Hidden Love
Kaisoo – Chansoo
...
Preview
"Kyungsoo-ya..." pelukan hangat itu tersampaikan. Kyungsoo masih saja tak bergerak ketika dadanya bergetar hebat "Kyungsoo-ya..." dan ucapan itu mengiringi semakin eratnya pelukan hangat.
Kyungsoo merasakan kenyamanan. Kenyamanan yang memang seharusnya ia dapat. Kenyamanan yang telah direnggut paksa oleh takdir. Kenyamanan yang membuatnya melupakan kejadian beberapa saat yang lalu. Entah sejak kapan lelehan itu mengalir dipipinya. Lelehan kebahagiaan yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata. Pelukan hangat ini nyatanya dapat merubah pikiran mengambangnya menjadi lebih tenang. Pelukan seorang...
"Appa." ucapnya bergetar.
"Kyungsoo." sang empunya nama mengendurkan pelukan dari Appanya, mencari sumber suara yang baru saja memanggilnya. Mata bulat yang telah penuh dengan genangan air mulai melebar kala menemukan seorang wanita cantik yang ia kenal tengah berdiri didepan pintu.
"Ahjumma?"
...
...
"Kau terlihat semakin bulat. Apa kau makan dengan baik?" tanya Yoona setelah mempersilahkan Kyungsoo duduk diruang tengah. Kyungsoo tersenyum ceria sambil mengangguk semangat. Beberapa saat yang lalu Kyungsoo sudah menceritakan kepada Yunho kalau Yoona adalah Ahjumma angkatnya. Dia dirawat oleh Yoona sejak Kyungsoo masih kecil. Dan Yunho sangat berterimakasih atas itu.
Sebenarnya ada perasaan sakit ketika Kyungsoo mencoba mengingat kejadian masa lalunya. Masih ingat bukan, Kyungsoo memiliki trauma otak yang menyebabkan dirinya kehilangan sebagian memorinya? Tapi Kyungsoo memilih mengabaikan hal itu untuk saat ini.
"Sungguh kebetulan yang lucu." ucap Yunho sambil menggenggam tangan mungil Kyungsoo erat-erat. Memang, Kyungsoo sendiri juga merasa jika ini adalah kebetulan yang lucu. Mengetahui jika ternyata Appa-nya berkencan dengan Ahjumma-nya membuat Kyungsoo ingin tertawa saja.
"Tapi Ahjumma, mengapa kau berada disini? Bukankah kau seharusnya ada di Cina?" Kyungsoo bertanya polos sambil menatap mata Yoona yang duduk disampingnya.
"Ahh, itu...aku berbohong padamu. Maaf." Yoona mengerucutkan bibir. Terlihat raut menyesal disana.
"Ish! Ahjumma ini masih saja seperti anak-anak. Kenapa tak bilang jika kau memiliki kekasih? Memangnya kau tak mempercayaiku?" gerutu Kyungsoo yang justru membuat Yunho tertawa geli.
"Sepertinya kalian sangat akrab?" tanya Yunho setelah sekian detik hanya melihat percakapan mereka.
"Tidak. Kami bahkan seperti musuh jika sedang dirumah" Kyungsoo membalas cepat.
"Hahaha..." tawa Yunho pecah ketika mendengar penuturan polos itu "Benarkah?"
"Um" Kyungsoo mengangguk "Karena Ahjumma sering nakal padaku." lanjutnya sambil mencibir.
"Yah, bukannya kau yang selalu nakal. Apa kau tak ingat terakhir kali kau membuat pot-pot bunga ditokoku pecah?" Yoona mencubit gemas pipi Kyungsoo.
"Itu kan sudah sangat lama." Kyungsoo membela diri.
"Tapi tetap saja kau yang nakal. Aku harus mencari pot-pot bunga lagi padahal banyak pesanan yang sudah harus diantar saat itu. Menyebalkan."
Yunho semakin keras tertawa mendengar pertengkaran kecil itu. Yoona dan Kyungsoo benar-benar cocok. Mereka terlihat manis jika sedang beradu argumen seperti ini.
"Sudah sudah, kalian ini. Apa kau akan berubah kekanakan jika ada Kyungsoo? Pergi kemana jiwa keibuanmu?" goda Yunho pada Yoona yang membuat Kyungsoo cekikikan.
Beberapa saat mereka hanya mengutarakan candaan seperti itu. Dan Kyungsoo menikmatinya. Kyungsoo senang, tentu saja. Ia sudah lama tak bertemu dengan keluarganya. Tak bertemu dengan Appa-nya. Meskipun tak ada Eomma yang menyambutnya, tapi Kyungsoo bahagia mengetahui kalau Yoona Ahjumma yang akan menjadi calon Ibunya.
Yunho mengelus pelan tangan Kyungsoo. Merasakan betapa bodoh dirinya karena sudah menelantarkan Kyungsoo sekian lama. Ia bersyukur karena sekarang ia dapat kembali bersama putranya, tapi tetap saja rasa bersalah itu terus datang.
"Kyungsoo-ya." Yunho memanggil pelan. Kyungsoo menoleh kearah Yunho dengan senyum masih mengembang diwajah manisnya "Mau kah kau tinggal bersama Appa?"
...
...
Kyungsoo berjalan dengan tenang menuju kampusnya. Jam kuliahnya masih akan berlangsung satu jam dari sekarang, namun ia memilih datang lebih awal. Selain ia takut terlambat seperti pada pertemuan-pertemuan yang sudah-sudah, Kyungsoo juga bangun terlalu cepat hari ini. Entahlah, ia hanya tak dapat tidur dengan baik. Bukan karena ia mendapat tugas yang menumpuk, hanya saja perkataan Appa-nya kemarin sore membuat Kyungsoo sulit memejamkan mata.
"Yak!" Kyungsoo berjengkit ketika sebuah tangan besar merangkulnya dari samping.
"Ish! Kau ini. Bagaimana kalau jantungku lepas nanti?" Kyungsoo memegangi dadanya sambil membulatkan matanya lebar. Lelaki tinggi yang ada disampingnya itu bukannya takut malah gemas melihat Kyungsoo yang kelewat imut.
"Tak akan. Kalaupun lepas, nanti akan aku pasang dan jahitkan lagi." sahut Chanyeol dengan gaya konyolnya. Kyungsoo terkikik mendengar itu. Chanyeol benar-benar membuat mood paginya kembali lagi.
"Tumben sekali datang pagi. Kau ada kuliah?" tanya Chanyeol.
"Um... 1 jam lagi." Kyungsoo mengangguk kemudian mulai kembali berjalan disusul Chanyeol.
"Kemarin... aku minta maaf." Chanyeol berkata lirih. Kyungsoo mengarahkan tatapannya kesamping, kearah Chanyeol.
"Maaf?"
"Karena membuat Kai salah paham padaku."
Kyungsoo kembali mengalihkan tatapannya "Ah itu..." lalu menunduk, menatap kedua sepatunya.
Kyungsoo hampir tak ingat tentang Kai semalaman. Pikirannya hanya dipenuhi oleh perkataan Appa-nya. Bahkan sakit hati yang menyerang dadanya sempat pergi sebelum hadir kembali saat Chanyeol membahas hal itu.
Chanyeol mengerut ketika mendapati wajah Kyungsoo yang berubah sendu.
"Wae? Kau seperti sedang memikirkan sesuatu." Chanyeol memberanikan diri untuk bertanya.
Kyungsoo menggeleng sambil tersenyum "Tidak."
"Kai marah padamu?" tebaknya.
Kyungsoo terlihat berpikir. Sebenarnya ia malas jika harus membahas Kai sekarang. Hatinya masih belum terima mengetahui fakta bahwa Kai adalah milik Baekhyun. Sedangkan dirinya yang menjadi orang ketiga diantara mereka. Kyungsoo bahkan masih merasakan sesak didalam dadanya. Ia hanya tak ingin membahas hal berat pagi ini.
"Tidak." jawab Kyungsoo bohong.
"Baguslah kalau begitu." Chanyeol tersenyum tipis. Sebenarnya Chanyeol tahu apa yang tengah dirasakan Kyungsoo saat ini. Chanyeol tahu apa yang membuat Kyungsoo murung seperti ini. Chanyeol tahu tetapi ia memilih diam. Bukan hak Chanyeol untuk bertanya lagi. Chanyeol cukup tahu diri. Kyungsoo bukan siapa-siapanya. Jika Kyungsoo butuh teman bicara maka ia akan mengatakannya sendiri pada Chanyeol suatu saat.
"Kau sudah sarapan?" tanya Chanyeol mencoba mengalihkan topik pembicaraan begitu ia tahu Kyungsoo tak nyaman denan situasi ini.
"Huh? B-belum." jawab Kyungsoo terbata.
"Bagaimana kalau makan es krim dan kue coklat?" tawar Chanyeol dengan senyum mengembangnya.
"Ini kan masih pagi, Yeol. Es krim tak akan baik untuk tubuh."
"Siapa bilang? Memangnya kau itu dokter. Aku saja yang calon dokter tak pernah menemui kasus seperti itu."
Kyungsoo menatap Chanyeol penuh "Ish! Kau ini." lalu memukul lengan Chanyeol pelan. Tapi jika dipikir-pikir perkataan Chanyeol benar juga. Yang dokter kan Chanyeol, bukan dirinya.
"Bagaimana?" Chanyeol kembali bertanya.
Kyungsoo terlihat berpikir sebentar. Ia rasa sedikit es krim dan kue coklat akan bagus untuk pikirannya.
Kyungsoo mengangguk "Kau yang traktir kan?" lalu tersenyum lebar.
"Tentu saja." Chanyeol mengelus kepala Kyungsoo pelan, kemudian merangkul lelaki mungil itu dengan tak sabaran. Kyungsoo terkikik merasakan tubuhnya hampir tenggelam dalam dekapan Chanyeol, namun perasaan nyaman yang ia rasakan membuatnya menolak untuk melepas tangan besar Chanyeol dari pundaknya.
...
...
Kai membuka mata pelan saat dirasa sisi ranjangnya bergoyang. Matanya masih terasa lengket ketika sebuah elusan lembut menyapa pipinya.
"Kai-ya."
Kai mendengar tapi ia lebih memilih kembali memejamkan matanya.
"Kai-ya... kau tak bangun?" lelaki mungil yang sudah terlihat rapi itu kembali mengelus pelan pipi Kai. Ia mendengus ketika menyadari bau alkohol masih menguar kuat dari nafas Kai.
"Kau semalam minum berapa banyak, eoh?" Baekhyun menyibak pelan selimut yang masih melilit tubuh Kai, kemudian sebuah erangan terdengar.
"Kai-ya, aku harus pergi ke kampus. Kau tak apa kan aku tinggal sendiri?" Baekhyun berucap lirih. Ia tak tega sebenarnya kalau harus membangunkan Kai setelah semalaman Kai meminum banyak alkohol. Entah apa yang sebenarnya terjadi, Baekhyun tak begitu tahu. Setiap kali Baekhyun bertanya, Kai hanya akan menggumam tak jelas. Baekhyun belum pernah mengetahui jika Kai memiliki sisi yang seperti ini.
Setelah hampir 10 menit Baekhyun tak juga mendapatkan respon dari Kai, lelaki bertubuh mungil itu lebih memilih kembali menyelimuti Kai dengan pelan. Ia tak mengerti mengapa Kai menjadi aneh sejak kemarin. Sejak ia pulang dari toko kue bersama Kai, lelaki tan itu sama sekali tak mengajaknya bicara. Baekhyun tahu jika Kai-nya sedang dalam keadaan tak baik-baik saja. Dua tahun lebih mengenal Kai cukup membuat Baekhyun tahu bagaimana sifat Kai sejauh ini. Namun alasan dibalik sikap aneh Kai itulah yang tak diketahui Baekhyun.
"Aku akan pulang cepat setelah mata kuliahku selesai. Kau baik-baik, ne?" ucap Baekhyun sembari mengecup kening Kai lembut. Ia mengelus surai Kai yang berantakan sejenak sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Kai sendirian.
Baekhyun tak tahu. Ia tak pernah tahu jika sudah sedari tadi Kai terjaga. Kai hanya diam dengan posisinya. Ia tak mau membuka mata dan mendapati wajah Baekhyun yang tersenyum padanya. Kai merasa bersalah. Ia merasa dirinya menjadi orang paling brengsek didunia. Ia menyayangi Baekhyun, namun kenyataan lain yang muncul didalam otaknya membantah itu. Ia lebih memikirkan Kyungsoo jauh melebihi apa yang ia pikirkan terhadap Baekhyun.
"Kyungsoo..." gumamnya pelan "Mianhae."
Kai semakin menenggelamkan wajah pada bantal yang menyangga kepalanya. Hatinya nyeri. Ia ingin bertemu Kyungsoo. Ia ingin memperbaiki semuanya.
Drrtt...
Kai mengangkat wajahnya ketika ia rasa ponsel yang tergeletak diatas nakas bergetar. Enggan lelaki itu meraih ponselnya namun segera menajamkan mata ketika layar ponsel miliknya menunjukkan satu nama.
From : Presdir Kim
'Kau dimana? Tak pulang?'
.
"Ck!" Kai berdecak kemudian menggerakkan jari-jarinya menekan papan tombol ponselnya.
To : Presdir Kim
'Wae?'
.
From : Presdir Kim
'Pulanglah. Appa menunggumu dan juga Jongdae untuk makan malam hari ini. Appa akan membicarakan hal penting pada kalian'
.
Kai mendengus. Tiba-tiba perasaan bersalah terhadap Baekhyun dan Kyungsoo luntur seketika. Terganti dengan perasaan benci juga malas secara bersamaan. Kai sudah dapat menebak apa yang akan Appa-nya bicarakan jika ia dirumah. Apalagi jika bersama Jongdae hyung. Appa-nya pasti akan membahas masalah perusahaan dan segala tetek bengeknya. Kai benar-benar muak dengan itu semua.
Kai melempar ponsel kesamping, tak berniat membalas pesan itu lagi. Ia tak ingin bangun sebenarnya. Tapi entahlah, perutnya memanggil minta diisi. Maklum saja, sejak semalam perutnya tak terisi apapun kecuali alkohol. Dan sekarang, perutnya benar-benar berontak.
"Mungkin sedikit cake akan membantu masalah perut."
...
...
"Ini. Es krim dan cake coklat caramel seperti pesananmu." ucap Chanyeol. Ia meletakkan satu cup besar es krim dan juga satu potong cake coklat didepan Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum lebar. Es krim dan kue coklat tak pernah membuat senyum Kyungsoo gagal tercipta.
"Aku akan memakannya dengan baik." ucapnya seolah tak ada beban yang tengah ia rasa sekarang.
Chanyeol tersenyum. Ia melihat bagaimana Kyungsoo semangat melahap kuenya. Ia jadi berpikir, jika saja Kyungsoo menjadi miliknya, ia pasti akan menjaga Kyungsoo dengan sangat baik. Ia tak akan membiarkan Kyungsoo memiliki pikiran berat seperti saat ini.
Lama Chanyeol memperhatikan Kyungsoo, hingga sebuah pertanyaan yang begitu ingin ia utarakan kembali berkelebat dalam kepalanya. Chanyeol berpikir sebentar, ragu-ragu ia membuka mulut untuk menanyakannya. Namun gejolak didalam dadanya tak dapat ia tahan lagi. Ia penasaran.
"Kyungie..." pelan ia memanggil.
"Huh?" jawab Kyungsoo seadanya. Ia masih terlalu sibuk dengan es krim yang tengah ia makan sekarang.
"Kau dengan Kai baik-baik saja, bukan?" Chanyeol merendahkan suara seolah pertanyaannya barusan adalah sebuah tolak ukur perasaan khawatirnya sedari tadi.
Kyungsoo berhenti mengunyah. Ia melepas sendok yang masih berada dimulutnya kemudian menghembuskan napas lelah. Chanyeol tahu itu.
"Apa begitu terlihat?" Kyungsoo menatap mata Chanyeol, kemudian tersenyum kaku.
Chanyeol mengangguk.
Kyungsoo menjauhkan es krim miliknya kemudian meletakkan kedua tangannya diatas paha. Itu selalu ia lakukan jika sedang takut maupun gugup.
"Aku tidak tahu ini bisa dibilang menguntungkan atau sebaliknya." Kyungsoo mulai berbicara. Ia mengeluarkan nada yang terdengar kecewa ditelinga Chanyeol. Chanyeol tak ingin menyela. Ia hanya diam, mendengarkan apa saja yang akan dikatakan oleh Kyungsoo.
"Aku tidak pernah tahu jika memupuk bunga akan menyebabkan bunga itu layu dan mati" Kyungsoo tersenyum kecut "Karena yang ada didalam pikiranku hanya ingin membuat bunga itu tumbuh dan berkembang. Aku tak mengetahui jenis pupuknya, yang aku tahu semua pupuk itu sama."
Chanyeol mulai mengerutkan keningnya bingung. Kyungsoo memiliki pemilihan konotasi yang terlalu dalam menurutnya.
"Kau memupuk bungamu dengan baik, kan?" Chanyeol mencoba memahami maksud perkataan Kyungsoo.
Kyungsoo mengangguk "Awalnya begitu. Tapi aku baru sadar jika pupuk yang aku punya tak sesuai dengan jenis bunganya." lalu mendengus pelan.
"Kau memiliki masalah dengan Kai?"
Kyungsoo lagi-lagi mengangguk "Dia seperti sebuah bunga, Yeol. Dan aku pupuk yang tak sesuai untuknya." Kyungsoo menatap kosong es krim coklatnya. Hatinya sakit ketika mengatakan itu. Kyungsoo membayangkan saat dimana ia dan Kai telah berhubungan jauh. Kai bahkan sudah merenggut sesuatu yang begitu berharga baginya.
"Jangan seperti itu. Kau itu pupuk yang paling bagus diantara pupuk yang lainnya." Chanyeol mencoba menghibur.
"Jika pupukku bagus, bunganya tak akan mati." Kyungsoo tersenyum kecut.
"Bunganya tak mati, ia hanya butuh penyesuaian." Chanyeol menatap mata Kyungsoo lekat-lekat.
Kyungsoo membalas tatapan Chanyeol "Tak ada hal seperti itu, Yeol. Yang sudah mati tak akan bisa dihidupkan kembali." kalimatnya begitu hampa hingga membuat Chanyeol mengerut.
"Apa kalian sudah berakhir?"
Kyungsoo terdiam ditempat. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Chanyeol. Ia sendiri bingung dengan keadaannya sekarang. Ia belum bertemu Kai lagi. Ia belum membahas masalah ini dengan Kai. Ia belum mengetahui bagaimana posisinya sekarang.
Tes
"Kyung..." Chanyeol menatap Kyungsoo gugup.
Kyungsoo masih diam kemudian menunduk pelan, merasakan sebuah cairan pekat berwarna merah itu terjatuh pada telapak tangannya.
...
...
Chanyeol meletakkan kotak obatnya diatas meja. Ia menghela napas lega. Kyungsoo hanya mimisan biasa, jadi ia bisa menangani lelaki mungil itu dengan peralatan seadanya. Beruntung keadaan cafe sedang sepi, jadilah Chanyeol tak terlalu menarik perhatian orang-orang.
"Kai tahu tentang ini?" Chanyeol yang duduk disebelah Kyungsoo kembali bertanya.
Kyungsoo masih menundukkan kepalanya dengan dua buah kapas menyumpal hidung, kemudian menggeleng pelan.
"Kau tak memberitahunya?" tanya Chanyeol lagi.
Kyungsoo kembali menggeleng.
"Kau aneh."
Kyungsoo menoleh kearah Chanyeol dengan cepat "Apa kau bilang?"
"Kau aneh, Kyungie. Kai kan kekasihmu, bagaimana bisa kau tak memberitahunya."
Deg
Kyungsoo merasakan sesuatu didalam dadanya kembali membuncah.
Kekasih?
"Itu tak penting. Lagipula untuk apa aku memberitahukan penyakit yang kupunya pada orang lain." elaknya.
Chanyeol mendengus.
"Kau ini benar-benar. Jika kau tak mau memberitahu Kai, setidaknya kau kabari dia tentang kondisimu."
"Tidak perlu. Lagipula aku baik-baik saja." ucap Kyungsoo meyakinkan.
"Ah... Yeol, aku harus kekampus. Jam kuliahku sebentar lagi mulai. Aku pergi dulu, ya? Jangan lupa bayarkan milikku." Kyungsoo berdiri setelah melepas kapas dari kedua hidungnya. Kemudian dengan cepat menyambar tas gendongnya.
"Sampai jumpa." Lelaki mungil itu berjalan tergesa seolah menghindari pembahasan tentang Kai agar tak lebih jauh. Kyungsoo memiliki privasi, dan belum saatnya Chanyeol mengetahui kehidupnya.
Kyungsoo berjalan cepat kearah pintu keluar. Mendorong pintu kaca kuat-kuat kemudian terhenti ketika dua mata bulatnya menangkap sosok yang baru saja menjadi topik pembicaraan dirinya dan Chanyeol.
"Kai?"
...
...
Kyungsoo duduk disebuah bangku kayu dengan manis. Rindangnya pohon maple mampu melindungi kulitnya dari terpaan sinar matahari siang itu. Mata bulatnya mengarah jauh kedepan, pada hamparan hijaunya rerumputan yang sebenarnya menyejukkan. Disampingnya duduk seorang lelaki berkulit tan. Lelaki yang membuat Kyungsoo melupakan jam kuliahnya hari ini. Lelaki yang sebenarnya sangat ingin ia hindari.
"Kau kemarin pulang dengan baik, kan?" Kai memulai percakapan.
Kyungsoo mengangguk "Um."
Hening untuk beberapa saat. Suasana menjadi kaku. Kyungsoo yang lebih memilih diam dan Kai yang sibuk merangkai kalimat untuk kembali melontarkan ucapan.
"Mianhae."
Kyungsoo menghela napas pelan mendengar Kai mengucapkan kata maaf padanya.
"Aku rasa kita berakhir,kan?"
Kai menoleh kearah Kyungsoo cepat. Ia menggeleng pelan. Ia tidak ingin ini berakhir. Kai masih begitu mencintai Kyungsoo. Bahkan melebihi apapun.
"Aku masih begitu mencintaimu, Kyungie. Tolong jangan berkata seperti itu." ucap Kai lirih. Matanya yang tajam memancarkan sebuah harapan besar pada Kyungsoo.
Kyungsoo kembali menghela napas. Perlahan ia menghembuskannya, seolah menahan setiap gejolak kecewa yang ingin keluar begitu saja. Kyungsoo membalas tatapan Kai ketika ia rasa paru-parunya sudah terisi cukup oksigen.
"Apa yang bisa aku harapkan dari ini, Kai? Tak ada." Kyungsoo berucap tak kalah lirih. Sekuat tenaga ia menahan air matanya. Ia tidak boleh menangis. Apapun yang terjadi.
"Kau bisa bahagia bersamaku. Aku mencintaimu melebihi cintaku pada diriku sendiri. Aku masih bisa menjagamu, Kyungie."
"Dan membiarkan Baekhyun terluka?" Kyungsoo tersenyum kecut "Aku rasa itu ide yang buruk." kemudian mengalihkan pandangannya dari wajah Kai.
Kyungsoo kembali menatap jauh hamparan rumput didepannya. Hatinya sakit.
"Kau ingat bukan dengan perkataanku tempo hari? Tentang sebuah rasa. Tentang sebuah alasan." Kyungsoo menjeda kalimatnya.
"Aku pernah berkata padamu jika aku tak memiliki alasan apapun saat menyukaimu. Itu benar. Saat pertama kali aku melihatmu ditoko bunga, ada sesuatu yang berbeda dari dirimu. Perkenalan kita yang tak disengaja, kenangan kita di Gereja, bahkan saat dimana kau mengambil segalanya dariku. Aku masih mempercayai jika kita bertemu karena sebuah takdir. Hingga kemarin, aku benar-benar menganggap ucapanku selama ini adalah sebuah kebodohan." Kyungsoo menunduk, menyembunyikan air yang sudah mengembun dikedua pelupuknya.
Kai terdiam. Ia tak bisa berkata-kata. Ia tahu Kyungsoo-nya sakit. Kyungsoo-nya sakit karena dirinya. Kai sangat ingin memeluk Kyungsoo saat ini. Ia begitu ingin mendekap Kyungsoo kedalam pelukan hangatnya. Namun Kai tak bisa. Ia cukup tahu diri untuk memimpikan hal seperti itu sekarang.
"Aku tidak ingin menyakiti Baekhyun, Kai." Kyungsoo berkata lirih.
"Kita bisa memulainya dari awal. Tanpa Baekhyun." Kai mencoba meyakinkan Kyungsoo.
Kyungsoo menggeleng pelan "Tidak. Kau tak hanya akan menyakiti satu hati nantinya."
Lelaki bertubuh mungil itu mengusap pipinya pelan. Menghapus jejak air yang sempat menetes sebentar. Kemudian terburu berdiri bersamaan dengan sebuah rasa yang memang harus ia relakan.
"Aku rasa memang seharusnya kita berakhir. Jaga Baekhyun baik-baik. Aku pergi." bersama itu Kyungsoo melangkah pergi. Meninggalkan Kai serta perasaan tak menentunya.
Tanpa Kai sadari, sudah ada Chanyeol yang berdiri tak jauh darinya. Dengan tatapan dingin. Dan juga rasa marah yang teramat.
"Kau tahu" Chanyeol menjeda ucapannya, memberi kesempatan pada Kai agar dapat menatapnya "Jika kau tak bisa menjaga Kyungsoo sampai akhir, seharusnya kau tak meminta Kyungsoo menjadi kekasihmu dulu."
Kemudian Chanyeol ikut pergi, menyusul Kyungsoo yang sudah hilang entah kemana. Ditinggalkannya Kai yang masih terduduk kaku ditaman itu. Sendirian.
"Mianhae... Kyungsoo-ya."
...
...
Kediaman Keluarga Kim...
Yunho duduk dengan tenang dimeja makan. Begitupun Yoona dan Jongdae. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tapi belum ada salah satu dari mereka yang bergerak mengambil makanan diatas meja. Karena mereka sedang menunggu anggota keluarga terakhir, Kai.
Hanya ada keheningan diruangan itu. Jongdae yang memang tak banyak bicara, Yunho yang tengah sibuk dengan pemikirannya, dan Yoona yang merasa gugup disana. Suasana saat itu begitu kaku. Mereka hanya diam, tak ada pembicaraan sama sekali.
Yunho menegakkan kepala ketika telinganya mendengar suara derap langkah memasuki rumah. Ia tersenyum samar saat menangkap sosok Kai yang berjalan tenang kearahnya.
Lelaki berkulit tan itu tak menyapa siapapun, ia bahkan tak menyapa Jongdae dan lebih memilih langsung duduk disebelahnya.
"Aku sudah makan diluar. Jika Appa ingin mengatakan sesuatu, cepat katakan." Kai berbicara malas dengan sorot mata yang tak dapat ditebak. Jongdae hanya diam. Ia sangat mengenal siapa Kai. Kai akan bersikap keras dan kasar jika itu mengenai keluarganya, termasuk Appa.
Yunho menghela napas berat mencoba memaklumi. Sedangkan Yoona, ia bertambah gugup ditempatnya.
"Baiklah. Appa akan langsung mengatakan jika itu yang Kai inginkan." Yunho memulai bicaranya.
"Appa hanya ingin memberitahu kepada kalian, kalau akan ada satu keluarga baru yang tinggal bersama kita mulai besok." lanjutnya.
Kai mendengus. Kemudian melayangkan tatapan tak sukanya pada Yoona.
"Siapa? Wanita ini? Bahkan dia sudah ada disini sekarang." jawab Kai dengan nada sinis.
"Kai! Jaga bicaramu." Yunho menatap tajam pada Kai, namun hanya dibalas senyum remeh oleh lelaki berkulit tan itu.
"Atau Appa mau menikahinya? Itu bagus, karena itu berarti dia akan sah menjadi istrimu. Bukan hanya sekedar simpananmu." ucap Kai masih dengan nada yang sama. Matanya yang tajam melirik kearah Yoona yang hanya bisa menunduk sambil menggigit bibirnya.
"Appa bilang jaga bicaramu!"
"Sudahlah Appa." Jongdae yang sedari tadi hanya diam kini mulai mengeluarkan suaranya "Jika yang Appa maksud adalah wanita itu, seharusnya kau tak perlu meminta ijin pada kami." lanjutnya.
"Apa Appa begitu hinanya dimata kalian, huh?" tanya Yunho lirih. Matanya yang tajam melunak dengan sendirinya.
"Kau baru bertanya sekarang? Kemana saja kau selama ini? Kau tak pernah berusaha menjaga kami. Setelah kami sudah bisa menjaga diri kami sendiri, kau datang seperti tak memiliki rasa bersalah dan mengakui bahwa kami adalah anakmu. Aku tahu kau yang memberi kami kemewahan, uang, dan segelanya, tapi bukan hanya itu yang kami minta." Kai bersulut. Entah mengapa pikirannya kacau sekarang. Ia lelah. Masalahnya datang bersamaan. Dan itu membuat Kai tak dapat membedakan mana perasaan marahnya terhadap Appa-nya dan mana perasaan marahnya pada dirinya sendiri. Kai hanya ingin meluapkan rasa kesalnya.
"Kau bilang Appa tak menjaga kalian? Appa selalu mengawasi kalian setiap saat. Appa tahu selama ini Appa tak ada disamping kalian. Tapi Appa tahu apa saja yang kalian lakukan!" Yunho meninggikan suaranya hingga membuat Yoona bergetar takut disampingnya.
"Oh, ya? Kau tahu apa yang kami lakukan? Dari mata yang sebelah manakau mengawasi kami, huh? Dia?" Jongdae menunjuk Ilhoon-orang kepercayaan Yunho- yang berdiri tegak disamping lelaki itu.
Yunho menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia tahu jika ia sudah salah mendidik kedua putranya hingga mereka menjadi begitu membencinya seperti ini. Namun Yunho mencoba untuk tak terpancing. Ia mencoba untuk tak membuat suasana semakin kacau.
Yunho mengehela napas panjang, kemudian menghembuskannya pelan "Tenanglah dulu. Appa tak mau ada percekcokkan bahkan sebelum Appa mengatakan maksud yang sebenarnya."
Kai berdecak malas, sedangkan Jongdae mengalihkan pandangan dari Yunho. Sangat terlihat jika mereka berdua benar-benar tak menyukai situasi seperti ini.
"Appa akan menebus semuanya. Appa akan membawa saudara kalian kembali kerumah ini." seketika Kai dan Jongdae mengarahkan tatapan mereka pada Yunho.
"Apa maksudnya?" tanya Kai tak mengerti.
"Kalian akan tahu besok."
...
...
TBC
...
...
~ Anyeong-anyeong… siapa yang kangen Hidden Love? Ada? /gak ada/ gubrak!/
~ Ceritanya radak gak nge feel ya? Maklum aja, Jongsoo lagi menata hati lagi buat suka sama Kai. Kalian pasti tahu lah apa alesannya. Jongsoo berusaha banget buat suka lagi sama Kaisoo dan menyelesaikan semua Fic tentang mereka. Tapi hati yang merongkol(?) ini menghambat segalanya /apasih/
~ PENEGASAN! bagi kalian yang TIDAK SUKA dengan Hidden Love atau Fic Jongsoo yang lain lebih baik jangan dibaca deh. Jongsoo nggak pengen kalian repot-repot nulis review yang menggunakan bahasa 'alien' yang Jongsoo nggak ngerti. Semua akun yang TIDAK LOG IN dengan review kata-kata kasar tidak akan Jongsoo konfirmasi!
~ Terimakasih bagi kalian yang selama ini menghargai karya saya. Saya mencintai kalian yang juga mencintai saya :*
