Hula-hula nii kutepati janji q update chingu-yaa (-^O^-)
Warning : Chapter ini mengandung adegan dewasa ya...(NC-21) klo yg ga brknan bisa d scroll k bawah smpe adegany aman, (^_^).
Chapter Title : Transformation
"Euuhhh..." Jaejoong mendesah ketika ia merasakan sesak dalam tidurnya. Bagaimana tidak sesak, Yunho mengukungnya dengan tangan kekarnya. Jaejoong membuka matanya, dan ia mendapati sesuatu yang bidang dihadapanya.
Blusshhh...
Wajah Jaejoong memerah. Ia tau apa itu. Memori panas semalam berputar dalam ingatannya. Jung Yunho yang pasti membuat tubuhnya menegang dan melemas malam tadi.
Yunho memeluknya, tubuh kekarnya dengan pas memeluk tubuh rampingnya. Jaejoong berusaha melepas tautan Yunho pada tubuhnya secara perlahan. Tetapi entah mengapa tangan itu tidak mau terlepas. Ia jadi kesal. Ia lalu memandang wajah Yunho dengan mata yang terpejam dan bibir hati yang membuka.
Lucu sekali cara tidurnya. Batin Jaejoong. Ia lalu memainkan bibir Yunho, Jaejoong mencoba menutupnya, tetapi membuka kembali. Menutupnya dan menahannya lama. Tetapi tetap membuka kembali. Berkali–kali seperti itu. Jaejoong jadi terkikik geli. Merasa bersalah karena ia tak ingin mengganggu tidur Yunho. Jaejoong menghentikan keisengannya.
Ia ingin sekali mandi karena badannya terasa lengket saat ini. Tapi rengkuhan Yunho tak juga melemas. Jaejoong mendapat ide, ia dengan perlahan bergerak turun dari posisinya semula. Ia yang tadinya menatap dada bidang Yunho kini menatap perut ABS Yunho, turun lagi dan...
Glup
Jaejoong menelan ludahnya berat. Ia berhadapan dengan kejantanan Yunho yang besar dan sekarang dalam kondisi lemas. Ia menatapnya tanpa berkedip. Aigoo kenapa aku jadi tertular dia, pervert...
Jaejoong berhasil lepas dari jeratan Yunho. Tetapi kenapa tatapannya tidak bisa lepas dari benda itu sekarang. Ia menggigit bibir mengingat Mr P Yunho yang meluluh lantakkan tubuhnya. Ia ingin membalas dendam. Seringaian nakal kini terlihat dari wajahnya. "Kau akan merasakan apa yang aku rasakan Yunn..."
Jaejoong lalu meraih benda lembut yang tertidur itu. Jemari lentiknya menari disepanjang Mr P Yunho. Dalam tidurnya, Yunho bergerak dengan gelisah. Jaejoong merasakan Mr P itu membesar dan mengeras di genggamannya. Ia semakin semangat mengurut-urutnya. Dua bola yang dibawahnya juga tak lepas dari remasan jarinya.
"Euhhhhh... " Erang Yunho dalam tidurnya, anehnya ia tak terbangun. Jaejoong tersenyum jahil.
Jaejoong membelalak kini mendapati Mr P Yunho bertambah besar, panjang dan keras. Ujungnyapun mengeluarkan cairan yang Jaejoong tidak tau. Ia jadi ingin mencicipi rasa Yunho. Seperti yang Yunho lakukan padanya saat bercinta. Ia pasti akan kelonjotan langsung apabila Mr P-nya sudah masuk kedalam mulut Yunho.
"Aku akan melakukan oral seks untukmu Yun... bersiaplah...heum" Kerasukan apa... Jaejoong kini terlihat nakal.
Slurp
Slurp
Jaejoong menjilati Mr P Yunho terlebih dahulu layaknya es loli. Ia suka aroma manly Yunho. Saat lidahnya berputar-putar di kepala yang membengkak itu, gerakan dan erangan Yunho semakin intens dalam tidurnya. Lelap sekali tidurnya sampai kubeginikan saja tidak bangun? Batin Jaejoong.
Setelah semua permukaan terjajah oleh lidahnya. Jaejoong memasukkan Mr P Yunho kedalam mulut mungilnya.
Hup
Eemmmmphhh...
Jaejoong memulai kulumannya dengan memaju-mundurkan mulutnya. Ia mengetatkan bibirnya agar Mr P Yunho merasakan seperti dipijat. Ia sangat menikmati apa yang dilakukannya walaupun jelas ia kewalahan dengan besar dan panjangnya kejantanan Yunho. Mulutnya terasa penuh.
"WHAT THE FUCK!" Teriak Yunho akhirnya terbangun. Ia lalu membelalak melihat apa yang dilakukan Jaejoong. Pemandangan erotis mulut Jaejoong yang mengoral Mr P-nya. Jaejoong mendongak melihat sebentar wajah Yunho yang memerah. Memberikan kedipan mata nakalnya. Lalu kembali mengerjai Mr P Yunho.
"Akhhhhhh Babyyhhhh...Apaa yang kau lakukannnn Akhhhhh..." Yunho berusaha menarik kepala Jaejoong dari Mr P-nya.
Jaejoong menepis tangan Yunho. Tak mempedulikan protesan dari Yunho. Ia semakin semangat mengulum kejantanan Yunho. Kadang ia menggesekkan giginya. Membuat Yunho menggelinjang brutal.
Yunho yang tadinya menarik kepala Jaejoong agar menjauh kini malah meremas rambut Jaejoong dan memaju-mundurkannya.
"Babyyhhhh Joongieee akhhhhhh...kau membuatku gilaaaa..." Erang Yunho.
"Mppppphhhmmmm..." Suara Jaejoong menanggapi.
"Ahhhh... baby nikmatt... terus baby... akkhhh" Yunho memaju mundurkan kepala Jaejoong semakin cepat. Jaejoong beberapa kali tersedak karena ulah Yunho.
"Babyhh... lepaskan... aku mau keluar..." Pinta Yunho. Tetapi yang dilakukannya malah semakin gencar memaju mundurkan kepala Jaejoong. (-_-;)
Jaejoong yang tau Yunho akan sampai malah semakin gencar mengulum. Hisapan yang kuat ia lakukan di kepala Mr P Yunho.
Tubuh Yunho semakin menggelepar-gelepar bagai ikan sekarat merasakan sensasi oral sex ala jaejoong.
"Oh Tuhaannnn...Babyyyhhhhh aku keluarrr Arkkkkhhhhh..." Teriak Yunho.
Jaejoong menerima semburan hangat Yunho didalam mulutnya. Ia menelannya tanpa protes. Banyak sekali... batin Jaejoong.
Jaejoong menjilati sisa-sisa sperma Yunho yang mengalir keluar. Terlihat Mr P itu kini basah mengkilap. Jaejoong lalu memberikan kecupan terakhir di kepala Mr P Yunho.
"Selesaaiii..." Ucap Jaejoong kegirangan. Ia lalu menatap Yunho, mendapati namja itu sedang memejamkan matanya sambil terengah-engah.
"Yun... waeyo?" Tanya Jaejoong polos.
Yunho membuka matanya langsung menatap tajam Jaejoong. Jaejoong langsung beringsut mundur mendapati signyal bahaya.
"YAK!" Pekik Jaejoong.
Yunho dengan tidak berperikemanusiaan membanting Jaejoong dan menindihnya. "Baby kitty nappeun eoh...sudah berani menggodaku." Ucap Yunho dengan nada berbahaya.
Jaejoong menggelengkan kepalanya panik. "Mi...mi...miane... kalau kau tidak suka Yunn."
Yunho terkekeh dengan kegugupan Jaejoong. "Namja mana yang tidak suka digitukan oleh kitty." Ucap Yunho lalu membelai bibir tipis yang membuatnya melayang tadi. "Tapi...my baby kitty nappeun...melakukannya saat aku tidur. Baby kitty harus diberi hukuman."
Jaejoong membelalakan matanya. "Andwae Yun... andwae... jeball." Mohon Jaejoong sambil berpuupy eyes.
"Kyeopta." Puji Yunho sambil menyingkirkan anak poni di dahi Jaejoong.
Yunho tak peduli dengan rengekan Jaejoong ia ingin melumat habis bibir merekah dihadapannya itu. Ia mendekatkan bibirnya dan menyambar bibir Jaejoong dengan lumatan kasar.
Ting Tong Ting Tong
Ting Tong
Suara bel menginterupsi kegiatan bibir mereka. Mereka saling berpandangan sejenak. Tapi kemudian suara lain muncul.
"Joongie...ini aku Junsu dan Changmin... buka pintunya!." Suara melengking lumba-lumba menyapa mereka.
Jaejoong mendelik horor kepada Yunho "OMOO... Junsu, Changmin disini. Omo...Omo... kau...kau harus pulang Yun." Jaejoong mendorong tubuh Yunho lalu berdiri dan memakai pakaiannya dengan cepat. Yunhopun begitu
"Kau tega menyuruhku pergi baby." Ucap Yunho memelas. Ia masih ingin bercumbu dengan Jaejoong.
"Ne Yun, Tidak lucu mereka menemukanmu disini kan?" Ucap Jaejoong panik.
Yunho menghela nafas. "Arra, aku akan keluar melompat lewat balkon." Ucap Yunho lalu memberikan ciuman lembut dikening jaejoong. "Tenangkan dirimu terlebih dahulu, sampai nanti." Yunho lalu beranjak sambil membawa kaosnya. Ia hanya mengenakan jeansnya.
Glup
Betapa sexynya dia... Jaejoong masih saja bisa berfikiran seperti itu.
Ting Tong Ting Tong Ting Tong
Bel dipencet dengan brutal menyadarkan Jaejoong dari bayangan Yunho. Sebelum tetangga protes ia dengan cepat berlari dan membukakan pintu.
Cklek
"Hyung... Kau pingsan atau apa? lama sekali membuka pintu padahal kami memencet bel dari 5 menit yang lalu. Suara Junsu hyung yang memekik seperti lumba-lumbapun sudah berusaha memanggilmu. Kau kenapa Hyung?." Sembur Changmin langsung.
"Aku masih tidur tadi. Hangover membuatku susah bangun." Ucap Jaejoong sambil pura-pura menguap.
"Kopi Joongie, agar tidak ngantuk" Junsu menyodorkan cup coffe cojje pada Jaejoong. "Woooaa apartemen yang cantik dan elegan" Komentar Junsu.
Changmin mengangguk-angguk menyetujui. "Kau pasti menyimpan seluruh gajimu selama bekerja hyung."
"Tidak semuanya minnie, kuncinya adalah bagaimana mengatur keuangan. Itu saja." Jelas Jaejoong
"Seleramu bagus hyung dan sangat mencerminkan dirimu"
"Karena aku mendekorasinya sendiri."
Mereka kemudian berjalan menuju balkon. Jaejoong mengikutinya dari belakang sambil menyesap kopinya. Sesampai di balkon pandangan ia alihkan ke sebelah kanan, cemas apabila Yunho terlihat kedua sahabatnya.
"Pemandangannya indah sekali dari sini... Kita harus sering-sering mengunjungi Joongie" Ucap Junsu
"Asal kalian tidak merepotkan saja." Cibir Jaejoong.
"Hyung kau habis kedatangan tamu?" Tanya Changmin.
"Anni, wae?" Jawab Jaejoong sebenarnya gugup. Changmin itu manusia dengan iq tinggi. Jadi melihat hal yang mencurigakan saja, ia langsung menganalisis cepat.
Changmin menunjuk dua cup kopi kosong dimeja balkon. Ia tau itu bekas kopi yang ia dan Yunho minum hari lalu. Jaejoong lupa membersihkannya.
"Euummmm itu... bekas kopi ku, aku lupa membersihkannya. Aku ingin minum dengan rasa yang berbeda jadi aku membeli dua cup." Jelas Jaejoong gugup.
Changmin mengangkat alisnya masih tak percaya.
"Kau tau kan kalau bossku sering semena-mena menyuruhku menulis sesuatu secara mendadak. Maka dari itu aku memesan dua kopi agar tidak ngantuk mengerjakannya."
Changmin mengangkat bahunya. "Aku kira Hyun Joong mengunjungimu hyung."
"Tidak mungkin dia pulang sekarang." Ucap Jaejoong yakin.
"Pasti lebih memilih kuliahnya dan menjadi tutor Karam daripadamu Joongie." Junsu menambahi.
"Molla, terserah dia." Ucap Jaejoong malas.
Changmin mengernyitkan alisnya. "Tidak seperti biasa hyung? Kali ini kau tak membelanya?" Tanya Changmin.
Jaejoong menghela nafas. "Aku hanya sedang malas dengannya."
Junsu dan Changmin saling berpandangan. "Kau sedang ada masalah dengannya?" Tanya Junsu.
"Sedikit." Jawab Jaejoong tak yakin.
"Huh, kukira kau sudah lelah dengannya. Putus saja dengannya Joongie... masih banyak namja lain." Saran Junsu.
Jaejoong memandang jauh kota Seoul. Mendapatkan Hyun Joong adalah kebanggaannya pada sang eomma. Apabila ia melepasnya begitu saja sekarang. Apa yang akan dikatakan eomma padanya.
"Asal kau tau banyak namja di kantor yang melirikmu Joongie. Tapi karena kau terlalu acuh dan setia pada namjachingumu ya mereka tak melakukan apa-apa." Ucap Junsu memberitahu.
"Ne hyung, mereka pasti para seme yang mempunyai mata jeli sehingga bisa melihat kecantikanmu dalam penampilanmu seperti ini." Puji Changmin.
Jaejoong mendesah. "Tapi aku sudah bersamanya selama tiga tahun." Ucap Jaejoong frustasi.
"Dan kau hanya bertemu dengannya 3 bulan sekali? Total hanya 9 pertemuan selama ini? berapa kali kau berciuman? Aku bertaruh bisa dihitung dengan jari. Make outpun dipastikan kau tak pernah melakukannya kan Joongie?" Ucap Junsu terang-terangan.
"Apabila kau meninggal sekarang, kau akan menyesal hyung belum pernah merasakan surganya bercinta." Sambung Changmin frontal.
Jaejoong hampir tersedak kopinya. Andai mereka tau apa yang telah ia lakukan tiga malam ini! Tetapi Jaejoong jelas tidak tau bagaimana cara mengatakannya. Apabila mereka tau akankan mereka memandangnya berbeda? Apakah mereka akan memaafkannya karena tidak memberitahunya sedari awal terjadi?
Jaejoong memutuskan tidak akan mengambil resiko. Tidak sekarang! Dan disamping itu... akankah ia dan Yunho akan bersama lagi? Mengulang malam-malam panas lainnya? Jaejoong tidak berani terlalu berharap.
"Oke Joongie sudah saatnya kau merubah dirimu. Itu intinya. Dimulai dari penampilanmu. Kau harus menyadari mempunyai rambut sehitam malam yang lembut, kulit putih susu yang lembut, mata bulat indah, hidung mancung, bibir semerah cherry dan tubuh yang ramping. Kau menawan sebagai namja. Kau harus bersyukur akan hal itu." Ucap Junsu bersemangat.
"Su-ie" Wajah Jaejoong memerah karena Junsu memujinya habis-habisan.
"Tapi penampilanmu sangat buruk hyung, sangat tidak cocok untuk orang yang bekerja di Trend." Timpal Changmin. Jaejoong menggembungkan pipinya sebal. Setelah disanjung, dijatuhkan rasanya kesal.
Junsu menghampiri Jaejoong dan melepas kacamata yang bertengger di hidungnya. "Singkirkan benda ini di wajahmu Joongie. Ya Tuhan! Aku berkata beberapa kali padamu, kacamata ini hanya untuk baca. Kau tak perlu memakainya setiap waktu. Tidakkah kau tau kontak lens sudah diciptakan? Tanpa kacamata inipun aku tau kau masih dapat melihat dengan jelas kan? " Omel Junsu tentang kacamata Jaejoong.
"Berpenampilanlah seperti dirimu tadi malam hyung. Kau tau, kemarin banyak namja yang memandangmu. Jika kau berpenampilan seperti itu, para namja akan mengerubungimu dan Hyun Joong akan sadar siapa kau sebenarnya." Terang Changmin.
Jaejoong menggigit bibirnya. Ia ragu haruskah ia mengikuti saran sahabatnya?
Changmin memutar matanya bosan melihat Jaejoong yang selalu ragu dan tak mengindahkan saran sahabatnya. "Kajja hyung kita akan pergi ke salon dan Mall, aku dan Su-ie hyung akan makeover dirimu." Ajak Changmin ditanggapi anggukan setuju Junsu.
Jaejoong mengerang. "Andwae! Aku ada deadline artikel besok pagi jam sepuluh tepat."
"Aiiishhh, alasan macam apa itu. Aku tau kau penulis handal. Kau bisa menyelesaikannya malam hari kan? Kajja..." Junsu dengan paksa menarik Jaejoong menuju kamarnya dan mendorongnya kedalam kamar mandi.
Jaejoong mandi dengan cepat. Lebih lama ia memandangi tubuhnya, ingatan malam tadi dengan Yunho akan membayanginya. Bagaimana ia menyentuh, mengecup dan mencium tubuhnya masih teringat segar.
"Aigooo..." Jaejoong menggelengkan Kepalanya agar ingatan Yunho menghilang sejenak.
Setelah selesai mandi Jaejoong menuju lemari dan memilih-milih baju. Ia memutuskan untuk lebih fashionable seperti kata sahabatnya. Dipilihnya kemeja lengan panjang soft blue yang lengannya ia gulung dibawah siku dan celana chino bewarna abu-abu.
"Nah ini yang baru disebut berpenampilan. Jangan hanya memakai sweater dan celana panjang formal saja." Ucap Junsu.
Jaejoong tersenyum "Aku melakukannya untuk kalian."
"Hyung! Apa Hyun Joong kesini beberapa hari yang lalu?" Tanya Changmin tiba-tiba.
Jaejoong menggelengkan kepalanya gugup "Annio, wae?"
Changmin mengambil sebuah kacamata hitam di meja dekat ranjang.
"Cartier?" Pekik Junsu saat membaca merek kacamata hitam itu. "Wow! Tidak dapat dipercaya apabila Hyun Joong memilikinya. Sejak kapan ia mengetahui style?"
Changmin melihat kacamata itu dengan detail. "Kacamata ini sama seperti model kacamata yang Jung Yunho gunakan tadi malam." Analisa Changmin.
Glup
Jaejoong menelan ludahnya. Aishh anak ini bermata empat dimensi kali, jeli sekali, batin Jaejoong frustasi.
"Itu Heechul hyung yang berikan padaku waktu memberikanku tugas ke Mirotic, dia menginginkanku melepas kacamata bacaku menggantinya dengan itu." Ucap Jaejoong berbohong. Dalam hati ia menyesali, betapa banyaknya ia berbohong kepada sahabatnya ini.
Junsu berkeliling kamar Jaejoong, kemudian berteriak "Omo Joongie... jendela kamarmu sangat dekat dengan tetanggamu. Bahkan ada peron yang menghubungkan kamarmu ini dengan apartemen itu. Ini sangat berbahaya, tidak aman untukmu!"
"Jinjja?" Tanya Jaejoong santai. "Umm aku tak memperhatikan sebelumnya."
"Kau sangat ceroboh hyung, kau harus selalu mengunci jendelamu. Bagaimana bila tetanggamu adalah seorang pembunuh, pemerkosa? Sangat buruk bila kau kehilangan keperjakaanmu dengan jalan seperti itu." Kata Changmin mengingatkan.
Jaejoong mengangguk. "Arra... aku slalu mengunci jendela itu kog."
Tetapi rasa bersalah menggerogoti dirinya. Tetangganya memang telah mengambil keperjakaannya. Tetapi ia tidak melakukannya dengan masuk dari jendela!
"Geunde, siapa yang tinggal disebelah hyung?" Tanya Changmin.
Jaejoong berbalik agar tidak bertatapan dengan sahabatnya, ia menelan ludah berat mendengar pertanyaan sahabatnya. "Aku tidak tau. Aku tidak mematai-matai tetanggaku."
Rasa bersalah, rasa bersalah, rasa bersalah. Itu yang menyesak di hati Jaejoong sekarang.
Junsu dan Changmin tetap melihat jendela dan kemudian mereka berteriak. "OMO..."
Jaejoong terlonjak "W...wae?"
"Torso!, ABS!, Otot!, huwoow... tubuh yang sempurna!" Ucap Junsu sambil berliur melihat jendela.
Jaejoong terpaku, ia mengikuti pandangan kedua sahabatnya. Dia melihat sesosok tubuh yang sangat ia kenal tiga malam berturut-turut. Tubuh yang tiga jam lalu baru saja ia sentuh. Yunho hanya membuka separuh tirainya sehingga ABS dan dadanya terlihat jelas. Tetapi wajahnya tetap tidak terlihat oleh dua pasang mata yang penasaran.
"Siapa itu, hyung?" Tanya Changmin.
Jaejoong menggelengkan kepalanya dan berbalik dari jendela. "Aku tak tau Minnie... Sudah kubilang aku tak memata-matai tetanggaku." Ucapnya berbohong.
"Joongie, kau menyesal tidak memata-matainya. Apa kau tak tertarik dengan tubuhnya Joongie! Tuhan... perfect ABS, otot yang tidak menonjol, sangat hot dan ..."
Jaejoong memutar matanya. "Stop Su-ie! Pelankan suaramu dan menyingkirlah dari sana. Aku tak mau tetangga itu menganggapku gila!"
"Balkon Su-ie hyung... kajja." Ajak Changmin menggeret Junsu.
Ya Tuhan! Dia harus menelepon Yunho dan menyuruhnya jauh-jauh dari balkon. Junsu dan Changmin mencari-cari dimana namja dengan tubuh sempurna itu.
"Haissshhh... Apa yang kalian lakukan?" Tanya Jaejoong dengan kesal mengikuti sahabatnya ke balkon.
"Kami ingin melihat wajahnya. Atau paling tidak mewakilimu berkenalan sebagai tetangga." Ucap Junsu bersemangat.
Jaejoong mendesah, ia baru akan menarik dua sahabatnya dari balkon tetapi telepon apartemen berdering. Dia berlari untuk mengangkatnya.
"Yeoboseo."
"Hai..." Sapa suara dari seberang.
"Nuguseo?" Tanya Jaejoong sedikit membentak ia sedang malas bermain-main. Ia sedang kesal.
"Akuuu... yang menghabiskan tiga malam panas bersamamu." Jawab Yunho sambil tertawa.
Jaejoong terdiam sejenak, ia lalu melihat sahabatnya masih di balkon dengan misinya. Ia lalu pergi ke kamar mandi agar Sahabatnya tidak curiga.
"Sudah mengenaliku baby kitty Jaejoongie..." Ucap Yunho dengan menggoda.
"Darimana lagi kau mendapatkan nomor telepon apartemenku?"
Yunho terkekeh. "Aku sudah bilang padamu, aku namja pintar yang tau segalanya."
"Terserah, oke sekarang dengarkan aku. Menjauh dari balkon." Pinta Jaejoong.
"Wae?"
"Karena sahabatku tadi melihat tetanggaku yang sedang memamerkan tubuhnya yang wow. Dan sekarang mereka mencari peruntungan untuk bisa melihat siapa kau dan menyapamu."
Yunho tertawa. "Jadi apa yang terjadi apabila aku menunjukkan wajahku?"
"Tidak! jebbal Yunho-yah. Mereka tidak boleh tau kau tinggal disebelahku."
"Arraseo. Kau terlalu malu dengan hubungan kita kan? Kau tidak ingin orang-orang tau kau mengenalku. Bahkan aku yang sebagai tetanggamu." Jaejoong dapat mendengar suaranya menyiratkan kesedihan.
"Tuhan! Yunho-yah, ini bukan saatnya untuk berargumen! Kepalaku pusing karena aku terus berbohong. Jebbal, mengertilah." Pinta Jaejoong dengan nada memelas.
Yunho tergelak. "Arra, hanya menjauh dari balkon kan?"
Jaejoong mendesah. "Ne. Oh ya, kau meninggalkan kacamatamu disini."
"Tak apa. Aku bisa mengambilnya kapan-kapan."
Apakah ia berencana untuk bertemu denganku lagi?
"Oke aku sekarang harus pergi. Geunde, kenapa kau meneleponku?"
Yunho terdiam sejenak. "Aku ingin mengatakan hukumanku padamu karena kau telah berbuat nakal pagi tadi."
Glup
Jaejoong jadi teringat perbuatannya dengan Yunho tadi pagi. Ia memang berkata akan menghukumnya tadi.
"Andwae! Jangan macam-macam Yun." Teriak Jaejoong kesal.
"Pasti pikiranmu kotor" Tuduh Yunho. "Aku hanya ingin mengajakmu dinner besok malam sebagai hukumanmu."
Jaejoong menghela nafas dalam. "Yun... aku rasa hubungan kita ini hanya sekedar 'one night thing' saja" Ucap Jaejoong pelan.
Yunho tak menjawab beberapa saat. "Anni, 'three night thing' sekarang. Ayolah baby, aku mengajakmu makan malam."
Jaejoong mendesah. "Aku sudah mempunyai kekasih Yun, kita tidak harus me..."
"Ingat Baby, kita adalah secret intimate friend. Arra?" Potong Yunho tajam.
"Teman tidak akan melakukan apa yang kita lakukan tiga malam kemarin Yun" Ucap Jaejoong frustasi.
"Terserah kau menyebutnya apa kalau begitu baby... yang jelas aku akan mengikutimu untuk bersembunyi dibelakang sahabatmu dan kekasihmu."
Jaejoong menghela nafas dalam. Kemudian ia mendengar Junsu berteriak memanggilnya. "Omo, Junsu memanggilku. Aku harus pergi. Kirimkan lewat sms kapan dan dimana. Arraseo? Bye." Jaejoong menutup teleponnya cepat dan keluar dari kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Junsu.
"Hanya buang air. Jadi bagaimana dengan perburuan namja berbodi itu?"
Junsu menggelengkan kepalanya kecewa. "Dia tidak keluar dan sudah tak terlihat lagi." Ucapnya lesu.
"Kajja hyung-deul... kita jadi pergi kan ke salon?..." Teriak Changmin dari ruang tamu.
...
Jaejoong mengikuti kemanapun sahabatnya membawanya. Sebenarnya Changmin malas apabila harus pergi ke salon, shopping n bla-bla-bla. Tetapi demi perubahan Jaejoong ia rela melakukannya. Pertama mereka mendatangi salon langganan Junsu.
Jaejoong memutuskan untuk memotong rambutnya. Ia ditangani oleh penata rambut profesional. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Jaejoong selesai. Sahabatnya terbengong melihat perubahan penampilan Jaejoong.
"Gorgeous"
"Daebak, Hyung!"
Komentar Junsu dan Changmin melihat rambut Jaejoong kini dipotong model Overlay Long Bangs X Style dengan poni disisir menyamping membuatnya terlihat lebih keren tetapi tetap kalem. Yang paling mengejutkan adalah ...
"Kau mewarnai rambutmu Joongie... keren!" Puji Junsu.
"Aku ikut apa yang dikatakan hair stylist, katanya akan lebih cocok dengan warna coklat seperti ini." Ucap Jaejoong malu-malu. Rambutnya yang bewarna light brown membuatnya lebih menawan.
"Wow, hyungku seperti idol sekarang." Teriak Changmin membuat orang-orang didalam salon menoleh kearah mereka.
"Minnie, jangan berlebih." Ucap Jaejoong sambil menggeplak bahu Changmin. Ia menundukkan wajahnya yang memerah karena semua orang sedang melihatnya sekarang. "Kajja kita keluar dari sini." Ajak Jaejoong sambil menggeret keluar Junsu dan Changmin.
Mereka lalu pergi berbelanja. Mengunjungi satu toko ke toko lainnya. Jaejoong pasrah diseret kesana kemari oleh Junsu. Jaejoong membeli beberapa T-shirt dari model polo, O-neck dan V-neck. Beberapa kemeja kerja slim fit. Jacket, cardigan. Beberapa celana pendek selutut dan skinny jeans tentunya. Itu semua atas rekomendasi Junsu. Karena memang Junsu lebih mengetahui fashion dibanding Jaejoong
Saat berada di toko sepatu kali ini Changmin yang antusias. Ia memilihkan sepatu-sepatu keren untuk Jaejoong. Jaejoong nampaknya akan menggunakan kartu kreditnya cukup dalam kali ini.
Saat mereka berjalan melewati toko yang menjual produk dari Cartier Changmin dan Junsu langsung menggeret Jaejoong masuk ke dalam. Mereka langsung memilihkan beberapa aksesoris untuk Jaejoong.
"Andwae... Uangku sudah habis Minn-ie, Su-ie. Kajja kita pulang saja." Tolak Jaejoong.
"Uang dapat dicari hyung, kau tidak pernah memanjakan dirimu selama ini. Pilihlah yang kau sukai." Timpal Changmin.
Saat Junsu ingin mengemukakan pendapatnya, Jaejoong langsung berkata "Arra... aku akan membeli jam tangan itu. Hanya itu oke." Akhirnya Jaejoong memilih jam tangan cartier dengan slempang kulit bewarna hitam.
"Hyung, habis ini. Traktir makan. Kami sudah capek-capek menjadi pendampingmu belanja, Hyung." Rengek Changmin.
"Aisshhh... kalau aku tau kalian akan membuatku menjadi miskin seperti ini. Aku tak akan ikuti nasehat kalian." Ucap Jaejoong kesal.
"Hahaha... demi perubahan hyung... kami janji tak akan makan banyak, iya kan Su-ie hyung." Changmin menoleh pada Junsu.
"Ooo aku tak yakin akan ucapanmu itu Minnie, aku tau kau pasti banyak makan. Kasian Jaejoongie, sebaiknya bayar sendiri makananmu." Seloroh Junsu membuat Changmin merengut.
"Hyung..." Rengek Changmin pada Jaejoong.
"Haisshhh kajja kita makan...aku yang traktir" Ajak Jaejoong ditanggapi pekikan senang dari Changmin.
Sesaat sebelum mereka memasuki salah satu resto didalam mall, Jaejoong mendengar ponselnya berdering. Ia membelalak melihat Yunho yang meneleponnya.
"Su-ie, Minnie kalian pesanlah duluan, aku mau mengangkat telepon. Oke." Ucap Jaejoong lalu bergegas menjauh dari sahabatnya.
"Yeoboseo" Sapa Jaejoong.
"Aku akan mejemputmu besok di apartemen jam setengah delapan" Ucap Yunho langsung.
Jaejoong mendesah. "Aku akan pulang terlambat."
"Geurae, aku akan menjemputmu di kantor."
"Andwae! Arraseo setengah delapan di apartemenku." Jawab Jaejoong lemas.
"Oke, sampai jumpa besok baby." Ucapnya akan mengakhiri pembicaraan.
"Yunho..."
"Wae?" Tanya Yunho.
"Mengapa kau melakukan semua ini?" Tanya Jaejoong frustasi.
"Melakukan apa baby?"
"Tidak bisakah kau melepaskanku, melupakan semua yang terjadi?"
Yunho terdiam, tak menjawabnya.
"Yun, kau masih disana?"
"Ne, aku masih disini."
"Kau membuat hidupku lebih rumit." Ucap Jaejoong putus asa. Jaejoong hanya takut apabila ia terlalu dalam dengan Yunho, kekecewaan lebih besar akan menghantamnya. Yunho terlalu menarik sekaligus berbahaya.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan Yun?" Tanya Jaejoong tajam.
"Tidak ada." Jawabnya. Kemudian Yunho menghela nafas dalam "Mungkin hanya kau."
Jantung Jaejoong berdegub kencang. Entah mengapa perasaannya menghangat. Ia senang sekaligus takut. Takut apabila ia jatuh terlalu dalam pada sosok pribadi Jung Yunho.
"Baiklah, aku akan siap setengah delapan."
"Okay. Berhati-hatilah. Apabila kau membutuhkan tumpangan atau apapun... kau tau nomorku kan?" Ucap Yunho.
Jaejoong tersenyum lembut. Perhatian Yunho sangat manis. "Aku akan mengingatnya, bye Yunn."
Jaejoong masih tersenyum ketika ia menutup ponselnya. Ia lalu berjalan menghampiri Changmin dan Junsu.
"Kau baru menerima telepon dari Hyun Joong?" Tanya Junsu melihat sumringah Jaejoong.
Jaejoong tidak menjawab. Apabila ia membuka mulutnya pastinya ia akan berteriak. Perasaannya sedang membuncah oleh ucapan Yunho tadi.
"Whoa! Pasti ada sesuatu terjadi! Hyun Joong membuatmu tersenyum seperti itu hyung! Apakah ia mengatakan akan melamarmu? Atau mengajakmu ke tempat tidur?" Komentar Changmin.
Jaejoong hanya membalas Changmin dengan senyuman. Bukan, Hyun Joong tak pernah membuatnya tersenyum seperti ini, seperti seorang remaja labil. Jung Yunho... iya...
Jung Yunho membuat dunianya jungkir balik.
Mereka menikmati makanannya dengan lahap. Semua sepertinya sangat kelaparan karena lelah berkeliling dari satu toko ke toko lainnya. Apalagi Changmin, bisa terlihat dari tumpukan piring yang ada disampingnya. Para hyungnya hanya geleng-geleng kepala.
"Aku masih tidak percaya Joongie-ah, kau tidak melihat Jung Yunho di Mirotic malam itu. Maksudku tempat itu bukan sebuah labirin. Kau bisa melihat siapa saja yang datang hanya duduk di bar." Ucap Junsu setelah menyelesaikan makanannya.
"Mungkin, aku melihatnya. Tetapi aku tak peduli." Ucap Jaejoong menunduk.
"Mengapa kau tidak peduli hyung?" Tanya Changmin
"Ada banyak namja keren di kota ini. Tetapi mengapa hanya Jung Yunho yang dibicarakan terus?" Tanya Jaejoong. Ia hanya tak mau membicarakan tentang Yunho. Ia akan terus berbohong dan rasa bersalah akan menggerogotinya.
"Karena dia berbeda dengan namja player yang ada. Ia mempunyai kelas yang lebih tinggilah dari yang lain." Ucap Junsu.
"Mwoya? Player mempunyai kelas sekarang?"
"Lihatlah profilnya Joongie! Anak orang kaya, pewaris Jung Corp, lulusan harvard. Mempunyai kepribadian memberontak tetapi tetap dapat mandiri. Bukan pecandu, bukan penjudi. Dia menolak untuk bekerja pada ayahnya. Memilih bermain saham. Dan aku dengar dia sangat menghasilkan disana. Hobinya fotografi. Tidak pernah menjalin hubungan secara pasti. Dia bersih dari catatan kriminal. Dia banyak dicari, tetapi tidak pernah mencari atau mengejar. Dan kau bisa mellihat keseluruhan fisiknya. Sempurna!" Jelas Junsu menggebu.
Jaejoong dan Changmin hanya diam mendengar ocehan Junsu. Jaejoong dengan fikirannya dan Changmin dengan makanannya.
"Aku bertanya-tanya apa warna mata Jung Yunho." Gumam Junsu.
"Hazel" Teriak Jaejoong tiba-tiba. Junsu dan Changmin langsung menatapnya heran. Ia kemudian sadar apa yang ia katakan. Ia langsung menyesap Jus jeruknya.
"Joongie, apa yang kau katakan tadi?" Tanya Junsu.
"Eummmhh aku hanya mengira kalau mata namja itu bewarna hazel akan menambah kesempurnaannya." Ucap Jaejoong gugup.
Junsu mengangguk "Aku rasa juga begitu."
Tidak lama kemudian sekelompok namja datang dan duduk di seberang mereka.
"Aha... panjang umur... namja yang kalian bicarakan selalu muncul. Aku kira salah satu dari kalian akan berjodoh dengannya." Ucap Changmin menyadari ada Jung Yunho diantara namja yang duduk diseberang.
"Mwoya!" Ucap Jaejoong dan Junsu berbarengan ketika menolehkan matanya dan melihat Jung Yunho disana.
Jung Yunho duduk disana denga tiga orang temannya yang semua namja. Ia mengenakan jaket kulit hitam dan pasti kacamata hitam yang selalu dipakainya. Jaejoong memandang jauh, berpura-pura tidak melihatnya disana.
Apa yang ia lakukan disini? Tidak cukupkah ia menghantui pikirannya, sekarang malah nampak didepan matanya?
"Omo...omo...Jung Yunho disini." Ucap Junsu heboh.
"Oke, sekarang saatnya ganti topik pembicaraan. Tak baik membicarakan orang terus. Apalagi dia sedang didekat kita" Ujar Jaejoong.
Junsu berbisik. "Joongie, kau tau kalau topik tentang namja itu adalah kesukaan kita. Kau tidak pernah mengeluh sebelumnya."
"Tidak sekarang! Bicarakan yang lain, lihat ada namja lain yang bersamanya. Dan mereka semua tak kalah keren." Ucap Jaejoong.
Junsu mendengus. Tiba-tiba ponsel Jaejoong berbunyi. Ia terkejut melihat Yunho menghubunginya. Tetapi ia berusaha menguasai diri agar sahabatnya tidak curiga.
"Yeoboseo."
"Hi baby..." Sapanya.
Jaejoong melirik kearah Yunho berada. Ia yakin Yunho sedang menatapnya dibalik kacamata. Tetapi ia terlihat melihat jauh kedepan.
"Ada keperluan apa?" Tanya Jaejoong mencoba santai.
"Aku hanya ingin menyapamu. Aku tak ingin kau mengira aku sombong atau semacamnya." Bibir Yunho membentuk setengah senyuman.
"Arra, kalau begitu bye."
"Bye." Yunho tersenyum lebar.
Jaejoong melihatnya langsung memerah ia langsung menunduk. Junsu dan Changmin memperhatikannya jadi penasaran.
"Hanya sepupuku. Ia mengingatkanku untuk mengembalikan buku yang kupinjam." Ucap Jaejoong berbohong. "Sampai mana obrolan kita tadi?"
"Masih sama, namja player kelas satu itu." Ucap Changmin.
"Hmmm siapa ya... yang ia ajak pulang waktu di bar tempo hari." Ucap Junsu bertanya-tanya.
Jaejoong hanya diam mendengarkan kedua sahabatnya berbicara tentang namja Jung itu. Dia terhanyut dalam pikirannya sendiri. Tentang namja itu, yang sedang memperhatikannya atau tidak. Karena kacamata hitamnya yang menghalangi.
Tak beberapa lama. Yunho dan teman-temannya beranjak dari tempatnya. Selang beberapa menit, ada yang mengiriminya pesan.
Yunho :
-Aku akan pergi berkeliling dengan teman-temankku. Malam ini kita akan bermain poker.
Jaejoong membalasnya
Jaejoong :
-Oke, kau tidak perlu memberitahuku
Yunho :
-Tetapi aku mau. Baby, model rambut barumu membuatmu semakin menawan. Kau semakin Yeppeo.
Blushh
Hanya dengan pesan Jung Yunho dapat membuat Jaejoong blushing parah. Ia tak membalas pesan Yunho setelahnya.
Benarkah yang ia lakukan ini? Ia merasa seperti terikat dengan Yunho. Benar dia mempunyai reputasi yang buruk. Tetapi tidak bisa dipungkiri Yunho adalah namja hangat penuh perhatian. Dia tak mengetahui apa alasan ia melakukan itu padanya. Mungkinkah ia bosan dengan kehidupannya? Dan Jaejoong sendiri juga bosan dengan kehidupannya. Mungkin apa yang dikatakan Yunho benar. Sekarang waktu yang tepat untuk merubah jalur hidupnya. Membiarkan alter-egonya beraksi. Mengeksplor sesuatu yang baru didalam dirinya. Bersenang-senang dibelakang Kim Jaejoong yang membosankan.
Ya, ia akan mencoba berubah. Mengikuti saran sahabatnya. Menjalani hubungan seperti apapun dengan Yunho. Itu artinya ia akan selingkuh dengan Hyun Joong. Persetan dengan itu, ia tidak akan lagi menunggu Hyun Joong meneleponnya dan khawatir karena merasa Karam adalah yang terbaik untuk Hyun Joong. Ia akan menikmati hidupnya.
To be Continued ..
Chp kmren lupa TBCny aigoo o.O
.
.
.
.
Aku jwb pertanyaan chingu yg kyknya mengganjal pikiran y...
-haduu... bnyk yg ngarepin Jeje hamil duluan huee..(T_T), ini mmng mpreg, tp msh ckup lama nyanpe situ oke ;)
-Untuk yg tny gmana prsaan kduany, hubungany ap pdhl udah kyk gtu intimnya masak ya ga ada kta2 lope n jadian. Ini critany diadaptasi dr khdupn org barat (America), jd unt mnydri perasaa tu lama kykny ya. Mrka lbh suka date, date mlulu. ciri khasny gtu. N ngelepas keperawanan (disini jd 'keperjakaan' :D) diumur 25 thn tu pnting kykny...wkwk. diikutin aj ntar akhrny gmn (^_^)
-Crita asliny jg gtu bnyk adegan intim dikit2 kiss, hug, bed. ya mklm org barat (-_-;) hehehe...
-Trus alurnya jg lma chingu, mncritakan sehari setelahnya gtu, kyk drama. Jd klo ada yg bosen y gpp :D
-Buat warna mata Yunho. Biar keren, hazel chingu :D. udah kadung hehe...
-Hehehe ntar kdepanny bkal ad konflik, nah klo awalny mnis. Konflikny bkalan hduuu... kita liat bsok2 aja y chingu ngena ap ga konflikny :D
-Hduu chingu unt pnggiln baby udah dr awal, klo drubah ntar jd gmn...nda papa ya cmn pnggilan kog, tetap pikir Jae itu cowok. Dsini jg ga kubuat trlalu feminim kog. Makasi saranny tp Mianhe chingu :)
-Sbisa mngkin ga aq tlantarin ff ni. krn aq nrjmhin smblil ngrubah k Yunjae version tu seneng. wkwkwk...
Okedeehh ksimpulannya klo pnasaran alur critanya bisa baca d wattpad, oke-oke :)
N BTW gmana chp ni hot kah? Ada yg kbayanng Jeje Shopinng habis brpa? O.o
Ni chpny pnjng looo, apresiasiny ya...
wkwkwkwk...
