HIDDEN LOVE

Cast : KaiSoo, KaiBaek, ChanSoo

Other Cast : EXO Member

Genre : Angst, Romance

Rate : M

Warning : Typo(s), Yaoi, gaje, plot pasaran, no plagiat, don't bash me. Banyak Adegan untuk usia 18+ tidak suka silahkan OUT dari sini!

Disclamer : EXO itu milik Tuhan YME, SM. Ent, dan orang tua masing-masing. Saya cuma minjem nama doang buat kelanjutan cerita saya.

Summary : Kai cinta Baekhyun dan Kyungsoo. Kyungsoo cinta Kai dan Chanyeol. Cinta segi 4? Tidak, mereka hanya terjebak didalam dunia berbentuk kubus.

.

.

.

Aku sudah mati rasa. Mati untuk sekedar merasakan cinta dari orang-orang. Entahlah, ini terjadi begitu saja. Aku merasa takut. Takut jika mereka mempermainkanku. Cukup satu luka disini, didadaku. Hingga saat itu, saat dimana aku menatap matanya. Mata tajam seseorang yang tidak aku kenal. Merengkuh hatiku yang terkurung sangkar ketakutan. Merengkuhnya dengan tatapannya. Tanpa kusadari dadaku berdesir. Mengingatkanku kembali pada sesosok yang pernah hilang dari hidupku.

.

.

.

Kim Jong Soo 1214

.

.

.

Present

.

.

.

Kyungsoo POV

Saat itu, saat aku menatap mata seseorang, hatiku tergoyah. Entahlah, aku tidak tahu apa yang menjadikanku seperti ini. Sore itu adalah hari yang begitu menghujam dadaku. Aku melihatnya, seseorang yang tidak aku kenal sedang berada ditoko bungaku. Dia dengan wajah tampannya tengah sibuk memilih beberapa bunga. Aku mencoba mendekatinya, menanyakan bunga apa yang diinginkannya. Dia menunjuk mawar. Aku sempat tersentak saat itu. Mawar merah dan putih favoritku dimintanya untuk dirangkaikan menjadi sebucket yang cantik. Aku tersenyum tanpa sadar. Entahlah, aku hanya ingin melengkungkan bibirku saja.

Aku tahu dia memperhatikanku. Bagaimana mata tegasnya menelusuri tubuhku, melihat ketelatenan tanganku. Aku kembali berdesir. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Sekuat tenaga aku mencoba menyembunyikan kegugupanku.

Aku menyerahkan padanya. Sebucket bunga mawar cantik dengan pita merah jambu sebagai pengikatnya. Aku tersenyum lebar padanya, menampilkan wajah ceriaku yang sebenarnya jarang kutunjukkan pada orang-orang. Aku merasakan pipiku memanas saat dia menatapku tanpa berkedip. Aku suka saat melihatnya seperti itu, saat dia terpesona dengan senyumku. Yah, aku suka.

Dia menerima bucket bunga tanpa mengalihkan pandangannya padaku. Entahlah, aku merasa ada yang aneh didadaku. Perasaan yang meluap begitu saja padanya. Pada seseorang yang bahkan tidak aku kenal. Aku tetap tersenyum saat dengan gugupnya dia berbicara padaku. Suaranya yang berat dan tegas begitu menggelitik hatiku. Aku ingin tertawa, melihatnya tergagap hanya karena senyumku. Ahh,aku sudah gila.

Pagi itu aku berada dikampus. Aku tahu ini sudah sangat siang dan aku terlambat. Dan benar saja, dengan bodohnya kudorong pintu kelasku dengan kasar hingga tubuh mungilku terjerembab kelantai. Sangat malu saat melihat seisi kelas tertahan menertawakanku. Ah..masa bodoh, yang terpenting aku sudah berada dikelasku.

Aku sedikit tersentak saat ekor mataku melihatnya, sesosok aneh yang sedang menatapku dari bangkunya. Dia sama sekali tidak berkedip. Entahlah apa yang sedang Ia pikirkan tentangku. Tentang kebodohanku atau kecerobohanku, aku tidak peduli.

Aku berjalan kearahnya setelah mendapat ijin dari Lee seonsaenim. Kenapa? Karena hanya disebelahnya satu-satunya bangku yang tersisa.

Aku mendudukkan tubuhnya pada kursi, meletakkan tasku diatas bangku. Aku menghela napasku, mulai mengatur agar bisa berhembus normal. Aku lelah, setelah berlarian dari halte hingga kegedung kelasku dilantai 3. Rasanya napasku terputus-putus, aku lelah dan haus.

Dia, sesosok dengan mata tajam dan senyum tipisnya menyodorkan sebotol air mineral padaku. Aku sempat bingung, apakah dia sedang berbaik hati padaku? Dan benar saja, dia menyuruhku mengambil air minumnya. Dadaku kembali berdesir. Aku ingat dia, namja tampan si bunga mawar. Hanya saja aku berpura-pura tidak mengingatnya. Untuk apa? Entahlah, hatiku yang mengatakan seperti itu.

Aku tersenyum mengingat kejadian tadi. Perkenalan singkat dengan kondisi yang sangat tidak romantis. Berada dikelas dengan suasana tegang dengan matanya yang tak henti menatapku.

Aku kembali tersenyum, merebahkan tubuh mungilku dikasur empuk favoritku.

"Dia. Kenapa aku selalu memikirkannya?" aku bergumam sendiri. Mataku menerawang jauh, saat dia menyebutkan namanya.

"Kim Jongin. Haha...nama yang lucu" aku terkikik saat menyebutkan namanya. Rasanya desiran itu tak mau menjauh dari dadaku. Aku menyukai desiran ini, tapi aku juga ragu.

Aku kembali menegakkan tubuhku, mendudukkan pantatku ditepi ranjang. Kuangkat tanganku mengarah kemeja nakas disebelah ranjangku. Kubuka laci paling atas, mencari sesuatu yang ku yakini masih tersimpan rapi disana.

Dan benar saja, aku menemukannya. Sebuah pigura foto yang sudah sangat lama tidak kulihat. Mataku memanas, mengingat kejadian waktu itu. Rasanya sangat menyakitkan. Menusuk dadaku hingga terasa sesak.

"Kyungie~"

Sebuah suara yang aku kenal memanggil namaku. Cepat-cepat aku mengusap mataku yang sembab. Mengembalikan pigura itu kedalam laci nakas.

"Kyungie, kau didalam?" seseorang menyembul dari balik pintu kamarku.

"Ahjumma, sejak kapan kau datang?" aku berjalan mendekati seseorang yang sangat aku cintai. Ia ahjuma kesayanganku. Aku bahkan sudah menganggapnya Eomma-ku sendiri.

Sejak kedua orang tuaku meninggal, Ahjumma lah yang merawatku. Dia tidak memiliki Putra, itu sebabnya dia menjagaku seperti Putra kandungnya sendiri.

"Aigoo~ kau masih belum mengganti password apartemenmu, Kyungie? Kenapa kau tidak mau mendengar ucapan Ahjumma, eoh?" wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang telah kepala 4 ini menjitak kecil kepalaku. Aku meringis sambil memeluk tubuh kurusnya.

"Aku malas, Ahjumma. Lagi pula itu password yang mudah diingat" Aku bergelayut manja dipelukannya.

"Tentu saja mudah diingat, 123321 password macam apa itu?" Ahjumma kembali menjitak kecil kepalaku.

"Aku hanya malas menekan tombol dibawahnya Ahjumma. Menekan tombol yang berada paling atas akan memudahkanku" aku mempoutkan bibirku.

"Hah, baiklah, terserah kau saja" Ahjumma membalas pelukanku. Ia membelai rambutku dengan sayang. Aku menyukainya.

"Ah, aku hampir lupa. Aku kesini untuk memberitahukanmu sesuatu, Kyungie" Ahjumma melepas pelukannya dan menatapku dalam. Membuat dahiku berkerut.

"Apa yang akan Ahjumma sampaikan? Apa itu penting?"

"Umh, ini tentang kepindahanku. Mungkin beberapa bulan aku tidak akan bisa menjengukmu disini. Aku harus mengurusi kepindahanku" Ahjumma berkata dengan serius.

Yah, Ahjumma ku ini adalah seorang penggila travelling. Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk menjelajahi tempat yang belum pernah Ia kunjungi. Dan itu membuatku sedikit khawatir. Aku tahu jika kegiatannya ini adalah sebagai bentuk pengalihan perhatiannya untuk tidak terlalu terobsesi memiliki seorang Putra. Apalagi semenjak suaminya meninggal lima tahun yang lalu. Hanya saja pilihannya yang sedikit ektream ini membuatku sedikit tidak suka. Ahjumma sering berpindah rumah. Sebenarnya Ia mulai sering berpindah-pindah sejak aku berada disekolah menengah atas. Aku memutuskan untuk tinggal diapartemen dengan alasan agar aku bisa lebih mandiri. Dan ternyata hal itu membuat hobby gila Ahjumma ku ini semakin parah saja.

"Kau akan pindah kemana kali ini?" aku menatap datar padanya

"Aku akan ke Cina, ada banyak temanku yang sedang travelling disana" Ahjumma mengatakannya dengan raut muka ceria.

"Lalu bagaimana denganku?" aku mempoutkan bibirku manja.

"Kau kan sudah besar, bukankah kau sendiri yang bilang? Jadi aku tidak akan terlalu khawatir jika harus meninggalkanmu sendiri dengan waktu yang cukup lama" Ahjumma mencubit pipiku gemas.

"Haah, baiklah" aku mendesah kecewa sambil melepaskan pelukanku.

"Ah, aku harus pergi, Kyungie. Teman Ahjumma sedang menunggu dibawah. Kau baik-baik, ne? Jaga dirimu. Jangan lupa makan teratur" Ahjumma mencium pipiku sebentar dan mulai melangkah pergi.

"Hanya begitu saja? Siapa dia? Teman laki-laki?" aku bertanya seduktif membuat Ahjumma menoleh kembali padaku

"Haha...Kau akan tahu nanti. Dadah, sayang. Ahjumma mencintaimu" dan wanita cantik itu menghilang dari balik pintu.

"Aiish, dasar Ahjumma genit"

Pip Pip

Ponselku yang tergeletak diatas meja nakas berbunyi. Aku melangkah untuk mengambil ponsel itu. Menekan beberapa tombol dan kemudian memeriksanya. Satu pesan dengan nomor tidak dikenal.

From: xxxxxxxxx

Hai

Aku mengerutkan kening. Ini aneh. Sebelumnya aku tidak pernah memiliki seorang teman. Setidaknya untuk beberapa tahun belakangan ini. Lalu siapa yang mengirim pesan basa-basi seperti ini?

Aku mengedikkan bahu. Mungkin memang hanya orang iseng. Lebih baik aku tidur, dari pada aku bangun kesiangan dan Lee seonsaenim memberi hukuman padaku.

Kyungsoo POV END

.

.

.

Namja bertubuh mungil itu masih sibuk dengan berbagai macam sayur didepannya. Mengiris dan memotong beberapa untuk dijadikan sebuah sub untuk sarapan. Tangan yang lentik dan telaten mencampurkan berbagai macam bumbu untuk menambah nikmat masakan yang Ia buat.

"Selamat pagi, sayang" sebuah tangan kokoh melingkar diperut ratanya. Suara berat namun seksi terasa dekat, membuat napas hangat dan menggoda menyentuh telinganya. Tubuh namja manis itu menegang sesaat.

"Selamat pagi juga Kai-ya" Baekhyun-si namja manis membalas sapaan hangat namjachingunya.

"Kau membuat sub?" Kai mendekatkan bibirnya pada leher Baekhyun, menghirup aroma lembut yang menguar dari tubuhnya.

"Umh, aku membuat sub kentang kesukaanmu" Baekhyun masih mengaduk sub nya dengan senyum cerah

"Tapi aku lebih menyukaimu,Babe" Kai menggoda dengan meniup pelan tengkuk leher Baekhyun membuat namja manis itu menggeliat kegelian.

"Kai..ahh... geli~" Baekhyun sedikit mendesah membuat Kai bersemangat menggodanya.

"Kenapa kau sangat menggodaku hari ini, emm?" Kai berseringai setelah menggoda ceruk leher Baekhyun

"Kau yang menggodaku" Baekhyun masih mengaduk sub nya dengan senyum memancar diwajah cantiknya.

"Benarkah?" Kai semakin mendekatkan wajahnya pada Baekhyun. Ia membalikkan tubuh Baekhyun membuat namja manis itu membulatkan matanya.

"Kai-ya, masakanku bisa gosong" Baekhyun berucap dengan napas yang sedikit tercekat. Pasalnya Kai berada sangat dekat dengan wajahnya, dan seringaian menggoda tercipta dari bibir seksinya.

Ceklek

"Tidak untuk sekarang" tangan kokoh Kai terangkat mematikan kompor membuat Baekhyun mendengus.

"Kai-ya~" Baekhyun menatap mata Kai dengan malas. Ia hafal, jika Kai sudah seperti ini, itu artinya...

"Aku mau morning kiss-ku, Babe" ucap namja tan itu dengan manjanya.

"Ini masih pagi, Kai-ya" Baekhyun mengelus pelan pipi Jongin

"Tentu saja morning kiss dilakukan pagi" Kai merengut

"Khekhe...bibirmu ini selalu saja" Baekhyun menyentil pelan bibir seksi Kai. Tentu saja itu dianggap sebuah pancingan oleh namja tan itu.

Ia mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Baekhyun, menepis jarak antara mereka. Kai mengecup pelan bibir tipis menggoda itu. Menyapukan lidahnya pada seluruh bibir Baekhyun membuat namja yang lebih pendek dari Kai memejamkan matanya. Kai mulai melumat lembut bibir tipis Baekhyun. Menyesapnya penuh perasaan. Tangan kokohnya mengeratkan pinggang ramping Baekhyun untuk lebih mendekat padanya. Sedangkan tangan lentik Baekhyun melingkar pada leher Kai.

"Ugghh" Baekhyun melenguh diantara ciuman basah itu. Membuat bibirnya sedikit terbuka dan menjadi akses Kai untuk menjelajahi goa hangat milik Baekhyun. Ia menyapukan lidahnya dengan lincah didalam sana, menghisap pelan penuh perasaan. Mengajak lidah mungil Baekhyun menari dan melilitnya penuh gairah.

"Ummghhh..." lagi, Baekhyun mengeluarkan lenguhannya, membuat libido Kai mulai naik.

Kai menarik tubuh mungil Baekhyun mendekati meja makan tanpa melepas tautan panas bibir mereka. Sedikit mengangkat tubuh mungil itu untuk membantu Baekhyun duduk diatas meja. Kai masih melumat,dan menghisap manis bibir tipis itu saat tangan kokohnya mengunci pergerakan Baekhyun. Menumpukan pusat rasa nikmat pada sentuhan lidah hangatnya pada mulut kekasihnya itu.

Kai memulai aksi nakalnya. Tangan kanan yang sedari tadi memegang pinggang ramping Baekhyun mulai menari didaerah tengkuk namja mungil itu untuk lebih memperdalam ciumannya. Baekhyun mengeratkan tangannya pada leher Kai. Menjadikan tubuh mereka tanpa jarak sedikitpun.

Kai mulai menelusupkan tangan kirinya kedalam kaos tipis milik Baekhyun, meraba perut rata dan mulus itu. Mulai naik keatas untuk mencari sebuah tonjolan menggoda yang menjadi favoritnya.

Kai mengalihkan bibirnya menuju leher putih Baekhyun, menggoda dengan menjilat dan menggigitnya pelan.

Namja tan itu menenggelamkan kepalanya lebih dalam pada ceruk leher Baekhyun dengan tangan kiri masih memelintir nipple mungil didalam sana. Baekhyun mendesah, menikmati setiap sentuhan hangat dari namja tan ini. Ia mulai terpancing untuk meminta lebih dari namjachingu seksinya ini.

Kai sudah tidak tahan lagi, hasrat dan gairah sex nya mulai memuncak. Ia melepaskan kaos tipis yang dikenakan oleh Baekhyun dengan kasar dan membuangnya ke sembarang arah. Membuat tubuh mulus Baekhyun terekspose. Kai menatapnya sebentar, menikmati bagaimana indah dan moleknya tubuh kekasihnya ini. Ia berseringai ketika melihat pipi Baekhyun merona. Tanpa menunggu lagi Ia segera menelusupkan kepalanya kearah dua tonjolan pink kecoklatan yang sudah mengeras itu. Ia menghisap dan mengulum kedua nipple menggoda Baekhyun penuh gairah.

"Aahhh Kaihh.." Baekhyun merasakan sensasi yang membuatnya melayang. Sengatan listrik kecil seolah menggelitik perutnya.

Cup cup cup

Suara kecupan dan kecipak lidah terdengar dari bibir Kai.

Kai terus menghisap nipple kanan Baekhyun dan sesekali menggigitnya pelan. Tangan kanan Kai tidak tinggal diam Kai memainkan nipple Baekhyun dengan jari-jari nakalnya.

"Sshhh.. Ahh.. Kaihh" Terdengar lagi desahan sexy Baekhyun. Ia sepertinya sudah benar-benar terpancing dengan kegiatan nakal namjachingunya ini.

"Waeyo chagi?" tanya Kai dengan senyum menggodanya.

"Bolehkan aku melakukannya padamu?" ujar Baekhyun dengan malu-malu. Pipinya semakin merona karena tatapan Kai.

Mengerti maksud namja manis itu, Kai segera memposisikan dirinya untuk duduk dikursi makan.

"Lakukanlah, changi" Kai tersenyum menggoda

Dengan malu-malu Baekhyun mulai turun dari atas meja dan memposisikan dirinya untuk berjongkok didepan Kai. Tangan lentiknya mulai memainkan tonjolan yang sudah menegang didalam sana. Sedikit basah karena cairan precum sudah mulai merembes dari celana Kai. Kai membantu Baekhyun untuk mengeluarkan benda kebanggaannya itu. Baekhyun menatap takjub dengan benda panjang didepannya ini. Ia mengalihkan pandangannya pada Kai dan tersenyum singkat.

"Kai-ya" Baekhyun memanggil Kai dengan lembut.

"Hmm.." sahut Kai dengan mata yang tidak pernah lepas dari wajah cantik Baekhyun.

"Bolehkah akuh memainkannya?" ucap Baekhyun sedikit mendesah

"Tentu saja" ujar Kai antusias, seringaian kecil terbentuk dari bibir sexynya.

Mendengar itu, Baekhyun langsung mengangkat jemari lentiknya untuk memainkan junior Kai dengan sangat lembut. Mengurut dan memijatnya pelan, membuat Kai memejamkan matanya keenakan.

"Nnghh ahh.. " desahan nikmat keluar dari mulut Kai. Baekhyun melirikkan matanya menatap wajah tampan itu. Ahh...Kai sangat sexy jika sedang seperti ini pikirnya.

Baekhyun mulai nakal, Ia memasukkan junior Kai kedalam mulutnya. Tidak bisa masuk sepenuhnya memang, mengingat junior Kai berukuran luar biasa panjang dan besar. Tak habis akal, Baekhyun memegang dan mengurut peln junior yang tersisa, membuat Kai semakin menegang keenakkan.

Kai merasakan sensasi yang membuat sekujur tubuhnya merinding. Ia begitu menikmati setiap sentuhan lembut dari tangan dan mulut hangat yang sudah menjadi candunya selama 2 tahun ini.

Kai masih memejamkan matanya erat sebelum sekelebat bayangan tiba-tiba mengganggu sensasi nikmatnya.

Deg

Deg

Jantung Kai berdetak kencang. Bayangan itu, bayangan yang menampilkan sesosok namja bertubuh mungil dengan mata bulat. Kai menegang. Tidak ada lagi desahan dan erangan nikmat dri bibirnya. Seperti mesin otomatis, Kai berdiri dengan cepat membuat juniornya terlepas paksa dari mulut Baekhyun. tangan kokohnya segera memasukkan juniornya kembali kedalam celana.

Baekhyun menatap Kai dengan tatapan bingung. Baru kali ini Kai bersikap aneh seperti ini.

Kai mengatur napasnya yang terengah-engah. Pandangannya kosong saat menatap bibir tipis yang telah memberinya sentuhan-sentuhan kenikmatan beberapa detik yang lalu.

"Kai-ya, ada apa?" Baekhyun mulai khawatir saat tiba-tiba Kai berkeringat dingin.

"Ti-tidak apa-apa, changi. Umh, aku harus mandi" Kai tergagap. Pikirannya kacau. Entahlah, karena sekelebat bayangan itu yang membuatnya tiba-tiba seperti ini.

Ia pacu langkahnya menuju kamarnya. Meninggalkan Baekhyun dengan kerutan bingung dikeningnya.

"Ada apa dengan Kai? Tidak biasanya dia meninggalkanku begitu saja" Baekhyun mengerucutkan bibirnya kecewa. Ia mengambil kaos yang tergeletak diatas meja dan mulai mengenakannya.

"Ahh aku hampir lupa. Masakanku!" seperti sihir, namja manis itu segera melenggang kedapur untuk meneruskan masakannya yang tertunda. Seolah melupakan sikap aneh Kai barusan.

Kai menutup pintu kamarnya dengan cepat. Matanya masih kosong dengan pikiran melayang pada sesosok bermata bulat yang mampu mengalihkan perhatiannya dari Baekhyun.

"Kyungsoo" Kai berucap lirih sambil memegangi dadanya yang berdesir. Entah apa yang sedang Ia rasakan. Sosok mungil Kyungsoo seperti memiliki sebuah magnet tersendiri. Bahkan pikirannya yang sedang bersama Baekhyun pun bisa segera teralih padanya.

Kai masih terdiam dengan segala pikirannya, hingga satu lengkungan tercipta dari wajah tampannya.

"Kyungsoo, kau membuatku penasaran" lirihnya

.

.

.

Bisakah ini disebut dengan Keajaiban?

Aku mencintainya tanpa memikirkan siapa diriku sebenarnya

Rasa itu tiba-tiba hadir saat dirinya memberikan satu tatapan hangatnya

Bahkan dia berhasil mengalihkan perhatianku

Bukankah itu ajaib?

Aku yang selama ini terjebak dengan rasa yang hampa

Mulai tertarik pada seribu pelangi yang tercipta dimatanya...

Salahkah aku?

.

.

.

Kampus masih sepi saat kaki mungil itu memasuki ruang kelas. Tentu saja, ini masih sangat pagi. Jadwal kuliah Kyungsoo berlangsung sekitar satu jam lagi. Tapi Ia memutuskan untuk datang lebih awal. Ia masih terngiang dengan perkataan Lee seonsaenim kemarin. Bisa gawat jika sampai Ia te rlambat lagi dan tidak diperbolehkan mengikuti mata kuliahnya selama satu semester kedepan.

Ia mendudukkan pantatnya diatas bangku. Yah, bangku yang sejajar dengan Kai, sosok yang diam-diam membuat hatinya gelisah sepanjang malam.

Namja manis itu tersenyum singkat, mengingat lagi sosok bertubuh tegap dengan senyum tampan diwajahnya. Ahh...Kyungsoo benar-benar terpesona dengannya. Tapi, apakah yang Ia rasakan ini normal? Bahkan Ia sudah sangat lama tidak bersosialisasi atau sekedar bercengkrama dengan orang-orang. Kai adalah orang pertama yang membuatnya melepaskan senyum indahnya selama beberapa tahun belakangan ini.

Puk

Tepukan lembut pada bahunya seketika menyadarkan lamunannya tentang Kai. Ia mendongak untuk melihat siapa yang berani menyapanya dikampus ini. Matanya terbelalak saat melihat sosok yang sedari tadi Ia pikirkan. Dadanya tiba-tiba berdesir hebat.

"Bisakah kau geser kesebelah sana? Aku sedikit tidak nyaman jika duduk didekat jendela" suara berat Kai menginterupsi pendengaran Kyungsoo.

"Ahh...baiklah" sedikit gugup Kyungsoo menggeser duduknya, membuat Kai tersenyum saat melihat pipi gembil Kyungsoo yang memerah.

"Kenapa datang sepagi ini?" tanya Kai setelah mendudukkan dirinya disebelah Kyungsoo. Tiba-tiba jantungnya berdesir. Merasakan kenyamanan dan kehangatan saat Ia berdekatan dengan namja manis ini.

"Aku hanya tidak mau terlambat" ucapnya lirih

"Kau takut pada ancaman Lee seonsaenim?" tanya Kai sambil menahan tawanya. Kyungsoo mengangguk.

Bagaimanapun juga Kyungsoo itu terkenal pendiam dikelas. Bahkan semua dosennya-pun mengakui jika kediaman Kyungsoo sangat pas dengan sifat cueknya. Maka dari itu Ia memilih untuk tidak membuat masalah dengan siapapun selama dikampus.

Karena sifat pendiamnya itulah Kyungsoo jadi tidak memiliki teman sebangku sebelum Kai. Entahlah, Kyungsoo sendiri juga tidak tahu. Sebenarnya Ia merasa jika dirinya tidak benar-benar pendiam. Hanya saja tidak ada satu temannya yang mau mendekat dan berbicara padanya. Mereka bilang Kyungsoo menyeramkan. Mata besarnya itu seperti menginterogasi dan mengintimidasi. Mungkin karena alasan itulah yang membuat Kyungsoo sedikit menjauhkan dirinya dari orang-orang. Ia hanya tidak mau jika teman-temannya merasa tidak nyaman jika bersamanya. Selain itu dia juga memiliki alasan lain yang mungkin hanya dirinya sendiri yang mengetahuinya.

Kai masih menatap Kyungsoo dari samping. Menatap mata bulat yang mempesonanya. Menatap bibir hati yang menggodanya. Menatap pipi merah menggemaskannya. Ahh...Kyungsoo sangat sempurna.

Merasa diperhatiakan, Kyungsoo menolehkan pandangannya kearah Kai. Mata tajam dan tegas milik Kai bertemu dengan mata bulat indah milik Kyungsoo. Seakan waktu berhenti, tatapan itu seolah menjadi magnet kuat diantara mereka. Desiran dan detakan jantung dari keduanya terasa semakin cepat. Memacu organ-organ tubuh mereka bekerja ekstra untuk mengontrol perasaan aneh ini.

"Kau cantik, Kyung" tiba-tiba kalimat itu terucap dari mulut Kai membuat Kyungsoo kembali merona. Namja mungil itu segera mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas.

"Aku ini namja, Kai" Kyungsoo berucap lirih masih tidak menatap Kai, membuat Kai terkekeh pelan.

"Kau namja, tapi terlihat begitu cantik"

Kyungsoo menolehkan kembali kepalanya pada Kai, dan mendapati namja tampan itu sedang menatapnya lembut.

" Kau mengejekku?" Kyungsoo menggembungkan pipinya lucu

"Aku tidak mengejekmu. Mana ada namja yang menggembungkan pipinya seperti ini?" Kai mencubit pelan pipi Kyungsoo membuat namja manis itu kembali merona. Kai tertawa pelan melihat ekspresi Kyungsoo.

"Ternyata kau menyebalkan" Kyungsoo kembali mengalihkan pandangannya. Dan Kai menghentikan tawanya.

"Kyung" panggil Kai lembut. Kyungsoo menoleh

"Sudah berapa lama kau bekerja ditoko bunga?" tanya Kai mengalihkan pembicaraan

"Aku tidak bekerja ditoko bunga Kai-ya. Itu toko bunga milik Ahjumma-ku" Kyungsoo tersenyum singkat.

"Emh? Toko milik Ahjumma mu?" Kyungsoo mengangguk

"Wah pasti orang tuamu sangat bahagia melihat putra mereka begitu telaten sepertimu" goda Kai dengan senyum tampannya.

"Begitulah. Dan Eomma-mu juga pasti sangat senang jika melihat mu rajin membelikan bunga untuknya"

Deg

Jantung Kai berdetak tak karuan. Sebenarnya Ia membeli bunga untuk Baekhyun bukan untuk Eomma-nya.

"I-iya tentu" jawab Kai gugup

"Pati akan sangat menyenangkan jika bisa sepertimu. Membelikan bunga untuk Eomma, memeluknya saat akan tidur, menciumnya setiap pagi. Ahh...aku merindukan suasana seperti itu" Kyungsoo menatap kosong papan tulis didepan sana.

"Emh, aku juga selalu melakukannya. Tapi itu dulu saat aku masih tinggal bersama mereka" Kai mengulas senyumnya. Tidak menyadari perubahan raut muka dari wajah Kyungsoo.

"Memangnya kau tidak tinggal bersama mereka?" tanya Kyungsoo

"Tidak. Aku tinggal di apartemen Baek-" Kai tidak melanjutkan kalimatnya

"Baek?" tanya Kyungsoo penasaran. Dan Kai gelagapan dengan pertanyaan Kyungsoo. Tidak mungin Ia menceritakan bahwa Ia tinggal bersama Baekhyun, kekasihnya.

"Bebek! Ya, aku tinggal diapartemen bebek Jongdae. Dia hyung-ku" Kai menjawab dengan cepat. Sangat ketara raut gugup diwajahnya.

"Hahahaha... bagaimana bisa kau memanggil hyung-mu bebek?" Kyungsoo tertawa kencang dengan kalimat yang baru saja diucapkan Kai. Membuat namja tampan itu melongo. Ia terlalu terpesona dengan keindahan didepannya ini. Sungguh, Kyungsoo sangat menggoda saat tertawa seperti ini. Bibir hatinya membentuk senyum yang indah.

Tiba-tiba Kai menggenggam bahu Kyungsoo erat hingga tawa dari bibir mungil itu terhenti. Kai menarik tubuh mungil Kyungsoo untuk mendekat padanya. Memandang lekat wajah manis Kyungsoo. Dengan cepat Kai mencium bibir hati itu lembut membuat Kyungsoo membulatkan matanya yang memang sudah bulat.

Awalnya Kai hanya mengecup, namun bibir manis itu rupanya telah benar-benar menggoda Kai. Ia mulai melumatnya pelan. Menyapukan lidahnya pada belah bibir tebal Kyungsoo. Kai memejamkan matanya saat mulai menyesap bibir bawah Kyungsoo. Sungguh, desiran yang timbul dari pagutan ringan ini sangat menenangkan hatinya.

Kyungsoo menegang ditempatnya. Ia terlalu kaget dengan perlakuan tiba-tiba Kai. Mata bulatnya masih tak berkedip. Sungguh jantungnya seakan ingin keluar saat bibir hangat Kai menyentuh dan menyesap bibirnya.

Namja mungil itu masih tak bergerak. Pikirannya melayang kemana-mana. Bagaimana ini bisa terjadi? Ini tidak boleh. Tidak boleh!

Tapi ciuman Kai begitu lembut dan penuh perasaan, membuat hatinya berkata untuk menikmatinya saja dari pada menuruti pemikiran dari otaknya. Dengan pertimbangan besar, sedikit ragu Ia mulai memejamkan matanya menikmati setiap sesapan lembut yang diberikan Kai.

Melihat Kyungsoo yang mulai memejamkan mata, Kai berinisiatif memegang tengkuk Kyungsoo untuk memperdalam ciumannya. Kyungsoo mulai melingkarkan tangan mungilnya pada leher Kai. Sedikit menggerakkan bibirnya membalas ciuman namja tan itu. Ini yang pertama untuk Kyungsoo, dan Ia begitu menikmatinya.

Kai berseringai. Ia senang melihat Kyungsoo menikmati pagutan lembut darinya. Bibir manis Kyungsoo membuat saraf-saraf pada organ tubuhnya melemas. Ini sangat memabukkan,seperti candu. Bahkan Kai melupakan jika Ia memiliki Baekhyun sebagai candunya dua tahun terakhir.

Kai masih menyesap bibir manis itu. Menghisap dan melumatnya pelan, hingga Ia merasa jika Kyungsoo melepas tautan tangan dari lehernya dan memegang dada kirinya. Kai mengerut dan melepaskan pagutan manis mereka.

Mata tajam Kai menelisik wajah Kyungsoo yang tengah meringis seperti menahan sakit. Tangan mungilnya juga masih memegangi dada kirinya.

"Kyung~" Kai mengangkat dagu Kyungsoo agar Ia bisa melihat mata bulat indah itu. Dan betapa kagetnya Kai saat melihat setitik cairan pekat berwarna merah menguar dari hidung Kyungsoo.

"Kyung, apa aku menyakitimu?" Kai bertanya dengan raut khawatir. Ia bingung harus melakukan apa. Melihat darah yang tiba-tiba keluar dari hidung Kyungsoo membuat Kai merasa bersalah. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan membantu Kyungsoo untuk mengusap tetesan darah itu.

Sedangkan Kyungsoo juga bingung dengan keadaan ini. Mengapa darahnya harus keluar disaat Ia sedang bersama Kai? Kyungsoo memegang tangan Kai yang masih mengusapkan sapu tangannya, mengambil alih sapu tangan itu dan mengusapnya sendiri.

"Kyung apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?" Kyungsoo masih terdiam saat tangan kokoh Kai menangkup kedua pipi gembilnya. Ia menatap wajah Kyungsoo yang mulai memucat. Sungguh Kai benar-benar khawatir dan takut. Ada apa dengan Kyungsoo? kenapa dia seperti ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus muncul dikepalanya.

Kyungsoo ingin mengatakan bahwa Ia baik-baik saja, namun lidahnya seakan kaku. Tidak ada satu katapun yang mampu keluar dari bibir mungilnya. Ia takut jika harus menjelaskan pada Kai. Ia takut.

Melihat tubuh Kyungsoo yang menegang dan semakin pucat membuat Kai kembali merasa khawatir luar biasa. Ia takut jika tindakannya yang tak terduga ini menyakiti Kyungsoo. Dengan segera Kai memeluk tubuh mungil Kyungsoo. Mengelusnya pelan untuk menenagkannya.

"Mian...Mian Kyungsoo-ya" Kai memeluk Kyungsoo erat, merasakan tubuh mungil itu bergetar tanpa isakan dipelukannya.

.

.

.

PRANGG!

Baekhyun menjatuhkan gelas berisi air yang hendak Ia minum. Ia membelalak kaget. Bagaimana bisa gelas yang sedang Ia genggam tiba-tiba terjatuh begitu saja. Padahal Ia yakin jika Ia memegangnya dengan benar.

Baekhyun masih memegangi dadanya. Ia kaget, pasalnya Ia tidak pernah seceroboh ini sebelumnya.

"Huh, ada apa denganku? Kenapa tanganku menjadi licin begini?" Baekhyun memandangi tangannya. Ia masih mengumpulkan pikiran dari keterkejutannya. Tanpa menunggu lagi Ia segera berjongkok untuk mengambil pecahan gelas kaca itu agar tidak melukainya.

"Apa mungkin aku kelelahan? Hah bagaimana mungkin, bahkan aku hanya pergi ke kampus seminggu sekali saja. Dan dirumah, tidak ada yang aku kerjakan kecuali memasak dan bersih-bersih" Ia bermonolog sendiri

"Apa mungkin aku hamil? Kenapa daya tahan tubuhku seperti terbagi dua begini? Apa ada aegi disini?" Baekhyun memegangi perutnya kemudian tersenyum dengan perkataannya sendiri.

"Yah, Baekkie pabbo! Mana mungkin aku hamil, aku kan namja. Khikhikhi..." Baekhyun cekikikan ketika menyadari monolog bodohnya itu.

Masih dengan senyum geli diwajahnya, Baekhyun kembali memungut pecahan gelas itu dengan hati-hati.

"Aww!" ringis Baekhyun. Ia memegangi tangannya yang berdarah terkena pecahan gelas dan segera melumatnya.

"Kenapa aku sangat ceroboh hari ini" gerutunya pada dirinya sendiri.

.

.

.

Seorang namja tinggi dengan senyum lebar tengan berjalan dilorong sepi. Jas putih terlihat begitu pas ditubuh tegapnya. Ia tengah menuju kesebuah ruangan yang sudah menjadi ruang pribadinya selama dua bulan belakangan ini.

Ceklek

Ia membuka pintu dengan hati-hati. Berjalan menuju sebuah meja dengan setumpuk kertas diatasnya. Ia mendudukkan pantatnya di kursi empuk yang tersedia disana.

"Huuftt" nama tinggi itu menghembuskan napasnya lelah.

"Chanyeol" sebuah suara menginterupsi pendengarannya. Seorang namja dengan wajah kotak sedang berdiri didepan pintu.

"Ah Jongdae, masuklah" titah Chanyeol.

"Kau lelah?" tanya Jongdae setelah mendudukkan dirinya dikursi didepan meja kerja Chanyeol.

"Sedikit" Chanyeol meringis sambil menunjukkan jari kelingkingnya

"Hahaha...aku tidak menyangka jika kau akan sepatuh ini pada Tuan Park" Jongdae menggelak tawanya yang lebar ketika melihat ekspresi Chanyeol. Ia tahu benar jika Chanyeol tipe orang keras kepala. Dan melihat sahabatnya ini begitu antusias dalam menjalani pekerjaan barunya membuat Jongdae kagum.

"Yah, mau tidak mau aku harus membantu Appa dirumah sakit ini. Lagi pula tahun depan aku lulus kuliah" jawab Chanyeol malas

"God Boy" Jongdae mengangkat jempolnya kearah Chanyeol.

"Bagaimana operasimu hari ini?" tanya Chanyeol. Tangannya mulai meraih setumpuk kertas yang berada diatas mejanya.

"Ada sedikit masalah. Rumah sakit ternyata kehabisan stok darah. Dan dengan berat hati-" Jongdae menggulung jas putih miliknya dan menunjukkan lengan kirinya pada Chanyeol "aku yang harus mendonor"

"Hahaha...bagaimana bisa? Seorang dokter bedah malah harus mendonorkan darahnya pada pasien?" Chanyeol memegangi perutnya sambil tertawa. Jongdae adalah rekan kerjanya yang sangat unik menurutnya. Selalu terjadi hal lucu sekaligus aneh saat ia melakukan operasi dan pemeriksaan pasiennya. Dan itu selalu menjadi bahan tertawaan Chanyeol setelahnya.

"Diamlah. Aku melakukan ini juga demi pasienku. Tidak ada yang cocok dengan golongan darahnya selain aku. Sedangkan jika harus mendapatkan stock darah dari Rumah sakit lain sangat memakan waktu dan terlalu beresiko untuk pasien" Jongdae mendengus sebal

"Baiklah-baiklah. Tahun ini kau ku tunjuk sebagai Dokter terbaik di Rumah sakit ini" Chanyeol menggoda dengan senyuman konyol diwajahnya.

"Apanya? Kau saja!" Jongdae mendengus lagi.

"Jongdae" tiba-tiba Chanyeol memandangnya serius, membuat namja berahang tegas itu mengerutkan keningnya bingung.

"Wae?"

"Apa kau pernah merasakan penasaran yang berlebihan sebelumnya?" Chanyeol menampakkan raut muka serius, membuat Jongdae bergidik ngeri. Masalahnya, Chanyeol itu adalah namja yang jarang sekali menampakkan raut serius seperti ini.

"Penasaran berlebihan bagaimana maksudmu?"

"Emm..seperti mencari tahu seseorang dengan rinci misalnya?" Chanyeol mencoba menjelaskan

"Stalker?" Jongdae mendelik dengan pernyataannya sendiri

"Apakah yang seperti itu bisa disebut stalker?" Chanyeol meletakkan kembali berkas didepannya.

"Jika kau merasakan penasaran yang berlebihan pada seseorang dan berniat mencari tahunya dengan detile, itu berarti kau sudah menjadi seorang stalker" Jongdae mengucapkan dengan mantab.

Chanyeol yang mendengar pernyataan dari Jongdae mulai merengut. Ia berpikir apakah sekarang Ia telah menjad seorang stalker pada namja itu? Ia mengarahkan pandangannya pada setumpuk berkas itu lagi. Memandang foto seseorang yang berada didepan meja kerjanya.

"Mungkinkah? Apa aku terlihat seperti itu?" Chanyeol berkata lirih, namun Jongdae masih bisa mendengarnya. Namja berwajah kotak itu hanya memandang sahabatnya itu bingung. Benar-benar nama aneh, pikirnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Annyeong, Chap 2 hadir nih *keprokkeprok

Ini bikinnya sekuat tenaga (?) loh. Adegan yadong diatas itu bikinan Eonni keylocgs tercintah, gomawo Eonni sudah mau bantuin :*

Please RnR, karena ripiuw kalian penyemangat buat Jongsoo.

Akhir kata, Happy Reading