Title : All The Wrong Reason

Author : Cici

Genre : Romance, hurt, family, comfort, cheating, backstreet

Main Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong (Yunjae)

Sub Cast : Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Hyun Joong, Kim Karam. lainnya akan muncul satu-satu

Rating : M

Lenght : Chaptered

Warning : Yaoi, maleXmale, alur lambat bingit

Disclaimer :

Cerita ini terinpirasi dari novel dengan judul yang sama karya Jerileekaye. Cerita ini aku buat versi Yunjae. Sebisa mungkin sesuai dengan keadaan fanfic yunjae sebagaimana mestinya. Aku juga membuat cerita ini yang notabene cerita "straight" menjadi "yaoi". Jadi tidak ada genderswitch, karena kalau dengan fanfic aku lebih suka "yaoi".

Alur cerita lambat, karena akan menerangkan segala sesuatunya secara mendetail. Ada adegan yang diperuntukkan bagi dewasa (NC-21). Cerita dikondisikan adanya toleransi penuh kepada sesama jenis menjalin kasih di Korea Selatan. (gay lumrah lah...) ada "seme" dan "uke" Hubungan "bi" sudah biasa terjadi.

Apabila penasaran dengan alur ceritanya bisa membaca novel aslinya di Wattpad. Dan bila penasaran dengan versi yunjae dan yaoi diharap sabar menunggu. Bagi yang tidak berkenan dengan yang saya tulis, wajib jangan dibaca! Simpel.

Sub title : Break the rules, it's show time

Suatu hari Jaejoong mendapatkan panggilan dari eommanya. Hal yang jarang dilakukan sang eomma.

"Yeoboseyo..."

"Jae, ini eomma." Sahut eommanya diseberang telepon.

"Ne eomma... apa kabar?" Jaejoong bertanya dengan nada riang. Setiap kali ia mendapatkan telepon dari eommanya sebisa mungkin ia menyambutnya dengan nada paling ceria. Ia melakukannya sebagai bentuk pertahanan diri. Karena setiap kali ia mengakhiri pembicaraan telepon dengan eommanya moodnya menjadi suram.

"Sangat baik, nak! kabar eomma sangat baik... kamu tau nak, Karam diterima masuk Tokyo University. Ia akan belajar di bidang kedokteran. Sama dengan Hyun Joong. Masuk jurusan kedokteran di universitas ternama tidaklah mudah. Harus super pintar dan jeli untuk dapat diterima. Dan adikmu mendapatkannya! Daebak! Eomma bangga pada adikmu." Cerocos sang eomma.

"Itu luar biasa eomma. Itu akan menjadi pijakan yang bagus untuk karir Karam." Komentar Jaejoong menyetujui.

"Ya, tapi eomma mengkhawatirkanmu nak. Tidak seperti Karam yang sudah jelas akan mempunyai masa depan yang cerah. Eomma percaya ia akan suksses kelak." Jaejoong mengernyitkan dahinya, ia tau pembicaraan ini akan membuatnya muak. "Bagaimana denganmu, apa kau tak berfikir ulang tentang apa yang kau kerjakan sekarang? Maksud eomma, menulis bisa dilakukan kapan saja, dimana saja. Tetapi tidak untuk dijadikan karirmu di masa depan. Itu Tidak akan banyak menghasilkan." Lanjut sang eomma.

Jaejoong mendesah kecewa. Dia terlalu sering membahas hal ini dengan eommanya. Dan selalu, eomma hanya menekannya, tidak pernah memahaminya.

"Jangan karena Karam adalah yang terpintar di keluarga, kau jadi patah harapan untuk masa depanmu. Jae, setidaknya kamu harus menjadi manager di suatu perusahaan. Atau kau bisa mengambil salah satu bidang broadcast.

Jaejoong hanya terdiam, membiarkan eomma berbicara sesukanya.

"Setiap kali teman eomma menyanyakan tentangmu, eomma mengatakan kau berkeliling Seoul membuat artikel tentang restoran, cafe, bar dan kau dibayar dari setiap kata yang kau tulis."

Jaejoong memutar matanya bosan. Berapa kali lagi ia harus menjelaskan hal ini? "Eomma, apa yang kulakukan baik-baik saja. Dan aku tidak dibayar per kata yang kutulis di pekerjaanku. Faktaknya, aku menghasilkan banyak sekarang." Jaejoong membela dirinya. Demi Tuhan, dia menyukai dan bangga dengan pekerjaannya. Walaupun orangtuanya tidak pernah memandang itu layak. Bagi mereka, menulis pada sebuah majalah bukan sebuah karir.

"Oke, kau boleh membanggakan apartemen yang kau beli. Tapi itu hanya sementara. Pekerjaanmu tidak stabil. Eomma tidak bisa berhenti berfikir apa yang akan kau lakukan sepuluh tahun mendatang. Bagaimana kalau majalah itu tidak lagi diminati? Dan eomma ingin orangtua Hyun Joong mempunyai menantu yang dapat dibanggakan. Jika kamu mempunyai sesuatu yang membanggakan seperti yang dimiliki Karam. Eomma tidak akan malu berhadapan dengan mertuamu."

"Eomma, aku harus pergi. Aku ada meeting dan ini sudah terlambat." Jaejoong hampir tersedak dengan kata-katanya. Apa yang didengarnya terlalu memuakkan. Air mata hampir menetes dipelupuk matanya. Walaupun ia namja, perasaanya sangat sensitif.

"Arrasseo nak, senang bisa berbicara denganmu. Hubungi Karam beberapa hari lagi. Berikan selamat padanya. Dan eomma yakin Hyun Joong dapat menjaga dan membimbing Karam. Goodbye." Eomma Jaejoong memutuskan telepon.

Tak ada gunanya menahan air mata setelah eommanya mengakhiri pembicaraan. Selama hidupnya ia melakukan pembuktian untuk memenangkan hati sang eomma dan mendapat perhatian darinya. Tetapi, ia tidak pernah mendapatkan sedikitpun walau ia telah berjuang keras. Sebenarnya ia tidak ingin berkompetisi dengan adiknya. Itu sesuatu yang salah. Tetapi keadaan memaksanya begitu.

Jaejoong menekan nomor Hyun Joong diponselnya.

"Yeoboseyo Jay, darling ... kau sudah dengar berita? Karam diterima di Tokyo University. Sangat luar biasa! Aku jadi mempunyai teman disini. Aku sangat bangga padanya." Cerocos Hyun Joong sama seperti eommanya tadi.

"Yeah, aku sudah mendengarnya." Jawab Jaejoong singkat.

"Orangtuaku sangat terkejut. Mereka tidak menyangka Karam pintar sehingga bisa masuk universitas yang sama denganku. Mereka selalu berkata betapa beruntungnya seseorang yang menjadi kekasih Karam."

Jaejoong menghela nafas dalam. Dia tidak tau apakah dia merasa cemburu atau malu sekarang. Setelah beberapa detik, ia memutuskan ia merasa cemburu.

"Hyun Joong apa kau mengharapkan Karam adalah kekasihmu daripada aku?"

Hyun Joong terdiam sejenak.

Apakah sulit menjawab pertanyaan itu tanpa berfikir? Jaejoong mendesah kecewa.

Akhirnya Hyunjoong berkata, "Apa yang kau bicarakan, Kim Jaejoong? Apa kau cemburu pada Karam? Sebab, ia mendapatkan perhatian lebih dan kau tidak? Jika benar, jangan menyalahkanku. Bukan kesalahanku bila adikmu melakukan suatu yang luar biasa dan mungkin ia akan mendapatkan karir yang cemerlang daripadamu. Apa maksudnya pertanyaan seperti itu?"

"Aku hanya bertanya, Hyun Joong. Aku hanya merasa kau tidak pernah memandang hal baik dalam diriku." Argumen Jaejoong.

"Aku mencintaimu, darl. Tetapi bila kau mau kejujuranku sebenarnya, ya. Aku tidak bangga dengan karir yang kau pilih sekarang ini. Aku merasa kau harus melakukan yang lebih. Itulah, aku mengatakan yang sebenarnya."

Jaejoong terpaku mendengar penuturan kekasihnya. Ia tidak dapat mengeluarkan satu katapun. Hatinya seperti diremas. Air mata mengalir deras membasahi pipinya dalam diam.

Dia mendengar Hyun Joong menghela nafas dalam. Kemudian berkata "Aku akan berbicara padamu apabila kau sudah memperbaiki pikiranmu. I love you, darl."

Kemudian, Hyun Joong menutup teleponnya.

Jaejoong masih berdiri ditempatnya terdiam, tidak dapat berkata apapun. Ia ingin melemparkan ponsel yang digenggamnya ke tembok agar hancur berkeping-keping. Tidak ada satupun orang yang menghargai dirinya.

Jaejoong menjadikan Hyun Joong kekasihnya karena pasti akan membuat eommanya bahagia. Sekarang, ia berdiri di tengah ruang tamu bertanya pada diri sendiri. Benarkah ia menyukai Hyun Joong dan menjadikannya kekasih karena ia menemukan Hyun Joong menarik, baik dan menyenangkan? Apakah namja seperti Hyun Joong memenuhi syarat tipe pria ideanya? Atau yang paling benar, apakah ia menjadikan Hyun Joong kekasih karena akan membuat eomma bangga padanya?

Sekarang, Jaejoong tersadar dia tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat dirinya bahagia. Ia selalu mengutamakan kebahagiaan orang-orang disekitarnya. Orang-orang yang bahkan terlalu dangkal untu menyadarinya. Semua usaha untuk menyenangkan mereka hanya sia-sia. Mereka tidak pernah memandang baik dirinya.

Dia memandang bayangan dirinya dikaca. Mengenakan sweater panjang yang tebal, kebesaran dan celana kain. Rambutnya yang ia sisir terlalu rapi. Kacamata besar yang selalu bertengger di hidung mancungnya. Akankah ia akan menunjukkan dirinya yang sebenarnya?

Jaejoong memandang tas yang berisikan baju yang diberikan bosnya, Kim Heechul tadi. Ia diperintahkan untuk membuat artikel tentang Mirotic club yang baru dibuka. Dan ia harus terjun secara langsung mengamati suasana club itu. Bossnya dengan senang hati memberikan pakaian mahal kepada Jaejoong demi menunjang penampilannya mengobservasi club tersebut.

Jaejoong memandang lurus ponsel ditangannya. Mengulang kembali percakapannya bersama eomma dan Hyun Joong. Lebih dari sedih dan kecewa. Ia merasa marah. Marah kepada Karam yang selalu menjadi eomma dan Hyun Joong impikan. Dia kecewa kepada eommanya yang tidak pernah melihat betapa dirinya berbeda dari adiknya. Ia dapat bersinar dengan jalan yang ia tentukan sendiri kan? Dia merasa geram kepada Hyun Joong yang menjalin kasih dengannya, tetapi selalu membanggakan orang lain.

Lebih dari semuanya, ia merasa gila pada dirinya sendiri yang selalu mengikuti mereka. Membiarkan dirinya jatuh, dan tidak dapat berdiri sendiri. Membiarkan termakan omong kosong selama hidupnya. Dia bertanya-tanya, akankah cukup mengakhiri apa yang ia lakukan sekarang?

Jaejoong memejamkan matanya, dan mengambil nafas dalam.

Cukup! Ini sudah cukup, aku muak dengan pembuktian diri. Jaejoong merasa lelah, kenyang dan muak.

Ia lalu mengambil tas yang diberikan bosnya. Mengganti pakaiannya dengan apa yang ada di tas itu. Pastinya pakaian yang mahal dan trendy. Jaejoong mengganti sweater dengan kaos V-neck panjang bewarna putih. Celana ia ganti dengan skiny jeans biru dengan robekan dilutut. Dia melepaskan kacamatanya. Jangan khawatir, Jaejoong tidak mempunyai minus lebih dari satu. Sehingga ia masih dapat melihat dengan jelas. Kacamata yang ia gunakan hanya untuk kamuflase. Mata doesnya siap memerangkap siapa saja yang memandang kedalamnya. Rambut hitam pekat yang selalu ia rapikan ia buat sedikit berantakan. Ia memakai jam tangan bewarna putih dari cartier, salah satu barang mahal yang dipunyanya. Ditambah sepatu boot coklat, sempurna sudah penampilannya.

Ia memandang bayangan dirinya sekarang dikaca. Terbelalak dengan penampilan dirinya sendiri. Benarkah ini dirinya? ia merasa wajahnya tidak setampan ini. #narsiseoh? Dilihat dari jauh, penampilan Jaejoong sekarang ini seperti bercahaya. Kulitnya yang putih lembut seperti susu dipadu dengan kaos putih membuatnya seperti kunang-kunang apabila berjalan di kegelapan. #abaikan majas yang berlebih (-_-). Bibir tipis yang selalu semerah cherry menambah kesan sensual Kim Jaejoong. Apa yang dikatakan Kim Heechul bosnya sepenuhnya benar, ia selalu mendumel kepada Jaejoong untuk merubah cara berpakaiannya karena sebenarnya Jaejoong itu indah. Satu kata tentang penampilan Jaejoong malam ini adalah "mempesona".

Jaejoong pergi ke Mirotic menggunakan taxi. Dia memutuskan tidak akan peduli dengan apapun. Tidak dengan eomma dan Hyun Joong. Dan juga Karam. Sekuat apapun ia berusaha melampaui Karam. Mereka tidak akan berpaling padanya.

Untuk sekarang ia ingin merasakan kebebasan. Merasakan suatu petualangan yang menegangkan. Jaejoong pernah merasakan semangat liar seperti ini ketika remaja. Tetapi eomma dengan cepat menyiram air pada api yang berkobar didalam dirinya. Sekarang, ia akan membiarkan semangat liar dirinya bekobar. Ia akan menjadi liar! Walaupun itu hanya satu malam.

Walau ia pergi ke Mirotic untuk suatu pekerjaan. Ia akan menikmati apa yang ditemuinya malam ini. Jaejoong sangat beterimakasih pada Heechul yang memberinya tugas di waktu yang tepat. Dan pastinya perfect outfit yang diberikannya. Ingin sekali ia memberikan pelukan pada bossnya itu.

Ketika ia sampai di Mirotic, dia berusaha untuk bersikap biasa. Jangan sampai ia menjadi kikuk. Karena terlihat seperti pertama kali masuk ke club malam. Ia dengan santainya duduk di bar dan memesan tequila. Matanya menjelajah melihat orang-orang yang melakukan beberapa aktifitas di club tersebut. Seperti menari, minum, bermesraan, mengobrol dan lainya. Ia segera menghabiskan minumannya dan tertarik menuju lantai dansa untuk meliukkan tubuhnya. Ia tidak peduli dengan kesendiriannya. Pandangan orang-orang melihatnya. Tidak sedikit lelaki yang menggodanya. Karena penampilan Jaejoong yang bak seorang malaikat tersesat. Tetapi hanya ditanggapi kerlingan nakal dari mata Jaejoong.

Setelah ia puas dengan lantai dansa. Ia kembali duduk di bar dan memesan tequila. Minuman kesukaannya. "Masukkan minuman itu pada tagihanku." Perintahnya pada bartender yang melayani Jaejoong. Jaejoong terkejut, ia menoleh kepada seseorang yang membayari minumanya. Ingin ia berkata ia bisa membayar minumannya sendiri tetapi tidak satu katapun terlontar dari mulutnya. Ia terlalu terkejut dengan namja disampingnya ini.

Namja itu berbalik menatap Jaejoong. Senyum menyeringai menggoda terbentuk dari bibir hatinya. "Aku tidak tau kau tipe orang yang meminum tequila."

Mata bulat Jaejoong membelalak, ia tau siapa namja disampingnya ini. Namja yang ia nikmati tubuhnya dari jauh. Namja yang selalu memakai kacamata hitam, tetapi sekarang ia dapat melihat kedalam mata hazel setajam musang yang mempesona. Seketika pipi Jaejoong memerah, iapun menundukkan wajah untuk menyembunyikannya.

Setelah beberapa saat, ia bisa menguasai dirinya. Dia akan berpura-pura untuk tidak mengetahui namja disampingnya. "Hmmm... annio." Jawabnya.

"Apa yang terjadi dengan kacamatamu?" Tanya namja itu.

Jaejoong menaikkan alisnya "Chogiyo, apa kita pernah bertemu satu sama lain?" Ia bertanya seolah tidak pernah mengetahui namja ini selama hidupnya.

Bibir namja itu membentuk setengah senyuman. Lalu ia mengangkat tangannya menawarkan diri untuk berjabat. "Jung Yunho imnida, tadi siang kita bertabrakan ketika kau terburu-buru dari kantor Heechul-ssi."

Jaejoong memandang tangan yang mengajaknya berjabat. "Senang bertemu denganmu, Jung Yunho-ssi." Ucapnya sambil menyambut jabatan Yunho. Ia lalu kembali pada minumannya. Menghiraukan Yunho yang menatapnya intens.

"Yeppeo."

"Ne ?" Jaejoong merasa tidak jelas dengan gumaman Yunho.

"Kim Jaejoong Yeppeo." Ucap Yunho memperjelas.

Jaejoong kembali terbelalak dan merengut tidak suka. "Mwo... aku namja, jadi tampan Yunho-ssi." Protesnya sambil memajukan bibir.

Yunho melihat ekspresi lucu tidak terima yang dibuat Jaejoong terkekeh. Ia lalu melambaikan tangan pada bartender untuk memesan beer.

"Eh, chakkaman. Darimana kau tau namaku Yunho-ssi?" Dia memandang Yunho tidak percaya. Ia belum menyebutkan namanya tadi.

Yunho berbalik menatap Jaejoong dengan ekspresi pura-pura polos diwajahnya. "Pertama, aku menyukai namamu. Kedua, kau namja terkesan sombong yang bekerja di Trend (Ini adalah nama perusahaan majalah tempat Jaejoong dan Yunho bekerja). Ketiga, kau adalah tetanggaku yang tidak pernah mempunyai pengunjung, melihat televisi, menyetel musik dengan keras dan selalu mematikan lampu tepat jam sepuluh malam."

Jaejoong shock dengan apa yang didengarnya. Sekarang, ia merasa dimata-matai oleh namja tampan paling diinginkan di Seoul. Apakah namja itu tau ia sering memperhatikannya selama ini? apakah ia telah ketahuan?

Aku akan memilih mati apabila dia mengetahinya! Pikir Jaejoong. Ia bersyukur pada tequila yang ia minum membuat pipinya yang memerah akibat blushing tidak kentara.

Jaejoong mendengar Yunho yang tertawa meremehkan.

"Oh! Ternyata kau penghuni apartemen sebelahku yang selalu mengadakan pesta sampai larut? Menghidupkan televisi dan home theater dengan suara sangat keras layaknya hidup sendiri di hutan? Dan apabila apartemenmu terlihat sepi, artinya waktunya bermain poker. Dan aku tidak dapat memastikan pukul berapa kau mematikan lampu." Sambar Jaejoong dengan tepat.

"See? Jadi kau mengenaliku kan?" Jung Yunho tersenyum puas.

"Hampir!" Ucapnya datar.

Yunho meneguk beernya kemudian bertanya "Wanna dance?"

Dia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Mengatakan hal tentang dirinya secara detail, dan membuatnya terkejut. Bercakap-cakap kurang dari sepuluh kalimat. Dan ia mengajaknya dansa? Wow, apabila ia fans fanatik Yunho pasti sudah melonjak kegirangan. But, Andwe ... dia tidak akan mudah menerima ajakan seorang playboy terkenal di Seoul ini. Ia bukan namja gampangan

Jaejoong hanya menaikkan alis menanggapi ajakan Yunho. Dia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju lantai dansa.

Yunho mengikuti Jaejoong. Jaejoong tersenyum pada dirinya sendiri, sepertinya malam ini akan menjadi menarik. Ia akan mendapatkan pengalaman flirting dengan namja paling diinginkan dan hot di Seoul.

Jaejoong menggerakkan tubuhnya sesuai alunan musik. Pada detik pertama ia tidak menghiraukan Yunho yang berada didepannya. Ia tidak menyentuh ataupun memandang Yunho. Ia tidak peduli apakah Yunho menari sepertinya atau tidak. Tetapi, tiba-tiba tariannya berubah menjadi lebih sexy. Seakan terhanyut suasana Jaejoong meletakkan kedua tangannya melingkari leher Yunho. Tubuh mereka merapat. Mereka dapat merasakan aroma tubuh masing-masing. Jaejoong tidak pernah sedekat ini dengan orang asing.

Yunho merengkuh pinggang Jaejoong agar lebih dekat dengannya. Ia merasa kaget dengan pinggang yang sangat ramping. Padahal ia namja. Jaejoong yang kaget dengan tindakan Yunho mendongak dan menatap Yunho. Yunho yang terpesona akan kecantikan Jaejoong menyentuh pipinya dan mengelusnya sampai dagu. Jaejoong tersentak, ia merasa seperti tersengat listrik akibat sentuhan Yunho pada kulitnya. Seluruh tubuhnya seakan begetar.

Ada apa denganku? Dia tidak pernah merasa seperti ini dengan Hyun Joong. Sebelum ia bertindak bodoh, dia meninggalkan Yunho tanpa kata-kata. Kembali ke tempat semula untuk memesan tequila.

Yunho mengikutinya dan ia memesan beer. Mereka duduk saling berdekatan. Jaejoong menenggak minumannya tanpa melepaskan tatapan pada Yunho. Sama dengan Yunho, ia tidak akan berpaling dari does eyes indah yang sedang menatapnya. Sekarang, Jaejoong mengerti apa yang dikatakan sahabatnya, kalau filrting itu permainan pikiran. Mereka duduk menatap satu sama lain, tanpa kata-kata yang terucap.

Jaejoong terkekeh. Ia lalu menghampiri Yunho, berdiri diantara dua kakinya. Ia melingkarkan tangannya ke sekeliling leher Yunho. Dan Yunho kembali merengkuh pinggang ramping Jaejoong. Jaejoong merundukkan kepalanya karena posis Yunho masih duduk. Melihat kedalam mata musangnya. Undian apa yang ia dapatkan sehingga di malam ia ingin menikmati kebebasaanya, ia bisa filrting dengan most wanted person di Seoul?

Yunho menyambar bibir merah Jaejoong yang sedari tadi menggodanya. Menciumnya dengan lembut. Jaejoong merasa shock, Yunho menciumnya dengan lembut. Yang ia tau seorang Jung Yunho tidak menahan-nahan dirinya, ia selalu menuntut dan terkesan kasar. Tetapi ciumannya saat ini sangat lembut Jaejoong rasakan. Menimbulkan gairah yang perlahan muncul didirinya.

"Ahhn..." Yunho membuat Jaejoong mendesah ketika tangannya masuk kedalam kaos dan membelai perut datarnya. Ia cepat-cepat melepaskan diri, karena sensasi tersengat yang ia rasakan lebih dari ia rasakan tadi. Jaejoong meninggalkan Yunho untuk kembali ke lantai dansa. Yunho masih dengan setia mengikutinya. Ia seperti tidak rela Jaejoong didekati pria lain yang sedari tadi memperhatikan Jaejoong dengan tatapan lapar.

Kali ini Yunho benar-benar memastikan dirinya berdansa dengan Jaejoong. Berkali-kali Jaejoong menolak rengkuhanya. Tetapi ia tidak menyerah, akhirnya mereka kembali saling memeluk dan menari bersama. Sesekali Yunho memberikan butterfly kiss pada leher Jaejoong yang menggoda. Ketika Jaejoong lelah menari ia kembali memesan tequila.

"Aku harus pergi ke toilet." Ucapnya pada Yunho, lalu dengan cepat berbalik. Tanpa menunggu respon dari Yunho. Ia sangat tidak ingin Yunho menganggapnya gampangan. Dia bukanlah yeoja dan namja yang selalu meneteskan air liur bila melihatnya.

Jaejoong menatap dirinya di depan kaca. Wajahnya memerah karena tequila yang diteguknya. Rambutnya yang tadi dibuatnya berantakan kini tambah berantakan. Ia meraba bibirnya yang tadi dicium Yunho dengan lembut. Tubuhnya meremang mengingat kembali sensasinya. Ia lalu membasuh muka, berharap dapat menghilangkan efek mabuk yang sudah terjadi pada tubuhnya.

Jaejoong keluar toilet dengan senyum terkembang. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa sexy. Dengan rona merah dipipinya ia merasa lebih bercahaya. Dan, Jung Yunho menunjukkan ketertarikan padanya.

Jaejoong terkejut dengan Yunho yang bersandar di dinding luar toilet dengan tangan terlipat didada. Sejenak ia terdiam terpaku menyadari betapa cool lelaki diihadapanya, tubuh tegap terbalut jacket jeans hitam dan celana jeans biru tua panjang. Benar- benar perfect sebagai namja berstatus seme.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Jaejoong.

"Menunggumu" Jawabnya ketus.

"Wae?"

"Hanya memastikamu kembali." Dia tersenyum.

"Ke bar? Keurom, aku akan kembali. Aku kesini sendirian" Ucap Jaejoong dengan nada seangkuh mungkin.

Yunho mengangkat bahunya dan tersenyum polos. "Aku hanya memastikan kau kembali kepadaku."

Rayuannya daebak! Batinya. Tetapi ketika Jaejoong berbalik ia tersenyum lebar. Akankah ia menang dalam keadaan ini dengan bertahan. Atau akan kalah dan jatuh kedalam pesona Jung Yunho. Faktanya tanpa disadari, Jaejoong telah jatuh berkali-kali ke dalam namja bermata tajam itu.

Mereka kembali ke lantai dansa. Tidak ada rasa canggung sama sekali kedua insan ini saling memeluk. Beberapa kali Yunho menyapukan bibir hatinya pada Jaejoong. Menggoda Jaejoong. Sampai pada akhirnya Jaejoong menyerah dan memberikan Yunho ciuman yang dalam.

Jaejoong merasa keadaan tambah memanas. Tidak terbesit sekalipun pikiran akan eomma dan Hyun Joong. Semakin malam, ia merasa lebih dan lebih dari dirinya yang biasa. Dan ia menikmati setiap menit malam ini. Jaejoong pasti akan tersenyum apabila ia mengingat malam penuh kebebasan ini.

Yunho semakin berani terhadap Jaejoong. Ia merasa namja cantik yang dipeluknya tidak lagi menolak sentuhannya. Karena memang benar, Jaejoong memutuskan untuk larut dalam pesona Jung Yunho. Ia ingin menikmati malamnya dengan pengalaman yang tak terlupakan. Seperti mendapat durian runtuh, Jung Yunho datang dan terpikat kepadanya.

Alunan musik berubah menjadi slow. Yunho mengeratkan rengkuhan di pinggang Jaejoong. Ia meletakkan kepalanya di pundak Jaejoong.

"Aku suka aromamu, Jae." Ucap Yunho lirih menggoda di telinga Jaejoong. Membuat Jaejoong meremang karena terpaan nafas Yunho. Jaejoong menenangkan debaran jantung dengan menggigit bibir. Sebisa mungkin ia tidak mendesah.

Jaejoong minum tujuh gelas tequila. Hal yang gila bagi seseorang yang tak pernah menyentuh minuman itu. Tapi tubuh Jaejoong dapat menoleransinya. Toh hanya malam ini. Ia agak mabuk, tetapi lebih merasa seperti melayang. Ia senang malam kebebasannya seperti yang ia harapkan. Selama ini, ia merasa memakai topeng. Hidup dalam kehidupan orang lain. Mencuri identitas orang lain. Apabila Yunho tidak mengetahui siapa dia sebelumnya, ia akan memperkenalkan dirinya dengan nama yang berbeda.

"Gomawo untuk minumannya Yunho-ssi" Ucap Jaejoong kepada Yunho yang mengikutinya keluar dari club. Ini sudah pagi, dan Jaejoong merasa cukup. Yunho hanya menaikkan bibirnya, tersenyum lemah. Jaejoong menunggu sejenak, mengharapkan Yunho setidaknya meminta nomor ponselnya. Tapi yang didapat, Yunho hanya diam. Iapun lalu berinisiatif mencari taxi.

Bodoh! Yunho bukan tipe orang yang peduli dan ingin melihat lagi seseorang yang diajaknya filrting dalam semalam. Pikir Jaejoong kecewa. Ia tidak ingin yunho berfikir ia telah jatuh kedalam pesonanya. Cukup hanya sexy dance dan ciuman panas. Tidak berharap lebih.

Tetapi ...

"Chakkaman Jae!" Yunho mencekal tangan Jaejoong. "Pulanglah denganku, bukankah kita searah?" Pinta Yunho.

Jaejoong menatap lurus Yunho sambil menaikkan alis. "Dengan apa?"

Yunho menunjuk sepeda motor ducatinya.

"Mwo... ani! Aku agak mabuk. Dan apakah kau juga tidak mabuk? Aku tidak mau membahayakan diriku sendiri."tolak Jaejoong.

Yunho terkekeh "Aku tidak akan mabuk hanya dengan minum tiga gelas beer Jae. Tidak akan mempengaruhiku sama sekali. Dan, aku sudah berhenti minum sejak dua jam lalu. Tenang saja." Yunho lalu menggandeng Jaejoong menuju motornya.

Jaejoong menyentakan tangan Yunho agar berhenti "Tidak Yunho, meskipun begitu aku agak mabuk!."

"Ayolah Jae, tidak akan terjadi apa-apa. Aku akan menjagamu. Aku janji." Ucap Yunho yakin.

Jaejoong terperangah dengan ucapan Yunho. Manis sekali kata-katanya. Ia lalu menyerah dan mengambil helm yang disodorkan Yunho. Sementara Yunho tidak memakai helm, karena ia memang hanya membawa satu. Yunho sudah menaiki motornya, menunggu Jaejoong naik dibelakangnya. Jaejoong memegang bahu Yunho dan duduk nyaman di boncengan.

Yunho mengambil kedua tangan Jaejoong dan melingkarkan keperutnya. "Akan lebih aman seperti ini." Ucap Yunho sambil menyeringai.

Jaejoong menecebikkan bibir, merasa Yunho mencari-cari kesempatan saja.

Yunho mengendarai motornya dengan cepat. Jaejoong merasa gugup, lalu mengeratkan pelukannya di perut Yunho. Kepalanya kini ia sandarkan pada punggung Yunho, karena tidak tahan terpaan angin malam yang kencang. Yunho tersenyum penuh kemenangan.

Jaejoong merasa malam ini luar biasa, jauh dari ekspetasinya. Tidak akan ada malam yang lebih sempurna dari ini. Berdandan dengan liar, menari dengan sexy, minum dengan berani, flirting dengan liar, dan kini berkendara dengan kecepatan tinggi. Ini pengalaman pertama Jaejoong mengendarai sepeda motor dan wow, dengan Jung Yunho!

Akankan ada hal yang akan terladi lagi? Melengkapi cerita malam panjang Jaejoong.

Anneong Chingu...

Ga aneh kan cerita ini aku remake jadi versi yunjae? hehehe..

Eh aq liat grafik, knapa yg view lbih bnyak d prolog drpd chapter 1? yg minat nglanjutin baca sdikit kali ya :'(

Ya udah deh...

Aq tetep lanjut kog :D

Review tetep lo chingu ;)

Mian cerewet...

Wkwkwkwkwkwk...