil ia diajarkan untuk menjadi pribadi yang teliti dan tidak boleh gegabah. Ayahnya selalu mengatakan bahwa kau harus melihat sekitar karena iblis bisa berwajah bagaikan malaikat. Itu artinya ia harus berhati-hati pada orang-orang disekelilingnya.
Tapi, ibunya pernah berkata kau harus melihat sekitar karena kau tidak hidup sendiri di dunia ini dan suatu saat kau akan menjadi penerus kerajaan. Perhatikanlah rakyatmu.
Sekarang dengan membawa prajurit-prajurit ke ribuan kilometer jauhnya dari kerajaan inti, membuatnya harus berpikir keras.
Jarak tempuh jika harus memutari hutan menghabiskan tiga hari dengan berkuda. Waktu yang cukup panjang untuk membiarkan situasi di Konoha semakin kacau dengan para bandit dan pemberontak didalamnya. Ini tidak mungkin dibiarkan berlama-lama. Tidak selama ia masih bernafas. Tidak selama ia masih bisa menghujam pedang. Pilihannya adalah ia harus melewati hutan utara.
Perhatikan sekitarmu Sasuke, kau tidak sendirian.
Menghela nafas.
Berdiam diri di taman kerajaan selama satu jam memang sedikit membantunya berpikir jernih. Angin semilir yang memainkan anak rambutnya bagaikan membawa ketenangan dalam jiwa.
"Kakashi."
"Ya Yang Mulia." Seorang pria bersurai perak membungkuk menanggapi sahutan tuannya yang sejak tadi berdiri di depannya.
"Apakah semuanya sudah siap?"
"90% siap Yang Mulia, tinggal menunggu perintah Anda."
Hening.
Hanya terdengar suara gemerisik dedaunan diantara mereka.
"Aku ingin melewati hutan utara Kakashi." Mendengar hal ini, Kakashi tercengang. Ia bukannya meragukan kemampuan pangeran muda di depannya.
Walaupun mahkluk itu rumor tapi tetap saja perhitungan akan lumpur hisap di dalamnya membuatnya harus berpikir dua kali. Terlalu beresiko.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan." Uchiha Sasuke hanya melirik saat tak terdengar tanggapan dari tangan kanannya.
"Maafkan hamba Yang Mulia."
"Berapa prajurit yang kita bawa?"
"Dua ratus, Yang Mulia."
"Terlalu banyak, pangkas menjadi setengahnya. Ini bukan perang besar. Aku bisa mengatasinya." Sombong, tidak ia hanya tidak ingin mengambil resiko besar dengan membawa terlalu banyak orang.
Bandit bukan masalah baginya, hanya saja para pemberontaklah yang menjadi prioritasnya. Mereka adalah segerombolan orang yang bisa membahayakan keutuhan kerajaan.
"Siapkan kudaku Kakashi, kita akan berangkat besok pagi. Tenang saja kita akan mengambil rute memutar." Sasuke tahu ia tidak boleh gegabah.
Terlalu beresiko memasuki hutan yang luas dengan banyaknya rawa-rawa. Bukan karena ia takut tapi ia juga harus memikirkan prajuritnya. Bukan karena ia perduli pada mereka. Tapi melihat medan yang ada di hutan, ia tidak mau separuh dari prajuritnya mati di tengah jalan. Tidak efisien dan sangat disayangkan. Biar saja kali ini rumor omong kosong itu mempengaruhi otaknya.
"Kakashi, apa kau tahu siapa pemberontak itu?"
"Yang saya dengar mereka menyebutnya Akatsuki, Yang Mulia."
"Hn."
Akatsuki, belum pernah sekalipun ia mendengarnya.
"Cari tahu semua informasi tentang organisasi ini. Aku ingin sore ini juga informasi itu sudah berada di mejaku."
Setelah memberi perintah kepada Kakashi, Sasuke beranjak dari taman. Berbelok ke kanan menuju kamarnya.
.
.
Tidak ia sangka tidak banyak informasi yang ia dapat dari organisasi ini. Mereka benar-benar menutup semua kemungkinan adanya kebocoran informasi dari dalam maupun dari luar.
Benar-benar rapat dan sungguh berbahaya.
Tidak diketahui kapan mereka berdiri, berapa jumlah anggota pastinya, apa tujuan mereka sebenarnya. Informasi penting yang ia dapat hanya pemimpin mereka, Pein Yahiko adalah mantan kriminal tingkat S yang artinya ia pernah menghuni penjara Rikudou.
Penjara Rikudou adalah penjara yang dibangun di atas tebing di tengah laut. Merupakan penjara dengan lapisan pengamanan bertingkat paling tinggi di negara Hi. Banyaknya lorong-lorong berliku seperti labirin bisa membuat seseorang tersesat dan jebakan-jebakan dipasang diseluruh penjuru penjara. Hanya para penjahat kriminal paling berbahaya yang menghuni penjara ini. Tidak ada yang bisa lolos. Selain tingkat keamanan yang tinggi, cuaca laut yang sering berubah ekstrim dan banyaknya hiu ditengah laut membuat penjara Rikudou menjadi penjara paling dihindari oleh para penjahat.
Walaupun hanya dengan informasi ini, ia cukup tahu untuk tidak meremehkan pemberontak yang akan ia hadapi kali ini jika tidak ingin pulang dengan kekalahan.
"Kakashi aku ingin kau menyiapkan mereka. Beritahu mereka bahwa mereka akan ikut besok pagi denganku."
Mengerti akan apa yang dimaksud tuannya, Kakashi pun undur diri. Jika tuannya sudah memintanya untuk membawa mereka.Ini artinya pemberontakan kali ini sungguh berbahaya dan tidak boleh dianggap remeh.
.
.
Angin sore hari menerpa kulitnya saat ia menatap jauh ke depan luar jendela. Uchiha Sasuke, pangeran muda Uchiha, satu-satunya putra mahkota yang tersisa karena kepergian kakak lelakinya 9 tahun yang lalu dari istana. Sampai sekarang ia tidak tahu dimana kakaknya berada.
Kepergian Itachi membuat ayahnya murka dan menumpahkan segala kewajiban putra mahkota kepada dirinya. Ia tidak protes, hanya saja ia kecewa kepada Itachi. Selain ayahnya, Itachi adalah panutan kedua olehnya.
Sekarang masa depan kerajaan ada di pundaknya. Ia tidak akan membiarkan para pemberontak itu bisa bertindak jauh lebih dari ini. Ia tidak akan membiarkan Akatsuki ataupun pemberontak lainnya mengusik kedaulatan kerajaan.
Besok pagi-pagi sekali ia akan berangkat menuju utara. Membawa sekitar 50 pasukan ditambah dengan 4 orang kepercayaannya. Semoga saja tidak ada halangan saat keberangkatan tiga hari ke depan.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, ia menoleh mendapati orang penting kedua kerajaan memasuki ruangannya. Sang Ratu Uchiha berjalan anggun, gaun biru tua yang ia kenakan bermodel kerut di kedua pundak dan berlengan hingga siku, tangannya terbungkus sarung tangan putih, rambut hitamnya digelung kebelakang, gaunnya memanjang jatuh ke belakang hingga membuatnya terseret-seret.
Ia berjalan mendekati meja, menyusuri sisi meja hitam besar itu hingga tangannya berhenti pada sebuah buku."Dulu saat kau kecil kau suka sekali bermain di danau kecil belakang istana. Aku ingat semua pelayan sudah melarangmu untuk bermain disana tapi kau dengan keras kepala tidak mengacuhkannya.
Dan saat kau tidak sengaja terpeleset dan tercebur ke danau, kerajaan menjadi kacau karena semua orang panik." Uchiha Mikoto terkikik kecil saat memorinya memutar ulang potongan-potongan kenangan sewaktu Sasuke masih kanak-kanak. Ia mendongak melihat anak bungsunya yang sekarang sudah menjadi lelaki dewasa dan menopang tanggung jawab besar kerajaan dipundaknya.
Ibunya selalu seperti ini jika ia akan pergi bertugas keluar istana apalagi untuk berperang. Sasuke tahu ibunya begitu mengkhawatirkannya, kenyataan putra pertamanya pergi meninggalkannya membuat Uchiha Mikoto begitu berat melepas kepergian sang anak. Takut jika suatu saat Sasuke tak akan kembali lagi. Dan itu akan memukul batinnya sekali lagi.
Sasuke mendekat, membelai kedua bahu ibunya dari belakang. Mata hitam yang biasanya berkilat tajam dan arogan sekarang berubah lembut hanya kepada sang Ibunda."Aku sedikit ingat saat itu. Aku takut dan aku menangis, saat itu kakak datang menenangkanku. Ia mengatakan jika anak laki-laki tidak boleh menangis seperti yang selalu ayah ajarkan."
Uchiha Mikoto tersenyum simpul mendengar koleksi kepingan kenangan Sasuke, matanya berkaca-kaca. Tidak dipungkiri ia begitu merindukan momen itu. Saat dimana keluarganya masih utuh dengan dua anak laki-laki kecil yang menggemaskan.
"Itu sudah lama sekali." Sekarang ia hanya bisa mengenang semuanya. Mikoto menghela nafas, kemudian berbalik menatap manik sehitam jelaga yang diwariskan turun temurun dari darah seorang Uchiha.
Tangan berbalut sarung tangan putih itu terangkat membelai pipi kiri sang Pangeran Muda."Dengarkan ibumu nak. Ibu akan selalu menunggumu disini, kau tahu itu. Ibu sangat menyayangimu. Berjanjilah kau akan pulang dengan selamat."
Sasuke mencium telapak tangan kanan ibunya yang menempel di pipi kirinya. Matanya terpejam sesaat, meresapi kehangatan yang menguar dari telapak tangan lembut seorang wanita yang sudah melahirkannya."Aku berjanji bu, ibu jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja." Matanya terbuka menyorot penuh keyakinan pada sepasang mata hitam di depannya. Ia kemudian merengkuh tubuh ringkih itu kedalam dekapannya.
Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengembalikan kedaulatan utuh kerajaan, mengembalikan kedamaian Konoha dan tidak akan mudah mati. Kembali merasakan kehangatan satu-satunya wanita yang ia cintai. Belum pernah sekalipun Uchiha Sasuke mencintai wanita lain selain ibunya. Dan ia tidak akan membuat cahaya di mata sang Ratu redup dengan berita kematiannya. Tidak.
.
.
Akhirnya hari keberangkatan telah tiba. Matahari pagi yang mengintip di balik pepohonan menyambut persiapan para prajurit yang akan bersiap hari ini. Terlihat banyak istri melepas kepergian para suami yang akan pergi berperang, derai tangis dan kata menenangkan mereka lontarkan agar tidak ada lagi kecemasan hati. Ini semua demi kerajaan. Semua itu tidak luput dari seorang Uchiha Sasuke.
Baju perang perak keemasan sudah terpasang ditubuh tegapnya, pedang tajam yang sudah menebas banyak lawan tersampir rapi di pinggangnya tersembunyi dibalik jubah hitam. Wajahnya tenang dan sorot matanya tajam penuh dengan tekad. Seorang pemimpin tidak boleh terlihat lemah dan ragu.
Tangan putih terjulur menepuk pundak yang sudah terlindung jubah zirah. Kepala berhelaian raven menoleh, melihat seorang pria bergigi hiu tersenyum lebar menampakan gigi-giginya dan secara tiba-tiba tangan berjari lentik milik seorang wanita berambut merah di belakangnya memukul kepala berambut putih itu dengan keras. Suara mengaduh terdengar ketelinga pria bertubuh besar berambut orange yang berada dibelakang wanita tersebut, ia mendengus melihat kelakuan dua sahabatnya.
"Aduuh."
"Sopanlah Suigetsu, sudah kubilang berapa kali kau harus menghormati Yang Mulia Pangeran. Singkirkan tanganmu itu!"
Pria bergigi hiu yang menjadi korban pemukulan tadi hanya meringis mengusap-usap kepalanya."Iya-iya aku tahu." Bibir Suigetsu mencebik, menggerutu dengan pukulan keras Uzumaki Karin.
Karin memang sering kali memperingatkan Suigetsu akan kekurang ajarannya terhadap calon raja Uchiha. Namun seperti tidak pernah jera, Suigetsu tak henti-hentinya mengulagi lagi kesalahannya dan selalu mendapat pukulan atau omelan dari Karin. Mereka tak pernah akur dan Juugo lah yang pembawaannya tenang yang selalu jadi penengah diantara mereka.
Karin berlalu dari Suigetsu, ia maju kedepan menghampiri Uchiha Sasuke. Sudut bibirnya ia tarik, wajahnya merona merah, kedua tangannya bertautan di depan dada. Dengan tingkah sedikit genit ia mencoba menarik perhatian sang Pangeran. Sudah bukan rahasia lagi jika seorang Uzumaki Karin memang tergila-gila pada Pangeran muda Uchiha.
"Umm Yang Mulia, maaf atas kelancangan si bodoh Suigetsu," Karin berujar dengan tersenyum malu-malu, Suigetsu yang mendengar di belakangnya hanya mendecih."jadi hari ini kita akan pergi ke utara. Apakah kita akan melewati hutan utara pangeran?" tanya Karin, Sasuke hanya melirik menanggapi pertanyaan Karin. Matanya kembali menyorot kedepan melihat persiapan para prajurit."Apa Kakashi belum memberitahumu?"
Karin gelagapan mendengar hal ini, kedua tangannya bertaut cemas. Walaupun hanya lirikan tapi sorot mata Sasuke selalu tajam."Kakashi-san memang sudah memberitahu kami, memang beresiko jika kita masuk kedalam hutan utara. Selain rawa hisap dan rumor adanya monster yang menghuni, kudengar juga ada seorang penyihir yang tinggal disana." Kedua alis Sasuke mengernyit mendengar rumor bodoh apalagi yang keluar dari salah satu pasukan andalannya."Penyihir?" Manik ruby Karin melebar saat mengetahui kenyataan bahwa Pangeran Sasuke tidak mengetahui hal ini."Yang Mulia tidak tahu?"
Tiba-tiba saja pertanyaan Karin terinterupsi oleh celotehan Suigetsu."Sudahlah Karin untuk apa kau membahas hal yang tidak penting, itu hanya mitos. Lagipula kita tidak akan kesana." Ucapan Suigetsu hanya mendapat delikan dari Karin.
Sasuke terdiam masih menatap lurus kedepan, pikirannya mulai mendominasi. Jika memang ada penyihir di dalam hutan apakah mungkin makhluk mitos itu adalah ciptaannya? mungkin saja, dan mungkin akan ada lebih banyak merekadi dalam hutan.
"Yang Mulia persiapan sudah selesai." Pikirannya buyar saat Kakashi datang dari arah samping dan membungkuk. Matanya menutup sejenak, menekan pikiran-pikiran anehnya beberapa saat lalu ke belakang kepala. Benar kata Suigetsu itu hanya mitos untuk apa memikirkannya. Jangan katakan ia mulai terpengaruh dengan rumor itu.
Ia menghembuskan nafas pelan, tangan kanannya meraih pelindung kepala dari besi dan mengapitnya diantara tangan kanan dengan pinggang. Sasuke menoleh menghadap Kakashi, memberikan perintah untuk segera berangkat. Kemudian Ia melangkah diikuti oleh ke empat bawahan terpercayanya dibelakangnnya.
Kuda hitam dengan pelindung kepala dari besi terlihat gagah diantara kuda-kuda yang lain. Sasuke duduk di pelanar kuda hitamnya, penutup kepalanya masih diapit diantara pinggang dan lengan yang tertutup jubah hitam. Setelah melihat sejenak keadaan pasukannya, Sasuke langsung memacu kuda hitamnya untuk berlari keluar gerbang istana utama.
Derap langkah kaki kudanya sedikit melambat saat pasukannya memasuki gerbang pasar yang ramai dengan penduduk sekitar.
"Minggir!" Salah satu pasukannya yang berjalan di depan berteriak memperingatkan saat orang-orang berkerumun melihat gerombolan pasukannya lewat. Ia tidak perduli, kudanya terus ia pacu kedepan melewati para penduduk yang terheran di tepi jalan.
Rambut dark blue-nya berkibar, saat ia melihat gerbang luar pasar ia memasang pelindung kepalanya dan mulai memacu kudanya cepat menembus angin. Memimpin para pasukannya untuk pergi berperang.
.
.
.
.
Bersambung
