Tittle : Nonna Neomu Yeppeo

Cast :

Oh Sehun

Kim Jongin

Etc Other Cast

Warning : BL, HunKai, typo merajalela, cerita ga jelas, alur berantakan.

Disclaimer : Cast disini milik orangtua, keluarga dan agency mereka, hwa Cuma pinjem nama mereka buat di nistain ajah.

Don't like Don't read

NO SIDER, No Bash.

Jika ga suka sama cerita ini tinggal mengklik close pada computer kalian.

Happy

.

.

Reading XD

.

Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, yang artinya Jongin memiliki tanggung jawab untuk memulangkan Sehun ke rumah. Besok ia harus sekolah, dan studio ini bukanlah tempat untuk di singgahi bocah berumur 17 tahun.

Tapi bagaimana caranya ? Ia masih harus menjalani sekali sesi pemotretan lagi, dan biasanya bisa menghabiskan waktu 2 - 4 jam. Tergantung kepuasan Minho sebagai photografernya kali ini. Dan bila itu terjadi maka artinya akan selesai sekitar tengah malam. Jongin sudah dewasa tentu tidak akan masalah bila ia berkeliaran di jalan dan menikmati dunia malam di Distrik Gangnam, tapi Sehun ?

Kesalahan besar mengajaknya dari awal, seharusnya Jongin tahu itu.

Kebetulan saat itu ia melihat Taekwon, namja tampan salah satu staff disitu yang shiftnya telah habis meminta izin pulang kepada Minho.

Minho mengangguk dan tampaknya mengucapkan beberapa kalimat yang tidak bisa di tangkap Jongin. Taekwon sepertinya terlihat kebingungan ketika menghadapi Minho. Sekali-kali mata mereka berdua melirik Jongin dengan tampang serius.

'Ada apa itu ?' Jongin memutuskan mencari jawaban dari pertanyaan dan kejanggalan yang di berikan oleh ekspresi Minho yang dingin.

"Ada apa Minho ?" Ucap Jongin sambil menatap layar monitor yang menampilkan slide foto yang telah di ambil sebelumnya. Seperti biasa selalu terlihat sempurna, Jongin yakin klien mereka akan senang kali ini.

Minho mendesah, ia sepertinya sedang kesal. Bukan kesal pada Jongin ataupun Taekwon.

"Klien kita tiba-tiba meminta foto yang berpasangan, ia ingin menampilkan pakaian musim panas untuk sepasang kekasih."

Jongin tersenyum, rupanya itu masalahnya. "Kau bisa memanggil Kris Wu. Bukannya kau selalu memasangkan aku dengan dirinya."

"Tidak bisa Tuan, tuan Wu sedang mengikuti casting film di lantai 5." Taekwon ikut menyuarakan kegelisahan Minho.

"Kalau begitu, tunggu dia selesai."

"Foto-fotomu ini harus selesai tengah malam Kai. Besok akan menjadi edisi pertama untuk majalah musim panas." Minho terdengar kesal sekaligus geram.

Oke. Sekarang Minho berhasil menyeret Jongin kedalam kekhawatiran mereka.

Minho melambaikan tangannya -dengan gaya mengusir nyamuk- kepada Taekwon, menandakan ia di perbolehkan pulang.

"Tunggu Taekwon !" Seru Jongin, namja itu berbalik dan menatap Jongin dengan matanya yang tipis.

"Iya Tuan Kim."

"Bisa kau antar Sehun pulang ke rumahnya?"

Taekwon menggaruk kepalanya kebingungan. Ia tidak kenal orang bernama Sehun.

"Huh, itu kau lihat yang sedang bersama Taemin ? Nah kau antar dia pulang. Bocah itu tidak seharusnya disini. "

Jongin menunjuk ke arah Sehun dan Taemin yang sedang mencoba beberapa pakaian musim panas.

Rupanya Minho yang sedang frustasi ikut melihat ke arah telunjuk Jongin. Ia menatap ke arah Sehun dan Taemin begitu lama. Kedua alisnya bertaut dan keningnya berlipat-lipat, membuat Minho terlihat tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Mata besarnya menyipit, supaya bisa melihat jelas ke arah objek pupilnya.

"Ini uang taksi, kau antar dia ke rumahnya. Kalau ia tidak mau ,kau antar ke apartemenku." Jongin menyerahkan beberapa lembar uang won pada Taekwon, "Uang kembaliannya kau ambil saja,"

Taekwon sudah berjalan menuju arah bocah yang bernama Sehun, sambil mengantongi lembaran won yang cukup banyak.

"Tunggu !" Teriak Minho, "Suruh anak itu kemari." Perintah Minho. Ia menjentikan jemarinya. Matanya memancarkan gairah seorang photografer.

Kepala Jongin berputar cepat ke arah Minho.

"Mau apa kau dengan bocah itu ?"

"Dia bisa menjadi penyelamat."

"Penyelamat ?" Jongin kebingungan, tapi melihat senyum Minho yang merekah Jongin tau maksud dari ucapannya. "Tidak, Minho. Tidaakkk. Kau tidak tau apa saja masalah yang ia bisa timbulkan."

Minho tidak peduli, saat Taekwon datang membawa Sehun di sertai Taemin yang mengikuti dari belakang.

Taekwon yang tidak mau terlibat lagi lebih lama disitu, memilih langsung menghilang dari pandangan mereka semua. Kini tinggal Jongin yang memasang wajah masam, Minho yang mengamati Sehun dari kaki hingga kepalanya, dan Taemin yang mengawasi setiap tingkah Minho. Si namja mungil itu tau, ada rencana cemerlang yang tersimpan di balik otaknya yang kecil itu.

Taemin sudah bekerja terlalu lama buat Minho, dan ia paham betul bagaimana cara kerja dan sifat Minho. Prinsip yang selalu di pegangnya adalah, 'Semua Orang Bisa Menjadi Model, Hanya Perlu Sentuhan Tangan Ajaib Untuk Memolesnya' dan berdasarkan pengamatan matanya yang hitam. Ia tahu Minho merencanakan 'sentuhan ajaib' nya ke Sehun.

"Tidak Minho, dia bocah berumur 17 tahun. Belum berpengalaman sama sekali." Protes Jongin.

"Kai, kau ingat berapa umurmu saat di rekrut oleh Chanyeol untuk menjadi modelnya?"

Tidak mungkin ia lupa, umurnya 14 tahun saat Chanyeol menawarinya ikut casting menjadi sebuah produk komestik remaja. Dan ia lolos, dan pasangannya saat itu adalah Xi Luhan. Namja berkulit putih yang sangat tampan.

"Oke, Aku tidak mau mendengar keluhan lagi. Bekerja sama lah Kai."

Jongin tidak protes, ia tidak ingin mengacaukan pekerjaannya kali ini.

"Tae, kau urus bocah ini, -Siapa namamu?"

"Oh Sehun, Tuan."

"Nah, urus dia Tae. Tolong kau hilangkan kesan anak-anak darinya."

Taemin mengedipkan sebelah matanya pada Minho, ia mendorong punggung Sehun ke arah kamar ganti dan ruang make up. Sambil melewati Jongin, Taemin tersenyum dan berbisik nakal di telinganya.

"Kai, saksikan keajaiban tanganku."

Jongin membelalakan matanya, seringai Taemin begitu jahat, ia merinding melihatnya. Baru beberapa jam saja bergaul dengan Sehun, namja manis sahabatnya itu berubah menjadi menyebalkan.

Sedangkan Sehun, hanya memberikan senyuman lebar pada Jongin. Ia menggerakan bibirnya, mengucapkan sesuatu yang tidak di dengar oleh Taemin atau Minho.

Tapi Jongin tau apa yang ia ucapkan.

"Kau cantik, Noona."

.

.

#####

.

.

Minho uring-uringan di dalam studio. Sudah hampir satu jam Sehun masuk ke ruang make up dan belum menampakan batang hidungnya dari balik pintuk kayu bewarna gading itu.

"Kau !" Bentaknya pada seorang staff yang sedang memperbaiki letak lampu untuk sesi pemotretan berikutnya, "Panggil Taemin kesini, seret juga bocah itu."

Jongin melenggang melewati staff yang baru saja di marahi oleh Minho, dengan wajah angkuhnya Jongin mencela keputusan Minho.

"Sudah ku ingatkan dia pembawa masalah."

Minho mengeram pada Jongin, yang di balas acuh olehnya. Bila itu bukan Jongin, wajah minho itu sudah bisa menakuti separuh staff yang ada.

Staff yang di marahi oleh Minho tadi berlari tergesa-gesa.

"Dimana mereka ?"

"Mereka sudah siap Tuan, Tuan Taemin menyampaikan 'sentuhan akhirnya sudah hampir selesai' "

Minho manggut-manggut tanda mengerti, tapi berita itu belum bisa menghilangkan ekspresi gelisah dan marah di wajahnya. Ia belum tenang sampai melihat 'pasangan' Jongin hadir di depan batang hidungnya.

Setelah beberapa detik Minho bergulat dengan kegelisahan, dan Jongin yang sudah menghabiskan satu botol air mineral menatap sosok namja paling manis yang ada di salam studio ini.

Ia langsung menghampiri Minho yang di ikuti oleh Jongin.

"Dimana dia?" Ucap Minho dan Jongin bersamaan tapi dengan nada yang berbeda.

Taemin geli, "Aku mengerti bila Minho mencari Sehun, tapi Kau- " Taemin menatap Jongin, "bukannya kau tidak peduli padanya." Ucap Taemin menggoda.

"Tae, sudah. Dimana model-ku?"

"Ehm ehem ~" Taemin pura-pura batuk, untuk menegaskan efek penasaran dari dua namja yang sebenarnya memiliki sifat yang hampir sama persis.

Tae berlari menghampiri pintu, ia mengetuk tiga kali, "Sehun, kau sudah siap?"

"Siap." Suara di balik pintu menjawab,

Jongin menanti dengan perasaan tidak menentu. Ia harus akui ada perasaan aneh saat melihat Taemin begitu bahagia saat menyebut nama Sehun.

Sedangkan Minho sudah tidak sabaran, berulang kali kaki kanannya mengentuk-ngetuk lantai keramik karena hal sepele seperti ini.

Kriet

Pintu di buka dari dalam. Dan keluarlah sosok yang menjadi sumber kegelisahan Minho.

Jongin tercekat, suaranya tidak mampu keluar untuk berkomentar. Minho menatap objeknya dengan mata berbinar, beribu ide untuk pose Sehun dan Jongin berkelebat di benaknya. Ia bisa memotret mereka semalaman, bila ia mau.

"Bagaimana ? Kau suka kan 'sentuhan' ku?" Bisik Taemin di telinga Jongin yang masih tercengang melihat Sehun.

"Aku rasa, jantungku berhenti." Jongin memegang jantungnya, ingin merasakan nyawanya masih bersamanya.

Dan ini bukanlah ilusi atau bayangan, karena di depannya memang berdiri Sehun yang beberapa jam belakangan ini mengusik hidupnya.

.

.

.

TBC OR END (?)