Tittle : Nonna Neomu Yeppeo

Cast :

Oh Sehun

Kim Jongin

Etc Other Cast

Warning : BL, HunKai, typo merajalela, cerita ga jelas, alur berantakan.

Disclaimer : Cast disini milik orangtua, keluarga dan agency mereka, hwa Cuma pinjem nama mereka buat di nistain ajah.

Don't like Don't read

NO SIDER, No Bash.

Jika ga suka sama cerita ini tinggal mengklik close pada computer kalian.

Happy

.

.

Reading XD

.

3 years later ~

Sudah tiga tahun sejak aku menyadari bahwa Sehun benar-benar menepati janjinya untuk tidak pernah mengusik kehidupanku lagi. Janji yang bukan sekedar ucapan belaka, melainkan benar sebuah janji yang di ucapkan oleh pria dewasa. Dan aku kecewa akan hal itu ...

Setiap pagi aku masih berharap dia muncul di depan pintu apartemenku dengan sebuah coklat besar untuk permintaan maaf atau setangkai bunga mawar yang melambangkan cintanya untukku. Membayangkan dirinya berada di dapurku dan memasak sarapan persis seperti tiga tahun lalu. Aku menjadi seperti kehilangan akal sehat semenjak ia pergi. Setiap kali aku mendengar suara ketukan di apartemenku, dadaku berdebar keras. Berharap itu adalah Sehun, dengan senyum nakalnya dan mata coklat sehangat matahari pagi. Selalu ceria seperti tidak pernah tertimpa masalah.

Lalu ku pikirkan lagi. Benarkah ia tidak pernah mengalami masalah pelik?

Dadaku kembali sesak, dan air mata bergulir pelan melintasi gundukan pipiku yang menggembung. Kau tau kenapa ? Karena sama sekali aku tidak mengenalnya, dari singkatnya waktu yang kami lalu bersama tidak secuil pun informasi tentang dirinya yang aku ketahui. Itu karena memang aku memilih tidak ingin tau. Dan aku menyesal, bila itu yang ingin kau dengar. Aku menyesal ...

"Hyung!" Seru seorang anak kecil berumur lima tahun, ia menarik-narik kain celanaku yang bermerk. Suatu kebiasaan yang tidak bisa ku ubah.

"Iya yogeun tampan." Aku mensejajarkan diri dengannya, hingga wajah kami saling berhadapan.

"Kami telah menyelesaikan gambar-gambar kami."

Aku menatap sekeliling ruangan kecil ini. Ruangan berukuran 5x4 meter yang setiap dindingnya di hiasi gambar-gambar ceria. Kau mungkin dapat menebak dimana aku sekarang, tapi kau pasti tidak tahu bahwa ini adalah sekolah khusus untuk anak-anak yang memiliki kekurangan.

Yogeun, anak kecil di hadapanku ini menderita gangguan pada pendengarannya. Dan ada lima belas anak lainnya yang memiliki masalah yang hampir sama dengan Yogeun.

Aku menatap satu-satu gambar yang telah di selesaikan oleh mereka, dan aku meminta yogeun untuk mengumpulkan semuanya untukku. Dia dengan senang hati menuruti permintaanku, sebagai imbalannya aku memberinya kecupan ringan di hidungnya yang mungil. Ia pun tersipu malu.

Aku memutuskan mengabadikan diriku di sekolah seperti ini. Karena setiap kali aku melakukan kebaikan, aku selalu dapat mengingat bisikan Sehun saat ia mendekapku. Ia tidak ingin aku bergelut dengan dunia yang tidak ia sukai, dan anehnya aku menurutinya. Alasan lain, karena hanya itu satu-satunya cara agar aku dapat mengingat suaranya di dalam kepalaku. Seakan-akan ada mesin perekam yang telah di atur oleh timer dan suara itu akan menyala di saat aku telah berbuat baik. Menyenangkan sekaligus menyakitkan ...

Usiaku sudah 26 tahun. Seharusnya di usiaku kini aku sudah memiliki kekasih atau menikah, menjalani kehidupan normal layaknya orang dewasa. Kenyataan memang pahit. Aku lebih memilih menjaga hatiku untuk tetap setia pada satu cinta. Cinta yang aku tidak tahu dimana keberadaannya saat ini.

Taemin mengatakan aku pantas mendapatkan itu semua, dan terima kasih Tae, kau selalu mengingatkan aku betapa sakitnya kehilangan orang yang mencintaku tulus tanpa pamrih.

Setelah meluangkan waktu ku sedikit untuk menemani anak-anak ini -sudah lama aku tidak memakai kata 'bocah'- aku berjanji akan bertemu Taemin di sebuah Mini Cafe. Kami suka bertemu setelah aku melepas pekerjaan modelku. Warna dindingnya yang kuning menyala membuat aku betah berlama-lama berada disana.

.

.

#####

.

.

"Kau selalu memilih disisi jendela, tidak bisakah cari posisi yang lain?" Taemin mendengus ketika melihat Jongin sudah duduk di sofa merah maron sambil melayangkan matanya ke luar jendela.

"Aku senang melihat kerumunan orang." Jawab Jongin acuh.

Taemin tidak perlu menanyakan alasannya, karena ia tahu di lubuk hati Jongin ia masih berharap akan bertemu lagi dengan bocah itu. Mungkin Jongin menyangka akan bertemu Sehun di antara kerumunan orang itu.

"Aku dan Minho akan menikah." Taemin mendorong sebuah undangan pernikahan bewarna biru langit pada Jongin. "Aku tidak mau tahu, kau harus datang Kai."

"Iya, aku pasti datang."

"Kau tidak kaget mendengar aku menikah."

"Jadi kau mau aku melakukan apa, Tae ? Apa aku harus kaget setengah mati mendengar kau menikah dengn pria dingin itu."

"Kau tetap tidak bisa di ajak bercanda, Kai." Taemin mengangkat tangannya kepada seorang pelayan wanita yang berpakaian agak terlalu ketat. Ia memesan milk shake dan sepiring cake, Jongin pun memesan hal yang sama.

"Bagaimana kencanmu dengan Tao ?" Tanya Taemin

"Gagal. Aku meninggalkannya di tengah kencan."

"Kenapa Kai ? Dia pengusaha top di Beijing dan kau menolaknya?" Taemin histeris

"Reaksimu berlebihan, untung saja aku tidak muntah."

"Aish Kai, kau kenapa semakin dingin? Kemana temanku yang dulu ? Huks huks ..." Taemin berpura-pura menangis tersedu, hingga pelanggan lain memperhatikan meja mereka.

Jongin yang tidak tahan mendengar bisik-bisik cemooh mereka memilih memasang senyum manis pada Taemin dan menggenggam tangannya erat. Terlalu erat malah, sampai Taemin meringis kesakitan.

"Namja kejam."

"Kau namja menyebalkan."

Pesanan mereka datang, pelayan berpakaian ketat itu melempar senyum menggoda pada Jongin yang di balas dengan acuh.

"Ceritakan padaku, kenapa ?"

"Sepanjang malam ia hanya membicarakan dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa meraih kuseksesan di usia muda. Bagaimana ia menghadapi para gadis-gadis cantik yang menggodanya. Bagaimana ia mengatasi para pesaingnya. Intinya yang di bicarakan adalah dirinya sendiri, seakan pusat perhatian dunia ada pada dirinya."

Taemin mendesah, "dia adalah kandidat ke enam yang sudah kau tolak Kai. Sebenarnya apa yang kau cari?"

"Tidak ada, aku masih nyaman dengan kesendirianku."

Menurut Taemin, sifat keras kepala Jongin kian parah, hatinya pun kian dingin.

"Noona ~"

Jongin terhenyak. Tubuhnya mendadak mematung saat mendengar sebuah kata yang tidak pernah lagi ia dengarkan. Kepalanya dengan cepat ia putar mencari sumber suara itu.

"Noona, bolehkah aku memesan coklat panas lagi ?" Seorang anak kecil yang sedang di dampingi orang tuanya, memohon kepada gadis pelayan. Kali ini pelayan yang lebih muda, daripada pelayan yang menggoda Jongin.

"Hm, bagaimana ya ?" Gadis itu berpura-pura berpikir, tapi sekali-kali ia tersenyum. "Kalau kau menjadi anak baik, akan aku berikan satu gelas coklat panas untukmu, gratis."

Jongin kecewa. Ternyata itu hanyalah seorang anak kecil yang berusaha mendapatkan perhatian dari Noona yang ia sukai.

Jongin menoleh dan menatap mata Taemin sedang memandang lurus ke arahnya. Tatapan prihatin dari seorang sahabat.

"Kau memikirkannya kan, Kai ?"

"Siapa ?"

"Sehun. Kau berpikir itu Sehun kan."

Jongin memilih tidak menjawab. Ia meminum milk shakenya. Tidak sedikitpun ia berani menatap kedalam jurang hitam milik Taemin. Karena ia takut, saat ia melihat ke dalam bola mata Taemin akan ada pantulan dirinya yang sedang menangis.

"Apakah kebetulan atau memang kau yang sengaja tidak mau menerima orang lain dalam kehidupanmu ?"

"Sudah tiga tahun Kai. Dia sekarang pasti lebih dewasa dari terakhir kau lihat."

Jongin tetap diam, ia memilih memainkan cakenya dengan menghacurkannya sehingga Taemin pun tidak selera untu memakannya.

"Kau mencintainya, -O jangan pasang wajah seperti itu padaku. Aku sahabatmu, dan tidak bisa kau sembunyikan kesepian di matamu itu Kai."

"Bisakah kita membicarakan hal yang lain ?"

Mungkin menuruti keinginan Jongin akan membuat segala sesuatu menjadi mudah. Taemin tidak perlu berdebat tentang perasaan Jongin yang sebenarnya.

"Ku lihat kau makin sukses, walaupun kau bisa menjadi terkenal menjadi seorang model. Kau tau ? Fotomu bersama Sehun menjadi perbincangan hangat."

Jongin mengaduk Milk Shakenya dengan sedotan,

"Aku hanya menambahkan daftar menjadi seorang pengajar di hidupku, dua bulan lalu aku di tunjuk menjadi pengatur acara-acara kegiatan amal di Seoul. Dan aku pastikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa sumbangan itu sampai pada mereka yang membutuhkan."

"Wow, itu keren Kai."

Perbincangan berlanjut ke masalah pribadi mereka masing-masing, tapi Jongin tetap bertahan untuk menyimpan semua masalahnya sendiri. Ia memang memilih beban bertumpuk di dadanya, agar ia bisa terus mengingat bagaimana rasanya sakit seperti ini.

Ketika waktu menunjukan pukul 8 malam, Jongin dan Taemin setuju untuk kembali kerumah.

"Kau mau ku antar ? Aku yang menyetir." Tawar Taemin dari balik kemudinya.

"Tidak usah, aku ingin menghirup udara malam."

Pilihan Jongin untuk berjalan kaki memang baik untuk menenangkan saraf-saraf tegangnya. Ia berjalan menyusuri pinggiran toko dengan mengeratkan jaket di tubuhnya. Arus pejalan kaki yang ramai berulang kali menabrak pundaknya sambil mengucapkan maaf yang Jongin yakin tidak tulus dari hati mereka.

Jongin melewati toko hewan peliharaan, dimana tiga tahun yang lalu ada tiga ekor anak anjing yang mengingatkan Jongin pada Sehun, sekarang kandang itu telah di tempati empat ekor anak kucing yang gemuk-gemuk. Jongin sedih, seharusnya ia memelihara seekor anjing di apartemennya, agar ia tidak kesepian.

'Bosankah kau bila mendengar ucapan maafku?'

.

.

#####

.

.

Jongin menghembuskan tangannya berkali-kali. Malam ini sungguh dingin, jaket kulitnya pun tidak berhasil menyingkirkan Jongin dari dingin yang menggigit.

Jongin keluar dari Lift. Ia melihat bola lampu di koridor sangat redup, padahal sudah berapa kali ia mengeluh pada pengurus apartemen untuk memeriksa lampu ini. Dan ia bertekad besok harus memprotes tegas tentang keluhannya. Malam ini ia ingin berendam di air hangat sambil menghidupkan lilin aroma terapi. Memikirkan hal-hal yang menyenangkan, mungkin obat yang baik untuk menghapus kesedihannya.

Rencana malam ini sempurna, ia pun tersenyum simpul. Membuatnya terlihat cantik.

"Kau tidak berubah Noona."

Jongin berhenti, ia menajamkan pandangannya. Ia berjarak semeter dari sosok asing itu. Ia mengenakan mantel hitam panjang dan kacamata hitam yang sangat serasi dengan rambutnya.

Tapi otak kecil Jongin bereaksi penuh dengan suara itu. Suara lembut tapi jenaka, yang tiga tahun mengusik hidupnya serta meninggalkan jejak kenangan indah.

Jongin memberanikan melangkah sedikit.

Namja itu membuka kacamatanya. Sebuah senyuman yang selama ini di rindukan Jongin ada disana. Tatapan mata nya membius Jongin, bahkan di tengah redup lampu ini Jongin dapat mengetahui siapa dia.

"Aku kembali Noona, maaf aku tidak bisa menepati janjiku untuk menjauhi kehidupanmu."

Jongin berlari dan menghambur kedalam pelukan itu. Ia hampir terjengkang saat menerima tubuh itu menubruknya, tapi itu seimbang dengan apa yang ia dapatkan sekarang. Pelukan namja berumur dua puluh tahun yang benar-benar sudah menjadi pria dewasa. Tonjolan ototnya merengkuh kuat tubuh Jongin di dalamnya.

Jongin menangis sekencang-kencang di dalam pelukan itu. Air mata yang telah ia bendung selama tiga tahun akhirnya harus rubuh di dalam pelukan namja ini. Tubuhnya yang bergetar di usap halus oleh telapak tangan besar namja itu.

Tiba-tiba saja Jongin mendorong kasar pelukan namja itu.

"Kau –" Nafas Jongin tersengal karena kebanyakan menangis, ia menghapus jejak air matanya kasar, walaupun air mata itu tidak mau berhenti mengalir. Ia malah melihat senyum manis di wajah namja itu.

"OH SEHUN KENAPA KAU KEMBALI HAHI!?"

.

.

.

TBC OR END (?)