HIDDEN LOVE
.
KaiSoo, KaiBaek, ChanSoo
Other Cast
Rate : M
Genre : Angst, Romance
.
Typo(s), abal, alur gaje, Don't like Don't read
.
.
Ada yang berbeda dariku.
Saat bertemu denganmu waktu itu,
Matamu yang memancarkan aurora indah yang tak lekang waktu.
Mengejarmu, saat sayap kecil kau kepakkan dengan lembut, menantang angin, mengharap langit.
Sungguh indah...
Aku ingin menyentuhmu, memerangkapmu dalam sangkar emasku.
Tapi apakah kau akan bahagia jika bersamaku?
Indah, tapi aku tahu bukan itu yang kau mau.
Seberapapun aku mengejarmu, mungkinkah aku akan bisa mendapatkanmu?
.
.
.
Kim Jong Soo 1214
.
.
.
Present
.
.
.
Namja berkulit tan itu masih setia memeluk namja manis yang beberapa hari belakangan ini telah mencuri perhatiannya. Merengkuhnya dengan perasaan berkecamuk dihatinya. Sedangkan namja mungil itu membulatkan matanya tak percaya. Kejadian ini sangat cepat. Mulai dari perbincangannya dengan Jongin, ciuman lembut yang menyapa bibir hatinya, pelukan hangat yang mengakibatkan darah mengalir dari hidungnya. Tunggu, darah?
Kyungsoo, namja mungil itu sedikit mendorong tubuh Kai hingga menciptakan jarak diantara mereka. Mata bulat itu menatap lekat mata tajam Kai. Maniknya yang indah bergerak-gerak gelisah. Ia tahu jika Kai sedang menghawatirkannya. Tapi Ia tidak mau siapapun tahu tentangnya. Termasuk Kai.
"Umh, K-Kai-ya" panggilnya lirih.
"Kau sakit?" nada itu terdengar sangat khawatir.
Kyungsoo menggeleng.
"A-aku harus pulang" Kyungsoo menundukkan kepalanya.
"Mau aku antar?" Jongin menawarkan pada Kyungsoo. Ia tahu jika Kyungsoo sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Tidak. Aku bisa pulang sendiri" tolaknya halus
"Tapi kau sed-"
"Aku bisa sendiri, Kai-ya. Gomawo sudah meminjamkan sapu tanganmu. Aku akan menggantinya dengan yang baru" belum sempat Kai menjawab perkataan Kyungsoo, namun namja mungil itu segera berjalan meninggalkan Kai di kelas yang bahkan masih sepi.
Ia tidak peduli jika harus membolos pada mata kuliah dosen killer semacam Lee seonsaenim. Yang terpenting baginya adalah menghindar dari orang-orang agar tidak mengetahui kondisinya.
Sepeninggal Kyungsoo, Kai masih tak bergeming dibangkunya. Pikirannya tetap berfokus pada Kyungsoo. Sungguh, Ia masih shock dengan apa yang baru Ia lihat. Kyungsoo berdarah. Apa mungkin Ia kelelahan?
"Aku harap kau baik-baik saja, Soo"
.
.
.
Tubuh mungil itu tengah terduduk disebuah kursi bercat putih. Lorong sepi dengan bau menyengat tak membuatnya ingin beranjak. Kaki nya yang tak menapak lantai bergerak-gerak lemah seolah mengiringi pemikirannya pada kejadian tak terduga itu. Tangan kanannya terangkat untuk menyentuh dadanya. Senyum lembut terukir dari wajah manisnya. Darahnya berdesir, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Sensasi ini berbeda. Ia menyukainya.
Beberapa saat senyum itu terus mengembang, hingga mata bulatnya menatap kantung plastik yang Ia pegang ditangannya yang lain. Wajah yang awalnya merona dan berbinar, berubah sendu dalam hitungan detik. Ia tidak yakin dengan apa yang Ia rasakan. Ruang hampa didadanya menyeruak kembali. Mengingatkannya pada sesuatu yang harus Ia jaga.
"Kau-" seseorang dengan suara bass menggema disudut lorong sepi itu. Membuat namja mungil yang masih asik dengan dunianya kini beralih pada sosoknya. Namja tampan berbadan tinggi tengah menatapnya dengan raut terkejut.
Kyungsoo, namja mungil itu mengerutkan keningnya saat menemukan seseorang itu menunjuknya dengan jari telunjuk sambil tersenyum lebar.
"Kau ada disini?" namja tinggi itu berucap riang
"Kau mengenalku?" Kyungsoo bertanya dengan raut bingung.
"Kau lupa padaku? Aku orang yang membangunkanmu waktu itu. Di kampus. Kau ingat?" namja itu berusaha mengingatkan.
Sesaat Kyungsoo terlihat berpikir, mengingat kejadian saat Ia dibangunkan namja setinggi tiang listrik ini.
"Aahh...kau ya" Kyungsoo mengangguk-anggukkan kepalanya saat Ia mulai mengingatnya. Pipi gembilnya merona karena malu mengingat kejadian itu.
"Boleh aku duduk disini?" tanya namja itu lembut
"Tentu saja, Chan-Yeol-ssi" Kyungsoo mengeja nama yang tertera di name tag milik namja itu. Namja tinggi yang ternyata bernama Chanyeol itu terkekeh.
"Ya, aku Chanyeol. Kau?" setelah mendudukkan dirinya disebelah Kyungsoo, Chanyeol mengulurkan tangan kanannya.
"Kyungsoo. Do Kyungsoo" Kyungsoo menjabat tangan itu. Senyum manis tersungging diwajahnya.
Sesaat Chanyeol terdiam. Sungguh, senyum itu mampu menghipnotisnya. Membawa pikiran dan angannya melambung jauh diangkasa. Belum pernah Ia merasakan perasaan ini sebelumnya. Perasaan menenangkan yang membuat hatinya menghangat. Tangan lembut ini, terasa sangat pas berada digenggamannya.
Chanyeol tersenyum saat melihat tangan mungil itu. Tangan yang sangat halus, bahkan lebih halus dari yeoja. Ahh... sebenarnya makluk mungil ini yeoja atau namja? Bahkan dua kali Chanyeol bertemu dengannya dan dua kali pula Ia menanyakan hal bodoh itu didalam pikirannya.
"Umh, kau bekerja disini?" suara halus itu membuyarkan perasaan terkagumnya. Mengembalikan pikiran-pikiran anehnya untuk kembali fokus pada kenyataan. Ia melihat mata bulat Kyungsoo yang sedang mengamati jas putih yang melekat rapi ditubuhnya.
"Aku masih magang" Chanyeol merendahkan dirinya. Sebenarnya Ia tidak hanya magang, justru Ialah anak pemilik Rumah Sakit ini.
"Ahh begitu. Umh, bisakah kau melepaskan tanganku?" sedikit tidak enak saat Kyungsoo mengatakan itu, tapi rasanya namja tampan didepannya ini tak berniat untuk melepaskan tangannya. Bahkan saat Ia menggerakkan tangannya sedikit keras, namja itu tak juga melepaskannya.
"Eoh? Mian" buru-buru Chanyeol melepaskan tangan lembut itu. Chanyeol terlihat salah tingkah. Tangan kanannya menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
"Kau sedang apa disini, Kyungsoo-ssi?" tanya Chanyeol sedikit canggung. Bagaimana tidak, Kyungsoo terus saja memperhatikannya.
"Aku? Ah, aku baru saja menebus obat" mata bulat Kyungsoo memandang ke apotik yang berada tak jauh dari lorong itu. Apotik milik pribadi Rumah Sakit.
"Kau menebus obat? Apa kau sedang sakit?" tanya Chanyeol penasaran.
"Umh, aku sedikit pilek" cengiran itu keluar dengan polosnya. Lagi, Chanyeol dibuat terpana dengan pesona namja mungil ini.
"Benarkah? Apa itu obatmu?" Chanyeol sedikit melirik pada kantung plastik yang dipegang Kyungsoo. Namun matanya memicing saat Ia mengetahui obat apa yang ada didalam sana. Ayolah, Chanyeol itu calon dokter. Ia bisa membedakan mana obat flu dan mana obat anti nyeri.
"Ne. Kau tahu, dokter bilang aku tidak boleh terlalu banyak makan es krim. Tentu saja aku kesal, bahkan aku menjadikan es krim berada di list nomor satu dibuku jurnalku" Kyungsoo mempoutkan bibir hatinya. Membuat Chanyeol memandang gemas wajah manisnya.
"Hahaha...dokter berkata seperti itu?" Chanyeol tertawa setelah mendengar keluhan Kyungsoo. Meskipun Ia tahu jika namja didepannya ini sedang berbohong padanya.
"Umh. Bahkan dokter tidak mengijinkanku makan es krim selama seminggu" bibir itu semakin mempout lucu.
"Kau harus menurutinya kalau ingin sembuh"
"Tapi aku tidak bisa. Bahkan aku sudah memenuhi kulkas ku dengan es krim"
"Kau sangat suka es krim?"
"Tentu saja. Semua orang menyukainya, Chanyeol-ssi" Kyungsoo berkata dengan antusias.
"Tapi aku tidak" Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan. Sontak Kyungsoo membulatkan matanya kaget. Bagaimana bisa ada orang yang tidak menyukai makanan lembut seperti itu.
"Kau pasti orang yang sangat kaku" Kyungsoo menatap horor pada Chanyeol.
Chanyeol mengerutkan dahinya. Orang yang kaku? Yang benar saja.
"Kenapa kau berkesimpulan seperti itu, Kyungsoo-ssi"
"Begini. Es krim itu adalah makanan lembut dan dingin. Kalau kau memakannya pasti akan berpengaruh pada tubuhmu dan pikiranmu. Dan kau tahu, kalau kau memakan es krim rasa coklat, itu bisa membantumu mengurangi stres yang berlebihan. Dan juga, ek krim rasa strawberry bisa membuatmu bla bla bla-"
Dan masih banyak celotehan yang keluar dari bibir mungilnya. Selama Kyungsoo berbicara, Chanyeol hanya terdiam sambil memperhatikan wajah manisnya. Bagaimana Kyungsoo mengekspresikan setiap perkataannya, tangan mungilnya yang bergerak-gerak menjelaskan maksud dari ucapannya, mata bulatnya yang berkedip-kedip lucu. Chanyeol hanya tersenyum melihat itu semua. Entah apa saja yang telah dibicarakan Kyungsoo, Ia tidak begitu peduli. Namun yang pasti Chanyeol senang mendengar celotehan itu. Terasa sangat menyenangkan berada disamping namja ceria seperti Kyungsoo.
"-begitu. Kau harus mencobanya sesekali agar kau tidak menjadi orang yang kaku" Kyungsoo tersenyum riang setelah celotehan panjang lebarnya berakhir.
"Wahh...kau begitu hafal dengan semua manfaat es krim" Chanyeol mencoba memberi reaksi atas perkataan yang sebenarnya tak dimengertinya.
"Tentu saja. Aku penggemar es krim nomor satu, Chanyeol-ssi" Kyungsoo mengangkat jari telunjuknya bangga.
"Kalau begitu bagaimana jika kita pergi makan es krim bersama"
"Huh?" Kyungsoo mengerutkan dahinya. Sedikit bingung dengan ucapan yang dilontarkan namja tampan ini.
"Kau bilang es krim coklat bisa membantu menghilangkan stress bukan? Aku ingin mencobanya. Kau tahu, bekerja sebagai dokter sangat menguras tenaga dan pikiran" Chanyeol memberi alasan.
"Tapi bukankah kau tidak menyukai es krim?" mata bulat itu memandang polos. Sungguh Chanyeol ingin sekali mencubit namja ini. Benar-benar menggemaskan.
"Untuk itu aku ingin mencobanya" Chanyeol memberikan senyum lembut pada Kyungsoo dan dibalas dengan senyuman lebar oleh namja mungil itu.
"Benarkah? Kau mau mencobanya? Aku yakin kau akan menyukainya setelah tahu bagaimana rasa es krim coklat yang aku maksud. Itu sangat lembut" ucapnya antusias.
"Hahaha...kau mau mengajakku?" sedikit modus memang, tapi jika dengan es krim bisa mendekatnya pada Kyungsoo, kenapa tidak?
"Tentu saja. Aku akan mengajakmu makan es krim kapan-kapan" jari kelingking itu terangkat didepan wajah Chanyeol. Sebenarnya Chanyeol tidak menyangka jika akan semudah ini mengajak Kyungsoo kencan –makan es krim lebih tepatnya. Bahkan mereka baru kenal beberapa menit yang lalu.
"Aku akan menunggu janjimu" Chanyeol meraih kelingking mungil itu dengan kelingking besarnya. Jika dilihat, mereka seperti sedang melakukan janji seorang sahabat. Atau mungkin mereka memang akan bersahabat setelah ini? Semoga...
.
.
.
Namja mungil bermata sipit itu tengah berguling-guling diatas kasur empuknya sambil sesekali melihat jam yang bertengger manis diatas meja nakas. Ia mempout kan bibir mungilnya lucu, pasalnya sudah hampir dua jam Kai terlambat pulang. Bahkan ini sudah lewat jam makan malam.
"Hufft...bosaaan! Kai, kau kemanaaa" erangnya frustasi.
Ceklek
Ia mendengar suara pintu apartemen yang baru saja dibuka. Apa mungkin Kai sudah pulang?
Dengan terburu-buru, namja mungil itu beranjak dari kasur empuknya untuk memastika jika kekasihnya sudah pulang.
"Kai-ya. Kenapa kau pulang terlambat?" tanya namja mungil itu setelah melihat sosok namja berkulit tan tengah menghempaskan tubuh lelahnya disofa.
"Ada kuliah tambahan tadi, Baekkie-ya. Mian tidak memberitahumu" ucap Kai sambil menoleh kearah Baekhyun yang terlihat kesal.
"Aku hampir mati kebosanan disini" Ia mendudukkan tubuhnya disebelah Kai.
"Mianhae, em? Lagipula kenapa kau tidak pergi menemui Tao atau Luhan jika kau bosan?" Kai meraih tangan mungil itu. Mengelusnya lembut sebagai tanda penyesalannya.
"Aku sengaja menunggumu. Aku pikir kau akan senang jika melihatku dirumah saat kau pulang" gerutunya.
"Kau marah? Aku minta maaf, changi. Aku memang senang kau dirumah. Tapi jika kau menyambutku dengan gerutuan seperti ini, lebih baik tidak usah saja" goda Jongin pura-pura kesal.
"Yak! Kenapa jadi kau yang marah" Baekhyun mempoutkan bibirnya.
Ddrrttt...Drrttt
Belum sempat membalas perkataan Baekhyun, tiba-tiba ponsel Kai bergetar. Segera Ia mengambil ponsel yang ada disaku celananya. Menekan tombol hijau dan mengarahkannya didepan telinga.
"Yeobseyo"
"..."
"Ne, hyung. Wae?
"..."
"MWO!?"
"..."
"Jinjja! Aku tidak mau!"
"..."
"Aish, kenapa orang tua itu selalu menyebalkan!"
"..."
"Iya-iya bebek cerewet. Kau seperti yeoja, kau tau!"
Jongin menjauhkan ponsel dari telinganya saat suara melengking serta sumpah serapah dari seberang begitu memekakkan telinganya.
"Iya~" jawabnya malas sebelum panggilan itu ditutup secara sepihak.
Tuut tuut
"Aishh... menyebalkan sekali"
"Dari Jongdae hyung?" tanya Baekhyun penasaran.
"Umm" hanya deheman kecil sebagai jawabannya.
"Ada apa? Apa ada yang serius?" tanya Baekhyun lagi. Ia semakin mendekatkan tubuh mungilnya pada Kai untuk meminta jawaban dari namjachingunya itu.
"Jongdae menyuruhku pulang" jawabnya malas.
"Pulang? Keapartemen Jongdae hyung?" sepertinya penyakit ingin tahunya sudah kembali.
"Bukan. Pulang kerumah" Kai menyandarkan tubuh lelahnya pada sandaran sofa. Sungguh, perkataan Jongdae yang menyuruhnya untuk pulang sangat mengganggu pikirannya. Sudah sangat lama Ia tidak mengunjungi rumah yang penuh kenangan itu.
"Mwo? Ap-apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba Jongdae hyung menyuruhmu pulang?" Baekhyun membulatkan matanya tak percaya. Pasalnya Kai sudah tidak pernah pulang kerumahnya sendiri sejak dua tahun terakhir -tepatnya sejak Kai menjadi kekasihnya.
"Appa ku pulang dari Cina. Jongdae tidak mau Appa mengetahui jika selama ini aku tidak tinggal dirumah" Kai mengusap wajahnya frustasi.
Baekhyun menatapnya iba. Ia sangat mengerti bagaimana keadaan kekasihnya ini. Kai memutuskan meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan menyakitkan itu demi ketenangannya. Bahkan Jongdae juga meninggalkan rumah dan membeli apartemen sendiri untuk ditinggalinya. Selain alasan Rumah Sakit tempatnya bekerja lebih dekat, alasan lain adalah sama dengan Kai, ingin mencari ketenangan.
"Apa kau yakin akan pulang?" Baekhyun memberikan sentuhan lembut pada pundak Kai agar namja tan itu merasa lebih tenang.
"Mau bagaimana lagi. Aku tidak mungkin menyakiti hati Appa" jawabnya lemah.
"Lakukan yang terbaik untuk Appa-mu, Kai-ya" senyuman lembut itu mampu membuat Kai merasa tenang. Ia merasa ada yang menjaga dan memperhatikanya. Baekhyun layaknya seorang ibu dan teman yang baik untuknya bersandar. Tunggu, Ibu dan teman? Bukankah Baekhyun kekasihmu, Kai?
"Kau mengijinkanku pergi?" Kai memegang tangan mungil yang masih mengelus pundaknya.
"Tentu jika itu untuk kebaikanmu" jawabnya mantab.
Kai tersenyum mendengar perkataan menenangkan itu. Ia merengkuh tubuh mungil yang tengah tersenyum padanya ini.
"Gomawo, changi-ya" ucap Kai senang. Ya, walau bagaimanapun Kai merasa senang jika Baekhyun menginjannya keluar dari sini. Bukan karena Ia tidak mencintai namjachingunya ini lagi. Hanya saja namja bermata bulat yang tadi pagi telah Ia curi ciumannya juga menjadi salah satu alasan terkuatnya meninggalkan apartemen Baekhyun.
"Aku mencintaimu, Kai-ya"
Deg
Cinta?
Apa yang harus aku jawab?
Benarkah aku masih mencintai Baekhyun?
Tapi aku merasakan kenyamanan berada didekatnya.
"Aku tahu itu" jawabnya lemah.
Kai tidak membalas perkataan cinta dari Baekhyun. Ia hanya mengatakan sesuatu yang ingin Baekhyun dengar saja. Apakah secepat itu pengaruh Kyungsoo pada hatinya?
"Kajja, aku bantu kau bersiap-siap. Supaya kau tidak kerepotan besok" Baekhyun melepas pelukannya dan menggandeng tangan Kai untuk pergi ke kamar mereka. Sedangkan Kai hanya tersenyum sambil mengikuti perkataan kekasihnya ini.
.
.
.
Hari minggu yang cerah seperti ini biasanya sangat didambakan bagi mereka yang mempunyai kesibukan untuk beristirahat dan bersantai. Namun tidak untuk namja tampan dengan kulit tan itu. Pagi ini dia justru tengah sibuk dengan beberapa koper berisi barang-barang serta pakaiannya.
Ya, mulai hari ini namja tan itu akan tinggal dirumahnya sendiri. Sedikit tidak rela sebenarnya jika harus meninggalkan Baekhyun di apartemen ini sendirian. Namun Ia juga tidak bisa menolak permintaan Appa-nya untuk tinggal di rumah. Bahkan Jongdae pun terpaksa harus menjual apartemennya demi Appa-nya.
"Kau sudah selesai?" tanya Baekhyun setelah melihat Jongin telah rapi. Dan jangan lupakan satu koper besar berada ditangan kanannya.
"Emm" jawabnya singkat sambil mencomot roti panggang hangat buatan kekasihnya ini.
"Aku pasti akan sering merindukanmu Kai-ya" Baekhyun bergelayut manja pada lengan kokoh Kai.
"Aku akan sering kesini, changi. Lagi pula kau bisa sesuka hatimu berkunjung kerumah" jawabnya santai
"Bagaimana bisa? Bahkan kau tidak pernah mengenalkanku pada Appa-mu"
"Akan segera aku kenalkan jika kau mau"
"Jinjja?" Baekhyun memekik riang. Mata sipitnya berbinar bahagia.
"Tentu saja" Kai mengelus lembut helaian rambut Baekhyun dengan sayang. Dan dibalas senyuman lebar dari bibir tipis itu.
Ddrrrt Drrtt...
Kai meraih ponsel yang ada disaku celananya. Dan satu nama yang membuatnya uring-uringan sejak semalam terpampang disana.
"Yeob-"
"YAK! KKAMJONG, DIMANA KAU?!"
Sontak saja Kai menjauhkan ponsel dari telinganya. Sungguh, suara hyungnya ini seperti petir. Atau bahkan lebih menggelegar dari pada petir.
"Yak! Hyung, jangan berteriak!" kesal Kai
"Kau dimana!? Aku sudah menunggumu dari setengah jam yang lalu, bodoh!" terdengar dengusan kesal dari seberang telpon
"Aku masih sarapan. Sebentar lagi aku berangkat"
"MWO?! JINJJA! KAU MINTA DIHAJAR, EOH?"
"Hyung, kecilkan suaramu! Aishh...Iya-iya, aku berangkat sekarang" kesalnya
Pip
"Dasar bebek!" celotehnya sambil melotot kearah ponsel hitam yang tak bersalah itu.
"Dari Jongdae hyung?" tanya Baekhyun penasaran.
"Begitulah. Sepertinya aku harus segera menjemput si bebek. Dia pasti akan meledak sebentar lagi" ucapnya sambil menelan sisa potongan roti terakhirnya.
"Hahaha...kau jahat sekali. Bagaimanapun juga Jongdae itu hyungmu, Kai-ya" Baekhyun tertawa renyah
"Tapi sifatnya dan sifatku sangat berbeda, changi. Dia sangat cerewet" omelnya
"Sudahlah. Cepat sana pergi, kasihan Jongdae hyung sudah menunggumu" ucapan Baekhyun diangguki oleh Kai.
Kai sudah bersiap akan melangkah pergi, namun langkahnya terhenti ketia Ia mengingat sesuatu.
"Ada yang tertinggal?" ucap Baekhyun sambil menaikkan satu alisnya
Dengan senyum konyol Kai berjalan mendekat lagi kearah Baekhyun.
"Morning kiss-ku" manjanya
"Aishh...kau ini"
Chu~
Secepat kilat Baekhyun mengecup bibir tebal Jongin kemudian tersenyum lembut.
"Sudahkan? Sana pergi. Aku mencintaimu~" Baekhyun melambai dengan riangnya sementara Jongin berjalan pergi dengan sejuta pikiran berkecamuk dikepalanya.
Ia memang suka dengan skinship antara mereka yang membuat hati Kai menghangat.
Tapi cinta?
Baekhyun mencintaiku?
.
.
.
Namja bermata bulat itu tengah berjalan mondar-mandir didalam toko bunganya. Sebuah gunting, pita warna warni, plastik bening serta berbagai benda lainnya Ia pegang bergantian.
Kyungsoo, namja bermata bulat itu tengah sibuk mengatur pesanan rangkaian bunga untuk sebuah pernikahan. Memang bukan pesanan rangkaian bunga besar dengan ucapan selamat datang atau sebagainya, hanya sebuah pesanan untuk hiasan altar dan bucket bunga untuk pengantinnya. Meskipun tidak banyak, tapi cukup menyibukkannya mengingat sang Ahjumma tidak sedang berada di Korea untuk membantunya.
Bunga mawar berwarna pink dan putih itu adalah rangkaian terakhir yang harus Ia buat. Dengan sangat telaten Kyungsoo menggunting batang-batang bunga yang terlalu panjang. Merapikan daun serta kelopak yang sedikit mengganggu. Menyatukan bunga-bunga itu untuk dijadikan sebucket bunga yang cantik.
"Selesai!" pekiknya riang.
Mata bulatnya meneliti setiap rangkaian bunga yang telah Ia buat. Bibir berbentuk hatinya melengkungkan senyum manis. Ia puas dengan hasil kerjanya.
Ia melihat jam mungil yang bertengger ditangan kanannya. Sudah jam 9 tapi sang pemesan belum juga mengambil pesanannya. Bukankah acara pernikahannya satu jam lagi?
Kyungsoo buru-buru mengecek ponselnya barang kali ada pesan dari pihak pengantin untuknya. Dan benar saja, beberapa pesan dari sang pengantin sudah dikirim sejak dua jam yang lalu.
"Aiish...kenapa aku tidak mengecek pesannya dari tadi? Pabbo!" omelnya pada dirinya sendiri
"Aku harus segera pergi ke gereja itu sebelum acara pernikahannya dimulai" Kyungsoo mulai panik setelah membaca pesan yang berisi permohonan maaf dari pengantin karena tidak bisa mengambil bucket-bucket bunganya. Dan parahnya lagi, sang pengantin meminta bantuan Kyungsoo untuk mengantarnya ke gereja yang sialnya berjarak lumayan jauh dari toko bunganya.
Kyungsoo terlihat sangat kerepotan dengan banyak bucket bunga yang harus Ia bawa. Apalagi tangan mungilnya ini tidak akan muat jika harus membawa semuanya sekaligus.
"Ugh...bagaimana ini? apa aku harus memesan taksi? Ahh..benar, taksi!" pekiknya panik. Bagaimanapun juga Kyungsoo harus segera mengantarkan bucket bunga ini. Ia tidak mungkin mengecewakan pelanggannya. Apalagi pelanggannya adalah calon pengantin.
Kyungsoo segera berlari keluar toko bunganya. Ia berdiri dipinggir jalan raya untuk memanggil sebuah taksi. Tapi sayangnya tidak ada satupun taksi kosong yang melintas didepannya.
"Bagaimana ini?" namja mungil itu semakin gugup karena sudah 15 menit berlalu dan dia belum juga mendapatkan taksi. Ia menggigit-gigit kecil bibirnya untuk mengurangi rasa khawatir yang mendadak menyerangnya. Namun tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti tepat didepannya. Sejenak Ia terdiam karena merasa bingung dengan pengendara yang seenak jidatnya berhenti didepannya. Apa orang ini tidak tahu jika Ia sedang menunggu taksi?
Sebenarnya Ia sudah akan mengomel karena mobil ini menghalangi penglihatannya kejalan raya, namun rasa kesal itu berubah dengan rasa kaget saat keca mobil itu bergerak turun.
"Sedang menunggu seseorang?" suara bass itu mendarat digendang telinganya.
"Kai?" yang dipanggil tersenyum singkat.
Kyungsoo tidak menyangka jika akan bertemu dengan Kai disaat genting seperti ini. Ah, tunggu! Mungkinkah ini sebuah pertolongan dari Tuhan?
"Kai, bisakah kau turun sebentar?" tanyanya dengan raut penuh harap
"Aku? Baikalah" tanpa menunggu lagi Kai segera turun dari mobilnya. Ia berjalan kearah Kyungsoo dengan senyum lembut dari bibirnya. Ia sangat senang karena menemukan Kyungsoo disini. Bahkan Ia sempat berpikir jika Ia dan Kyungsoo benar-benar berjodoh. Konyol.
"Ada ap-" belum sempat menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba saja Kyungsoo menarik tangannya dengan kasar.
"Kau harus membantuku" ucap Kyungsoo tegas saat sudah berada didalam toko.
Dengan segera Kyungsoo memberikan beberapa bucket bunga kepada Kai. Kai yang masih dalam mode bingungpun hanya bisa terdiam melihat Kyungsoo kerepotan dengan list kecil ditangannya.
"Tapi, untuk apa semua ini?" akhirnya pertanyaan itu meluncur dari bibir Kai setelah bucket-bucket bunga ini begitu menumpuk ditangan hingga hampir menutupi wajahnya.
"Akan aku jelaskan nanti. Sekarang kau harus mengantarku. Oke?" dan dengan tergesa Kyungsoo kembali menarik tangan Kai keluar toko. Sebenarnya Kai senang-senang saja dengan kejadian tak terduga ini. Kapan lagi Ia bisa berada dalam satu mobil dengan namja pencuri desiran didadanya. Bahkan sekarang Kyungsoo sendiri yang memintanya.
"Kai, kita harus cepat!" Kyungsoo membuka pintu mobil dengan terburu-buru setelah memastikan Kai telah menaruh bucket bungannya dengan baik di jok belakang.
"Baiklah" hanya jawaban itu yang Ia dapat. Setelah Kai berada didalam mobil, barulah Ia menginjak gas untuk membawa Kyungsoo ketempat tujuannya.
Selama diperjalanan, Kai tak henti-hentinya mengulas senyum. Bagaimana tidak, lihat saja wajah gugup dan panik dari Kyungsoo yang sangat menggemaskan. Bahkan Ia tak berhenti menggigit-gigit bibirnya.
Setelah beberapa waktu, tibalah mereka disebuah halaman luas berumput hijau. Kai mengerutkan kening tak percaya. Bukankah tadi Kyungsoo bilang ingin meminta bantuan padanya?
"Gereja?" gumamnya.
Kai baru akan bertanya pada Kyungsoo, namun sepertinya namja mungil itu sudah turun dan mengambil bucket-bucket bunganya dijok belakang. Kyungsoo sedikit kesulitan karena ukuran bucket bunga yang lumayan besar. Melihat itu, Kai tidak tinggal diam. Segera Ia membantu Kyungsoo mengeluarkan bucket-bucket bunga itu dan mengikuti Kyungsoo masuk ke dalam gereja. Kai sengaja menahan semua pertanyaannya karena Ia tahu jika Kyungsoo sedang dalam mode panik.
Dan disinilah mereka sekarang. Setelah membantu Kyungsoo membereskan dan merapikan bucket bunga di meja altar dan menyerahkan bucket bunga mawar pink dan putih pada sang pengantin, Kyungsoo dan Kai duduk dideretan kursi gereja paling belakang. Menikmati acara sakral yang tengah berlangsung.
"Aku benar-benar tidak menyangka akan menghadiri sebuah pernikahan dengan memakai celana pendek" Kai mengatakan kalimatnya tanpa menoleh kearah Kyungsoo.
Sedangkan Kyungsoo yang merasa satu-satunya orang yang diajak bicara pun segera menolehkan pandangannya kebawah. Tepatnya kearah celana Kai. Sungguh, Kyungsoo sekuat tenaga menahan tawanya saat menyadari jika Kai memakai celana jins santai selutut dan kemeja berlengan pendek –kesebuah pernikahan.
"Pfftt..." Kyungsoo sangat ingin tertawa kencang sekarang. Lihatlah mereka yang memandang Kai dengan tatapan heran.
"Ini benar-benar pengalaman pertamaku" Kai menatap kosong kedepan, membuat Kyungsoo semakin ingin tertawa saja.
"Maafkan aku. Tadi itu keadaan genting" Kyungsoo berbisik didekat telinga Kai. Meskipun namja tan itu mendengarnya, Ia hanya terdiam. Bukannya Ia tidak mau menjawab perkataan Kyungsoo, tapi Ia sedang menahan rasa malunya. Ayolah, pria mana yang menghadiri pernikahan digereja dengan menggunakan celana pendek?
Musik pengiring pengantin telah berbunyi. Nyanyian-nyanyian menggema disetiap sudut gereja yang bernuansa putih itu. Suara yang begitu lembut mengiringi janji suci yang telah diucapkan sepasang pengantin didepan altar. Betapa bahagianya mereka.
"Hhhhhh" Kai menolehkan pandangannya pada namja manis yang baru saja menghela nafas panjang.
"Kau merasa lega?" tanya Kai setengah berbisik. Tidak mau mengganggu kesakralan pernikah ini.
"Tentu saja. Kau tahu, aku sangat bahagia melihat bucket bungaku dipegang sang pengantin saat dipernikahan" ucapnya sambil tersenyum bahagia
"Karena kau membuatnya dengan penuh perasaan?" entah itu pertanyaan atau pernyataan yang keluar dari bibir Kai.
"Bukan hanya itu. Bunga yang dipegang pengantin adalah satu-satunya saksi yang berada paling dekat dengan Tuhan. Itu yang membuatku merasa senang" ucapan itu terdengar begitu tulus ditelinga Kai. Namja tan itu hanya terdiam, menanti kalimat apa lagi yang akan keluar dari bibirnya.
"Kau tahu, aku sangat ingin suatu saat berada disana. Menikmati alunan suara merdu yang ditujukan padaku. Mengucap janji suci dengan rangkaian kalimat indah. Tersenyum didepan Tuhan dengan banyak harapan serta do'a yang aku ucapkan. Tapi mungkin itu tidak akan terjadi" kalimat terakhir dari Kyungsoo membuat Kai mengerutkan dahinya. Setelah Kyungsoo berceloteh dengan senyuman kini tergantikan dengan tatapan sendu.
"Kau pasti bisa melakukannya suatu saat nanti" Kai mencoba menetralisir perasaan yang sebenarnya sudah meletup-letup didalam dadanya.
Kyungsoo terkekeh kecil sebelum Ia membuka mulutnya kembali.
"Ya, seandainya saja bisa"
"Seandainya? Kau berandai tapi berkata tidak yakin seperti itu" Kai menolehkan pandangannya pada kedua pengantin yang saling bertatap bahagia didepan sana.
"Karena aku memang tidak yakin" Kyungsoo tersenyum getir
"Apa yang membuatmu tidak yakin?" Kai kembali memandang wajah sendu Kyungsoo.
"Karena aku tidak akan bisa melewati masa itu, Kai"
Deg
Entah mengapa ucapan dari Kyungsoo membuat hati Kai terasa tertohok. Ia merasakan sesak yang berlebihan saat melihat ekspresi Kyungsoo yang datar tanpa binar dikedua mata bulatnya.
"Bagaimana jika aku yang berhasil membuatmu melewati masa itu?"
Entah mendapat keberanian dari mana tiba-tiba Kai mengatakan hal itu. Sontak saja Kyungsoo menolehkan pandangannya pada namja tampan yang tengah menatapnya ini. Ia mendalami manik mata kelam milik Kai. Sungguh, belum pernah ada seseorang yang mengatakan itu padanya. Dan belum ada orang yang berdiri sedekat ini dengannya, disebuah gereja, sebagai saksi pernikahan.
Keadaan mendadak hening. Waktu terasa terhenti ketika kedua manik mata itu bertemu. Seolah mengungkapkan bagaimana letupan-letupan perasaan didalam dada mereka menyeruak. Hingga sebuah kekehan kecil dari Kyungsoo membuyarkan lamunan mereka
"Kau jangan bercanda Kai-ya. Itu tidak lucu" Kyungsoo menggelengkan kepalanya pelan sambil mengalihkan pandangannya pada Kai.
Sedangkan Kai hanya tersenyum kecut. Seandainya saja Kyungsoo mengetahui jika yang baru saja Ia katakan adalah murni dari suara hatinya.
"Aku berharap itu benar-benar terjadi, Kyungsoo-ya" lirih. Tapi Kyungsoo masih bisa mendengarnya.
Sebenarnya Ia ingin menolehkan kembali pandangannya pada Kai, tapi Ia urungkan karena Ia tahu jika itu akan menyakiti dirinya sendiri. Mengharapkan seseorang yang bahkan tidak tahu bagaimana kondisinya. Sangat menyakitkan. Dan Kyungsoo tidak akan membiarkannya terjadi.
.
.
.
TBC
.
.
.
Anyeoongg Anyeooongg...
Ini sangat terlambat kan Update nya, haha... ampuni JongSoo.
Kyaaa...ada yang manggil Jongsoo 'Oppa'. Omegot, saya ini yeoja neng /ngakak saya nya/. Kan udah ada tuh di bio, kalau nama JongSoo bukan nama sebenarnya. Oke, biar gak ada yang salah paham nih. Yang line dibawah 93 panggil saya Eonni, kalau diatas line 93 panggil saya JongSoo aja. Saya geli dipanggil Oppa XD
JongSoo pan baca ulang chap sebelumnya, dan itu banyak banget typo. Alurnya berantakan, dan feel nya gak dapet. Oleh sebab itu /eaa bahasanya/ saya berusaha memperbaiki di chap ini.
.
: Kkamjong mah begitu, main nyosor aja, khekhe.. mau tahu penyakitnya apa? Ntar bakal ketahuan kok seiring jalannya cerita. Gomawo sudah mau menantikan Hidden Love :D
FarydahKAISOO8812: Mian karena sangat terlambat. Ini udah up kok, semoga memuaskan. Nado saranghae, chingu-ya...
keylocgs: haha... itu mah pikirannya kkamjong aja yang rusuh XD
Guest : Justru itu, karakter Kai yang brengsek adalah kunci dari jalannya ff ini. kalau chingu risih sama karakternya, mohon jangan dibaca. Takutnya timbul hal-hal yang tidak diinginkan *eh. Gomawoo, na atas sarannya. nanti chansoo akan saya banyakin moment-nya.
: ini sudah next ya. Happy reading~
dillapradipta: Gomawo dila. Akan diusahakan bacaannya panjang terus deeh..
waiz Snivy : hahaha... gak mau si kyung death ya? Liat nanti aja deh gimana akhir ceritanya. Khekhe...
Lovesoo : udah dilanjut nih. Happy reading XD
anisafransiskaa: haha...duh do'anya buat kaibaek gitu amat. Kesian mereka udah pacaran dua taon loh.
SevtrisaV : Aha! Itu rahasia. Semua akan terungkap kok nanti. Dan gimana hubungan mereka ber 4 juga akan terungkap. Yang pasti mereka semua saling berhubungan.
kianaevellyn : Kyaaa... jangan panggil Jongsoo 'oppa' . panggil Eonnie aja, ne. Gomawo..
.
Oiya, JongSoo mau nanya nih. Kalian bingung gak sih sama ff yang JongSoo post dengan cast yang sama?
Maksudnya kan Unperfect Kyungsoo, sama Hidden Love castnya sama nih, nah kalian berasa bingung gak kalo itu fic di post bersamaan?
Soalnya ada yang protes sama Jongsoo kalau dia bingung ama jalan cerita yang cast nya sama, terus di post barengan. Meskipun judulnya beda dia tetep bingung. Terus Jongsoo kudu otoke?
Kalau kalian berasa bingung, mendingan JongSoo hiatus-in salah satunya aja gimana? Ntar ini di selesaikan dulu sampe end, baru yang lain di lanjut.
Gimana?
Saran dong.
Please...
#puppy-eyes
RnR Juseyo... Gomawo...
