Lets Go!

By

FyRraiy

Disclaimer:

Semua karakter tokoh, kata-kata, dan perilaku tokoh di dalam FF tidak bermaksud menjelek-jelekkan tokoh dari segi manapun! FF ini murni dari pemikiran otak saya. Jadi, jika ada kesamaan mungkin hanya sebuah kebetulan saja!

Warning:

Gaje, Aneh, Typo(s), gk nyambung,

Don't Like! Don't Read!

Don't be a Basher!

Happy Reading~

"Yoongi hyung, apa kau benar-benar mau bermalam di sekolah ini?"

Jimin akhirnya mengeluarkan suaranya setelah lama menunggu seorang Min Yoongi yang sedari tadi tak bergerak satu inci pun dari posisinya yang menelungkupkan kepalanya di atas kedua lengannya yang ditekuk sebagai bantalan keningnya.

"Hyung… ayo pulang," ucap Jimin lembut dengan tangannya yang terangkat mengusap helaian rambut halus Yoongi. Namun tak lama, ia merasakan tangannya ditepis kasar oleh Yoongi yang masih tetap dalam posisinya meskipun satu tangannya tergerak menyingkirkan tangan Jimin.

"Hyung,"

"Pergi!" potong Yoongi ketus.

Jimin menyrengit. Suaranya. Suara Yoongi hyungnya terdengar parau tak seperti biasanya.

"Hyung, ada apa?" kelewat kepo, Jimin tak akan berhenti begitu saja.

"Ku bilang pergi Jimin." Kali ini tak membentak namun dingin.

Baiklah. Kalau ucapan tak mempan maka jalan pintasnya ya tindakan. "Yoongi hyung," Jimin memegang pergelangan lengan kanan Yoongi yang tak dijadikan tumpuan kepalanya. Menariknya keatas agar membawa tubuh Yoongi yang menelungkup itu tegak dan sekaligus menghadap kearahnya.

"Lepaskan!" Yoongi memberontak. Namun menunduk.

Melihat itu Jimin mulai bergerak menunduk untuk mendapatkan ekspresi seperti apa yang sedang ada di wajah Yoongi.

Greb

Namun kalah cepat dengan Yoongi yang memeluk pinggangnya. Membenamkan wajahnya di perut kotak-kotak milik Jimin. Dan kini malah menangis dengan keras serta sesegukannya yang memilukan.

Jimin telaten mengusap surai dan punggung Yoongi, berharap dapat meredakan tangisnya. "Hyung, sudah… jangan menangis. Katanya manly, masa menangis meraung-raung seperti anak tk yang permennya jatuh ketanah."

"Aw!" itu suara Jimin yang pinggangnya di cubit keras oleh Yoongi.

"Iya, iya baiklah tidak bicara seperti itu lagi,"

Dan Jimin kembali pada kegiatan awalnya menunggui Yoongi. Bedanya ya gitu, sekarang keadaanya Yoongi masih menangis di pelukannya. Jimin jadi risau. Di kepalanya ada tanda tanya besar kenapa Yoongi bisa seperti ini.

"Hyung… sudah selesai menangisnya?" tanya Jimin pelan, takut-takut akan menerima cubitan atau mungkin saja pukulan yang tak terprediksi.

Meskipun tak menjawab, namun setidaknya Yoongi menganggukan kepalanya sebagai jawabannya. Sedikit membuat Jimin lega.

Jimin mensejajarkan tubuhnya dengan Yoongi. Ia menangkup pipinya. Miris rasanya melihat Yoonginya yang ia sangat cintai dan kasihi dan sayangi ini kini matanya sembab, dan juga pipinya yang ada banyak bekas aliran air matanya.

Jimin mengecup kening kekasihnya sebentar. Lalu turun ke dua matanya. Hidungnya. Pipi kanan juga kiri. Dan terakhir, bibir tipis yang merona itu.

"Kenapa menangis, hm?" lembut dan teduh. Namun Yoongi tetap tidak bicara perihal penyebabnya. Ia hanya terus memandang dalam, berlayar mengarungi iris hitam Jimin. Dan didetik berikutnya,

Yoongi memeluk leher Jimin, membenamkan wajahnya. Lalu dengan senang hati Jimin membalas pelukan itu.

"Jelek Jim…"

"Hn?"

"Nilai kimiaku, jelek sekali."

"Ya ampun, ku kira kau mengatai diriku jelek, kan padahal aku tampan,"

"Jangan kepedean," ucap Yoongi sambil tangannya melayang memukul wajah Jimin dengan telapak tangannya meski pelan.

Setelah itu pun tak ada percakapan lagi dari keduanya. Hanya Yoongi yang masih setia pada posisinya. Dan Jimin yang makin mengeratkan pelukkannya. Memeluk pinggang Yoongi posesif.

Sekitar hampir setengah jam. "Hyung, ayo ikut aku," Jimin meneggakkan tubuh Yoongi yang tadi bersandar padanya. Lalu ia bangkit juga dengan menarik Yoongi ikut bangkit.

"Ayo!" ia menarik Yoongi pergi. Ah, tak lupa sebelumnya ia membawa tas punggung Yoongi bersamanya. Kan tidak mungkin jika ditinggal di kelas, bisa kena semprot Yoongi nanti.

.

.

"Jimin, sebenarnya kita akan kemana?" entah sudah keberapa kalinya Yoongi bertanya dengan pertanyaan yang sama. Hei, dia sudah cukup lelah. Padahal Yoonginya saja yang malas gerak. Tapi sungguhan kok dari tadi tidak juga lekas sampai. Dan diingatkan kembali hanya untuk sekedar informasi, mereka itu berlari. Dari tadi belari. Dari sekolahan tadi terus berlari. Tidak berhenti berlari.

"Sebentar lagi kita sampai,"

"Dari tadi kau selalu bilang seperi itu. Aku sudah lelah," Yoongi menggerutu.

"Kali ini aku serius,"

"Kau pikir aku tidak serius?" Yoongi kesal. Dan melakukkan aksi mogok berlari yang juga membuat Jimin akhirnya ikut berhenti.

"Serius yang ini benar-benar serius," tutur Jimin dengan raut yang seriusan serius sambil menunjuk sebuah baner besar di belakangnya karena tadi ia mengubah posisinya untuk menghadap Yoongi yang menjelaskan bahwa sedang dilangsungkannya sebuah festival jajanan Jepang.

Yoongi cemberut. Menghentak-hentak kakinya kasar karena kesal. "Hyung, tunggu aku..."

.

Dan berakhirlah mereka berjalan di tengah kerumunan banyak manusia menikmati jajanan yang tersedia di stan-stan yang berjajar rapi itu. Jangan lupakan Jimin yang merangkul pundak Yoongi erat. Yoongi sih risi juga sebenarnya, untung saja ini makanan jadi ia tidak berniat untuk rewel.

"Hyung, coba yang itu. Aku perah makan waktu berkunjung ke Jepang. Namanya takoyaki. Ayo coba!"

Sebenarnya Jimin tidak perlu mendapatkan jawaban iya atau tidak dari ajakannya itu. Toh Yoongi juga ditarik paksa olehnya. "Kau ingin isi apa hyung? Gurita? Keju? Kepiting? Atau isi cintaku saja hyung?"

PLAK

Tidak ada jawaban yang didapat, malahan pukulan sayang dari Yoongi tepat di wajahnya. "Musnah saja sana." Dan Jimin hanya terkekeh. Dia biasa. Dia sudah kuat.

Setelah dua porsi berhasil didapatkan, mereka kembali berjalan beriringan. Sembari menghabiskan yang ada di tangan, juga melihat-lihat apalagi yang sekiranya perlu dicoba. "Hyung, bagaimana? Enak tidak?"

Yoongi tetap pada kegiatannya dan hanya menganggukkan kepala cerdasnya sebagai jawaban. "Beri aku ciuman dong kalau begitu," ini namanya coba-coba siapa tahu beruntung, coba-coba siapa tahu beneran dapat cium. Jimin melirik Yoongi menaik-turunkan alisnya, meski yang ditatap setia datar tak peduli.

"Cium saja gurita di laut." Yoongi berjalan cepat meninggalkan Jimin dengan tampang memelasnya.

Sebaiknya cepat sebelum benar-benar ditinggal oleh Yoongi. Hampir saja dua langkah lagi untuk benar-benar sejajar dengan Yoongi, tepat di wajahnya satu bungkus kosong bekas takoyaki lengkap dengan sisa sausnya yang belepotan siap menubruk wajah tampannya.

"Tolong buang ya, Jim." Jimin hanya menurut. Meskipun enggan, lebih baik ia menurut sebelum bencana alam datang melanda.

Setelah berhasil menuntaskan misinya, Jimin kembali menyatu dengan kerumunan untuk menemukan malaikatnya yang manis kelewat manis dari gula termanis di dunia ini deh pokoknya. Tidak sulit sih bagi Jimin. Dia sudah hafal luar planet bagaimana siluet tubuh Yoongi, mau dilihat dari depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah, atau bahkan dari sudut yang terkecil sampai yang terbesar mana pun sudah hafal.

Jimin mah beda, selamban-lambannya otak kecilnya dalam pelajaran sejarah, tapi kalau sudah berhubungan dengan Yoongi, otak kecilnya bahkan sudah seperti sepuluh jilid ensiklopedia yang tebalnya tidak dikira-kira sama si penulisnya.

Dan, Bingo!

Apa kata author bener kan, tidak sampai satu jam Jimin sudah berhasil menemukan Yoonginya yang sedang berpikir menu apa yang akan ia pesan. "Tolong yang isi cokelat dua, Tuan. Terima kasih," dengan kebiasaan Jimin yang memang suka nimbrung tanpa diundang, ia dengan tanpa persetujuan dari Yoongi memesan taiyaki dengan rasa cokelat. Yap! Taiyaki itu makanan dari Jepang yang bentuknya unyu-unyu begitu. Lebih spesifiknya lagi, itu tuh bentuknya ikan. Tapi, saya sih tidak tahu spesies apa. Mungkin nanti kalian bisa tanya sama temanya Jimin yang namanya Taehyung, siapa tahu dia sudah kenalan sama keluarganya itu ikan, jadi mungkin saja tahu sebenarnya taiyaki itu ikan spesies apa.

Hanya beberapa menit untuk si ikan berhasil berpindah tempat ke kedua tangan mungil Jimin. Setelah membayarnya dan tak lupa ucapan terima kasih, Jimin kembali berjalan melanjutkan destinasi dadakannya bersama kekasihnya.

Jimin memberikan satu pada Yoongi. Dan Yoongi tidak akan menolak kalau soal makanan. Kali ini mereka bertautan tangan.

"Hyung..."

"Hmm,"

"Omong-omong, bentuknya lucu ya... aku jadi tidak tega memakannya," celoteh Jimin ringan sambil memandang kue ikan ditangannya dengan cermat.

Yoongi melirik sebentar lalu mendengus, "Kau bahkan sudah memakannya separuh bodoh,"

"Ibaratnya sama sepertimu hyung," atensi Jimin sekarang beralih pada Yoongi yang memakan kue ikan lucunya dengan tak kalah lucu.

"Apa maksudmu?"

"Sama-sama imut kan jadi tidak tega memakannya, tapi akhirnya kumakan juga,"

"Sialan. Dasar mesum!"

Dan Jimin hanya meringis tetap tersenyum setelah diberi kecupan singkat di keningnya menggunakan kepalan tangan mulusnya seorang Min Yoongi.

.

Entah sudah stan ke berapa yang mereka hampiri. Mereka sama-sama senang. Tentu saja terutama Yoongi, ia bisa makan sepuasnya tanpa membuang uang sepeser pun. Tapi tidak apa, Jimin tetap senang kok. Tidak apa uang jajannya habis. Yang penting Yoongi hyungnya senang. Kan Jimin juga ikut senang.

Jimin rela kok. Lagian kalo memang Yoongi beli semuanya seorang-orangnya juga sekalian paling hanya uang jajan satu minggu Jimin yang hangus. Haha, uang jajanya Jimin itu banyak. Kalian tidak percaya kan? Kalo biasanya anak-anak remaja seangkatan Jimin biasa main perempuan, kalau Jimin mah main laki-laki, eh. Maksudnya Jimin mah mainannya saham. Sudah tidak level sama anak SMA biasanya.

"Jimin, beli minum sana. Yang rasa coklat ya, aku duduk di kursi itu,"

"Hmm, hati-hati ya hyung, teriak yang kencang kalau ada om-om mesum yang berani mendekat lebih dari satu kilo meter darimu."

Yoongi memutar bola matanya tidak peduli dengan Jimin yang mengusak pucuk kepalanya. Jangan lupakan satu kecupan di kening sebelum dirinya menghilang di tengah kerumunan orang untuk membeli dua cup minuman dingin.

Dan setelah itu pun Yoongi pergi menuju kursi yang tadi ia katakan pada Jimin. Tidak ada hal aneh yang ia lakukan. Ingat dia itu Min Yoongi bukan Park Jimin yang tidak bisa tidak sehari saja tidak melakukan hal yang aneh-aneh nyerempet tidak waras dan tidak sayang nyawa.

Lagian kan memangnya kalian tidak ingat. Yoongi itu lagi sedih alias lagi galau. Ingat nilai kimianya. Jangan ditanya berapa angkanya kalau masih sayang nyawa. Ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah hidupnya mendapat nilai dengan angka yang tercetak jelas dan besar ala-ala gurukiller yang depannya seperti separuhnya angka delapan dan belakangnya seperti bebek berenang. Singkatnya sih, sebut saja nilainya itu tiga puluh dua, ups! Hehe.

Kalau dipikir-pikir, dia mendapat nilai jelek seperti itu kan gara-gara Jimin. Ya, ini semua gara-gara Jimin yang jadinya ia hanya menggunakan buku kimia tebalnya itu hanya untuk bantalan tidurnya di atas meja belajarnya yang ia anggap gagal menjalankan tugasnya untuk tetap sedia membuat Yoongi terjaga dengan buku di hadapannya.

Sore itu Jimin berhasil menculik Yoongi dan menyeretnya ke taman bermain Lotte World. Padahal Yoongi ingat betul, tercetak besar di atas kepalanya peringatan penting dengan sirine yang berwarna merah menyala-nyala bertuliskan 'Kang Saem'. Sedikit informasi, Kang Songsaengnim itu guru kimia yang satu sekolah juga tahu kalau dia itu galaknya bukan main. Dan Yoongi juga masih sayang nyawa kalau main-main sama dia.

Sialnya lagi, Jimin membawa pulang utuh tubuhnya sudah hampir tengah malam. Jam sebelas malam kalau mau tahu. Tidak sampai semalam itu juga di taman bermain. Mulai dari pukul delapan malam, mereka beralih untuk mengunjungi namsan tower.

Meskipun menyenangkan, tetap saja lelah. Dan berakhirlah Min Yoongi yang tertidur dengan tidak nyamannya memeluk buku catatan kimianya.

Kembali pada nasib Yoongi yang sekarang ini. Dengan masih menggunakan seragam sekolahnya dan membawa tas punggungnya, ia hanya duduk untuk menunggu Jimin yang sedang membeli minuman kembali padanya. Hari yang buruk pada awalnya, namun cukup menyenangkan pada akhirnya.

Jimin memang kekasih yang sangat perhatian. Sejak pagi tadi Yoongi bahkan belum sempat memasukkan makanan secuil pun ke dalam mulut mungilnya, dan pintarnya Jimin mengajaknya ke festival makanan Jepang dan makan sekenyang-kenyangnya.

Meskipun kadang menyebalkan, seorang Park Jimin selalu saja mempunyai seribu satu cara untuk membuat kepalanya seperti mau meledak. Meskipun begitu, kalau ditanya cinta atau tidak dengan Jimin, tentu saja cinta, ia bahkan sudah tidak bisa mengatakannya dengan kata seberapa besar ia mencintai kekasih bocahnya itu.

"Heungg," Yoongi memberengut kaget saat dingin itu tiba-tiba hinggap di pipinya. Ya, siapa lagi pelakunya sudah jelas Park Jimin itu dengan cengiran lebarnya.

Tak ingin berdebat, Yoongi memilih untuk mengambil satu cup minuman dingin yang ia yakini sebagai pesanannya. Menyesapnya pelan tidak mempedulikan Jimin yang mulai menempati ruang kosong di sebelahnya.

Jimin menarik kepala Yoongi pelan menuju bahunya. Mengusak surainya dengan pola abstrak, namun penuh perasaan kasih. Menciumi puncak kepala Yoongi bertubi. "Masih memikirkan nilai, hm?"

Yoongi hanya menggeleng sebagai jawaban. "Lalu apa? Memikirkanku?"

Dan yang ia terima adalah sikutan Yoongi di pinggangnya. "Sudahlah hyung tidak baik memikirkannya terus. Dari pada memikirkan nilai itu lebih baik memikirkanku saja,"

"Diam Jim, aku mengantuk," dengan kesadaran yang sepertinya tinggal separuh, Yoongi meletakkan cup minumannya.

Jimin terkekeh, "Tidurlah hyung. Aku mencintaimu,"

"Aku tahu."

Dan setelahnya Yoongi benar-benar jatuh tertidur di pelukan Jimin dengan pundak Jimin sebagai sandaran kepalanya. Jimin sih tidak keberatan di tinggal tidur seperti itu, sudah biasa bahkan. Dan sesungguhnya ia merasa senang, dengan begitu ia bisa leluasa memandangi Yoonginya yang manis saat tertidur. Dan satu lagi alasannya,

CHU

Jimin bisa mencuri kecupan di bibir kekasihnya sepuasnya. Menempelkan bibirnya dengan bibir tipis milik Yoongi. Menyesapnya dan memberikan lumatan atas bawah bergantian. Lalu kecupan sekilas di akhirnya.

.

.

.

.

END

Annyeong!

Lama tak jumpa~

Maafkan baru cuap-cuap/? di chapter dua ini, itu semua dikarenakan waktuu chapter satu lalu eommaku udh nelpon karena aku lama bergerak dan malah finishing plus ngepostnya...

Dan, ada yang bertanya-tanyakah knp cuma sepuluh? dan kenapa aku judulin promise?

well, jadi beberapa waktu lalu setelah aku graduation dari smp, terus aku harus lanjutin ke jenjang yang lebih tingi toh... stelah mengikuti serangkaian pendaftaran dan tinggal menunggu hasil, di situ aku berdoa dan bikin janji kalau aku berhasil masuk itu sma.

Ya, singkatnya aku bikin ff ini karena janjiku dengan Tuhan YME. Aku sih janjinya bikin sepuluh ff, so tungguin aja ini bakalan aku lanjut sampe ada sepuluh ff, tapi untuk waktunya aku ga janji bakal cepat. Lagian seharusnya project ff ini sudah selesai 4 dan yang ke 5 dalam tahap pembuatan, tapi sungguh membuatku menangis tersedu-sedu... laptopku di format sama temenku. Semua video korea-koreaanku lenyap, terlebih lagi ff nya yang blm sempet aku post dan gapunya salinannya. Jadi untuk tidak terjatuh pada lubang yang sama, aku putusin buat post setiap udh slesei aja. Dan diingetin juga, setiap chapternya ga ada sangkut pautnya sama sekali, yup.

Aku tau sangat kalau karya-karya ku belum seberapa, jadi aku kemabali minta maaf soal kekurangan sana sini dan terimakasih yang sudah mau baca sampai akhir chapter ini...

Sampai jumpa di chapter selanjutnya~