Cold and Hot
By
FyRraiy
Disclaimer:
Semua karakter tokoh, kata-kata, dan perilaku tokoh di dalam FF tidak bermaksud menjelek-jelekkan tokoh dari segi manapun! FF ini murni dari pemikiran otak saya. Jadi, jika ada kesamaan mungkin hanya sebuah kebetulan saja!
Warning:
Gaje, Aneh, Typo(s), gk nyambung,
Don't Like! Don't Read!
Don't be a Basher!
Sekarang ini musim panas kalau mau tahu. Teriknya matahari tidak kuat lagi di tahan. Yoongi bahkan sudah menyalakan pendingin ruangannya di suhu paling dingin. Berbagai minuman dingin sudah ia coba.
Sejak kecil Yoongi memang tidak pernah suka yang namanya panas. Ia tak akan tahan. Kulit putihnya mudah memerah di suhu yang panas. Lengketnya keringat membuatnya ingin berendam seharian penuh di dalam bak mandinya dengan air dingin, kalau bisa bahkan dimasukkan es balok. Biar sensasinya terasa. Tapi ya, Yoongi masih terlalu waras untuk mencoba hal itu.
Ini hari Sabtu, tentu saja libur. Dan itu pula yang membuatnya jengah. Seharusnya hari libur begini ia bisa berleha-leha tidur sepuasnya. Tapi kalau kenyataannya begini mana bisa ia tidur satu menit pun. Ingin menangis saja. Eh, tapi kan dia lelaki, masa sama panas saja mewek.
Terlebih lagi ini masih jam sebelas siang bung. Masih lama untuk menunggu malam tiba. Meskipun sekarang ia hanya mengenakan kaus putih longgar kebesarannya, dan celana pendek di atas lututnya. Kalian bisa lihat sebutir keringat yang mengalir dari rahangnya terjatuh melalui leher putihnya yang mengkilap akibat bekas keringat.
Coba saja Jimin di sini menyaksikannya. Boom! Pasti terjadi yang tidak-tidak. Jangan berpikiran yang iya-iya. Kan bisa saja hal tidak-tidak itu contohnya seperti Jimin yang dipukuli Yoongi agar mau disuuh mengipasi Yoongi seharian penuh. Bisa jadi.
Sebenarnya sih, kalau kalian melihat ke sisi lain bagian dari rumah keluarga Min. Di dapur lebih tepatnya. Sesosok Park Jimin yang baru saja kita bicarakan benar-benar berada di sana. Tenang, itu sungguhan manusia, bukan makhluk halus yang tampan.
Tanpa permisi dan tanpa mau tahu siapa tuan dari satu bungkus es krim di dalam lemari pendingin itu, seenak jidatnya ia membawa lari benda mati itu dari tempatnya semula. Ke mana lagi kalau bukan ke kamar orang terkasihnya. Min Yoongi, yang di aku-aku pacarnya. Beneran pacaran tapinya sih mereka.
Tak lupa membuka bungkusnya sambil berjalan menuju kamar yang terletak dilantai dua itu. Ia menjilatinya santai sembari berlalu. Membuka kenop pintu tanpa beban.
"Hai, sayang. Kau baik-baik saja? Cuaca hari ini sangat panas,"
Jimin hanya basa-basi. Jelas-jelas ia tahu kalau kekasihnya ini memiliki keinginan untuk menenggelamkan diri di lautan es. Tapi tentu saja, demi anak kelinci peliharaan Kim Taehyung, ia akan memindahkan lautan es ke khatulistiwa dalam sekejap jika Min Yoongi benar-benar menceburkan dirinya.
Tapi alih-alih menjawab pertanyaan Jimin, Yoongi malah merengek merentangkan tangannya meminta es krim yang bekas Jimin jilati itu. "Tapi ini bekasku hyung? Kau mau?"
Yoongi mendecih kecil. "Persetan dengan apa pun itu, cepat berikan Jimin"
Ya, sebagai calon suami idaman yang baik. Jimin tentu saja memberikannya secara cuma-cuma. Kan jarang juga Yoongi mau yang bekas Jimin. Yoongi kan anti Jimin. Loh?
Ia memberikan es krimnya pada Yoongi sembari ikut duduk di atas tempat tidur besar menyandarkan punggungnya pada kepala kasur. Setelah itu tidak ada kegiatan lain yang Jimin lakukan selain memandangi makhluk kelebihan gula di sampingnya. Tenang saja, tidak ditambah dengan pikiran yang tidak-tidak, kok. Hanya saja pikiran yang iya-iya.
Bukan Park Jimin namanya kalau hanya membayangkan. Bukankah lebih menyenangkan jika mempraktekannya langsung.
Jimin menggenggam tangan Yoongi yang sedang menarik turun gagang es krimnya. Ia ikut menjilat sisi lain dari es krim itu. Menariknya turun melebihi yang seharusnya, menjadikan Yoongi menjilat udara, ups! Ralat maksudnya lidah Yoongi menjadi menjilat ujung lidah Jimin karena tak ada lagi penghalang es krim di antara mereka.
Senyum miring terukir di belah bibir menggoda Jimin mengabaikan Yoongi yang terbelalak kaget. Tanpa menunggu detik berganti Jimin langsung saja melancarkan serangannya. Menghisap lidah Yoongi yang masih terjulur di luar.
Ia menghisapnya biasa seperti ia menghisap ujung es krimnya. Tapi masalahnya ini Yoongi yang tidak akan tinggal diam begitu saja seperti es krim yang benda mati itu.
Maunya sih ia akan mendorong Jimin tambah tendang biar mantap. Tapi ya bagaimana bisa kalau nyatanya begini. Kedua tangannya sudah ditahan di kedua sisi kepalanya pada sandaran kasurnya. Well, Jimin memang pintar. Namanya juga maunya, kan beda sama kenyataan. Pikirannya sih menolak mengatas namakan harga diri, toh nyatanya dia terbuai juga dengan permainan lidah Jimin.
Semuanya tahu kalau Jimin pintar dan selalu lima besar. Tapi semuanya lebih tahu kalau Yoongi itu tiga besar. Se cerdik-cerdiknya Jimin, Yoongi pasti menemukan celahnya. Ya, setidaknya sebelum ia pasrah dengan kenyataan kalau ia telanjang bulat utuh di bawah naungan tubuh kekar Jimin. Well, itu masalah lain. Ini siang hari yang panas, dan ia tidak mau kalau tambah panas dengan kegiatan panas.
Jimin memang mengunci kedua tangannya, tapi tidak dengan kakinya bukan. Gampang. Tinggal tendang saja si Jimin kecil kebanggaan Jimin besar. Dan detik berikutnya mari kita lihat pemandangan sesosok Park Jimin yang menggeram kesal sambil berguling kanan-kiri. Hell, jangan lupakan wajah ibanya.
Tawa Yoongi pecah seketika. Ia tidak tanggung-tanggung dalam menertawakannya itu. "Dasar bocah sinting! Jangan main-main denganku." Oh, jangan lupakan es krim yang tadi ia pegang kini sudah berpindah tempat ke kening Jimin. Ia melemparnya sambil tertawa barusan.
.
.
.
.
End dengan maksanya.
