HIDDEN LOVE

.

KaiSoo, KaiBaek, ChanSoo

Other Cast

Rate : M

Genre : Angst, Romance

.

Typo(s), abal, alur gaje, Don't like Don't read

.

.

Suasana meriah kembali terdengar disetiap sudut Gereja saat kedua pengatin mempersatukan bibir mereka. Membingkai indahnya sebuah pernikahan dengan satu tindakan mulia didepan Tuhan. Semua orang bersorak, bertepuk tangan, dan mendoakan yang terbaik untuk sang pengantin. Tak ubahnya dengan Kyungsoo. Namja manis itu nampak begitu antusias saat melihat bucket bunga rangkaiannya dilempar kearah kerumunan gadis-gadis belia yang begitu bersemangat.

Ia tertawa lebar ketika bucket bunganya berada ditangan gadis mungil bergaun biru. Gadis cantik dengan senyum mengembang dibibirnya. Kyungsoo menghela napas lega. Setidaknya bucket bunganya bisa memberi sedikit warna pada mereka.

Kai masih terdiam sambil duduk dibangku Gereja. Melihat bagaimana Kyungsoo tersenyum dan tertawa riang dari sana. Ia tidak mengerti mengapa Kyungsoo begitu antusias menonton acara lempar bunga itu. Bukankah acara yang seperti ini hanya ditujukan untuk para gadis?

Kai tersenyum saat melihat mata bulat Kyungsoo berbinar, menampakkan keceriaan yang tak terukur. Sejenak Ia mengingat perkataan namja mungil itu beberapa saat yang lalu. Perkataan yang membuat hatinya bergetar hebat. Ia tidak tahu jika Kyungsoo memiliki sisi pesimis dalam dirinya.

"Kai-ya, kemari" Kyungsoo melambaikan tangan, memberikan gestur pada Kai agar mau mendekat padanya. Namun Kai menggeleng. Ia masih sangat sadar dengan pakaian yang Ia kenakan. Sangat tidak lucu jika semua orang melihatnya berpakaian seperti ini.

Melihat Kai menggeleng akhirnya Kyungsoo lah yang mengalah. Ia berjalan mendekati Kai yang masih duduk manis dibangkunya.

"Kau lelah?" tanya Kai setelah tubuh mungil itu berdiri didepannya. Senyum manis tersungging dari bibir hati Kyungsoo, serta gelengan kecil dari kepalanya menandakan bahwa Ia tidak merasa lelah.

"Kai, sepertinya acara sudah hampir selesai. Jika kau tidak memiliki janji pada siapapun aku akan mentraktirmu cake didepan toko bungaku, otte?" tawaran menggiyurkan dari Kyungsoo. Ya, walau bagaimanapun juga Kai telah membantunya bahkan tanpa banyak bertanya dan protes. Bukankah akan lebih baik jika Kyungsoo menawarkan kebaikan pada orang yang telah menolongnya?

Kai hampir saja mengangguk jika saja ponselnya tidak berbunyi. Astaga! Ia lupa menjemput Jongdae. Pasti bebek itu akan mengeluarkan suara-suara memekakkan jika Ia tidak segera menjemputnya.

"Emm, sebenarnya aku ingin tapi aku masih ada janji setelah ini" tolaknya halus.

Kyungsoo mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

"Bagaimana kalau lain waktu? Aku anggap tawaranmu itu adalah hutang yang harus kau bayar padaku" Kai tersenyum menggoda dan dibalas kekehan kecil dari Kyungsoo.

Kai terpaku, Ia seperti pernah mengenali tawa kecil yang persis sama seperti Kyungsoo. Tapi mana mungkin? Ah, bukan, itu bukan Kyungsoo.

"Baiklah. Aku akan mentraktirmu lain kali" Kyungsoo berucap ketika Kai sudah mulai berdiri dari bangkunya.

"Kita pulang?" Kai menarik lembut tangan mungil Kyungsoo setelah mendapat anggukan dari namja mungil itu.

Entah apa yang dirasakan Kyungsoo, tapi melihat tangannya bertautan dengan tangan Kai membuat hatinya berdebar. Ia menyukai sensasi ini. Tanpa sadar Kyungsoo mengembangkan senyumnya. Merasakan perasaan yang sama seperti beberapa tahun yang lalu.

Kyungsoo mensejajarkan langkah mungilnya dengan Kai. Senyumnya semakin lebar saat Kai menatapnya sambil tersenyum. Jika dilihat, mereka seperti sepasang kekasih, keluar dari Gereja dengan bergandengan tangan, senyum serta candaan-candaan kecil mengiringi langkah mereka. Sadarkah mereka jika Tuhan telah mencatat garis takdir untuk mereka?

.

.

.

"Hyung, dimana Kai?" tanya namja bermata panda setelah Ia mendudukkan dirinya disofa ruang tengah apartemen Baekhyun.

"Dia dirumahnya" jawab Baekhyun lemas.

"Mwo? Rumahnya?" Tao, namja bermata Panda itu mendelikkan matanya tak percaya. Tao tahu jika Kai sudah lama tidak pulang kerumahnya sendiri. Dan tadi apa Baekhyun bilang? Pulang kerumahnya?

"Emm" hanya deheman halus yang keluar dari bibir tipisnya.

Sungguh, Baekhyun merasa sedih. Sudah dua tahun Ia tinggal bersama Kai. Menikmati setiap hari-harinya bersama namja tan itu. Melepaskan kerinduan mereka kapanpun mereka mau. Melakukan berbagai skinship jika mereka tengah berdua, bahkan hampir setiap malam mereka berhubungan intim. Dan sekarang?

Ayolah, Baekhyun memang bukan tipe orang yang suka mengekspresikan perasaan sedihnya pada orang lain. Ia adalah namja ceria. Namun mengetahui Kai meninggalkannya, mau tidak mau namja mungil itu harus menekuk wajah yang biasanya berbinar itu.

Ia memang sengaja tidak menghalagi Kai, toh Kai hanya pulang kerumahnya sendiri. Dan Ia masih bisa bertemu dengan Kai kapanpun Ia mau bukan? Seperti yang dikatakan namjachingunya itu.

"Tapi, kenapa sangat tiba-tiba?" raut penasaran tercetak jelas diwajah panda Tao.

Mendengar pertanyaan itu Baekhyun menghela napas panjang.

"Appa-nya pulang ke Korea. Dan dengan terpaksa Kai harus pulang kerumahnya"

Sejenak Tao berpikir, Appa Kai pulang ke Korea? Bukankah Baekhyun bilang jika Appa Kai punya kenangan buruk di Korea? Akan terasa sangat aneh jika Appanya tiba-tiba pulang ke Korea jika tidak memiliki urusan mendesak.

"Hyung, bukannya aku ingin mengurusi urusan Kai. Tapi apa kau berpikir ini aneh?"

Baekhyun mengerutkan keningnya.

"Aneh?" tanyanya tidak yakin.

"Begini. Kau tahu kan jika keluarga Kim adalah pengusaha terkenal dan sempat memiliki kasus beberapa tahun lalu? Bahkan kasusnya masih sangat membingungkan. Dan jika aku tidak salah, Appa-nya Kai itu adal-"

"Aish...kau ini. Jangan berbicara hal yang tidak-tidak" Baekhyun menghentikan analisa Tao yang belum tentu bisa dipastikan kebenarannya. Ia tidak mau seseorang membicarakan Kai jika mereka tidak begitu mengenal Kai.

Tao mempoutkan bibirnya kesal. Pasalnya Ia sedikit mengetahui seluk beluk keluarga Kim dari Kris. Tapi melihat keadaan sahabatnya yang sangat mengenaskan seperti ini, mau tidak mau Tao harus mengontrol ucapannya. Setidaknya untuk saat ini.

.

.

.

Tangan kokoh itu baru saja meletakkan cangkir kopinya diatas meja. Satu sesapan nyatanya bisa membuat pikirannya lega. Didepannya, duduk seorang wanita cantik yang sangat Ia kenal. Wanita cantik yang akhir-akhir ini menjadi pengisi hatinya yang kosong.

"Kau terlihat lelah" ucap wanita cantik itu lembut.

"Mengurusi bisnis perusahan dengan beberapa klien membuat tubuhku terasa kaku" suara bass dari pria itu sangat menjelaskan betapa lelahnya dia karena pekerjaannya.

"Untuk itu aku sering memperingatkanmu. Jangan bekerja terlalu keras. Kau bisa menyuruh sekertarismu menangani semuanya bukan?" kalimat dari wanita cantik itu membuat prianya terkekeh.

"Aku tidak bisa menyerahkan proyek penting begitu saja pada orang lain"

Ya selalu seperti itu. Yunho memang selalu berkata seperti itu jika Ia memperingatkannya.

"Maafkan aku. Kau pasti merasa direpotkan. Kau harus meninggalkan keponakanmu demi menemaniku" tangan kokoh pria yang bernama Yunho itu mengelus lembut tangan halus milik wanita cantiknya.

"Tidak masalah. Aku sudah memberitahu Kyungsoo tentang kepergianku" wanita itu tersenyum tulus. Seolah memberitahukan bahwa dia benar-benar tidak merasa keberatan.

Sesaat mereka hanya terdiam, menikmati momen yang telah lama tidak mereka rasakan. Hingga suara halus itu kembali terdengar.

"Jadi kau akan pulang kerumahmu hari ini?"

Yang ditanya menghela napas berat sebelum akhirnya Ia mengeluarkan suaranya.

"Ya. Mulai sekarang aku memang harus menetap di Korea. Toh Jongdae sudah bekerja, dan Kai sudah berada di tingkat Universitas. Sudah saatnya mereka belajar menyetir perusahaan" ucapnya tegas.

Yoona, wanita cantik itu hanya tersenyum mendengar perkataan calon suaminya. Ia tahu jika Yunho akan sangat tegas jika itu menyangkut perusahaanya.

"Jadi, apa misimu masih terus berlanjut?" tanya Yonna lagi. Senyum lembut yang tadi terpancar, kini berganti dengan raut serius.

Mendengar pertanyaan itu Yunho menegakkan duduknya. Tangannya yang terpaut dengan tangan lembut Yoona terlepas. Mata tajamnya mengarah keluar jendela seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia kembali menarik napasnya dalam sebelum kalimat yang ditunggu-tunggu keluar dari bibir tebalnya.

"Tentu saja. Sudah saatnya aku menemukan putraku"

.

.

.

Namja tampan berkulit tan itu tengah terduduk dipinggir kasur empuknya. Matanya berkeliling, melihat setiap sudut ruangan bernuansa putih yang telah lama Ia tinggalkan. Letak lemarinya, meja nakasnya, sofa berwarna krem nya, semua masih sama. Ia tersenyum tipis saat menemukan sebuah pigura foto diatas meja nakas. Tangan kananya Ia angkat untuk menyentuh bingkai foto itu.

"Apa yang sedang kau lakukan disana, em?" Kai mengelus lembut foto yang terpampang disana. Matanya terasa panas, namun sekuat tenaga Ia menahannya. Itu terjadi sudah sangat lama, namun setiap kali Kai menatap bingkai foto ini rasanya air matanya selalu ingin mengalir.

"Apa kau bahagia?" nadanya bergetar. Ia tahu jika ini salah, selalu mengingat masalalu tidak akan bisa merubah kenyataan apapun.

"Aku merindukanmu, kau tahu?" Kai memeluk bingkai foto itu. Memejamkan mata tajamnya untuk sekedar menikmati perasaan rindunya yang mendalam.

"Aku harap kau baik-baik saja"

Tes

"Dia pasti baik-baik saja" suara itu menghentikan monolognya. Segera Kai menghapus air mata yang telah menetes dikedua pipinya.

Sedangkan yang baru saja memergoki Ia menangis hanya bisa menghela napas berat. Ia sudah sangat sering melihat Kai seperti ini jika berada dirumah. Bahkan Ia sangat hapal dengan apapun yang adiknya ini lakukan. Kenangan-kenangan masalalu yang membuatnya terpuruk menjadikan pukulan tersendiri untuk Jongdae. Ya, sebagai kakak, Jongdae berusaha mendukung dan melindungi Kai. Meskipun itu tidak terlalu terlihat, namun semua tindakan yang Ia tunjukan pada Kai akan selalu terlihat jelas.

"Aku merindukannya, hyung" lirihnya.

Bukan hanya Kai, bahkan dirinya juga merasakan hal yang sama. Ia mendekat kearah Kai, menepuk bahu tegap adiknya itu pelan. Memberikan kekuatan padanya.

Jongdae memiliki umur 4 tahun lebih tua dari Kai, maka dari itu Ia tahu jelas masalalu yang menyakitkan itu. Bahkan setiap detilenya ia ingat.

"Dia sudah pergi, Kai-ya"

"Tapi dia belum mati, hyung. Aku pasti bisa menemukannya" suara Kai terdengar bergetar kembali. Jongdae kembali menghela napasnya berat. Selalu seperti ini.

"Kita akan mencai sama-sama" perkataan itu membuat Kai mendongakkan wajahnya. Ia kaget, pasalnya selama ini Jongdae yang selalu menyuruhnya untuk melupakan seseorang itu. Tapi mengapa sekarang ia mengatakan ingin mencarinya sama-sama?

"Kau serius?" tanyanya ragu.

"Meskipun aku sibuk, tidak apalah aku membatu si hitam ini. Toh aku tidak akan tertular penyakit hitamnya" muncullah ucapan jahil dari Jongdae yang membuat Kai memberenggut.

"Yak! bebek! Kau berniat membantuku tidak?" Kai memelototkan matanya.

"Aish, memangnya kau pernah melihatku berbohong, hah?" Jongdae mengeplak pelan kepala Kai.

"Bagaimana caranya kita menemukannya?" Kai bertanya sambil kembali melihat bingkai foto itu.

"Biar itu menjadi urusanku. Kau kuliah saja yang serius. Buktikan pada Appa kalau kita masih layak memilikinya kembali" tegas. Kalimat dari Jongdae yang seperti ini bisa membuat Kai tersenyum. Ia hafal, jika Jongdae sudah menunjukkan nada tegas padanya itu artinya Jongdae benar-benar serius dengan perkatannya.

.

.

.

Namja mungil itu tengah berdiri disebuah lorong sepi di Rumah Sakit. Lorong dimana Ia bertemu dengan dokter magang yang mengajaknya membeli es krim kemarin. Setelah Kai mengantarnya pulang, Ia baru ingat jika memiliki janji dengan Chanyeol. Untuk itu Ia segera menuju Rumah Sakit ini untuk menemui namja tiang listrik itu.

"Kau sudah datang?" sebuah suara berat menginterupsi pendengarannya. Segera Ia menolehkan pandangan pada sosok yang memang sedang Ia tunggu.

Kyungsoo tersenyum membalas senyum lebar dari Chanyeol. Ia melihat jika namja itu terlihat sangat bersemangat. Kyungsoo menganggukkan kepalanya pelan, cukup untuk menjawab pertanyaan Chanyeol.

"Kita keruanganku sebentar. Masih ada beberapa hal yang harus aku urus" Kyungsoo mengangguk. Ia tahu jika dokter magang seperti Chanyeol pasti memiliki banyak kesibukan. Bahkan dihari minggu seperti ini saja Chanyeol tetap berada di Rumah Sakit.

Chanyeol berjalan pelan menuju kesebuah ruangan disalah satu sudut Rumah Sakit. Ia tahu jika Kyungsoo mengikutinya dari belakang. Mengingat postur tubuh Kyungsoo yang kecil dengan kaki pendeknya, Chanyeol berinisiatif untuk berhenti dan menunggu hingga Kyungsoo berjalan disampingnya.

"Apa langkahku begitu lebar?" Chanyeol membuka suara setelah beberapa waktu mereka hanya terdiam. Tentu saja, mereka bahkan baru kenal kemarin dan sekarang mereka berjalan berdua seperti ini membuat perasaan canggung itu hadir ditengah-tengah mereka.

"Um..kau memiliki kaki panjang. Aku tertinggal dibelakang" Kyungsoo mempoutkan bibirnya lucu.

Chanyeol terkekeh. Ia tidak menyangka jika Kyungsoo bisa semanis ini bahkan jika sedang manyun seperti itu.

"Kau harus sering minum susu, Kyungsoo-ssi" goda Chanyeol sambil melirik Kyungsoo yang tengah berjalan disebelahnya.

"Aku sering minum susu, tapi memang kakiku saja yang tidak mau tumbuh" dan pernyataan itu membuat Chanyeol tertawa lebar.

"Bhahaha..."

"Yak! Kenapa tertawa?" Kyungsoo menghentikan langkahnya dan memandang Chanyeol kesal. Belum apa-apa dan Chanyeol sudah membuatnya kesal. Yang benar saja.

"Kau bilang kakimu tidak tumbuh? Hahaha...itu sangat lucu, Kyungsoo-ssi" Chanyeol menepuk-nepuk kepala Kyungsoo pelan. Membuat namja bermata bulat itu merona sebentar.

"Aish...kau sama saja dengan Ahjumma ku" Kyungsoo semakin memberenggut.

Melihat itu, Chanyeol berusaha menetralisis tawanya. Meskipun sedikit sulit, tapi akhirnya Ia berhasil menghentikan tawanya.

"Kau memiliki Ahjumma?" Chanyeol bertanya sambil membuka pintu ruangan pribadinya. Ya, tadi Ia menghentikan langkahnya tepat didepan ruangannya sendiri.

"Begitulah" Kyungsoo mendudukkan dirinya diatas sofa empuk yang berada di ruangan Chanyeol. Sebenarnya Kyungsoo sedikit merasa aneh. Bukankah Chanyeol bilang jika dia hanya Dokter magang? Tapi kenapa ruangannya seperti ini?

"Chanyeol-ssi" Kyungsoo memanggil Chanyeol dengan mata yang masih berkeliling disetiap sudut ruangan. Memperhatikan detile ruangan yang menurutnya berbeda itu.

"Ne?" Chanyeol menyaut dari balik meja keranya.

"Apa semua Dokter magang memiliki ruangan semacam ini? Maksudku bukankah ini terlalu pribadi jika untuk seorang Dokter magang" Kyungsoo bertanya dengan polosnya. Chanyeol tersenyum dengan pertanyaan itu.

"Aku memang masih magang disini. Tapi aku juga anak pemilik Rumah Sakit ini"

Penjelasan dari Chanyeol membuat Kyungsoo melebarkan matanya. Ia kaget, tentu saja. Itu artinya Ia sedang berbicara dengan calon pemilik Rumah Sakit terbesar di Korea. Bukankah itu kejadian langka?

"Apa itu berarti aku sedang berbicara dengan calon pengusaha kaya di Korea?" Kyungsoo berdiri dan berjalan mendekat ke meja Chanyeol. Mata bulatnya tak pernah berhenti memandang kagum sosok Chanyeol yang terlihat sangat berkilau secara tiba-tiba.

"Kau berlebihan, Kyungsoo-ssi" Chanyeol merendahkan dirinya.

"Aish, kau terlalu merendah, Chanyeol-ssi. Aku tahu siapa itu Tuan dan Nyonya Park. Pengusaha yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Mereka juga terkenal dengan sikap ramahnya. Dan sekarang?-" Kyungsoo memegang lengan Chanyeol seduktif, membuat Chanyeol mengerutkan keningnya bingung.

"-benarkah aku sedang berada didepan Putra dari Tuan dan Nyonya Park? Oh, astaga!" Kyungsoo membungkam mulutnya dengan kedua tangan mungilnya.

"Jangan seperti itu. Kau tidak tahu saja bagaimana sifat Appa dan Eommaku yang sebenarnya" Chanyeol menatap lekat mata bulat Kyungsoo. Kini giliran Kyungsoo yang mengerutkan keningnya bingung.

"Appaku tidak seramah yang orang-orang pikirkan, Kyungsoo-ssi. Dia orang yang sangat keras. Sedangkan Eommaku, dia memiliki ambisi yang tinggi terhadap sesuatu" entah mengapa Chanyeol merasa jika Kyungsoo memiliki daya magnet yang kuat. Sebelum ini Chanyeol tidak pernah menceritakan apapun tentang dirinya maupun tentang keluarganya kepada siapapun. Bahkan pada sahabatnya Jongdae.

"Bukankah itu wajar jika para orang tua memiliki sikap yang seperti itu?" Chanyeol memandang lekat wajah Kyungsoo yang sedang berdiri didepannya ini. Rasanya setiap perkataan dari namja mungil ini mampu membuatnya tenang sekaligus penasaran.

"Menurutmu begitu?" Kyungsoo mengangguk kuat atas pertanyaan Chanyeol.

"Seharusnya kau bersyukur karena kau masih memiliki orang tua. Mereka melakukan itu karena mereka menyayangimu, Chanyeol-sii" Kyungsoo tersenyum tulus.

"Apa orang tuamu juga seperti itu?"

Deg

Pertanyaan Chanyeol membuat tubuh Kyungsoo menegang. Bahkan Ia lupa bagaimana rasanya memiliki orang tua.

Melihat perubahan raut muka dari Kyungsoo, Chanyeol sempat salah tingkah. Tentu saja, setelah perkataan yang menenangkan dari bibirnya, sekarang Kyungsoo malah hanya terdiam dan menatapnya kosong.

"Kyungsoo-sii, kau baik-baik saja?" Chanyeol berdiri dari duduknya. Menatap lekat wajah Kyungsoo yang masih tak menunukkan ekspresinya.

"Aku bahkan lupa bagaimana rasanya memiliki orang tua" nada bicara Kyungsoo bergetar. Chanyeol mengerti sekarang, ternyata karena alasan itu Kyungsoo merubah ekspresinya sangat drastis.

"Maafkan aku" Chanyeol menatap lekat wajah Kyungsoo. Dan Kyungsoo membalasnya dengan senyum lembut.

"Tidak apa-apa. Itu sudah sangat lama, Chnayeol-ssi. Mereka meninggal saat aku masih kecil. Ah, lebih tepatnya semenjak perceraian mereka" tanpa diduga Kyungsoo menceritakan sedikit masalalunya.

Chanyeol mendengarkan cerita Kyungsoo dengan baik setelah menuntun tubuh mungil Kyungsoo duduk nyaman disofa. Ia masih menatap lekat mata bulat yang kini terlihat sendu itu. Mencoba ikut merasakan apa yang dirasakan Kyungsoo.

"Saat itu aku masih kecil. Mereka bertengkar hebat. Yang aku ingat hanya Eomma yang menggendongku keluar dari rumah megah itu" Kyungsoo mulai menitikkan air matanya. Chanyeol mengelus pelan tangan mungil Kyungsoo yang bergetar. Ia tahu jika masalalu Kyungsoo sangat menyakitkan untuknya. Tapi Chanyeol tidak berniat menghentikannya. Ia hanya mencoba membantu Kyungsoo meluapkan kesedihan yang selama ini Ia pendam.

"Kami mulai hidup berdua hingga aku masuk sekolah dasar. Sampai pada saat itu Eomma..." Kyungsoo merasakan sesak didadanya. Ia tidak bisa menahan isakan yang akhirnya keluar dari bibir hatinya.

Melihat itu Chanyeol segera merengkuh tubuh mungil Kyungsoo kedalam pelukannya. Ia juga ikut merasa sakit melihat Kyungsoo seperti ini. Ia juga ikut merasakan kesedihan sama seperti yang Kyungsoo rasakan. Ia tahu jika Ia dan Kyungsoo belum kenal lama, tapi perasaan aneh ini seperti menyatukannya pada Kyungsoo.

Kyungsoo bergetar tanpa isakan didalam dekapan hangat Chanyeol. Ia merasa tenang setelah Chanyeol mengelus lembut kepalanya. Ia tahu ini salah. Menceritakan sesuatu yang sudah lama Ia pendam sendirian..

"Maafkan aku, Chanyeol-ssi. Tidak seharusnya aku bercerita padamu" nada Kyungsoo masih bergetar.

Sebenarnya Chanyeol sedikit mengulas senyumnya saat ini. Tidak bisa Ia pungkiri jika Ia merasa senang sekarang. Kyungsoo berada dipelukannya. Kenyataan ini membuat dadanya berdetak cepat. Perasaan berdesir hebat. Dan ia yakin, bahwa Ia telah jatuh pada pesona Kyungsoo. Jatuh cinta hanya dalam hitungan jam. Bukankah ini lucu? Tapi itulah kenyataannya.

Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya saat tubuh Kyungsoo semakin bergetar. Memberikan kenyamanan dan ketenangan untuk namja mungil ini. Ia meletakkan dagunya dipuncak kepala Kyungsoo. Menghirup wangi alami rambut Kyungsoo. Ahh, Chanyeol menyukai saat seperti ini.

Tes

Chanyeol merasakan hangat didadanya. Mungkin Kyungsoo mengeluarkan air matanya terlalu banyak, begitu pikirnya. Hingga Ia merasakan tangan mungil Kyungsoo terangkat untuk menutup hidungnya. Sesaat Chanyeol merasa curiga dengan sikap Kyungsoo. Chanyeol mencoba memberikan jarak untuk mereka hingga akhirnya Ia melihat keadaan Kyungsoo yang sudah berlumuran darah.

"Kyungsoo! Apa yang terjadi?" Chanyeol panik. Ia melihat begitu banyak darah yang keluar dari hidung Kyungsoo hingga merembes kekemejanya.

Kyungsoo hanya terdiam. Ia juga panik. Bagaimana bisa disaat seperti ini darahnya selalu keluar? Ia hanya bisa menunduk sambil memegangi hidungnya dengan tangan mungilnya.

Chanyeol tak tinggal diam, Ia segera berdiri dan meraih tisu yang ada dimeja kerjanya. Mmbantu Kyungsoo mengelap darah itu hingga bersih. Chanyeol memelintirkan tisu untuk menyumbat laju darah dari hidungnya.

"Jangan menunduk. Angkat kepalamu" Kyungsoo hanya bisa menurut saat tangan Chanyeol dengan telaten menyumpalkan tisu pada hidungnya.

"Apa kau kelelahan?" tanya Chanyeol saat darahnya tidak lagi keluar dari hidung Kyungsoo.

Mendapat pertanyaan itu Kyungsoo menggeleng pelan. Ia masih takut membuka mulutnya sekedar untuk berkata 'tidak'.

Mata Chanyeol memicing saat Kyungsoo menggeleng. Jika Kyungsoo tidak kelelahan, bagaimana mungkin Ia bisa mimisan? Sejenak Chanyeol terdiam sambil menatap wajah Kyungsoo yang memerah. Kemudian Ia ingat dengan obat yang ditebus Kyungsoo kemarin. Ya, pasti itu ada hubungannya dengan penyakit Kyungsoo.

"Aku harus memeriksamu, Kyungsoo-ssi" Chanyeol masih akan menarik tangan Kyungsoo sebelum suara serak itu menghentikannya.

"Tidak! Tidak perlu, Chanyeol-ssi" tolaknya halus.

"Tapi ini tidak baik jika kau mimisan, Kyungsoo-ssi"

"Aku sungguh tidak apa-apa Chanyeol-ssi. Kau tidak usah panik seperti itu" Kyungsoo memberikan senyumannya untuk meyakinkah Chanyeol.

"Tapi kau ha-"

"Aku tidak apa-apa!" tegas "Aku akan kekamar mandi sebentar untuk mencuci tangan" lanjutnya lagi.

Sementara Chanyeol hanya bisa menatap punggung Kyungsoo yang menghilang dibalik pintu. Ia yakin jika Kyungsoo sakit. Tapi kenapa hal itu tidak tertulis di...

Deg

Chanyeol ingat dengan berkas yang Ia periksa beberapa hari lalu. Dengan segera Chanyeol berdiri dan mendekati meja kerjanya. Tangannya bergerak cepat untuk mencari berkas-berkas itu. Matanya berbinar saat ia menemukan berkas yang Ia cari.

Chanyeol mulai menelusuri kembali berkas-berkas itu mulai dari halaman depan. Ia terus meneliti apakah Ia sempat salah baca. Dan benar saja, dilembar ketiga Ia menemukan keterangan yang sangat mengejutkan. Mata Chanyeol membulat saat mengetahui keterangan yang membuat jantungnya seakan didobrak benda tumpul.

"Ini...tidak mungkin" hampa. Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya terasa hampa. Matanya kembali membaca keteranga-keterangan itu, meyakinkan dirinya bahwa yang Ia baca adalah salah. Namun kenyataan tidak bisa berbohong.

"Aku tidak percaya"

.

.

.

Matahari terasa hangat menyentuh kulit. Udara sejuk serta awan yang cerah seakan memberikan semangat dipagi ini. Disebuah rumah megah, terlihat dua bersaudara yang tengah menikmati acara sarapan mereka. Diseberang mereka, ada seorang pria berbadan tegap yang diam-diam melirik setiap pergerakan yang mereka ciptakan.

"Appa tidak perlu menatap kami seperti itu" ucap namja berkulit tan itu secara tiba-tiba.

Mendengar itu, pria yang dipanggil Appa menghentikan acara menyendok nasi gorengnya. Ia mengambil gelas yang berisi air putih untuk kemudian diteguknya hingga setengah.

"Kau merasa risih ditatap Appa seperti ini?" tanya pria itu sambil meletakkan gelasnya kemeja makan.

"Hanya tidak suka" jawab namja itu singkat.

Kai, namja berkulit tan itu kembali melanjutkan sarapannya. Tapi pria yang disebut Appa olehnya itu tahu jika putranya masih memendam kemarahan padanya.

"Kau bekerja hingga larut hari ini, Jongdae?" mata pria itu menatap putra pertamanya yang seolah menulikan pembicaraannya dengan Kai barusan.

"Ya" singkat

Yunho, hanya mengehela napasnya berat. Ia tahu jika kedua putranya masih memiliki dendam dan kebencian padanya. Tapi bagaimanapun juga Ia harus berusaha mengontrol emosinya. Ia sadar betul jika keadaan keluarga mereka yang berantakan adalah akibat dari kesalahannya. Dan Ia juga sadar jika nantinya perusahaan akan diurus oleh Jongdae dan Kai. Oleh sebab itu Yunho mencoba mengalah. Demi keakraban yang harus mereka jaga.

"Appa pulang bukan tanpa alasan" Yunho kembali membuka suaranya tapi Jongdae maupun Kai tidak ada yang berniat menatapnya.

"Appa akan kembali menyetir bisnis kita di Korea. Dan kalian harus mulai mempelajari dunia perbisnisan untuk meneruskan perusahaan kita"

Sontak saja perkataan itu membuat mata Jongdae mendelik tak suka. Apa Appa nya ini buta? Jongdae sudah menjadi dokter tetap disebuah Rumah Sakit, dan tadi dia bilang harus mempelajari dunia perbisnisan? Yang benar saja.

"Aku tidak akan mempelajarinya" tegas Jongdae.

"Kau keberatan?" tanya Yunho datar

Jongdae menghentikan acara makannya. Mata tajamnya menatap lekat manik mata milik sang Appa.

"Tentu saja. Aku sudah menjadi Dokter tetap di Rumah Sakit. Aku tidak akan meninggalkan pekerjaanku hanya demi perusahaan kesayangan Appa itu" tegasnya. Dan itu membuat Yunho kembali menghela napasnya berat.

"Appa minta maaf jika kejadian waktu itu melukai hati kalian"

"Percuma Appa minta maaf sekarang. Bahkan kau tidak pernah mengijinkan kami bertemu Eomma" ucap Kai. Sangat terlihat raut kekecewaan disana.

"Itu untuk kebaikan kalian"

"Kebaikan? Apa memisahkan anak dari Eommanya adalah sebuah kebaikan? Bahkan kami tidak tahu apa Eomma kami masih hidup atau tidak" Kai berbicara dengan senyum remeh dibibirnya. Beruntung Jongdae segera memegang lengan Kai agar dia tidak lepas kontrol.

"Sudahlah Appa, jika Appa ingin mengurus perusahaan jangan libatkan kami. Itu perusahaan Appa, bukan perusahaan kami" setelah mengucapkan kalimat itu Jongdae berdiri dari kursinya. Menenteng tas kerjanya kemudian berlalu pergi.

Yunho hanya terdiam menatap kepergian putra pertamanya itu.

"Selama ini Appa tidak pernah pulang dan mengurus kami. Dan sekarang demi perusahaan kau memohon pada kami? Aku tidak akan sudi"

Kai menekankan disetiap kalimatnya. Ia menatap tajam pada Yunho sebelum Ia juga beranak pergi meninggalkan ruang makan.

Yunho mengusak wajahnya kasar. Ia tahu kedua putranya bersikap seperti ini karena kesalahannya sendiri. Ia sadar itu.

"Haruskah aku meberitahu mereka" ucapnya lemah

.

.

.

Keadaan kampus sangat ramai hari ini. Para yeoja terlihat sedang berlarian menuju kesebuah lapangan basket. Mereka berteriak dan bersorak antusias. Menikmati setiap permainan dari tim basket kampus yang sedang berlatih. Anggota tim basket yang tampan dan seksi yang membuat mereka berteriak seperti itu.

Tak ubahnya dengan sosok mungil bermata sipit yang juga tak kalah heboh meneriakkan nama namja berkulit tan yang tengah bermain dengan semangat ditengah lapangan. Disebelah kanannya, namja bermata panda juga terlihat riang meneriakkan nama Gege kesayangannya. Sedangkan disebelah kirinya namja bermata rusa tengah membawa sebuah pom-pom untuk menyemangati ice prince nya.

Kai, namja berkulit tan itu nampak semangat menggiring dan mendriblle bola. Ia mengoper bolanya pada Kris yang terkenal dengan serangan mautnya. Belum sempat Kris melemparkankan bolanya, Chanyeol berlari mendekat untuk merebutnya.

Sret!

Dapat!

Chanyeol tersenyum singkat saat bola yang tadinya berada ditangan Kris kini beralih ketangannya. Matanya yang awas melirik kearah Sehun yang lebih dekat dengan ring. Mengerti kode yang diberikan Chanyeol, dengan segera Sehun bersiap memposisikan tubuhnya mendekat pada ring. Setelah lemparan bola dari Chanyeo mendarat tepat ditangannya, Sehun bersiap melempar bolanya ke ring dan...

Masuk!

"Yeaayyy!" Luhan, namja bermata sipit itu bersorak kegirangan. Sedangkan dua namja disebelahnya terlihat mempoutkan bibirnya.

"Sudah aku bilang bukan, jika Sehunku lebih hebat dari si kkamong dan galaxy kalian" Luhan mengangkat dagu, menyombongkan ice prince-nya.

"Ish, ini masih awalnya saja Lu. Kita lihat nanti siapa yang menang" Baekhyun menyenggol lengan Tao meminta pembelaan.

"Benar. Bahkan bisa dibilang ini masih permulaan" Tao melirikkan matanya pada Kris kemudian melambaikan tangannya semangat.

Melihat itu Luhan hanya mengedikkan bahunya tak mau tahu. Yang terlihat dimata rusanya hanya Sehun seorang.

Sementara disisi lain namja bermata bulat tengah kesulitan membawa setumpuk buku ditangannya. Tidak tanggung-tanggung, buku yang Ia bawa sangat banyak dan tebal. Sepertinya Lee seonsaenim sedang memberinya hukuman atas ketidak ikut sertaannya dikelasnya waktu itu.

"Aish...kenapa Lee seonsaenim tega sekali padaku" gerutunya disela-sela teriakan heboh para yeoja dipinggir lapangan basket. Tak menghiraukan apa yang terjadi, Kyungsoo-namja bermata bulat itu terus saja berjalan melewati mereka hingga tanpa sengaja sebuah bola basket melayang tepat mengenai tumpukan buku yang sedang Ia bawa.

BUGH!

Bruuk!

"Aish! Bola sialan!" Kyungsoo mengumpat pada bola yang sudah menggelinding jauh dari tempatnya berdiri.

Mata bulatnya menatap nanar buku-buku tebal yang berserakan dilantai. Oh, ayolah. Apa sekarang Ia harus memunguti buku-buku tebal ini sendirian?

Kyungsoo menunduk untuk memunguti buku-bukunya kembali, saat Ia mengambil buku yang paling tebal dua pasang tangan juga bersamaan memegangnya.

Mata bulat Kyungsoo menatap kedepan, menatap pada dua orang yang secara bersamaan membantunya. Seketika matanya membulat mengetahui siapa orang yang tengah berjongkok didepannya.

"K-Kai...Chanyeol-ssi?" ucapnya tergagap

Sedangkan yang dipanggil masih bertatapan satu sama lain. Kai tidak menyangka jika Chanyeol mengenal Kyungsoo. Begitupun Chanyeol, Ia tidak menyangka jika Kai mengenal Kyungsoo.

"Kalian saling mengenal?" ucap Kai dan Chanyeol bersamaan, membuat mata bulat Kyungsoo semakin membulat. Sungguh, Ia tak menyangka jika kedua namja yang baru Ia kenal ternyata adalah teman.

Untuk beberapa detik waktu terasa berhenti. Posisi mereka yang masih berjongkok mengundang perhatian seluruh manusia yang berada disana. Tak ubahnya dengan ketiga namja manis yang masih menatap mereka dengan tatapan bingung. Hingga satu suara lembut membuyarkan pikiran dikepala mereka masing-masing.

"Kai"

Deg

Baekhyun...

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

Oke, sebelumnya JongSoo mau minta maaf nih sama readers yang protes khekhekhe... maaf kan saya karena di cuap-cuap chap 3 kemaren pemilihan kata saya salah. Seharusnya 'saran' tapi saya nulis 'protes'. Dan saya sama sekali tidak mempermasalahkan saran dari kamu chingu-ya. Saya hanya galau dengan saranmu. Apa bener kalian bingung sama fic saya? Sedih rasanya kalau kita buat fic sepenuh hati, tapi kalian bingung sama ceritanya. Maka dari itu, chap 3 kemarin saya meminta pendapat. Tapi terimakasih dokydo91 karena kamu sudah memberikan saran sama JongSoo, aahh...JongSoo jadi merasa diperhatikan. Sini peluk XOXO *lhoh?

Saya memutuskan untuk tidak menghiatuskan cerita manapun, tapi Update nya mungkin gak akan bisa tertebak, bisa cepet (kaya sekarang) bisa juga lama (kaya Unperfect Kyungsoo). Saya lagi sakit dan gak bisa lama-lama berada didepan laptop. Jadi mohon dimaklumi saja, ne...

Maafkan JongSoo yang hanya manusia biasa ini. Terakhir, Happy Reading... RnR Juseyoo...