Tittle : Nonna Neomu Yeppeo

Cast :

Oh Sehun

Kim Jongin

Etc Other Cast

Warning : BL, HunKai, typo merajalela, cerita ga jelas, alur berantakan.

Disclaimer : Cast disini milik orangtua, keluarga dan agency mereka, hwa Cuma pinjem nama mereka buat di nistain ajah.

Don't like Don't read

NO SIDER, No Bash.

Jika ga suka sama cerita ini tinggal mengklik close pada computer kalian.

Happy

.

.

Reading XD

.

Hidung mungil Jongin mencium aroma makanan. Bahkan dalam istirahat siangnya ia dapat mengendus-endusnya di dalam mimpi, menciptakan bayangan-bayangan makanan apa saja yang dapat menggambarkan harumnya masakan ini.

Tapi ini bukan mimpi. Jongin tersentak dari istirahat siangnya dan mendapati dirinya berada di atas sofa panjang kesayangannya, Ia berusaha mengingat bagaimana ia berakhir tidur disini, Samar-samar ingatannya kembali seiring berkumpulnya nyawa Jongin yang sempat menjelajah dunia mimpi.

Televisi sudah dalam keadaan mati, padahal Jongin ingat sekali ia tertidur saat menonton sebuah drama percintaan yang membosankan. Lalu keripik yang bertebaran di atas meja telah di singkirkan. Dan saat Jongin hendak beranjak dari sofa menuju kamar mandi, ia melihat tubuhnya telah di selimuti selimut tebal miliknya sendiri. Ia sangat yakin, bahwa ia tidak mengambil selimut ini.

Dan aroma harum ini menyerbu indra penciuman Jongin. Ia yakin ini bukanlah mimpi, ada orang lain yang telah menggunakan dapur miliknya tanpa izinnya dan sialnya lagi ia harus mengakui harum masakan ini menggugah perutnya yang kelaparan.

Ia menyibak selimut tebalnya dan berjalan ke arah dapur. Disana ia memandang punggung Sehun yang sedang asik dengan masakannya.

"Apa yang kau lakukan bocah ?" Jongin mengusap kedua matanya untuk memperjelas penglihatannya.

"Apa kau tidak bisa lihat Noona ?" Ia terkekeh, "Aku sedang memasak untuk tuan putri yang sangat cantik."

"Bocah, kau seenaknya memperlakukan apartemenku seperti rumahmu hah."

Sehun mengabaikannya. Ia terlihat sedang mengangkat rebusan sayur dari dalam panci dan tangan satunya sedang mencicipi bumbu yang sedang ia tumis.

"Hei, kau mendengarkanku ti – " Belum sempat Jongin selesai memarahi Sehun, bocah itu sudah menyumpal mulut Jongin dengan sesendok kecil masakannya.

"Bagaimana rasanya ?" Tanya Sehun dengan tenang,

Jongin mendecakan lidahnya berulang kali, menilai rasa masakan Sehun, "Hm, agak hambar. Tambahkan sedikit garam."

Sehun tersenyum penuh kemenangan, dan Jongin kembali tersadar bahwa ia seharusnya memarahi bocah itu, bukan malah menilai masakannya.

"AaaAaarrRrRggg" Geram Jongin. "Suka-sukamu bocah." Jongin hendak meninggalkan Sehun.

"Noona !"

"Apa?" Jongin berbalik

"Kau sudah terbiasa ku panggil Noona." Ia tertawa.

"Tidak lucu."

"Oh Sehun."

"Apa ?"

"Namaku Oh Sehun. Karena kau selalu menyebutku bocah dan tidak pernah bertanya namaku, maka aku perkenalkan diriku sendiri."

"Aku tidak tanya."

"Kalau begitu ingatlah. Karena siapa tau kau akan melukiskan namaku di hatimu."

"Bocah gila."

Jongin berbalik dan benar-benar meninggalkan anak laki-laki itu. Sehun dapat mendengar suara pintu kamar mandi yang di banting dengan keras.

"Hyung, salahkan dirimu sendiri terlalu cantik." Ia berbisik kepada angin dan tersenyum mengingat setiap guratan kemarahan di wajah orang yang ia sukai.

.

.

#####

.

.

Jongin sudah bersiap-siap akan pergi ke studio pemotretan. Hari ini ia akan di tawari untuk menjadi model pakaian musim panas yang sebentar lagi akan tiba. Jongin tentu dengan senang hati menerima tawaran itu, karena dengan begitu pemasukan keuangannya akan bertambah.

Tapi masalahnya adalah satu. Bagaimana ia bisa mengusir bocah ini dari rumahnya.

"Hei bocah, bukankah seharusnya kau pulang. Ini sudah sore."

"Kau ingin mengusirku kan?"

"Aku hanya mengkhawatirkan orang tuamu yang mencari anak nakalnya yang hilang." Sindir Jongin sambil menyuapkan makanan hasil masakan Sehun ke dalam mulutnya. Lezat juga, pikirnya.

Sehun mengibaskan tangannya,"Kedua orang tuaku di China Noona, aku tinggal bersama seorang Nanny. Dan dia harus cuti karena anaknya sakit. Jadi aku bertugas menjaga diriku sendiri."

"Ah terserah padamu. Aku ingin kau pulang. Aku harus pergi." Jongin mengelap sudut bibirnya dengan serbet yang di sediakan Sehun di atas meja makan.

"Boleh aku ikut?"

Jongin menaikan alisnya, ia sudah menyiapkan jawaban TIDAK untuk menyuarakan protesnya.

"Aku janji Noona, akan bersikap baik."

Masih belum ada keputusan dari Jongin. Ia mengambil tas selempangnya dan menyampirkan di bahunya yang sempit.

"Ayolah Noona, kalau aku pulang ke rumah pun tidak ada siapa-siapa disana. Nanti bagaimana kalau aku di culik."

"TIdak ada yang mau menculik bocah menyebalkan sepertimu." Sahut Jongin cepat.

"Noona neomu yeppeo ~ "

"Baiklah baiklah. Karena kau sudah berbaik hati -walaupun sebenarnya aku tidak memintanya- menyiapkan makan siang untukku kau ku izinkan ikut."

"Kau cantik sekali Noona."

"Dan satu lagi ... "

Sehun menunggu kalimat selanjutnya dari Jongin dengan mata berbinar,

"Jangan panggil aku Noona. Itu memalukan bila di dengar semua orang."

"Baiklah Hyung."

Jongin mendesah, ini pertama kalinya mendengar bocah ini menyebutnya Hyung dengan nada patuh. Seharusnya Jongin senang, bocah nakal ini mendadak patuh padanya. Tapi ia merasa sedikit ganjalan di hatinya. Di lubuk hatinya yang terdalam, ia sudah terbiasa dengan panggilan 'Noona' untukknya. Dan ia suka panggilan itu.

'Apa aku sudah gila?' Jongin membentak dirinya sendiri, sambil mendengarkan Sehun bersenandung.

Noona is so pretty,

Guys won't leave her alone

Her heart's shaking – I know her true feelings ~

.

.

#####

.

.

Mata Sehun tidak berhenti berkedip saat memasuki Distrik Gangnam. Ia memang anak dengan kehidupan bercukupan, hanya saja dunia gemerlap seperti Distrik Gangnam tidak tersentuh olehnya yang statusnya masih seorang pelajar, apalagi ini sudah hampir menjelang malam. Lampu-lampu dari club malam dan hotel serta gedung-gedung berbintang mampu membuat nyalinya menciut dan lebih banyak berdiam diri.

"Tumben sekali kau diam, tidak mengoceh seperti burung beo." Jongin menekan tombol lift berangka sepuluh.

"Apa aku terlihat seperti anak sekolah?"

Jongin mengamati penampilan bocah di hadapannya. Kalau melihat postur tubuhnya, ia cukup tinggi untuk usia 17 tahun. Pakaiannya rapi, mengesankan anak orang kaya walaupun terlalu rapi untuk ukuran anak laki-laki.

Setelah mengamati pakaian penampilan Sehun, Jongin beralih ke wajahnya.

Rambut hitam berantakan yang sangat cocok dengan matanya yang terlihat tajam. Hidung mancung dan bibir yang cukup sexy. Bibirnya tipis tidak seperti bibirnya. Secara fisik, ia sempurna.

"Apa aku tampan?"

"Hah?" Jongin tersadar dari lamunannya.

"Aku tanya apa aku tampan? Karena kau memandangku terus menerus." Ia terkekeh. Cukup menyebalkan untuk meruntuhkan semua image positif yang telah ia rangkai saat menilai Sehun.

Jongin mengabaikannya. Ia tidak ingin ekspresi kesalnya terbawa-bawa saat pemotretan. Karena yang di perlukan seorang model adalah mood yang bagus. Agar setiap lekuk dan gerakan wajah sesuai dengan keinginan si pengatur gaya.

Ting

Pintu lift terbuka dan di sambut dengan kesibukan-kesibukan masing-masing para staf. Ada di antara mereka yang membawa pakaian ganti dengan menggunakan kereta dorong, ada yang membawa lampu besar yang biasa di gunakan untuk foto close up , dan ada beberapa namja serta yeoja yang membawa peralatan merias.

Sehun tetap mengikuti Jongin, melawan arus orang-orang yang berjalan memasuki Lift. Jongin sempat melempar senyum pada seorang yeoja di meja lobi depan. Sehun memandang sebal pada yeoja itu, karena dia sangat cantik dan Jongin melempar senyum manis padanya.

"Siapa dia ?" tanya Sehun sambil menyamakan langkahnya dengan Jongin.

"Namanya Nicole."

"Kenapa kau tersenyum padanya ? Padaku saja tidak pernah." Ucap Sehun dengan nada protes.

Jongin tidak sempat menjawab pertanyaan kekanak-kanakan Sehun, karena di saat yang bersamaan seorang namja tampan menghampiri Jongin dan mencium kedua belah pipinya.

"AAAA!" Sehun berteriak histeris, hingga Jongin dan namja itu terpaksa melepaskan tautan pipi mereka.

"Ada apa sebenarnya dengan dirimu hah, bocah!?"

"Kakiku terinjak noo- eh Hyung." Sehun mengelus sebelah kakinya yang sebenarnya tidak sakit.

Namja itu tersenyum ramah pada Sehun, memperlihatkan deretan gigi cemerlang di sela bibirnya.

"Siapa dia, Kai ?"

"Kai ? Siapa yang kau sebut Kai, Tuan..."

"Park Chanyeol, panggil aku Chanyeol."

"Siapa yang kau sebut Kai, Tuan Chanyeol."

"Lupakan dia Chan." Jongin menarik lengan namja bernama Chanyeol tersebut. "Apa konsep kali ini?" Jongin bertanya tanpa basa basi, dan Chanyeol yang paham betul sifat Jongin langsung menjelaskan apa saja yang harus di lakukan Jongin dan mendiskusikan beberapa hal tentang pose yang cocok untuknya.

"Kau cari Taemin, dia yang akan mengurus keperluan mu hari ini."

"Kau mau pergi ? Kelihatan rapi sekali." Jongin memperhatikan penampilan Chanyeol yang terlihat resmi dengan tuxedo beserta dasi kupu-kupu yang terlihat miring.

"Aku ada pertemuan dengan keluarga, kau tau. Masalah yang tempo hari aku ceritakan padamu."

Jongin mengangguk mengerti,

Chanyeol sudah hampir beranjak pergi sebelum akhirnya Jongin menahan lengannya, "Kau ini bagaimana ? Masa kau akan kepertemuan penting dengan dasi miring seperti ini."

Chanyeol tersipu malu saat Jongin bergerak menuju lehernya dan membenarkan dasi kupu-kupunya.

"Ehem Ehem ~" Sehun berdehem,

Jongin dan Chanyeol menjadi salah tingkah. Sehun melipat tangannya di depan dada sambil menatap Jongin dan Chanyeol bergantian.

Sehun merasa kesal di abaikan oleh Jongin. Bukankah daritadi dia yang mengkhawatirkan Sehun bila berkeliaran dan berbuat onar. Sekarang kenapa Jongin yang mengabaikannya dan bermesraan dengan Chanyeol ?

"Aku pergi Kai, kau akan di tangani oleh Minho. Dia sudah menunggumu di studio."

Jongin mengedipkan matanya dan mengawasi punggung Chanyeol yang telah menjauh dan menghilang di balik pintu ganda lift.

"Kau ini kenapa sebenarnya ? Senang sekali menggangu apa yang aku lakukan."

"Kenapa kau bermesraan dengannya?"

"Aku tidak sedang bermesraan, aku memperbaiki dasinya. Kau punya mata bukan untuk melihat."

"Tapi kau tersipu."

"Tidak. Itu hanya perasaanmu." Jongin menghentakan kakinya, ia marah dan kesal. Ia sedang mengingat dosa apa yang di lakukan sehingga Tuhan mengirimkan setan kecil ini untuk menghancurkan hidupnya.

"Noona ~"

"Jangan panggil aku seperti itu disini !" Jongin mendesis pelan tapi mengerikan.

Jongin sudah berhenti di depan studio yang di pisahkan oleh pintu kaca yang besar. Sebelum masuk ia menoleh pada Sehun yang berdiri di sampingnya.

"Kau jangan berbuat masalah. Ingat, kau berbuat onar akan aku kirim kau ke kantor polisi." Ancam Jongin sambil menunjuk dahi Sehun hingga ia terpaksa mundur kebelakang beberapa langkah.

Jongin mendengar Sehun berdengung, yang di anggap Jongin sebagai jawaban YA.

.

.

#####

.

.

"Siapa dia Kai ?" Taemin menunjuk menggunakan dagunya ke arah Sehun yang sedang duduk memeluk tas selempang Jongin.

"Sehun. Anak tetangga." Jawab Jongin acuh sambil memperhatikan eye linernya yang baru saja selesai di pakaikan oleh Taemin.

"Aku baru tahu kau bekerja sebagai Babysitter." Taemin tertawa. Tawa manis yang menyenangkan. "Eits, jangan kau sentuh bagian itu, belum kering." Taemin menepuk jari Jongin yang sedang menusuk-nusuk bagian matanya yang baru saja di beri eye liner.

"Hah, terserah kau Taemin. Semenjak bersamanya aku merasa lebih tua sepuluh tahun dari usiaku sebenarnya." Ucap Jongin pasrah dan terlihat letih.

"Kau berlebihan. Kau masih sama cantik dan mudanya. Pantas saja bocah itu menyukaimu."

Jongin tersedak.

"Menyukaiku ? kau tidak berpikir ada sesuatu antara aku dan dia bukan? Dia bocah Tae, bocah 17 tahun." Jongin histeris mendelik menatap mata Taemin.

"Hanya berbeda enam tahun, Kai. Kau berlebihan."

Taemin merapikan pakaian Jongin dan memindahkan sedikit poni coklat yang menutupi mata sensual Jongin.

"Kau sudah siap. Nanti kita bicarakan lagi sesudah kau bekerja." Taemin mengedip nakal pada Jongin yang mulai memasuki dunia penuh cahaya-cahaya menyilaukan.

Sedangkan Taemin lebih memilih melangkahkan kakinya ke arah Sehun yang menurut penglihatannya tidak memindahkan mata dari Jongin sedetik pun.

Taemin duduk bersebelahan dengan Sehun. Matanya mengikuti ke arah tatapan Sehun. Ia sedang menatap Jongin yang memamerkan pakaian musim panas yang yang non formal. Celana pendek bewarna pastel di padukan dengan kaos longgar yang menempel di tubuhnya.

Cantik dan cantik. Sepertinya satu kata 'cantik' tidak bisa melukiskan ungkapan Sehun untuk orang yang ia sukai.

Sekali-kali pria berkemeja hitam dengan rambut panjang berantakan menyentuh tubuh Jongin dan mengatur lekuk tubuhnya. Sehun berjenggit setiap kali melihat namja itu menyentuh Jongin. Tangannya menggengam erat tas selempang milik Jongin.

Taemin yang melihatnya tersenyum geli. Bila tidak mengingat sopan santun, tentu Taemin akan tertawa terbahak-bahak melihat kepolosan bocah di sampingnya.

"Siapa nama Tuan itu Hyung." Sehun masih menatap namja berambut panjang itu yang saat ini sedang menurunkan sedikit kerah leher Jongin agar menampakan tulang selangkanya yang di sengaja lebih terbuka di bagian sebelah kiri. Tidak sedikitpun ia melihat ke arah Taemin atau sekedar berbasa basi untuk menayakan siapa sebenarnya Taemin.

"Choi Minho. Ia photografer Kai."

"Minho... Hmm." Komentar yang tidak jelas bagi Taemin. "Lalu siapa tuan yang punya senyuman bersinar itu?"

Taemin tertawa mendengar julukan Sehun untuk Chanyeol, dan anehnya ucapannya bocah itu memang benar."Maksudmu Chanyeol ?"

Sehun mengangguk.

"Chanyeol juga photografer Kai, karena ia ada keperluan maka di gantikan Minho."

"Dia tampan sekali." Ucap Sehun dengan bibir melengkung.

"Siapa?"

"Itu." Sehun menunjuk ke arah namja pemilik nama Minho.

"Kau cemburu ?"

Sekali lagi Sehun mengangguk.

"Kalau begitu, kau mau ku bantu menarik perhatian Kai ?"

Sehun memutar kepalanya cepat, hingga Taemin merasa kepalanya akan terpelintir dengan gerakan tiba-tibanya itu.

"Benarkah Hyung ?"

"Tentu saja. Cuma kau harus mematuhi semua perintahku, tidak boleh membantah. Bagaimana ?"

"Terima kasih Hyung." Sehun berbinar, dan Taemin melihat kesungguhan di mata coklat itu. "Hm, maaf Hyung aku belum tau namamu." Ucap Sehun malu-malu.

"Lee Taemin. Panggil aku Tae, aku merasa terlalu tua kalau kau panggil Hyung."

"Aku Oh Sehun," Ia tertawa juga

Taemin mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh Sehun dengan semangat.

.

.

#####

.

.

"Kai, matamu lihat kesini." Minho memberikan arah kepada Jongin yang sepertinya kehilangan kosentrasi.

Jongin mengalihkan pandangan matanya lagi ke arah kamera. Kali ini tidak tersenyum, karena ia ingin menampilkan kesan misterius.

"Oke break, Kai." Minho membuat tangannya seperti huruf T. "Perhatianmu pecah, ada apa sebenarnya?"

Jongin yang sudah bebas menggerakan bola matanya menatap tajam ke arah Taemin dan Sehun yang tiba-tiba berubah menjadi akrab.

"Tidak ada, mungkin aku lelah."

"15 menit istirahat dan kita akan ambil gambar lagi." Minho mengeraskan suaranya agar seluruh staff yang terlibat dalam proses pemotretan ini dapat menghentikan aktivitasnya.

Jongin mengambil tissue yang di berikan seorang staff. Tapi matanya masih memicing tajam ke arah dua orang itu. Ia merasa kesal, moodnya berubah menjadi jelek. Kenapa Taemin yang baru mengenal bocah itu dapat tertawa bersama seperti itu. Seperti sudah mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama. Jongin merasa kalah dari Taemin karena tidak dapat mengontrol kenakalan bocah itu.

'Mencurigakan.' Pikir Jongin.

.

.

.

TBC OR END (?)