HIDDEN LOVE

.

KaiSoo, KaiBaek, ChanSoo

Other Cast

Rate : M

Genre : Drama, Romance

.

Typo(s), abal, alur gaje, Peringatan keras: Don't like Don't read

.

.

Udara terasa begitu segar menyapa indra penciuman lelaki mungil yang masih setia meringkuk dibalik selimut hangatnya. Sorotan sinar mentari yang mengintip melalui celah jendela kaca mengiringi mata bulat itu untuk perlahan terbuka. Ia mengerjap, menikmati nuansa putih kamarnya yang masih terlihat sama dari hari kehari. Tubuh mungilnya bergerak namun ia merasakan sebuah tangan besar tengah melingkar dipinggang rampingnya, sebuah pelukan. Kyungsoo menoleh kearah kanan dimana sesosok tampan yang begitu ia cintai tertidur dengan pulas disampingnya. Bibir hati itu terangkat, membentuk sebuah senyuman manis yang mempesona.

Kyungsoo merapatkan lengkungan tangan itu pada pinggangnya, dan memposisikan dirinya berhadapan dengan sang lelaki tampan berkulit tan. Ia kembali tersenyum, merasa bahagia saat menyadari kesungguhan hati Kai untuk melindungi dan menjaga dirinya. Ini yang pertama kalinya, ada seseorang yang bersedia menemaninya tidur ditengah suasana hati yang dia sendiri tak dapat mengerti. Ini pertama kalinya ada seseorang yang begitu dekat dengan dirinya, tidak hanya diukur dari sebuah jarak melainkan dari hati.

Tangan mungilnya terangkat untuk menyentuh helaian kusut sang pria tampan, mengelusnya sayang dengan senyuman yang tak lepas dari belah bibirnya.

"Aku mencintaimu, Kai-ya" bisiknya lirih penuh keluguan.

Ini hal baru untuknya, mengucapkan kata cinta pada seseorang disaat orang itu tertidur. Ia merasa lucu, namun begitulah yang ia rasakan. Sebuah kehangatan dan getaran yang menyapa dadanya ketika mengucapkan satu kalimat yang begitu indah menurutnya.

"Aku lebih mencintaimu, Kyungie"

Kyungsoo tercekat. Suara serak itu sedikit membuatnya tersentak. Bagaimana bisa Kai menjawab perkataannya disaat dia tertidur? Ah, rupanya Kyungsoo tidak menyadari jika Kai telah terbangun sejak pergerakan pertamanya tadi.

Kai membuka matanya perlahan menampakan sepasang mata elang yang begitu mempesona. Mata yang berhasil membuat Kyungsoo terjatuh kedalam samudera luas bernama cinta. Lelaki itu mengeratkan pelukannya hingga membuat jarak mereka berdua hanya tinggal beberapa senti saja. Bahkan deru nafas dari keduanya terasa begitu hangat menyapa wajah masing-masing. Kai tersenyum saat menatap mata bulat yang masih saja terlihat kaget atas respon yang ia berikan. Kyungsoo terlihat begitu manis dengan jarak sedekat ini.

"Ka-kau sudah bangun?" ucap Kyungsoo gugup. Kai mengangguk pelan merespon pertanyaan itu.

"Ucapkan sekali lagi" Kai menatap dalam dua mata bulat yang tengah bergerak-gerak salah tingkah.

"A-apa?"

"Ucapanmu yang tadi"

"Yang mana?" Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari mata elang itu. Ia merasa jika pipinya telah memanas. Kai sangat pintar menggodanya.

"Katakan, Kyungie" Kai menggerakkan tangannya dan menyentuh dagu mungil Kyungoo sehingga pandangan mereka kembali bertemu. "Katakan jika kau mencintaiku"

Getaran dari dalam dadanya kembali terasa saat ia merasakan tatapan mata Kai yang terlihat begitu tulus. Entah apa mereka menyebutnya, namun perasaan ini terasa tidak asing untuknya. Sebuah kehangatan dan juga sebuah kepercayaan.

Kyungsoo mulai menggerakkan bibir, berusaha merangkai kata ditengah meriahnya debaran didalam dadanya.

"Aku...mencintaimu, Kai. Sangat"

Entah mendapat keberanian dari mana, tiba-tiba saja Kyungsoo mendekatkan bibir tebal menggodanya pada belah bibir Kai. Ia memejamkan mata saat benda kenyal itu menyentuh permukaan bibir halusnya. Terasa begitu hangat.

Kai tersenyum tipis menyadari jika lelaki mungilnya mulai berani melakukan skinship padanya. Salahkan saja Kyungsoo jika pada akhirnya ia yang mendominasi sentuhan ini. Kai mulai melumat bibir tebal itu, menggerakkan lidahnya untuk menyapu setiap sudut bibir tebal yang masih terasa manis menurutnya. Kyungsoo semakin rapat memejamkan kedua bola mata indahnya, menikmati lembut dan hangatnya sentuhan Kai pada bibirnya. Basah, namun juga menggiyurkan.

Kai kembali tersenyum saat Kyungsoo mulai membalas pergerakan bibirnya, ia merasakan jika kini lidah mungil Kyungsoo bergerak seirama tautan bibir mereka. Melihat respon Kyungsoo yang bagus, tentu saja hal tersebut tak disia-siakan oleh Kai. Ia melesakkan lidahnya kedalam goa hangat yang menyimpan berjuta gula manis memabukkan disana. Kai melumat, menghisap, dan menggigit kecil bibir Kyungsoo hingga membuat namja itu melenguh, menikmati sentuhan yang terasa nyaman untuknya.

Entah sejak kapan posisi mereka menjadi seperti ini, posisi dimana Kai telah mengungkung tubuh mungil Kyungsoo dibawahnya. Posisi seperti ini membuat saraf-saraf yang ada ditubuhnya seolah terangsang. Tautan bibir yang belum juga terlepas serta suara kecipak yang ditimbulkan oleh kedua lidah basah itu terus mengalun, mendominasi suasana didalam kamar yang perlahan memanas.

Kai memiringkan kepalanya kesamping, memberi kenyamanan Kyungsoo agar pria mungilnya tetap bisa bernapas diantara lumatan-lumatan yang ia berikan. Tangan kokohnya mulai merambat kebawah, melepaskan satu persatu kancing piyama milik Kyungsoo. Mengerti jika pergerakan Kai semakin intim, Kyungsoopun mulai mengalungkan kedua lengannya pada leher jenjang pria tampannya.

Kyungsoo melenguh kembali saat Kai melepas tautan bibir mereka dan bergerak menghisap leher putih tanpa nodanya. Tangannya yang lain meraba dada rata yang telah terekspose, menggoda. Kai menghisap beberapa titik dileher itu hingga menimbulkan bercak merah keunguan disana. Sebuah karya luar biasa yang selalu ia banggakan. Kyungsoo semakin melenguh, tubuhnya bergetar menikmati setiap sentuhan dan rangsangan yang membuat sendi-sendinya melemas. Kyungsoo tergoda.

Tangan Kai semakin meraba dada serta perut rata Kyungsoo dengan irama pelan dan memabukkan. Ia tersenyum diantara lumatannya pada leher Kyungsoo saat menemukan benda mungil berwarna kemerahan disana. Dengan terampil jari-jarinya bergerak memutar pada nipple ranum Kyungsoo, membuat sosok mungil yang tengah memejamkan mata merasakan dorongan luar biasa dari dalam dirinya.

"Kaihh~" Kyungsoo bergumam sensual menyebut nama Kai. Namun yang terjadi tak sesuai harapannya. Kai menghentikan semua pergerakan dan rangsangan yang ia berikan pada Kyungsoo, membuat mata bulat yang telah sayu itu terbuka.

Kai menatap mata yang seolah memohon lebih padanya itu, menatap dalam dengan perasaan yang tak tertebak oleh Kyungsoo.

"Bolehkah aku melakukannya?" tanya Kai lembut.

Kyungsoo merasa ingin menangis saat itu juga. Ia tahu jika Kai bukan lelaki berengsek karena itu terbukti dengan permintaan ijinnya untuk menyentuhnya. Kai bersikap layaknya seorang pelindung yang ingin melalukan sesuatu tanpa pemaksaan. Dada Kyungsoo bergetar, ia tidak menyangka jika Kai memiliki sisi selembut ini.

Beberapa saat setelah tatapan lekat dari keduanya beradu, sebuah anggukan dari Kyungsoo tercipta, anggukan yang akans merubah segalanya.

"Lakukanlah"

Kyungsoo tersenyum manis dan dibalas senyum juga oleh Kai. Ia tahu jika ini akan menyakitkan karena ini adalah hal pertama untuknya, namun ia percaya pada Kai. Ia percaya jika Kai tidak akan menyakitinya.

Mendapat persetujuan langsung dari Kyungsoo membuat Kai bahagia. Ya, bahagia karena ia merasa jika dirinya telah berhasil membuat kekasih tercintanya percaya padanya. Ia tahu ia berengsek, mengambil 'keperawanan' Kyungsoo hanya dalam waktu beberapa hari mereka berpacaran. Namun bukan hanya kata brengsek yang ada didalam dirinya, karena ia juga masih memiliki hati. Ia masih memiliki cinta suci untuk Kyungsoo. Bahkan ia telah berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan memutuskan Baekhyun setelah ini. Karena memang hanya Kyungsoo yang dapat membuatnya nyaman, Kyungsoo yang dapat membuat getaran didalam dadanya kembali bermunculan. Karena ia mencintai Kyungsoonya.

...

...

"Ya! Bebek, berhenti disitu" teriakan menggema memecah keheningan lorong kampus yang masih sepi.

Laki-laki mungil yang dipanggil bebek menghentikan langkahnya. Bibirnya mengerucut dan dahinya berkerut, kesal.

Telinganya mendengar suara derap langkah yang mendekat. Ia hapal suara ini, suara yang selalu berhasil membuat moodnya hancur seketika. Siapa lagi kalau bukan si Park doby idiot yang menyebalkan.

"Dimana Kai?" tanya lelaki bertubuh tinggi dengan sebutan Park doby itu setelah berdiri disebelah lelaki yang ia panggil bebek.

"Aku tidak tahu" jawabnya ketus.

"Mana mungkin kau tidak tahu, kau kan kekasihnya"

"Untuk apa kau mencari Kai? Belum cukup kau merusak suasana hatiku kemarin?" suara cempereng lelaki mungil itu semakin terdengar kesal.

"Tunggu, merusak suasana hati? Kapan aku merusak suasana hatimu? Aku tidak ingat" jawabnya polos.

Plak!

Baekhyun, sang lelaki mungil mengeplak kepala Chanyeol tanpa perasaan. Ia sangat kesal pada makluk bernama Park doby ini sekarang. Bagaimana bisa dia berpura-pura tidak ingat?

"Ya! Kenapa kau memukulku, bebek!" teriaknya sambil mengelus kepalanya yang berdenyut nyeri.

"Berhenti memanggilku bebek, bodoh!" sungut Baekhyun. "Kemarin Kai tidak bisa menemaniku mengerjakan tugas karena dia lebih memilih menemuimu. Dan sekarang kau mencarinya lagi. Apa kau tidak puas menggangguku dengan Kai. Bahkan hari ini aku berencana mengajak Kai makan kue bersama ditoko kue sebelah kampus. Tapi kau malah datang dan-hhmpt..." acara cuap-cuap panjang lebar dari bibir lamis Baekhyun terhenti ketika Chanyeol membekap mulutnya. Hei, Chanyeol hanya bertanya dimana Kai. Mengapa justru ucapan dan juga curhatan tidak penting yang menjadi jawabannya.

"Kau ini benar-benar berisik. Lagipula kapan aku menemui Kai? Yah, walaupun kami sempat bertemu diapartemen Kyungsoo tapi itu bukan berarti aku membuat jan..." Chanyeol menggantung kalimatnya. Tunggu ada yang yang aneh. Baekhyun mengatakan jika Kai pergi meninggalkannya untuk menemui dirinya. Tapi ia malah bertemu Kai diapartemen Kyungsoo kemarin.

Chanyeol merasakan jika lengannya dipukul-pukul kecil oleh Baekhyun. Ia tersadar dari lamunannya dan segera melepaskan tangannya dari mulut lelaki yang lebih pendek darinya itu.

Baekhyun terengah karena selama Chanyeol membekap mulutnya ia tidak bisa bernapas. Tangan Chanyeol terlalu besar untuk ukuran mulutnya.

"Apa kau gila, eoh? Aku bisa saja mati jika seperti ini" sungut Baekhyun sambil meraup udara sebanyak-banyaknya.

"Kau tidak sedang bertengkar dengan Kai, bukan?"

Baekhyun tersentak. Ia merasakan aura berbeda dari Chanyeol. Aura dingin seperti biasanya. Pertanyaan ini tiba-tiba membuat dadanya bergejolak. Mengapa Chanyeol menanyakan sesuatu yang terdengar aneh untuknya? Sejak kapan Chanyeol peduli dengan hubungannya dengan Kai?

Mata sipitnya menatap lekap mata Chanyeol. Ia menangkap maksud lain dari tatapan itu. Tiba-tiba saja sebuah nama berkelebat didalam kepalanya. Sebuah nama yang baru saja terlontar dari bibir Chanyeol.

"Si-siapa Kyungsoo?" tanyanya ragu.

Lelaki bertubuh tinggi itu menegang ditempat. Ia tahu ini akan terjadi. Ia tahu jika Baekhyun tidak mengenal Kyungsoo. Dan keadaan yang dapat ia cerna adalah, seorang Kai yang tengah berada di apartemen Kyungsoo tanpa diketahui oleh Baekhyun. Tidak, ini akan menjadi buruk jika ia tidak bertindak. Bukan karena ia kasihan pada Kai maupun Baekhyun, namun ia kasihan pada Kyungsoo. Lelaki mungilnya itu tidak boleh tersakiti oleh siapaun, apalagi oleh Kai.

Dengan langkah terburu-buru Chanyeol melenggang meninggalkan Baekhyun yang menegang ditempat. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana dan menekan beberapa tombol untuk menghubungi lelaki mungilnya, Kyungsoo.

Sementara Baekhyun, ia masih tidak mengerti atas kejadian aneh yang baru saja dialaminya. Ia berusaha mencerna setiap ucapan dan perkataan dari Chanyeol. Namun salahkan otaknya yang terlalu lugu. Ia tidak menyadari keadaan yang telah terjadi. Ia tidak menyadari jika hubungannya dengan Kai sedang terancam.

...

...

"Yeobseyo"

"..."

"Sebentar lagi aku berangkat. Wae?"

"..."

"Aku berangkat sendiri, Chanyeol"

"..."

"Baiklah"

Pip

"Siapa?" tanya suara berat dari arah kamar mandi.

"Chanyeol" jawabnya santai sambil berjalan mendekati Kai. Ia mengambil alih handuk yang tengah dipegang lelaki bertubuh tan itu.

"Mau kubantu?" tawarnya dengan senyum mengembang.

Mengerti maksud dari Kyungsoo, Kai segera menundukkan kepalanya. Membiarkan tangan mungil kekasihnya itu menggosok helaian rambutnya yang basah.

"Untuk apa Chanyeol menelponmu?" tanya Kai akhirnya.

"Dia menanyakan apakah aku pergi kekampus atau tidak"

Kai mengangguk mengerti. Ia tidak berniat bertanya kembali dan membahas masalah Chanyeol sekarang. Ya, ia cukup tahu diri. Ia tidak mungkin mengekang kehidupan Kyungsoo hanya karena statusnya sebagai kekasihnya.

"Aku tidak bisa mengantarmu hari ini. Aku harus pulang untuk berganti pakaian dan mengambil beberapa keperluanku" ucap Kai dengan kepala masih menunduk.

"Tak apa, aku akan naik bus seperti biasa" balas Kyungsoo sambil menjauhkan handuknya dari kepala Kai "Selesai"

Kai mengangkat kepalanya dan tersenyum. Ia menatap wajah ceria Kyungsoo yang menenangkan. Ia merasakan jika Kyungsoonya benar-benar istimewa. Memperlakukannya penuh dengan kasih sayang dan tanpa paksaan. Hanya dengan sentuhan kecil itu saja, Kai merasakan jika dadanya selalu menghangat.

"Aku akan menyiapkan sarapanmu. Segera turun jika sudah selesai" ucap Kyungsoo riang sambil meletakkan handuk kotornya pada keranjang disamping pintu kamar mandi.

Kai mengangguk patuh, sehingga senyum mengembang kembali tercipta dari belah bibir hati kekasihnya.

"Kurasa aku benar-benar terjatuh padamu, Soo" gumamnya saat tubuh mungil Kyungsoo menghilang dibalik pintu.

...

...

"Dari mana saja kau?" suara berat ini menghentikan langkahnya. Ia baru saja menginjak anak tangga pertama dan langsung mendapat pertanyaan dingin seperti itu.

"Untuk apa Appa bertanya?" hardiknya dengan nada tak kalah dingin.

"Aku ini Appamu. Aku berhak menanyakan sesuatu pada putranya sendiri, bukan?"

Mendengar kalimat itu membuat telinga Kai memanas. Ia membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan sosok bertubuh tegap yang tengah berdiri tepat didepannya.

"Baru sekarang kau mengakui jika kau Appaku. Kemana saja kau selama ini?" nada sedingin es itu mengiringi seringaian dari bibir Kai. Ia merasa menang saat lelaki paruh baya yang ia panggil Appa itu hanya terdiam tanpa berniat membalas ucapan kasarnya.

Bukan, bukannya Yunho tidak bisa menjawab pertanyaan menyakitkan itu. Hanya saja ia lebih memilih mengalah. Ia sadar jika ia bersalah, dan ini adalah konsekuensinya.

"Appa hanya ingin kau meminta ijin pada Appa saat kau tidak pulang kerumah" ucap Yunho pada akhirnya.

"Untuk apa? Agar kau bisa mengawasiku seperti anak kecil?"

"Kai!" nada Yunho meninggi.

"Maaf Appa, aku tidak ada waktu" ucap Kai dingin dan segera memacu langkahnya menuju kamar. Mengacuhkan tatapan prihatin dari Yunho yang begitu menyakitkan.

"Teruslah berusaha" suara lembut itu mengalun menyapa gendang telinganya. Ia mengarahkan pandangannya pada sosok cantik yang entah sejak kapan berada disana.

"Aku tidak yakin" ucap Yunho putus asa "Sudah yang kesekian kalinya tapi belum ada perubahan dari mereka" Yunho berjalan gontai kearah sofa didekat anak tangga. Ia merasa jantungnya panas, ini terlalu menyakitkan.

Wanita cantik bernama Yoona itu berjalan mendekati Yunho dan mengelus pelan lengannya, memberi kekuatan agar pria nya tidak bersikap lemah didepan kedua putranya.

"Aku yakin suatu saat mereka akan luluh. Mungkin dengan membawa putramu yang hilang itu kerumah, akan mengembalikan kepercayaan mereka padamu" Yoona tersenyum cantik, senyum menenangkan yang membuat sang pria ikut tersenyum.

"Menurutmu begitu?"

"Tentu saja. Bukankah mereka membencimu karena alasan ini?"

Yunho terdiam. Mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu. Kejadian dimana kedua putranya yang mulai beranjak dewasa mengerti dengan situasi yang terjadi. Kedua putranya yang terus saja mendesaknya untuk mempertemukan mereka pada ibu dan juga saudara mereka. Namun salahkan sifat egois yang melekat pada dirinya dahulu hingga mengabaikan setiap kebutuhan psikis kedua putranya. Ia sangat mengerti jika memang keadaan ini yang akhirnya membuat kedua putranya membencinya. Karena ia telah memisahkan mereka dari ibu dan saudaranya.

"Kau bersedia membantuku jika saat itu tiba, bukan?" tanya Yunho dengan tatapan penuh harap.

Wanita cantik itu mengangguk, membuat hati Yunho kembali lega. Segera ia raih tubuh ramping wanita itu kedalam pelukan hangatnya. Menyalurkan rasa terimakasih yang sangat besar meskipun tanpan ucapan.

Yunho tidak menyadari jika sikapnya terhadap Yoona begitu mengganggu salah satu putranya. Ya, sikapnya yang seperti itu mengganggu Kai hingga membuat lelaki tan itu berdecih tak suka. Matanya tak sengaja melihat skinship antara Appanya dan wanita asing itu dari lantai atas. Tanpa menghiraukan keadaan yang ada, ia segera memacu langkahnya menuruni anak tangga dan keluar rumah dengan perasaan yang sulit diungkapkan.

"Sial!"

...

...

Lelaki mungil itu baru saja turun dari bus yang ia tumpangi menuju Universitas tempatnya belajar. Ia masih harus berjalan beberapa meter lagi untuk mencapai gerbang Universitas. Langkahnya terasa begitu ringan karena senyum yang terus saja mengembang dari belah bibirnya. Ia bahagia karena kejadian yang ia lakukan tadi pagi bersama Kai. Ya, meskipun pada akhirnya ia harus merasakan sakit dibagian bawah tubuhnya namun perasaan bahagianya tak dapat terungkapkan. Ia merasa jika Kai benar-benar mencintainya karena lelaki tampan itu telah menyatukan dirinya pada diri Kai. Hah, senangnya menyadari jika dirinya telah memiliki kekasih.

Kyungsoo masih saja berjalan sambil tersenyum-senyum riang hingga ia merasakan jika ada seseorang yang membuntutinya dari belakang. Ia menghentikan langkahnya sejenak untuk menoleh. Tapi nihil, tak ada seseorang yang terlihat mencurigakan.

"Sepertinya tadi ada yang mengikutiku. Tapi siapa?" monolognya. Itu terus saja celingukkan, mengarahkan pandangannya kesegala arah namun tetap saja ia tak menemukan seseorang itu.

"Atau mungkin hanya perasaanku saja?" monolognya lagi dengan dahi berkerut.

Ia hendak menolehkan kepalanya kedepan dan kembali memacu langkahnya, namun betapa terkejutnya dia saat tiba-tiba sosok kepala dengan senyum lebar tepat berada didepannya.

"Sedang apa?" tanya sosok itu tiba-tiba.

"Omona!" Kyungsoo berjingkat sambil memegangi dadanya yang naik turun karena perasaan kaget yang luar biasa "Yak! Kau mengangetkanku, bodoh!"

"Mian, hehe" sosok itu tertawa cengengesan sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal.

"Jantungku hampir saja melompat, kau tahu?" sungut Kyungsoo sambil mengelus dada kirinya.

"Tidak akan melompat selama ada aku" lelaki bertubuh tinggi itu kembali tersenyum lebar.

"Aish!"

"Kau belum menjawab pertanyaanku. Sedang ada kau celingukan sendiri disini?"

"Eoh? Umh, ti-tidak" jawabnya gugup. Tidak mungkin ia memberitahu Chanyeol atas tingkah anehnya karena merasa ada yang mengikutinya. Bisa-bisa Chanyeol tidak akan berhenti tertawa.

"Kau serius?" Chanyeol mendekatkan wajahnya pada wajah Kyungsoo, bermaksud menggoda. Namun betapa kagetnya ia saat tanpa sengaja matanya menemukan satu titik samar berwarna merah keunguan.

Setahunya Kyungsoo belum memiliki kekasih, lalu siapa yang melakukan itu?

Tiba-tiba sekelebat ingatan menyapa kepalanya. Ingatan tentang kunjungan Kai diapartemen Kyungsoo kemarin. Mungkinkah Kai yang melakukannya? Tapi bagaimana bisa?

"Tentu saja. Sudahlah, kita masuk. Aku ada kelas setelah ini" jawaban dari Kyungsoo mengembalikan kesadarannya. Ia melihat jika Kyungsoo mulai melangkahkan kaki, berniat meninggalkannya sendirian.

Namun baru satu langkah Kyungsoo berjalan, tiba-tiba tangan besar Chanyeol menggenggam lengannya hingga membuat tubuh mungil lelaki itu berbalik secara paksa. Jika saja Chanyeol tak menangkap tubuh Kyungsoo yang limbung, maka dapat dipastikan jika ia akan terjatuh menyentuh kerasnya trotoar jalan.

"Yak! Apa yang kau lakukan?" sungut Kyungsoo sebal.

"Ikutlah denganku, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan" kata Chanyeol datar. Ada apa? Mengapa Chanyeol merubah nadanya begitu drastis?

Dengan posisi Kyungsoo yang berada dipelukan Chanyeol membuat dada Kyungsoo berdetak tanpa sebab. Jarak ini terlalu dekat jika hanya untuk mengatakan sebuah 'ajakan'.

"A-ada apa?" ucap Kyungsoo gugup. Tentu saja, bahkan Chanyeol tak menatap matanya saat mengatakan hal itu.

Chanyeol tak berniat menjawab pertanyaan Kyungsoo. Yang ada dikepalanya saat ini adalah segera membawa Kungsoo pergi dari sana. Ia tidak mungkin membiarkan Kyungsoo melihat Kai yang tengah bergandengan mesra bersama Baekhyun didepan gerbang kampus. Oleh sebab itulah Chanyeol menarik Kyungsoo kedalam pelukannya, menghalangi mata bulatnya untuk menatap kejadian yang mungkin akan membuatnya terluka.

...

...

"Jadi?" tanya Kyungsoo setelah mendudukkan dirinya pada sebuah bangku cafe. Ia kesal pada lelaki bertubuh seperti jerapah yang tengah duduk didepannya ini. Ia bahkan harus rela membolos kuliah hanya untuk menikmati keterdiaman Chanyeol. Yang benar saja.

Mendengar pertanyaan itu membuat Chanyeol salah tingkah. Ia hanya bisa meringis menatap Kyungsoo. Ia bingung mencari alasan, tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya. Namun didalam hatinya ia sangat ingin menanyakan hubungannya dengan Kai.

"Kenapa hanya diam, Chanyeol. Aku menunggu jawabanmu" kesalnya.

"Umh, se-sebenarnya..." Chanyeol menggantung perkataannya, membuat Kyungsoo mengerutkan dahi, menunggu jawaban. "Sebenarnya aku...umh..." mata Chanyeol bergerak-gerak seiring tatapan Kyungsoo yang semakin datar.

"Chanyeol!" Kyungsoo meninggikan nadanya

"Aku ingin mentraktirmu es krim. Hehe..." jawab Chanyeol sekenanya. Ia meringis saat menyadari alasan bodoh yang keluar begitu saja dari bibirnya. Sangat jauh dari kesan pintar dan elegan yang selama ini melekat pada putra satu-satunya keluarga Park itu.

"Astaga, jadi kau memaksaku membolos hanya untuk mentraktirku makan es krim?" mata bulat Kyungsoo melebar tak percaya.

Chanyeol mengangguk ragu. Ya, karena memang hanya itu satu-satunya alasan yang keluar begitu saja dari kepalanya.

Kyungsoo menghempaskan tubuh mungilnya kesandaran kursi cafe yang empuk dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi.

"Aku merasa ketagihan es krim sejak kau mengajakku makan es krim waktu itu" ucap Chanyeol dengan cengiran lebar.

Kyungsoo menarik napasnya dalam mendengar alasan bodoh yang mengharuskannya membolos itu. Ssebenarnya apa isi kepala dokter muda ini, mengapa terkadang Kyungsoo merasakan jika isi kepala Chanyeol kosong? Astaga!

"Pesanlah sesuatu, aku akan membelikan yang mahal diantara semuanya" ucap Chanyeol riang.

Melihat senyum lebar tanpa rasa bersalah itu membuat Kyungsoo kesal. Jika ia tidak memikirkan rasa terimakasihnya pada Chanyeol karena lelaki itu pernah menolongnya, maka sudah dapat dipastikan jika pukulan mematikannya mendarat dengan tepat dikepala lelaki itu.

Kyungsoo dan Chanyeol telah memesan, dan ice krim coklat green tea yang menjadi pilihan mereka. Kyungsoo merekomendasikan dua rasa yang dimix jadi satu, karena kata Kyungsoo dua rasa itu baik untuk menjernihkan otak Chanyeol yang mulai geser.

Mereka menikmati es krim masing-masing dalam keterdiaman. Ah, tidak. Mungkin hanya bibir mereka yang terdiam, tapi pikiran serta hati mereka dipenuhi pertanyaan dan juga rasa penasaran, seperti halnya Chanyeol. Lelaki itu bahkan hanya menatap wajah manis Kyungsoo yang terlihat begitu manis ketika sedang menikmati es krimnya. Bahkan terbersit pikiran untuk memiliki lelaki mungil bermata bulat itu dan melindunginya dengan caranya sendiri. Namun mengingat noda merah dileher Kyungsoo itu, membuat pikirannya kembali menerka. Apa benar Kyungsoo memiliki suatu hubungan dengan Kai?

"Kyung" panggilan dari Chanyeol membuat Kyungsoo mengangkat kepalanya. Sendok es krim yang masih menempel pada mulutnya ia biarkan begitu saja.

Beberapa detik berlalu namun belum ada satu kalimat yang keluar dari Chanyeol, hingga membuat Kyungsoo mengerutkan dahi.

"Ada apa?" tanyanya setelah melepas sendok es krim dari bibir mungilnya.

"Apa hubunganmu dengan Kai?" entah mendapat keberanian dari mana tiba-tiba saja ia menanyakan hal itu. Padahal dari awal ia mengajak Kyungsoo kesini adalah tidak untuk membahas Kai. Namun rasa penasaran didalam hatinya menguasai segalanya.

"Memangnya ada apa?" tanya Kyungsoo polos.

"Tidak. Hanya penasaran. Kuperhatikan beberapa hari ini kau sering berdekatan dengan Kai. Apa dia kekasihmu?"

Uhuk!

Kyungsoo tersedak es krim saat kalimat terakhir yang diucapkan Chanyeol keluar begitu ringan.

"Ya, gwenchana?" Chanyeol yang gugup segera menyodorkan lime tea nya pada Kyungsoo. Ia melihat Kyungsoo segera meneguk setengah gelas lime tea nya dengan brutal.

"Dari mana kau tahu?"

Deg

Seperti tersambar petir disiang bolong, perkataan polos Kyungsoo itu telah memporak porandakan hatinya.

"Ja-jadi Kai adalah kekasihmu?" tanya Chanyeol memastikan dan dibalas tatapan malu-malu dari Kyungsoo. Pipinya yang memerah cukup untuk menjawab pertanyaannya. Chanyeol merasa lemas seketika. Lelaki mungil yang selama ini telah mencuri hatinya, lelaki mungil yang begitu ingin ia lindungi, lelaki mungil yang ia cintai diam-diam, ternyata telah dimiliki oleh Kai.

Tunggu, ada yang mengganjal hatinya. Astaga! Ia baru mengingat jika Kai memiliki Baekhyun. Jadi, Kyungsoo dijadikan sebagai selingkuhan? Tidak, ini tidak boleh terjadi. Ia akan sangat marah jika Kai memperlakukan Kyungsoonya seperti itu. Tapi jawaban dari Kyungsoo telah menjawab semuanya. Lalu apa yang harus ia lakukan? Memberitahu siapa Kai yang sebenernya? Menceritakan hubungan Kai dengan Baekhyun? Tidak, itu hanya akan menyakiti Kyungsoonya. Ia harus memastikan dulu pada Kai. Ya, itu yang harus ia lakukan terlebih dahulu.

"Chanyeol, kau tidak apa-apa?" tanya Kyungsoo setelah tak mendapat jawaban dari Chanyeol. Ia merasa aneh dengan lelaki tinggi dihadapannya ini. Mengapa tiba-tiba saja Chanyeol melamun?

"Ah...tidak. Habiskan es krimmu" titahnya.

Kyungsoo merengut heran. Chanyeol benar-benar aneh.

Tanpa mempedulikan Chanyeol yang masih saja terdiam, Kyungsoo pun berniat untuk segera menghabiskan es krimnya sebelum mencair. Namun justru kini ia yang terdiam. Ia merasakan jika tangannya yang tengah memegang sendok es krim terasa kaku. Ia mencoba menggerakkan tapi tetap tidak bisa. Kyungsoo menatap nanar tangan kanannya. Ada apa? Mengapa sulit digerakkan?

"Kyungie?" Chanyeol memanggil Kyungsoo yang justru terdiam. Ia menatap wajah menunduk Kyungsoo yang terlihat pucat. Saat Kyungsoo mengangkat kepalanya, betapa kegetnya ia karena melihat lelehan pekat berwarna merah mengalir deras dari hidung mungilnya.

"Chanyeol, Appo~" Kyungsoo merengek, matanya memerah hendak mengeluarkan kristal bening dari kedua mata bulatnya.

"Astaga, Kyungie!"

...

...

TBC

...

...

Hai..hai... Chapter 8 hadir, ada yang masih menanti Hidden Love? Adakah? Adakah?

Mian moment Kaisoo enaenanya kagak diterusin, Unnie yang biasanya membantu nulis Rate M lagi sibuk Skripsi jadi dengan sangat terpaksa(?) JongSoo ngetik sendirian.

Semoga tetap memuaskan, meskipun makin kesini ceritanya makin mendrama :D

...

kyunginsoo : Thanks for riview, chingu-ya~

penguin soo : Haha...silahkan kembali menebak-nebak chingu-ya. Chap ini udah ada clue nya kan? :D

unniechan1 : Khekhe bikin alur sendiri juga boleh :D Ne~ pastikan akan dipertemukan, tapi tunggu chap depan :D

FarydahKAISOO8812 : Iya, mereka incest :D Jangan demi nenek tapasya, astaga :D Ne~ nado saranghae~

rakaahmada: Iya, si kai makin nyebelin. JongSoo juga kesel. *eh

kianaevellyn : Kyung akan baik-baik saja kok :D tenang aja chingu-ya :D

park28sooyah : Chap ini udah ada Chansoo moment walaupun radak absurd :D

yuniawijayanti2002 : Terimakasih atas dukungannya nia, nado saranghae

Lovesoo : Cheomna, chingu~

Nurfadillah : JongSoo juga kagak rela si sebenernya dia dijadikan yang kedua, tapi mungkin ini memang sudah takdirnya :D

anisafransiskaa : Wah banyak yang suka Chansoo yang ternyata :D Gomawo chingu atas semangatnya XOXO

whenKmeetK : Sudah di next, gomawo~

Sofia Magdalena : Tentang penyakitnya soo ya? Itu masih rahasia :D

SevtrisaV : Ne~ Gomawo sevtrisa

waiz Snivy : Gak papa dek, gak masalah mau telat riview atau apapun, kamu bersedia mengunjungi epep JongSoo saja udah seneng kok. Gomawo~ :D

...

Seperti Biasa, saran dan juga kritik akan selalu ditampung dengan baik. Tinggalan coretan kalian pada kolom riview ne~ Srangahae...