HOHOHOO! Chappie 4!

Tak menyangkaa… Padahal biasanya di chap 2 hiatus!! Hohoo…

Kerangka cerita benar-benar membantuu…

oiah, ini abis di edit! cuma satu part kok... ^^ gak begitu ngaruh...

Story note: Song fic, salah satu lagu favorit saya, yang bener-bener pas sama chapter ini. Dan chap ini itu panjaaang… jadi pastikan waktu anda cukup untuk membaca dan mereview!! (; D) Than,text = inner, text= latar, text =

Warning!!! Masih OOC di chapter ini. Tambah OOC malah. Dan, Character-death. Satu. Ciailaah… Don't like, don't read, don't flame. I've warned you! Kritik gak pa-pa, karena saya mengartikan flame sebagai hinaan tanpa koreksi.

Disclaimer: Characters © Masashi Kishimoto, song © kakak saya, David Archuleta, dan cerita nya © SAYA!


9 September, White Villa, Calla Alley, Hyuga's Garden Park…

Naruto menghampiri Hinata yang menangis di samping kolam di depan villa putih itu. Menepuk punggungnya lembut. Namun, selembut itu pun sudah mengagetkan Hinata.

"GYA!! Go away you, SILLY!!" Hinata berbalik, menjerit, dan menampar Naruto seketika itu juga.

Tak menyerah, Naruto menahan Hinata dengan tangannya. "Calm down, Mistress, I'm just wanna know you!"

Tak disangka, Hinata tiba-tiba menangis dan menjerit dengan kerasnya. "SHUT UP! −NO BODY EVER KNOWS ME!!"

"Calm down… Take a breath, it's all ok…" Naruto hanya bisa merengkuh tangan putih yang lembut itu.

x-X-x

Wood Pub, Main street, Hyuga's Garden Park…

"Feel better?" Naruto tesenyum pada Hinata, sambil mengulurkan teh hangat dari dapur villa kayu kecil nya.

Hinata sedikit tersipu dan mengangguk.

"So… You ready to tell me your name?" Naruto tersenyum lagi.

Hinata pun mengangkat wajahnya, mengulurkan tangannya yang ternyata juga memerah−entah karena ikut malu, atau karena tadi menampar Naruto dengan keras−, "Hinata… Hyuga Hinata."

"Wao. Nama jepang." Naruto langsung mengalih bahasa nya ke bahasa Jepang 'Tentu saja, baka. Tadi dia ngomong sama gurunya kan pakai bahasa Jepang!! Kenapa baru sadar ya?'Naruto tersenyum menyambut tangan halus itu dengan riang, "Naruto. Uzumaki Naruto."

Suasana aneh menyusup. Hening, seakan banyak kata yang ingin di katakan seperti tersumbat dalam tenggorokan masing-masing. Seseorang dari mereka harus memecah keheningan yang meragukan ini. Dan Naruto melakukannya.

"Hinata-san.." Naruto bergumam.

"Ya, Uzumaki-sama?" Jawaban Hinata yang datar membuat perut Naruto melilit aneh, namun serasa di siram air bening yang sejuk. 'Uzumaki- sama' adalah panggilan terhormatnya yang pertama, dan dia mendapatkannya dari gadis yang menamparnya dengan cukup keras tiga puluh menit yang lalu.

"A-ano…" Naruto melrik Hinata, yang sedang menatap cangkir tehnya, "Panggil Naruto saja…"

"Ba-baik." Hinata tergagap, gugup. Tentu saja, karena selama ini, laki-laki yang di percayainya hanya guru pianonya. Kau juga akan gugup, kalau kau di minta memanggil seseorang dari 'jenis' yang kamu benci dengan nama depannya. "Na-naruto-san…"

Ke duanya terdiam lagi.

"Naruto san, ta-tadi kamu mau tanya apa?" hinata meletakkan cangkirnya, dan menatap Naruto.

"Ti-tidak penting." Naruto seperti tertular gagap dari hinata.

"Ayolah, apa?" Hinata sedikit tersenyum. Mungkin pemuda aneh ini bisa menjadi teman pertamanya, karena sejak Vidya mengkhianatinya, Hinata menutup diri serapat-rapatnya.

"Sudahlah." Naruto memasang wajah pasrah.

"Hahaha…." Hinata menertawakan Naruto. 'Aneh ya… Kenapa aku gampang banget percaya sama cowok ini? How ever… He have something. I'm sure.'

"O iya, aku belum pernah melihatmu di sini. Baru pindah?" Hinata bertanya.

"Hanya untuk liburan. Paling seminggu. Aku juga masih sibuk mengurus pencalonan hokage soalnya…" Naruto tersenyum.

"Kamu panitia? Pasti repot banget…" Hinata tersenyum prihatin.

"Yeah…" pipi Naruto bersemu merah "Sebetulnya aku salah satu kandidat nya... Karena kandidat aslinya pensiun, aku disuruh menggantikan−jadi ya… Apa boleh buat?"

"Waow…" Hinata terbelalak "Congrat, boy…"

"Congrat, man" Naruto memberengut, "Sudah 23 tahun, tapi semuanya masih menganggapku kecil…"

Hinata terkikik. "Untuk calon hokage, kamu memang masih kecil, bodoh!"

"Aku juga heran, kenapa aku yang di pilih…" ekspresi Naruto langsung berubah, "Padahal ada Sai-kun dan Itachi-san…"

"Tunggu." Hinata mengeryit curiga. "Kau mengenal Itachi-san? Uchiha Itachi?"

"Yeah…?" Naruto ikut mengeryit, keheranan.

"DIA IPARKU TAHU!" Hinata tertawa keras dan melompat heboh. "Kakak ku, Hinabi, adalah Istrinya…" Hinata berusaha mengendalikan diri. Salah satu sifat nya yang terkubur, tertawa keras dan senag saat tahu seseorang mengenali kerabatnya, muncul kepermukaan.

"YANG BENAR SAJA!!" Naruto ikut tertawa keras. "Kebetulan yang menakjubkan!! Adiknya adalah sahabat dekatku!"

Hinata terkikik. "Sungguh hal yang menakjubkan, kebetulan yang unik…"

x-X-x

Mereka melenggang pergi, berdua, berjalan pelan, tenang. Meninggalkan villa kayu yang di tempati naru. Melalui setapak dengan pinggiran hijau putih subur. Rumpunan Calla Lyli, putih kekuningan, cantik dan bersih…

Berjalan di pinggir danau yang seperti kaca, biru, bening. Di permukaannya, mengapung dua manusia yang sering tersakiti diatas sampan putih, dan Angsa putih, abu-abu, bahkan hitam. Anggun menakjubkan…

Menyaksikan mereka, dua remaja yang merajut persahabat, mengaitkan jiwa yang sama-sama pernah di patahkan dengan kejam..

x-X-x

14 September, Piano Area, Oak Centre…

Dibawah desiran angin, applause kecil meriah bergema pelan di bawah pohon oak, yang terletak tepat di tengah Hyuga's Garden Park. Menyelamati seorang gadis cantik yang duduk dihadapan Steinway's Grand Piano putih. Baru saja menyelesaikan Scherzo in Bb Minor, Op. 31, yang unik dan jenaka.

"WAW! Amazing…" Orochimaru tersenyum lebar.

"Lebih bagus dari kemarin!" Naruto menambahkan.

"…" Hinata tersenyum.

"O, yeah…" Orochimaru melirik arlojinya. "Kurasa cukup, Hinata, aku harus pergi…"

Orochimaru mengenakan mantelnya, "'Mat Siang…"

"Mau jalan lagi?" tanya Naruto pada Hinata, begitu Orochimaru menghilang dari pandangan mereka.

"Okeey…" Hinata tersenyum menyambutnya. "Sudah ke rumpun tulip api?"

x-X-x

"Mau teruskan cerita tadi?" Naruto bertanya pelan, sambil berjalan menyusuri jalan telapak −yang di samping jalan itu, tumbuh berumpun-rumpun bunga tulip berkelopak runcing, berwarna merah-oranye. Membuatmu teringat akan api yang menyala di atas lilin hijau kecil.

"Yang mana? Ah, ya… Yang itu…" Hinata menerawang.

"Yang cerita… em… Sepeninggalan ibu mu?" Naruto bertanya lagi, dengan sedikit keraguan.

"Ya seperti itu…" Hinata terdiam sebentar, "Neji-nii-san jadi pendiam, aku… Ya begitu lah…"

"Ngomong-ngomong, bagaimana Neji-nii-san bisa mengenal Tenten-san?"

"Omiai [1]… Well, yang jelas itu kejadian paling lucu yang pernah kulihat…" Hinata terkikik. "Kau juga akan berpendapat sama kalau menyaksikan Neji-nii-sama dan Tenten-nee-sama blushing karena sok tau mengenai hobi masing masing…"

"Hah? Memang kenapa?" Naruto mengeryit.

"Kau tahu, Tenten-nee-sama suka opera, dan Neji-nii-sama suka polo. Mereka saling gak mengerti tentang hobi satu sama lain." Hinata tersenyum simpul. "Tepat setelah Tenten-nee-sama bilang kalau dia suka opera, Neji –nii-sama lalu dengan jaim-nya menimpali: 'Angelina Jolie keren sekali waktu main di opera Alexander. Kau nonton?'. Tenten-nee-sama langsung meledak tertawa. 'Ya ampun, 'Alexander' itu kan film!' begitu katanya. Kami-sama, dasar sok tahuu…" mereka berdua tertawa renyah.

x-X-x

15 September, White Villa, Calla Alley, Hyuga's Garden Park…

"I hung up the phone tonight,

Something happened for the first time, deep inside,

It was rush, what a rush…

Cause the possibility,

That you would ever feel the same way, about me,

It's just too much, just too much

Why do I keep running from the truth?

All I ever think about is you…

You got me hypnotized, so mesmerized, and I just got to know…

"

'Eh? Lagu ini keren banget…'Hinata duduk sendiri di beranda kamarnya. Mendengarkan lagu-lagu baru besutan kakak iparnya. Kali ini aliran mellow, dengan judul album; 'Memorabilia'. Suasana sore yang sendu dan damai benar-benar pas.

"Do you ever think, when you're all alone,

All that we could be, Where this thing could go?

Am I crazy or falling in love?

Is it real or just another crush?

Do you catch a breath, when I look at you?

Are you holding back, like the way I do?

Cause I'm trying, trying to walk away…

But I know this crush ain't goin away, goin away…"

Hinata mengutatkan headset ke telinganya.

"Has it ever crossed your mind when we were hanging?

Spending time boy, are we just friends?

Is there more, is there more?

See it's a chance we've gotta take,

Cause I believe we can make this into…

Something that will last, last forever, forever…"

'Some how…' Hinata menganga.

BRAK!

"MISTRESS! MISTRESS!!" seseorang berlari ke kamar Hinata, membanting kedua daun pintu nya. Hinata terbangun kaget.

"Ada apa Tayuya?" Hinata merapikan headsetnya. "Pelan-pelan saja! Nah." Hinata melipat lengannya. "Ada apa?"

"Maaf Mistress…" Tayuya membungkuk, "Na-naruto-sama Mistress…"

Hinata mengangkat sebelah alisnya, "Ada apa?"

"Tsunade-sama, Hokage yang sekarang, meninggal semalam—Tuan Hiashi sudah berangkat melayat— da-dan…" Tayuya berkata terburu-buru, "Naruto-sama di paksa pulang oleh agen konoha!"

Hinata terpaku.

x-X-x

Hyuga's Private Airport...

'Terlambat.' Hinata terduduk. Merasa sesuatu yang berharga untuk nya terenggut. Lagi.


[1] Omiai: perjodohan ala jepang, dimana kedua calon di biarkan mengobrol, di saksikan wakil dari masing-masing keluarga.

HUAA!!! ANEH-ANEH-ANEH-ANEH!!! EMPAT HALAMAN MS. WORD GAJE SODARA-SODARAA!!

Gajeeeeh... Di edit pun tetep aja… GAJE!! Namanya juga di edit 1 part… (X[ )

Jadi? Gimana? Gimana? Hoho… oia, di chapter depan, kayaknya bakal lompat setaun…

Jadi, tetap review truzz… Untuk memberi saya saraaan!!! Menerima REQUEST ENDING!! Klik kotak hijau di bawah ini!!! (=D)

ll

_ll_

V