Title : All The Wrong Reason

Author : Cici

Genre : Romance, hurt, family, comfort, cheating, backstreet

Main Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong (Yunjae)

Sub Cast : Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Hyun Joong, Kim Karam. lainnya akan muncul satu-satu

Rating : M

Lenght : Chaptered

Warning : Yaoi, maleXmale, alur lambat banget

Disclaimer :

Cerita ini terinpirasi dari novel dengan judul yang sama karya Jerileekaye. Cerita ini aku buat versi Yunjae. Sebisa mungkin sesuai dengan keadaan fanfic yunjae sebagaimana mestinya. Aku juga membuat cerita ini yang notabene cerita "straight" menjadi "yaoi". Jadi tidak ada genderswitch, karena kalau dengan fanfic aku lebih suka "yaoi".

Alur cerita lambat, karena akan menerangkan segala sesuatunya secara mendetail. Ada adegan yang diperuntukkan bagi dewasa (NC-21). Cerita dikondisikan adanya toleransi penuh kepada sesama jenis menjalin kasih di Korea Selatan. (gay lumrah lah...) ada "seme" dan "uke" Hubungan "bi" sudah biasa terjadi.

Apabila penasaran dengan alur ceritanya bisa membaca novel aslinya di Wattpad. Dan bila penasaran dengan versi yunjae dan yaoi diharap sabar menunggu. Bagi yang tidak berkenan dengan yang saya tulis, wajib jangan dibaca! Simpel.

Chapter Title : Secret Intimate Friend (Teman tapi mesra rahasia)

Yunho menatap tajam Jaejoong sesat. Kemudian berkata "Namjachingu?"

"Mwoooo...?"

"Aku berfikir, kau mempunyai namjachingu. Benar?" Ucap Yunho.

Jaejoong terkejut ia balas menatap Yunho. Daebak!...jadi benar kalau dia sangat pintar! Tak salah kalau lulusan Harvard.

Jaejoong berdehem. "Apa yang membuatmu berfikir seperti itu?"

Yunho mengankat bahunya. "Kau terlihat terlalu khawatir untuk menjalin pertemanan. Selain karena reputasiku. Pastinya kau takut pada dirimu sendiri kan? Seperti ada yang mengawasimu, mengaturmu. Semua itu pasti karna kau mempunyai namjachingu." Analisa Yunho.

Jaejoong mendesahkan nafasnya, kembali menatap jauh kota Seoul.

"Sudah berapa lama kau berhubungan dengannya?" Tanya Yunho lalu meminum kopinya.

"Tiga tahun."

Yunho tersedak kopinya. Untung sudah tidak panas.

Jaejoong memandang Yunho. "Aku tau...aku memilih kehilangan keperjakaanku tadi malam. Dan itu tidak dengannya."

"Aku tidak menanyakannya baby." Yunho menyeringai.

"Shit!" Jaejoong mengumpat. "A...aaku bahkan tidak sekalipun merasa bersalah terhadapnya." Ungkap Jaejoong bingung.

"Itu karena kau tak mencintainya baby. Kau mempertahankannya karena kau merasa itulah yang terbaik." Analisa Yunho lagi.

Jaejoong menatap Yunho tak percaya. Setiap analisa yang ia buat selalu tepat. "Kau mengerikan Yunho-ssi, apa kau juga belajar psikologi? Aishhh... kita hentikan pembicaraan ini. Aku tak mau lebih malu lagi didepanmu." Ucap Jaejoong cemberut.

Yunho terkekeh melihat ekspresi kesal Jaejoong lagi. "Kalau begitu, kajja kita makan siang."

"Eummm makan siang, dengan...mu?"

Yunho memutar matanya menghadapi Jaejoong yang lemot saat ini.

"Bukan! Dengan Bratt Pitt." Ucap Yunho asal. "Ya iyalah baby...aku yang mengajakkmu kan... tapi kalau kau menganggapku Bratt pitt, tak masalah sih...kita sebelas duabelas...tapi jelas lebih tampan aku." Cerocos Yunho narsis tak jelas.

Jaejoong melongo mendengarnya. Ternyata Yunho pede akut. "Aigoo...apa aku terlalu memujimu tadi eoh?"

"Hehehe...Kajja baby Jae...kita makan siang bersama."

"Dimana?" Tanya Jaejoong langsung. Ia juga merasakan perutnya bergejolak sekarang.

"Suatu tempat dimana tidak ada satupun yang mengenali kita karena aku mengerti kau tidak mau kita terliat berdua kan?" Jawab Yunho.

"Dimana itu?" Jaejoong penasaran.

"Di hutan." Jawab Yunho terkekeh.

"Yaaaa!" Teriak Jaejoong kesal.

"Mian... ppali bersiap-siap aku tunggu 10 menit lagi. Aku janji tak ada seorangpun yang mengenali kita nanti." Ucap Yunho lalu berjalan keluar apartemen Jaejoong. Tak pedulikan Jaejoong setuju atau tidak.

Jaejoong mendesah berat. Mengapa Yunho tak mengerti dirinya? Tak mudah ternyata berbicara kepadanya.

"Aishhhh... Yunho pabbo!" Erang Jaejoong kesal saat ia selesai bersiap-siap dan melihat cermin. Hasil kerja Yunho terpampang nyata disekeliling lehernya. Padahal ia memakai kaos berkerah round neck tapi masih juga terlihat. "Bagaimana bisa pergi kalau seperti ini, ishhh..." Jaejoong tentu tidak ingin orang-orang melihatnya habis make something, kan?

Setelah berfikir solusi untuk masalah lehernya. Ia memilih melilitkan syal pada lehernya dari pada mengenakan turtle neck. Hell! Ia akan disangka penyakitan apabila terlihat memakai turtle neck di musim panas ini. Sebenarnya syal juga tidak tepat digunakan sii. Tetapi lebih dapat ditoleransi lah.

Jaejoong mengomel didepan kaca sambil melilitkan syalnya "Pabbo, pabbo, pabbo namja! Ck...akan kujauhkan wajahnya dari leherku ishhhh." Jaejoong terdiam sejenak, ia jadi berfikir apa ia mengharapkan Yunho melakukannya lagi?. "Yak, Joongie Yadong! apa yang kau ucapkan eoh..." Jaejoong menggeplak kepalanya sendiri.

Jaejoong akhirnya mengenakan kaos round neck bewarna coklat muda dengan lengan panjang sampai siku dan celana panjang chino abu-abu. Ia melilitkan syal bewarna coklat tua agar sepandan dengan kaosnya. Ia merasa tak perlu berdandan berlebihan layaknya ingin mengesankan Yunho saja. Ia kembali memakai kacamatanya.

Yunho menunggu didepan apartemennya sambil sesekali menggerutu. Sudah kelewat sepuluh menit dari waktu yang dikatakannya.

"Yak! Baby... kau lama sekali!" Protes Yunho kepada Jaejoong ketika akhirnya ia keluar dari apartemennya.

"Ini semua karena siapa? Siapa yang membuat leherku jadi lebih bewarna ha? Kau mengerikan." Balas Jaejoong dengan garang.

"Hehehe mianhe. Tapi kau suka kan?" Cengir Yunho. "Tetapi kenapa ditutupi eoh? Seharusnya kau bangga mendapatkannya."

Yunho langsung mendapatkan deathglare tajam dari Jaejoong. Daripada merusak mood namja cantiknya ini, lebih baik Yunho segera mengajaknya makan siang.

Yunho menggandeng tangan Jaejoong memasuki lift. Didalam liftpun tautan tangan mereka tak terlepas. Jaejoong menjadi gugup, kejadian tadi malam di dalam lift ini masih segar dalam ingatannya. Masih saja sentuhan Yunho pada kulitnya menghasilkan sensasi seperti tersengat listrik. Padahal kali ini ia tidak sedang habis meminum tequila. Ketika Hyun Joong memberikan ciuman selamat malampun ia tak pernah merasa seperti ini.

Ketika menyadari akan sampai di lobi, Jaejoong melepaskan gandengan Yunho. Yunho menatapnya protes.

"Ingat, aku tak ingin menjadi bahan pembicaraan." Ucap Jaejoong.

Yunho menghela nafas. "Arraseo my cute baby Jae."

"Jangan memanggilku seperti itu didepan umum." Desis Jaejoong kepada Yunho.

Yunho hanya mengatkat alisnya kemudian berjalan mendahului Jaejoong yang mengikuti dibelakangnya.

Jaejoong melongo melihat Ferrari bewarna merah cabe didepannya. Ia tak berniat mengajaknya pergi dengan mobil ini kan? Jaejoong terdiam menggigit bibirnya. Ia berfikir sebaiknya kembali keapartemen.

"Kajja baby...masuklah." Pinta Yunho dari dalam mobil.

Jaejoong menggelengkan kepalanya ragu.

"Apa yang kau pikirkan lagi my gosh...cepat masuk sebelum orang-orang melihat kita."

Jaejoong akhirnya masuk dengan merengut. "Kalau tau kendaraanmu seperti ini, aku tak akan mau makan siang denganmu. Bagaimana bisa tak menimbulkan perhatian kalau seperti ini eoh." Omel Jaejoong.

"Sisi lain dirimu baby, kau ini cerewet sekali." Ucap Yunho yang langsung mendapat tatapan tajam Jaejoong. "Aku hanya punya motor ducati dan mobil ini. Atau kau ingin naik motor saja? Biar bisa memelukku lagi?" Goda Yunho.

Jaejoong kesal langsung menggeplak bahu Yunho. "Dalam mimpimu!"

Mereka mengobrol selama perjalanan. Bercerita tentang diri masing-masing. Jaejoong kira ia akan canggung berinteraksi dengan Yunho. Topik apa yang akan ia tanyakan pada most wanted person ini? Tapi nyatanya ia sangat nyaman bercerita dengan Yunho. Ia selalu memperhatikan dan menanggapi ceritanya.

"Berapa lama kau bekerja di Trend?" Tanya Yunho.

"Hampir 4 tahun. Itu adalah pekerjaan pertamaku." Jawab jaejoong.

"Aku dengar kau pekerja yang handal."

Jaejoong menggangkat bahunya. "Kadang aku juga merasa sedikit bosan asal kau tau. Aku membutuhkan sesuatu yang lebih."

"Tapi aku juga mendengar kau akan direkomendasikan untuk naik jabatan."

Jaejoong tertawa. "Hahaha jadi...seorang Jung Yunho juga mendengarkan gosip?."

"Yah karna aku juga mempunyai telinga, kan... orang-orang di Trend banyak yang membicarakanmu." Ucap Yunho.

Jaejoong mendesah. "Mungkin karena aku adalah namja paling membosankan di Trend. Pintar tapi membosankan."

Yunho memandang Jaejoong sejenak, lalu kembali menatap jalan didepan. "Ani, tidak ada yang membosankan darimu. Tapi menurutku, ketika pertama kali bertemu denganmu kau errr... terkesan sombong."

"Wae?" Jaejoong merasa dirinya tidak begitu. Ia selalu ramah pada siapa saja.

"Karena... kau tak pernah menyapaku. Tak seperti rekan kerjamu yang lain." Jawab Yunho enteng.

"Ishhh... Cuma karena itu, akukan bukan fansmu eohh... ngapain repot-repot menyapamu yang pasti tak akan kau pedulikan. Aku lebih tau kau Yunho-ssi, kau itu namja paling sombong dan dingin. Itu reputasi lain yang kutau darimu. Selain player" Cerocos Jaejoong.

"Aigoo... ternyata dimata orang-orang aku ini buruk." Ucap Yunho sedih.

"Mmm...kukira tidak sepenuhnya benar." Jaejoong menggigit bibirnya. "Setelah mengenalmu...kau ternyata orang yang... sangat baik, perhatian dan menyenangkan." Pipi Jaejoong memerah seketika karena malu.

Yunho tersenyum "Kau seperti kitty kalau malu-malu seperti itu. Ah, aku akan memanggilmu baby kitty."

"Yak jangan sembarangan! Kau menyamakan aku dengan kucing?" Jaejoong menggeplak bahu Yunho lagi.

Akhirnya mereka sampai disebuah pusat perbelanjaan. Yunho berencana mengajak Jaejoong jalan-jalan sehabis makan siang. Awalnya Jaejoong tidak mau turun dari mobil karena Yunho malah membawanya ke mall. Tetapi Yunho berhasil meyakinkan tak ada yang mengenalnya disini karena ini sudah jauh dari kota Seoul.

"Baby, kau tak berfikir aku ini benar-benar mirip Bratt Pitt kan? Come on... tidak ada yang mengenal kita disini." Bujuk Yunho

Jaejoong memutar matanya. "Nde nde... aku turun Bratt Pitt bermata sipit."

"Yak, baby kitty sudah berani mengejekku eoh."

Mereka kemudian makan di salah satu resto mall. Jaejoong sedikit waspada melihat sekitar apabila ada orang yang mengenalnya. Sedangkan Yunho santai dengan makanannya. Setelah selesai makan siang, Yunho mengajakknya berkeliling mall. Sepanjang jalan mereka bergandengan. Walaupun berkali-kali Jaejoong menghempaskan tangannya. Tetap saja Yunho dengan keras kepala menggandengnya. Sedikit heran tapi ia senang, Yunho mau mengajakknya berjalan-jalan. Ia tak malu akan dirinya yang berpenampilan seperti ini.

"Bagaimana kalau kita ke melihat film di bioskop." Ajak Yunho.

Jaejoong mengangkat bahunya. "Terserah saja, aku tak ada deadline. Dan juga... kau yang mempunyai mobil. Aku bahkan tak tau jalan pulang."

Yunho terkekeh. Ia menggandeng Jaejoong menuju bioskop. Sebelum memasuki bioskop mereka membeli pop corn dan soda. Mereka menonton film bergenre romantic, karena memang itu yang tersisa.

Dipertengahan film Yunho tiba-tiba memegang tangan Jaejoong. Meremasnya sebentar. Lalu menariknya agar Jaejoong mendekat. Seketika itu juga Yunho mencium bibir Jaejoong. Melumatnya dengan lembut. Jaejoong memandang Yunho. Wajahnya menyala diterpa cahaya layar. Dia memang seperti yang sahabatnya katakan. Tampan. Ditambah lagi, ia tak mengenakan kacamatanya. Jaejoong dapat menikmati mata hazel, bulu mata yang panjang dan hidung mancung yang sempurna dari Yunho.

Yunho membuka matanya dan melihat Jaejoong yang memperhatikannya. Ia tersenyum menggoda lalu memberikan ciuman lembut lagi kepada Jaejoong. Yunho melingkarkan tangan kananannya disekeliling bahu Jaejoong. Merengkuhnya. Jaejoong menyandarkan kepalanya pada bahu Yunho dengan nyaman.

Setelah film habis, Jaejoong merasakan perasaan yang asing. Dia tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Dia tak tau apa alasan Yunho mengajaknya keluar makan siang, jalan-jalan sambil bergandengan, menonton film, berciuman di dalam bioskop. Itu semua hal yang tidak pernah Hyun Joong lakukan.

Sebelum pulang, Yunho mengajak Jaejoong makan malam terlebih dahulu. Sebenarnya Jaejoong enggan, karena Yunho sudah banyak mengeluarkan uang untukknya. Tapi Yunho hanya tertawa mendengar alasan Jaejoong. Untuk apa sungkan kepadanya. Hanya makan kan?

"Kau meminta berlianpun akan kubelikan sekarang, baby Jae."

Jaejoong hanya cemberut lucu.

Setelah makan, mereka akhirnya pulang. Selama perjalanan, Jaejoong merasa mengantuk. Sebelum ia tertidur ia ingat, Yunho meraih tangannya dan menggenggamnya.

Mereka masih berpegangan tangan ketika Jaejoong terbangun dengan butterfly kiss di pipinya. Ketika ia membuka matanya, ia mendapati mata hazel Yunho menatapnya.

"Ireona baby, kita sudah sampai." Ucap Yunho dengan lembut. Jaejoong mengerjab-ngerjabkan matanya karena kaget.

Yunho yang gemas langsung saja menyambar bibir Jaejoong. Memberikan ciuman yang dalam dan basah.

Jaejoong kali ini kewalahan dengan ciuman Yunho. Ia belum sepenuhnya sadar dari tidurnya dan Yunho menciumnya ganas seperti itu. Dengan sekuat tenaga Jaejoong mendorong Yunho karena sudah kehabisan nafas.

Hosh hosh hosh

"Nappeun eoh!" Protes Jaejoong sambil mendelik kepada Yunho.

Yunho hanya terkekeh, lalu keluar mobilnya. Ia membukakan pintu untuk Jaejoong.

Jaejoong menyadari ia berada di basemen, tempat parkir. Yunho melingkarkan lengannya kesekeliling pinggang Jaejoong menuntunnya menuju lift. Jaejoong terlalu pusing untuk protes.

Lagi, didalam lift Yunho mencium Jaejoong dengan penuh gairah. Jaejoong membalasnya dengan sama pula. Saling meminkan lidah dan menyesap. Jaejoong bahkan meremas – remas rambut Yunho. Entah mengapa ia senang sekali meremas rambut Yunho.

Ting

Pintu akan terbuka di lantai tiga, mereka dengan cepat melepaskan diri dan menjauh. Pasangan kakek nenek masuk kedalam lift. Sebelumnya mereka mengangkat alis melihat dua orang yang bernafas seperti habis berlari marathon. Dan juga rambut Yunho yang acak-acakan. Sepertinya pasangan tua itu mengerti dan langsung masuk lift tanpa melontarkan pertanyaan.

Mereka menunggu seperti selamanya, mengharapkan pasangan tua itu segera keluar.

Ting

Akhirnya pasangan tua itu keluar, sang nenek menengok kebelakang dan memberikan deathgrale kepada Yunho dan Jaejoong. Seakan mengatakan "Jangan berbuat mesum di tempat umum."

Setelah pintu tertutup, seperti magnet mereka mereka menempel kembali. Mencari-cari bibir dan saling mengunci dalam pelukan. Jaejoong merasa hasrat mulai mengusai akal sehatnya lagi.

Yunho menggeret Jaejoong sedikit berlari di lorong apartemen mereka. Mereka sampai diantara pintu apartemen Yunho dan Jaejoong. Sesampai didepan pintu apartemen Jaejoong, Yunho kembali mencium Jaejoong sehingga ia kesulitan untuk menekan password.

Klik

Pintu apartemen Jaejoong terbuka dengan teregesa mereka masuk. Masih dengan bibir bertaut. Yunho menutup pintu dengan kakinya. Mereka memang benar-benar sudah dikuasai oleh gairah dan hasrat.

Entah siapa yang memulai mereka saling melepaskan pakaian. Terlihat pakaian berserakan dari ruang tamu sampai kamar tidur Jaejoong. Tautan tubuh mereka baru terlepas setelah kaki Jaejoong mengenai tepi ranjang. Ia lalu terjatuh karena dorongan dari Yunho. Terlihat hanya boxer yang melekat di tubuh Jaejoong.

Tidak perlu bertanya lagi. Mereka berdua menginginkan apa yang terjadi semalam terulang lagi. Jaejoong tidak mau munafik pada dirinya sendiri. Dia menyadari apa yang ia fikirkan tentang apa yang terjadi semalam tak akan pernah terjadil lagi… adalah bohong. Diri Jaejoong yang sebenarnya, mengingikan Yunho.

Yunho membius Jaejoong dengan ciumannya. Sampai terlihat bibir Jaejoong membengkak basah. Pikiran akan menjauhkan Yunho dari lehernya juga salah. Ia membiarkan Yunho melakukan apa yang Yunho mau. Ia sudah pasrah oleh sentuhan Yunho yang membuatnya mengerang dan mengerang. Ia ingin menjeritkan nama itu lagi.

"Akhhhhhh….YUNHOOOO…AARRKKHHH….." Jerit Jaejoong kenikmatan setelah mencapai orgasmenya.

"OooHHHH Baby JAE…." Erang Yunho tak lama setelah Jaejoong mencapai puncaknya.

Jaejoong tak tau berapa lama ia bercinta dengan Yunho. Setelah selesai, mereka berpelukan dalam kegelapan. Berbicara lebih jauh tentang satu sama lain.

Tiba-tiba Jaejoong terkikik geli.

"Wae?" Tanya Yunho.

Jaejoong melesakkan kepalanya ke dada Yunho. "Anni. Aku hanya sadar kalau aku …. Melakukan'pillow talk' pertama kali dalam hidupku."

Yunho tersenyum "Dan bagaimana rasanya baby?"

"Tidak buruk, sejujurnya aku merasa sangat nyaman."

Yunho tertawa kemudian berkata "Kekasihmu pasti bodoh, buta, gila atau impoten baby."

Jaejoong mendongakkan kepalanya menatap Yunho. "Mengapa kau berkata seperti itu?"

"Kau benar-benar namja yang mempesona baby. Aku hanya tak mengerti, mengapa kekasihmu membiarkanmu begitu saja. Tidak pernah mengenalmu lebih intim." Ucap Yunho.

Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Kita hanya tidak sering melihat satu sama lain. Dia sama kolotnya dengan eommaku. Bahkan dia tak pernah menciumku di bioskop."

"Benarkah? Aku bahkan tidak bisa menahan untuk tak menciummu dalam kegelapan baby."

Wajah Jaejoong memerah mendengar pernyataan Yunho.

"Memang seperti itu. Ditambah lagi, dia tidak tinggal di Seoul. Kita berhubungan jarak jauh."

Dan dia tak akan bisa membuatku merasakan seperti yang kau lakukan kepadaku. Jaejoong ingin mengatakannya, tetapi ia memutuskan tidak.

"Betapa tidak beruntungnya dia... tidak mendapatkan kesempatan mencuri kepolosanmu. Tapi aku yang mendapatkannya." Ucap Yunho menggoda.

Jaejoong tersenyum "Kau tidak mencurinya dariku." Jaejoong terdiam sejenak. "Aku yang memberikannya padamu."

"Dan aku sangat berterima kasih untuk itu, baby. Aku tidak akan pernah melupakannya." Kemudian Yunho meraup bibir cherry Jaejoong lagi, memberikan ciuman yang dalam.

"Apakah kau masih memikirkan agar kita tidak saling mengenal?" Tanya Yunho. "Jujur, hal itu sangat konyol."

Jaejoong mengangkat bahunya. Ia tak tau harus menjawab apalagi. "Molla... aku..."

"Tak perlu berfikir berat... bagaimana kalau teman?" Jaejoong mengangkat alisnya. "Teman tapi mesra baby" Bisik Yunho sensual ditelinga Jaejoong.

Jaejoong memerah seketika. "Yuhnn... kan kita sudah bicarakan sebelumya." Protes Jaejoong.

"Arra... aku putuskan. Kita adalah secret intimate friend" Ucap Yunho lalu mengeratkan pelukannya.

Jaejoong tidak bisa menolak. Biarlah ini semua berjalan seperti air.

Jaejoong memutuskan untuk mandi, karena seharian ia pergi dan beraktivitas dengan Yunho membuatnya berkeringat. Yunho tiba-tiba masuk dan bergabung dengan Jaejoong yang tidak bisa mengatakan tidak. Ini adalah mandi paling sensual dalam hidup Jaejoong. Pertama kalinya ia melakukannya bersama seseorang. Dan lagi-lagi orang yang mungkin tak akan pernah ia bayangkan dahulu, Jung Yunho.

Setelah mandi, mereka bergantian mengeringkan rambut mereka yang basah. Jaejoong terkikik saat mengeringkan rambut tebal Yunho. Ia bertanya-tanya, betapa tebalnya rambut Yunho, karena sudah beberapa kali ia menjambaknya tapi masih terlihat tebal. Ia suka sensasi saat rambut itu menyusup disela-sela jarinya.

"Jaljalyo baby..." Ucap Yunho sambil mencium kening Jaejoong.

"Jaljalyo Yunho-yah..." Balas Jaejoong ia akan menyerukkan kepalanya ke dada Yunho.

Hehehehe NC d Cut Yaaa... nda pada bosen xixixi...

Tp jngn bosen baca :D

Perselingkuhanpun dimulaiii ...

makasi semuaaaa ...

wkwkwkwk ...