Tittle : Nonna Neomu Yeppeo
Cast :
Oh Sehun
Kim Jongin
Etc Other Cast
Warning : BL, HunKai, typo merajalela, cerita ga jelas, alur berantakan.
Disclaimer : Cast disini milik orangtua, keluarga dan agency mereka, hwa Cuma pinjem nama mereka buat di nistain ajah.
Don't like Don't read
NO SIDER, No Bash.
Jika ga suka sama cerita ini tinggal mengklik close pada computer kalian.
Happy
.
.
Reading XD
.
Taemin mencairkan suasana yang telah di bekukan oleh kehadiran Sehun, bocah 17 tahun yang seharian ini telah membuat Jongin kelabakan menghadapi sikapnya yang terlalu aktif. Wajar sebenarnya anak seusia Sehun lebih aktif, hanya saja bagi Jongin itu terlalu menganggu.
"Nah Sehun, kau berdiri disana." Taemin menuntun Sehun agar masuk ke dalam 'wilayah' yang di penuhi cahaya lampu blizt. Ada sebuah kursi kayu kurus yang berdiri tepat di tengah-tengah, dengan di latarbelakang warna biru langit. Hampir senada dengan pakaian musim panas yang di kenakan Sehun.
Jongin hanya menatap lemah pada Sehun, ia masih terpaku berdiri di tempatnya tanpa sekalipun bergerak. Matanya hanya tertuju pada bocah itu. Apa Jongin akan terus menyebutnya bocah bila melihat keajaiban sedikit make up dan pakaian mahal ?
Sehun mengenakan pakaian musim panas dengan tema formal. Ia memakai baju kemeja biru muda bergaris-garis putih kecil vertikal yang menjiplak bahunya yang bidang. Otot dadanya yang masih belum terbentuk sempurna pun ikut menyempurnakan penampilannya. Baju kemeja yang berlengan pendek memperlihatkan sedikit otot bisepnya yang akan menggembung saat ia menggengam telapak tangannya erat.
Dan Jongin meneguk ludahnya berkali-kali melihat tubuh Sehun yang hampir matang.
Rambut hitamnya yang biasa di sisir kesebelah kiri telah di rapikan dan di bentuk agak dapat sempurna menutupi dahinya. Rahang tegas Sehun di tonjolkan lagi oleh Taemin. Taemin memang menghilangkan kesan anak-anak darinya. Dan ia sukses dengan gemilang.
Celana kain bewarna pastel juga membalut tungkainya yang panjang. Walaupun ia sedikit lebih pendek dari Jongin, tapi ia memiliki tinggi di atas rata-rata anak sebayanya. Setiap langkah kaki yang bergema di lantai keramik, ikut menyuarakan detak jantung Jongin.
"Koreksi bila aku salah, tapi beberapa saat yang lalu sepertinya ada seseorang yang mengatakan padaku bahwa Sehun adalah bocah.". Taemin menyindir Jongin.
Jongin tidak sadar sejak kapan Taemin telah duduk di sampingnya. Ia telah menarik sebuah kursi tanpa lengan hingga tepat berada di sebelah Jongin.
"Ia tetap terlihat seperti bocah di hadapanku."
Taemin berdecak, sifat keras kepala Jongin sama persis dengan Minho. ia mengalihkan pandangannya dan mulai memperhatikan saat Minho mengatur gaya Sehun agar duduk di kursi kayu sambil menyilangkan kakinya. Sehun yang masih terlihat gugup menegapkan tubuhnya kaku.
"Topang dahimu seperti ini." Minho menunjukan caranya dan di ikuti oleh Sehun.
"Lemaskan dan rileks." Perintah Minho lagi.
"Palingkan sedikit wajahmu dan angkat sedikit kepalamu. Ya sedikit lagi -dan pas. Bagus. Kau berbakat bocah." Seru Minho bahagia
Siluet Sehun yang sedang menopang dahinya dengan siku yang di tanam di atas pahanya membuat darah Jongin berdesir. Setiap kali lampu blitz menyala, Sehun dengan cepat mengganti gerakannya. Kadang ia menggigit bibir bawahnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Ada juga ketika ia sengaja tidak melihat ke arah kamera dan mempertontonkan lekuk tegas rahangnya dari samping. Matanya yang coklat menatap tajam ke arah kamera, dan Jongin berpikir bahwa tatapan Sehun menembus kedua matanya yang sipit. Mencari celah untuk menelanjangi isi pikiran dan hati Jongin. Lalu ia tersenyum simpul dan kembali bergaya untuk Minho.
Setelah pose dengan gaya dingin tanpa expresi, sekarang Sehun berpose untuk pengambilan gambar dengan ceria. Ia di wajibkan tersenyum setiap kali lampu blizt menyala.
Kali ini seorang staff menyerahkan kacamata berbingkai hitam kepadanya. Lalu ia di sodori sebuah buku yang tebalnya hampir sama persis dengan buku fisika quantum miliknya. Membuat ia meringis sedikit.
"Buka buku itu seperti ini-" Minho menunjukan caranya, "Lalu kau taruh di hadapan wajahmu, -jangan menutupi seluruh wajah, turunkan sedikit, sedikit lagi dan pas. Pertahankan posisi itu. Pasang wajah bahagia, seolah-olah kau memandang kekasihmu di dalam buku itu."
Saat Minho menyebutkan kata 'kekasih', mata Sehun beralih menatap lurus pada Jongin untuk sejenak. Setelah sekian detik baru ia mulai menghayati perannya sebagai penikmat buku. Dan ia tersenyum bahagia, senyum paling alami dan menawan yang bisa di miliki bocah nakal sepertinya.
Jongin lagi-lagi tercekat. Ia menahan nafasnya beberapa saat ketika melihat barisan gigi putih yang rapi di balik senyumnya itu. Tangannya yang daritadi berada di atas pahanya mencengkram lengan Taemin ketika melihat bocah sial itu tersenyum. Senyum nakalnya terlihat menawan dalam kondisi seperti ini.
"Dia Hot !" Bisik Taemin lalu di ikuti kekehannya
Jongin bangkit,
"Mau kemana ?"
"Berganti pakaian."
"Aku perlu ikut ?" Tawar Taemin.
Biasanya Jongin selalu tidak keberatan di temani Taemin untuk berganti pakaian, tapi kali ini berbeda. Ia ingin menenangkan hatinya yang sempat tidak menentu saat melihat Sehun.
Melihatnya dari jarak beberapa kaki saja sudah mampu membuat darah Jongin berdesir, apalagi bila mereka berpose sebagai sepasang kekasih.
"Tidak, aku bisa sendiri."
Taemin mengendikan bahunya,"Kalau begitu kostummu ada di rak sebelah kiri, jangan salah. Sebelah kiri."
Jongin mengangguk mengerti. Setiap langkah yang ia ambil, menentukan perasahaan hati yang sebenarnya. Dan jantung Jongin kembali berdetak.
.
.
#####
.
.
Seluruh staff bertepuk tangan riang saat menyelesaikan sesi pemotretan Sehun. Berkat bocah itu, mereka tidak akan kena imbas kemarahan Minho yang bisa meledak kapan saja.
"Tae, dimana Kai ?" Minho setengah berteriak saat Taemin sedang membenahkan penampilan Sehun. Ia menyerahkan pakaian yang harus di kenakan Sehun.
Sebelum Taemin sempat beranjak dari depan wajahnya, Sehun bertanya pelan pada sahabat barunya yang manis.
"Bagaimana penampilanku ?" Ia bertanya malu-malu.
"Luar biasa- " Taemin menepuk pipi Sehun berulang kali, menyatakan bangga padanya."Bahkan Kai -maksudku Jongin- menahan nafas melihatmu." Ia tersenyum lebar, bahkan terlalu lebar untuk wajahnya yang mungil.
"Taemiinnn !" Panggil Minho tidak sabaran,
Taemin menyerahkan pakaian selanjutnya, "Kenakan ini dan biarkan rambutmu berantakan seperti itu. Jangan dirapikan, oke?"
Sebelum Sehun menjawab 'oke' Taemin sudah menghambur ke arah Minho.
Tinggal Sehun, memeluk pakaiannya dan menuju kamar ganti. Ia menyentuh handle pintu dan menariknya keluar. Ternyata dari dalam ruangan itu Jongin sudah bersiap hendak keluar. Mata mereka saling bertemu dan di saat bersamaan seperti ada hembusan angin dingin yang membekukan mereka.
Jongin menikmati wajah tampan Sehun yang sudah di poles make up, dan keringat yang sedikit mengalir di pelipisnya menimbulkan sensasi aneh di hati Jongin. Kesan maskulin di padukan wajahnya yang masih begitu belia.
Sedangkan Sehun, ia juga tidak dapat membuka mulutnya untuk berkomentar. Biasanya ia selalu tidak dapat berhenti bicara dan mengoceh, terutama untuk menggoda namja yang ia sukai. Namja cantik yang ia temui di kereta api, dua hari yang lalu. Sehun harus mensyukuri saat itu, ketika ia melihat kebaikan hati Jongin yang memberikan tempat duduknya untuk seorang Noona yang terlihat lelah padahal Sehun melihat wajah Jongin sama lelahnya dengan Noona tersebut. Dan saat itulah ia memutuskan untuk menyerahkan hatinya pada Jongin.
Jongin mengenakan kaos kebesaran hingga sebatas paha. Kerah lehernya tidak berhasil menutup kulitnya yang tan mulus nya dan tulang selangka yang terbentuk jelas. Kulit kaki Jongin yang mulus pun menarik perhatian Sehun, karena Jongin tidak mengenakan celana kali ini. Ia hanya mengandalkan kaos besar itu untuk menutupi sebagian tubuhnya yang berharga.
Jongin salah tingkah, ia berusaha menyingkir dari jalan Sehun. Dan Sehun melakukan hal yang sama sehingga mereka -untuk beberapa kali- saling menghalangi jalan masing-masing.
"Silahkan Noona~" Akhirnya Sehun mengalah dan terpaksa membiarkan makhluk indah itu melewatinya. Senyum terus saja mnyertai wajahnya yang lelah.
"Eum, terima kasih." Jongin canggung, aneh memang. Dia merasa kembali menjadi seorang remaja yang malu-malu saat bertemu orang yang ia sukai. Bahkan bocah di depannya ini bisa terlihat lebih tenang.
Sebelum Jongin menghilang dari balik pintu gading itu, Sehun menggengam pergelangan tangan Jongin.
Darah Jongin berdesir dan denyut nadinya berdenyut lebih kencang.
Sehun menarik Jongin agar menjauhi pintu dan masuk ke dalam ruangan ganti itu. Jongin menurut, otak kecilnya tidak dapat berpikir lagi dengan sehat.
"Noona, ini memang bukan saat yang tepat. Tapi aku ingin mengatakan aku menyukaimu."
Jongin diam, ia tidak sanggup memandang Sehun yang berdiri di depannya.
Sehun melanjutkan, "Kau mungkin terganggu dengan usiaku yang masih muda. Aku tahu dari cara kau memandangku. Dan aku pikir aku akan menyerah saat kau terus mengacuhkanku."
"Jadi kenapa kau tetap menggangguku ?"
"Karena aku gila memikirkanmu."
"Kau tetap anak kecil, dan itu tidak akan mengubah cara pandangku." Tidak pernah sekalipun Jongin berniat berkata sekasar itu pada Sehun, tapi entah kenapa kalimat itu terucap begitu saja.
Jongin memilih pergi daripada terlibat percakapan tentang perasaan bocah yang menyukainya. Ia sulit menerima ini semua. Usia mereka terlalu jauh, tidak akan ada jalan untuk bisa menyatukan dua isi kepala yang sangat berbeda jauh cara pikirnya.
Sehun menyentak pergelangan tangan Jongin hingga namja cantik itu berbalik dan langsung di sambut kecupan di bibirnya. Jongin membelalak, kaget, bingung, dan syok menggambarkan raut wajahnya saat itu.
Sehun menikmati ciuman kecil itu, matanya terpejam seolah-olah ia siap menerima apapun yang akan di lakukan Jongin padanya karena telah berbuat lancang padanya.
Plak ~
Air mata menggenang di wajah Jongin, begitu pula Sehun.
"Berani sekali Kau –"
"Aku janji Noona, setelah malam ini aku akan pergi dari hadapanmu."
"Bagus kalau kau mengerti, kenapa tidak sekarang kau pergi?"
"Karena aku ingin membantu Tuan Choi."
Jongin berpaling dari Sehun dan membanting pintu yang sudah setengah terbuka itu. Ia bersandar pada pintu sambil memegang erat dadanya, terasa sakit disana. Tangannya yang menyentuh pipi Sehun bergetar, air mata menitik membasahi telapak tangan Jongin.
Tangannya yang lentik menjalar ke bibir tipisnya.
"Apakah aku benar menginginkannnya pergi ?"
.
.
#####
.
.
"Kalian berdiri saling berhadapan. Yup seperti itu –" lagi-lagi Minho menikmati dirinya mengatur pose untuk 'pasangan' baru miliknya, dan ia tersenyum puas. Hanya saja masalah yang membelenggunya adalah Kai dan Sehun terlihat kikuk antara satu sama lain.
Untuk mengimbangi Kai, Sehun mengenakan celana kain panjang bewarna hitam dengan tali pinggang kulit. Bagian atas, Sehun hanya mengenakan singlet yang memperlihatkan otot tangannya dan bahu bidangnya. Rambut berantakan menambah kesan sexy yang membingkai wajah tegasnya.
Bukan hanya Minho yang menyadari perubahan atsmofer di antara Kai dan Sehun. Taemin pun menyadari hal tersebut. Nalurinya yang lebih tajam mengatakan telah terjadi sesuatu di antara mereka, dan itu bukanlah hal yang baik apalagi yang romantis.
"Kai, letakan tanganmu di pundak Sehun, dan genggam kaosnya - oke. Dan Kau Sehun lingkarkan tanganmu di pinggang Kai."
"Mwo ? Tapi tuan –" Sehun kaget dan memandang Minho dan Taemin bergantian. Taemin memasang wajah 'aku tidak bisa menolong' ke arah Sehun.
"Apa maksudmu Minho ? Apa perlu dia memelukku?" Jongin menjauhkan dirinya dari Sehun. Ia tahu Sehun menatapnya. Sedihkah dia ? Pikir Jongin.
"Ck, tidak ada waktu untuk protes Kai. Dan Sehun, ayo lakukan seperti yang aku suruh."
Jongin kembali 'bekerja' dan mengatur posisi awal mereka.
Sehun berusaha menatap mata Jongin, mencari tahu apakah namja cantik ini benar-benar tidak menginginkannya.
"Maafkan aku, Noona." Bisik Sehun, Lalu ia pun melingkarkan lengannya di pinggang Jongin.
Jongin bersikap profesional. Walaupun dadanya berdegup tidak karuan, tapi ia tetap menjalani sesi ini sampai selesai. 'Ini hanya sebentar Kai.' Pikirnya. Setidaknya pikiran-pikiran seperti itu bisa membuatnya tetap terlihat tenang di depan bocah ini.
Selagi lampu blizt saling berlomba untuk menyilaukan sepasang 'kekasih' ini, Jongin bicara pada Sehun dengan gigi yang tertutup rapat, hanya bibirnya yang bergerak sedikit.
"Sudah berapa kali aku peringatkan –" Jongin kembali tersenyum di hadapan kamera "-jangan memanggilku Noona disini."
"Rapatkan lagi tubuh kalian," perintah Minho
Sehun mengeratkan pelukan di pinggang Jongin hingga jarak di antar wajah mereka tinggal beberapa centi. Nafas Jongin dapat di rasakan di wajah tampan Sehun.
Posisi mereka berubah. Sehun membelakangi kamera dan Jongin tetap pada posisi yang merapat pada Sehun.
"Aku ingin tampilkan kesan sexy Kai."
Jongin mendesah, ia tidak pernah masalah bila harus tampil dengan sexy dengan Kris -pasangannya selama ini- tapi berpose sexy bersama Sehun, Jongin rasanya enggan. Ia malu bila Sehun mengetahui Jongin terlalu berani mengumbarkan keseksian dirinya.
Aneh bukan ? Jongin peduli apa yang akan di pikirkan Sehun, padahal ia sudah bertekad tidak akan memberi kesempatan bagi Sehun untuk masuk di celah hatinya.
Pertanyaannya adalah, apakah Jongin yakin kalau Sehun belum berhasil memenuhi sedikit celah di hatinya ?
Jongin memulai aksi pertamanya dengan menggigit kaos tanpa kerah miliknya, dan sebagian sisinya di biarkan menjuntai hingga memperlihatkan bahunya yang mulus. Sebelah tangannya memeluk pinggang Sehun. Mata Jongin di pejamkan sebelah, seolah menikmati gigitan kecil di kaosnya. Saat itu Sehun hanya berdiri diam membelakangi kamera, Minho ingin mengfokuskan ini pada Jongin.
"Hyung –" Bisik Sehun di sela-sela pemotretan, "Apa harus kau melakukan pekerjaan seperti ini ? Memperlihatkan tubuhmu pada semua orang,"
Jongin mengganti gaya, ia menatap Sehun dan memegang dagunya agar berpaling padanya. Di saat seperti ini Jongin sulit bicara, akan kentara sekali di depan kamera. Jadi ia menunggu waktu yang tepat.
Kini giliran Sehun. Ia membuat gerakan seolah sedang mencium tengkuk Jongin. Lengannya masih melingkar di pinggang Jongin.
"Orang dewasa selalu melakukan hal yang perlu di lakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dan aku salah satunya."
"Ini sesi terakhir !" Minho memperingatkan, "Putar tubuh kalian menghadap kamera, Sehun kau peluk Kai dari belakang. Dan cium tengkuknya."
Sehun berputar ke belakang Jongin. ia memeluk Jongin dari belakang dan mengarahkan kepalanya ke dalam tengkuk Jongin. Jongin reflek memiringkan kepalannya, mengizinkan Sehun untuk mendapat tempat di dalam ceruk lehernya itu.
Jongin benar-benar menikmati saat ia merasakan bibir Sehun menyentuh kulitnya. Jongin kegelian ketika Sehun sepertinya kehilangan kendali dan terus saja membelai tengkuk Sehun dengan bibirnya.
Lampu blizt terus saja menyala,"Aku mencintaimu. Aku memang anak kecil di matamu, tapi aku mampu mencintaimu sebagai pria dewasa."
"Yak, selesai. Terima kasih atas kerja samanya." Suara Bass Minho memecahkan keheningan dunia Jongin dan Sehun.
Sehun pun melepaskan Jongin. Tanpa menoleh ke arah Jongin ia meninggalkan sorak riuh mereka yang akhirnya telah menyelesaikan pekerjaan malam ini.
Ia akan menepati janjinya.
Perpisahan memang sesuatu yang menyakitkan. Tapi itu yang harus di lakukan olehnya.
.
.
#####
.
.
"Dimana bocah itu? Aku ingin menjabat tangannya." Minho mencari di antara kerumunan itu. Jongin dan Taemin yang baru menyadari tidak menemukan Sehun.
"Dimana dia Kai ?" Tanya Taemin.
"Dia pergi."
"Maksudmu dia pulang?"
"Tidak, dia pergi Tae. Dia pergi meninggalkan aku." Tangis Jongin pecah saat ia sudah berdua bersama Taemin. Dari tadi ia menahan semua emosinya dan kini tumpah bagai bendungan pecah yang menumpahkan semua airnya. Kali ini air mata Jongin lah yang tumpah, tidak dapat ia bendung lagi. Terlalu sakit bila ia menahannya terlalu lama.
"Kenapa ? Ku pikir setelah malam ini hubungan kalian akan berjalan baik."
"Aku telah menolaknya."
"Lalu setelah kau menolaknya, kau menangis dan menyesal ? Untuk apa Kai ? Itu pilihanmu dan sekarang kau menangis" Taemin terdengar kecewa sekaligus marah.
Taemin berjalan mondar mandir di depan Jongin. Padahal ia sudah merencanakan semuanya dengan matang, dengan menjadikan Sehun pasangan Jongin akan merubah cara pandang Jongin. Taemin tidak memperhitungkan kalau hati Jongin lebih keras dari pada batu.
Suara isak tangis Jongin menarik Taemin untuk memberikan sandaran pada sahabatnya.
"Tidak pernahkah kau berpikir kalau kau juga menyukainya, Kai ?"
Jongin menggeleng. Ia meraih tasnya dan mengeluarkan amplop lalu di serahkan pada Taemin.
Dear Noona Kim Jongin ^^
Semoga kau bahagia saat membaca surat ini. Karena dengan kau temukannya surat ini, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjauh dari kehidupanmu.
Aku memang selalu menyukai ketika kau memasang wajah kesal padaku, tapi aku tentu tidak dapat melakukannya setiap saat. Karena aku takut kau akan membenciku.
Jongin Noona yang cantik ^^
Selalu lah berbuat baik. Sama seperti ketika kau di kereta api, kau tau aku jatuh cinta padamu saat itu juga. Tapi aku bingung, kalau kau selalu berbuat baik pada orang lain nanti akan banyak orang yang menyukaimu :(
Jongin Noona yang cantik ^^
Kau adalah cinta pertamaku dan akan menjadi yang terakhir.
Sekali lagi, aku mencintaimu Noona.
OSH
Ps: maaf ya Noona, aku tetap memanggilmu Noona. karena aku ingin kau mengingat bahwa hanya aku satu-satunya yang memanggilmu Noona hehe :p
Taemin mengakhiri membaca surat Sehun dengan suara yang serak. Walaupun surat yang di tuliskan Sehun bernada ceria, tapi Taemin merasakan sakit di hatinya. Ia membayangkan perasaan bocah itu saat menulis kalimat ini untuk Jongin.
"Ini kah yang kau inginkan Kai ?" Taemin melambaikan kertas itu di depan wajah Jongin.
"Aku tidak tahu Tae, aku bingung."
"Sekarang kau hubungi dia."
"Aku tidak tahu nomor telepon atau ponselnya."
"Kalau begitu alamatnya,"
Jongin menggeleng. "Aku tidak tahu, Tae."
"Bagus sekali Kai. Kini kau kehilangan dia selamanya."
Seandainya Taemin tahu bahwa Jongin juga merasakan hal itu. Terlalu terlambat menyadarinya bahwa Sehun terlalu jauh menyelinap di sudut hati Jongin. Saat itu cinta dan ketulusan Sehun tertutup oleh kerasnya hati Jongin, dan kini bayangan Sehun seakan-akan menari di depan matanya.
Jongin mengingat kembali bagaimana Sehun menciumnya. Dan ia mengarahkan jemarinya menyentuh bibirnya yang tebal.
Hanya ini kenangan yang tersisa.
.
.
.
TBC OR END (?)
