HIDDEN LOVE
.
KaiSoo, KaiBaek, ChanSoo
Other Cast
Rate : M
Genre : Drama, Romance
.
Typo(s), abal, alur gaje, Peringatan keras: Don't like Don't read
.
.
.
Sebelumnya saya mengingatkan untuk readers, jika kalian tidak menyukai fic karya saya lebih baik jangan dibaca. Saya cukup dewasa untuk tidak membalas perkataan apapun yang menjelekkan saya. Jadi untuk anda akun 'gg', yang mengatakan saya sampah, saya goblok, saya najis, gak waras atau apapun itu, saya mohon dengan sangat, lebih baik JANGAN BACA fic saya!
Saya share karya saya di FFN 'hanya untuk hiburan' semata, tanpa bermaksud menjelekkan bias saya atau siapapun. Berfikir dewasa jika anda reader baik, karena disini yang Kaisoo fanatik bukan cuma saya saja. Terimakasih...
.
.
.
Untuk beberapa detik waktu terasa berhenti. Posisi mereka yang masih berjongkok mengundang perhatian seluruh manusia yang berada disana. Tak ubahnya dengan ketiga namja manis yang masih menatap mereka dengan tatapan bingung. Hingga satu suara lembut membuyarkan pikiran dikepala mereka masing-masing.
"Kai"
Deg
Baekhyun...
.
.
.
Manik mata milik Kai bergerak-gerak, menandakan bahwa namja tampan itu tengah gugup. Entah apa yang membuatnya seperti itu, tapi mengingat Kyungsoo dan Baekhyun membuat pikirannya terpecah. Kyungsoo, namja manis yang telah membuatnya terjatuh dalam pesona polosnya. Sedangkan Baekhyun namjachingu yang menemaninya dalam dua tahun ini. Belum lagi Chanyeol? Mengapa Chanyeol menatap Kyungsoo seperti itu?
"Mian karena membuat bukumu terjatuh" kalimat dari Chanyeol menyadarkan lamunan mereka.
Kyungsoo yang masih menatap kedua namja dengan mata bulatnya itu sontak menunduk memperhatikan buku-bukunya yang sudah berada ditangan Chanyeol. Dengan segera Kyungsoo menerima buku-buku itu.
"Tidak apa-apa" Kyungsoo membalas perkataan Chanyeol dengan senyum yang dipaksakan.
"Kai" panggilan dari suara lembut itu lagi. Yang dipanggil mendongak, mendapati namja manis yang menunjukkan raut muka bingung.
Kyungsoo memperhatikan pandangan antara Kai dan namja bermata sipit yang tak Ia kenal itu. Entahlah, dia merasa aneh dengan pandangan mereka.
Kyungsoo menegakkan tubuhnya disusul Kai dan Chanyeol saat Baekhyun telah berada didepan mereka. Ia memeluk erat buku-bukunya saat tatapannya bertemu dengan manik mata Baekhyun. Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, apalagi saat tangan mungil Baekhyun meraih lengan kokoh milik Kai. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tidak menyukai interaksi mereka.
"Kau baik-baik saja?" Chanyeol bertanya pada Kyungsoo karena namja manis itu hanya terdiam.
Kyungsoo tersadar dari petualangan pikirannya sendiri. Ia kembali menatap Chanyeol yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.
"Ne, aku tidak apa-apa, Chanyeol-ssi" lagi Kyungsoo tersenyum kikuk.
Melihat Chanyeol begitu menghawatirkan Kyungsoo membuat Kai menegang. Sungguh, rasanya tidak rela melihat Kyungsoo tersenyum pada Chanyeol. Tapi Ia bisa apa, bahkan untuk menyapa Kyungsoo saja Ia tak bisa. Ia masih sangat menghormati Baekhyun sebagai kekasihnya. Namun ada perasaan mengganjal saat melihat Kyungsoo akrab dengan Chanyeol. Sebenarnya sejak kapan Chanyeol mengenal Kyungsoo? mengapa mereka terlihat sangat dekat?
"Yak! Apa kalian tidak berniat mengambil bolanya!" teriakkan menggema dari ketua tim basket mengagetkan manusia yang tengah berkumpul itu.
Kris, sang ketua tim basket terlihat berdecih kesal. Sudah hampir 10 menit Ia dan yang lain menunggu bola yang akan diambil Kai dan Chanyeol, tapi sepertinya reuni dadakan diseberang sana membuat emosinya terpancing juga.
"Aish, dia cerewet sekali" Chanyeol bergumam lirih membuat Kyungsoo menahan tawanya. Lagi, Kai merasa risih dengan hal itu.
"Baiklah Kyungsoo-ssi. Aku melanjutkan latihan dulu. Kau berhati-hatilah" Chanyeol mengusak pelan helaian rambut halus milik Kyungsoo sebelum Ia melangkah untuk mengambil bola basket yang tadi menggelinding tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sedangkan Kai, Ia masih saja terpaku dengan Baekhyun yang setia berada disampingnya. Ia memanas melihat Kyungsoo merona karena sentuhan Chanyeol. Ia ingin memperlakukan Kyungsoo seperti itu juga, tapi Ia tidak bisa.
"Ehem...Kai-ya. Kau tidak ingin kembali berlatih?" Baekhyun menggoyang kecil lengan Kai karena namjachingunya itu tidak juga bergerak dari posisinya.
Kyungsoo melihatnya. Ia melihat bagaimana Baekhyun memegang lembut lengan Kai. Ia juga melihat tatapan dari Baekhyun yang lebih untuk Kai. Siapa namja bermata sipit ini? Apa dia namjachingu Kai? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu berputar-putar dikepalanya.
"Ah, ne. Aku akan kembali berlatih" Kai tersenyum singkat kearah Baekhyun kemudian berjalan kembali kelapangan setelah menatap Kyungsoo sesaat. Tatapan yang sulit diartikan menurutnya.
"Mianhamnida. Mereka terkadang bermain terlalu semangat" Baekhyun mengeluarkan suara lembutnya menyadarkan Kyungsoo yang sedari tadi menatap punggung Kai.
"Gwenchanayo" Kyungsoo tersenyum tipis membalas perkataan Baekhyun.
"Baiklah. Aku permisi, ne? Um..."
"Kyungsoo. Do Kyungsoo imnida" Kyungsoo segera menyebutkan namanya saat namja yang tak kalah mungil didepannya ini memberi kode pada Kyungsoo.
"Ahh ne. Aku permisi Kyungsoo-ssi" Baekhyun tersenyum singkat sebelum Ia melangkahkan kakinya meninggalkan Kyungsoo untuk kembali bersama Luhan dan Tao.
Namun sepeninggal Baekhyun, Kyungsoo masih berada diposisinya. Mengamati sekelompok namja tinggi dengan bola berwarna orange yang menjadi objek perebutan. Mata bulatnya hanya menatap satu orang. Satu orang yang telah membuatnya kecewa hari ini.
Mengapa Kai tidak menyapanya?
.
.
.
"Ada informasi baru?" pertanyaan sama yang selalu muncul dari belahan bibir pria yang masih terlihat tampan meskipun usianya telah kepala 4.
"Ada satu titik terang yang mungkin akan membawa kita pada tujuan awal, Direktur" jawab sosok pria yang lebih muda darinya.
Tubuh pria yang dipanggil Direktur itu menegang sesaat. Posisinya yang menghadap ke jendela kaca kantor berhasil menyembunyikan ekpresi terkejut diwajah tampannya.
"Apa dia masih hidup?" tanyanya sambil membalikkan badan. Menatap lekat mata pemuda yang memiliki kemampuan hebat dalam bidang penyelidikan.
"Dia masih hidup, Direktur. Bahkan dia juga tinggal di Korea. Ada beberapa riwayat yang sedikit membingungkan, untuk itu saya akan menyelidiki ini lebih lanjut untuk memastikan" jawab pemuda itu dengan yakin.
Kim Yunho, pria yang dipanggil Direktur oleh orang-orang dikantor itu sedikit mengulas senyumnya. Ya, setidaknya pencariannya selama 3 tahun belakangan ini tidak sia-sia. Ia masih memiliki harapan untuk menemukan putranya kembali.
"Cari tahu semua tentangnya, Ilhoon. Segera hubungi aku jika kau mendapatkan informasi penting darinya" pemuda yang dipanggil Ilhoon itu menunduk untuk kemudian melangkah pergi dari ruangan Direktur utama Kim Group.
"Setidaknya dengan begini aku bisa menebus kesalahanku" lirihnya yang bahkan hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar desisanya.
.
.
.
Sebuah nampan dengan nasi dan sub kimci terasa menggoda diwaktu yang melelahkan seperti ini. Banyak dari mahasiswa yang memilih memenuhi kantin kampus hanya untuk sekedar mengisi perut mereka setelah seharian berkutat dengan buku dan celotehan dari dosen pengajar. Hal itu tak ubahnya dengan namja bermata bulat yang tengah duduk disalah satu bangku dipojok kantin. Berkali-kali Ia menghela napas berat ketika menatap nampan makannya. Ia lapar, tapi rasanya hambar ketika nafsu makan menghilang. Penyebabnya tentu saja namja berkulit tan yang sedari tadi berputar-putar dikepalanya.
"Sedang memikirkan sesuatu?" Kyungsoo terhenyak ketika tiba-tiba namja bertubuh tinggi duduk disebelahnya.
"Chanyeol-ssi" yang dipanggil hanya terkekeh. Ia gemas melihat ekspresi kaget Kyungsoo. Lihat saja mata bulatnya itu.
"Apa aku mengganggumu, Kyungsoo-ssi?" tanya Chanyeol sambil membenarkan posisi duduknya.
Kyungsoo yang masih kaget hanya mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menggeleng pelan.
"Kau sangat lucu" Chanyeol mengusak pelan helaian rambut Kyungsoo membuat namja manis itu semakin bingung dengan sikap Chanyeol. Sebelumnya memang belum ada yang berani mendekatinya. Ingat bukan sifat Kyungsoo yang pendiam. Bahkan terkesan menyeramkan dengan bola mata besar itu. Tapi sungguh, Kyungsoo sangat jauh dari kata menyeramkan jika telah benar-benar mengenalnya.
"Bisakah aku menagih janji kita waktu itu?" tanya Chanyeol membuyarkan lamunan Kyungsoo.
"Janji?"
"Es krim" Chanyeol menaik turunkan alisnya. Senyum konyol itu berhasil membuat Kyungsoo terkekeh.
"Tentu saja. Aku merasa memiliki hutang padamu, Chanyeol-ssi. Maaf karena waktu it-"
"Jadi kau akan mentraktirku?" Chanyeol memotong ucapan Kyungsoo. Ia tahu jika membahas hal 'itu' pasti akan membuat Kyungsoo bersedih.
"Sudah pasti" jawab Kyungsoo bersemangat. Membuat Chanyeol tersenyum lebar.
"Jadi, nanti sepulang kuliah?"
"Boleh. Kebetulan aku sedang tidak ada jadwal apapun" Kyungsoo menjawab dengan cengiran dibibir tebalnya. Ugh...rasanya Chanyeol ingin sekali menyentuh bibir itu dengan bibirnya. Astaga! Pemikiran macam apa ini?
"Yeaay!" seru Chanyeol.
"Kau seorang dokter tapi masih bersikap seperti anak-anak" cibir Kyungsoo sambil memasukkan sup kimci kedalam mulutnya.
"Hahaha...benarkah? Bagian mananya yang seperti anak-anak?" Chanyeol mendekat kearah Kyungsoo.
Kyungsoo menatap sejenak wajah Chanyeol yang begitu dekat dengannya kemudian menghentikan acara menyuap makanannya.
"Banyak, Chanyeol-ssi" Kyungsoo mengangkat tangannya untuk menyentuh bagian wajah Chanyeol.
"Bibirmu, matamu, wajahmu, sikapmu. Semuanya. Aku heran bagaimana bisa Tuan dan Nyonya Park memiliki anak sepertimu"
Tangan mungil Kyungsoo masih menelusuri bagian wajah tampan Chanyeol hingga membuat sang empunya merinding hebat. Jantungnya berdegup tak karuan, deru nafasnya tak beraturan, dan juga kenapa miliknya yang ada dibawah sana tiba-tiba sesak. Ugh...
Wajah mereka yang sangat dekat mengundang perhatian bagi semua mahasiswa yang ada dikantin itu. Bagaimana tidak, selama ini memang banyak yeoja maupun namja yang mengincar Chanyeol untuk dijadikan namjachingu mereka, tapi selalu gagal karena sikap arogan dari Chanyeol. Tapi apa yang terjadi sekarang sangat membuat mereka terkejut. Lihatlah interaksi antara Chanyeol yang sangat populer sebagai anggota tim basket dan juga dokter muda sukses dengan Kyungsoo si anak paling tak diinginkan. Oh astaga!
"Kau terlihat sangat cantik jika dilihat sedekat ini, Kyungsoo-ssi" Chanyeol berkata sambil menatap mata bulat itu. Untuk sesaat tatapan mereka terkunci, hingga satu degupan muncul didada Kyungsoo.
Deg
Segera Ia melepaskan tanganya yang sedari tadi berada diwajah Chanyeol. Ia mengingat jika seseorang pernah mengatakan hal yang sama padanya sebelum Chanyeol.
Degupan jantung Kyungsoo semakin menjadi ketika Ia mengingat Kai. Ya, Kai lah yang pernah mengatakan hal semacam ini padanya. Bahkan saat itu Kai juga mencuri ciuman pertamanya. Tapi Ia kecewa saat mengingat kejadian tadi pagi. Mengapa Kai tidak menyapanya, bahkan Kai berlagak seperti tak mengenalnya.
Melihat Kyungsoo yang hanya melamun membuat Chanyeol mengerutkan dahinya.
"Kyungsoo-ssi, gwencana?" Chanyeol menggoyangkan pelan lengan Kyungsoo untuk menyadarkan namja manis itu dari lamunannya.
"Ahh...iya. Aku tidak apa-apa. Umh, bisakah kau memanggilku tanpa embel-embel 'ssi'?" Kyungsoo mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Panggil aku Kyungie. Aku suka panggilan itu" Kyungsoo tersenyum manis membuat Chanyeol tertawa.
"Hahaha...nama yang lucu. Baiklah, aku akan memanggilmu Kyungie. Oke, Kyungie?" Chanyeol kembali mengusak kepala Kyungsoo untuk kemudian mereka tertawa mungkin masih kenal beberapa hari, namun sikap dari mereka berdua yang saling cocok satu sama lain memudahkan mereka untuk akrab.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tengah menahan amarah atas kedekatan mereka berdua. Disana, diseberang bangku Chanyeol dan Kyungsoo, Kai tengah menggemeratakkan rahangnya. Dia tidak menyukai jika Kyungsoo'nya' dekat dengan orang lain.
Pemikiran macam apa ini? Entahlah, karena memang itu yang Ia rasakan.
Kyungsoo, namja yang pertama kali mampu merebut detakan jantungnya dari Baekhyun, namja yang selalu berputar-putar dikepalanya sejak kejadian di Gereja itu. Sungguh, Kai sangat tidak rela melihat kedekatan Kyungsoo dengan Chanyeol meskipun Ia tahu mereka hanya berteman. Namun Kai menangkap arti lain dari tatapan Chanyeol kepada Kyungsoo. Arrgh...hanya dia yang boleh bersama Kyungsoo.
Tanpa berpikir panjang Kai bangkit dari duduknya membuat Baekhyun,Tao,Luhan,Kris dan juga Sehun mengerutkan dahinya bingung. Ada apa dengan bocah ini? Begitulah kira-kira isi dari otak mereka.
Kai segera melangkahkan kakinya menuju bangku Chanyeol dan Kyungsoo dengan mantab. Tak menghiraukan pertanyaan dan teriakan dari Baekhyun. Begitu Ia berdiri tepat didepan meja Kyungsoo, Ia memegang dan menarik lengan Kyungsoo menjauh dari sana. Sontak saja kejadian yang sangat tiba-tiba itu membuat seluruh mahasiswa disana tercengang termasuk Chanyeol. Bahkan Ia belum sempat menahan Kai dan Kyungsoo yang pergi menjauh tapi tubuh mereka berdua telah menghilang dibalik lorong.
Awalnya Kyungsoo berontak karena sikap tiba-tiba dari Kai. Namun Ia berhenti memberontak saat cengkeraman dilengannya semakin mengerat hingga terasa sakit. Kyungsoo hanya mengikuti langkah Kai tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia merasakan jika Kai dalam mood yang tidak baik. Itu terbukti dari sikapnya yang sangat aneh ini.
Kai terus membawa Kyungsoo berjalan dengan kedua tangan mereka yang saling bertautan. Menghiraukan tatapan mengintimidasi dari mahasiswa yang mereka lewati. Hingga akhirnya kedua pasang kaki mereka tiba ditaman belakang kampus yang sepi.
Kai sedikit menghempas tubuh mungil Kyungsoo ketembok. Dengan cepat tangan kokohnya mengungkung tubuh Kyungsoo dengan seduktif. Kyungsoo membulatkan matanya saat menyadari jika wajah Kai berada tepat didepan wajahnya. Bahkan deru nafas milik Kai terasa hangat menyapa kedua pipi gembilnya.
"K-Kai...ap-apa yang kau lakukan?" Kyungsoo memberanikan bertanya saat Ia menatap mata tajam Kai yang sulit diartikan.
Tak ada jawaban. Hanya tatapan tajam dan suara detak jantungnya sendiri yang terdengar. Sungguh, posisinya yang seperti ini membuat jantungnya berdetak sangat cepat.
"Kau...apa yang lakukan bersama Chanyeol?" datar. Pertanyaan dari Kai sangat datar dan dingin membuat bulu kuduk Kyungsoo tiba-tiba berdiri.
"Ak-aku..." Kyungsoo tergagap. Ia tidak tahu apa yang dimaksud Kai. Mata bulatnya masih memandang takut mata tajam Kai. Hingga Ia kembali mendengar suara berat itu lagi.
"Katakan padaku, Kyungsoo. Siapa Chanyeol?"
Deg
Deg
"Ap-apa yang kau maksud, Kai? Bu-bukankah Chanyeol temanmu? Apa kau tidak mengenalnya?" bodoh! Perkataan bodoh macam apa yang sudah kau ucapkan Kyungsoo. Tentu saja Kai tahu jika Chanyeol adalah temannya.
"Kau...ada hubungan apa hingga dia berani menyentuhmu?" bahkan pertanyaan ini jauh lebih datar dari pertanyaan pertama tadi.
"K-kami hanya teman" Kyungsoo masih menatap mata Kai takut. Sebenarnya Ia sendiri bingung mengapa Ia harus takut dengan tatapan Kai, namun apa yang terjadi berbeda dengan apa yang Ia pikirkan.
"Aku tidak suka kau berada didekat Chanyeol. Aku tidak suka dia menyentuhmu"
What? Apa Kai sedang memperingatkannya?
"T-tapi kenapa?" tanya Kyungsoo ragu. Tentu saja, ia berhak tahu mengapa Kai melarangnya berdekatan dengan Chanyeol.
"Karena hanya aku yang boleh menyentuhmu" dan hilanglah jarak antara mereka. Kai menempelkan bibirnya pada bibir tebal milik Kyungsoo hingga membuat namja manis itu membulatkan matanya.
Beberapa detik Kai hanya menempelkan bibirnya. Perlahan sebuah lumatan halus menyapa bibir manis itu. Kai memejamkan matanya dan memiringkan kepalanya kekiri, memberi kenyamanan untuk Kyungsoo menikmati pagutan mereka. Namun sepertinya Kyungsoo masih belum bereaksi. Ia masih terlalu kaget dengan perlakuan tiba-tiba dari Kai.
Merasa tidak ada balasan dari Kyungsoo, Kai mencoba meraih pinggang ramping Kyungsoo agar lebih mendekatkan tubuh mereka berdua. Kai semakin memperdalam lumatannya. Melumat bibir atas dan bawah milik Kyungsoo secara bergantian. Sungguh, bibir Kyungsoo sangat manis.
Secara perlahan, akhirnya Kyungsoo mulai menikmati pagutan dari Kai. Ia mulai memejamkan matanya. Degupan jantungnya semakin kencang saat dengan lihai lidah Kai menerobos masuk kedalam mulutnya. Ia menikmati, namun juga ragu. Belum sempat Kai memperdalam hisapannya pada lidah Kyungsoo, tiba-tiba saja namja mungil itu mendorong pelan dada Kai hingga membuat jarak antara mereka.
"Kenapa Kai?" pertanyaan ambigu memang. Tapi Ia yakin jika Kai mengerti maksudnya.
Kai membuka perlahan kedua matanya hingga tatapan mereka kembali bertemu.
"Karena aku mencintaimu, Kyungsoo"
Deg
Deg
Deg
Jantung Kyungsoo terasa ingin melompat dari atas sana. Ia tidak mempercayai apa yang baru saja Ia dengar. Bagaimana bisa semudah itu Kai mengucapkan kata cinta. Meskipun ada setitik kebahagiaan dimata Kyungsoo, namun rasa ragu dan takut lebih mendominasi.
"Kau tidak bisa, Kai" Kyungsoo menunduk. Tidak berani menatap wajah Kai.
"Kenapa? Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Kyungsoo. Sejak pertamakali kita bertemu kaulah yang telah merebut hatiku. Bahkan kau merubah jalan pikiranku saat kita berada di Gereja waktu itu" Kai mencoba meyakinkan. Namun Kyungsoo menggeleng.
"Aku tidak seperti yang kau pikirkan, Kai" ucapnya lirih.
Kai meraih dagu Kyungsoo untuk kembali mempertemukan kedua mata mereka.
"Apa kau tidak mempercayaiku?" tanya Kai lembut
Kyungsoo kembali menggeleng.
"Kau bisa mencari kebohongan dimataku, Kyungsoo. Apa aku sedang berbohong padamu sekarang?" Kai menucapkan dengan yakin. Sedangkan Kyungsoo menatap lekat mata tajam Kai. Mencari apakah ada kebohongan disana seperti yang namja tan itu katakan. Namun nihil, Ia tidak menemukan kebohongan disana.
"Aku mencintaimu, Kyungsoo. Sungguh"
Kyungsoo masih menyelami manik mata Kai.
"Jadilah kekasihku"
Deg
Deg
Deg
Detakan jantung yang sedari tadi belum teratur kini kembali dibuat porak poranda karena ucapan dari Kai.
"Ak-aku..." Kyungsoo tergagap.
"Aku yakin kau juga merasakan sama seperti yang aku rasakan. Jangan menyembunyikannya, Kyungsoo" Kai menggenggam erat tangan Kyungsoo. Sejurus kemudian Kyungsoo menghamburkan dirinya kepelukan Kai. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Kai dengan titik airmata yang mulai menetes dari pelupuknya.
Kai tersenyum melihat reaksi Kyungsoo. Ia senang mengetahui jika Kyungsoo juga mencintainya. Tangan kokohnya Ia angkat untuk menyentuh helaian rambut halus milik Kyungsoo. Mempererat pelukan mereka hingga suara berat milik Kai kembali menyapa gendang telinganya.
"Jadi kita sepasang kekasih sekarang?"
Beberapa detik terlewati hingga satu anggukan menjawab pertanyaan Kai. Kai melebarkan senyumnya. Rasanya Ia ingin terbang sekarang juga. Ia sangat senang mengetahui bahwa Kyungsoo membalas perasaannya hingga Ia melupakan adanya Baekhyun yang telah mengisi ruang dihatinya yang lain.
'Mianhae, Baekhyun-ah'
.
.
.
Bel mata kuliah terakhir berbunyi mengiringi para mahasiswa yang menghamburkan diri menuju gerbang keluar kampus. Begitu juga dengan namja bermata bulat itu. Senyum diwajah manisnya tak juga luntur sejak kejadian tadi siang. Ia telah menjadi namjachingu kesayangan Kai sekarang, dan itu merubah pola pikir tentang hidupnya. Entah mengapa rasa takut atas kedekatannya dengan orang lain mendadak menghilang.
Ia telah berbalas pesan dengan Kai dan Kai mengatakan jika Ia masih ada urusan dengan dosen kemahasiswaan, untuk itu Kai menyuruh Kyungsoo pulang lebih dulu dan meminta maaf padanya karena tidak bisa menemaninya pulang untuk yang pertama kali. Namun justru itu membuat Kyungsoo lega, pasalnya Ia telah berjanji dengan Chanyeol untuk mentraktir namja tinggi itu es krim.
Dan disinilah Ia sekarang. Berada dikedai es krim didepan toko bunganya yang tutup. Chanyeol masih tersenyum sambil memandangi wajah Kyungsoo. Ia merasa senang akhirnya Ia jadi berkencan dengan namja manis ini.
"Ehem...bagaimana kalau kita pesan yang rasa coklat saja?" Chanyeol memberi saran kepada Kyungsoo yang terlihat kebingungan memilih es krim karena terlalu banyak pilihan.
"Ah...benar juga. Es Krim coklat akan membantumu menghilangkan stress saat bekerja" Kyungsoo tersenyum riang. Kemudian memesan dua cup besar es krim rasa coklat pada pelayan yang berdiri disampingnya.
"Baiklah. Pesanan anda akan segera datang" ucap pelayan itu kemudian berlalu meninggalkan Kyungsoo dan Chanyeol.
"Si hitam membawamu kemana tadi?" tanya Chanyeol tiba-tiba saat keheningan mulai melanda
"Si hitam?" Kyungsoo mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Si Kkamjong" Chanyeol mempertegas ucapannya
"Kkamjong?" Kyungsoo semakin tidak mengerti
"Kai. Kemana Kai membawamu tadi?" Chanyeol memberikan tatapan tajam pada Kyungsoo. Namun yang ditatap malah tertawa terbahak-bahak.
"Bhahahaha...kau memanggilnya apa tadi? Si hitam? Kkamjong? Hahaha..." Kyungsoo memegangi perutnya yang terasa sakit karena tertawa. Sedangkan Chanyeol hanya terdiam. Sebenarnya Ia juga ingin tertawa melihat tingkah menggemaskan Kyungsoo. Namun rasa penasarannya melunturkan semuanya.
"Kyungie, aku serius" Chanyeol semakin menatap tajam Kyungsoo membuat namja bermata bulat itu susah payah menghentikan tawanya. Baru saja Ia akan menjawab, sang pelayan datang membawa dua cup besar es krim coklat dengan taburan brownies lembut diatasnya.
"Wooahh...ini pasti enak" bukannya menjawab, Kyungsoo malah bersemangat melahap es krimnya. Chanyeol mendengus. Ia baru tahu jika ternyata Kyungsoo memiliki sisi seperti ini diluar sikap misteriusnya.
"Kau tidak mau menjawab pertanyaanku?" Chanyeol kembali bertanya setelah menyuapkan sesendok es krim ke mulutnya. Mendengar itu, Kyungsoo menolehkan pandangan pada Chanyeol yang duduk dihadapannya ini.
"Hanya ketaman belakang kampus" jawabnya dengan mulut penuh es krim.
"Dia tidak melukaimu kan?"
Uhuk...
Pertanyaan konyol itu membuat Kyungsoo tersedak.
"Yak! Mana ada hal semacam itu?" Kyungsoo mengetukkan sendoknya kekepala Chanyeol membuat namja setinggi tiang listrik itu meringis.
"Aku kan hanya bertanya" Chanyeol mengelus kepalanya. Bagaimana bisa Kyungsoo memiliki tenaga memukul sekuat ini.
"Dia tidak akan menyakitiku, Yeol" Kyungsoo kembali memasukkan es krim kedalam mulutnya.
"Ish...asal kau tahu saja, Kyung. Kai itu namja mesum yang mengerikan" Chanyeol mendesiskan ucapannya yang hampir saja membuat Kyungsoo tersedak untuk yang kedua kalinya.
"Aku tahu" jawabnya enteng
"Kau tahu?" Chanyeol mengerutkan keningnya
"Tentu saja. Bahkan wajahnya sangat memperlihatkan sisinya yang seperti itu" lagi, ucapan itu sangat ringan keluar dari kedua belah bibir Kyungsoo.
"Berhati-hatilah. Kai bukan namja baik-baik" entah atas dasar apa Chanyeol memperingatkan Kyungsoo.
"Dia tidak seburuk yang kau pikirkan, Yeol. Aku sudah mengerti Kai meskipun kita belum lama saling mengenal. Dia namja baik" Kyungsoo menatap lekat mata Chanyeol membuatnya berpikir apakah Kyungsoo benar-benar mengenal siapa Kai.
"Dia memang baik tapi hanya disaat-saat tertentu. Aku mengenalnya sejak kami masih kecil. Kami bersaudara"
Uhuk Uhuk...
Kyungsoo tersedak untuk yang kedua kalinya. Bahkan yang ini hampir membuat napasnya berhenti mendadak.
"Saudara?"
Anggukan mantab menjadi jawaban atas pertanyaannya.
Sejenak Kyungsoo berpikir, mengapa dunia begitu sempit.
.
.
.
"Kau tidak masuk keapartemenku dulu, Kai-ah?" namja bereyeliner itu mendongakkan wajahnya kearah jendela mobil yang terbuka. Memperjelas pandangannya pada namja tan yang duduk dengan tenang dibelakang kemudi.
"Tidak, sayang. Appa mengajakku dan Jongdae hyung makan malam bersama. Sepertinya akan ada hal penting yang akan dia bahas" jawab Kai ogah-ogahan. Ya, Baekhyun tahu jika menyangkut Appanya, namja tampannya ini pasti akan langsung berubah ekspresi.
"Aigoo...sebegitu sebalnyakah kau pada Appamu?" Baekhyun menaikkan satu alisnya. Menggoda.
"Bukan sebal lagi. Aku membencinya" lirih, bahkan jika Baekhyun tidak berada sedekat ini maka tidak akan ada yang mendengarnya.
"Jangan terlalu bersikap seperti itu. Bagaimanapun juga dia Appamu" Baekhyun tidak mengetahui apa-apa tentang keluarganya meskipun Ia dan Baekhyun telah berpacaran selama dua tahun. Namun aneh rasanya jika harus bercerita kepada Baekhyun. Untuk itu Kai hanya tersenyum sambil menganguk menjawab perkataan Baekhyun.
"Baiklah, aku masuk, ne? Kau berhati-hatilah" Baekhyun semakin mendekatkan wajahnya pada kaca mobil. Mengerti dengan maksud namja yang masih berstatus sebagai kekasihnya ini membuat Kai harus mengerutkan dahinya.
Ada perasaan yang tiba-tiba aneh didalam dadanya. Biasanya Ia tidak akan segan untuk mencium Baekhyun dimanapun bahakn kapanpun. Tapi sekarang?
Ragu-ragu Kai mengecup bibir tipis Baekhyun. Ia mengecupnya singkat hanya sebagai sarat. Setelah Baekhyun menjauhkan kepalanya dari jendela mobil, segera Kai menutup kacanya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang setelah mendapat lambaian tangan ucapan selamat tinggal dari Baekhyun. Sejak saat itu Ia baru menyadari jika bibir Baekhyun tidak semanis milik Kyungsoo.
.
.
.
Langit jingga telah berubah hitam saat mobil sport berwarna hitam itu terparkir rapi dihalaman luas milik keluarga Kim. Namja tampan itu keluar mobil dengan senyum tak juga lepas dari wajahnya. Ditangannya ada sebuah smartphone yang menghubungkan pesannya pada sosok manis diseberang sana.
To: Kyungie Baby
Aku sudah sampai rumah. Kau dimana?
From: Kyungie Baby
Aku diapartemen. Segeralah mandi dan makan malam.
Kai kembali tersenyum. Tidak salah Ia menjadikan Kyungsoo kekasihnya. Namja manis itu sangat perhatian padanya. Ya, meskipun dia tidak benar-benar pandai mengungkapkan perasaannya seperti Baekhyun, tapi justru itulah daya tariknya.
Kai masih saja tersenyum hingga langkahnya terhenti dibawah tangga. Ia melihat Appanya yang berdiri angkuh diujung tangga sana. Kai memasukan ponselnya kesaku celananya saat tubuh Appanya berjalan menuruni tangga dan mendekat padanya.
"Kau baru pulang?" tanya pria paruh baya itu halus. Namun hanya dijawab dengan keheningan oleh Kai.
"Segeralah mandi. Sebentar lagi jam makan malam. Appa ingin membicarakan sesuatu padamu dan Jongdae"
Tepat setelah kaliamat itu diucapkan, satu sosok lain berjalan memasuki rumah dan berhenti disebelah Kai saat telinganya mendengar ada yang menyebutkan namanya.
"Sesuatu seperti apa?" tanya Jongdae tiba-tiba, membuat Kai menolehkan pandangannya pada hyung yang masih berjas putih-jas khas dokter itu.
"Ah..kau juga sudah pulang?" pria yang seharusnya dipanggil Appa itu tidak menjawab pertanyaan putra pertamanya itu.
Melihat keterdiaman kedua putranya membuat hati Yunho merasa terenyuh. Ia tidak tahu jika akan semenyakitkan ini ketika menghadapi kedua putra yang telah membencinya. Namun Ia harus bersikap tegas dan kuat. Dia adalah pemimpin keluarga, tidak seharusnya Ia menunjukkan sisi lemahnya pada kedua putranya.
"Yang pasti bukan masalah perusahaan" kalimat dari Yunho itu membuat Kai dan Jongdae saling bertatapan.
"Apa tentang wanita itu?" Kai melirikkan matanya pada sesosok wanita cantik bergaun hijau toska yang tengah berdiri didekat tangga.
Sontak Jongdae dan Yunho menolehkan pandangannya pada wanita cantik itu.
Yunho tersenyum sebelum menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih Appa, tapi kami tidak tertarik" ucap Kai acuh dan kemudian berjalan melewati Yunho. Langkahnya terhenti ketika Ia berada tepat didepan Yoona-wanita cantik itu. Mata tajam Kai menatap lekat mata sipit milik Yoona sebelum sebuah seringaian tercetak diwajah tampannya. Ia kembali melangkah melewati wanita itu tanpa menghiraukan tatapan penuh tanya dari Yoona.
Sementara Jongdae masih berada diposisinya. Ia yang sudah jauh lebih dewasa dari Kai mencoba bersikap sopan kepada tamu mereka meskipun Ia tahu jika tamu yang satu ini bukan hanya sekedar tamu biasa.
"Aku lelah, Appa. Jika kau ingin mengajakku berbicara tunggulah saat aku libur kerja" ucapnya lirih sambil mulai berjalan meningalkan Yunho yang masih terdiam mematung diposisinya.
"Nyonya, saya harap anda dapat memaklumi situasi ini. Saya permisi" ucap Jongdae saat Ia berada didepan Yoona dan kemudian melangkahkan kaki jenjangnya menaiki tangga.
Yunho menghela napas berat. Yoona yang mengerti bagaimana perasaan calon suaminya itu segera berjalan mendekati pria itu.
"Aku berharap jika Kyungsoo-mu tidak seperti mereka" terdengar kalimat putus asa dari nada bicara pria itu.
Yoona mengelus pundak Yunho sayang untuk meredam kesedihan Yunho.
"Kyungie-ku tentu lebih baik dari mereka" ucapan Yoona berhasil membuat Yunho menolehkan pandangan kearahnya.
Yoona memberikan senyumanhangat sebelum Ia membuaka suaranya.
"Mereka berdua hanya belum terbiasa, Yunho-ya. Mereka butuh waktu. Luka dihati mereka tidak akan semudah itu bisa tertutup sempurna. Bahkan jika bisa tertutup pasti masih ada bekasnya" tangan lembut Yonna masih setia mengelus pundak Yunho, memberikan ketenangan dan kenyamannan disana.
"Ya, kau benar. Mereka memang butuh waktu. Begitu juga aku yang membutuhkan waktu untuk menemukan putraku yang hilang"
Yoona hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Yunho. Ia membenarkan, memang semua membutuhkan waktu. Bahkan takdir yang tertulis dari Tuhanpun karena waktu.
"Aku berharap kita segera menemukannya"
.
.
.
TBC
.
.
.
Mian karena ceritanya agak ngawur. Jongsoo bener-bener dalam keadaan kurang baik sekarang, jadi ide cerita yang apa adanya inilah yang keluar dari otak saya. Saya harap kalian dapat menghargai dan tetap menyukai Hidden Love, ne?
Riview kalian akan sangat membantu mengembalikan mood menulis saya. Terimakasih :*
Haapy Reading...
