Fever
By
FyRraiy
Disclaimer:
Semua karakter tokoh, kata-kata, dan perilaku tokoh di dalam FF tidak bermaksud menjelek-jelekkan tokoh dari segi manapun! FF ini murni dari pemikiran otak saya. Jadi, jika ada kesamaan mungkin hanya sebuah kebetulan saja!
Warning:
Gaje, Aneh, Typo(s), gk nyambung,
Don't Like! Don't Read!
Don't be a Basher!
HAPPY READING~
BRAKK
Yoongi yang berlari menutup pintu dorm dengan kasar membuat member yang lainnya hanya bisa menghela napas dan menggeleng maklum. Pasalnya, Park Jimin yang notabenenya adalah kekasih Yoongi kala itu sedang demam. Tentu saja Yoongi sangat khawatir. Meskipun galak Yoongi kan juga cinta Jimin.
Ia langsung melesat ke kamar Jimin begitu saja. "Jin-hyung!" pekik Yoongi saat melihat Jimin nya yang tertidur gelisah dan Seokjin yang sedang sibuk mengganti kompres.
"Aigoo Yoongi. Pelan-pelan saja bisa tidak sih?"
"Ini juga sudah pelan-pelan,"
"Hhhh… baiklah terserah kau," balas Jin pasrah.
"Bagaimana keadannya sekarang? Apa demamnya makin tinggi? Jimin tidak akan kenapa-napa kan Hyung?"
"Min Yoongi, kalau kau bertanya satu-satu," sungut Seokjin.
"Ish, hanya tinggal kau jawab saja, hyung tidak perlu marah-marah,"
"Baiklah-baiklah… Jimin hanya butuh istirahat saja saat ini. Meskipun demamnya sempat meninggi tadi, kau tidak perlu khawatir, setelah ini pasti demamnya akan reda," jelas Seokjin pada Yoongi yang hanya menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kau jaga Jimin. Aku keluar dulu."
Setelahnya Seokjin menghilang dari kamar itu, Yoongi hanya diam memandangi Jimin-nya tanpa ekspresi. Mungkin dalam pikirannya sedang berkecambuk. Bagaimana mungkin seorang bocah tengil layaknya Park Jimin bisa terkena demam. Cukup aneh.
Tak ada pergerakkan hingga akhirnya Yoongi memilih tuk mengakhiri pertanyaan bodohnya yanh tadi terlintas begitu saja di kepala cantiknya. Yoongi menghela napas berat dengan dominasi perasaan sedih. Ia menggerakkan tanga kanannya mengusap surai Jimin perlahan. "Dasar anak nakal, bisa-bisa nya kau terkena demam. Aku mengkhawatirkan mu bodoh." Tutur Yoongi aga kasar namun tak ada intonasi marah disana.
Yoongi perlahan menyelundupkan tubuhnya di bawah selimut yang sama dengan Jimin. Ia membaringkan tubuhnya di samping kekasihnya sembari memeluknya menambah hangat menyelimuti tubuh Jimin.
"Cepatlah sembuh, Jimin. Aku mencintaimu." Bisik Yoongi menyusul Jimin ke alam mimpi.
.
.
.
Hari esok nya ketika matahari kembali bersemangat membagi faedah nya untuk makhluk hidup di bumi, Yoongi mengerjap-ngerjapkan mata mungilnya mencari jawaban tentang di mana dan sedang apa dirinya saat itu. Dan jawabanya kalian juga sudah tau. Tentu saja, dirinya masih sama dengan keadaan sama seperti semalam. Di ranjang milik Jimin. Berbagi selimut. Memeluk kekasih bocahnya. Ah salah, sedikit pembenaran, pagi ini ia tidak lagi memeluk Jimin-nya tapi kini posisinya berganti dengan Jimin yang asik menindih tubuhnya.
Pantas saja ia merasakan berat dan sedikit sulit bernapas, ternyata Jimin yang dengan tampang watadosnya malahan masih setia dengan kegiatan mari memandangi kekasih hati yang tidur dengan manisnya.
Hanya sepersekian detik berikutnya. Penuh terisi sudah kesadaran si singa betina. Ups, hanya bercanda. Yang benar maksudnya adalah seorang Min Yoongi.
"PARK JIMIN MENYINGKIR!"
dan
"Akh!"
Aku tau kalian pasti berfikir si pendek Park Jimin pasti sedang dengan elitnya tersungkur di lantai yang dingin. Tapi jika kalian tidak berfikiran seperti itu maka kalian benar dengan kata lain jika kalian berfikiran seperti itu maka kalian salah berat.
Itu bukanlah suara milik Jimin. Melainkan suara milik Kim Taehyung yang terjatuh dari ranjangnya. Tentu saja karena teriakan Yoongi yang kelewat nyaring jauh dari kata merdu melebihi kengerian jam waker yang tidak bisa diajak kompromi terlalu horror seperti guru Kim yang berteriak membangunkan si batu tidur Jeon Jungkook. Ah, sudahlah mari kita kembali untuk membahas posisi seperti apa sekarang ini yang dilanda Yoongi pasca suaranya yang kelewat merdu menerpa wajah tampan Jimin.
Masih sama seperti detik-detik yang lalu. Teriakan Yoongi tidak akan mempan pada Jimin. Jimin kan sudah kebal. Hanya saja Yoongi sekarang terus meronta mendorong-dorong wajah tampan Jimin dengan brutal. Yang ini juga tidak mempan sih.
Bukannya Jimin yang menyingkir seperti yang diharapkan malahan Yoongi yang diam membeku seribu makian. Bungkam, sebungkam-bungkamnya. Ya, bagaimana bisa menyemprotkan makian jika bibir nya saja di sumpal bibir tebal milik Jimin.
Lembut namun ada rasa yang berbeda dari biasanya mereka melakukan ciuman. Ada rasa hangat dari bibir Jimin. Tentu saja karena Jimin yang masih demam, meskipun tidak setinggi semalam.
Tidak seagresif Jimin biasanya. Mungkin juga karena pengaruh dari demamnya. Mengingat itu membuat Yoongi merasa iba atas perihal sakitnya Jimin. Yoongi membalas lumatan-lumatan kecil yang Jimin berikan. Ciuman lamban guna menyesapi rasa cinta membuncah lewat belah bibir keduanya.
"Kau masih demam, Jimin." tutur Yoongi sedih kala pagutan mereka telah selesai dan hanya ditanggapi gumaman kecil dan senyun kecil oleh Jimin yang masih di atasnya.
Tak ada lagi pernyataan atau pun pertanyaan yang keluar dari mulut keduanya. Hingga Jimin membenamkan kepalanya di perpotongan leher kanan Yoongi. Membiarkan berat tubuhnya di tahan oleh Yoongi.
itu tak masalah. Malahan Yoongi membelai surai Jimin dan memberikan usapan abstrak pada punggung Jimin.
Begitu terus hingga melewati banyak detik bahkan menit. Tidak ada yang mengganggu. Bahkan Seokjin yang tadi masuk untuk mengajak sarapan hanya bisa kembali tanpa kedua makhluk itu mengikutinya. terlalu terharu melihat keduanya sedang akur tanpa malu untuk saling menunjukkan perasaan sayangnya.
"Jjimmhh…."
Memang usil dan menyebalkan. Otak bebal Jimin terlintas ide yang menguntungkan untuknya. Bibir tebalnya mengecupi bahkan menyesap menarik-narik permukaan kukit leher putih mulus yang tepat dihadapannya. Lidahnya tak ingin kalah. Juga giginya, yang menggigit acak merasa gemas kenyal lembut kulit kekasih hatinya ini.
Dikecup. Dijilat. Digigit. Cara makan Min Yoongi versi baru. Ah, tidak juga sih. Jimin juga sudah lama begitu kan. Yoongi sudah meremas surai Jimin sambil terus menahan erangannya.
"Hyung, aku lepas bajumu ya, aku mau-,"
Bugh
Duakh
Tentu saja, kali ini Jimin yang terjatuh dengan manisnya. Kalimatnya terlalu vulgar. Dan wajah Yoongi sukses seperti cherry, "Kau gila!"
Dan setelahnya Yoongi memilih beranjak kemana saja, asal wajah merahnya tidak ketahuan, meninggalkan Jimin yangmasi meringis sakit.
"Padahal aku Cuma mau skin to skin."
.
.
.
.
END
alohaa~
ketemu lagi, hehe maaf ya lama. ya pokonya jangan berharap aku update cepet:'V
aku mentok untuk chapter ini jadi cuma dapet skitar 900 word hehe.
see u soon gaes. love u~
