Title : All The Wrong Reason

Author : Cici

Genre : Romance, hurt, family, comfort, cheating, backstreet

Main Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong (Yunjae)

Sub Cast : Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Hyun Joong, Kim Karam. lainnya akan muncul satu-satu

Rating : M

Lenght : Chaptered

Warning : Yaoi, maleXmale, alur lambat banget

Disclaimer :

Cerita ini terinpirasi dari novel dengan judul yang sama karya Jerileekaye. Cerita ini aku buat versi Yunjae. Sebisa mungkin sesuai dengan keadaan fanfic yunjae sebagaimana mestinya. Aku juga membuat cerita ini yang notabene cerita "straight" menjadi "yaoi". Jadi tidak ada genderswitch, karena kalau dengan fanfic aku lebih suka "yaoi".

Alur cerita lambat, karena akan menerangkan segala sesuatunya secara mendetail. Ada adegan yang diperuntukkan bagi dewasa (NC-21). Cerita dikondisikan adanya toleransi penuh kepada sesama jenis menjalin kasih di Korea Selatan. (gay lumrah lah...) ada "seme" dan "uke" Hubungan "bi" sudah biasa terjadi.

Apabila penasaran dengan alur ceritanya bisa membaca novel aslinya di Wattpad. Dan bila penasaran dengan versi yunjae dan yaoi diharap sabar menunggu. Bagi yang tidak berkenan dengan yang saya tulis, wajib jangan dibaca! Simpel.

Sub title : Indecisive

Jaejoong bangun sebelum fajar, Yunho terlihat masih tertidur. Tubuhnya terkunci oleh lengan kekar yang memeluknya. Dia bangun dan melepaskan pelukan Yunho dengan perlahan agar tidak membangunkannya.

"Aisssshhhh...appoh..."Jaejoong meringis merasakan tubuhnya, terutama bagian bawahnya perih. Tetapi ia berusaha dengan cepat dan tenang memakai pakaiannya lalu keluar dari apartemen Yunho.

Sesampainya di apartemen, Jaejoong langsung mandi, mengguyur dirinya dengan air hangat untuk menjernihkan pikirannya. Ia memandangi tubuhnya di depan cermin dengan takjub. Mwooya!...Kulitku jadi polkadot gini. Pikirnya geli melihat ruam ruam merah yang Yunho hasilkan pada kulitnya.

Wajahnya memerah mengingat betapa ganasnya Yunho semalam. Setiap inchi tubuhnya telah tersentuh oleh namja paling diinginkan se-Seoul, Jung Yunho. Ia tidak percaya dirinya lepas kendali tadi malam. Mencari kesenangan. Kehilangan keperjakaan dengan 'one night stand' oleh namja player paling hot dan tampan.

Jaejoong masih merasakan sakit. Tetapi entah mengapa ia bahagia dengan itu. Tidak ada penyesalan sama sekali melakukan itu. Bahkan ia tidak merasa selingkuh dengan Hyun Joong. Kemarin adalah pertama kali dalam hidupnya ia merasa benar-benar hidup. Ia merasa dihargai dan dipuja. Ketika ia merasakan sakit akibat sesi bercintanya, Jaejoong merasakan kekhawatiran Yunho. Dia merasakan ketulusan, kepedulian dari Yunho.

Ia mengingat ketika rasa sakit yang menyerang tubuhnya datang, Yunho menatapnya dengan khawatir dan penuh rasa bersalah. Ia menghapus air matanya dan mencium bibirnya menenangkan.

Jaejoong menyadari dirinya telah kehilangan 'keperjakaannya' sekarang. Dan untunglah ia melakukannya dengan aman. Ia mengingat kenapa Yunho bisa lupa memakai pengaman apabila ia tak mengingatkan. Orang seperti Yunho pastilah akan selalu berhati-hati bila melakukan sex. Apabila tidak, pasti banyak yang mencuri kesempatan untuk meminta pertanggung jawabannya.

Setelah selesai mandi, Jaejoong merebahkan tubuhnya di ranjang. Merilekskan tubuh, menatap langit-langit sambil berfikir apa yang dilakukannya semalam memang dosa. Tetapi apa yang terjadi akan selalu ia ingat. Simpan dalam memori. Dan takkan pernah melupakannya.

Jaejoong terbangun ketika ponselnya berdering.

"Yeoboseo" Sapa Jaejoong sambil mengantuk

"Ireona Jongie!" Junsu memekik ala lumba-lumba diseberang telepon.

"Ishhh...Jangan teriak-teriak Su-ie. Aku masih ngantuk." Ucap Jaejoong menggerutu.

"Jam berapa semalam kau tidur?" Tanya Junsu.

"Wae?

"Jongie-ah... kau terdengar masih mengantuk, dan sekarang sudah jam dua belas siang, eoh." Jelas Junsu.

"Eumh...sesekali kan tak apa."

"Kau pasti tidur sangat larut semalam." Ucap Junsu dengan nada menuduh.

"Ne...aku sampai tak tau tidur pukul berapa semalam" Jaejoong lalu berdiri menuju kamar mandi. "Chakkaman, aku mau cuci muka dulu."

Setelah lima menit, "Oke Su-ie aku sudah segar sekarang. Ada apa menelefon?"

"Bagaimana Mirotic?"

Jaejoong benar-benar bangun sekarang.

"Ah...tidak ada yang istimewa, sama seperti club lainnya.

Aigooo...aku berbohong!

"Apa kau pulang lebih awal Jonggie? Katakan kau tak pulang terlalu awal!"

"Wae?" Tanya Jaejoong

"Karena tetanggaku memberitahu bahwa kemarin Jung Yunho juga berada di club itu. Dia terlihat bersama seseorang namja. Tetapi mereka tidak datang bersama. Dia mendekati orang itu, kemudian berdansa bersama. Berciuman dan pulang bersama." Jawab Junsu berkoar-koar.

Jaejoong menelan ludahnya. Jantungnya berdetak kencang. Damn! Ia lupa betapa populernya Jung Yunho! Ia akan mengingatkan dirinya untuk tidak berkunjung ke apartemen Junsu agar tidak ketauan oleh tetangganya.

"Jeongmal? Aku liat banyak namja uke dan yeoja cantik disana. Terus kenapa?" Jaejoong sebisa mungkin bernada polos.

"Karena seorang Jung Yunho tidak pernah membawa seorang namja atau yeoja dari club. Walaupun reputasinya sebagai player, tetapi ia tidak pernah terlihat menggandeng tangan apalagi berciuman didepan umum."

"Dan...maksudnya adalah..."

"Dia sekarang memilih menjadi gay. Namja itu pasti sangat special. Ia suka menjaga reputasinya bersih. Tidak stabil dengan beberapa orang. Tidak pergi berduaan didepan umum. Dan itu semua kan yang membuat Jung Yunho menarik! Dia seperti raja es atau semacamnya." Ucap Junsu dengan semangat

Jaejoong mendesah. Topik tentang Jung Yunho memang tak akan lepas dari mulut Kim Junsu.

"Su-ie sudahlah, kenapa kau bercerita terus tentang namja itu? Kau hanya meneleponku untuk mendengar ceritamu tentangnya? Wae setiap orang tertarik dengan kehidupannya? Terutame kehidupan percintaanya?" Protes Jaejoong. Tetapi dalam hati, sepertinya dia juga akan tertarik dengan segala sesuatu Jung Yunho sekarang.

"Karena dia tidak pernah terlihat dengan siapapun. Tidak seperti kemarin, Jae-ah." Junsu mengingatkan.

"Okee..bisa jadi orang spesial itu adalah teman masa lalunya? Mantannya barangkali?" Jaejoong terkejut dengan kata-katanya. Ia tau persis siapa namja yang Junsu maksud.

"Annio...dia tidak mempunyai mantan! Itu poinnya."

Jaejoong mendengar bel berbunyi. Ia senang bisa mengalihkan perhatian dari mengatakan kebohongan pada Junsu. Dia membuka pintu.

Terkejut didepannya Jung Yunho berdiri dengan gagah. Yunho akan membuka mulut untuk menyapa Jaejoong tapi...

"Sshhhh..." Jaejoong mengisyaratkan Yunho untuk diam.

"Mwoya?" Junsu bertanya karena mendengar desisan Jaejoong.

"Gwaencanha...Su-ie obrolan kita sampai disini dulu oke...Aku ada urusan. Byebye..." Jaejoong langsung menutup ponsel tanpa menghiraukan tanggapan Junsu.

Lalu perhatiannya teralih pada namja yang sedaritadi berdiri memperhatikannya.

"Untuk meredakan mabuk. Aku kira sudah bisa bicara kan sekarang?" Yunho menyodorkan cup kopi susu kepada Jaejoong.

Jaejoong membuka lebar pintunya dan mempersilahkan Yunho masuk.

"Gomawo" Jaejoong menyeruput sedikit kopinya, lalu meletakkannya di meja.

"Jangan berterima kasih. Kau tidak memberiku kesempatan membuatkanmu kopi pagi ini." Ucap Yunho dengan kesal. Pagi tadi ia membuka matanya, ingin mengeratkan pelukannya. Tetapi yang didapat hanya memeluk udara kosong. Jaejoong telah pergi. Ia kecewa.

Wajah Jaejoong memerah, ia menunduk untuk menyembunyikannya. Ia jadi teringat lagi akan kejadian panas tadi malam.

"Eummm...itu...itu...tadi malam...adalah...yah seharusnya tak pernah terjadi." Ucap Jaejoong tergagap.

Yunho tidak mengatakan apapun. Hanya menatap Jaejoong dengan mata musangnya.

"Tetapi itu terjadi, baby." Ucap Yunho akhirnya.

Jaejoong senang dengan panggilan 'baby' untuknya. Kata itu keluar dari mulut Yunho dan terasa sangat manis.

"ne, dan aku harap kita bisa melupakannya. Layaknya kita tak mengenal satu sama lain." Jaejoong sebenarnya berat mengatakannya.

"Tetapi faktanya kita mengenal satu sama lain." Ucap Yunho. "Secara intim, kuperjelas."

Jaejoong merasa kesal sekarang. Apa dia bisa berpura-pura tidak mengenal satu sama lain apabila mereka saling berpapasan? Di lift berdua saling diam mengacuhkan? Dan lagi apabila bertemu dengan Yunho dengan gandengan barunya. Ia membayangkan tidak akan bisa. Hatinya pasti gelisah.

"Tapi Yunho-yah...semalam itu bukan aku yang sebenarnya. Aku...hanya mencoba menikmati sedikit kebebasan. Sedikit menjelajah mencari pengalaman baru. Dan kamu disana! Aku mabuk...aku kehilangan kendali diriku." Jelas Jaejoong.

Yunho tersenyum "Arraseo...aku tau."

Jaejoong menunggu Yunho mengatakan sesuatu. Tetapi ia hanya berdiri disana dengan alis yang terangkat.

"Jebal, katakan sesuatu Jung Yunho!" Pinta Jaejoong frustasi.

Yunho tersenyum lagi. "Kim Jaejoong yeppeo. Dan akan terlihat lebih cantik bila sedang kesal seperti ini." Goda Yunho.

Jaejoong menghela nafas dalam. Susah menghadapi Jung Yunho ternyata. "Lalu sekarang apa maumu?"

Yunho menaikkan bahunya. "Molla Jae, tapi aku ingin ini." Yunho melangkah mendekati Jaejoong. Jaejoong mundur beberapa langkah kebelakang, jantungnya berdegub kencang. Ia melihat Yunho sangat jantan dengan jaket kulit, jeans hitam dan rambutnya yang masih basah.

Yunho tetap melangkah mendekati Jaejoong sampai ia menghantam tembok dibelakangnya. Yunho lagi-lagi menjepit jaejoong diantara tembok dan dirinya. Mereka saling menatap kedalam mata masing-masing.

Yunho mengangkat dagu Jaejoong lalu mendekatkan wajahnya. Jaejoong panik tapi tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya seakan lumpuh. Yunho menempelkan bibir hatinya ke bibir tipis Jaejoong. Merekapun berciuman. Pertama-tama Yunho melakukannya dengan lembut.

"Mphhhhhmmmhhh..." Erang Jaejoong ketika ciuman Yunho berubah menjadi dalam dan menuntut. Lengan Yunho kini sudah berada disekeliling pinggang Jaejoong. Mendekatkan tubuh keduanya. Kaki Jaejoong melemas seperti jely lagi. Sekarang, ia tidak membutuhkan kopi lagi untuk bangun. Ia sudah terbangun karena ciuman Yunho. Jaejoong melingkarkan lengannya pada leher Yunho, membalas ciuman Yunho sama ganasnya.

"Yuhn...Hmmmphh..." Jaejoong ingin melepaskan diri karena nafasnya mulai menpis. Tapi Yunho tak peduli, ia seperti kecanduan menyesap bibirnya. Kenyal dan manis, Yunho merasakan setiap mencium Jaejoong.

Hosh...hosh...

Mereka dengan kalap menghirup oksigen setelah Yunho menyudahi ciumannya. Yunho menunduk menempelkan keningnya pada kening Jaejoong. Yunho melihat makhluk indah dihadapannya masih terpejam dan bibir basah membengkak terbuka. Ia tersenyum. Jarinya mengelap lelehan saliva yang ada di sudut bibir Jaejoong.

Akhirnya Jaejoong membuka matanya. Mendapati Yunho tersenyum kepadanya. Ughhhh...aku tak menyadari ketampanannya akan bertambah kalau senyum seperti ini. Batin Jaejoong melihat ketampanan Yunho bertambah berkali-kali lipat apabila tersenyum dan berdekatan seperti ini. Wajahnya memerah seketika.

"Kau imut sekali baby, wajahmu memerah." Puji Yunho. Membuat Jaejoong tambah memerah lagi.

Yunho memencet ujung hidung Jaejoong. "Sebaiknya kau menghabiskan kopimu baby...Kalau tidak aku akan memakanmu." Ancam Yunho.

Jaejoong membelalak. Andwaee... Apabila Yunho menciumnya lagi, ia bisa terlarut dan berfikir untuk mengulang sesi bercinta mereka semalam.

Jaejoong mengangguk. Ia berusaha menuju meja. Tetapi ia mendapati kedua tangan Yunho menpel didinding, memenjarakannya.

"Katanya, kopi Yunho-yah..." Protes Jaejoong dengan bibir mempout lucu.

Yunho terkekeh lalu mencuri kecupan di bibir pout Jaejoong dan melepaskan kungkungannya.

"Aishhhhh...Jinjja!" Teriak Jaejoong kesal.

Mereka kemudian meminum kopi di balkon. Terdiam beberapa lama. Menikmati angin yang berhembus.

"Wae?" Tanya Jaejoong. Risih Yunho menatapnya sedari tadi.

"Kesepakatan apa yang kau buat dengan dirimu sendiri sehingga kau merubah dirimu semalam? Untuk apa itu semua?" Tanya Yunho tajam.

"Annio" Jaejoong mendengus. "Aku hanya ingin hidup lepas dari aturan yang selama ini kubuat dihidupku."

"Aturan apa?"

"Orangtuaku. Mereka mengajarkan agar aku hidup dengan kalem, simpel, tak berulah. Lalu aku menyadari...mmm seperti 'tak ada gunanya', sia-sia. Jadi kuputuskan untuk semalam, aku menikmati hidupku. Melepaskan tali yang mengekang diriku. Dan kau datang...kau emmmm...merayuku."

Yunho tertawa. "Miannhe...awalnya aku tak bermaksud merayumu. Aku melihatmu berbeda tadi malam. Sangat drastis. Berbeda dari kelakuanmu sebelumnya. Aku datang kesana sendiri untuk minum. Aku melihatmu juga sendirian. Jadi...aku putuskan untuk memperkenalkan diri sebagai tentanggamu." Jelas Yunho santai.

"Dan kau mengenalku sangat baik sekarang." Kata Jaejoong sinis.

Yunho mengangkat bahunya. "Entahlah...kau tak bisa cepat ditebak. Kau seperti mempunyai banyak kepribadian"

Jaejoong tertawa. "Kau benar, orang sepertiku mempunyai identitas rahasia. Kau menemui alter-egoku tadi malam."

Yunho ikut tertawa. "Aku mempunyai firasat, kau menginginkan kita melupakan apa yang sudah terjadi tadi malam kan?"

Jaejoong menatap Yunho serius. "Sejujurnya, kau namja terakhir dalam pikiranku yang kuharapkan melakukan 'one night stand'."

Yunho mengangkat alisnya. "Jadi...itu semua hanya 'one night stand'?"

Jaejoong memandang jempolnya yang bertautan. Ia gelisah. "Ne, aku rasa begitu. Semalam seharusnya tidak pernah terjadi. Tetapi terjadi. Akuu...terlena dengan rasa ingin tahuku, kehilangan pikiran sehatku. Pastinya, aku juga orang terakhir yang kau inginkan masuk dalam listmu kan?"

"Listku?" Tanya Yunho terkejut.

Jaejoong menatap Yunho dengan wajah datar. "Kau tau...banyak orang mengantri untuk mendapatkanmu. Aku tidak begitu. Semuanya kesalahan. Aku seseorang yang tak mengharapkan jawaban telepon darimu." Jaejoong lalu berdiri, berjalan menuju pagar balkon dan melihat jauh.

"Aku kira...aku tidak harus menjawab teleponmu, karena kau mungkin tidak akan pernah sekalipun menelponku kan? Dan sekali lagi, aku terkejut kau mengetahui reputasiku lebih dari kau mengetahui diriku." Ucap Yunho dengan kecewa.

"Aku juga tak mengenalmu." Ucap Jejoong.

"Kau mengenal diriku dengan baik sekali, bahkan secara intim sekarang."

Wajah Jaejoong memerah.

"Dan kau bisa mengenalku secara pribadi. Oke... mungkin kita bisa berteman?" Yunho menawarkan solusi.

Jaejoong tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. "Andwaee! Aku tak mau masuk dalam lingkaranmu. Kau hidup di dunia dimana yang kau lakukan akan selalu menjadi berita dalam koran atau kolom gosip. Kau adalah namja paling diingkan se-Seoul. Akan sangat susah menjalin pertemanan denganmu. Aku tak ingin dikenal. Aku tak ingin sahabatku menanyakan apa yang terjadi pada hidupmu setiap hari. Aku tak tertarik." Jelas Jejoong berapi-api.

Yunho menatap tajam Jaejoong sesat. Kemudian berkata "Namjachingu?"

Stooooppp! disini dulu ne...

Hayooo penasaran ga chingu?

Sikap apa yaaa... yang diambil Jeje? Berpura-pura tidak saling mengenal dan tidak terjadi apa-apa. Menyetujui ajakan Yunho menjadi teman. Atooo... kata terakhir yang Yunho sebut. XHOXHOXHO...

Ditunggu komentarnya...

Makasih semuanya...Selamat malam minggu :)

Wkwkwkwk...