Title : All The Wrong Reason

Author : Cici

Genre : Romance, hurt, family, comfort, cheating, backstreet

Main Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong (Yunjae)

Sub Cast : Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Hyun Joong, Kim Karam. lainnya akan muncul satu-satu

Rating : M

Lenght : Chaptered

Warning : Yaoi, maleXmale, alur lambat bingit, FLASHBACK

Disclaimer :

Cerita ini terinpirasi dari novel dengan judul yang sama karya Jerileekaye. Cerita ini aku buat versi Yunjae. Sebisa mungkin sesuai dengan keadaan fanfic yunjae sebagaimana mestinya. Aku juga membuat cerita ini yang notabene cerita "straight" menjadi "yaoi". Jadi tidak ada genderswitch, karena kalau dengan fanfic aku lebih suka "yaoi".

Alur cerita lambat, karena akan menerangkan segala sesuatunya secara mendetail. Ada adegan yang diperuntukkan bagi dewasa (NC-21). Cerita dikondisikan adanya toleransi penuh kepada sesama jenis menjalin kasih di Korea Selatan. (gay lumrah lah...) ada "seme" dan "uke" Hubungan "bi" sudah biasa terjadi.

Apabila penasaran dengan alur ceritanya bisa membaca novel aslinya di Wattpad. Dan bila penasaran dengan versi yunjae dan yaoi diharap sabar menunggu. Bagi yang tidak berkenan dengan yang saya tulis, wajib jangan dibaca! Simpel.

Sub title : Days Before (hari-hari sebelumnya)

Jaejoong sibuk dengan kerjaan yang harus diselesaikannya. Kim Heechul, bosnya memberikan waktu sampai senin malam. Dia sedang mengerjakan artikel tentang restoran yang baru buka di daerah gangnam. Sebenarnya, makanannya tidak terlau enak, harganya mahal, pelayanannya tidak memuaskan. Ia memesan japchae tidak pedas, diberi yang pedas. Pesan cappucino latte, rasanya seperti kopi susu. Sangat tidak memuaskan! Tetapi Jaejoong tidak akan mau menjadi sebab kebangkrutan restoran itu apabila ia terlalu kasar menuangkan semua yang dirasakannya kedalam artikel. Maka dari itu ia butuh berkonsentrasi. Tapi...

Tetangga barunya menyalakan musik dengan suara keras. Sedangkan penghuninya tertawa terbahak-bahak dengan teman-temannya di balkon sambil bermain poker. Mana bisa Jaejoong berkonsentrasi kalau seperti ini?

Jaejoong mendesah, lalu pergi mematikan lampu balkonnya. Seketika mereka yang ribut terdiam. Huft, sabar Jaejoong, sabar... Jaejoong menenangkan dirinya. Sekarang ia butuh merokok. Tapi tidak! Ia tidak akan merokok didalam apartemen.

Tak beberapa lama, ponselnya berbunyi.

Thank God! Dia membutuhkan pengalihan kali ini.

"Hi Darl... apa kabarmu?" Ternyata Hyun Joong disana.

"Eumm...baik." Jawab Jaejoong dengan nada tidak baik.

"Tetapi kau terdengar tidak baik, darl! Ada apa disana?" Ternyata Hyun Joong pintar menganalisa suara.

"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"

"Aku juga baik. Kemarin Karam memintaku untuk menjadi tutornya untuk membimbingnya masuk universitas Tokyo. Dan aku sangat senang membantunya. Aku berharap dia bisa masuk." Oceh Hyun Joong, yang hanya ditanggapi "hmmm..."Oleh Jaejoong.

Hyun Joong juga bercerita tentang beberapa hal medis yang dipelajarinya. Jaejoong mendengarkan dengan tidak berminat. Kepalanya dipenuhi deadline tentang restoran dan Damn! Dia tidak dapat berhenti memikirkan namja hot bermata musang itu.

"Haahh..." Jaejoong menggerutu sambil mengacak rambutnya.

"Apa?" Tanya Hyun Joong. Ia tidak merasa monolognya tentang chlamydia(suatu infeksi) layak ditanggapi dengan gerutuan. "Apa yang kau lakukan? Dengan siapa kau sekarang?"

"Aku sendiri!" Jawab Jaejoong dengan nada defensif karena Hyun Joong tidak akan percaya kepadanya dan ia tidak berbohong.

"Mengapa kau terdengar kacau? Kau tidak mendengarku dari tadi, Jae?"

"Aku tidak dengan siapa-siapa, Hyun Joong. Aku hanya berfikir tentang restoran yang akan bangkrut dalam beberapa jam apabila aku menulis artikel mengerikan tantangnya. Aku hanya berfikir solusi tulisanku. Makanya aku menggerutu."Jelas Jaejoong.

Hyun Joong terdiam beberapa saat. Kemudian berkata "Yakin?"

Jaejoong menghela nafas. "Iya aku yakin. Ayolah...apa kau berfikir aku akan selingkuh? Kau adalah namjachingu pertamaku, dan lebih-lebih aku sudah 25 tahun."

Jaejoong selalu berfikir Hyun Joong tidak penuh percaya padanya. Seperti dia tidak tau dia adalah kekasih pertamanya. Yang membuatnya tidak tidur dimalam pertama mereka menjadi sepasang kekasih. Setiap kali dia menelepon dan mendengar suara musik dia selalu mencurigai Jaejoong sedang bersama seseorang. Padahal Jaejoong menjelaskan ia hanya bersama sahabatnya Changmin dan Junsu. Tapi dia sampai harus bersumpah karena itu.

Awalnya ia merasa sikap Hyun Joong sangat manis karena menunjukkan sikap cemburu dan posesif terhadapnya. Menunjukkan ia menginginkan Jaejoong hanya untuk dirinya. Tetapi lama kelamaan Jaejoong merasa sikap kekasihnya keterlaluan. Ia harus menjelaskan segala sesuatunya, dimana ia berada, dengan siapa bahkan menyuruhnya memfoto keadaan sekitar ketika Jaejoong sedang pergi keluar.

"Bukan seperti itu darl...hanya...aku merindukanmu. Dan kau menarik Jae. Aku yakin banyak yang menggodamu."

Jaejoong memutar bola matanya jengah "Itu tidak berarti aku akan tidur dengan semua orang yang tertarik kepadaku kan?"

"Ani, aku tau kau tidak seperti itu. Dan itu yang kusuka darimu. Kamu...hmmm Kuno. Sangat sulit menemukan kekasih sepertimu saat ini. Banyak yeoja dan namja yang mudah diajak kencan, bahkan one night stand dengan pria yang belum dikenal."

"Ya, aku tidak seperti itu Hyun Joong. Dan tidak akan."

"Oke." Ucapnya lalu melanjutkan monolog kesehatannya. Ia pikir ia akan jatuh tertidur di sofa setelah 30 menit Hyun Joong bermonolog. Kemudian, akhirnya ia mendengar kata, "sampai besok".

"Love you, darl" Ucap Hyun Joong

"Love you too." Balas Jaejoong.

Hyun Joong kekasih yang tepat untukku. Sugesti Jaejoong pada dirinya. Tidak banyak kekasih yang mau menunggu "meniduri" kekasihnya, untuk waktu yang tepat. Banyak kekasih yang menekan pasangannya untuk tidur bersama atau kalau tidak mengancam putus. Dan Jaejoong bersyukur dengan Hyun Joong.

Di akhir malam, Jaejoong akhirnya memilih menulis ulasan restoran itu dengan tidak-terlalu-buruk.

Hari selanjutnya, Jaejoong makan siang bersama kedua sahabatnya. Changmin berkerja di gedung sebelah kantor Jaejoong dan Junsu. Mereka bekerja secara efisien jadi kadang mereka dapat bertemu saat coffe break atau makan siang.

"Bagaimana kabar Hyun Joong?" Tanya Junsu.

Jaejoong mengangkat bahu "Menikmati menjadi tutor Karam."

"Tidakkan mereka serasi satu sama lain? Ucap Changmin blak-blakkan.

"Min" Junsu menyenggol lengan Changmin kuatir. Sahabatnya satu ini tak dapat mengerem ucapannya. Walaupun ia termuda, ia tak segan pedas kepada hyungnya.

"Apa?" Changmin acuh. "Mereka berdua mem-bo-san-kan. Ayolah hyung... Aku tidak ingin kau cemburu atau tersakiti. Menjalin perjalanan cinta yang hanya dapat bertemu setiap 3–4 bulan dan selalu mendengarnya memuji-muji saudaramu! Kau sudah menjalaninya selama 3 tahun, dan itu tidak baik untukmu."

"Oh, kalo aku tak setuju denganmu min. Maksudku, Jae! kau harus berubah. Kau perlu melakukan perubahan pada dirimu sendiri. Kau perlu makeover. Beli pakaian-pakaian yang fashionable. Ganti kacamata besarmu dengan lens. Ubah warna dan gaya rambutmu." Saran Junsu.

"Kalo itu aq juga setuju Su-ie hyung. Hyung, dengarkan saran kami ini eoh." Pinta Changmin sambil menyumpit bulgoginya.

"Uh uh..." Jaejoong mendesah kesal.

Entah bagaimana bisa sahabatnya ini mempunyai bayangan dirinya sexy, hot dan berparas seperti angel. Jaejoong sendiri tidak menganggap dirinya jelek tetapi tidak juga menganggap dirinya menakjubkan. Dia mempunyai rambut sehitam malam yang lembut. Matanya bulat. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis dan semerah chery. Kulitnya putih bersih. Tubuhnya ramping. Tetapi orang-orang menganggapnya terlalu kurus. Ia benar-benar namja uke kualitas no1. Tetapi Jaejoong hanya menganggap dirinya biasa aja.

Tak ada alasan untuk memamerkannya. Menurut eommanya, Karam yang terindah. Dan dia, sebaliknya.

"Hmmm...Jaejoong memang tidak terlalu jelek. Tetapi, Karam adalah yang terindah dan terpintar di keluarga ini." Kira-kira begini kata-kata eommanya.

Jika eommamu sendiri tidak menganggapmu indah, lainnya juga akan begitu. Itu pikiran Jaejoong. Dia sudah senang mendapatkan perhatian Hyun Joong. Dan ini yang membuat eomma sangat bangga kepadanya. Mungkin, tidak masalah sahabaynya menceritakan jelek tentang Hyun Joong, karena dia tidak akan terpengaruh. Namja itu adalah prestasi terbesar yang selama ini dia dapatkan.

"Ngomong-ngomong aku melihat Jung Yunho di kantor pagi ini. Betapa sombongnya dia, aku berusaha mencari perhatian, melihat kedalam matanya ketika berpapasan, dan dia tak melirikku sekalipun. Tetapi Tuhan...dia amat sangat tampan..." Seru Junsu berlebihan.

"Hahaha, bagaimana kau dapat melihat kedalam matannya Su-ie. Bukannya dia selalu memakai kacamata hitam, eoh?" Ucap Jaejoong, yang membuat Junsu merengut seketika.

Changmin menertawai Junsu. "Jangan terlalu berkhayal, hyung."

Junsu menggembungkan pipinya yang chubby "Oke-okee... kukatakan aku hanya melihatnya pagi ini. Hanya itu."

"Jangan mencoba untuk mencari perhatian namja itu, eoh. Kalau kau tak mau kecewa. Karna aku pikir dia mana mau peduli dengan kita." Ucap Jaejoong.

Jaejoong mencoba menjelaskan kepada sahabatnya kalau Jung Yunho yang sedang mereka bicarakan adalah tetangganya. Tetapi kemudian ia memutuskan untuk tidak memberitahu. Tidak tau mengapa dia melakukannya.

Dia menjadi suka mengamati Jung Yunho beberapa hari ini. Tidak tau mengapa ia menganggap itu menarik. Menjadi kegiatan favoritnya bila berada di apartemen. Apa yang dilakukannya sudah seperti stalker. Dan di beberapa negara. Stalker adalah orang yang membutuhkan pembinaan mental serius.

Dia menjadi tau beberapa kebiasaan Jung Yunho. Namja itu akan tidur sampai pukul dua belas siang pada weekend. Pada hari kerja, ia akan menemukannya sibuk dengan ponselnya. Dia sudah berada di apartemennya ketika dirinya pulang pukul tujuh malam. Sesekali ia mengundang teman-temannya bermain poker, atau hanya minum dan merokok di balkon. Sekali waktu ia pergi keluar pukul sembilan malam, dan baru kembali pukul satu atau dua di pagi hari. Dia akan merokok di balkonnya, kemudian mandi dan tidur. Dia mandi kurang lebih tiga kali sehari. Dia tau karena ia sering melihatnya hanya memakai handuk yang terlilit dipinggang berjalan kesekeliling kamarnya. Dan dia suka melihat namja itu berdiri di balkon dengan rambut yang basah.

Ketika Jaejoong melihat laptopnya, dia memutuskan untuk mengetik. Setelahnya, dia menemukan dirinya membuat alur cerita. Dia membuat gambaran tentang Namja itu dengan kata-katanya. Dia menggambarkan Yunho adalah seorang pemberontak berambut hitam, bangsawan yang dibuang dari keluarganya, karena melawan sang ayah. Dan pasangannya adalah seorang putri berambut merah, anak kedua dari raja. Diperlakukan seperti pembantu dengan ibu berhati iblis dan saudara yang menawan tapi keji.

Jaejoong berusaha menyeimbangkan antara menulis dan pekerjaannya. Selama ada waktu luang di kantor ia berusaha menuliskan beberapa paragraf. Sesekali ia melupakan coffe breaks, memilih untuk menulis.

Jaejoong mengingat beberapa kejadian lalu. Tulisannya sudah sampai chapter tiga. Ceritanya sang pemberontak sudah bertemu dengan sang putri yang tertindas untuk pertama kali. Sang putri yang dalam keadaan lelah dengan tekanan yang diberikan keluarganya.

Mata Jaejoong sudah lelah, tetapi keinginan menuangkan apa yang dipikirannya lebih besar. Dia memutuskan untuk berdiri dari kursi dan melakukan streching. Matanya menangkap sosok itu, namja tegap dengan rambut hitam berjalan di sepanjang lorong menuju kantor bosnya. Dia memakai kacamata hitam dan jaket kulit. Sesaat, dia merasa namja itu menatapnya sambil menaikkan alis. Sesaat Jaejoong berkedip, namja itu sudah masuk ke ruangan bossnya.

Jaejoong pasti sudah kehilangan pikirannya. Hal terakhir yang ia inginkan adalah tergoda dengan namja yang menjadi dambaan setengah orang di Seoul. And andweee... aku tak mungkin ikut tergoda.

Dia melanjutkan menulis novel ketika sampai di apartemen. Sesekali dia melirik jendela kamar mencuri pandang Yunho di apartemennya. Dia sangat menginspirasi novelnya.

"Euumm... mengapa Jung Yunho tak mempunyai kekasih?" Suatu malam pada saat mereka hangout bersama Jaejoong bertanya kepada sahabatnya.

Junsu mengangkat bahu. "Mungkin karna dia terlalu dingin dan sombong."

"Aku rasa karna tak ada yang sepadan dengannya. Orang itu harus melebihi atau selevel dengannya." Changmin menambahi.

"Jinjja?" Jaejoong tak percaya.

"Ah, tetapi ia sering terlihat bersama beberapa model, artis dan anak orang kaya. Tetapi dari gosip yang beredar, mereka hanya bertahan selama dua minggu. Karna pasti, dia sudah mengganti lagi pasangannya." Jelas Changmin.

"Eum, kau tau minnie... teman kencannya namja atau yeoja?" Tanya Jaejoong takut-takut.

Changmin tergelak "Kenapa hyung? Kau tertarik dengannya?" Goda Changmin.

"A..nia. Aku hanya bertanya eoh!" Elak Jaejoong tetapi wajahnya memerah.

"Pernah dengan keduanya Jongie... Makanya itu, aku juga ngefans dengannya. Siapa tau... dia mau membuka kacamatanya dihadapanku." Sambung Junsu sambil membayangkan.

"Tapi dia player. Tidak dapat berkomitmen. Semua teman kencannya akan ditinggalkannya hanya dalam 3 kali pertemuan." Junsu jadi merasa sedih.

Jaejoong menghela nafas. Pikirannya melayang pada novel yang dibuatnya. "Mungkin dia tau kalau dia player makanya tidak berkomitmen. Dan akhir-akhir ini ia tak terlihat menggandeng pasangan baru. Mungkin sudah sadar?" Ucap Jaejoong. Apabila karakter di novelnya ia buat sesuai reputasi Yunho. Jadi jahatlah nanti pemeran utamanya.

Siapa juga yang mau jatuh cinta pada seseorang yang setelah mengajaknya tidur lalu melupakan di keesokan harinya? Siapa yang menyukai seseorang yang tidak memberikan harapan yang jelas?

"Dia kebalikan darimu hyung, yang memegang erat komitmen." Sindir Changmin.

Jaejoong mencebikkan bibirnya. "Aku tak memandang komitmen itu buruk Minnie..."

"Tetapi biasanya orang yang tidak bisa berkomitmen. Seseorang seperti Jung Yunho sudah ditunangkan sebelumnya. Kau tau, kebiasaan para orang kaya... untuk menguatkan bisnis, kerja sama, koneksi dengan pernikahan. Mungkin hal ini juga yang membuatnya memberontak dari sang Appa." Junsu ikut berkomentar.

Dan ide cemerlang datang karena ucapan Junsu. Jaejoong langsung membayangkan bila suatu saat sang pemberontak dipaksa menikahi gadis yang tak ia tau. Padahal hatinya sudah terpaut pada sang putri. Wow, akan ada konflik yang seru. Pikir Jaejoong.

"Tunangannya itu pastilah harus dari keluarga terpandang, orang kaya, atau pewaris. Gadis yang Appanya pastikan layak." Sambung Changmin.

Great...saudara sang putri... Jaejoong memekik senang dikepalanya. Ia tak sabar ingin pulang kerumah dan menulis.

Mereka pulang sekitar pukul dua belas malam. Jaejoong melangkahkan kakinya masuk lift yang kosong dan memencet lantai apartemennya. Pintu belum menutup sempurna ketika terbuka lagi. Ia mendesah kesal. Tepat saat itu pemuda berambut hitam yang sedari tadi menjadi topik pembicaraan bersama teman-temannya masuk. Nafas Jaejoong tercekat di tenggorokan.

Jaejoong mencium bau aftershave. Sangat maskulin dan segar. Dia masih memakai kacamata hitamnya. Jaejoong penasaran dengan warna mata namja ini. Sehingga ia bisa menuliskannya di novel. Mereka hanya diam didalam lift. Setelah sampai Yunho berjalan mendahuluinya sambil melepas kacamata. Jaejoong mencibir. "Cihh...Betapa sombongnya dia. Bodohnya aku mempercayai dia siang tadi melihat kearahku." Monolog Jaejoong.

Setelah beberapa hari akting layaknya stalker psyco. Jaejoong akhirnya sudah menyelesaikan setengah dari novelnya. Dia menemukan waktu untuk menulis diantara kesibukannya menulis di majalah. Tulisannya sudah ditengah-tengah konflik sang pemberontak dan sang putri ketika Kim Heechul memanggilnya.

Jaejoong memutar matanya.

"Jae, datang ke kantorku." Pinta Heechul.

Jaejoong menggerutu, kemudian beranjak dari tempatnya.

Apa lagi yang diinginkan mama cinderella?

"Ada apa hyung?" Tanya Jaejoong setelah melangkah masuk kantor bossnya.

Heechul terlihat menyodorkannya tiket.

Mirotic : an enlightening. Come and join us in our opening

"Apa ini?" Jaejoong mengangkat alisnya.

"Sebuah club yang baru buka malam ini. Aku menginginkamu observasi disana. Setelahnya buatlah artikel yang menarik." Jelas Heechul.

"Kenapa aku hyung? Biasanya aku tak menangani yang seperti ini." Protes Jaejoong.

"kau editorku yang serba bisa Jae, jebal... aku menginginkamu yang membuatnya."

"Mengapa tidak hyung saja?"

"Yak! Jae aku hanya bisa menari salsa... Mana mungkin aku akan menari salsa disana." Nada Heechul mulai meninggi membuat Jaejoong menelan ludah.

"Tapi...apa hyung tak liat penampilanku? Apakah aku seperti seseorang yang layak pergi ke club?" Ujar Jaejoong masih bertahan.

Heechul menscanning dirinya dari kepala sampai kaki. Kemudian manggut-manggut. "Hahaha tidak Jae, saat ini kau memang tidak cocok untuk pergi ke club manapun. Tapi...don't worry... aku sudah mempersiapkannya." Heechul menyerahkan paper bag kepada Jaejoong. "Gantilah pakaianmu dengan ini, kau pastii...sangat...cantik..." Ucap Heechul antusias.

Jaejoong memutar kedua matanya. Ia tak pernah menang menghadapi mama cinderella ini. Iapun pasrah dengan tugasnya.

"Tiketnya hanya satu? Aku harus pergi sendiri?"

"Sorry Jae, hanya itu yang kudapat." Ucap Heechul dengan nada menyesal.

Jaejoong menggelengkan kepalanya "Hyung Apa aku harus turun ke lantai dansa juga?"

"Aku mengharapkanmu menulis tentang bar, minuman, keramaian, musik dan pastinya lantai dansa."

"Maksudmu aku harus berdansa sendirian karna tiket yang kupunya hanya satu? Dan aku tak bisa mengajak temanku kan? Karna pembukaan perdana pasti hanya orang-orang yang mendapat tiket yang boleh masuk. Katamu aku harus menuliskan tentang musik, lantai dansa dan pandangan mata pengunjung. Aku penulis yang menuliskan apapun secara apa yang aku lihat dan rasakan, pastinya aku harus turun ke lantai dansa. Tapinya hyung...aku harus sendirian...?" Wajah Jaejoong memelas.

"Jika kamu mengharuskannya, maka lakukanlah...tapi mian Jae, hanya punya satu ticket." Ucap Heechul tanpa rasa kasihan.

Dasar, mama cinderella! Jaejoong menggerutu dalam hati.

"Kau harus memakai pakaian yang aku berikan Jae." Perintah Heechul. "Jangan sampai orang melihatmu disana sesuai misimu, menulis artikel. Kamu harus berbaur."

"Ne hyung." Jawab Jaejoong lemah. "Satu lagi yang kutanyakan, club yang aku datangi tipe apa ? straight, gay, atau bi?"

"Tidak ada penjelasan khusus, aku rasa semua ada disana. Finghting Joongie...pokoknya kau harus membaur." Ucap Heechul menyemangati.

Jaejoong menghembuskan nafasnya "Ne hyung, aku akan melakukannya." Heechul tersenyum penuh kemenangan.

Jaejoong keluar ruang bosnya dengan mood tidak baik. Sepanjang jalan hanya menggelengkan kepalanya dan menggerutu. Sampai kemudian ia menabrak sesuatu yang keras dan aroma familiar tercium hidungnya. Maskulin dan segar.

"Hay, hati-hati." Ucapnya. Dan Jaejoong merasakan lengan yang kuat merengkuh pinggangnya agar tidak jatuh.

Jaejoong melihat keatas dan menemukan wajah tampan yang membuat kakinya lemas seperti jely. Untung saja, namja itu menahan tubuhnya. Kalau tidak, dipastikan ia akan jatuh terduduk.

Alis matanya terangkat dan kemudian menyunggingkan bibir hatinya, tersenyum.

Jaejoong mengedip-ngedipkan matanya lucu. Berusaha menyadarkan dirinya sendiri.

"Miannhe." Ucap Jaejoong segera setelah kesadarannya kembali. Ia langsung melepaskan diri dan berjalan cepat kearah meja kerjanya.

Jaejoong bersyukur ia dapat berjalan dengan lurus. Tubuhnya gemetar, merinding saat lengan kekar Yunho menyentuh dirinya. Jaejoong tidak menoleh kebelakang. Padahal, dia akan melihat namja itu mengikuti dirinya dengan tatapan matanya dan tersenyum kepadanya. Yunho menggelengkan kepalanya, lalu masuk ke ruangan Heechul.

To Be Continue...

Anneong Chingu, ga bingung kan ma chap ni? Kamsahamnida bagi yg udah read, review, fav, n folo...

Makasi jg yg udah kasi kritik, saran dan smangat. smuanya didenger kog. :)

Jangan bosen baca ya ... soalnya novel ini nyampe konfliknya luaammaa, n isiny manis2 menurut q. hehehe ...

Aku usahain Sabtu update lagi ..

wkwkwkwkwk