Title: A Perfect Mess
Chapter II
Cast: Jaehyun Jung; Lee Taeyong; Eunji Jung; Hansol Ji; Taeil Moon; Johnny Seo
Pairing: Jaehyun x Taeyong
Rating: T+ / M
Warning: MxM. Mature content. Alternative Reality. Out of character. Typo everywhere.
Remake dari Tangled
Semuanya dimulai beberapa bulan yang lalu, pada malam minggu yang normal. Normal menurutku.
"Ohh yes. Yeah baby. Bagus. Ya… seperti itu."
Lihat pria itu—pria dengan badan atletis yang dibalut jas hitam dan berwajah sangat tampan? Ya, pria yang sedang mendapatkan blowjob dari si seksi berambut pirang di kamar mandi?
Itulah aku. Aku yang sesungguhnya.
MBF. Me Before Flu.
"Ohh god, baby, i wanna cum―"
Mari kita hentikan adegan ini sejenak.
Bagi wanita di luar sana yang sedang membaca ini, izinkan aku memberi kalian masukkan gratis: Pernahkah ada seorang pria yang baru saja kalian temui di sebuah klub memanggilmu baby, sweetheart, angel, atau panggilan sayang sejenisnya? Jangan salah mengartikan dengan berpikir bahwa dia begitu tertarik padamu, sampai-sampai memikirkan nama panggilan spesial. Sesungguhnya semua itu hanya kedok. Dia tidak peduli atau bahkan merasa tidak perlu untuk mengingat nama kalian yang sesungguhnya.
Karena, well, tidak ada gadis yang mau dipanggil dengan nama yang salah ketika dia berlutut dan memberikan blowjob, bukan? Jadi, untuk amannya, para pria akan memanggilmu dengan sebutan-sebutan manis dan panggilan sayang. Begitu juga aku, yang memanggil si pirang dengan baby seperti barusan.
Nama aslinya? Apakah itu penting?
"Ohh, baby, i'm cum―"
Aku mengerang rendah. Its feels sooo good.
Dia melepaskan mulutnya dengan suara plop pelan dan menangkup kedua tangannya untuk menampung spremaku yang keluar begitu deras. Mengocok kebanggaanku beberapa kali untuk memastikan cairan itu sudah keluar hingga tetes terakhir.
Kesenangan itu bertahan selama lima menit. Setelah itu, aku pergi ke wastafel untuk bersih-bersih dan membenarkan celanaku.
Yah, lumayan.
Si rambut pirang menatapku sambil tersenyum saat ia mulai merapikan dirinya juga. Membereskan dandanannya yang kacau, rambutnya yang kusut dan kembali memoles lipstiknya, yang sepertinya sudah menghilang entah kemana karena terlalu bersemangat menservice kepunyaanku tadi.
"Bagaimana kalau kita minum?" Ia bertanya, dengan yang nada suara seksi. Menatap tak langsung padaku lewat cermin di tangannya.
Tapi aku akan jujur. Sekali aku selesai, maka aku; selesai. Aku bukan tipe orang yang akan memakai mainan yang sama dua kali. Setelah melakukannya, merasa puas, sensasinya akan menghilang, begitu pula dengan ketertarikanku.
Aku memang brengsek.
Tapi ibuku membesarkanku menjadi seorang gentleman. Jadi aku memberinya sebuah anggukan dan senyum, "Tentu, baby. Kau pergi lah lebih dulu, aku akan menyusulmu sebentar lagi membawa minuman." Bagaimanapun, si rambut pirang telah berusaha dengan baik untuk mengisapku sampai klimaks. Dia pantas mendapatkan setidaknya segelas minuman.
Setelah dia meninggalkan kamar mandi, aku masih sibuk membenahi tampilan pakaian dan rambutku sekali lagi. Begitu keluar yang menyambutku adalah hingar-bingar lautan orang-orang yang sedang menari. Aroma alkohol, keringat, asap rokok bercampur jadi satu. Aku memang sedang di club, dan baru saja selesai menerima blowjob dari gadis pirang di toilet bar.
Aku pergi menuju bartender di ujung ruangan.
Ini adalah salah satu club terpopuler di Seoul.
Dan mungkin itu yang menyebabkan tempat ini penuh sesak. Dan lagi bukankah aku sudah bilang sekarang malam minggu? Orang-orang sepertinya punya pilihan bagus sama sepertiku untuk menghabiskan waktu. Setiap akhir pekan aku dan teman-temanku akan datang ke sini bersama-sama namun begitu sampai akan langsung terpisah dan tentu saja, tidak pernah keluar sendirian dan berakhir di hotel terdekat.
Jangan menatapku seperti itu.
Aku bukan orang jahat. Aku tidak berdusta.
Aku tidak memaksa wanita-wanita itu dengan kata-kata manis mengenai masa depan bersama dan hal klise macam cinta pada pandangan pertama. Aku orang yang jujur dan terus terang. Aku mencari kesenangan—untuk satu malam—dan aku memberitahu mereka. Itu bahkan lebih baik dibanding sembilan puluh persen pria lain di sini.
Jika mereka masih mau menemani malamku setelah tahu, maka bukan salahku. Tapi kalian bisa menyalahkan pesonaku yang tak bisa ditolak.
Lagipula sebagian besar gadis-gadis di sini juga mencari hal yang sama denganku.
Oke, mungkin itu juga tidak sepenuhnya benar.
Tapi aku tidak bisa mencegah jika mereka melihatku, tertarik padaku, kemudian bercinta denganku, dan tiba-tiba ingin punya anak dariku. Itu bukan masalahku.
Seperti yang kubilang, aku memberitahu mereka apa adanya, memberi mereka kesenangan dan kemudian membayari mereka ongkos taksi. Terima kasih, selamat malam. Jangan telpon aku, karena aku sangat yakin tidak akan menjawabnya apalagi meneleponmu lebih dulu.
Akhirnya setelah susah payah menerobos kerumunan menuju bartender, aku memesan dua minuman. Aku meluangkan waktu sejenak untuk menonton tubuh-tubuh yang tengah menggeliat dan meliuk. Berkerumun di lantai dansa menikmati musik menghentak-hentak saat menunggu pesananku selesai diracik.
Dan kemudian aku melihat dia, lima meter dari tempatku berdiri, terdiam dengan wajah terganggu dengan orang di sekitarnya. Sosoknya kurus, bibirnya tipis berwarna merah muda segar seakan minta dilumat, garis rahangnya lancip, dan matanya. Matanya bulat, berwarna hitam gelap dengan tatapan yang tajam dan seakan mengundang di saat bersamaan.
Aku membayangkan mata itu menatapku saat ia memasukkan kejantananku ke mulut kecilnya yang seksi. Organ yang sedang kubicarakan segera menggeliat karena pikiran itu.
Rambut hitamnya ditata ke atas dengan gaya yang stylish. Peluh disekitar leher dan dahinya mengkilap menambah kesan sexy di kulitnya yang putih, yang bukan putih pucat seperti milikku.
Intinya adalah, untuk sesaat, aku lupa bagaimana caranya bernapas.
Aku tidak mendeskripsikan dada, lekuk tubuh, dan pantat karena, ya, orang yang kupandangi ini bukan seorang wanita.
Dia laki-laki.
Dia seorang laki-laki.
Laki-laki.
Laki-laki yang terlihat seperti malaikat.
Hell. Bagaimana bisa?
Wow.
Ini rekor pertamaku mengangumi sosok asing dengan gender yang sama denganku dengan cara seperti ini. Maksudku, kau tahu, dengan hormon menggebu. Meski aku ini orang yang tidak old fashion dan selalu open mind―beberapa temanku mengaku secara terang-terangan menikmati kegiatan ranjang dengan sesama jenis dan aku tak pernah mempermasalahkannya―tapi aku tak pernah menyangka akan menginginkan satu juga.
Dan tanpa sadar aku berjalan mendekatinya.
Entah kenapa aku sudah tidak peduli dengan gender dan berniat untuk langsung membawanya menuju hotel terdekat. Membayangkan kesenangan yang akan didapat dengan menghabiskan malam untuk yang pertama kalinya dengan seorang laki-laki.
Aku gemetaran.
"Hai," aku baru saja menyapanya. Harusnya aku merutuki jenis tatapanku sekarang pada pemuda itu, tapi tidak. Aku memang tertarik pada laki-laki ini. Dan itu tak perlu di sembunyikan.
Dia menoleh kearahku dengan alis terangkat, dan matanya yang tajam seakan menilaiku dari ujung kepala sampai kaki. "Kau perlu sesuatu dariku?" tanyanya tak ramah. Ah, sepertinya ini akan sulit.
Aku tersenyum, sengaja menampilkan pesona dari senyum berdimple yang selalu sukses membuat para wanita rela menanggalkan pakaian mereka. Aku belum pernah mengujinya pada laki-laki, tapi aku tetap mencobanya, "Aku perlu namamu. Aku pikir kau menarik dan aku ingin mengenalmu lebih dekat."
Ekspresinya yang heran perlahan menghilang, tapi cepat-cepat terganti dengan ekspresi terganggu. Dan ia tak berkata apapun.
Aku tahu aku sudah gila. Tapi wajah itu bahkan lebih terlihat menggairahkan dari jarak sedekat ini. Membutku lupa diri. "Jadi, bagaimana jika kita mencari tempat yang lebih nyaman dan sepi?"
Tanpa ragu, ia berkata dingin, "Aku ke sini dengan teman-temanku, kami sedang merayakan sesuatu. Aku tidak bisa pergi begitu saja dengan orang asing."
"Apa yang kalian rayakan?"
Ekspresi terganggunya semakin jelas. "Aku baru saja mendapatkan pekerjaan dan akan mulai bekerja Senin."
"Oh begitu. Selamat. Aku Jaehyun, omong-omong." Aku mengulurkan tangan, mendapat jabat tangan dari sosok di depanku. Tangannya kecil. Tapi hangat. "Mungkin kau pernah dengar perusahaan tempatku bekerja. Jung Corp?"
Apakah kalian melihat mulut sosok di depanku ini terbuka ketika aku mengatakan padanya di mana aku bekerja? Apakah kalian melihat matanya yang terbelalak? Seharusnya itu memberiku suatu petunjuk. Tapi pada saat itu aku tidak memperhatikannya—aku terlalu sibuk menatap wajahnya.
Kemudian dia tiba-tiba tertawa. Entah karena apa.
Jika aku sedang dengan orang lain, terutama jika orang itu adalah seorang wanita, aku pasti sudah ada di mobilku sekarang, dengan tanganku masuk kepakaiannya dan mulutku yang membuatnya mengerang sepanjang jalan.
"Kau belum menyebutkan namamu."
Dia mengangkat tangannya. "Bertunangan."
Tidak terpengaruh, aku memegang tangannya dan mencium buku jarinya, sedikit lebih lama menyentuhkannya dengan bibirku. Kulihat pemuda di depanku ini enggan, menarik cepat-cepat tangannya. Mencoba menahan tubuhnya agar tidak gemetar, dan kutahu, meski kata-katanya bertentangan, aku memberikan pengaruh padanya. Jung Jaehyun memang sang penakluk.
Yah, aku bukan tipe orang yang benar-benar mendengarkan apa yang orang katakan. Aku melihat cara mereka mengatakannya. Kalian dapat belajar banyak tentang seseorang jika kalian mau meluangkan waktu untuk memperhatikan cara mereka bergerak, bagaimana mata mereka beralih, tinggi rendahnya suara mereka.
Mulutnya mungkin mengatakan tidak padaku... tapi tubuhnya? Tubuhnya berteriak, 'Ya, ya, setubuhi aku di atas meja bar.'
Dalam rentang waktu tiga menit, dia mengatakan padaku alasan dia ada di sini, apa pekerjaannya, dan mengijinkanku untuk menemaninya menunggu minum jadi. Itu bukanlah sikap seseorang yang tidak tertarik—itu adalah sikap seseorang yang 'tidak ingin tertarik'.
Dan aku pasti bisa mengatasinya.
Aku hampir saja mengomentari tentang cincin pertunangannya, cincin itu terlalu sederhana. Tapi aku tak ingin menyinggung perasaannya dan berakhir mendapat tamparan, karena yang aku inginkan adalah satu malam dengannya.
Dia bilang dia baru saja lulus. Aku punya teman yang harus menjalani sekolah bisnis, dan hutang untuk biaya kuliahnya dapat mencekik leher. Jadi aku berganti dengan taktik yang berbeda—kejujuran. Aku kaya raya, dan itu bisa dimanfaatkan. "Lebih baik lagi. kau tidak biasa pergi ke tempat seperti ini? Aku tidak berkomitmen. Kita sangat cocok. Kita harus mengeksplorasi hubungan ini lebih jauh lagi, kan? Kita akan sama-sama saling menguntungkan."
Dia tertawa lagi, dan minuman kami tiba. Dia mengambil miliknya.
"Terima kasih untuk minumannya. Aku harus kembali ke teman-temanku sekarang. Senang bicara denganmu."
Aku memberinya senyum nakal, tak bisa menahan diri. "Ayolah, jika kau membiarkanku membawamu pergi dari sini, aku akan memberikan arti baru dari kata kesenangan."
Dia menggeleng sambil tersenyum kecil, seolah-olah dia menghadapi seorang anak yang merajuk. Kemudian dia berkata dari balik bahunya saat ia berjalan pergi, "Selamat malam, Jung Jaehyun-shi."
Seperti yang kubilang, aku biasanya seorang pria yang jeli. Sherlock Holmes dan aku, kita bisa berkumpul bersama dan terlibat obrolan seru. Tapi aku begitu terpesona oleh sosoknya, aku melewatkan petunjuk itu pada awalnya.
Apakah kalian memperhatikan? Apakah kalian menangkap detail kecil yang kulewatkan?
Benar. Dia memanggilku "Jung Jaehyun-shi"—tapi aku belum pernah mengatakan padanya nama belakangku. Ingat itu juga. Untuk saat ini, aku membiarkan sosok misterius berambut hitam itu pergi. Aku berniat untuk memberinya sedikit kelonggaran, kemudian memancingnya mendekat—dan menjerat dia sepenuhnya. Aku berencana untuk mengejar dia sepanjang malam ini, kalau perlu.
Dia sangat seksi.
Tapi kemudian si rambut pirang—ya gadis yang di toilet pria—menemukanku. "Di sini kau rupanya! Kupikir aku kehilanganmu."
Dia menempelkan tubuhnya kesisi tubuhku dan mengelus lenganku dengan cara intim. "Bagaimana kalau kita pergi ke tempatku? Tak jauh dari sini."
Ah, terima kasih—tapi tidak. Si rambut pirang cepat menjadi memori yang memudar. Pandanganku tertuju pada prospek yang lebih baik dan menarik. Aku baru akan mengatakan itu padanya ketika si rambut pirang yang lain muncul di sampingnya.
"Ini adikku. Aku menceritakan padanya tentangmu. Dia pikir kita bertiga bisa―kau tahu―bersenang-senang malam ini."
Aku mengalihkan tatapanku pada adik si pirang—saudara kembarnya, sebenarnya. Dan seketika itu juga, rencanaku berubah.
Iya, aku tahu...
Kubilang aku tidak memakai mainan yang sama dua kali. Tapi kali ini berbeda. Menghabiskan malam dengan si kembar pirang terdengar menyenangkan. Aku beritahu kalian, tak ada seorang pria pun yang akan melewatkan kesempatan itu.
Pernahkah aku mengatakan kalau aku mencintai pekerjaanku?
Jika diibaratkan perusahaanku adalah Timnas Baseball Korea, aku pemain terbaiknya. Aku seorang partner di salah satu bank investasi terkemuka di Seoul, yang mengkhususkan diri dalam bidang media dan teknologi. Ya, ya, ayahku dan kedua sahabat dekatnya yang mulai merintis perusahaan ini. Tapi bukan berarti aku tidak bekerja keras untuk memperoleh posisiku sekarang—karena aku melakukannya. Juga bukan berarti aku tidak makan, bernafas, dan tidur. Aku berusaha untuk memperoleh reputasiku, dan aku mendapatkannya.
Kalau kalian tanya, apa yang dilakukan seorang bankir investasi?
Well, sebuah pengusaha membeli perusahaan lain, dan menjualnya bagian demi bagian? Akulah orang yang membantu melakukan itu. Aku menegosiasikan transaksi, menyusun kontrak, rancangan perjanjian kredit, dan banyak hal lain yang kuyakin kalian tidak tertarik untuk mendengarnya.
Bagian terbaik tentang pekerjaanku adalah perasaan yang kurasakan ketika berhasil mencapai kesepakatan, kesepakatan yang sangat bagus. Ini seperti mendapat lotre. Seperti dipilih oleh menjadi pasangan korean porn actress untuk bermain di film porno berikutnya. Tidak ada—dan maksudku tidak ada—yang lebih baik dari itu.
Aku yang mencari pelanggan untuk klienku, merekomendasikan langkah apa yang seharusnya mereka lakukan. Aku tahu perusahaan mana yang sangat ingin dibeli dan perusahaan mana yang perlu pengambil alihan secara paksa.
Kompetisi untuk mendapat klien sangat sengit. Kalian harus menarik perhatian mereka, membuat mereka menginginkanmu, membuat mereka percaya tidak ada orang lain yang dapat melakukan untuk mereka seperti yang bisa kalian lakukan. Ini agak mirip seperti melakukan hubungan seks. Tapi bukannya mendapatkan seorang wanita yang menarik pada penghujung hari, aku mendapatkan cek yang sangat besar, aku menghasilkan uang untuk diriku sendiri dan juga untuk klienku—banyak sekali.
Anak-anak dari para mitra ayahku juga bekerja di sini, Hansol Ji dan Taeil Moon. Ya Taeil—suami Si Menyebalkan, seperti para ayah kami, kami bertiga tumbuh besar bersama, masuk ke sekolah yang sama, dan sekarang bekerja di perusahaan yang sama. Para orangtua menyerahkan pekerjaan yang sesungguhnya kepada kami. Mereka hanya mengawas dari waktu ke waktu, untuk merasakan bahwa mereka masih menjalankan sesuatu, dan kemudian pergi untuk bermain golf di sore hari.
Taeil dan Hansol juga bagus pada pekerjaannya—jangan salah paham. Tapi akulah bintangnya. Akulah jagoannya. Aku orangnya yang klien minta dan perusahaan yang tenggelam dalam ketakutan. Mereka tahu itu dan begitu juga aku.
Senin pagi aku ada di kantorku jam sembilan, sama seperti biasa. Sekretarisku—wanita cantik berambut hitam panjang berpayudara besar—sudah ada di sana, siap dengan jadwalku untuk hari ini, pesananku dari akhir pekan, dan secangkir kopi.
Tidak, aku belum pernah menidurinya.
Bukan berarti aku tidak senang melakukannya. Percayalah, jika dia tidak bekerja untukku, aku akan merayunya di hari pertama dia bekerja. Membuatnya mendesahkan namaku di bilik toilet.
Tapi aku punya aturan—standar, kalau menurut istilah kalian. Salah satunya adalah tidak main-main di sekitar kantor. Aku tidak berhubungan asmara dengan rekan kerja, aku tidak bercinta ditempatku bekerja. Karena itu terlalu beresiko. Akan selalu ada masalah, belum lagi masalah pelecehan seksual akan muncul; ini bukan bisnis yang bagus. Tidak profesional.
Jadi, Irene adalah satu-satunya wanita selain kerabat sedarah yang memiliki interaksi secara murni rekan kerja denganku, dia juga satu-satunya anggota dari lawan jenis yang pernah aku anggap sebagai teman.
Kami memilki hubungan kerja yang baik. Irene sungguh... mengagumkan.
Itu alasan lain aku tidak akan menidurinya bahkan jika Irene berbaring telentang di atas meja memohonku untuk melakukannya. Percaya atau tidak, seorang sekretaris yang bagus—yang sangat bagus—sulit ditemukan. Aku pernah punya beberapa sekretaris yang sangat bodoh. Aku pernah punya sekretaris yang berpikir mereka bisa sukses hanya dengan telentang dan membuka kaki mereka, jika kalian tahu apa maksudku.
Mereka adalah gadis-gadis yang ingin aku temui di sebuah bar pada malam minggu—bukan tipe gadis yang aku inginkan untuk menjawab teleponku di senin pagi.
Jadi sekarang kalian punya sedikit wawasan tentangku, kan?
Baiklah cukup sampai di sini. Mari kita kembali ke kisah perjalananku menuju neraka.
"Aku memindahkan jadwal makan siang dengan Park Com untuk jadwal hari ini," Irene mengatakan padaku saat dia memberiku setumpuk pesan.
Sial.
Park Communications adalah konglomerat media yang bernilai miliaran dolar. Aku telah mengerjakan akuisisi mereka pada jaringan kabel selama berbulan-bulan, dan CEO-nya, Jungsoo-shi, selalu lebih gampang saat perut kenyang.
"Kenapa?"
Dia memberiku sebuah berkas. "Hari ini—makan siang di ruang konferensi. Ayahmu memperkenalkan rekan kerja baru. Kau tahu bagaimana ayahmu tentang urusan ini."
Ayahku mencintai perusahaan ini dan menganggap semua karyawan sebagai keluarga besarnya. Dia selalu mencari alasan untuk mengadakan acara pesta kantor, acara pesta ulang tahun, baby shower, prasmanan President's Day, dan―perlu aku lanjutkan? Sebuah keajaiban jika pekerjaan yang sebenarnya dapat terselesaikan.
Dan hari ulang tahunnya? Lupakan tentang itu. Pesta hari kelahiran ayahku legendaris.
Semua orang pulang dengan mabuk. Beberapa orang tidak pulang sama sekali. Tahun lalu kami menangkap sepuluh karyawan dari bank saingan yang berusaha menyelinap masuk, hanya karena pesta di malam hari yang fantastis. Dan itu semua dilakukan untuk memperoleh atmosfer—suasana—yang diinginkan ayahku pada perusahaan ini.
Ayahku mencintai karyawannya, dan mereka balas mencintainya.
Pengabdian, kesetiaan—kami mendapatkannya secara melimpah. Itu bagian yang membuat kami menjadi yang terbaik. Karena karyawan yang bekerja di sini hampir dipastikan akan menjual anak sulung mereka pada ayahku.
Namun, ada hari—seperti sekarang ini, ketika aku butuh melayani klien—yang membuat perayaan ayahku bisa menjadi sangat menjengkelkan. Tapi begitulah keadaannya.
Jadwal senin pagiku penuh, jadi aku pergi menuju mejaku dan mulai bekerja. Kemudian, sebelum aku bisa berkedip, sudah pukul satu, dan aku menuju ke ruang konferensi. Aku melihat kepala berambut kecoklatan dengan style yang stylish. Itu Johnny Seo. Johnny mulai bekerja di perusahaan ini enam tahun yang lalu, tahun yang sama denganku. Dia pria yang menyenangkan dan sering menjadi kawan berakhir pekan. Di sampingnya adalah Hansol, asyik mengobrol . Ada kakak iparku juga.
Aku mengambil makanan dari prasmanan dan bergabung dengan mereka saat Hansol menceritakan malam minggunya. "Lalu gadis itu mengeluarkan borgol dan cambuk. Sebuah cambuk! Kukira aku akan kehilangan akal saat itu juga, aku bersumpah, demi Tuhan. Siapa sangka gadis yang pertama kali kutemui begitu malu-malu bisa seperti itu."
"Aku sudah bilang, orang pendiam selalu suka yang aneh-aneh," tambah Johnny, tertawa.
Hansol mengalihkan mata coklatnya pada Taeil dan berkata, "Serius, Taeil-hyung. Kau harus keluar dengan kami, sekali saja, aku mohon."
Aku menyeringai mendengar kalimat itu karena kutahu persis apa yang akan terjadi.
"Maaf, kalian tahu sendiri bagaimana istriku, kan?" Taeil bertanya, alisnya berkerut.
"Jangan menyebalkan," Johnny menyikutnya. "Katakan pada istrimu kau akan pergi karaoke atau sesuatu yang lain, bersenang-senanglah sedikit."
Taeil melepas kaca matanya dan menyeka lensa dengan serbet saat ia tampaknya mempertimbangkan ide itu.
"Benar. Dan ketika istriku tahu—dan Eunji pasti akan tahu, aku jamin—dia akan menghidangkan kebanggaanku di atas piring perak. Dengan saus tomat di sampingnya dan segelas wine yang enak." Taeil mengeluarkan suara menyeruput keras saat meminum minumannya, yang membuatku tertawa terbahak-bahak.
"Lagipula," Ia merenungkan dengan senang, memasang kembali kacamatanya dan meregangkan tangan di atas kepalanya. "Di rumah aku sudah mendapat cukup pemuas biologis," lanjutnya sambil tersenyum mesum.
"Dasar penakut," Hansol meledek.
Johnny menggeleng kearah kakak iparku dan berkata, "Bahkan filet yang enak akan membosankan kalau kau memakannya setiap hari."
"Tidak," Taeil membela diri dengan penuh arti. "Jika kau memasaknya dengan cara yang berbeda setiap kalinya. Istriku tahu bagaimana membuat makananku tetap menarik."
Aku mengangkat tanganku dan memohon, "Tolong. Berhenti di situ." Ada beberapa visualisasi yang tidak ingin ada dalam kepalaku. Sekalipun. Apalagi jika menyangkut gambaran si Menyebalkan di atas ranjang. Uh.
"Bagaimana denganmu, Jaehyun? Aku melihatmu pergi dengan gadis kembar itu. Bagaimana mereka?" Johnny bertanya padaku.
Aku merasakan senyum puas meregang atas bibirku. "Lumayan." Kemudian aku mulai mendeskripsikan malam minggu liarku secara jelas dan mendetil.
Oke mari kita berhenti sekarang karena aku bisa melihat pandangan menghakimi di wajah kalian. Aku juga bisa mendengar ketidaksetujuan bernada tinggi dari kalian: 'Dasar brengsek. Dia berhubungan seks dengan seorang gadis—well, dalam hal ini dua gadis—dan sekarang dia menceritakan semua itu ke teman temannya. Sungguh tak terhormat.'
Pertama, jika seorang wanita ingin aku menghormatinya, dia perlu bersikap seperti seseorang yang layak dihormati. Kedua, aku tidak berusaha bersikap brengsek; aku hanya menjadi pria pada umumnya. Dan semua pria berbicara dengan teman-teman mereka tentang seks.
Mari kuulangi, kalau saja kalian melewatkannya:
SEMUA PRIA BICARA PADA TEMAN-TEMANNYA TENTANG SEKS.
Jika seorang pria memberitahumu dia tidak melakukannya? Tinggalkan dia, karena dia telah membohongimu.
Dan satu lagi—aku juga pernah mendengar kakak perempuanku mengobrol soal itu bersama sejumlah temannya. Beberapa cerita yang keluar dari mulut mereka bisa saja membuat pria paling gagah sekalipun tersipu. Jadi jangan bersikap seolah wanita tidak membicarakan tentang seks seperti halnya kami kaum pria. Karena kutahu pasti mereka melakukannya.
Setelah menguraikan poin-poin terperinci akhir pekanku, pembicaraan di meja berganti ke. Di kejauhan aku mendengar suara ayahku saat ia berdiri di depan ruangan, menjelaskan secara rinci prestasi besar dari rekan kerja kami yang baru, yang filenya tidak repot-repot aku buka pagi ini. Bla bla bla. Bisa kita skip bagian ini?
Obrolan memudar saat pikiranku beralih ke bagian dari malam mingguku yang tidak kuceritakan ke teman-temanku: interaksi dengan pria seperti malaikat berambut hitam, tepatnya. Aku masih bisa melihat dengan begitu jelas mata bulat gelapnya di kepalaku. Bibir tipisnya yang minta dilumat dan wajahnya yang mempesona.
Ini kali pertama bayangan seorang laki-laki muncul di kepalaku seperti itu, tanpa diminta, selama satu setengah hari terakhir. Sebenarnya, seperti setiap jam sebuah gambaran dari beberapa bagian dirinya datang padaku, dan mendapati diriku membayangkan apa yang terjadi padanya. Atau, lebih tepatnya, apa yang bisa terjadi jika aku tetap tinggal dan pergi mengikutinya.
Ini aneh. Aku bukan tipe pria yang akan mengenang orang asing yang kutemui selama petualangan akhir pekanku. Biasanya, mereka memudar dari pikiran saat aku pergi dari ranjang mereka. Tapi ada sesuatu tentang dirinya. Mungkin karena dia laki-laki pertama yang menarik perhatianku. Mungkin karena dia menolakku. Mungkin karena aku tidak tahu siapa namanya. Atau mungkin karena aku yang membiarkannya pergi begitu saja.
Saat bayangan yang ada dalam pikiranku mulai terfokus pada sosok itu, geliatan akrab mulai terjadi di organ bawahku, kalau kau tahu maksudku. Secara mental aku memperingatkan diriku sendiri. Aku tidak pernah lagi mengalami ereksi spontan sejak berumur dua belas tahun. Sebenarnya apa yang terjadi?
Sepertinya aku harus menelepon cewek seksi yang menyelipkan nomer teleponnya padaku di coffehouse pagi ini. Biasanya aku menunda aktivitas semacam itu untuk kegiatan akhir pekan, tapi upanya kejantananku saat ini ingin membuat perkecualian.
Pada saat ini, aku telah sampai depan ruangan, dalam antrian untuk berjabat tangan seperti lazimnya menyambut semua karyawan baru. Saat aku mendekati ujung depan barisan, ayahku melihat dan datang menyambut dengan tepukan sayang di punggungku.
"Senang kau sudah datang, Jaehyun. Karyawan baru kita punya potensi yang luar biasa. Aku ingin kau secara pribadi membantunya di sini, membantu dia memperoleh pengalaman untuk pertama kalinya. Kalau kau melakukan itu, nak, aku jamin dia akan menjadi sukses dan membuat kita semua bangga."
"Tentu, ayah. Tidak masalah."
Bagus. Seperti aku tidak punya pekerjaan sendiri untuk diurus, saja. Sekarang aku harus menuntun seorang pemula saat dia berjalan di kegelapan dunia yang lebih menakutkan dari film Insidious.
Terima kasih, ayah.
Akhirnya giliranku tiba. Dia memunggungiku saat aku melangkah.
Aku menatap rambut hitamnya dari belakang, kecil, sosok tubuh mungilnya. Mataku menatap pada punggungnya, saat ia berbicara dengan orang di depannya.
Tunggu, tunggu sebentar.
Aku pernah melihat sosok ini sebelumnya.
Tidak mungkin.
Dia berbalik.
Tidak.
Senyum kecil di wajahnya melebar saat matanya terhubung denganku.
Mata bulat cemerlang yang telah kuimpikan dan sekarang baru kuingat. Dia mengangkat alis sebagai tanda mengenali dan mengulurkan tangannya. "Jung Jaehyun-shi."
Aku merasa mulutku membuka dan menutup, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Kaget melihat dia lagi—di sini dari semua tempat—sesaat keterkejutan itu pasti telah membekukan bagian otakku yang mengontrol kemampuan bicara. Ketika syaraf sinapsis mulai berfungsi lagi, aku mendengar ayahku berkata.
"Perkenalkan, namanya Lee Taeyong. Kau harus membantunya untuk bisa terbiasa di sini."
Lee Taeyong.
Laki-laki di bar itu. Laki-laki pertama yang membuatku tertarik. Yang aku biarkan pergi. Laki-laki yang mulutnya masih sangat kuinginkan untuk berada di sekitar kejantananku.
Dan dia bekerja disini. Di kantorku, di mana aku telah bersumpah untuk tidak pernah... sekalipun... berhubungan seks dengan rekan kerja.
Tangan yang kecil namun hangat menjabat tanganku.
Seketika dua pikiran secara bersama masuk ke dalam kepalaku.
Yang pertama: Tuhan telah membenciku. Yang kedua: aku telah menjadi laki-laki yang sangat, sangat brengsek hampir sepanjang hidupku dan ini adalah balasannya. Kalian tahu kutipan yang sering orang katakan tentang karma, kan? Aku merasa aku kena karma.
Benar.
Lee Taeyong.
Pemuda ini jelas akan menjadi sumber frustasiku.
To be Continued
Note:
[1] Banyak yang dirubah di sana-sini. Karena aku selalu kurang sreg dengan GS. Makanya dibuat BoyxBoy. Semoga tidak terlalu aneh hasilnya
[2] Masalah voting, bukan apa-apa kok. Aku hanya ingin dengar pendapat readers saja. Jika ada yang kurang suka dengan sistem voting seperti ini. I'm so sorry. Terimakasih yang sudah voting!
[3] Lanjut atau delete?
