Chap 5:
GYAA!! Chappie 5!
Hidup kerangka ceritaa!!!
Story note: Song fic, seperti chapterlalu, alunan lagu dalam ceritanya real. Dan chap ini itu panjaaang… uah, full romance! Terpengaruh Titanic… Jadi pastikan waktu anda cukup untuk membaca dan mereview!! (; D) Than,text = inner, text= latar.
Warning!!! Masih OOC di chapter ini. Tambah OOC malah. Dan, Characterdie. Satu. Ciailaah… Don't like, don't read, don't flame. I've warning you! Kritik gak pa-pa, karena saya mengartikan flame sebagai hinaan tanpa koreksi.
Disclaimer: Characters © Masashi Kishimoto, song © kakak saya yang lain, Avril Lavigne, dan cerita nya © SAYA!
X*--Chopin, Forest, and Melody--*X
"The tone tells story…"
Chapter 5
X*----------------------------------*X
[sehari setelah Naruto pergi]
Hinata POV
Entah apa yang membuat kakiku melangkah ke wood pub. Kurasa… Naruto mungkin meninggalkan sesuatu, kalau mengingat kepergiannya yang buru-buru. Siapa tahu bisa kuambil untuk souvenir. Haha…
And here is. Wood Pub. Aroma kayu Jati berpelitur dari pagarnya... wangi daun rumput jepang… warna putih calla lily yang bersih… Suara kepakan kumbang dari balik daun nya…
Ku buka Pintu pagar kayu itu. Menyusuri halaman simple nya. membuka pintu. Ah, untung aja gak dikunci. Tapi sepertinya sudah di bersihkan.
Well… let's find something out…
Hm. Naruto meninggalkan novelnya di sini. Kuraih buku tebal itu, ku tatap sampulnya. 'Wanted' . Ini novel favorit Naruto kan? Tentang seorang pria dewasa yang mencari siapa yang membuatnya terlahir di dunia ini…
Sepertinya menarik. Kubaca saja. Ah, ada sobekan kertas kecil di dalamnya. Sobekan note book naruto.
Kubuka lipatan kertas itu. Ku baca.
'Untuk Hinata,
Maaf aku datang tiba-tiba, juga pergi tiba-tiba. Aku pasti merepotkan mu. Ini karena ada berita emergency tentang kesehatan Godaime. Kurasa kau tidak tahu hukum Konoha, yang mengharuskan pemimpin Konoha memilih pengisi kekosongan saat sakit. Dan aku di pilih oleh Nona Tsunade, Godaime. Sampai pemilihan Rokudaime selesai dan beres, aku harus menggantikan Tsunade. Maaf ya… Terima kasih sudah mau mengajakku jalan-jalan di Polandia. Itu menyenangkan sekali. Maaf ya, semoga kita bisa bertemu lagi. Maaf dan terimakasih…
Naruto.'
…
Bahkan dalam hati pun aku tak bisa berkata apa-apa. Ah… Kami-sama… Aku nangis? Sejak tadi? Apa yang terjadi padaku? Rasa kehilangan? Lebih besar… dari sebelumnya?
-X-x-X-
Oktober.
-x-X-x-
November.
-x-X-x-
Desember.
-x-X-x-
Januari.
-x-X-x-
Februari.
-x-X-x-
17 Maret, Music University of Chopin
"Hinata-sama?" Seorang wanita cantik berambut pink tua yang di gelung ala maid[1] memanggil ku, gadis yang berambut indigo sepundak, dengan style poni jepang. Rambut yang pendek memang lebih ringan. Kurasa keputusanku untuk memotong rambut sebulan yang lalu tepat.
"Ah, Tayuya." Aku menjawab panggilannya.
"Saya sudah mendapat formulir nya, anda tinggal mengisi dan menyampirkan surat rekomendasi…" Tayuya menyerahkan sebuah map biru.
"Ah, ya. Terima kasih sudah mengantre untukku, Tayuya." Hinata tersenyum.
"My pleasure…" Senyum Tayuya seraya mengikuti nona-nya ke Bentley warna black-silver di depan Universitas tersebut.
-x-X-x-
"Hinata-sama…" kudengar Tayuya memanggilku.
"Ahaha, Tayuya! Panggil Hinata saja, tak pa pa…" Aku tertawa. Dengan begini, tak kan ada yang sadar kalau aku punya 'luka lama'. Well. Banyak luka lama. Ahaha...
"A-aku… aku tahu kamu masih sedih… tentang Kepergian Naruto-san…" aku terkesiap. Tayuya tak pernah membahas ini sebelumnya.
"Hah?" adalah satu-satunya yang bisa ku katakan.
"Nona…" Tayuya menatap ku dengan tatapan memohonnya. Tatapan yang paling ku benci.
"Talking I Pod." Lanjutnya. Tangan kanannya menengadah meminta 'itu'. I Pod berwarna perak. Sebut judul lagu apa saja yang ada di muka bumi, dan aku akan menemukannya di I Pod ini.
Dia memilih sebuah lagu. Sebuah lagu dengan opening yang melankolis, sangat melankolis.
I always needed time on my own…
I never thought I'd, need you there when I cry…
And the days feel like years, when I'm alone…
And the bed where you lie, is made up on your side…
When you walk away, I count the steps that you take…
Do you see how much I need you right now…?
When you're gone,
The pieces of my heart are missing you…
When you're gone,
The face I came to know is missing too…
When you're gone,
The words I need to hear to always get me through the day, and make it ok…
I miss you…
Aku terpaku. Lagu dari I Pod berhenti, paused oleh Tayuya.
"Aku tahu, kamu merindukan Naruto –sama." Tayuya menghela nafas. "Berhentilah merindukannya. Kembalikan Hinata-sama ku yang selalu tersenyum tanpa beban, sekalipun ada gunungan masalah di pundaknya."
Aku mendongak menatapnya, setengah terbelalak. Lebih terkejut lagi melihat matanya−yang berkilau oleh air mata. Tayuya wanita yang tegar, sekalipun dia adalah seorang janda muda. Dan aku masih jelas mengingat, dua kali aku melihat matanya seperti itu selama dia menjadi pengurusku selama 15 tahun ini. Saat kabar kematian Kimimaru-san, suaminya, datang –namun, saat pemakamannya dia tidak menangis. Sama sekali tidak− dan… yah, sekalipun aku tak mau mengingat alasan yang terakhir, tapi toh aku ingat efeknya. Efek paling menyenangkan, selama 10 tahun terakhir. Saat aku menangis di pangkuan nya –karena masalah 'Kiba'−, dia memelukku, hangat. Seperti Ibu.
Flashback
"A-ada apa Hinata-sama?" Tayuya terkejut melihatku datang ke villa, menangis, tersengguk.
"Ti-tidak apa apa…" aku masih tersengguk, sambil menyeka air mata ku.
Dia menatap mataku. Menerobos sampai ke dasar hati ku. Membuatku merasa di telanjangi. Dia tahu, pasti dia akan tahu apa yang terjadi. Aku menghindari tatapan matanya. Tapi, aku segera menatapnya lagi. Aku menangkap cahaya, pantulan cahaya, di matanya. Air mata kah?
"Hinata-sama… tentang Kiba dan nona Kryzanowska kah?" dia menatapku lebih dalam, " Berhentilah memikirkan ini. Kembalikan Hinata-sama ku yang selalu tersenyum tanpa beban, sekalipun ada gunungan masalah di pundaknya." dia merengkuh ku kedalam pelukannya. Kehangatan seorang Ibu, wangi seorang Ibu, belaian seorang Ibu… Ini lah pelukan Ibu…
Serasa sosok Tayuya berubah. Rambutnya menggelap, hitam kebiruan. Kulitnya menjadi lebih pucat, seperti boneka porselin. Tubuhku mengecil, kembali menjadi sosok gadis kecil. Ibu, mama…
Seperti saat ini. Persis.
"A-aku…" air mataku menggenang dengan cepat. "Tak bisa…"
Air mataku menetes, mengalir.
"Tak bisa, Tayuya-san, tak bisa…" aku bahkan tak tahu, apa yang sebenarnya membuatku menangis. 'tidak seperti saat itu…'
"Pergi ke Jepang. Pergilah ke Jepang, kalau itu bisa menghentikan airmata mu." Tayuya merengkuhku ke dalam pelukannya.
Pelukan hangatnya.
"Am I crazy or falling in love…?"
[1] gelungan ala maid itu seperti yang di manga 'Emma'. Kayak Emma nya itu! Uwah, mbayangin Tayuya di gituin rambutnya, kawaii bangeeet! XD
HOHOHO. Maaf, saya lama sekali ngapdet nyaaa… Maaf juga, karena, FOR GOD SHAKE!, pendek bangeeet... ToT
Karenaa…. Sibuk. Gak ada ide. Males.
Percaya ato gak, aku mengubah plotnya sampe 8 kali-an.
Tapi, tetap review truzz… Untuk memberi saya saraaan!! Beri saya idee!!! BERI REQUEST ENDING!! Dengan klik kotak hijau di bawah ini!!! (=D) –di gampar karena promosi aneh-aneh-
ll
_ll_
V
