Tittle : Nonna Neomu Yeppeo
Cast :
Oh Sehun
Kim Jongin
Etc Other Cast
Warning : BL, HunKai, typo merajalela, cerita ga jelas, alur berantakan.
Disclaimer : Cast disini milik orangtua, keluarga dan agency mereka, hwa Cuma pinjem nama mereka buat di nistain ajah.
Don't like Don't read
NO SIDER, No Bash.
Jika ga suka sama cerita ini tinggal mengklik close pada computer kalian.
Happy
.
.
Reading XD
.
Nafas Jongin tersengal, rasanya semua beban emosi yang di tumpuk olehnya selama tiga tahun telah menjadi suatu penyakit baginya. Dan benar, ia seperti orang terkena serangan asma. Walaupun sebenarnya itu adalah efek samping dari kesedihan, kemarahan, kebahagian, dan tambahkan sedikit 'cinta' di dalamnya.
"Untuk apa kau kembali Hun ?"
"Ucapanmu tidak menggambarkan pelukan yang baru saja kau berikan." Sehun tersenyum,
"Jangan beranggapan bahwa aku merindukanmu."
"Benarkah ? Padahal aku tidak mengatakan apa-apa." Tawa Sehun semakin lebar, dan malah membuat Jongin kehabisan kata-kata.
"Seenaknya kau kembali dengan senyum menyebalkan itu." Suara Jongin serak
"Bisa kita bicarakan ini di dalam Noona ? Kau tidak mau kan seluruh tetangga mu melihat kalau ada namja cantik yang setengah berteriak kepada pemuda tampan sepertiku."
Gaya bicara Sehun memang berubah, terasa lebih sopan dan tenang. Tapi nada bicaranya sama seperti dulu, tetap menyebalkan.
Oh Jongin benci benar nada bicara itu. Walau sebenarnya ia juga merindukannya.
"Cih, kau datang dengan berbalut jas mahal, dan mencoba merayuku dengan ucapan gombal seperti itu?"
Jongin merogoh tasnya dan menemukan kunci apartemennya. Sehun mengangkat kantong kertas bewarna cokelat yang berisi 'calon' makan malam mereka.
Jongin mempersilahkan Sehun masuk duluan, ia mengikuti dari belakang dan memandangi bagian belakang Sehun yang masih di lapisi Jas hitam. Jongin merasa ini mimpi, dan hati kecilnya tidak ingin bangkit dari tidurnya ini. Aroma Sehun terasa berbeda, di tambah lagi di dalam ruangan yang bersuhu rendah seperti ini membuat aromanya semakin menguar keseluruh penjuru ruangan.
Sehun berbelok ke arah dapur, membuat Jongin kehilangan kesempatan untuk memandangnya.
'Jongin, jangan membuat masalah untuk kedua kalinya. Jangan bersikap kasar, dan anggunlah. Layaknya namja dewasa.'
Jongin mengucapkan mantra untuk menenangkan hatinya. Ia mengunci pintu dan memasang pengait pintu. Walaupun ia rasa tidak perlu, tapi yah untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan jelek. Tidak ada salahnya bukan ?
Jongin duduk di meja di dapur yang di fungsikan juga sebagai meja makan, ia menghempaskan dirinya di kursi dan asik mengamati Sehun yang terampil memindahkan bahan-bahan makanan ke atas tatakan meja.
"Kau mau diam disana Noona ? Tidak berniat membantuku ?"
Sehun tiba-tiba menoleh ke belakang dan menangkap basah Jongin sedang memandanginya. Senyum lebar penuh kemenangan terkembang di wajahnya.
"Apa- Apa urusanku ? Maksudku- aku mau ganti pakaian." Jongin melenggang pergi dengan wajah kemerahan.
"Bodoh bodoh bodoh, kenapa aku yang tiba-tiba merasa menjadi bocah." Jongin merutuki dirinya sendiri setelah ia jauh dari jangkauan pendengaran Sehun.
.
.
#####
.
.
Sehun sudah menyelesaikan masakannya, Dak Galbi. Daging ayam yang dipotong dadu dan di rendam dengan saus beserta sayurannya. Dan ada juga ramyeon. Cocok untuk menghangatkan tubuh mereka di udara dingin seperti ini.
Ia sudah menata meja makan dan sebotol soju telah ia siapkan. Ia mengosok telapak tangannya dengan wajah puas, hasil kerjanya sangat bagus. Tinggal menunggu kedatangan Jongin.
Panjang umurlah bagi Jongin, karena baru saja ia ingin mengetuk kamar namja cantik itu, Jongin sudah muncul dengan baju dinginnya. Kaos kaki tebal yang hampir menutupi sebagian kakinya dan sandal beruang tebal yang di kenakan. Namja yang selalu kelihatan dewasa itu pun berubah menjadi namja yang imut dengan balutan kostumnya malam ini.
Melihat itu, Sehun hampir saja tertawa terbahak-bahak. Tapi seketika tidak mengharuskannya bersikap tidak sopan seperti itu. Maka ia hanya mengerutkan kedua alisnya hingga bersatu.
"Kau mentertawakanku ?"
"Tidak, tentu tidak." Dengan wajah polos dan tanpa expresi Sehun menarik kursi untuk Jongin.
"Sebelum makan malam, aku ingin kita bicara." Jongin sudah memikirkan masak-masak. Ia harus membuang egonya dan membuka hati untuk bicara dari hati ke hati dengan namja di depannya ini.
Sehun menuangkan soju ke dalam gelas dan meletakannya untuk Jongin dan dirinya sendiri. Jongin memandangnya dengan aneh,
"Apa ? Aku kan sudah dua puluh tahun,"
"Ah iya, aku lupa." Jongin menyindir
"Noona, kau semakin cantik."
"Bisakah aku memulai perbincangan akrab kita?" Jongin menekan setiap kata yang ia ucapkan.
Sehun menyandarkan tubuhnya dengan santai ke punggung kursi, "Baiklah Noona, apapun perintahmu."
Suasana hening untuk sesaat, dengung suara angin mulai menerpa jendela Jongin. Sepertinya hujan akan turun, dan itu tidak baik.
"Maafkan aku." Jongin menundukan kepalanya, ia sudah melatih dua kata ini di depan cermin selama 30 menit.
"Apakah itu arti dari air mata di luar sana?"
Jongin mendesah, dan ia mengangguk.
Perubahan suasana yang penuh ketegangan menjadi hangat seperti ini membuat Sehun heran.
"Hanya segitu saja ?" Sehun bertanya heran,
"Lalu kau mau apa ? Aku mengemis-ngemis minta maaf sambil berurai air mata ?"
Sehun mengerutkan wajahnya. Padahal ia berharap Jongin akan memberinya ciuman sebagai permintaan maaf.
Wajah Jongin pun menjadi lebih ceria, mungkin minta maaf memang cara terbaik untuk menghilangkan beban di hatinya.
"Aku kan sudah minta maaf, kenapa kau malah cemberut."
.
.
#####
.
.
Selama makan malam, Sehun bercerita tentang apa yang di lakukannya selama menghilang, dan bagaimana pengalamannya di Sekolah Asrama yang di pilihkan ayahnya. Ia seorang pencerita yang baik, expresinya dapat berubah-ubah sesuai suasana hatinya saat menceritakan bagian-bagian tertentu. Dan Jongin pun tertawa saat Sehun mengalamami masa-masa sulit dengan pengawasnya.
Jongin menyimak dengan seksama, sambil ia terus memperhatikan lekuk wajah Sehun yang selama ini di abaikan. Ia melihat bagaimana bibir itu tersenyum, tertawa dan miring saat Sehun memperagakan expresi kesakitan. Dan Jongin ingin memiliki bibir itu untuk dirinya sendiri.
Ia benar-benar merindukan laki-laki ini.
Hujan mulai turun deras dan kencang. Angin terus saja menggedor jendela Jongin sehingga menimbulkan suara benda berat yang di pukulkan berulang kali. Jongin melangkah dan menarik tirai jendelanya. Melihat angin seperti itu, membuat Jongin merinding.
"Sepertinya aku akan menginap saja."
"Kau selalu seenaknya saja. Apa aku sudah memberimu izin ?"
"Apa kau tega menyuruhku pulang dalam keadaan cuaca seperti ini ?"
Jongin berpikir sebentar, "Hm, baiklah. Tapi tidur di sofa."
Jongin mendorong kursinya dan membereskan meja makan. Ia menaruh semua piring kotor dan panci bekas di pakai Sehun ke dalam wastafel. Setelah ia mencuci tangannya, ia menuju ke ruang tengah yang di ikuti Sehun.
"Kau tidur di sofa, kenapa mengikutiku hah ?"
"Kan dari dulu aku memang suka mengikutimu Noona." Ia tertawa,
Jongin tersenyum, entah kenapa ia geli melihat Sehun ternyata tidak berubah. Fisiknya memang berubah, tapi sifat, ia tetap sama enam belas tahun.
Jongin menjinjit dan mengecup pelan bibir Sehun, "Good Night"
Mata sipit nya terbelalak, memperlihatkan retina coklat hangat itu menyerbu penglihatan Jongin. Sehun bersorak kegirangan, ia memeluk Jongin dan memutarnya di tengah ruangan. Membuat Jongin merasa pusing,
"STOP !"
Jongin kehilangan keseimbangan, semua rasanya terasa berputar. Ia merasa mual akibat putaran tadi.
"Kau Hun enyahlah dari kamarku sebelum aku menendangmu keluar."
Sehun menggerutu pelan melihat perubahan sikap Jongin, "Tadi menciumku, sekarang memarahiku."
.
.
#####
.
.
Jongin sudah berada di tempat tidur, sedangkan Sehun seperti yang di katakan Jongin terpaksa tidur di sofa. Dengan selembar kain tipis bagaimana bisa melepaskan rasa dingin yang begitu menggigit.
Sebelum tidur, Jongin menyempatkan diri membaca novel baru miliknya dengan bantuan lampu meja yang terletak disisi Jongin.
Hujan di luar sana makin berderu kencang, berlomba dengan suara angin yang dapat merontokan nyali manusia. Tirai tebal yang menutupi jendela Jongin pun tidak berhasil mengusir horor yang di akibatkan derasnya hujan dan angin.
Lalu Jongin berpikir tentang Sehun. Bagaimana keadaan namja itu di sofanya ? Apakah ia kedinginan?
Jongin menutup novelnya dan turun dari ranjang hangatnya. Ia berjalan ke arah ruang tv sebelum akhirnya listrik padam. Sepertinya angin berhasil merobohkan salah satu pohon hingga aliras listrik terganggu.
"Hun !" Panggil Jongin panik, "Dimana Kau ?" Jongin mengulurkan tangannya, meraba-raba dalam gelap.
"Disini. Di sofa. Apa yang kau lakukan hah ?"
Jongin tidak menjawab, ia sedang berusaha konsentrasi agar tidak menabrak semua barang-barang yang ada.
"Aliran listrik mati, mungkin karena badai ini." Jongin akhirnya bersuara
"Teruslah bicara biar aku bisa ketempatmu."
"1 , 2, 3, 4, 5, -"
"Ternyata kau disini." Sehun tertawa, "Apa kau punya lilin? Atau apapun yang bisa menjadi sumber cahaya?"
"Aku tidak tahu."
"Ah, Noona. Kau payah sekali. Bagaimana nanti kalau ku jadikan kau istriku."
"Tidak ada hubungan antara lilin dan menjadi istrimu."
"O iya" Sehun terkekeh, "Kau tidak bisa di pancing sedikitpun Noona."
Sehun meraih tangan Jongin dalam kegelapan dan meletakannya di lengan kekarnya. Ia merasakan tangan dingin itu gemetar di kulit Sehun.
"Mungkin di dapur ada Hun."
"Mungkin ? Yang punya apartemen ini kan Kau noona."
"Aku menyesal memberimu tumpangan. Kau tidak membantu sama sekali."
"Tidak apa-apa." Ucap Sehun santai, "asalkan kecupan tadi bukan suatu penyesalan."
"Ouch ! Noona apa-apaan kau?" Sehun mengusap kulitnya yang di cubit oleh Jongin.
"Dasar tukang banyak omong."
Setelah perdebatan yang tidak masuk akal ini, Sehun masih mengulurkan tangannya. Berulang kali kakinya terbentur meja atau lemari yang ada di apartemen itu. Saat Sehun menemukan dapur, ia langsung mencari kompor gas dan menyalakan apinya. Setidaknya masih lebih baik daripada gelap.
Sehun dan Jongin bernafas lega saat melihat cahaya api kompor. Belum pernah dalam hidup mereka menyadari bahwa nyala api begitu indah. Tapi sekaligus berbahaya bila menyentuh kulit.
Sehun membongkar laci lemari dapur, dan akhirnya menemukan sebatang lilin kecil yang menyedihkan. Lilin itu terletak di antara kumpulan kertas alumunium setengah terpakai.
"Aha !" Seru Sehun senang, "Sekarang siapa yang dapat di andalkan."
Jongin yang sedang menghangatkan diri dengan api kompor mau tidak mau harus tersenyum juga. Bagaimanapun juga ekspresi Sehun seperti itu sangat lucu.
Sehun menghidupkan lilin dan menaruhnya di atas piring. Mereka berdua memutuskan untuk duduk di sofa daripada di dapur dengan udara yang menggigit kulit.
"Sini Noona, duduk disampingku." Sehun meletakan lilin di atas meja. Cahayanya yang menari-nari lincah mengaburkan bayang-bayang Jongin yang masih berdiri bersedekap.
"Aish, sini !" Sehun menarik tangan Jongin dan membawanya ke dalam pelukan Sehun.
Jongin menurut. Dinginnya udara dan lampu yang padam membuat Jongin rela berada di pelukan namja itu.
"Hangatkan ?"
Jongin mengangguk. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Sehun, menyembunyikan semburat merah yang seharusnya tidak akan terlihat di dalam gelap seperti ini.
Mungkin karena terbawa suasana yang tenang, Jongin makin erat melingkarkan lengannya di pinggang Sehun.
"Kau rajin berolahraga ?" Tanya Jongin pelan,
"Tentu. Kami meluangkan waktu 2 jam sehari untuk olahraga. Kenapa Kau menanyakannya ?"
"Tidak ada." Jawab Jongin pendek
"Benarkah Noona ? Ayo jujur sajalah." Sehun menggoda Jongin.
"Tidak ada ya tidak ada." Jawab Jongin ketus
Sehun tertawa terbahak-bahak melihat keras kepala Noona cantiknya tidak hilang. Ia hanya malu mengatakan bahwa tubuh Sehun berubah menjadi lebih besar dari tiga tahun lalu.
Jongin menguap. Ia terlalu mengantuk untuk berdebat lagi dengan bocah ini. Ia malah makin merapatkan tubuhnya di dekat Sehun.
Sehun mengambil selimut di dekatnya, dan melingkarkan di atas tubuh mereka. Sehun memeluk Jongin sehingga Jongin tidak terjatuh karena kehilangan kesadaran.
Sebelum Jongin benar-benar memejamkan mata, ia menengadahkan kepalanya dan sekali lagi mengecup bibir Sehun.
"Terima kasih atas kesabaranmu."
Sehun tersenyum. Usahanya selama ini tidak sia-sia.
"Sama-sama cantik, sudah menungguku selama tiga tahun."
Tiba-tiba saja suara angin yang bergemuruh dan derasnya hujan tidak terasa menakutkan lagi bagi Jongin. Bahkan di tengah gelap seperti ini ia merasa berada di kelilingi cahaya.
Cahaya cinta yang hampir saja sempat hilang dari Jongin.
.
.
.
TBC OR END (?)
