Chappie three~chappie thriii~chappie tigaaa…


Story note: Kali ini bukan song fic, karena gak ada lagu yang bener-bener pas menurut saiia. Judulnya nyambung di chappie ini. Dan chap ini itu panjaaang… jadi pastikan waktu anda cukup untuk membaca dan mereview!! (; D) Than,text = inner, text = Flashback, text (center) = song lyrics , text= latar, text = radio

Warning!!! OOC di chapter ini. Don't like, don't read, don't flame. I've warning you! Kritik gak pa-pa, karena saya mengartikan flame sebagai hinaan tanpa koreksi.

Disclaimer: Characters © Masashi Kishimoto, song from radio © Anggun C. Sasmi, dan cerita nya © SAYA!


9 September, Bandara Warsaw…

'Tak ku sangka Sasuke serius! Lumayanlah, jauh-jauh dari SasuSaku. Mana pula yang seharusnya menjemputku?' Naruto menolah-noleh , mencari papan – yang seharusnya – bertuliskan 'WELCOME TO POLAND, MR. NARUTO UZUMAKI'. 'Sudah hampir satu jam.'

Tiba-tiba, pundaknya di tepuk seseorang. Secara spontan, Naruto menoleh. Dan, lelaki berambut panjang-hitam-lurus di padu mata lavender di belakang nya berkata, "Welcome." Kemudian, Naruto di ajak ke tempat parkir, ke hadapan Mercedes hitam mengkilap.

"Masuk lah…" Perintah lelaki berambut hitam itu seraya memanggil petugas bandara di dekat mereka untuk memasukkan koper Naruto ke dalam bagasi.

Dan mobil pun berjalan.

"Jadi… Kamu ya, Uzumaki Naruto?" Lelaki itu berkata datar sambil terus konsentrasi menyetir.

"I-iya…" Naruto menjawab gagap. 'Dingin sekali lelaki ini…'

"Maaf sebelumnya… " Lelaki itu menoleh sedikit. "Supir kami harus mengantar istriku ke konsernya. Penting sekali, jadi… Maaf ya?" Dia sedikit tersenyum. Atau lebih tepatnya, menaikkan ujung bibir kanan nya sedikit.

"Tak apa-apa…" Naruto memandangi tape di dalam mobil itu. Menunjuk nya, dan bertanya "Boleh kunyalakan?"

"Hm…" lelaki itu tetap dingin. Naruto menekan tombol 'power', dan suara dari tape itu berkata:

"Dan ini dia… La Neige Au Sahara, Hyuga Tenten!"

Dis-moi simplement si tu veux de moi,
Quand tu partiras là-bas…
Vers ces dunes sèches de sable et de vent…
Cet océan jaune et blanc…
Perdu dans le desert…
Tu es perdu dans le desert…

"Wow…" Naruto ternganga. "Pas sekali! Tenten adalah salah satu penyanyi idolaku! Bagaimana denganmu?" Naruto menolehi lelaki tu.

Lelaki itu tertawa kecil. "Tenten? Dia istriku."

Naruto menganga semakin lebar. "Jadi kamu Hyuga Neji? Ya ampuuun…"

Neji tersenyum lagi. "Oh ya... Kalau di pikir-pikir, kita belum kenalan secara formal ya? Kenalkan… Aku Hyuga Neji."

"Aku Uzumaki Naruto…" Naruto masih mengagumi suami dari artis jepang idolanya tersebut. Sementara suara lembut Hyuga Tenten terus mengalun menemani perjalanan mereka berdua.

-xXx-

"Jadi." Neji menatap Naruto. "Inilah villa untuk kau tempati." Jari Neji menunjuk ke arah rumah kayu di tengah hutan – atau taman – itu.

Mata Naruto meneliti bagian depan rumah kecil itu. Rumah itu berdinding kayu, dengan sepetak kecil tanah di depannya. Halaman rumah kecil itu simpel, hanya diisi rumput jepang dan dipagari jalinan kayu. Di balik jalinan kayu itu, serumpun calla lily tumbuh subur. Cukup untuk menghiasi sepetak tanah kecil itu.

"Sebentar lagi, mungkin pelayan suruhanku datang." Neji melanjutkan. "Masuklah, lalu istirahat. Nikmatilah liburan mu… Aku pulang dulu."

"Hm…" Naruto hanya mengangguk. Berjalan masuk ke rumah kecil namun ternilai mewah itu. Di dalamnya ternyata ada berbagai macam perabotan yang tak mungkin di beli dengan harga rendah.

Sepeninggalan Neji, Naruto menata pakaian nya, dan berjalan-jalan ke taman. Sampai di bawah pohon besar, sayup-sayup, di tengah hutan itu, dia mendengar denting piano. Dari balik pohon Oak tua itu, Naruto mengintip. Tak di nyana, Naruto melihat pemandangan ajaib. Grand Piano Steinway putih bersih, kontras sekali dengan rambut gadis muda yang sedang memainkan nya, rambut nya itu panjang dan berwarna unik, warna ungu tua yang mendekati hitam. Di sebelah gadis itu, berdiri pria tua yang tersenyum sambil memejamkan matanya, puas akan nada-nada yang di alunkan piano itu, rangkaian melodi di bawah asuhan jemari lentik sang gadis.

"Baiklah Hinata-sama, cukup untuk hari ini." Suara pertama – suara lelaki yang berumur cukup uzur, berat namun riang tanpa beban — membuka percakapan.

"Terima kasih, Orochimaru-sensei…" Suara ke dua ini berbeda – suara gadis muda, pelan namun penuh semangat – menjawab.

"Scherzo in B Minor, Op. 20…" Orochimaru bergumam, "Sangat berkarakter… Kontes Chopin tahun depan pasti akan sukses, nona…"

"Ah, tidak juga sensei… Tadi ada beberapa miss…" Gadis yang bernama Hinata itu tersipu. Semburat merah menyempurnakan wajah putih berhiaskan sepasang mata lavender bening itu.

Naruto tak bergeming. Terpana oleh pesona di tengah hutan berlumut. Hatinya bergetar, jantung nya berdegup kencang. Tak peduli pada kejadian lima bulan yang lalu. Tak peduli pujaan hatinya selama bertahun-tahun, telah mengikat janji dengan sahabatnya sendiri. Hatinya dirayapi perasaan hangat, merontokkan semua kerak es kesedihan di dalamnya.

Setelah sang guru berjalan pergi, Hinata menatap piano putih di hadapannya. Tersenyum kecil, merasa tergoda untuk memainkannya lagi.

"Moonlight sonata…" desis nya. Dan jari-jari nya kembali menari lincah, memainkan melody manis yang membuat pendengar nya merasakan perasaan menyenangkan yang tak tergambarkan. Naruto berdiri diam-diam di belakang gadis itu. Tersenyum, mengagumi gadis telah jatuh cinta pada musik, pada piano. Naruto memandang sayu.

Not terakhir dari balada indah itu telah di selesaikan. Hinata menutup piano putih menakjubkan itu dengan hati-hati, belum menyadari ada seseorang yang sedang mengagumi nya. Hinata menangkupkan tangan, menumpukan kepala pada tangannya, menatap secercah kehangatan matahari yang menyorotnya, seakan melarang pohon Oak raksasa di belakang tubuh nya untuk meneduhi.

Hinata berdiri, meraih tas biru muda nya, dan berbalik, hendak pergi. Tatapan matanya di kejutkan oleh makhluk dari jenis yang paling di bencinya – laki-laki. Satu-satunya lelaki yang dekat dengannya saat ini hanyalah guru piano nya, Orochimaru. Terlalu banyak lelaki yang mematahkan hatinya. Bibir tipisnya berkedut, menyiratkan kebencian spontan.

"Siapa kau?" Hinata menatap Naruto dingin. Tetapi, tanpa menunggu Naruto tersadar dari lamunannya lebih lama, Hinata berjalan pergi. Ke arah jalan setapak yang di pagari pohon ginko biloba yang sedang menarikan dedaunannya di bawah belaian angin. Naruto pun tersadar. Dia berlari, mengejar gadis manis itu, meraih tangannya, menahannya berjalan pergi lebih jauh. Membuat Hinata terkesiap. Teringat pada masa lalu, pada masa di bawah bayang-bayang serpihan hati yang patah…

"Hinata! Kau sudah pulang?" Neji berteriak senang. Menyambut ibu dan adiknya yang baru saja sampai di rumah, sehabis pergi mendaftar kan Hinata di tempat kursus piano terbaik di seluruh Polandia, negara tempat tinggal mereka sekarang, yang baru mereka jumpai sebulan yang lalu. Neji menarik adiknya untuk bermain, sementara ibu mereka tergelak sambil meletakkan tasnya di atas meja. Mengikuti Neji dan Hinata yang berlarian di lapangan.

"Lihat apa yang aku temukan! Pistol mainan yang bagus bukan??" Neji nyengir melihat adik nya menjerit senang. Mereka berlarian, berkejar-kejaran mengelilingi lapangan di belakang rumah mereka, bermain 'polisi-polisian', istilah mereka. Dan hal mengerikan itu terjadi.

Hinoiri Hyuga, ibu mereka, menyadari pistol yang ada di tangan Neji bukanlah mainan. Terkejut, Hinoiri berlari, menghadang peluru yang terlanjur di tembakkan Neji ke arah Hinata. Peluru itu menembus jantung Hinoiri, yang seketika itu juga membunuhnya.

Lapangan luas, hijau, sejuk. Mansion Hyuga, puri utama. Di sini lah, Hinata Hyuga mengalami kepedihan hidupnya yang pertama. Ibunya, yang sangat di cintai dan di sayangi nya terbunuh disini, oleh kakak nya sendiri, Neji Hyuga. Tak sengaja, memang. Tak mungkin Neji tega membunuh ibunya, yang walaupun dia anak adopsi, ibu angkat kesayangannya itu selalu membela nya dari Ayah angkat nya yang tegas dan disiplin. Selalu memperjuangkan haknya sebagai seorang Hyuga untuk berganti bola mata, bola mata putih keunguan, ciri khas seorang Hyuga.

Ibunya, dangan rambut indigo berkilau, terbunuh tanpa sengaja oleh kakak yang sangat memanjakannya. Cukup, sangat cukup, untuk membuat gadis umur lima tahun shock dan menjadi pemurung sekaligus pendiam sepanjang hidupnya.

"Ne-Neji nii-sama?" Hinata kecil menatap Neji muda yang terduduk lemas di samping raga kosong ibu mereka, begelimang darah karena peluru perak yang di tembakkan anak angkat kesayangannya. Dengan pistol hitam mengkilap, bagai mainan anak-anak. Neji meratap. Melangkah terseok ke arah Hinata yang berdiri gemetar. Anak laki-laki kecil itu menggenggam kedua pergelangan tangan adiknya, yang lemas. Merasa bersalah, pada ketiga saudara perempuannya. Yang bersekolah di jepang, yang berumur lima tahun, ataupun yang sedang tertidur di ranjang ayun.

"Aku bersumpah Hinata…" Neji tersengguk. "A-aku tidak bermaksud…" Bibir nya bergetar. Berkata tanpa suara, 'Tak bermaksud membunuh Mama…'

Hinata mengalirkan setetes air mata. Mengagetkan Naruto, membuatnya melepas tangan hinata yang terkuai. Ingatan tentang masa lalu Hinata pun mengalir lagi, memenuhi sel otaknya.

Tangannya di genggam, oleh kekasihnya – mantan kekasih, sebetulnya – yang telah mematahkan hatinya, merobek serpihan-serpihan yang telah dia jahit kembali selama sepuluh tahun.

"Ada apa lagi Mr. Inuzuka? Kenapa meninggalkan Ms. Vidya Franciasca Kryzanowska? Oh, maafkan aku, maksud ku, kenapa meninggalkan Mrs. Vidya Inuzuka sendiri? Bukankah kata orang-orang blasteran Perancis-Polandia adalah makhluk yang memerlukan cinta di setiap helaan nafas mereka?" Setetes air mata Hinata mengalir, di ikuti teman-temannya yang membanjir.

"Hi-Hinata…" Kiba menggenggam tangan Hinata. "Bukan maksudku untuk…"

"APA??! Untuk apa?" Hinata menjerit. "Untuk menciumnya dengan mesra? Kau bahkan belum pernah menciumku!! Tiga tahun, Mr. Inuzuka!! Belum pernah!!"

Hinata mengerjap. Berusaha keluar dari kekangan trauma yang menyayat. Tapi sel otak nya belum mau lepas dari kenangan sedihnya. Sekalipun Hinata sudah bernafas selama dua puluh tiga tahun. Sekalipun ia telah menjalani pelariannya selama delapan belas tahun. Piano. Piano. Piano. Tangga nada minor kesedihannya seakan takkan pernah usai. Terus mengejarnya. Bahkan seminggu yang lalu pun sesorang yang dia percayai dan sayangi, memaksa nya melakukan sesuatu yang tak di ingankannya.

"Hinata…" Ayahnya menatap Hinata penuh sayang.

"Ya Ayah…" Hinata menatap Ayahnya. Dengan pandangan yang biasanya, tegar, dalam ketundukan kepalanya.

"Seperti yang kau ketahui, Hinata…" Hiashi menghela nafas. "Neji berniat membuka usaha sendiri −Neji tak mau mengurus perusahaan sama sekali−, Hinabi memutuskan untuk tinggal di Jepang bersama suaminya −takkan bisa di halangi, kakak mu itu memang egois sejak lahir−, dan Hanabi terpengaruh kakak iparnya, Tenten, terobsesi untuk keliling dunia. Anak ini bahkan sudah mengepak tasnya..."

"Ya ayah, Hinata tahu." Hinata semakin menunduk dalam. Was-was dalam kepura-puraannya. Menakutkan tentu saja, untuk berpura-pura tidak mengetahui bahwa Ayahnya akan menyerahkan satu perusahaan besar dan cabang-cabangnya yang tersebar di penjuru dunia ke pundaknya, bahwa Ayahnya akan menghalangi impiannya, dan bahwa dia adalah satu-satunya harapan ayahnya.

"Pastinya kau juga mengerti…" Hiashi menatap putrinya itu. "Bahwa orang yang mungkin mewarisi Hyuga Property Coorperation tinggal kamu dan kakak mu, Hinabi."

"Hinata mengerti, Ayah…" Hinata menelan ludah.

"Tapi," Hiashi meneruskan. "Hinabi hanya mau mengurus cabang-cabang di Jepang saja. Yang tersisa untuk mengurusi pusat dan cabang lain, hanya kamu."

"…" Hinata terdiam.

"Ayah dan Paman Kabuto akan mengajari mu semua hal tentang bisnis ini. Lalu−"

"Tapi Ayah…" Hinata menyela takut-takut.

"Iya Hinata?" Hiashi berhenti berbicara.

"Hinata juga−Hinata juga mau mendalami piano, Ayah…"

Hiashi mengambil nafas dalam. "Ayah mengerti Hinata. Tapi… Nyawa perusahaan lebih berharga! Lupakan piano, apa guna nya?"

Hiashi tak pernah menyangka, kata-katanya akan sangat melukai hati Hinata. Kemarahan spontan menggelegak dalam hati Hinata. "AYAH! PIANO SUDAH SELAYAKNYA JIWA KU! AKU TAK BISA HIDUP TANPA PIANO, SEPERTI HALNYA AKU TAK BISA HIDUP TANPA JIWA KU!!" Hinata mulai berteriak, mengagetkan Hiashi.

"Hinata…" Hiashi terkejut, apalagi saat menyadari genangan air di mata bening Hinata merebak.

"AKU INGIN BERMAIN PIANO SEUMUR HIDUP KU, AYAH!" Hinata meneruskan teriakannya, "Ayah menerima alasan Hinabi nee-sama, Neji nii-sama, bahkan Hanabi yang masih kecil! Kenapa alasanku tidak? Kenapa tidak yang lain?"

BRAK! Pintu menjeblak terbuka. Mengagetkan Kabuto, sekertaris Hiashi. Hinata berlari ke piano putih kesayangannya. Di bawah pohon ek besar yang teduh..

Hinata berlari ke arah villa putih di ujung deretan pepohonan itu. Villa putih itu tergolong mewah. Bangunan itu besar, bersih, dan cantik bukan main. Kolam bening dengan ikan koi dan bunga teratai, pohon kamboja putih berukuran sedang yang teduh, sampai berumpun-rumpun bunga dari berbagai jenis, menghiasi taman cantik nan mewah yang di alasi oleh rumput jepang itu. Dari sudut kanan di sebelah bangunan utama bunga matahari tumbuh tinggi, besar, kuning, dan berkilau, membuat taman itu seperti memiliki banyak matahari yang terbit bersamaan, di antara kaki-kaki bunga matahari yang tampak agung, bunga Poppy yang berwarna merah terang, berdampingan dengan bunga Cosmos yang tumbuh rendah, dengan warna kuning yang terangnya menyaingi warna bunga matahari yang tumbuh tinggi di atasnya, terangkai manis dengan mawar yang tumbuh rendah.. Dari situ, berderet Calla lily putih, pink, dan ungu tua segaris sampai ke rumpunan Casablanca lily, bunga favorit Hinata, yang sengaja di tanam di sebelah Pintu Utama Villa itu. Dari Casablanca di sisi satunya, berderet lagi Calla lily, yang berujung semak besar Hidrangea biru dan ungu. Dan masih banyak bunga lain yang tak kalah cantik nya, seperti bunga Pansy dengan semburat ungu nya, atau Snow drops yang cantik di pinggir jalan setapak, Tulip dari berbagai warna, Tistle yang bergelantungan bagai lonceng, anggrek-anggrek, dari anggrek bulan yang paling umum sampai Dendrobium Phalaenopsis yang paling langka, menghiasi taman itu. Sementara kita memperhatikan taman cantik itu, ternyata Naruto sudah tak kuasa menahan diri untuk tidak mengejar Hinata.

Hinata terduduk di samping kolam, dibawah pohon kamboja putih. Membenamkan wajah ke tangannya, meluapkan semua kesedihan dan depresinya. Mencoba bertahan, berusaha tegar dan menguatkan tekad. Untuk? Untuk memenangkan kontes Chopin.

"Hinata…" Hiashi meremas pundak putri kesayangannya.

"…" Hinata hanya terdiam sambil menahan isakannya.

"Hmfh…" Hiashi menghela nafas panjang "Begini saja. Kamu tahu kontes Chopin? Yang di adakan tahun depan?"

Hinata meneryit. Terlalu heran untuk terisak lagi. "Te-tentu saja ayah…"

"Kalau kamu masuk ke final kontes itu, perusahaan akan dibagi rata. Tanpa memandang alasan saudara-saudara mu." Pernyataan ayahnya membuat Hinata terkesiap. Ekspresinya tak terbaca, dan Hiashi salah mengartikannya.

Hiashi tersenyum. "Dan kalau kamu benar-benar memenangkan kontes itudengan begitu, kamu bisa mengurus nya di belakang meja, karena kalau kamu memenangkan kontes itu, bagian mu takkan sampai setengah dari bagian saudara mu yang lain."

Hinata terkejut. Wajah nya terlihat ketakutan. "A-ayah… Aku tak pernah memainkan Chopin… Mozart dan Beethoven lah yang selalu kumainkan… Dan−dan kontes itu di adakan Oktober depan, Ayah! Setahun takkan cukup… Ku mohon, Ayah, biarkan aku mengikuti kontes lain, ayah!"

Hiashi menyadari kesalahan nya dalam mengartikan ekspresi Hinata tadi. Mengetahui itu, wajah Hiashi mengeras. "Tidak. Harus Chopin."

Hiashi berbalik. Meninggalkan Hinata yang mulai mengalirkan air mata lagi. Ia tak tahu, bahwa Hinata tidak mengerti bahwa alasan ibu nya, Hinoiri, mengenalkan piano pada Hinata pada umur empat tahun, kenapa Hinata harus mengenal Polandia di umur lima tahun, adalah untuk memenangkan kontes Chopin, karena ibunya sangat, sangat amat, mengagumi Frédéric François Chopin.


HUAA!!! CHAPTER PANJANG PENUH FLASH BAAACK!!! ENAM HALAMAN MS. WORD SODARA-SODARAA!!

Oh, sudahlah. Jadi? Gimana? Gimana? Sudah lebih baik? Sudah mengerti maksud judul fic ini? klo belum ngerti tentang chopin-chopin an... well, buka aja wikipedia. cari: Chopin. Hoho… btw, yang OOC itu Hinata, Orochimaru sama Kabuto. Ngerti kan? Oia, di chapter depan, Hinata akan ngomong pnjang lebar sama Naruto… tapi chap 4 masih lama. perlu banyak riset dan ide...

Jadi, tetap review truzz… untuk menyemangati saya!!! Klik kotak hijau di bawah ini!!! (=D)

ll

_ll_

V