Saya COMEBACK chingu-yaa ;). Lngsung baca aj nee..
Slamat membaca (∩_∩)
Chapter Title : Advice
.
.
Pagi harinya Jaejoong terbangun dengan Yunho dibelakangnya. Lengannya melilit disepanjang perutnya. Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya karena cahaya dari jendela sangat terang. Ia lalu melihat jam yang ada di nakas. Jam sebelas tepat!
"Omo!" Teriak Jaejong sambil lalu dengan cepat berdiri.
Yunho terbangun seketika mendengar teriakan Jaejoong. "Ada apa baby ?" Tanyanya sambil menyesuaikan pandangannya.
"Sudah jam sebelas Yun, jam sebelas! Aku bekerja pukul sembilan. Kenapa aku bisa sangat teledor." Ucap Jaejoong cemas. Ia selalu tepat waktu pergi ke kantor.
Yunho tersenyum. "Calm down. Kapan terakhir kali kau mengambil cuti?"
Jaejoong menatapnya. "Molla, sepertinya satu tahun yang lalu."
"Kau sangat workaholic. Satu hari istirahat tidak akan merugikanmu." Saran Yunho.
"Yunnie...aku tak bisa..."
Yunho memutar matanya. Ia lalu menarik tangan Jaejoong sehingga terduduk kembali di ranjang sebelahnya.
"Mr workaholic" Goda Yunho. "Kupikir kau sangat-sangat membutuhkan liburan baby. Menyegarkan pikiranmu. Kau sangat bagus dengan apa yang kau kerjakan. Kaupun lebih pintar dan hebat dari saudaramu. Kau tak perlu menjadi kutu buku yang gila kerja sepanjang waktu. Kau tau apa yang kupercayai? Seseorang yang berpengalaman hidup diluar secara mandiri akan lebih sukses. Santai oke?"
Jaejoong menatap Yunho, mendengarkan apa yang dikatakannya. Ia jadi menyadari ia tidak pernah memberikan istirahat untuk dirinya sendiri karena ia hanya berfikir untuk menjadi lebih dan lebih dari saudaranya.
Mungkin Yunho benar. Ia harus belajar menikmati hidupnya. Tidak perlu melulu terlalu fokus dan tegang.
Jaejoong mendesah. "Arraseo, aku akan membolos hari ini." Ia tersenyum kepada Yunho dan memberikan ciuman singkat dibibir Yunho.
Yunho tersenyum manis kepada Jaejoong.
"Bagaimana denganmu? Apa kau tidak bekerja juga hari ini?" Tanya Jaejoong.
"Sudah selesai." Jawabnya. "Aku bangun pukul sembilan tadi dan melakukan beberapa perdagangan."
"Jinjja? Kau menghasilkan uang?" Tanya Jaejoong ingin tau.
Yunho mengangguk. "Aku beruntung pagi ini. Empat puluh juta won masuk kekantongku." Ucapnya bangga.
Jaejoong melotot. "Empat puluh juta won sepagi ini? Bagaimana mungkin?"
"Aku bekerja cukup jeli untuk ini. Aku mendapatkan deal yang bagus untuk investasi. Aku hanya perlu bersabar. Aku menunggu bertahun-tahun dan 'bang' ternyata tidur memelukmu membawa keberuntungan bagiku." Yunho membelai pipi mulus Jaejoong.
Blush
Pipi Jaejoong merona. "Kau mengatakan seperti 40 juta won hanya uang kecil."
Yunho tergelak. "Aku bermain perdagangan saham sejak high school baby." Ucapnya. "Dan sudah kukatakan mulailah dengan uang yang sedikit terlebih dahulu. Pahami cara bermain dan triknya. Lalu apabila beruntung kau akan mendapatkan 'bang' sepertiku."
Jaejoong mengerucutkan bibirnya. "Oke...oke... 'mr bang' kau hebat. Tapi kau sudah bangun dari jam sembilan, mengapa tak membangunkanku? kau tau kan ini hari selasa?"
"Aku lihat kau tidur sangat pulas, bahkan tak bergerak sedikitpun dari posisimu semula. Malam tadi kau juga tidur terlalu larut. Aku tak tega membangunkanmu." Jelas Yunho.
"Arra... kalau begitu kau harus bertanggung jawab memberiku makan siang."
Yunho terkekeh yang melihat Jaejoong seperti merajuk. "Kau ingin makan siang diluar?"
"Anio, aku malas keluar. Disini saja."
"Tapi tak ada apa-apa di dapurku baby. Ah kita bisa delivery kau mau makan masakan apa? jepang? China? America? Pizza? Burgeer? Ayam goreng?" Tawar Yunho.
"Aku tak suka junk food. Aku suka masakan rumahan." Jaejoong bersedekap sambil mempoutkan bibirnya lucu.
"Aigooo... ternyata kau sangat rewel." Tiba-tiba ide terlintas dikepalanya. "Aku akan menelepon maid untuk berbelanja sebelum kemari. Ia bisa memasakkan makanan rumahan untuk kita."
"Kau punya maid?" Tanya Jaejoong langsung.
"Ne, dia akan datang pada hari selasa, jum'at dan minggu." Jawab Yunho.
Entah mengapa Jaejoong merasa panik karena akan ada orang lain melihat dirinya dan Yunho. Meskipun ia mempercayai Yunho sepenuhnya, tetapi ia tak mau mengambil resiko.
"Euummm... sebaiknya kita makan siang di apartemenku saja. Aku harus mengecek ponselku, Junsu akan panik mengetahui aku tak muncul di Trend." Ucap Jaejoong mencari alasan.
Yunho menaikkan alisnya dan mendesah. "Huft, bahkan kau tak ingin terlihat denganku meskipun itu oleh seorang maid."
"Yunnie... aku tak ingin membahasnya oke..." Jaejoong menatap Yunho memohon. Yunho hanya diam bersedekap. "Ah, aku akan memasak untukmu Yunnie, kau belum tau kan aku sangat baik dalam memasak?" Ucap Jaejoong berusaha membuat Yunho menyetujui makan siang di apartemennya saja.
"Tapi kau memintaku untuk bertanggung jawab atas makan siangmu tadi."
"Yunnie..."
"Aishhh arra... arra... awas kalau masakanmu tak enak." Ancam Yunho.
Jaejoong tertawa. "Hahaha, nanti kau bisa menilainya sendiri. Tapi, awas saja kalau sampai ketagihan." Ucap Jaejoong percaya diri. Memasak adalah salah satu keahliannya setelah menulis. Jadi jangan diragukan lagi.
"Datanglah satu jam lagi ne?" Jaejoong mengerlingkan matanya sambil berlalu pulang ke apartemennya.
"Ania, 40 menit aku datang!" Teriak Yunho.
...
Jaejoong kembali ke apartemennya. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek mesin penjawab telepon. Dahinya langsung berkerut mendengar suara Hyun Joong di pesan pertama.
Darling, ini kekasihmu Hyun Joong. Mianhe, jeongmal mianhe apabila perkataanku membuatmu tersinggung lagi. Pikiranku hanya sedang kacau. Kau tau, sepupuku baru saja menikah dengan pengacara terkenal. Dan itu, sedikit membuatku cemburu.
Jaejoong memutar matanya jengah. Salah satu sifat Hyun Joong yang tak mau kalah, persis seperti adiknya.
Aku tau pasti kau mempunyai rencana lain kan dengan masa depanmu? Oke, kita bisa berbicara saat aku mengunjungimu. Bogoshipoyo darl, sarangheyo.
Jaejoong mendesah. Bertahun-tahun hubungan ini ia lalui dan kini ia menyadari hubungannya dengan Hyun Joong semakin tak ada harapan. Semakin tidak nyaman, penuh tekanan. Ia kini berfikir untuk mengakhiri saja hubungannya. Ia tak peduli lagi dengan apa kata eommanya. Yang penting ia tak menyesal di kemudian hari.
Ya, secepatnya aku akan menghakhirinya. Tekat Jaejoong dalam hati.
Kemudian terdengar pesan kedua dari Junsu.
Joongie, Changmin besok mengajak kita makan siang bersama. Kau bisa kan?
Tangan Jaejoong menutupi mulutnya. Ia panik. Dan pesan-pesan selanjutnya terdengar berbagai pertanyaan dari Junsu dan Changmin yang menanyakan kenapa ia tak menjawab pesan, mematikan ponselnya, tak masuk kerja dan bla-bla-bla.
Dengan cepat Jaejoong mengambil ponselnya dan menghubungi Junsu.
"Damn! Joongie kau dimana? Kenapa tak masuk kerja? Kau baik-bail saja kan?" berondong Junsu langsung.
"Aku dirumah Su-ie, ketiduran dan aku merasa tak enak badan." Jawab Jaejoong tenang.
"Omo... tak biasanya kau sakit Joongie. Gwachana?" Junsu terdengar khawatir.
"Ne, aku cuma butuh sedikit istirahat."
"Apakah aku perlu mengunjungimu? Kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Junsu.
"Tidak...tidak perlu Su-ie aku baik-baik saja. Tak perlu khawatir. Aku akan minum obat dan tidur seharian." Jawab Jaejoong dengan cepat. Kini ia sudah pintar berbohong.
"Oh, baiklah... aku akan menghubungi HR untuk izinmu. Setelah selesai bekerja aku akan menghubungimu."
"Gomawo Su-ie, bye-bye." Jaejoong menutup teleponnya dan menghela nafas.
Ia langsung melesat menuju dapur untuk mengecek bahan makanan yang bisa ia olah menjadi masakan. Ternyata lebih dari cukup bahan masakan yang ada di kulkasnya. Iapun menjadi bersemangat untuk memasak makan siang untuknya dan Yunho.
Setelah 40 menit berlalu.
"Baby, aku lapar sekali... sudah matangkah masakanmu?" Teriak Yunho dari pintu apartemen Jaejoong.
Jaejoong tersenyum mendengar teriakan Yunho dari luar yang katanya kelaparan.
"Woaaaa... ternyata kau benar-benar bisa masak. Kimchi Jiggae... aku sudah lama tak memakan itu..." Mata Yunho berbinar melihat masakan yang telah tertata di meja makan.
"Tak ada satupun yang meragukan kemampuan masakku tuan Jung." Ucap Jaejoong percaya diri.
"Kau memang namja uke kualitas no 1, sangat pantas menjadi seorang istri." Puji Yunho.
Seketika Jaejoong langsung menunduk malu menyembunyikan semburat merah dipipinya.
Selama mereka makan, Yunho tak henti-hentinya memuji masakan Jaejoong yang ia katakan sangat lezat.
"Aku akan sering-sering minta makan padamu baby."
"Yak, kau pikir aku eommamu." Sembur Jaejoong.
"Eommaku bahkan tidak bisa masak. Semua dilakukan maid. Appaku terlalu memanjakannya." Ucap Yunho.
"Hmmm...keluargamu terdengar harmonis."
Yunho mengangguk menyetujui. "Appa, eommaku selalu bersama. Tidak pernah terpisahkan. Aku kadang muak didekat mereka. Maka aku memilih menyendiri seperti ini. Hahaha."
"Ishh.. kau jahat sekali pada mereka." Cibir Jaejoong. "Baiklah, kau boleh minta makan padaku kapanpun kau mau."
Yunho tersenyum senang. "Baby aku harus memberikan ciuman kepadamu." Ucap Yuho lalu mendekat. Namun Jaejoong segera mendorongnya.
"Andwae! jangan dekati aku dulu, aku belum mandi sedangkan kau sudah. Itu tak adil. Sedari tadi aku langsung memasak. Maka dari itu, selama aku mandi. Kau cuci semua piring kotor ini. Sebagai balasan aku sudah memberimu makan. Arraseo!" Cerocos Jaejoong lalu secepat kilat menuju kamarnya meninggalkan Yunho yang terbengong.
"Yaaa... aku minta ciuman malah dikasi cucian piring. Jooongie yaaa..." Teriak Yunho kesal.
...
"Baby... kau merokok?" Tanya Yunho karena melihat asbak berisi beberapa putung rokok. Mereka kini sedang bersantai di balkon apartemen Jaejoong.
Jaejoong mengangguk. "Kadang, apabila aku merasa stress aku melakukannya. Tapi aku bukan pecandu."
"Aku tak menyangka namja cantik sepertimu merokok."Ucap Yunho.
"Aku masih seorang namja Yun, bukan yeoja." Jaejoong mendengus kesal. "Sebenarnya akupun tak kenal apa itu rokok. Kau tau keluargaku dari bidang kesehatan dan selalu menjunjung tinggi apa itu kesehatan. Tetapi... semenjak setahun yang lalu aku melakukannya. Aku dalam hubungan yang sangat buruk dengan eomma. Aku membutuhkan seseorang untuk mendengarkanku tetapi kekasihku bersikap menyebalkan karena ia ada masalah dengan salah satu mata kuliahnya. Dan lagi, banyak deadline yang harus aku selesaikan. Aku membutuhkan ruang untuk bernafas dan menjernihkan pikiranku. Maka aku melampiaskannya dengan merokok. Dan seperti kebiasaan, aku akan merokok apabila aku stress." Jelas Jaejoong.
"Dan aku bisa menebak eomma dan appamu tidak tahu kau merokok." Tebak Yunho.
"Aku tidak bisa membayangkan kata-kata pedas apa yang eomma berikan kepadaku apabila mengetahui aku merokok." Ucap Jaejoong.
Yunho meraih pinggang Jaejooong, sehingga Jaejoong kini duduk dipangkuannya. "Sepertinya hubunganmu dengan eommamu benar-benar buruk baby."
Jaejoong mengangguk lemah. "A..ku tak tau tepatnya kapan, tetapi eomma memulai membandingkanku dengan Karam, adikku. Ia tipe anak rumahan dengan buku-bukunya. Sedangkan waktu itu aku adalah remaja yang mempunyai banyak teman dan pastinya sering pergi keluar rumah untuk hangout atau party. Tentunya eomma tidak senang dengan apa yang aku lakukan. Ia selalu berkata aku seharusnya seperti Karam yang selalu belajar untuk masa depan. Tidak keluyuran yang sama sekali tidak bermanfaat."
"Karam tidak juga tidak pernah menyukaiku. Walaupun aku selalu bersikap baik padanya. Dia selalu angkuh dan dingin kepadaku. Ia menganggapku bukan hyungnya tetapi kompetitornya. Seperti kala aku ingin mengesankan orangtuaku dengan memainkan gitar yang baru aku pelajari, Karam memberikan tiket pertunjukkan pianonya."
"Waktu itu aku seperti anak nakal kau tau. Tidak pernah melakukan hal yang benar. Eomma selalu menegurku dengan lihatlah Karam... Ia tidak pernah melakukan sesuatu yang menimbulkan masalah... Eomma selalu bangga dengan Karam. Apalagi dengan diterimanya ia di Tokyo University sebagai mahasiswa kedokteran. Ia benar-benar penerus Kim selanjutnya." Jaejoong tersenyum dramatis.
Yunho mengeratkan pelukannya. "Tetapi apa yang kau lakukan sekarang hebat." Ucap Yunho lembut.
"Aku tau... selama aku bekerja akhirnya aku menjadi editor yang diandalkan di Trend. Aku merasa pencapaianku cukup besar. Trend adalah majalah yang sangat populer. Tetapi seperti apa yang kukatakan kemarin, eommaku tidak pernah menganggap pekerjaanku layak. Dia berkata Trend hanyalah majalah yang dibaca oleh beberapa wanita yang terobsesi dengan penampilannya tidak dengan otaknya."
Yunho tertawa. "Hahaha, eommamu kolot sekali." Yunho menarik wajah Jaejoong menghadapnya. "Yang penting sekarang jangan mendengarkan perkataan yang meruntuhkan semangatmu. Percaya dengan kemampuan dirimu. Kau bisa melakukan yang terbaik."
Jaejoong tersenyum lalu menempelkan bibirnya pada bibir Yunho. Memberikan ciuman yang lembut dan penuh perasaan membuncah.
"Gomawo Yunnie... kata-katamu itu sangat berarti. Aku berjanji tidak akan putus asa lagi." Ucap Jaejoong penuh keyakinan.
"Harus. Kau harus jadi dirimu sendiri mulai sekarang arraseo?"
Jaejoong mengangguk kuat sehingga terkesan lucu. Yunho mencubit ujung hidung Jaejoong karena tidak tahan melihat kelucuan Jaejoong.
"Bagaimana dengan appamu?" Tanya Yunho.
"Ah, appa... dia orang yang baik. Dia tidak seperti eomma yang selalu membandingkanku. Tetapi... iapun tidak selalu membelaku. Ia tipikal suami yang selalu menuruti apa kata istri." Jaejoong menghela nafas. "Appa orang yang tidak tegas, tetapi hubunganku dengannya baik-baik saja."
Yunho mengangguk mengerti. "Baby... apa kau mendengar apa yang aku pikirkan tentangmu?"
Jaejoong mengangguk antusias.
"Kau namja yang sempurna, kau pintar, berhati baik. Kau tau bagaimana cara mengelola keuanganmu. Kau hidup mandiri dengan baik. Kau mempunyai apartemen dengan usahamu. Kau mempunyai pekerjaan yang stabil dan sebentar lagi akan mendapatkan promosi naik jabatan di waktu yang cukup singkat, kau mempunyai sahabat yang sangat mencintaimu dan juga seseorang yang sangat tergila-gila padamu."
Jaejoong seketika tertawa "Aku tak yakin Hyun Joong akan tergila-gila padaku."
Yunho menatap Jaejoong seketika, matanya menyipit dan alisnya terangkat. Dia tidak mengatakan apapun.
Jaejoong menghentikan tawanya.
Oh Shit...
"Maksudmu... a...apa mak..sudmu Yun?" Tanya Jaejoong tergagap sambil menatap Yunho.
Tidak mungkinkan, Jung Yunho berkata kalau ia tergila-gila padanya.
Yunho memandang jauh kota Seol. "Aku yakin kekasihmu seperti itu. Apabila tidak mana mungkin ia bertahan dengan hubungan jarak jauh seperti ini."
Oh Tidak!, Jaejoong telah menghancurkan suasana.
Sekarang suasana menjadi canggung untuk mereka berdua.
"Yun... Maksudmu tadi Hyun Joong kan?" Tanya Jaejoong dengan suara pecah.
Yunho mengangkat bahu. "Bukankah ia kekasih resmimu saat ini?"
Jawaban apa seperti itu?
Jaejoong menatap Yunho. Ia tak tau harus merasa seperti apa. Dia juga tidak punya hak untuk merasa kecewa.
Mereka berhubungan baru beberapa hari. Mungkinkah dia berkata kalau ia tergila-gila padanya?
Yunho menarik Jaejoong dari pangkuannya, berdiri dan menatap jauh kota Seoul. "Bagaimana dengan kisahnya?"
Jaejoong menatap Yunho. Berusaha membaca ekspresi wajahnya. Tetapi ia tak mendapatkan apa-apa.
Jaejoong menghela nafas. "Aku bertemu Hyun Joong ketika kami menghadiri suatu pesta yang diadakan teman orangtua kami. Ia anak dari teman appa. Kami berkenalan dan mengobrol. Awalnya aku tak pernah berfikir Hyun Joong adalah tipeku. Tetapi dia terlihat sebagai namja yang serius dan dewasa. Dan ketika ia menjemputku untuk berkencan. Itu adalah hari dimana eomma tersenyum bahagia karenaku. Aku seperti memberikan hadiah besar untuknya."
"Hyun Joong namja baik. Hubungan kami berjalan stabil. Dia pergi ke Tokyo untuk sekolah kedokteran sama seperti Karam. Kami berhubungan jarak jauh. Jarang sekali untuk bertemu. Tetapi kami selalu menjaga hubungan kami lewat telepon atau video call. Hubungan ini sudah berjalan selama tiga tahun."
Yunho mengangguk tetapi tidak mengatakan apapun.
Hening beberapa saat. Jaejoong berharap ia seorang pembaca pikiran. Ia ingin tau apa yang Yunho pikirkan saat ini.
Sangat aneh memang membicarakan Hyun Joong dengan Yunho. Terutama setelah Yunho mengatakan seseorang yang tergila-gila padanya. Secara otomatis yang ada di pikiran Jaejoong adalah Hyun Joong. Itu seperti Jaejoong tidak menghargai beberapa malam yang mereka habiskan berdua. Ia merasa menyesal.
Tetapi ia juga tak mengerti hubungan seperti apakah ia dan Yunho. Sangat sulit mengharapkan hubungan yang stabil dengan Yunho... dan sulit mempercayai apabila Yunho tergila-gila padanya.
Bunyi ponsel Jaejoong memeahkan keheningan diantara mereka. Jaejoong segera pergi kedalam untuk menjawab teleponnya.
"Joongie... bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Junsu langsung.
"Aku baik-baik saja Su-ie. Aku bisa pergi kerja besok."
"Hmm... sepertinya mememang kau membutuhkan waktu istirahat bahkan liburan Joongieah."
Jaejoong terkikik. "Aku benar tak apa-apa Su-ie. Hanya hari ini aku merasa tak enak badan untuk pergi kerja. Mungkin aku terlalu banyak pikiran."
"Mungkin keperjakaanmu memakan semua tenagamu Joongie." Ejek Junsu.
"Yak Su-ie yaa...tidak ada Changmin kau berani mengejekku eoh!" Teriak Jaejoong.
Jaejoong merasa bersalah. Ia sebenarnya ingin bercerita kepada sahabatnya. Tetapi Bagaimana ia menjelaskan kepada sahabatnya kalau ia sudah kehilangan keperjakaannya dengan namja paling diinginkan di Seoul.
"Hihihi Mian...Ya sudah Joongie kau istirahatlah. Kalau butuh apa-apa hubungi aku oke... bye-bye."
"bye-bye Su-ie"
Jaejoong menutup teleponnya dan berbalik, ia menemukan Yunho sudah duduk manis di sofa dengan diam. Ia merasa menyesal telah menyebut nama Hyun Joong.
Jaejoong menghampiri Yunho dengan takut-takut karena aura yang terpancar pada Yunho masih seperti tadi, dingin. Tetapi ia memberanikan diri duduk disampingnya dan menyandarkan kepalanya pada pundak Yunho.
Yunho tak berkata apapun selama beberapa menit. Matanya tetap tajam lurus kedepan. Tetapi tak beberapa lama kemudian Jaejoong mersakan lengan melingkar di sepanjang pundaknya dan kecupan pada kepalanya.
Jaejoong tersenyum, entah mengapa ia merasa Yunho menyayanginya. Signyal kasih sayang yang Yunho berikan padanya kadang membuatnya tidak dapat berfikir jernih. Ia takut berharap. Sangat mudah jatuh cinta dengan Yunho. Tetapi Jaejoong berjani akan menjaga hatinya utuh. Karena ia yakin apabila Yunho meninggalkannya ia takkan mampu menangani hatinya.
Tetapi ia akan melihat dua minggu kedepan. Reputasi Jung Yunho mengatakan akan mencampakkan pasangannya setelah dua minggu bersama.
Akankah Yunho akan meninggalkannya juga setelah dua minggu? Jaejoong menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran negatif tentang Yunho.
To be continued...
Anneong Chingu... Aq kembali... hehe aq ad beberapa mianhe unt kalian :
1. Mianhe krn ga nepatin jnji update bln July.
2. Mianhe krn ga isa bls review.
3. Mianhe klo chp ni ad kalimat yg gx ngerti. Nerjemahiny susah :D
Wkwkwk coba tebak ap yg mmbuat aq update? rencana q bln dpan loh. Hihihi...
That's because... aku girang bgt mbaca berita Jung Yunho menerima penghargaan 'Best Recruit' dalam pelatihan militernya. OMG...OMO..OMO... jd aq bela-belain update malam -malam gini... sbg bntuk perayaan...wkwkwk...
N aq klepek2 chingu ngliat Jung Yunho pakai sragam militer... guanteng, gagah, sang namja BGT pokoknyaaa... Pantes bgt jd anggota militer. #sedari td blm aq close loh tab beritanya, mantengin trus fotonya.
Jaejoong Jg sekarang manly bgt, nambah 9 kg n kykny badan itu otot smua. Kadang aq ga tega nulis karakter Jaejoong d FF yg kalian tau sendiri laa... Tapi pikirku ini kan cuma Fanfiction, cmn buat hiburan semata. jngn dianggep serius lah. Hohoho...
Kamsahamnida semua ... Sampai Jumpa di Chapter selanjutnya ...
Reviewnya yaa...
wkwkwkwk...
