HIDDEN LOVE
.
KaiSoo, KaiBaek, ChanSoo
Other Cast
Rate : M
Genre : Drama, Romance
.
Typo(s), abal, alur gaje, Peringatan keras: Don't like Don't read
...
...
Tubuh mungil itu begitu lemah. Mata bulatnya terlihat sayu. Bahkan pipi gembil yang beberapa waktu lalu terlihat merona kini berubah pucat. Begitu berbeda.
Kyungsoo merasakan benda dingin menyapa dada kirinya, sebuah stetoskop. Entah bagaimana ia bisa berada disini, ia lupa. Seingatnya, Chanyeol terlihat panik saat hidungnya mengeluarkan begitu banyak darah segar. Lelaki bertubuh tinggi itu segera mengangkat dan membawa dirinya menaiki mobil kala kesadarannya mulai menghilang. Dan disinilah ia sekarang, berbaring disebuah kamar rawat Rumah Sakit dengan Chanyeol yang tak pernah lepas menggenggam tangan dinginnya.
"Masih merasa pusing?" sebuah suara berat menginterupsi pendengarannya. Kyungsoo mengangguk pelan.
"Sedikit"
Pria itu tersenyum lalu memasukkan ujung stetoskop kedalam saku jas putih yang ia kenakan.
"Apa terjadi sesuatu yang serius?" tanya Chanyeol dengan raut khawatirnya.
Sang dokter muda menatap penuh minat pada Kyungsoo yang mulai bangkit dari posisinya berbaring, lalu melirik kearah tangan mungil yang bertaut manis dengan tangan milik Chanyeol.
Kyungsoo yang menyadari telah ditatap oleh sang dokter muda itupun segera melepas genggaman tangan Chanyeol pada tangannya. Mata bulatnya bergerak-gerak gugup, lalu mengarahkan tangannya untuk membenarkan tiga kancing kemejanya yang terbuka. Sang dokter muda kembali tersenyum, merasa lucu dengan tingkah lelaki mungil itu.
"Tidak, semua terlihat baik. Dia hanya sedikit kelelahan" ucapnya santai lalu mengarahkan pandangannya kembali pada Kyungsoo "Anda harus lebih sering beristirahat, Kyungsoo-ssi"
Merasa namanya disebut, Kyungsoo kembali mengangkat wajahnya dan menatap dua iris sang dokter muda, lalu mengangguk pelan.
Disaat tatapan mereka bertemu, Jongdae-sang dokter muda merasa ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Kyungsoo. Tatapan yang tak asing untuknya. Tiba-tiba saja dadanya menghangat tanpa sebab. Mata Kyungsoo begitu mirip dengan mata seseorang. Tapi siapa?
"Tapi kenapa Kyungsoo terus saja mengeluarkan darah? Aku sedikit ragu atas penjelasanmu" ucap Chanyeol memecah lamunan Jongdae.
"Yak! Aku ini dokter. Apa kau menganggap analisaku ini sebuah karangan?" Jongdae bersiap memukul Chanyeol jika saja ia tak menyadari ada sosok lain diantara mereka.
Chanyeol berkerut bingung kemudian melirik kearah Kyungsoo yang tengah memegangi kapas putih dikedua lubang hidungnya. Setelah beberapa detik, Chanyeol kembali mengarahkan pandangannya pada Jongdae. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya dan berbisik "Dia seseorang yang aku ceritakan tempo hari"
Deg
Entah atas dasar apa tiba-tiba saja senyum lembut Jongdae luntur. Dadanya berdetak lebih cepat saat mendengar ucapan Chanyeol.
"Apa kau serius?" pandangan Jongdae terlihat sangat kaku saat mengucapkan kalimat itu. Raut wajahnya juga sangat berbeda.
Chanyeol mengangguk lalu melirik kembali kearah Kyungsoo yang terduduk manis diatas ranjangnya.
"Ikut keruanganku" perkataan tiba-tiba dari Jongdae membuat atensi Chanyeol kembali.
Ada apa?
Seketika pertanyaan itu mengalun didalam kepalanya.
Chanyeol hendak mengikuti Jongdae yang telah lebih dulu keluar dari ruang rawat Kyungsoo. Namun ia tahu jika tak seharusnya Kyungsoo ikut bersamanya. Kyungsoo masih terlalu lemah, dan juga sepertinya Jongdae akan memberitahu sesuatu yang penting padanya.
"Apa tidak apa-apa jika kutinggal sendiri disini?" tanya Chanyeol sambil mengelus lembut kepala Kyungsoo.
Lelaki mungil itu tersenyum kemudian mengangguk. Terlihat begitu manis dimata Chanyeol.
"Jangan pergi kemanapun sebelum aku kembali kesini, arraseo?" ucapnya lagi dengan mata sedikit melebar, berpura-pura menjadi orangtua yang sedang memberi nasehat pada anaknya.
"Aku bukan anak kecil yang harus kau titipi pesan seperti itu, Yeol" Kyungsoo meninju pelan perut Chanyeol sambil terkikik.
Melihat tawa ringan dari bibir Kyungsoo membuat jantung Chanyeol berdesir. Bahkan disaat tubuhnya lemah seperti ini Kyungsoo masih berbaik hati meladeni candaannya. Rasa hatinya menghangat, hingga tanpa sadar Chanyeol mendekatkan wajahnya pada wajah Kyungsoo.
Lelaki mungil itu mengerjap beberapa kali. Pipinya yang pucat tiba-tiba saja kembali merona, jantungnya juga terasa berdetak dua kali lebih cepat saat menyadari jarak wajahnya dengan Chanyeol hanya tinggal beberapa senti lagi.
"Berjanjilah padaku" ucap Chanyeol penuh atensi, tangan kanannya tergerak menyentuh pipi gembil menggemaskan milik Kyungsoo "Kau akan tetap duduk manis disini hingga aku menjemputmu"
Kyungsoo masih terdiam. Bola mata bulatnya sudah tak dapat berkedip lagi, napasnya pun tertahan saat tangan Chanyeol bergerak mengelus lembut pipinya. Bahkan jantung yang berada didalam sana telah bergetar tak sesuai irama nornal saat senyum Chanyeol mengembang.
"Aku akan segera kembali" lanjutnya setelah mengecup pelan dahi Kyungsoo kemudian berjalan keluar meninggalkan lelaki mungil itu dengan segala keterkejutannya.
Tunggu, mengecup?
Astaga! Kyungsoo hampir pingsan saat menyadari perlakuan Chanyeol yang begitu lembut padanya.
Ia masih saja tak bergerak, terlalu aneh menurutnya. Sikap Chanyeol terasa begitu lembut dan sangat berbeda dari layaknya seorang teman. Karena ini terasa seperti sentuhan Kai, menurutnya.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya cepat ketika pikirannya mulai kemana-mana. Bagaimana bisa ia membandingkan sikap Chanyeol dengan Kai?
"Bagaimana aku bisa sebodoh itu?" monolognya sendiri kemudian terkekeh kecil.
Tok Tok
Atensi Kyungsoo teralihkan saat telinganya mendengar suara ketukan pintu. Kyungsoo mengerutkan dahinya bingung. Seingatnya tidak ada yang mengetahui keberadaannya disini kecuali Chanyeol, tapi siapa yang datang? Apa jangan-jangan...
"Selamat siang, Kyungsoo-ssi"
Pria berpakaian rapi itu membungkuk pada Kyungsoo. Melihat orang yang tak ia kenal begitu bersikap formal padanya membuat Kyungsoo berkerut bingung. Ia berusaha mengontrol ekspresi keterkejutannya dengan membalas membungkukkan badan pada posisi duduknya.
"Anda mengenal saya?" tanya Kyungsoo kemudian.
Pria itu mengangguk pelan kemudian kembali tersenyum "Saya Jung Ilhoon. Ada yang perlu saya sampaikan kepada anda, Kyungsoo-ssi"
...
...
Bibir lelaki mungil itu terus saja mengumbar senyum. Sangat terlihat jika suasana hatinya begitu baik. Bagaimana tidak, sang kekasih yang sangat ia rindukan tengah bersamanya sekarang. Memang benar jika baru kemarin mereka bertemu, namun karena mereka tidak tinggal satu apartemen lagi membuat siklus pertemuan mereka jadi berkurang.
Baekhyun, sang lelaki mungil dengan senyum manis itu tak kunjung melepas kaitan tangannya pada lengan Kai. Ia tidak peduli jika semua mata tertuju pada mereka. Ia juga tidak peduli jika seisi kelas tengah berbisik membicarakan mereka. Yang ada dipikirannya hanya Kai. Kai yang berada didekatnya.
Ini adalah hal langka sejak beberapa hari terakhir. Kai juga tidak pernah menyentuhnya dengan mesra lagi belakangan ini. Dan itu membuat Baekhyun sedikit kesal. Bukan apa-apa, hanya saja perkataan Chanyeol beberapa saat yang lalu terus mengganggu pikirannya.
"Kai-ya" panggil Baekhyun lembut setelah ia mendudukkan dirinya dibangku sebelah Kai.
"Hmm" hanya deheman singkat yang menjadi balasannya.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Baekhyun sedikit ragu.
Kai mengerut. Tidak biasanya Baekhyun meminta ijin terlebih dahulu jika ingin menanyakan sesuatu padanya.
"Ada apa?" tanyanya penuh minat. Mata elangnya menatap lekat kedua mata sipit yang selalu memberikan rasa nyaman padanya.
"Siapa Kyungsoo?"
Kai tercekat. Tiba-tiba saja paru-parunya sulit mengolah oksigen. Kerongkongannya juga terasa kering. Pertanyaan Baekhyun seperti serangan mendadak yang mengganggu sistem kerja jantungnya.
"K-kenapa kau menanyakan Kyungsoo?" sebisa mungkin Kai mengontrol nada bicaranya meskipun sulit.
Baekhyun menggeleng pelan kemudian melepaskan kaitan tangannya pada lengan kokoh milik Kai. Ia membenarkan posisi duduknya menghadap Kai. Sedikit banyak hal itu mengganggu fokus lelaki berkulit tan itu. Ia takut jika Baekhyun menangkap gelagat tak wajarnya saat lelaki yang dicintainya itu bertanya tentang Kyungsoo kembali.
"Tidak. Aku hanya penasaran. Tadi Chanyeol menyebut nama Kyungsoo dan namamu saat menemuiku" Baekhyun menatap malas saat harus menyebutkan nama Chanyeol pada kalimatnya.
Ish! Park Doby itu selalu berhasil mengusik mood-nya meskipun hanya dengan menyebut namanya saja.
"Chanyeol menemuimu? Untuk apa?"
"Dia mencarimu" jawab Baekhyun enteng
Mencariku? Tidak biasanya Chanyeol mencariku siang-siang begini, monolognya dalam hati.
"Hanya itu?"
"Umh, Chanyeol bilang dia bertemu denganmu diapartemen Kyungsoo. Sebenarnya siapa Kyungsoo? Sepertinya namanya tidak asing" ucap Baekhyun sambil menerawang nama Kyungsoo dikepalanya.
Kai berdehem, menghilangkan suasana gugup yang menyerang hatinya dengan tiba-tiba. Ia harus bersikap normal. Ia tidak mungkin menceritakan siapa Kyungsoo pada Baekhyun. Bagaimanapun juga Kai masih sangat mencintai Baekhyun. Hubungan selama 2 tahun nyatanya membuat hati Kai merasa berat jika harus memutuskan Baekhyun dan menceritakan siapa Kyungsoo. Untuk itu ia memutuskan jika sementara waktu biarlah keadaan seperti ini dulu.
"Dia temanku dan juga teman Chanyeol" jawab Kai setenang mungkin.
"Teman? Bagaimana bisa aku tidak mengenal temanmu yang bernama Kyungsoo itu?" tanya Baekhyun polos
"Tidak semua temanku harus kau kenal, changi. Kyungsoo bukan teman dekat seperti Chanyeol." ucap Kai sambil membelai surai kecokelatan milik Baekhyun.
Sedangkan Baekhyun hanya mengangguk. Ia tak berniat bertanya lagi pada Kai. Ia tahu jika sesuatu telah terjadi. Kai bukan tipe orang yang pandai berbohong. Meskipun ia berkata demikian, bukan berarti kenyataannya memang demikian. Jika Baekhyun menanyai Kai lebih lanjut, ia takut Kai akan merasa risih dan menjauhinya. Ia cukup tahu bagaimana sifat Kai. Untuk itu Baekhyun memilih diam dan memendam segala pertanyaan yang berada dikepalanya sendiri.
"Kau mau makan cake ditempat yang waktu itu?" tanya Kai mengalihkan perhaian saat melihat guratan pada dahi Baekhyun. Sontak saja perkataan Kai mendapat antusias besar dari sang pemilik mata sipit nan cantik itu.
"Tentu lama aku ingin mengajakmu makan cake lagi disana. Bagaimana kalau sekalian menjangak Tao, Luhan, Sehun dan Kris gege?" ucapnya penuh semangat
"Ide bagus" Kai membalas senyum dari Baekhyun. Tangan hangatnya masih setia mengelus helaian lembut milik sang kekasih. Ia merasa lega ketika Baekhyun tak membahas Kyungsoo'nya' lagi. Ya, paling tidak untuk saat ini.
...
...
Jemari itu tak kunjung berhenti mengetuk lembut meja didepannya. Pandangannya juga tak lepas dari punggung seorang dokter muda yang masih sibuk mencari berkas dilemari yang terletak diujung ruang kerjanya. Keheningan ini terasa begitu menyiksa. Tidak, Chanyeol bukan tipe pria yang suka menunggu, untuk itu ia memutuskan untuk membuka suara.
"Apa berkas-berkasmu hilang? Kau harus menyimpannya dengan baik, Jongdae"
"Ishh!" balas Jongdae-sang dokter muda itu dengan kesal. Seenaknya saja Park Doby itu mengatainya demikian. Dia kira dirinya adalah dokter ceroboh yang suka menghilangkan berkas-berkas penting? Dasar!
Beberapa saat berlalu dengan keheningan karena ia memilih tak menanggapi perkataan tak bermutu dari Chanyeol. Hingga senyumnya mengembang saat menemukan map berwarna hijau diantara tumpukan map lainnya.
"Ketemu" ucapnya lirih bahkan hampir tak terdengar.
Dengan langkah mantab, Jongdae berjalan mendekati meja kerjanya. Kemudian ia mendudukkan dirinya dikursi yang berseberangan dengan kursi yang diduduki Chanyeol.
"Ini. Lihatlah" ucap Jongdae saat menyodorkan secarik kertas berlogo Rumah Sakit tempatnya bekerja dibagian atas.
Tanpa banyak pertanyaan lagi Chanyeol menerima kertas itu dan meneliti setiap kalimat yang tertulis rapi disana. Dahi Chanyeol berkerut, kemudian matanya menatap penuh minta pada Jongdae.
"Apa ini artinya..." Chanyeol menggantung kalimatnya saat mengetahui apa isi dari kertas itu.
"Kyungsoo pernah mengalami amnesia selama hidupnya"
Chanyeol kembali berkerut mendengar pernyataan dari Jongdae itu.
"Baca kalimat terakhir dibaris ketiga" ucap Jongdae dan Chanyeolpun menurut. Ia membaca kalimat yang dimaksud Jongdae kemudian tanpa sadar ia menjatuhkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Kerusakan pada tulang punggungnya mencapai 30%. Kau tahu bukan jika itu adalah salah satu penyebab darah Kyungsoo selalu mengalir meskipun tidak dalam keadaan lelah?" tanya Jongdae dan Chanyeol mengangguk lemah.
Jongdae menghela napas berat "Aku tidak menyangka jika lelaki itu yang memiliki penyakit semacam ini. Kau tahu, aku selalu penasaran terhadap orang yang bisa membuatmu berubah. Dan ternyata orang itu memiliki riwayat penyakit yang cukup serius"
Pandangan Jongdae terasa kosong. Ia mengucapkan kalimat itu seolah ia juga merasakan apa yang tengah dirasakan oleh Chanyeol. Entah mengapa hanya dengan memandang mata lelaki bernama Kyungsoo satu kali saja telah membuat dadanya menghangat. Ia seperti menemukan bagian dirinya yang telah lama hilang.
Tapi apa? Apa yang hilang?
"Apa itu berpengaruh dengan kesehatannya?" suara Chanyeol mengembalikan atensi Jongdae.
"Tentu saja. Dia akan mengalami trauma saraf jika terus seperti ini. Kau juga seorang dokter, Yeol. Kuharap kau bisa melakukan sesuatu yang menurutmu baik untuk Kyungsoo"
...
...
Mata bulatnya mengerjap beberapa kali saat menatap sebuah amplop berwarna coklat yang ada ditangannya. Ia masih saja tak mengerti dengan perkataan pria bernama Jung Ilhoon yang beberapa saat yang lalu menemuinya.
Perkataan yang keluar dari pria itu seolah memberi angin segar pada pikirannya mengenai latar belakang keluarganya. Kyungsoo tidak pernah tahu siapa dan bagaimana rupa kedua orang tuanya karena ingatannya yang hilang. Yoona ahjumma juga tidak memiliki satupun foto kedua orang tuanya. Untuk itulah, jauh didalam hati kecilnya ada rasa senang yang tak dapat tergambarkan oleh kata-kata saat mendapat informasi mengenai siapa keluarganya.
Sejenak Kyungsoo terdiam. Sesuatu dari dalam dadanya seolah mencicit. Siapa sebenarnya dirinya? Siapa orang tuanya? Ayahnya? Ibunya?
"Ini adalah profil orangtua anda, Kyungsoo-ssi. Ada alamat dan juga nomor telphon yang dapat anda tuju jika anda telah membaca seluruh isi informasi itu. Saya harap, anda dapat memutuskan segala sesuatunya dengan cepat"
Ucapan pria bernama Jung Ilhoon itu terus saja terngiang dikepalanya.
"Umma~" suaranya bergetar hebat. Entah mengapa hanya kata itu yang sanggup keluar dari bibirnya. Kyungsoo tahu jika Ummanya telah meninggal. Bukan pria bernama Jung Ilhoon itu yang memberitahunya, namun memang hanya ingatan tentang Ummanya yang abadi dalam kepalanya.
Jung Ilhoon bilang jika yang ada didalam amplop itu adalah informasi tentang keluarganya, keculai sang Umma. Tentu saja hal itu semakin membuatnya tersiksa. Ada apa sebenarnya? Mengapa Ummanya terkesan disembunyikan darinya?
Kyungsoo hendak menangis. Dadanya semakin terasa sakit saat mata bulatnya tak mau berpaling dari amplop coklat itu. Ia penasaran, namun juga takut. Takut jika apa yang didalam amplop itu tak sesuai harapannya.
"Kyungie"
Kyungsoo tersentak kecil saat suara berat itu menyapa telinganya. Chanyeol, sang pemilik suara kemudian berjalan mendekat. Ia bertanya-tanya dalam hati karena melihat mata bulat Kyungsoo berkaca-kaca. Pipi merah yang menandakan jika Kyungsoo'nya' tengah menahan tangis.
"Ada apa, eoh? Apa terjadi sesuatu?" tanya Chanyeol sambil menangkup kedua pipi gembil Kyungsoo. Posisi Kyungsoo yang masih terduduk diatas ranjang rawatnya membuat Chanyeol harus sedikit menunduk agar sejajar dengan wajah manis yang telah memerah itu.
"Yeol" Chanyeol tercekat karena tiba-tiba Kyungsoo memeluk lehernya kuat. Ia bingung dengan perubahan sikap Kyungsoo. Apa yang terjadi?
Chanyeol masih saja terdiam saat ia merasakan cairan hangat membasahi pundaknya. Tubuh yang bergetar hebat menandakan jika Kyungsoo tengah menangis dalam diam.
Tanpa banyak bertanya Chanyeol mulai mengusap punggung Kyungsoo dengan lembut. Ia tahu jika lelaki mungilnya ini sedang membutuhkan banyak sentuhan lembut agar bisa merasa tenang. Meskipun ia tidak tahu apa yang telah membuat Kyungsoo menangis, setidaknya ia berada didekatnya saat ini.
Beberapa saat berlalu hingga usakan lembut pada pundak Chanyeol terasa begitu hangat. Deru nafas yang teratur menyentuh jenjang lehernya hingga membuat lelaki bertubuh tinggi itu tersenyum. Ia mengarahkan kepalanya pada Kyungsoo dan mendapati lelaki mungil itu telah terlelap dengan sisa air mata yang sudah hampir mengering. Chanyeol terkekeh.
"Bagaimana bisa kau tertidur disaat seperti ini, eoh?" tanyanya pada sosok yang telah tertidur pulas. Dengan sentuhan lembut seperti itu nyatanya memang berhasil membuat Kyungsoo tenang.
Chanyeol mengarahkan tangan besarnya untuk membaringkan Kyungsoo pada ranjang rawat. Ia kembali terkekeh saat menyadari jika hidung mungil Kyungsoo masih tersumpal kapas lembut hasil pengobatan Jongdae.
"Kau terlihat begitu manis, Kyungie" Chanyeol menyentuh lembut kedua pipi Kyungsoo, menghapus sisa air mata yang menganak sungai disana. Kemudian tangannya terulur untuk melepas kapas putih itu karena ia rasa pendarahan Kyungsoo telah berhenti. Namun pergerakannya terhenti saat ekor matanya melihat sesuatu yang berada digenggaman Kyungsoo.
"Amplop? Sejak kapan Kyungsoo mendapatkannya? Apa dari Jongdae? Ahh...tidak mungkin" monolognya sendiri. Karena penasaran akhirnya ia meraih amplop itu. Matanya sedikit melirik pada Kyungsoo yang masih tertidur pulas kemudian kembali mengarahkan tatapannya pada amplop berwarna coklat yang sekarang telah berada digenggamannya.
Chanyeol tercekat saat melihat logo salah satu perusahaan besar di Korea tercetak diujung amplop. Logo perusahaan Kim Corp. Karena rasa penasaran yang telah menumpuk dikepalanya, dengan mengesampingkan tata krama Chanyeolpun membuka amplop itu. Tangannya tergerak untuk mengeluarkan lembar-lembar kertas yang berada didalamnya.
Hening.
Tubuh Chanyeol seolah terpaku saat matanya selesai mengeja setiap tulisan yang ada disana. Ada rasa tak percaya, namun sesuatu didalam dirinya seolah mengatakan 'Ya'.
"Apa itu berarti..."
...
...
Minggu pagi adalah waktu yang tepat untuk bermalas-malasan. Memanjakan tubuh yang telah kelelahan beraktifitas selama seminggu penuh. Hal itu nyatanya juga berlaku bagi lelaki itu. Lelaki mungil yang tengah menggeliat malas diatas ranjangnya. Selimut yang menutupi tubuh bagian atasnya sedikit tersingkap hingga mempertontonkan mulusnya dada berwarna putih pucat.
Baekhyun mengerjap, membiasakan sinar mentari menerobos retina mata sipitnya. Ia menoleh kesisi kanan dan menemukan sang kekasih yang masih tertidur pulas. Tangannya yang halus membelai lembut surai hitam yang terlihat acak-acakan. Lalu turun menyentuh hidung, pipi, kemudian terhenti pada bibir. Baekhyun tersenyum, mengingat saat dirinya memadu cinta bersama Kai.
"Ngghnn..." lenguhan pelan dari bibir seksi milik Kai membuat Baekhyun terkekeh
"Selamat pagi, Kai-ya" bisikan lembut pada telinga Kai terdengar begitu menggoda.
"Selamat pagi, changi" balasnya dengan suara serak. Bahkan matanya saja masih terpenjam erat, membuat sang lelaki manis tersenyum lebar.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Baekhyun sambil mengecup ringan belah bibir tebal milik Kai.
Ki mengangguk lemah karena kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya.
"Aigoo~ manis sekali" godanya
"Sudah sejak dulu" jawab Kai sambil merengkuh tubuh mungil Baekhyun untuk mendekat kearahnya. Baekhyun tersenyum riang, karena saat seperti inilah yang paling ia suka.
"Aku mencintaimu, Kai-ya. Apa kau juga mencintaiku?" bisiknya manja sambil memainkan ujung jari telunjuknya pada dada polos milik Kai.
"Tentu saja. Aku juga sangat mencintaimu, Kyu-" mata yang semula menutup itu seketika terbuka. Ia menatap penuh atensi pada sosok manis yang bersandar manja pada dada bidangnya.
Baekhyun.
Astaga! Ia lupa jika sedang bersama Baekhyun. Ia hampir saja kelepasan menyebut nama Kyungsoo didepan kekasihnya ini.
Tunggu, Kyungsoo?
Tiba-tiba saja ia mengingat jika sedari kemarin Kyungsoo belum memberi kabar apapun kepadanya. Kemana dia?
"Kai-ya? Gwenchana?" tanya Baekhyun khawatir. Ia mendongakkan kepalanya, menatap penasaran pada raut wajah Kai yang terlihat gelisah.
"Huh?"
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Baekhyun semakin merasa khawatir karena wajah Kai yang seperti orang kebingungan.
Kai gelagapan. Satu sisi ia masih ingin bersama Baekhyun, memanjakan lelaki mungilnya ini lebih lama dan menikmati masakan yang sudah lama tak ia rasakan. Namun sisi lain hatinya mencemaskan Kyungsoo. Bagaimanapun Kyungsoo juga kekasihnya. Kekasih yang bisa merebut atensinya dari Baekhyun.
Ia nampak berpikir sebentar, menautkan kedua alisnya membentuk garis lurus pada dahinya. Entah mengapa perasaan khawatirnya pada Kyungsoo lebih mendominasi dari pada perasaan ingin berdekatan dengan Baekhyun.
"Tidak. Aku baru ingat jika hari ini aku memiliki janji dengan temanku" ucapnya tanpa menoleh kearah Baekhyun
"Teman? Nugu?"
"Chanyeol"
"Ish! Mengapa harus si Doby itu yang mengganggu saat-saat bersama kita" sungutnya sambil melepaskan tautan tangannya pada lengan Kai kemudian melipatnya didepan dada.
"Bukan salah Chanyeol" jawab Kai singkat lalu bangun dari posisi rebahannya. Tanpa mempedulikan poutan bibir dari Baekhyun, Kai segera beranjak menuju kamar mandi.
"Kau sangat terburu-buru, ini kan masih pagi" kata Baekhyun sedikit meninggikan volume suaranya karena Kai telah berada didalam kamar mandi
"Aku harus segera pergi" jawab Kai juga dengan nada yang meninggi.
Kai tidak mengerti apa yang membuat dirinya begitu menghawatirkan Kyungsoo. Ia juga tidak mengerti mengapa pada akhirnya ia memilih mengacuhkan Baekhyun dan beralih pada Kyungsoo. Hanya saja hatinya yang menuntunnya seperti itu. Hatinya yang menuntun dirinya pada Kyungsoo. Karena Kyungsoo adalah seseorang yang telah membuat dirinya terperangkap pada tatapan lembutnya, pada tingkah polos dan apa adanya, serta pada kasih sayang yang membuatnya terjatuh. Ya, Kai telah benar-benar terjatuh pada Kyungsoo.
...
...
Helaan napas lembut mengiringi terbukanya mata bulat dengan aura polos menggemaskan. Kyungsoo terbangun karena hembusan angin yang menyapa kulitnya. Ia mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan semua nyawa yang beterbangan saat ia tertidur.
Kyungsoo mendudukkan dirinya diatas ranjang empuk tempatnyata berbaring. Sedikit mengucek mata bulatnya karena masih terasa lengket. Saat seluruh atensinya berhasil fokus, Kyungsoo tercekat. Seingatnya kemarin ia masih berada dirumah sakit, dan sekarang ia telah berada diapartemennya sendiri.
Dengan seluruh rasa bingungnya, Kyungsoo mengarahkan pandangan keseluruh sudut ruangan, mencoba mencari seseorang yang telah membawanya pulang. Lalu matanya berhenti pada sosok tampan dengan tubuh tinggi tengah tertidur pulas pada sofa yang tak jauh dari letak ranjangnya.
"Chanyeol" gumamnya lirih. Matanya yang bulat terbuka lebar. Ia tahu jika Chanyeol lah orang yang telah berbaik hati membawanya pulang keapartemen dengan selamat. Namun ada perasaan aneh didalam dadanya. Perasaan yang seolah bertanya 'Mengapa harus Chanyeol?'
Bukannya Kyungsoo tak tahu berterimakasih karena mengetahui kenyataan bahwa Chanyeol yang membawanya pulang. Hanya saja ia menyayangkan karena bukan Kai yang berada didekatnya disaat seperti ini.
Diantara kebimbangan hatinya, ada satu perasaan hangat yang menyapa dadanya. Entahlah, perasaan ini begitu mirip dengan perasaan yang ia rasakan ketika pertama kali menatap Kai.
"Astaga! Kau ini berpikir apa Kyungsoo? Kenapa lagi-lagi kau menyamakan Chanyeol dengan Kai? Pabbo!" monolognya sambil memukul pelan kepala tak bersalahnya. Saat seperti itu tiba-tiba saja ia tersenyum. Tersenyum karena sekelebat ingatan tergambar didalam kepalanya. Ingatan saat tangan besar Chanyeol menangkup lembut kedua pipinya hingga membuatnya merona.
Kyungsoo masih tersenyum-senyum sendiri tanpa alasan. Bahkan rasa hangat ini telah menjalar keseluruh tubuhnya. Chanyeol, memberinya sesuatu yang berbeda.
Dengan senyum yang masih mengembang, Kyungsoo turun dari ranjangnya. Ia berjalan mendekati Chanyeol yang masih tertidur nyenyak disofa. Kyungsoo berjongkok, menyamakan posisinya dengan posisi Chanyeol. Ada perasaan bersalah ketika ia menatapi wajah Chanyeol yang terlihat kelelahan.
"Kau pasti kerepotan saat menggendongku pulang" gumamnya pelan. Tangan mungilnya ia arahkan untuk menyentuh sebelah pipi Chanyeol yang terasa dingin.
"Bahkan kau rela tidur dengan posisi tak nyaman seperti ini" tanyan Kyungsoo terus mengelus pipi Chanyeol pelan "Mianhae" lanjutnya.
"Gwenchana"
Deg
Perlahan mata Chanyeol terbuka hingga membuat Kyungsoo gelagapan. Kyungsoo hendak menarik tangannya menjauh dari pipi Chanyeol namun kalah cepat karena Chanyeol telah lebih dulu menggenggam tangannya.
"Lakukan sekali lagi untukku" ucapnya dengan suara serak
"Huh?" Kyungsoo yang masih dihinggapi rasa kagetpun terlambat mencerna ucapan Chanyeol
"Lakukan untukku. Seperti tadi" Chanyeol menuntun tangan Kyungsoo untuk kembali menyentuh pipinya.
Sedangkan Kyungsoo masih mengerjap-ngerjapkan matanya lucu. Ia merasakan tangan hangat Chanyeol menggenggam tangannya dengan begitu lembut. Ia menyukainya.
Tanpa ia sadari sekarang tangannya sendirilah yang mengelus lembut pipi Chanyeol karena tangan lelaki itu telah beralih pada pinggang rampingnya.
"Terimakasih" ucap Chanyeol lembut dengan senyum yang menenangkan
"Untuk apa?" tanya Kyungsoo polos
"Karena kau mau melakukannya lagi untukku"
Kyungsoo tersenyum manis "Seharusnya aku yang mengucapkan terimakasih padamu. Kau telah banyak membantuku, Yeol. Terimakasih" ucapan Kyungsoo terdengar begitu tulus, membuat dada Chanyeol bergetar tanpa sebab.
"Kau tahu mengapa aku melakukannya?" tanyanya kemudian dibalas gelengan oleh Kyungsoo "Karena aku menyukaimu"
Set
Seketika elusan lembut pada pipinya berhenti. Chanyeol mengerti, pasti Kyungsoo merasa kaget atas apa yang baru ia ucapkan. Namun itulah kata hatinya. Ia hanya berusaha mengungkapkannya pada Kyungsoo, pada seseorang yang telah menyita segala pikirannya.
Tangan besar Chanyeol kemudian terulur untuk menyentuh kembali tangan Kyungsoo yang masih berada dipipinya, menggenggamnya lembut seolah tangan Kyungsoo adalah sebuah kaca yang bisa pecah kapan saja.
"K-kau..."
"Aku tahu ini terdengar gila, tapi itulah yang aku rasakan, Kyung. Aku merasa nyaman jika berada didekatmu. Karena aku mencintaimu" matanya menatap lekat kedua mata bulat yang mungkin telah lupa cara berkedip. Menatapnya dalam seolah menyalurkan segala yang ia rasakan lewat pancaran matanya.
"S-sejak kapan?" Kyungsoo tergagap, namun sebisa mungkin ia mengontrol getaran suaranya
"Sejak saat aku membangunkanmu dikelas waktu itu"
Deg
Jantungnya terasa bergetar hebat. Ternyata Chanyeol menyimpannya begitu lama. Mengapa Chanyeol mengungkapkan perasaannya saat ia tahu jika dirinya telah dimiliki Kai?
"Kyung" panggilan lembut itu mengembalikan seluruh atensi Kyungsoo, membuyarkan segala pertanyaan yang merayap dikepalanya.
"Bisakah aku mendapatkan kesempatan itu?" tanyanya sambil merekatkan pegangan tangannya pada pinggan Kyungsoo.
Lelaki mungil itu tercekat, menahan napas yang bahkan terasa tersangkut dipangkal kerongkongannya. Chanyeol membuatnya tak dapat bergerak meskipun hanya sekedar mengerjapkan mata.
"T-tapi...aku...aku.."
"Aku tak peduli, Kyung. Walaupun kau telah menjadi milik Kai aku tak peduli. Yang aku inginkan hanya dirimu. Aku mencintaimu"
"Chan-"
Kyungsoo menghentikan kalimatnya saat merasakan tangan Chanyeol menggenggam erat pinggang dan tangannya. Mata bulatnya telah terkunci oleh tatapan lembut dan dalam dari Chanyeol. Hingga tak ia sadari jika wajah Chanyeol telah berada didepan wajahnya.
Entah apa yang membuat Kyungsoo bergetar. Karena genggaman lembut Chanyeol atau karena kehangatan yang terpancar dari kedua bola matanya. Ia tidak tahu. Yang ia tahu kedua belah bibir lembut itu telah menempel sempurna pada bibirnya.
Chu~
Chanyeol menyentuh bibir Kyungsoo dengan sangat lembut. Tanpa lumatan, tanpa nafsu. Hingga membuat Kyungsoo ikut larut pada kehangatan yang ditawarkan oleh Chanyeol.
"Aku mencintaimu, Kyung" ucapnya setelah melepaskan tautan bibir mereka.
Kyungsoo merasakan aliran listrik menjalar keseluruh tubuhnya. Ia ingin menangis karena merasakan ketulusan dari Chanyeol. Tapi ia tidak bisa membalas perasaan lelaki itu. Bukannya ia tidak mencintai Chanyeol, bahkan ia telah merasa nyaman dengan lelaki bergelar dokter didepannya ini. Namun statusnya yang tak mengijinkannya. Ia telah dimiliki oleh Kai, dan sangat tidak mungkin ia berhianat dibelakang seseorang yang ia cintai.
"Mianhae" Kyungsoo meneteskan air matanya saat mengucapkan kata itu. Ia tidak tahu apa yang membuatnya menangis. Hanya saja hatinya ikut merasakan sakit seperti yang Chanyeol rasakan saat ini.
Chanyeol bangun dari posisi berbaringnya. Lalu menarik Kyungsoo agar ikut duduk disofa yang ia tempati.
"Uljimma" tangan Chanyeol menangkup kedua pipi Kyungsoo, menghapus air mata yang telah menganak sungai disana.
"Mianhae" ucapnya lagi disela-sela isakannya
Menyadari hal itu akhirnya Chanyeol merengkuh tubuh Kyungsoo kedalam pelukannya. Mengelus lembut punggungnya untuk memberikan rasa nyaman.
"Tidak apa-apa. Jangan menangis, eoh?" ucap Chanyeol lembut
"Ta-tapi, Yeol"
"Penawaranku akan tetap berlaku, Kyung. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu" Chanyeol terkekeh pelan, membuat Kyungsoo menjauhkan tubuhnya dari tubuh Chanyeol, memberi jarak agar ia dapat menatap wajah lelaki yang telah membuatnya menangis.
"Maksudmu?" tanyanya tak mengerti
"Ucapanku tadi akan tetap berlaku selama kau belum menikah. Jadi kapanpun kau membutuhkanku, aku akan selalu siap menerima uluran tanganmu" ucapnya sambil mengusap airmata dipipi Kyungsoo. "Jangan menangis, kau terlihat sangat jelek jika seperti itu" godanya dan berhasil membuat pipi Kyungsoo memerah.
"Yak! apa kau baru saja mengataiku jelek? Dasar Park Chanyeol mesum" sungutnya
"Hey, aku tidak mesum"
"Kau mencuri ciuman dariku, bodoh! Apa namanya jika tidak mesum?"
"Aku tidak mesum, Kyung" belanya
"Kau mesum. Dasar mesum"
"Aku tidak" Chanyeol tetap bersikeras
"Kau mesum, mesum, mesum. Kau mesum pangkat tiga"
"Aku tidak mesum, Kyung. Aku akan menggelitikimu jika kau mengatakannya lagi" ancam Chanyeol
"Kenapa? Bukankah kau memang mesum. Dasar mesum"
"Yak!" dengan cekatan Chanyeol menarik tubuh Kyungsoo dan menggelitikinya tanpa ampun. Kyungsoo tertawa terbahak-bahak sambil berusaha melepas tangan Chanyeol yang menempel pada perutnya.
"Yeol, ampun. Geli, hahahahaha..." Kyungsoo menggeliat karena kini Chanyeol menggelitikinya dari belakang, membuat posisi mereka seolah berpelukan.
"Kau yang memulai, Kyung. Jadi rasakan ini" Chanyeol semakin gencar menggelitiki perut Kyungsoo hingga membuat lelaki mungilnya tertawa terbahak-bahak.
"Masih mau mengataiku mesum, eoh? Kau akan merasakan yang lebih geli dari ini"
"Hahahaha...ampun, Yeol. Tidak lagi~ hahaha..."
"Kyungsoo!"
Deg
Seketika tawa Chanyeol dan Kyungsoo terhenti. Mereka tercekat karena mengetahui suara siapa yang telah mengganggu acara bersenang-senang kecil mereka. Siapa lagi kalau bukan-
"K-Kai"
...
...
TBC
Anyeong readers tercintah~
Chap 9 hadir dengan penuh drama. Semoga bisa memuaskan rasa rindu kalian sama Hidden Love ya?
Mianhae, karena nggak bisa balas riview kalian seperti biasa, tapi semua riview maupun PM kalian sudah JongSoo baca kok, tenang aja :D
Terimakasih atas tanggapan, kritik maupun saran yang kalian berikan. JongSoo merasa sangat dihargai atas itu.
Berhubung masih dalam nuansa kegembiraan(?) atas ultahnya Uri Bacon, Byun Baekhyun, JongSoo mau minta maaf karena di chap ini Baek-nya malah teraniaya secara batin. Maklum aja ya, kan tuntutan cerita :D
Riview kalian masih sangat JongSoo harapkan sebagai bentuk penghargaan dan penyemangat untuk menulis loh. Jangan lupa tuangkan coretan kalian dikolom riview ne?
Gomawo~
