HIDDEN LOVE
.
KaiSoo, KaiBaek, ChanSoo
Other Cast
Rate : M
Genre : Drama, Romance
.
Typo(s), abal, alur gaje, Peringatan keras: Don't like Don't read
.
.
"Jadi, darimana kau mengetahui alamat apartemenku?" namja bermata bulat itu mencomot keripik dari toples yang tengah dibawa oleh namja berkulit tan. Kepalanya menyandar pada bahu sang namja dengan nyaman.
"Menemukan alamatmu itu sangat mudah, Kyungie. Kau belum tahu siapa aku?" kata namja berkulit tan itu percaya diri. Tubuhnya yang menyandar pada sofa empuk bergerak untuk memposisikan dirinya senyaman mungkin.
"Aku tidak tahu" jawaban polos itu keluar begitu saja dari bibir tebal Kyungsoo. Kepalanya mendongak sehingga kedua mata bulatnya bertemu dengan mata elang milik Kai.
"Itulah sebabnya kau tidak memiliki teman. Kau tidak mengenal sekitarmu, bahkan kau tidak mengenal pria populer sepertiku" kekehan dari Kai membuat bibir Kyungsoo mengerucut.
"Aish,,,apa hubungannya? Lagi pula aku memang tidak ingin berteman dengan mereka"
Mendengar jawaban aneh itu Kai kemudian meletakkan toples keripiknya diatas meja. Mengerutkan kening sambil menatap wajah Kyungsoo yang masih bersandar pada bahunya.
"Kenapa?"
"Entahlah. Hanya ingin saja" jawabnya enteng
"Kau aneh. Kau harus lebih sering bersosialisasi, Kyungie"
"Aku sudah merasa tenang dengan kehidupanku yang seperti ini. Terasa lebih nyaman saat sendiri" Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari Kai, berganti menatap layar televisi yang menampilkan tayangan kartun kesukaannya.
Sejenak Kai terdiam, mencerna maksud yang coba diutarakan oleh kekasihnya.
Kai merubah posisinya menghadap Kyungsoo, mata tajamnya menelisik setiap inci mimik wajah dari namja mungilnya itu.
"Apa kau mau menceritakan sesuatu padaku?" tanyanya lembut. Tangan kanannya tergerak untuk mengelus pelan surai hitam kekasihnya itu.
Kyungsoo kembali menatap Kai, mata bulatnya berbinar lembut memancarkan aura sejuk yang menenangkan. Kai terbuai, hingga tanpa sadar Ia mengulas senyumnya.
"Sebenarnya aku ragu karena aku tidak terlalu mengingatnya. Hanya saja setiap aku terbangun, selalu nama Umma yang kusebut" ucapnya tanpa disadari.
"Umma?"
"Umh. Ahjuma bilang Umma ku sudah meninggal sejak aku masih kecil. Kami mengalami kecelakaan waktu itu"
Kai terdiam sesaat, sebelum bibir tebalnya kembali bersuara.
"Lalu Appamu?"
"Aku tidak ingat" Kyungsoo tersenyum getir dan Kai merasakan jika sekarang Kyungsoonya bersedih.
"Mianhae" ucap Kai lirih
"Kenapa harus minta maaf? Aku menceritakan ini karena aku tidak mau kau merasa penasaran terhadapku" Kyungsoo terkikik geli melihat raut wajah Kai yang memberenggut. Tangan mungilnya tergerak untuk menyentuh tangan kokoh Kai yang masih bergerak mengelus surainya.
"Selama ini aku tidak memiliki tempat bersandar. Bahkan ketika mimpi itu datang aku hanya bisa memendamnya sendiri. Aku tidak memiliki seseorang untuk menceritakan apa yang aku rasakan. Kau tahu, sejak kecil aku terbiasa sendiri, apapun aku lakukan sendiri, itulah sebabnya kebiasaan menyendiriku terbawa hingga aku dewasa" Kyungsoo menatap penuh atensi pada kedua mata Kai. Ia berusaha meyakinkan bahwa memang dirinya merasa baik-baik saja dengan keadaannya sekarang. Meskipun dalam hati kecilnya Ia merasa kesepian.
Tapi Kai bukan orang bodoh yang percaya begitu saja pada tatapan Kyungsoo. Ia mengerti bagaimana Kyungsoo mengalami kesulitan selama ini. Matanya memancarkan, dan Kyungsoo tidak pandai menutupi kebohongannya.
"Kau memilikiku sekarang" Kai menatap lekat kedua manik mata Kyungsoo. Ia menggenggam kedua tangan mungil itu lembut dan tersenyum "Kau bisa menceritakan apapun padaku mulai sekarang. Semua yang kau rasakan, semua yang kau keluhkan, aku akan mendengarkanmu dengan baik" Kyungsoo membalas senyum Kai. Ia merasakan ketulusan itu. Ketulusan yang terpancar dari diri Kai.
"Apa itu artinya kau mencintaiku?" Kyungsoo bertanya polos dengan binar mata yang indah
"Tentu saja" jawab Kai mantab
"Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?"
Kai berpikir sejenak. Ia kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa dan menarik tubuh mungil Kyungsoo kedalam pelukannya.
Kyungsoo menikmati pelukan hangat itu, pelukan yang mampu menggetarkan dadanya.
"Karena kau istimewa. Kau memiliki pesona yang berbeda, Kyungie. Matamu, senyummu, wajahmu, semuanya. Kau mengingatkanku pada seseorang" Kai mengucapkan tanpa sadar. Otomatis Kyungsoo menegakkan tubuhnya kembali dan menatap Kai.
"Mengingatkan pada siapa?"
Pertanyaan itu membuat Kai tercekat. Ia baru menyadari jika perkataannya salah. Menyamakan Kyungsoo pada orang lain pasti akan membuatnya terluka. Namun Ia terlanjur mengucapkannya, mana bisa Ia mengalihkan pembicaraan begitu saja. Paling tidak Ia harus sedikit bercerita, seperti yang dilakukan namja mungil itu.
Kai menghela napas sebentar sebelum akhirnya kembali menarik tubuh namja mungilnya untuk kembali bersandar pada dada hangatnya.
"Dulu aku memiliki dua hyung. Satu bernama Kim Jongdae dan Kim...aku lupa" Kai memandang kosong kearah televisi yang masih menyala.
"Lupa?"
Kai mengangguk.
"Dia menghilang sejak Umma membawanya pergi"
"Umma mu?" Kyungsoo mendongakkan kepalanya, menatap wajah hampa Kai yang tanpa ekspresi.
Kai kembali mengangguk.
"Kami memiliki waktu yang indah saat kami masih bersama. Bermain bersama, berlari bersama, menggambar bersama, aku menyukai semua hal saat kami bersama. Tapi..."
"Tunggu, kau mengingat semuanya tapi kau tidak mengingat namanya?" tanya Kyungsoo memotong ucapan Kai.
"Kami mengalami kecelakaan waktu itu. Aku mengingat, saat itu aku mengejar Umma dan hyung, tapi sebuah truk datang dan..." Kai menghentikan ucapannya. Napasnya tiba-tiba tersengal.
"Kai-ya, gwenchana?" Kyungsoo yang menyadari perubahan Kai pun bertanya.
Kai terdiam, matanya menatap kosong kearah televisi yang sama sekali tak membuat pikirannya teralih.
"Kai" Kyungsoo menyentuh lembut sisi wajah Kai dan membuat namja tampan itu kembali memfokuskan pikirannya. Ia menatap Kyungsoo dalam diam selama beberapa saat. Tatapan penuh atensi seperti biasanya.
"Aku lapar"
"Pppfftt"
"Jangan tertawa~"
"Kau menghentikan cerita hanya karena lapar?" Kyungsoo menahan tawanya saat Kai mengangguk polos.
"Baiklah, aku akan memasak. Kau mau makan apa?"
"Spagetty kimci" ucapnya penuh semangat sambil mengangkat jari telunjuknya tinggi-tinggi.
"Haha...arraseo. Kau tunggu disini, ne? Aku akan membuatkan yang enak untukmu" kata Kyungsoo riang sebelum melangkah menuju dapur.
Kai hanya tersenyum menanggapi ucapan Kyungsoo. Senyum getir yang sama sekali tak disadari oleh kekasih mungilnya itu. Ya, Ia memang sengaja mengalihkan pembicaraan. Karena Ia sendiri tak yakin dengan apa yang akan Ia ceritakan pada Kyungsoo. Ingatannya menghilang dan Ia ragu dengan memorinya.
"Karena aku masih berharap itu bukan kau, Kyungie"
.
.
Langit telah berganti warna menjadi jingga saat kaki jenjang membawa tubuh penuh kharisma itu memasuki salah satu ruangan. Dibelakangnya turut berjalan seorang pria muda dengan setelan jas rapi dengan tablet pc ditangan kanannya. Pria yang tak lain adalah Yunho itu kemudian mendudukkan tubuh lelahnya pada sofa empuk ruang kerjanya. Sedangkan pria lain yang sedari tadi mengekorinya dengan setia telah bersiap untuk melaporkan hasil penyelidikannya.
"Jadi?" tanya Yunho tanpa basa-basi.
"Saya telah memastikan jika dia benar-benar putra kandung anda, Tuan. Hasil pemeriksaan dari Rumah Sakit yang selama beberapa bulan ini dikunjunginya menyatakan jika darah anda 100% cocok dengannya."
Yunho tercekat lalu mengerutkan dahinya bingung.
"100%?"
Ilhoon mengggeser tablet pc nya beberapa kali dan mulai menerangkan hasil laporannya saat layar tabletnya mengarah pada beberapa baris tulisan disana.
"Karena anda memiliki golongan darah O dan mantan istri anda juga bergolongan darah O, maka dia juga memiliki golongan darah O. Menurut Dokter, karena golongan darah O bersifat homozigot sehingga pada keturunannya juga akan memiliki golongan darah yang sama"
Yunho mengangguk mengerti. Seulas senyum tipis tersemat diantara belah bibirnya. Hanya beberapa saat karena kemudian senyum itu pudar berganti raut khawatir.
"Lalu apa dia dalam keadaan baik-baik saja?"
Ilhoon mengalihkan perhatiannya dari tablet pc nya, menatap sang Direktur tampan dengan raut muka yang sulit ditebak.
"Tidak, Tuan"
Yunho kembali mengerut bingung.
"Apa maksudmu, Ilhoon?
"Putra anda memiliki penyakit yang cukup serius. Alzheimer, semacam gangguan fungsi otak yang kemungkinan besar akan membuatnya lumpuh dalam hitungan bulan"
Deg
Yunho menahan napas setelah mendengar keterangan mengejutkan dari Ilhoon. Raut wajah yang biasanya penuh kharisma kini berganti dengan raut kekhawatiran dan penyesalan. Penyesalan? Tentu saja. Ayah mana yang tidak menyesal mendapat kabar buruk mengenai putranya setelah hilang belasan tahun? Bahkan Ia tidak pernah tahu bagaimana dan seperti apa rupa putranya sekarang.
Yunho menempelkan punggungnya kesandaran kursi. Tatapannya kosong, pikirannya berkelut, tubuhnyapun terasa lunglai. Apa yang selama ini Ia pikirkan ternyata benar. Mantan istrinya memang memiliki riwayat penyakit itu, sehingga tidak menutup kemungkinan salah satu dari ketiga putranya akan mendapatkan penyakit yang sama. Namun Ia tidak pernah menyangka jika yang mendapatkan penyakit ini adalah putra kesayangannya yang hilang. Ia merasa gagal menjadi seorang Ayah. Ia merasa tak berguna.
Beberapa detik berlalu dengan pemikiran-pemikiran semrawutnya. Kemudian Ia mulai kembali fokus saat menatap Ilhoon dengan raut muka yang mengatakan 'Anda harus segera bertemu dengannya, Tuan'. Yunho menghela napasnya berat sebelum akhirnya berkata,
"Cari dia Ilhoon. Bawa dia pulang"
.
.
'Baekhyun-ah, aku harus segera pergi. Ada urusan yang harus kuselesaikan. Kau bisa mengerjakan tugasmu sendiri kan?'
Baekhyun menghela napas panjang. Ingatannya terus saja berputar pada kejadian di perpustakaan bersama Kai tadi siang. Bibir Kai yang memanggilnya dengan sebutan 'nama' membuat pikirannya terganggu. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir pikiran-pikiran itu. Lalu matanya mengedar, berhenti pada kelambu berwarna pastel yang bergerak lembut tertiup angin.
"Kamar ini terasa begitu sepi sejak kepergianmu, Kai-ya"
Hati Baekhyun terasa ingin menjerit. Ia kesepian dan Ia tidak suka itu. Setelah dua tahun selalu bersama Kai dan tiba-tiba jauh dari sang namja tampan membuatnya tersiksa.
"Kai-ya, bogoshipo" Baekhyun meringkuk pada kasur empuknya. Menenggelamkan kepalanya diantara bantal-bantal besar untuk menahan deraian air yang bisa jatuh kapan saja dari pelupuknya.
Beberapa saat hanya dentingan jam yang terdengar, hingga tiba-tiba tubuh mungil itu bangkit terduduk dengan senyum cerah dikedua belah bibirnya. Tangannya meraih ponsel dimeja nakas dan kemudian menekan beberapa tombol yang Ia hapal.
Tuut...
'Yeobseyo'
Baekhyun melebarkan senyumnya saat mendengar suara berat nan seksi kesukaannya.
"Kai-ya, bogoshipo~" ucapnya manja.
'Aku juga merindukanmu, changi'
Baekhyun semakin melebarkan senyumnya saat mendengar panggilan kesayangan itu kembali. Ia merasa jika Kainya memang masih sama seperti Kai yang kemarin.
"Kau tidak mau mengunjungiku?" Baekhyun memainkan ujung kemejanya
'Aku sibuk, changi. Kau tahu 'kan Appa mulai cerewet dengan urusan perusahannya?'
Baekhyun mengangguk meskipun itu tak akan terlihat oleh Kai.
"Kapan kau akan menginap lagi di apartemenku? Kau tahu, aku merindukan...umh, merindukan..." Baekhyun tergagap, tidak berani melanjutkan kalimatnya. Sungguh, tidak biasanya Ia tergagap hanya untuk mengucapkan kata 'penis' pada Kai. Ia terlalu canggung.
'Kau merindukan permainanku?' goda Kai dari seberang yang menimbulkan efek merah jambu pada kedua pipi Baekhyun.
"Aku merindukanmu, pabbo!" Baekhyun berucap kesal bercampur malu.
'Benarkan? Jadi kau tidak merindukan permainan panas kita?' goda Kai lagi
"Makanya kau datang kesini. Aku tersiksa, kau tahu" Baekhyun merebahkan tubuhnya kembali pada kasur empuknya.
'Aku pasti akan kesana, tapi tidak sekarang. Aku sedang sibuk'
Baekhyun mengehela napas berat, kecewa.
"Baiklah. Kau berjanji?"
'Ne, aku berjanji, changi'
"Keure. Lanjutkan acaramu tuan sok sibuk" dan sambungan Ia putus secara sepihak sambil cekikikan sebelum Ia mendengar teriakan dari seberang.
Huuhh...mendengar suara Kai saja sudah membuat hatinya merasa tenang. Pikiran-pikiran buruk tentang Kai musnah seketika. Ya Kai nya memang akan selalu mencintainya meski dalam keadaan apapun. Itu yang Ia percaya.
Sementara Itu dilain tempat, Kai buru-buru meletakkan ponselnya kedalam saku celana saat menyadari kehadiran namja bermata bulat kesayangannya. Senyumnya melebar saat Kyungsoo menggenggam erat lengannya.
"Makan malammu sudah siap. Mau makan sekarang?" tanya suara lembut itu dan dibalas anggukan semangat dari Kai.
Mereka berjalan bersama kearah meja makan. Kai segera mendudukkan dirinya diatas kursi sedangkan Kyungsoo duduk diseberangnya.
"Woah, kau yang membuat ini?" tanya Kai takjub
Kyungsoo terkekeh kecil kemudian mengangguk.
"Bagaimana kau tahu aku suka sub kentang? Tadi kan aku pesan spagetty kimci?" tanya Kai sambil memasukkan subnya kedalam mulut
"Entahlah. Hanya feeling"
Kai mendongak, menatap wajah Kyungsoo dengan lekat. Merasa ditatap seperti itu Kyungsoo panik.
"Kai, ada apa? Apa tidak enak?" tanya Kyungsoo sambil terus menatap wajah Kai yang terlihat datar.
Tidak ada jawaban.
"Kai..."
"Ini sangat enak, Kyungie" kata Kai sambil kembali memasukkan subnya kedalam mulut dengan semangat. "Ini benar-benar enak" lanjutnya.
Kyungsoo kembali terkekeh, Ia kira Kai tidak menyukai masakannya karena tatapan datarnya. Tapi diluar dugaan, ternyata Kai sangat menyukainya. Lihat saja bagaimana Kai melahap masakannya dengan penuh semangat.
Kyungsoo menopang wajahnya dengan kedua tangan. Melihat bagaimana Kai yang terlihat manis saat mulutnya penuh makanan. Ia mengulas senyum lebarnya. Merasa senang karena pada akhirnya bukan hanya dirinya saja yang bisa menikmati hasil masakannya. Ia senang bahwa Ia bisa berbagi masakannya dengan Kai.
Kyungsoo terus tersenyum, senyum manis yang sangat Kai suka. Hingga sekelebat bayangan tiba-tiba muncul dari kepalanya. Kyungsoo mengerutkan kening karena kelebatan-kelebatan itu begitu cepat berputar. Tanpa sadar tangan kananya terangkat untuk menyentuh pelipisnya. Pening yang menyiksa selalu saja hadir saat kelebatan itu datang. Tapi kelebatan apa ini? Mengapa sangat samar dan terlihat buram?
"Kyungie, gwenchana?" Kai mengehentikan acara makannya saat tak sengaja matanya melihat Kyungsoo yang seperti kesakitan. Tangan mungil Kyungsoo terus saja memijat pelipisnya dengan keras.
"Aku merasa sedikit pusing" jawabnya lemah
"Apa kau sakit?" Kai meraih tangan Kyungsoo yang lainnya dan mengelusnya lembut.
Kyungsoo menggeleng pelan.
Tes
Kai tercekat. Ia panik saat tiba-tiba cairan berwarna merah pekat keluar dari hidung Kyungsoo. Dengan segera Kai berdiri dan berjalan memutari meja untuk mendekat kearah Kyungsoo. Kai berjongkok didepan namja mungil itu dengan raut khawatir. Sementara Kyungsoo langsung menutup hidungnya dengan tangan.
"Kyung, ada apa, eoh? Kenapa berdarah?" tanya Kai gugup. Matanya mengedar kemudian Ia segera bangkit dan meraih kotak tissu diujung ruangan. Dengan segera Kai mencomot beberapa helai tissu untuk mengelap darah segar yang keluar dari hidung namja mungilnya.
Kyungsoo hanya terdiam menerima perlakuan lembut dari Kai. Tak ada niatan untuk menjawab pertanyaan dari kekasihnya itu.
Kai masih terus membersihkan darah dari hidung Kyungsoo dengan telaten meskipun raut khawatir tercetak jelas diwajahnya. Dengan dada yang berdetak tak karuan, Ia beranikan menatap wajah Kyungsoo yang berubah pucat. Bahkan mata bulatnya berubah sayu. Setelah dirasa darah tak mengalir lagi, Kai mengambil kapas lembut dan menyumpalkan pelan dikedua lubang hidung Kyungsoo.
"Kyungie..." panggil Kai akhirnya. Kyungsoo menatap Kai yang masih berjongkok didepannya.
"Kau sakit?" pertanyaan Kai membuat Kyungsoo tercekat. Ia bingung harus menjawab apa.
"Mungkin hanya kelelahan" jawabnya lemah
"Kau yakin? Aku sudah dua kali menemukanmu berdarah seperti ini" Kai mengelus lembut poni Kyungsoo yang menutupi dahinya.
"Aku hanya perlu istirahat. Aku tidak apa-apa" ucapnya sambil berdiri, berniat melangkah kearah kamarnya. Namun tubuhnya limbung saat baru satu langkah kakinya berjalan. Beruntung Kai cepat menangkap tubuh lemah Kungsoo.
"Kau lupa? Kau harus mengatakan apapun yang kau rasakan padaku. Jangan seperti ini" kemuadian tanpa aba-aba Kai mengangkat tubuh itu kedalam gendongannya dan berjalan kearah kamar Kyungsoo.
Kyungsoo melingkarkan tanganya pada leher kokoh Kai. Ia hanya bisa diam dan pasrah karena hanya itu yang bisa Ia lakukan. Meskipun dalam pikirannya masih berkecamuk tentang apa yang baru saja dikatakan oleh Kai. Ya, Kai adalah miliknya sekarang. Dan dengan baik hati Kai mau menjadi sandarannya disaat seperti ini. Namun yang jadi pertanyaannya, apakah dirinya bisa terbuka pada Kai? Karena selama ini ia terbiasa sendiri.
Sesampainya dikamar Kai segera membaringkan tubuh mungil Kyungsoo diatas ranjang dengan lembut. Kemudian Ia duduk dipinggir ranjang dengan tatapan nanar kearah wajah Kyungsoo.
"Apa perlu aku panggilkan dokter?" tanya Kai sambil mengelus pelan helaian surai hitam Kyungsoo. Yang ditanya hanya menggeleng.
Hening untuk beberapa saat. Kyungsoo memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan menenangkan dari Kai. Ia merasa nyaman dengan sentuhan ini. Sentuhan yang sama yang pernah Ia terima beberapa tahun yang lalu.
"Kai-ya" panggil Kyungsoo lemah. Ia mulai membuka mata dan menemukan Kai yang masih setia memandang wajah pucatnya.
"Bisakah kau menemaniku disini? Aku takut" Kyungsoo berucap dengan mata yang telah penuh dengan air.
Kai terdiam, hatinya terasa tertohok melihat Kyungsoo lemah seperti ini. Apa begitu sakitkah yang Ia rasakan? Apa begitu kesepiankah dirinya?
Kai mengangguk dan dibalas dengan senyuman lebar dari Kyungsoo.
"Naiklah. Berbaringlah disini" Kyungsoo menepuk pelan sisi ranjang yang kosong. Dengan segera Kai memposisikan tubuhnya berbaring disamping Kyungsoo. Tubuhnya yang tegap mengahap pada tubuh mungil Kyungsoo, begitupun sebaliknya. Dengan cepat Kyungsoo memeluk Kai, memeluknya erat seperti seorang bocah yang lama ditinggal pergi keluarganya. Kaimembalas pelukan itu dengan mengelus lembut punggung Kyungsoo. Mengelusnya penuh perasaan agar Kyungsoo merasa nyaman.
Kyungsoo menyamankan dirinya, Ia megusakkan kepalanya pada dada bidang Kai.
Kai kembali tercekat, Ia merasakan kemejanya basah. Terasa sangat hangat saat tubuh Kyungsoo mulai bergetar. Ia tahu jika Kyungsoo sedang menangis. Kyungsoonya menangis dalam diam. Kyungsoonya menangis menahan semua sendirian. Kyungsoonya menangis dan Ia tak bisa melakukan apapun.
"Uljima, Kyungie. Uljima"
Puk...puk...puk...
Kai terus mengusap dan menepuk pelan punggung Kyungsoo agar namja kesayangannya ini merasa tenang.
"Uljima, aku disini. Tidurlah" dan kalimat itu mengantarkan Kyungsoo pada alam bawah sadarnya. Tidak, Kyungsoo tidak tidur, tapi dia pingsan. Keadaan yang tidak disadari oleh Kai.
.
.
.
TBC
.
.
.
ANYEONG READERSDEUL... APA KABARNYAH? SEHAT? /tereak pegang mic/
Bagaimana perasaan kalian hari ini? Senangkah? Nyesekkah?
Kalo JongSoo mah campur aduk. Bhaaks :D
Siapa sih yang kagak tahu tanggal 8 ini hari apa? Yang ngakunya EXO-L pasti tau lah ya?
#4yearswithEXO Yaah...itulah yang lagi rame di kalangan EXO-L.
Sedikit curhat nih. JongSoo itu jadi EXO-L pas EXO udah OT9. Jadi JongSoo nggak ngerti gimana berat perjuangan EXO pas ditinggal satu per satu membernya waktu itu. Tapi setelah JongSoo banyak tanya sama temen2 kampus yang udah ahli(?) jadi EXO-L, search info mereka, nyariin video, interview, atau apapun yang menyangkut mereka, baru JongSoo ngerti gimana berat dan sulitnya EXO saat itu. EXO pernah terjatuh, terluka, bahkan 'mungkin' sempat putus asa. Tapi mereka perlahan bangkit dengan tangan mereka sendiri. Kita nggak pernah tahu bagaimana keadaan mereka yang sebenarnya saat itu. Yang ada diotak kita cuma kecewa karena 3 member hengkang. Tapi seiring berjalannya waktu, EXO mampu berjalan kembali. EXO berjalan pelan dijalan setapak yang terjal. EXO berjalan pelan ditengah badai yang menerpa mereka. Dan perjuangan mereka nggak pernah sia-sia. Sekarang EXO telah berada ditempat tujuannya, EXO meraih cita-cita dengan Kesuksesan, Konser tunggal, Piala Award dan masih banyak lagi. JongSoo bangga atas itu. JongSoo bangga sama EXO dan nggak menyesal karena sudah berada didalam fandom besar ini. Karena apa? Karena saya EXO-L.
Pesen buat kalian EXO-L, jangan pernah menjauhi EXO hanya karena masalah kecil seperti kasus Kaistal kemaren, karena EXO pernah mengalami jatuh dan terluka yang bahkan lebih besar daripada itu. Tetap support mereka apapun yang terjadi, karena kita satu, karena kita EXO-L. Oke? Arraseo? *dua jempol buat kalian guys. *BIG HUG *XOXO /Mian kalo lebay/ *plak
.
.
Terimakasih karena kalian tetap setia menanti Hidden Love. Mian lama Update karena kesibukan yang tak bisa dihindari :D
Mohon maaf kalau JongSoo nggak bisa balas satu per satu ripiuw kalian seperti kemarin, karena waktu mepet. Bhaaks, sok sibuk :D
Oke, saran dan kritik yang membangun akan selalu dinantikan. RnR juseyo~ Gomawo~ :*
