Disclaimer

Naruto©Masashi Kisimoto

Witch In The North Forest©Green Maple

.

.

.

Genre : Rated M, Fantasy, Romance, Hurt/Comfort

Peringatan : Cerita, nama tokoh dan tempat dalam fiksi ini semua hanyalah karangan author belaka. Mohon para pembaca dapat menyikapinya dengan bijak.

.

.

Chapter 5

North Forest

Selamat membaca

.

.

Dia tak pernah mengira sebelumnya bahwa hidupnya akan ia habiskan di hutan seperti ini. Entah sudah berapa lama dirinya hidup disini, ia mulai berhenti menghitung sejak papan kayu fondasi rumahnya sudah penuh dengan coretan garis vertikal yang ia buat sendiri.

Yang hanya ia tahu matahari terbit di sebelah timur memberinya sedikit kehangatan diantara sela-sela daun dan suara cicitan burung yang berlomba-lomba untuk saling beradu siapakah diantara mereka yang paling berbakat dalam bersenandung. Dan sang surya yang tenggelam di sebelah barat meninggalkan malam mencekam dan udara dingin yang menusuk hingga menelusup diantara celah-celah kayu rumahnya.

Namun, yang paling menakjubkan diantaranya adalah bagaimana serangga nocturnal bercahaya mengitari rumahmu selayaknya kelip-kelip hijau yang menggodamu untuk mengumpulkannya kedalam sebuah toples kaca dan menjadikannya penerang kecil dimalammu yang gelap.

Gubuk kecil yang ia buat susah payah dari memanfaatkan akar dan pohon mati di sekitar membuatnya mempunyai tempat bernaung dari hujan dan dinginnya malam.

Terkadang beberapa hewan pengerat kecil dan binatang berbulu lain ikut berlindung dalam rumah yang ia buat. Tak jadi masalah untuknya, karena selama beberapa tahun ini ia sama sekali tak memiliki teman hidup semenjak kematian kedua orangtuanya yang di renggut paksa oleh beberapa orang yang ia sebut manusia.

Bukan berarti ia bukan manusia. Tapi ia berusaha keras menolak untuk di samakan dengan makhluk keji yang serakah dan tak memiliki belas kasihan itu. Tak di pungkiri terkadang ia membutuhkan mereka. Tidak, bukan, salah. Ia membutuhkan benda ciptaan mereka. Benar-benar menjengkelkan. Ia tidak akan sudi kembali ke peradaban mereka jika saja beberapa kebutuhan pentingnya tidak berada di kota.

Kenangan buruk yang ia alami di masa lalu sudah cukup sebagai alasan untuknya membuat tembok besar penghalang antara dirinya dengan manusia. Dan ia tidak akan pernah meruntuhkan tembok itu selamanya. Walaupun ia harus mati karena keegoisannya sendiri.

Tangannya dengan beberapa bekas luka sayatan kecil menggenggam sebuah pisau belati tengah sibuk bergerak memangkas ranting pohon untuk membuat sebuah mata panah yang runcing.

Tangannya bergerak cepat dan cekatan, ia begitu mahir melakukannya. Setelah selesai dengan ranting yang satu, ia mengambil ranting kecil yang lain hingga terkumpul beberapa ranting pohon yang bisa ia gunakan sebagai anak panah untuk hari ini.

Anak-anak panah yang sudah siap dimasukannya ke dalam sebuah kantong panjang yang terbuat dari kulit kayu pohon mati yang sudah berumur ratusan tahun. Mungkin sudah ada sekitar 12 anak panah yang ia buat. Ini sudah lebih dari cukup, ia kemudian berdiri dari duduknya berjalan menuju ke dalam rumah dan mengambil busur panahnya yang tergantung di dinding kayu bersebelahan dengan sebuah pedang.

Setelah menutup pintu rumah ia beranjak menuju sebuah aliran sungai kecil yang berada beberapa puluh meter dari rumahnya. Sungainya begitu jernih ada beberapa ikan kecil yang hidup disini. Ia kemudian berjongkok menumpukan satu lututnya di atas tanah berbatu, mengeluarkan tempat minum yang terbuat dari kulit binatang yang telah mati dan mencelupkannya kedalam aliran sungai hingga terisi penuh.

Bunyi gemericik air menetes terdengar saat ia mengangkat tempat minumnya yang sudah terisi penuh dan segera mengaitkannya di sekitar pinggang. Kepalanya mendongak, meniti keadaan sekitar hutan yang ia pijak. Hutan ini gelap seperti biasa, pohon-pohon besar yang berhimpitan tak memberikan celah untuk cahaya menerobos masuk. Tangannya mengepal erat pada busur panah yang ia genggam, dengan penuh tekad kakinya melangkah meninggalkan jejak tapak kaki di atas tanah yang basah. Terkadang tangannya bergerak menyingkirkan ranting-ranting yang menjulur menghalangi jalannya.

Mata hijaunya tidak berhenti memindai sekitar, awas jika ada pergerakan kecil dibalik semak-semak. Mungkin saja jika ia beruntung itu adalah binatang buruannya tapi tidak memungkiri bisa saja ada hewan buas yang mengintai dibalik semak. Pedang tajam selalu tersampir di ikat pinggang sebelah kiri, berjaga-jaga jika ia dalam keadaan terdesak.

Jangkauan kakinya berhenti melangkah saat netranya menangkap sekumpulan semak dengan daun berwarna hijau keunguan yang ditumbuhi beberapa beri ungu yang mengeluarkan bau harum dan manis yang begitu menggiurkan.

Achokanthera adalah tanaman semak beri yang beracun. Getahnya bisa membunuh orang dewasa dalam satu menit jika tertelan.

Dengan cekatan ia memetik beberapa lembar daun tersebut dan mengumpulkannya pada sebuah wadah kayu. Matanya liar melirik sekitar mencari sebuah batu yang bisa ia gunakan untuk menumbuk daun achokanthera agar ia bisa mengumpulkan getahnya.

Saat netranya menangkap sebuah batu panjang di atas tanah, ia segera mendekati batu tersebut dan menumpukan wadah daun achokanthera di atas permukaan batu yang lain. Dengan hati-hati ia menumbuk daun achokanthera dan mengumpulkannya menjadi satu di dalam wadah kayu saat dirasa tumbukannya sudah mengeluarkan getah yang cukup.

Ia akan menggunakan ini untuk melumpuhkan mangsa atau musuh dengan melumurinya pada ujung anak panah. Kakinya kembali melangkah menapaki tanah yang tertutup dedaunan kering meninggalkan suara gemerisik diantara suara desauan angin.

Terdapat banyak rawa dan lumpur hisap di hutan ini, ia harus selalu berhati-hati saat melangkah atau ia akan mati terhisap seperti beberapa orang yang nekat mencoba menerobos masuk melewati hutan.

Telinganya menajam saat terdengar gemerisik ranting pohon yang terinjak, ia membungkuk mencoba berkamuflase diantara semak-semak dedaunan sekitar. Tangannya yang bebas meraih anak panah di pundaknya dan memposisikannya di antara busur dan jari-jarinya. Bersiap jika memang ada bahaya yang mengancam di depannya. Ia mencoba fokus melihat diantara sela dedaunan semak yang rimbun.

Tangannya bergerak menarik busur panah saat dirasa ia melihat pergerakan asing di depan matanya, matanya memicing memposisikan anak panah lurus menuju sasaran. Dan,

Tak !

Suara kepakan burung berhamburan di angkasa terdengar mengiringi suara gemerisik daun dan ranting yang terinjak-injak. Badannya menegak, sedikit lebih rileks namun tidak mengurangi tingkat kewaspadaannya. Ia maju ke depan, penasaran dengan apa yang sudah menjadi sasaran tembaknya.

"Lancang sekali kau manusia." Tubuhnya menegang saat suara berat yang begitu mengerikan menembus indra pendengarannya, tangan kirinya secara otomatis siap siaga bergerak menumpu di atas pedang.

Kepalanya menoleh dengan penuh hati-hati, dan matanya melebar saat mendapati makhluk besar berwarna hijau dengan kedua taring yang tumbuh disudut bibirnya. Tanduknya melengkung keatas dengan ujung runcing dan ia membawa senjata pemukul bergerigi yang besar. Makhluk itu tingginya sekitar 10 kaki dan beberapa bagian tubuhnya ditumbuhi rambut-rambut yang lebat.

"Kau sudah mengusik ketenanganku." Makhluk itu bergerak, kakinya yang besar saat menapak tanah mengeluarkan suara bedebum yang sedikit keras. Matanya yang merah menyalang tajam namun itu tak membuatnya gentar. Jantungnya berdebar keras, cengkraman di pangkal pedangnya semakin erat, kakinya siaga membentuk kuda-kuda.

"Sudah berapa kali ku katakan makhluk bodoh, aku-bukan-mereka!" Dirinya mendesis tajam menanggapi perkataan makhluk di depannya yang begitu menyinggungnya.

"Berani sekali kau makhluk kerdil. Jika saja bukan karena Rokku, mungkin kau sudah berakhir di dalam perutku."

Bug, bug, bug !

Makhluk itu memukul perutnya yang besar, ia sengaja melakukannya untuk menggertak gadis kecil yang ada di depannya.

"Kalau begitu terimakasih untuk Rokku yang telah menjagaku dari makhluk jelek sepertimu." Matanya memicing. Ia bisa melihat bahwa makhluk itu menggeram dan tubuhnya bergetar-

"Graawwrrr.. !"

-dan sekali hentak senjata besarnya melayang kearahnya.

BUMMM !

Menghantam tanah yang ia pijak hingga membuat suara dentuman yang cukup keras. Ia masih sempat melompat ke kanan menghindari hantaman senjata mematikan itu. Berbahaya sekali jika benda itu mengenainya, bisa-bisa ia hancur terbelah jadi dua. Dengan cepat ia mengeluarkan anak panahnya dan melesatkannya tepat ke makhluk besar itu, namun anak panahnya meleset dan hanya mengenai bahu.

Makhluk itu menggeram dengan mata menyalang dan tiba-tiba pemukulnya di tarik ke kanan menghempas ke arah dimana ia berpijak. Reflek ia menunduk, pukulan makhluk itu menghantam pohon-pohon disampingnya dan membuat pohonnya rubuh seketika. Disaat dirinya dalam posisi merunduk ia dengan cepat menjegal kaki makhluk besar itu.

Tubuhnya yang besar sedikit limbung tapi itu tidak cukup untuk membuatnya jatuh. Makhluk itu kembali mengangkat pemukulnya ke atas tinggi-tinggi dan dengan kekuatan penuh ia layangkan senjata besar itu ke bawah tepat dimana makhluk kecil incarannya berada.

Matanya membelalak ngeri melihat senjata besar bergerigi itu meluncur cepat kearahnya, refleks ia mengeluarkan pedang yang tersampir di pinggang kirinya dan menangkis pemukul itu.

Tang !

"Ugh!"

Dengan susah payah ia menahan pemukul itu yang akan mengenai kepalanya. Deru nafasnya memburu, ia melenguh menahan tekanan berat dari makhluk di atasnya.

Makhluk besar itu semakin bringas saat melihat lawannya terdesak. Namun tak disangka gadis itu berkelit dan menendang tangannya. Makhluk kerdil ini benar-benar lincah. Tangannya yang menggenggam pemukul sedikit goyah dan itu dimanfaatkan dengan baik oleh gadis kecil di bawahnya. Gadis kecil itu berdiri cepat kearah belakang dan menebas betis lawannya.

Sratt !

"Argghh..!" Makhluk itu merintih keras, ia menoleh cepat kearah manusia itu dengan mata merah yang diselimuti amarah.

"Hentikan !"

Tiba-tiba terdengar suara besar yang menginterupsi perselisihan mereka, keduanya menoleh cepat ke sumber suara. Terlihat makhluk besar lain yang sama dengan lawannya berjalan kearah mereka, hanya saja ia memiliki seekor serigala berbulu abu-abu yang mengikutinya. Serigala itu menggeram dengan menampakan deretan gigi-gigi taringnya yang tajam.

"Sudah berapa kali ku katakan Refarraj, kau tidak pernah mendengarkanku!"

Makhluk besar yang disebut Refarraj mendesis tidak suka, ia muak dengan sifat ketuanya yang selalu melindungi makhluk kerdil ini. Seharusnya dari dulu ia sudah memusnahkannya. Refarraj memang tidak meyukai manusia, hanya saja ketuanya ini selalu melindungi makhluk keparat ini.

"Kau dengar itu Refarraj? Enyahlah dari sini!" Gadis kecil itu mendecih, melayangkan tatapan remeh ke arah Refarraj. Refarraj menggeram, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa jika ketuanya sudah berkehendak.

"Jaga bicaramu! Sadarilah posisimu. Aku tidak mengajarimu untuk merendahkan orang lain." Gadis itu mendecih lagi mendengar peringatan yang keluar dari mulut Rokku."Perlu kau ingat Rokku, kau tidak pernah mengajariku sopan santun. Dan sejak kapan bangsa Betroff tahu akan tata krama?" Ia menoleh kearah Rokku sang ketua dengan menaikan sebelah alisnya. Hal itu justru memancing amarah Refarraj.

Betroff adalah salah satu makhluk yang hidupnya nomaden atau berpindah-pindah. Jumlah mereka tidak terlalu banyak karena itu mereka selalu merasa terancam akan keberadaan manusia. Tubuh mereka tinggi dan besar. Dulu mereka gemar berburu dan memakan daging hewan, namun sekarang itu menjadi sebuah larangan semenjak mereka takluk akan sesosok peri cantik yang dulunya penguasa hutan ini.

Cara hidup mereka akhirnya berubah. Mereka tidak berpindah-pindah lagi, mereka memutuskan untuk menetap di hutan Utara, mengabdikan diri kepada sang penguasa hutan. Mereka memakan buah, daun dan terkadang menangkap ikan. Namun rasa haus akan daging mereka tidak terkendali saat melihat manusia yang masuk ke dalam kawasan hutan. Dari sinilah beredar rumor diantara para manusia akan sosok makhluk TheGuardian.

Rokku menghela nafas, ia sedikit menekan emosinya menghadapi makhluk kecil ini.

"Biarkan aku memakannya Rokku." Refarraj bergerak maju kedepan dengan gigi bergemelutuk. Melihat hal ini dengan sigap Rokku menghadangnya dengan merentangkan tangan, menekan dada Refarraj ke belakang. Ia tidak menginginkan satu-satunya keturunan penguasa mati ditangan bangsanya sendiri. Meskipun itu masih diragukan.

"Pergi Refarraj!" Tangan Rokku menepuk dada Refarraj yang masih geram menahan amarah. Rokku menoleh ke belakang saat tidak ada tanggapan dari salah satu bawahannya,"pergilah temui Foster, ia sedang berada di Seroun. Bantu dia menyiapkan segalanya."

Refarraj mendengus sebelum akhirnya pergi meninggalkan ketua sukunya dengan masih tersulut emosi.

Rokku mengedarkan pandangannya, ia menghela nafas setelah melihat kekacauan yang di akibatkan oleh anak buahnya dan anak didiknya. Mata merahnya menoleh kearah si gadis kecil.

"Katakan padaku jika kau sedang tidak mencoba melakukan hal terlarang!" Gadis itu mendengus menanggapi perkataan Rokku. Ia menendang kerikil kecil di depan telapak kakinya.

"Aku hanya ingin melatih kemampuan panah dan pedangku. Kau bisa melihat sendiri semua ini bukan ulahku tapi makhluk bodoh hijau itu yang melakukannya."

"Cukup!" Rokku menggeram marah, ia menghentak ujung pemukulnya ke atas tanah hingga menimbulkan bedebum yang cukup keras. Serigala pengawalnya mencicit takut di belakangnya. Ekor dan telinganya tertekuk ke belakang.

Gadis itu berjenggit kaget melihat kemarahan Rokku, ia merunduk dengan muka cemberut. Rokku menghela nafas mencoba meredam emosinya. Matanya melunak melihat anak didiknya merunduk takut. Walaupun ia sudah dewasa tapi sifatnya terkadang masih kekanakan.

"Kau sudah tahu bukan bagaimana hukum rimba hutan ini?" Gadis itu hanya mengangguk menanggapi pertanyaan ketua suku,"jadi seharusnya kau tidak melanggarnya. Sebentar lagi akan ada perayaan Silferdur, kuharap kau tidak melakukan kekacauan lagi. Kau mengerti?"

Gadis itu mendongak, mata hijaunya yang besar terselimuti titik-titik air. Ia sedang melancarkan wajah memelas bagai anak anjing."Ya aku mengerti." Gadis itu mengangguk, membuat batin Rokku merasa lega-

"Tapi aku ingin meminjam Wolfe."

-untuk sementara. Haah, selalu saja begini. Matanya yang merah melirik binatang pengikut setianya. Ia nampak berpikir. Jika ia tidak memberikan serigala ini kepadanya, kemungkinan ia pasti akan melakukan kekacauan lagi. Tapi jika ia memberikan Wolfe, itu sama saja. Tidak ada bedanya. Gadis ini pasti tetap tidak bisa diam. Ia tidak bisa mengawasinya beberapa hari ini karena ia sendiri sibuk mengawasi persiapan silferdur. Mungkin beberapa syarat sedikit bisa membantunya.

"Baik," Gadis itu sontak berbinar cerah mendengar persetujuan Rokku,"dengan beberapa syarat. Kau tidak boleh keluar dari hutan dan bertemu manusia saat bersama Wolfe, dan kau jangan pernah coba-coba mendekati Seroun. Aku tidak ingin mendengar berita kalau kau melanggar hukum rimba di hutan ini sekali lagi. Kau mengerti Lvrea? "

Gadis yang dipanggil Lvrea itu meringis lalu mengangguk senang mendengar persyaratan Rokku."Tidak masalah, aku tidak akan mendekati manusia dan Seroun. Aku hanya akan berjalan-jalan di hutan ini. Ayo Wolfe!"

Lvrea bersiul memanggil serigala besar abu-abu pengikut Rokku. Wolfe yang mendengar isyarat nona di depannya berjalan mendekat. Lvrea kemudian meloncat dan langsung menaiki punggung Wolfe yang dipenuhi bulu-bulu abu keperakan. Ia berteriak dan menepuk badan Wolfe, seketika Wolfe berlari kencang ke depan.

"Wohooo!"

Ia bersorak girang saat serigala raksasa berbulu abu-abunya berlari menembus angin dengan sangat kencang. Sesekali Wolfe melompat menghindari sebatang pohon dan itu membuatnya terangkat lalu turun drastis ke bawah.

Adrenalinnya berpacu cepat, jantungnya berdebar. Ia selalu menyukai sensasi ini. Matanya melebar, sudut bibirnya tertarik ke atas, rambut merah jambunya yang panjang berkibar melawan angin. Pohon-pohon di kanan kirinya bagaikan sekelebat garis-garis panjang yang meninggalkan warna hijau dan hitam.

"Aku akan membawakan kucing hutan kepadamu Rokku! Kau dengar itu?!" Ia berteriak lantang saat dirinya sudah menjauh dari posisi semula. Rokku yang mendengarnya hanya mendengus. Ia kemudian mengangkat senjatanya ke pundak dan berlalu pergi dari sana.

Gadis itu adalah anak didiknya sejak ia menemukannya 17 tahun yang lalu di hutan ini, tubuhnya saat itu menyedihkan. Gaun putihnya sudah terkoyak-koyak dan penuh dengan lumpur, terdapat banyak luka yang memenuhi sekujur tubuhnya dan dibeberapa bagian tubuhnya menempel serangga dan hewan penghisap darah. Saat itu kaumnya begitu beringas dan liar ingin sekali memakan gadis kecil itu. Hasrat kaum ras Betroff keluar tak tertahankan membuat mereka meraung-raung.

Namun, ada sesuatu yang membuatnya membeku saat itu juga.

Saat dimana gadis itu meringkuk, menangis sesenggukan dan tubuhnya bergetar ketakutan, ia menyeka wajahnya yang tertutup rambut dan lumpur. Dan saat itulah ia melihat tanda di dahinya, tanda berbentuk diamond berwarna ungu. Tanda yang menunjukkan satu-satunya keturunan Nimfa.

Sang penjaga hutan yang telah lama hilang.

.

.

.

.
Bersambung

A/N :

Saya sengaja ngremake ulang cerita saya yang Pangeran dan Penyihir Kecil. Ceritanya masih amburadul dan saya sendiri bacanya jadi malas karena berantakan (-_-')

Dengan judul baru yang lebih enak di baca, mungkin kali ya? hehe. Nimfa disini memang merujuk pada mitologi Yunani tapi saya tidak menggambarkan akan seperti Nimfa yang asli. Saya hanya meminjam namanya saja. Saya bingung mikirin nama tokoh fiksi, mungkin ke depan akan muncul beberapa nama tokoh fiksi baru, bisakah kalian membantu saya? hehe

Sekianlah, terimakasih.