Ah, i'm back ~(‾▿‾)~

Ini part kesukaan q chingu-yaa (-^o^-), lngsung aj eoh, monggo dbaca (∩_∩)

Warning : Chapter ini mengandung adegan dewasa ya...(NC-21) klo yg ga brknan bisa d scroll k bawah smpe adegany aman, (^_^).

.

Chapter Title : Yunnie...

.

.

Jaejoong tampak menawan dengan T-shirt lengan panjang pres body berkerah v-neck pendek warna merah maroon dipadu dengan skinnyfit jeans berwarna hitam. Bukan hanya menawan, tetapi juga sexy. Atasan dan bawahan yang ia kenakan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping. Rambut light brownnya ia sisir rapi. Ia tidak menggunakan kacamata bacanya. Membiarkan does-eyes indahnya melihat tanpa penghalang. Ia juga memakai jam tangan barunya. Dan tidak lupa boot semata kaki warna coklat tua menghiasi kakinya. Jaejoong bersyukur kemarin ia mengikuti saran sahabatnya untuk berbelanja. Apabila tidak, ia pasti bingung memikirkan apa yang dipakai untuk dinner dengan Jung Yunho malam ini.

Jaejoong tersenyum puas memandangi dirinya. Aku ingin menjadi diriku sendiri Batinnya yakin. Tak lama bel berbunyi. Jaejoong dengan tidak sabar membukakan pintu.

Jung Yunho disana dengan semua outfit yang membuatnya terlihat sebagai pria jantan. Mereka diam. Saling berpandangan kira-kira 15 detik.

"Apakah penampilanku berlebihan?" Tanya Jaejoong memecah keheningan.

Yunho terkekeh. "Kau begitu sempurna baby... kau sangat menawan." Puji Yunho lalu membungkuk untuk meraup bibir cherry Jaejoong. Memberikan ciuman yang lembut.

Wajah Jaejoong merona. "Yak! Kenapa belum apa-apa kau sudah menciumku. Seharusnya itukan dilakukan setelah selesai berkencan." Protes Jaejoong.

"Tidak setiap hari aku berkencan dengan seorang angel."

Blush

Wajah Jaejoong semakin memerah. Pujian Yunho terlalu berlebihan untuknya.

"Tidak setiap hari juga aku berkencan dengan pangeran." Jaejoong balas memuji Yunho malu-malu.

Yunho membawa Jaejoong ke restoran jepang mewah di Seoul. Ia memesan tempat VIP. Tidak ada orang lain yang melihat mereka kecuali waiters. Sepanjang perjalanan Yunho sibuk meyakinkan Jaejoong tak perlu khawatir orang akan mengenali mereka. Ia sudah mempersiapkan segalanya.

"Bagaimana baby, kau merasa nyaman ?" Tanya Yunho.

Jaejoong tersenyum. "Sepertinya sahabatku belum pernah kemari. Aku tak tau apa yang aku katakan bila bertemu dengannya disini."

"Jadi... kau belum memberitahu sahabatmu kau mengenalku?"

Jaejoong menatap Yunho. Kemudian menggeleng lemah. "Annio. Sangat sulit. Butuh waktu Yunho-yah." Jaejoong terdiam sejenak. "Aku bahkan tak tau apa yang kulakukan sekarang."

"Kau sedang makan malam denganku." Jawab Yunho datar.

"Ne, dan aku tak tau mengapa." Ucap Jaejoong lesu.

Yunho meraih tangan Jaejoong. "Apabila aku bukanlah aku... apa kau akan mengatakan kepada mereka tentang kita?"

Jaejoong menghela nafas. Pertanyaan yang sulit. Ia tak tau menjawab apa tanpa menyakiti perasaan Yunho dan mengecewakannya.

"Aku tak tau Yun. Cukup buruk juga aku mencurangi namjachinguku. Lima kali dengan tiga malam panas kita."

"Aku juga namja Jae-ah." Ucap Yunho lembut. "Aku berharap kau dapat melihatku sebagai diriku. Bukan seorang Jung Yunho."

"Wae? Apa seorang Jung Yunho juga mempunyai identitas rahasia?" Selidik Jaejoong.

Yunho mendesah. "Jung Yunho hanyalah nama. Sebuah nama yang kadang aku merasa berat membawanya. Asal kau tau, seseorang dibalik nama itu berbeda dengan apa yang kau dengar tentangnya. Kuharap kau mau mempercayainya."

"Baiklah... kita akan lihat nanti Yunho-yah." Jaejoong memberikan kedipan mata pada Yunho.

Yunho mengangguk dan tersenyum.

Setelahnya, pembicaraan mereka berjalan santai. Kadang Yunho melontarkan lelucon dan gombalan-gombalan aneh kepada Jaejoong. Membuat Jaejoong tidak berhenti tersenyum bahkan tertawa. Satu-satunya makan malam paling menyenangkan dalam hidup Jaejoong.

...

Mereka telah sampai di depan pintu apartemen Jaejoong. Saling berhadapan. Memandang kedalam mata satu sama lain. Tetapi kemudian Yunho menangkup pipi Jaejoong mendekatkan bibir mereka lalu menciumnya dalam dan penuh gairah.

Hosh... hosh...

"Babyh... kau selalu bisa menghilangkan akal sehatku." Dahi mereka saling menempel, nafas mereka terengah. "Kau lebih baik masuk, sebelum aku lepas kendali." Ucap Yunho lalu tersenyum.

Jaejoong terkekeh. "Kau tau, kau seperti beruang besar yang selalu ingin menerkam mangsanya."

"Maka kau adalah anak kecil yang akan selalu menjadi mangsaku." Yunho membelai pipi putih Jaejoong. "Masuklah"

Jaejoong mengangguk. "Good night, gomawo untuk makan malamnya."

"Good night baby kitty Jaejoongie..." Balas Yunho.

Jaejoong menutup pintu apartemennya sambil tersenyum. Dinner yang sempurna. Yunho begitu gentle. Walaupun semuanya berawal dari 'one night stand' Yunho membuktikan hubungan dengannya tak hanya sekedar sex. Ia ingin membuktikan kepada Jaejoong siapa dirinya sebenarnya. Jung Yunho hanya sebuah nama. Didalamnya hanyalah manusia biasa.

Dan ya... selama dekat dengan Yunho, Jaejoong merasa ia tidak jahat seperti reputasinya selama ini. Ia tidak kasar. Sama sekali tidak. Sebenarnya ia namja yang gentle dan sensitif. Perhatiannyapun sangat manis.

Jaejoong ragu dengan pikirannya selama ini tentang Jung Yunho as a player. Apa yang dilakukan player seharusnya. Selama bersama Jaejoong tak tampak tanda-tanda Yunho akan meniduri orang lain selain dirinya. Dia tidak meminta hal macam-macam yang memalukan. Apabila ia tidak mengetahui reputasinya lebih dahulu. Jaejoong pasti mengira Yunho benar-benar merayunya. Tetapi... ia merasa memang benar.

Jaejoong selesai mandi lalu memakai piyama biru navy ketika ponselnya berbunyi.

Hyun Joong calling...

"Yeoboseo. Mengejutkan kau masih mengingatku" Ucap Jaejoong sinis.

"Mianhe darling. Aku sangat bodoh" Ucapnya. "Aku tau sangat berat kau menghadapi tekanan dari eommamu. Dan aku seharusnya tidak melakukan hal yang sama padamu." Hyun Joong menghela nafas. "Aku akan menebus kesalahanku saat aku pulang dan mengunjungimu, arra?"

"Ne." Hanya itu yang dapat ia katakan. Ia menunggu-nunggu saat perasaannnya membuncah gembira mendengar kekasihnya akan mengunjunginya. Tetapi ia tak merasakan itu.

"Jadi, apa yang kekasihku lakukan minggu ini?" Tanya Hyun Joong.

Hal pertama yang terlintas pada pikirannya adalah Jung Yunho. Tentang semua yang ia dan Yunho lakukan. Ia lagi-lagi menunggu perasaan bersalah karena telah selingkuh dibelakang Hyun Joong. Tetapi sungguh terkejut, ia tidak merasakannya.

"Eummm. Aku pergi ke Mirotic. Sebuah klub malam yang baru dibuka di daerah Gangnam. Aku diberi tugas untuk menulis tentang Mirotic."

"Dengan siapa kau pergi?" Tanya Hyun Joong tajam.

"Aku sendiri. Aku harus mengobservasi semuanya."

"Kau minum?"

"Ne, tentu saja aku minum! Soda!" Jawab Jaejoong berbohong.

Hyun Joong terdiam beberapa saat.

"Jaejoong, itu sangat berbahaya! Aku pikir kau hanya mereview tentang cafe, restoran dan toko-toko. Dan sekarang? klub malam hah? Suatu saat nanti pasti aku akan mendengar ceritamu kau pergi ke Strip Club." Omel Hyun Joong dengan nada tinggi.

Jaejoong menggigit bibirnya berusaha untuk tidak berteriak kepada Hyun Joong.

"Darling... tidakkah kau berfikir untuk mengubah karirmu? Apa yang kau lakukan selama ini? Menulis di sebuah majalah... dengan pergi ke cafe, restoran dan sekarang club! Itu bukanlah karir yang aman."

Jaejoong menghela nafas dalam. Bukankah ia tadi mengatakan tidak akan menekannya seperti yang eomma lakukan?

"Aku benci mengakuinya. Tetapi kadang-kadang, eommamu benar. Lihatlah adikmu sekarang. Ia menempuh pendidikan di bidang kesehatan. Aku tau kau pintar. Tetapi mengapa kau mengambil karir yang mempunyai level rendah seperti itu? Kau setidaknya bisa menjadi seorang manager di sebuah perusahaan. Tetapi...apa yang kau lakukan? astaga Jae menulis tentang klub malam?"

Hati Jaejoong sangat sesak mendengarnya. "Aku katakan sebelumnya padamu. Karam tertarik dan berbakat didunia kesehatan, dan aku t-i-d-a-k. Mungkin semua bakat yang orangtuaku punyai menurun kepadanya. Dan sama sekali tidak kepadaku. Aku suka menulis. Terserah kau mau mengerti atau tidak."

"Aku tau. Aku berharap kita mempunyai kesempatan lebih untuk bercakap-cakap dengan cerdas. Aku berbicara dengan Karam akhir minggu ini. Ia mempunyai banyak petunjuk tentang masalah magang yang kuhadapi. Padahal ia baru mahasiswa baru. Dia cerdas, dan berbicara dengan tepat. Bukannya aku membandingkanmu dengannya seperti yang orangtuamu lakukan. Aku hanya ingin kau sadar dan memanfaatkan potensi dirimu. Karam akan menjadi dokter bedah di salah satu rumah sakit dikemudian hari. Dan kau Jae, mungkin hanya dirumah menulis novel yang tidak tau kapan akan terbit. Kau masih muda Jae, tidak akan terlambat melakukan suatu perubahan."

Cukup! Ia tak ingin mendengar ocehan dari mulut Hyun Joong lagi tentang dirinya dan Karam.

"Ada deadline yang harus kuselesaikan. Kita bicarakan lain waktu." Ucap Jaejoong dingin lalu mematikan sambungannya.

Sekarang Jaejoong merasa kecewa, marah sampai ingin rasanya meninju sesuatu dan membuatnya hancur berkeping – keping. Ia sedikitpun tidak dihargai oleh namja yang selama 3 tahun ini menjadi kekasihnya. Tidakkah orang-orang bisa melihatnya, ia sangat-sangat baik di pekerjaannya selama ini? Karam selalu saja menjadi tolak ukur keberhasilannya.

Muak...muak...muak...

Ia menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya dan berlari keluar dari apartemen. Ia tidak yakin apa yang dilakukannya saat ini. Tetapi, kemudian ia menyadari ia membunyikan bel apartemen sebelahnya.

Yunho membuka pintu setelah dua kali bel berbunyi. Ia hanya memakai celana piyama. Yunho sedikit terkejut mendapati Jaejoong didepannya dengan mata bulatnya yang berair dan hidung memerah.

"Hey...hey...hey baby...uljima. Kenapa menangis eoh?" Tanya Yunho lembut sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi Jaejoong.

Hiks...hiks...hiks...

Jaejoong hanya terisak sambil menggelengkan kepalanya.

Yunho lalu merengkuh tubuh Jaejoong ke dalam pelukannya. Jaejoong menangis dengan diam. Yunho menenangkan dengan megusap belakang kepalanya. Ia juga menciumi puncak kepalanya.

Jaejoong mendongak memperihatkan matanya yang berlinang air mata kepada Yunho.

"Yuunnie..." Ucapnya lirih seakan minta pertolongan.

Yunho kaget dengan panggilan manis yang Jaejoong berikan kepadanya. Ia tersenyum berusaha menenangkan. "Uljima baby... aku ada disini." Ucapnya lalu mencium lembut kening Jaejoong.

"Ingin membicarakannya denganku?" Tanya Yunho.

Jaejoong mengangguk lemah. Yunho lalu menggendong Jaejoong dengan bridal style. Jaejoong yang kaget langsung melingkarkan tangannya disekeliling leher Yunho. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Yunho.

Yunho menutup pintu lalu membawa Jaejoong ke kamarnya. Ia membaringkan Jaejoong disebelahnya dan menyelimuti agar hangat. Jaejoong terharu dengan perhatian Yunho. Ia lalu menenggelamkan diri ke pelukan Yunho. Merasakan kehangatan yang menenangkan dari tubuh Yunho.

"Aa... apakah aku... mengganggumu?" Tanya Jaejoong tiba-tiba.

"Annio. Aku sendiri sedari tadi menghubungimu baby." Jawab Yunho.

Jaejoong terkejut."Wae?"

Yunho mengangkat bahunya."Aku tidak mempunyai kegiatan untuk dilakukan. Aku hanya ingin tau jika kau mau atau tidak mengobrol denganku. Tetapi line ponselmu sangat sibuk. Jadi aku putuskan untuk menghubungimu beberapa menit lagi. Tetapi... kau datang kemari. Dan dengan berlinang air mata." Yunho mengusap lagi air mata yang baru saja lolos dari sudut mata Jaejoong.

"Apa ada baby? Kau bisa cerita kepadaku. Tetapi Jebal, uljima... aku tidak tahan melihat mata indahmu tertutupi air seperti ini."

Jaejoong menenggelamkan dirinya ke dada Yunho sejenak.

Ia lalu mendongak dan tersenyum pada Yunho. "Aku sudah tak menangis lagi."

Yunho balas tersenyum. "Ada masalah dengan orangtuamu?" Tanya Yunho lembut.

Jaejoong terdiam.

"Kekasihmu?" Tanyanya lagi.

"Mereka tidak ada yang menghargaiku Yunnie. Selalu menganggap aku kecil padahal aku selalu membuktikan kepada mereka bahwa aku bisa. Tetapi aku benar-benar tidak dihargai. Adikku selalu menjadi bayang-bayangku. Aku bangga dengan dia. Tetapi mengapa tidak ada yang bangga denganku." Ucap Jaejoong miris.

"Mereka mungkin terlalu kolot untuk menyadarinya baby. Kau namja mandiri yang terbilang sukses. Jangan peduli apa yang mereka katakan. Itu akan meruntuhkan semangatmu seperti ini. Hiduplah dengan apa yang kau senangi, apa yang kau anggap itu tepat dan kau menikmatinya. Jangan hidup untuk orang lain. Sama sekali tak akan menghasilkan kebahagiaan. Iyakan?" Ucap Yunho menasehati.

"Seperti dirimu?" Tanya Jaejoong.

"Ne, mungkin. Orangtuaku menginginkanku untuk menjadi orang lain. Menjadi seorang pewaris. Dan aku tau aku takkan bisa menghapus takdir itu. Maka dari itu dari sekarang aku belajar tentang kehidupan. Jadi aku akan siap suatu saat mengambil takdir itu." Jawab Yunho.

"Tapi kau sangat mandiri dan berpenghasilan cukup sekarang."

"Ne. Tetapi aku juga tidak dapat hidup dengan fotografi dan bermain saham selama hidup. Dan siapa juga nanti yang akan mengambil alih bisnis keluarga? Keponakanku dari eomma? Tidak bisa seperti itu. Appaku yang memulai kerajaan bisnisnya. Dan seharusnya, darahnyalah yang bisa meneruskan apa yang ia perjuangkan."

"Jadi kau belajar kehidupan ini untuk apa? bukankah nantinya juga akan meneruskan yang appamu wariskan?" Tanya Jaejoong bingung.

"Banyak alasan yang kubuat untuk lepas dari orangtuaku saat ini baby. Dan banyak manfaat yang kudapat. Sepeti tahun ini aku hidup lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Aku menghasilkan banyak dari bermain saham. Aku hanya tidak ingin orang-orang mengatakan Jung Yunho menjadi kaya karena memang Appanya kaya raya. Aku ingin menghapus paradigma itu."

"Pada akhirnya masa depanmu lebih cerah dibanding aku." Gerutu Jaejoong.

Yunho terkekeh. "Kau juga akan begitu apabila kau bahagia dan menikmati apa yang kau lakukan. Apa yang paling kau inginkan dalam hidup ini?" Tanya Yunho.

"Aku sangat mencintai apa yang kulakukan sekarang. Aku suka menulis. Menulis adalah gairah hidupku. Bukan hanya sekedar hobi."

Yunho tersenyum. "Maka fokuslah untuk itu. Tidak perlu memikirkan hal lain."

"Tapi, sekarang aku juga memikirkan bagaimana menghasilkan uang di tempat yang lain. Sepertimu bermain saham mungkin. Menginvestasikan sedikit uangku. Tetapi aku tidak tau apa yang harus dilakukan. Maka tak mungkin aku melakukannya."

"Jinjja? Kau serius baby?" Tanya Yunho antusias.

Jaejoong hanya mengakat bahunya.

"Hei,aku dapat mengajarkannya padamu baby. Pertama kau tak usah terlalu banyak menginvestasikan uangmu. Mulailah dengan beberapa ratus ribu won. Lihat perusahaan yang tepat, yang akan meningkatkan investasimu. Aku akan memandumu setelahnya."

Jaejoong memandang Yunho. "Benarkah? Kau mau mengajariku?"

Jaejoong sangat antusias. Ia merasa ini akan berjalan baik. Dia bisa menulis dan berinvestasi secara bersamaan.

Yunho mengangguk. "Ne, jangan khawatir, aku akan mengajarimu trik yang tepat untuk bermain saham. Tetapi apabila nantinya yang aku ajarkan tidak berjalan baik, dan kau kehilangan uangmu. Aku akan menanggung semuanya."

"Mengapa kau harus melakukannya?"

"Karena itu akan mengajarkanku bagaimana menjadi guru yang baik." Ucap Yunho.

Mereka terdiam beberapa saat. Lalu Jaejoong membawa dirinya kepelukan Yunho lagi. "Gomawo Yunnie. Mianhe sudah merepotkanmu."

Yunho mengelus surai lembut Jaejoong. "Sama sekali tak terlintas dipiranku kau merepotkanku baby."

"Kau harus menjadi Kim Jaejoong yang sebenarnya. Jangan menjadi seseorang yang orang lain inginkan. Kim Jaejoong yang percaya diri dengan semua keindahan yang dimilikinya." Nasehat Yunho.

"Kim Jaejoong yang kau temui di Mirotic kah?"

Yunho terkekeh. "Kim Jaejoong yang kukenal memang seperti itu."

Mereka saling melempar senyum. Lalu Yunho mendekatkan wajahnya, memberikan ciuman yang lembut pada bibir Jaejoong. Jaejoong memejamkan matanya meresapi ciuman penuh ketulusan dari Yunho.

"Chakkaman baby, kau sedari tadi memanggilku Yunnie... apa itu panggilan sayang untukku?" Tanya Yunho menggoda.

Blush

Wajah Jaejoong memerah. "Kau tak suka?"

"Bagaimana bisa aku tak suka. Itu sangat manis didengar. Apalagi terucap dari mulutmu. Panggil aku dengan Yunnie terus ne?" Pinta Yunho.

Jaejoong mengangguk lucu.

"Jja, kita tidur." Ajak Yunho sambil mematikan lampu disebelahnya dan menyelimuti mereka berdua.

Yunho merengkuhya kedalam pelukan. "Jaljalyo baby..."

"Jaljalyo Yunnie..."

Jaejoong berbaring dengan alas lengan Yunho yang memeluknya. Apakah Yunho benar-benar ingin tidur sekarang? Batinnya. Sebagian dari dirinya merasa senang Yunho tak mengajaknya make love malam ini dengan suasana yang sangat mendukung. Rupanya Yunho cukup puas hanya dengan memeluknya. Tetapi sebagian dirinya juga merasakan kecewa, karena jauh didalam hatinya ia sangat mendamba sentuhannya.

Jaejoong memandang wajah Yunho dari kegelapan, hanya diterangi cahaya dari jendela. Sangat-sangat tampan, pikirnya. Dia mempunyai hidung yang sempurna, bibir berbentuk hati dan rahang yang kokoh. Kini, ia bersandar di lengannnya. Ia tadi datang tiba-tiba dan Yunho langsung menyambutnya dengan pelukan karena melihatnya menangis. Dia mendengarkan apa yang dikeluhkannya. Bahkan memberikan nasehat dan solusi terbaik.

Jaejoong membiarkan jari lentiknya menelusuri kening, pipi hingga rahang keras Yunho. Tiba-tiba ia terlonjak kaget melihat Yunho kini sudah berada diatasnya, menindihnya.

Yunho menatapnya dengan tatapan tajam dan senyuman setengahnya. "Mengapa kau tidak tidur? Kau mau aku memakanmu heum?" Ucapnya sambil menyeringai jahat.

Jaejoong gugup "A..annio... aa...aku lapar, a...ku tak bisa tidur." Sebenarnya ia juga lapar.

Yunho mengernyitkan dahinya. "Lapar? Kau belum kenyang dengan apa yang kita makan tadi?"

Jaejoong menggeleng. "Masalahku tadi membuatku lapar."

Yunho beranjak dari tubuh Jaejoong. "Arraseo, kajja kita ke dapur. Kita lihat apa yang ada disana." Ajak Yunho sambil menggandeng Jaejoong menuju dapur.

Sesampainya didapur Jaejoong langsung membuka kulkas. Ia mendesah. "Selama ini kau makan apa eoh? Bahkan telurpun tidak ada." Ucapnya kesal karena mendapati kulkas Yunho hanya terisi minuman dan makanan ringan.

"Mian, aku tak bisa memasak. Aku selalu makan diluar atau delivery." Yunho menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia malu menawarkan Jaejoong ke dapurnya, tapi tidak ada apapun yang bisa dimasak. "Eh, chakkaman... aku sepertinya pernah membeli ramen." Yunho menginvasi lemari dapurnya satu persatu mencari ramen. Jaejoong melihatnya sambil bersedekap.

"Tarraaaa..." Yunho menunjukkan dua bungkus ramen ditangannya. "Tak apa kan? Cuma ramen ini yang bisa dimasak."

Jaejoong mengangguk lalu mengambil bungkusan dari tangan Yunho. "Kau duduklah dulu, aku akan memasaknya. Apa kau juga ingin?" Tanya Jaejoong.

Yunho mengangguk. "Aku akan menunggumu disini." Yunho duduk di kursi bar dapurnya.

Jaejoong dengan cekatan menyiapkan panci untuk merebus air. Ia sekali lagi menscanning isi kulkas Yunho tetapi tidak menemukan satu sayuranpun yang bisa ia tambahkan kedalam ramennya. Sehingga ia akan membuat ramen apa adanya saja.

Jaejoong sedang berdiri didepan kompor menanti air mendidih ketika ia merasakan lengan kekar memeluknya dari belakang, melilit perut rampingnya. Sesuatu yang basah menghisap lehernya.

"Eunnghhh... Yuunnnh... " Desah Jaejoong sambil mencoba melepaskan diri.

Tampaknya Yunho tidak bisa menahan hasratnya kali ini. Ditempat tidur tadi, ia mati-matian menahan dirinya tidak menerkam Jaejoong saat jari lentiknya bergelirya diwajahnya. Karena ia tau Jaejoong sedang ada masalah. Tapi ketika ia duduk dan memperhatikan Jaejoong dari belakang. Entah mengapa ia melihat Jaejoong berkali lipat lebih sexy. Tengkuknya yang terlihat dari belakang sangat menggiurkan untuk dikecup.

"Eunnngghh geli...Yunnieh...ennnghhh..." Jaejoong menggeliat ketika lidah Yunho dengan nakal menjilat-jilat tengkuk dan belakang telinganya. Tangan Yunho juga sudah menelusup masuk membelai perut Jaejoong.

Yunho lalu membalikkan Jaejoong mematikan kompor dibelakangnya, meraup bibir Jaejoong. Memberikan ciuman dalam penuh gairah. Jaejoong memang tak bisa menolak sentuhan Yunho. Ia melingkarkan tangannya kesekeliling leher Yunho dan membalas ciuman sama ganasnya.

"Emmphhhh... Yunnieh katanya juga lapar?" Tanya Jaejoong sok polos disela ciumannya.

Hosh... hosh...

Nafas Yunho menderu menahan hasratnya yang siap meledak. "Aku lapar terhadapmu baby. Aku ingin memakanmu. Bolehkah?"

Jaejoong terdiam, memperlihatkan wajah datarnya. Yunho menghela nafas dalam ia mengangguk mengerti. Kemudian melepaskan pelukannya. "Arra aku mengerti. Selesaikan masakanmu aku tak akan mengganggu." Ucap Yunho dengan nada kecewa tetapi tetap tersenyum manis pada Jejoong.

Jaejoong tersenyum lembut. Yunho memang benar-benar namja pengertian. Ia lalu menarik Yunho sehingga menghadapnya lagi. Menarik tengkuk Yunho sehingga sedikit menunduk dan menyambar bibir hati Yunho. Memberikan lumatan penuh dengan keinginan.

"Mppck...babyh...stoop." Yunho mendorong Jaejoong dengan lembut. "Kalau kau seperti ini aku..."

Jaejoong kembali membungkam Yunho dengan bibirnya. Menghentikan apa yang ingin dikatakan Yunho. Bibir Jaejoong merambat sampai telinganya dan berbisik. "Aku tak ingin kau tersiksa karena lapar, makanlah makananamu dulu Yunnie bear, make love for me" Bisik Jaejoong seduktif lalu diakhiri dengan gigitan kecil ditelinga Yunho.

"AAArgggghh...baby kitty nappeun eohh...arra bersiap-siaplah menghadapi Yunnie bear." Yunho lalu mendorong tubuh Jaejoong sampai membentur kulkas disampingnya. Bibirnya langsung menyerang bibir semerah cherry tanpa memberikan kesempatan Jaejoong bernafas normal.

Yunho mencium Jaejoong tanpa ampun. Melumat, menghisap bahkan menjelajah rongga hangat Jaejoong dengan lidahnya. Jaejoong membalas ciuman Yunho sama ganasnya.

"Euunnghh..." Erangan lolos dari bibir Jaejoong karena Yunho merapatkan tubuhnya sehingga pusat mereka bergesekan. Mendengar erangan sexy Jaejoong, Yunho semakin nakal menggerak-gerakkan pinggulnya. Ia bahkan mengangkat kaki kanan Jaejoong ke pinggulnya. Agar lebih leluasa bergesekan. (ˇ_ˇ")

Bibir mereka masih tidak lepas satu sama lain ketika Yunho membuka satu persatu kancing piyama Jaejoong.

"Eennghh Yuhhnn..."

Hosh hosh hosh

Jaejoong mendorong tubuh Yunho karena ia benar-benar sudah kehabisan nafas. Yunho menunduk melihat tubuh atas Jaejoong yang mulus. Langsung saja ia menyambar sesuatu yang mungil disana.

"Aaarrrgg...oh my God...Yuhhnnie..." Erang Jaejoong nikmat karena nipple sensitifnya dimainkan oleh mulut Yunho. Jaejoong meremas-remas kuat rambut Yunho melampiaskan rasa nikmatnya.

Setelah puas dengan nipple Jaejoong, ciuman Yunho merambat turun menciumi perut rata Jaejoong. Membuat Jaejoong menggelinjang kegelian. Kedua tangannya lalu menarik turun celana piyama Jaejoong membuat kejantanan Jaejoong terpampang nyata dihadapan Yunho.

Jaejoong menunduk menatap Yunho sambil menggigit bibirnya.

Yunho mendongak membalas tatapan Jaejoong "You're beautiful" Ucapnya selalu. lalu meraih benda pusaka Jaejoong dan mengulumnya.

Jaejoong mengerang hebat. Selalu saja, sensasi yang diberikan Yunho membuat tubuhnya melemas dan bergetar. Membuat mulutnya tidak berhenti mengerang nikmat. Yunho sangat piawai memperlakukan miliknya didalam rongga mulutnya yang hangat. Dan apabila diteruskan, Jaejoong akan menikmati sensasi seperti melayang itu lagi. Tetapi tidak, ia tak akan keluar terlebih dahulu kali ini.

"Yunnie s...shh...stoop..." Jaejoong pelan mendorong bahu Yunho.

Yunho berdiri dan membelai lembut pipi Jaejoong. "Waeyo hmmm?"

"Aku tak mau keluar lebih dulu." Ucap Jaejoong sambil mempoutkan bibirnya.

Yunho terkekeh. "Kukira kau tidak sabar untuk kurasuki."

Blush

Jaejoong merona tetapi ia kemudian menatap Yunho dan mengangguk.

"Palli rasuki aku Yunnie...i'm yours." Rupanya Jaejoong telah dipenuhi hasrat akan Yunho.

Mendengar permintaan Jaejoong yang tak disangkanya, Yunho dengan cepat melepas celana piyamanya sehingga ia telanjang. Kejantanannya sudah menegang sempurna.

"Yakin baby... tanpa pemanasan heum..." Bisik Yunho seduktif sambil menggesek-gesekkan miliknya dengan milik Jaejoong yang sedari tadi sudah tegang.

Jaejoong mengangguk kuat. "Shhhshh...Yuhnn..palli eoh.. i want you, now!" Erang Jaejoong tidak tahan. Apabila Yunho menggodanya terus seperti ini ia yakin detik berikutnya ia akan meledak.

Yunho menyeringai. "Aku akan melakukannya dengan posisi berdiri."

Jaejoong mengangguk. Ia lalu melingkarkan satu kakinya pada pinggul Yunho agar mempermudah Yunho memasukkan miliknya.

Jleb

"Euunnghh..." lenguh Jaejoong sambil melesakkan wajahnya di leher Yunho. Keduanya kini saling memeluk.

Yunho menggerakkan pinggulnya perlahan menikmati setiap sensasi yang tercipta.

"You always tight babyh..."

"Bit faster Yunnie..." Pinta Jaejoong.

Yunho tersenyum lalu melakukan apa yang dipinta Jaejoong. Rupanya Jaejoong sudah tidak malu-malu lagi kepadanya. Dan ia suka itu. Ia gerakkan pinggulnya dengan cepat dan dalam. Membuat Jaejoong semakin mengeratkan pelukannya.

"Ahhhh...Yunnie Arrrghhhhh..." Erang Jaejoong. Tubuhnya terlonjak-lonjak seirama tusukan Yunho. Tubuhnya benar-benar lemas. Satu kakinyapun tak sanggup lagi menopang tubuhnya.

Yunho yang mengerti Jaejoong sudah tidak kuat berdiri melingkarkan satu kaki Jaejoong lagi ke pinggulnya. Ia kini terlihat seperti menggendong bayi koala besar dengan tubuh masih menyatu.

"Yunnieeh... turunkan aku... arhhh pasti be...rath..."

"Annio... kau sangat ringan babyh... ouhhhhh..."

Mereka melakukan posisi itu cukup lama. Tetapi Jaejoong terus merengek minta diturunkan. Yunho lalu merebahkan tubuh Jaejoong pada meja bar yang ada di dapur. Yunho tidak tahan untuk mencium Jaejoong yang terlihat sayu dan sexy. Yunho mencium Jaejoong dengan rakus, seakan rasa manis itu tak ada habisnya. Jaejoong hanya bisa mengerang tertahan karena tusukan dibawah tubuhnya kian menggila.

Jleb jleb jleb

"Mppphhhhm...argghhhh... Yunnie... aku akan sampai."

"Kita akan sampai sama-sama... ahhh... babyh..."

Jaejoong merasakan Yunho semakin menegang didalam dan akan segera mencapai klimaksnya. Dan ia baru sadar Yunho tidak memakai pengaman kali ini.

"Yuhhhnnnn... outside... Yuuhhn arrgghhh." Pinta Jaejoong disela erangannya.

Yunho seakan tersadar, ia lalu menghentikan gerakannya. Memandang Jaejoong sejenak. Lalu tersenyum mengerti. Yunho mengeluarkan miliknya. Menyatukan miliknya dengan milik Jaejoong dalam satu genggaman tangan. Dan memaiknannya sampai mereka berdua berteriak mendesahkan nama masing masing.

Hosh hosh hosh

Nafas mereka bersahutan memenuhi dapur Yunho. Mereka berpelukan erat paska mencapai kenikmatan duniawi.

"Ahhnn... Yuuunnnn... jangan ouch" Jaejoong melenguh ketika Yunho menyesap dalam kulit di lehernya. Ia sedikit sebal Yunho suka sekali memberikan tanda merah dilehernya.

Yunho terkekeh. "Mianhe baby, lehermu yang putih sungguh sangat menggodaku."

Mereka kini saling berpandangan. "Ini adalah make love in the kitchen pertamaku baby dan luar biasa." Ucap Yunho

"Aku merasa seperti namja nakal Yunnie... seperti video yadong yang sering Changminie perlihatkan padaku." Ucap Jaejoong malu.

"Kau bukan hanya nakal. Tapi penggoda. 'Yunnie...jebal rasuki aku sekarang!'" Yunho menirukan Jaejoong yang memohon padanya tadi.

Blush

Wajah Jaejoong semerah tomat. Ia tidak sadar sudah berkelakuan seperti slut tadi. Ia sangat malu sekarang.

"Hahaha jangan malu seperti itu eoh, aku sangat suka my baby kitty yang seperti itu. Tidak memendam apa yang ia inginkan dan rasakan. Dan... kau memang benar-benar membuatku tergoda." Ucap Yunho lalu memberikan ciuman yang lembut di bibir yang mengkilap basah itu.

"Eh baby, kau sering liat video Yadong?" Tanya Yunho tiba-tiba.

"Ti...tidak...itu hanya ulah Changmin yang sering menggodaku karena aku masih mempertahankan keperjakaanku. Aku diperlihatkan video-video seperti itu agar keinginanku untuk itu muncul. Tapi yang kulakukan setelahnya kau tau? Aku memukuli Changmin dan mengancam televisinya akan kuremukkan."

Yunho tertawa terbahak. "Hahaha, Ternyata sahabatmu juga frustasi melihat dirimu yang belum tersentuh"

Jaejoong mempoutkan bibirnya. "Mereka selalu membahas itu dan menjadikannya lelucon."

"Apa kata mereka nanti kalau mengetahui kau sudah tidak polos lagi dan aku yang mengambil itu darimu."

Jaejoong menggigit bibirnya. "Molla..." Jaejoong tak ingin membahas hal ini lagi. "Yunnie, aku pegal dan sesak dengan posisi seperti ini. Bisakah kau menyingkir dari atas tubuhku?" Pinta Jaejoong karena posisinya yang terlentang di meja bar yang keras dengan kaki menjuntai dan Yunho menindihnya benar-benar membuatnya sesak.

"Arra." Yunho beranjak dari tubuh Jaejoong. Tapi kemudian tanpa aba-aba ia menggedong Jaejoong dengan bridal style. Jaejoong yang terkejut berteriak dan mendelik kepada Yunho.

Yunho membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari cairan cinta yang tersebar disepanjang perut mereka. Setelah selesai Yunho memakai bathrobe sedangkan Jaejoong memintanya mengambilkan piyamanya yang berserakan dapur.

"Kau masih lapar?" Tanya Yunho.

"Sangat." Jawab Jaejoong sambil lalu. Ia menuju dapur dan melanjutkan acara memasak ramennya.

Yunho terkekeh mengikuti Jaejoong dari belakang.

"Jangan menggangguku lagi kali ini." Ancam Jaejoong sambil mendelik tajam.

"Arra... aku akan menunggumu di balkon. Buatkan untukku juga baby." Ucap Yunho sambil mencuri ciuman di pipi Jaejoong.

Jaejoong mendesis, tetapi kemudian ia tersenyum malu-malu.

...

Jaejoong tersenyum melihat Yunho yang duduk manis di balkon sambil memainkan ponselnya. Jaejoong meletakkan sepanci kecil ramen panas yang telah ia buat.

"Jja kita makaan." Ajak Jaejoong dengan riang.

"Whoooa sepertinya enak baby..." Yunho yang sebenarnya tidak terlalu lapar menjadi berliur melihat ramen panas didepannya.

"Kau tak masalah kan makan satu panci begini, aku hanya...agar tak banyak cucian piring..."

"Kau bicara apa baby, aku malah senang seperti ini. Kita menjadi lebih intim." Goda Yunho.

Mereka makan diterangi cahaya bulan yang malam itu bersinar terang dan tampak cantik. Angin berhembus lembut mendukung suasana malam ini.

"Apakah benar, orangtuamu sama sekali tak bangga atas apa yang kau capai selama ini. Lihatlah, kau mampu membeli apartemenmu sendiri. Apa mereka tidak pernah mengunjungimu?" Tanya Yunho.

Jaejoong mendesah. "Eommaku begitu, kalau appa ia terlalu cuek. Mereka berdua seorang dokter Yun, jadi... ya mungkin pekerjaan sebagai penulis tak dianggapnya sebagai pekerjaan." Jaejoong tersenyum miris. "Mereka bahkan tidak menanyakan alamat apartemenku."

"Jangan berfikir terlalu berat, kita sebenarnya tidak jauh berbeda. Appaku berfikir aku tak akan bisa bertahan hidup setelah aku memutuskan untuk keluar dari rumah. Dikiranya aku akan berakhir di jalanan mengingat aku selalu diberi kemudahan sejak aku lahir. Tetapi aku membuktikan aku bisa mandiri. Aku menghasilkan uangku sendiri. Bahkan aku bisa bersenang-senang dengan hobiku."

Jaejoong menelan ludah berat. "Hobi?" Tanyanya pelan. Ia takut hobi yang dikatakannya adalah hobi bergonta-ganti pasangan.

"Ne, aku suka bergonta-ganti gadgets dan mobil mewah."

Jaejoong bernafas lega. "Aku kira kau hobi..."

"Bermain namja atau yeoja? Judi? Memakai narkoba? Atau prostistusi?" Potong Yunho.

"Yang pertama. Reputasimu sebagai player menyimpulkan bahwa kau hobi bergonta-ganti pasangan, ania?" Tanya Jaejoong tanpa berfikir.

Yunho langsung meletakkan sumpitnya dengan bunyi 'tak' keras. Ia lalu bersedekap dan menatap tajam Jaejoong.

Jaejoong tau ia salah bicara. Ia merasa bersalah dan takut disaat bersamaan.

"Ah, bahkan sampai saat ini kau masih saja mempercayai reputasiku." Yunho menghela nafas berat. "Kalau kau percaya aku seperti itu, mengapa kau masih ada disini sekarang?"

Jaejoong tersentak. Hal itulah yang ia tanyakan pada dirinya sendiri setiap waktu. Apabila ia masih saja percaya bahwa Jung Yunho seperti yang dibicarakan. Mengapa ia disini? Mengapa ia secara tidak sadar berlari kemari?

"Kau benar, mengapa aku masih disini?" Jaejoong dengan cepat berdiri, mengambil panci ramen yang sudah kosong dan berbalik kedapur. "Aku akan bersihkan ini. Setelahnya aku akan pulang." Ucap Jaejoong sambil lalu.

Yunho berlari menyusulnya didapur ia meraih tangan Jaejoong dan memegangnya erat. Jaejoong berusaha melepaskan diri.

"Yunho lepaskan aku." Pintanya sambil membentak.

Yunho tidak menghiraukannya. Ia merengkuh pinggang Jaejoong dan membawa kepelukannya. Yunho tidak mengatakan apapun hanya memeluknya erat. Jaejoong menggigit bibirnya menahan agar tidak mengatakan apapun yang menyakiti Yunho.

"Mianhe." Ucap Yunho. Lalu menundukkan sedikit wajahnya agar bisa menatap mata Jejoong "Aku hanya merasa tidak adil kau selalu memandangku dengan reputasiku dari awal kita bertemu. Sejenak, aku kira kau sudah bisa memandangku sebagai diriku yang sebenarnya. Bukan Jung Yunho dengan segala reputasi buruknya."

Jaejoong menatap Yunho. Dia dapat melihat Yunho memperjuangkan kata-katanya "Apakah penting pandanganku tentangmu?"

Ekspresi Yunho melunak dan ia tersenyum. "Ne."

Jaejoong menghela nafas dalam untuk menenangkan emosinya. "Aku harus pergi." Ucapnya sambil berusaha keluar dari pelukan Yunho.

Yunho menggelengkan kepalanya. "Jebal, Jangan begini baby..." Suara Yunho terdengar seperti memohon.

Kemudian Jaejoong menyadari Yunho benar. Memang tak adil bagi Yunho apabila ia terus-terusan memandang Yunho dengan reputasinya. Padahal Yunho memberikan kesempatan kepadanya untuk melihat dirinya sebenarnya. Dan ya... yang ia lihat selama bersamanya Yunho namja yang baik. Bahkan ia tadi memberikannya nasehat yang membangun dirinya. Menghapus air matanya dan memberi pelukan menenangkan. Apa yang ia lihat selama bersamanya banyak sisi positif daripada negatif.

Jaejoong merasa bersalah sekarang. Nyatanya yang buruk adalah dirinya sendiri disini. Bukan Yunho. Ia memandang Yunho sambil membelai pipinya.

"Mianhe."Jaejoong berbisik. "Aku berucap tanpa berfikir. Aku tak peduli seperti apa reputasimu Yun. Maksudku... hal itu juga tak berdampak apapun pada hidupku. Aku yang buruk disini. Aku yang selingkuh dengan kekasihku. Aku yang berbohong dengan sahabatku."

Yunho menempelkan jarinya pada bibir Jaejoong. "Shhh... ini bukan tentang selingkuh baby, aku tau kau juga merasa bersalah ania? Lihatlah dari sudut pandang lain, untuk pertama kali kau melakukan apa yang kau inginkan. Kau mengajari dirimu sendiri bagaimana itu hidup... dan akupun merasa kau mengajarkanku hal yang sama."

Jaejoong tersenyum. "Hmmm... kita harus melupakan semua ini ."

Yunho mengangguk lalu membawa bibir Jaejoong mendekat dan menciumnya dengan lembut. Jaejoong membalasnya dengan sama pula.

"Yunnie... aku harus pergi." Ucap Jaejoong mengakhiri ciumannya.

Yunho menyeringai. "Annio, sudah diputuskan kau akan menghabiskan malammu disini sejak kau berdiri di depan pintuku. Kau tidak bisa kemana-mana baby."

Jaejoong merengut. "Kau selalu semena-mena kepadaku. Aku kan butuh menggosok gigiku."

Yunho terkekeh lalu membawa Jaejoong menuju kamar mandi. Diambilnya bungkus sikat gigi yang masih baru.

"See, kau tak bisa kemana-mana baby Jae..."

Jaejoong mengambil sikat gigi dari tangan Yunho lalu menyikat giginya dengan merengut. Setelah selesai mereka berdua tidur, menghabiskan malam dengan berpelukan.

.

To Be Continued ( ̄^ ̄)

Anneong Chingu-yaa...

Mianhe baru update, n minahe lagi aq ga akan ke fanfic dulu dlm kurun waktu 1 blnan. Aq hrs ngurusin skripsi q yg smpat q telantarkan (╥_╥), krn ni hmpir mau taun ajarn baru lgi n aq ngejar biar ga nmbh smster aq hrs fokus k itu. Smpe lulus...

Mianhe jeongmal mianhe (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩), nntiny tetep q lanjutin kog. YOSH!

.

.

Kamsahamnida buat apresiasi chingu chp kemarin, (-^_^-)

Gimana chp ini? sikap Yunho keterlaluan manis, ania? :D

Apresiasinya lgi y chingu-yaa...

Sampai jumpa bulan Juli ƪ(‾ε‾)ʃ ƪ(ˇ▿ˇ)ʃ ƪ(‾ε‾")

wkwkwkwkwk...