Tittle : Nonna Neomu Yeppeo
Cast :
Oh Sehun
Kim Jongin
Etc Other Cast
Warning : BL, HunKai, typo merajalela, cerita ga jelas, alur berantakan.
Disclaimer : Cast disini milik orangtua, keluarga dan agency mereka, hwa Cuma pinjem nama mereka buat di nistain ajah.
Don't like Don't read
NO SIDER, No Bash.
Jika ga suka sama cerita ini tinggal mengklik close pada computer kalian.
Happy
.
.
Reading XD
.
Setelah malam itu, aku memang berniat meninggalkan kehidupan Noona-ku. Aku tertawa sendiri saat harus mengulang kata-kata "Noona", terdengar aneh dan sangat bodoh malah, memanggil namja yang berusia lebih tua dariku dengan sebutan "Noona."
Jangan sepenuhnya menganggapku gila, karena bila kau melihatnya kau akan terpana pada kecantikannya yang misterius. Bibir tebal yang menawan, dan warna merah mudah segar seperti buah strawberri yang baru masak di tangkai. Kulit tan mulus. Tidak kah itu terdengar menakjubkan di matamu ?
Ada berbagai alasan aku memilih meninggalkannya, pertama: ayahku meminta aku melanjutkan sekolahku di China. Dengan alasan agar ia dapat mengawasi perkembanganku. Masuk akal sebenarnya, karena aku anak tunggal dari keluargaku yang sederhana. Dan alasan lainnya adalah ibuku sangat merindukanku. Bagaimana bisa aku mengecewakan wanita yang telah melahirkanku.
Kedua: nanny yang menjagaku selalu memanjakan aku, hingga aku tumbuh menjadi anak yang manja dan sedikit kekanak-kanakan. Aku tidak pernah tau bagaimana seharusnya bersikap di depan orang yang lebih tua, karena aku sudah terbiasa menjadikan nanny dan supir pribadiku sebagai sahabatku. Dan terlebih lagi aku tidak tahu bagaimana bersikap di depan orang yang aku sukai.
Ketiga: karena orang yang aku sukai, meminta aku pergi dari hidupnya.
Apa yang harus aku lakukan ? Saat malam itu, ketika aku berniat menyatakan cinta pada Noona-ku, aku sudah berikrar di dalam hati. Bahwa aku rela tidak meneruskan bisnis Ayahku hanya untuk mendampingi Noona-ku. Ternyata ia menolakku, bahkan tidak ingin melihatku lagi. Ia merasa aku terlalu kecil untuk bersanding dengannya. Dan itu menjadi pemicu kepergianku. Aku sudah bertekad ...
Sepanjang perjalanan, aku menangis tersedu-sedu. Sehingga supirku memberhentikan mobil dan memberikan pelukan hangatnya untukku. Pelukan yang aku harapkan dari seorang Ayah. Ia mengelus kepalaku dan terus saja mengucapkan kalimat-kalimat hiburan buatku.
Aku hanya mengingat sepenggal-sepenggal ucapannya malam itu. Karena isak tangisku begitu keras dan aku memang tidak berhenti untuk tidak menangis.
"Dia tidak membenci Anda, Tuan." Ucap supirku, "Ia hanya ingin ada lelaki dewasa yang mampu mengimbangi dirinya, baik itu secara finansial dan sifat." Ucapnya lembut, aku makin mengeraskan tangisku saat membayangkan kalau Noona-ku akan mencari pria lain dan menganggap aku hanya bocah penganggu.
Lalu supirku tertawa, aku tidak ingat kenapa ia tertawa, tapi aku berusaha mengingat ucapannya padaku.
"Kalau kau begitu menyukainya Tuan, maka buktikanlah pada dirinya kalau kau bisa menjadi laki-laki yang di inginkannya. Turuti permintaan Tuan Besar, dan kau akan mengerti arti dewasa yang sebenarnya."
Aku tidak begitu paham maksudnya, tapi aku mengangguk. Dan keesokan harinya barang-barangku sudah di kepak dan terbang dengan penerbangan pertama. Aku akan menyusul di penerbangan selanjutnya.
Sebelum pergi, aku mengamati jalanan Seoul. Bertanya-tanya dalam hati apakah bisa aku kembali kesini ?
Mungkin. Jarak Seoul dan China tidak begitu jauh. Tapi apakah aku bisa tepat waktu untuk mengatakan pada Noona-ku bahwa aku ingin menikahinya ?
Aku tidak tahu ...
Tidak pernah tahu.
Setelah tiga tahun berselang, aku memutuskan kembali ke Seoul. Kau tidak tahu apa saja yang sudah aku dapatkan di China. Aku masuk sekolah asrama yang di khususkan untuk anak-anak sepertiku. Maksudku anak-anak yang sudah di takdirkan untuk meneruskan perusahaan raksasa yang telah berdiri dari generasi ku sebelumnya.
Sekolah kepribadian, olah raga teratur, makan teratur, jam tidur, jam belajar semua kegiatanku telah di atur dengan ketat. Bila kami berani melanggar peraturan yang sudah ada, maka akan ada pengawas galak dengan rol panjang dan besar yang selalu dibawanya dan siap-siap mendarat di pantat kami yang mulus.
Tahun pertama, di awal aku masuk, aku sering kena rol panjang mengerikan itu. Dan aku harus meringis setiap malam menahan pedihnya. Tidak akan pernah aku lupakan.
Ketika menginjakan kaki di bandara Incheon, hanya wajah dirinya yang selalu aku ingat. Beribu pertanyaan melintas di kepalaku, apakah ia sudah memiliki kekasih ? Apakah ia sudah menikah ? Atau bahkan lebih buruknya ia sudah memiliki anak. Aku tidak tahan membayangkannya, ku tepiskan bayangan jelek itu. Bisa-bisa aku akan jatuh terpuruk di bandara ini dan tubuhku tergilas ban pesawat. Tidak lucu bukan, bila ke esokan harinya kepala berita "Seorang Pengusaha Muda, Tewas di Gilas Ban Pesawat Karena Memikirkan Orang Yang di Sukainya." menghiasi seluruh surat kabar.
Tapi mungkin itu ide yang bagus. Aku pun tertawa dalam hati memikirkan ide itu.
.
.
#####
.
.
Sehun menarik nafas dalam-dalam, setelah ia meninggalkan rumahnya di Seoul selama tiga tahun tapi tidak ada yang berubah satupun. Rumah ini masih terawat apik. Tempat yang pertama ia datangi adalah kamar tercintanya, kamar besar yang dulu dindingnya di hiasi berbagai poster penyanyi dan aktor kesayangannya. Sekarang masih tetap sama, bahkan ia tersenyum kecil saat mengingat ia harus berkelahi dengan pembantunya yang ingin merobek semua poster itu atas perintah ayahnya.
Sehun mengeluarkan sebuah bingkai foto yang setiap sisinya bewarna hitam. Sebuah bingkai khusus yang ia pesan dan di selundupkan oleh supirnya ke dalam asramanya. Bingkai itu begitu special bagi Sehun, karena di dalamnya ada foto dirinya dan Kim Jongin yang ia potong dari majalah. Hanya foto itu lah kekuatan Sehun di asrama kejam itu, menjadi dewasa adalah pilihannya. Dan setiap pilihan itu ada resikonya.
Dengan hati-hati ia meletakan bingkai foto itu di samping tempat tidurnya. Ia mengusap foto Jongin dengan penuh sayang.
"Tuan Muda, kau sudah kembali."
Sehun kaget saat seseorang wanita yang rambutnya telah di penuhi uban memeluknya erat.
"Oh Tuan, jangan katakan kau lupa padaku. Aku tidak suka melihat ekspresi itu." Ternyata ia Mrs. Han, nanny Sehun, ia hampir tidak mengenali dirinya. Lalu ia menatap wajah Sehun pelan. Seakan mengukir kenangan lama di wajah tampannya yang dewasa.
"Tentu tidak Mrs. Han yang cantik." Sehun tertawa. "Terima kasih sudah menjaga kamarku tetap seperti semula."
"Lihat dirimu, kau banyak berubah." Ia menarik tubuh Sehun dan mengamatinya,
"Kau sudah lebih tinggi dari terakhir aku lihat," Ia menepuk kepalaku sambil berjinjit, Sehun harus menunduk sedikit agar wanita tua itu dapat menyentuh puncak kepalanya.
"Rambutmu tidak lagi berantakan, dan apa ini ? Kau mengubahnya menjadi coklat ?" Ia melanjutkan, "ah anakku, aku rasa bila usiaku tujuh belas tahun aku akan jatuh cinta kepadamu. Kau sungguh tampan."
"Bersyukurlah Mrs. Han kau tidak jatuh cinta padaku. Karena kau akan patah hati, dan aku tidak tega membuat wanita secantikmu patah hati."
Ia menatap tajam ke arah Sehun, pandangan menyelidik khas keibuan yang mencari kesalahan anak-anaknya, "Benarkah? Aku rasa ini pasti tentang namja cantik itu kan."
Ia melirik foto yang Sehun taruh di samping tempat tidur.
Sehun mengangguk, tapi wajahnya terlihat gundah. Apakah cintanya akan terbalas setelah tiga tahun berlalu ?
"Kalau begitu akan aku siapkan makan malam."
Sehun buru-buru menghentikan langkah wanita tua yang sangat bersemangat itu,
"Aku tidak makan malam di rumah, ada sedikit yang mau aku kerjakan di Seoul." Sehun tersenyum penuh arti kepada wanita tua itu. Dan tanpa bertanya lagi, ia sudah tau. Bagaimana mungkin ia tidak tahu bagaimana sifat Sehun, karena dari umur tiga tahun ia sudah merawatnya seperti anaknya sendiri.
Sehun sudah tau kemana tujuannya. Ia akan mencoba peruntungan cintanya di Seoul.
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, benar bukan?
.
.
#####
.
.
Sehun sudah belanja untuk bahan masakan di mini market di dekat apartemen Jongin. Ia sudah menunggu dua jam di depan pintu sebelum akhirnya ia melihat namja impiannya sedang berjalan dengan wajah tersenyum dan mengeratkan pelukannya karena kedinginan.
Untuk memberi kejutan, Sehun menyapanya. Dan reaksi yang tidak di duga olehnya adalah namja itu menerjang dirinya dan memeluk lehernya erat. Ia menangis sekencang-kencangnya tanpa sedikitpun aku tahu penyebabnya.
"Bolehkan aku menebak Noona, bahwa kau merindukan aku sama seperti aku selalu merindukanmu."
Ia tiba-tiba saja berhenti menangis dan memaki Sehun.
"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI HAH OH SEHUN ?"
Sehun tidak kaget, ia malah tersenyum. Kemarahan namja cantik itu adalah jawaban segala-galanya.
.
.
.
TBC OR END (?)
