Chapter Title : Smooth Relationship
.
.
.
Benar, Jaejoong merasa tidak seperti biasanya.
Ketika ia pergi ke kantor pagi ini ia merasa lebih bersemangat. Ia merubah penampilannya, tidak menggunakan baju kantor yang terkesan membosankan lagi. Ia terlihat sangat eksekutif dan sexy dengan kemeja yang menempel ketat ditubuhnya. Jaejoong tidak menggunakan lagi kacamatanya. Ia hanya memakainya waktu membaca atau menulis. Rambutnya yang berwarna light brown membuat dirinya terlihat pintar tetapi terkesan liar disaat yang bersamaan.
Jaejoong sedikit cemas dengan empat belas hari mereka bersama. Dua minggu, reputasi seorang Jung Yunho. Akankah ia menghilang seperti gelembung?
Jaejoong mendesah sambil menopang tangan di meja kerjanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terluka. Ia tetap akan menjadi Jaejoong yang seperti ini apabila Yunho meninggalkannya. Yunho telah membangkitkan rasa percaya dirinya.
"Kau baik-baik saja Joongie?" Tanya Junsu.
Tidak! Aku tidak baik-baik saja. Yunho belum mengirimkan pesan ataupun menelepon. Dan ini sudah lewat jam makan siang.
Jaejoong ingin berteriak menjawab Junsu seperti itu. Tetapi ia menjawab "Aku baik-baik saja Su-ie yaa... mengapa kau berfikir aku tidak baik-baik saja?"
Junsu mengangkat bahunya "Kau terlihat tegang."
Jaejoong mendesah. "Terlalu banyak pekerjaan sepertinya."
Selama beberapa hari mereka berasama Yunho selalu mengiriminya pesan. Mengingatkannya makan atau yang paling sering mengatakan ia sexy. Dan sekarang tepat hari keempat belas mereka bersama dan Yunho belum mengiriminya pesan. Membuat mood Jaejoong buruk dan pikiran negatif bersarang diotaknya.
Jaejoong berusaha menenangkan diri dan kembali bekerja.
"Tuan Kim Jaejoong?"
Jaejoong mendongak dan melihat seorang namja berseragam didepanya.
"Ne?"
Namja itu memberikan sebuket bunga lily putih. "Kiriman bunga untuk anda."
"Dari siapa?" Tanya Jaejoong.
"Ada kartunya. Anda tanda tangan disini."
Jaejoong menandatangangi kertas dengan gugup. Siapa kiranya yang memberinya bunga.
Junsu langsung menghampiri Jaejoong. Penasaran dan heboh seperti biasanya. "Omo... Joongie dari siapa?" Tanya Junsu. "Hyun Joong?"
"Mollayo."
Jaejoong membaca kartunya. Berharap itu dari Yunho. Tetapi ia juga cemas dengan Junsu yang ikut membaca dibelakangnya.
Annyeong sexy. Tertulis dalam kartu itu. Wajah Jaejoong langsung cerah dan ia tersenyum senang. Tentunya ia tau dari siapa bunga ini. Ya dari Jung Yunho seperti harapannya. Ia dari tadi terus menunggu pesan darinya tetapi yang didapatkannya lebih dari itu. Sebuket bunga lily putih. Ia heran bagaimana bisa Yunho bisa mengetahui kalau ia menyukai lily putih.
"Omo! kau mempunyai pengagum rahasia Joongie. Kau tau siapa itu?"
Jaejoong menggeleng. Ia diam, takut apabila ia membuka mulutnya ia akan berteriak kegirangan.
"Ow..ow sangat manis tetapi juga misterius! Kubilang apa Joongie kau itu menarik, apalagi dengan penampilanmu sekarang. Kulihat para seme melotot ketika kau berjalan. Kau tau mengapa Karam ingin selalu menjadi yang terpintar? Itu jelas karena ia tidak mempunyai keindahan sepertimu Joongie."
"Su-ie" Jaejoong mengingatkan.
Yeoja-yeoja disekitar Jaejoong tiba-tiba mengerubunginya. Menerka-nerka siapa kiranya secret admire Jaejoong. Mereka menyebutkan beberapa nama namja yang mungkin memberikan bunga kepada Jaejoong.
"Donghae, dari bagian marketing. Dia pernah menanyakanmu Jae."
"Ah... Yesung dari bagian keuangan. Dia bertanya kepadaku apakah kau mempunyai kekasih?"
"Tidak, pasti Kangin. Ia beberapa hari ini terlihat melihatmu terus Jae."
Yeoja-yeoja itu malah berdebat mengenai siapa orang yang mengirimkan Jaejoong bunga. Jaejoong hanya memutar matanya karena ia jelas tau siapa sang pengirim. Jaejoong terus menciumi bunga lily itu. Ia merasa sangat senang dan tersentuh karena baru kali ini seumur hidup dia mendapatkan bunga. Ya! Hyun Joong pastinya tidak pernah sekalipun memberikannya bunga. Hubungan asmara yang menyedihkan.
Tiba-tiba suasana menjadi hening. Yeoja-yeoja yang dari tadi berceloteh ria seketika diam. Jaejoong mendongak dan melihat Yunho berjalan melewati kerumunan di samping Jaejoong. Alisn dan bibir sampingnya terangkat membuat setengah senyuman.
Ketika yeoja-yeoja memekik histeris karena mengira Yunho tersenyum kepadanya. Dia tau Yunho melihatnya dan tersenyum kepadanya. Jaejoong mengigit bibirnya, melihat Yunho sampai ia menghilang dari pandangan.
Para Yeoja mendesah kecewa.
"Oke...oke... Semua kembali bekerja. Kim Heechul akan memarahiku kalau ia tau aku menyebabkan keributan disini." Ucap Jaejoong membubarkan kerumunan.
...
Jaejoong membawa pulang buket bunga lily dan meletakkanya pada vas. Tak lama kemudian bel apartemennya berbunyi.
Ketika ia membuka pintu Yunho langsung menyambar pinggangnya. Mengangkatnya secara bridal. Jaejoong memekik terkejut ia lalu melingkarkan tanganya kesekeliling leher Yunho. Yunho tersenyum manis lalu membawa Jaejoong kedalam apartemen.
"Apakah kau mengirimkannya?" Tanya Jaejoong sambil menatap Yunho.
"Apakah kau menyukainya?" Yunho balik bertanya.
Jaejoong mengangguk. "Ne, Aku menyukainya Yunnie." Ucap Jaejoong lalu memberikan kecupan dibibir Yunho.
Seperti biasa mereka makan malam dengan masakan Jaejoong. Menghabiskan malam dengan menonton DVD berdua. Dan mengobrol sampai Jaejoong terlelap di lengan Yunho.
...
Ternyata waktu sudah berjalan satu bulan setengah sejak ia mengenal Yunho. Jaejoong tak menyangka Yunho tak meninggalkannya dalam dua minggu. Malah hubungan mereka semakin intim. Mereka nyaris menghabiskan setiap malam bersama. Ketika Yunho kedatangan teman-temannya untuk bermain poker, ia akan menyelinap kedalam apartemen Jaejoong pukul satu pagi. Ketika Jaejoong terbangun ia menemukan dirinya tidur dipelukan Yunho.
Hyun Joong menghubunginya setidaknya seminggu sekali. Seperti biasanya obrolan tentang medis dan Jaejoong hanya menanggapi seadanya. Dan ketika nama 'Karam' keluar dari mulut Hyun Joong, normalnya dulu ia akan marah atau kecewa. Tetapi ia sekarang masa bodoh dengan itu. Setiap kali Hyun Joong mengatakan 'saranghae'. Jawabannya hanya selamat malam atau Jaejoong tidak menjawabnya sama sekali. Kadang ketika ia sudah jenuh dengan obrolan Hyun Joong ia menatap pintu apartemennya berharap Yunho datang. Dan beberapa kali harapan itu nyata, Yunho datang dan senyum terpatri di bibirnya.
Suatu hari Jaejoong merasa bahagia. Sebelum ia pulang, Kim Heechul memanggilnya dan memberikan beberapa kolom lagi. Ia juga dipromosikan sebagai Assistant Editor-in-Chief. Jabatan itu akan menaikkan gajinya lima puluh persen. Tetapi ia berfikir Hyun Joong tidak akan tertarik sama sekali. Sekalipun ia menjadi direktur untuk Trend.
Yunho masuk apartemen Jaejoong dengan membawa buket bunga lily dan wine. Jaejoong menyambutnya dengan senyuman. Yunho ingin berkata tetapi ia kemudian terdiam melihat Jaejoong sedang menerima telepon. Yunho tau itu telepon dari Hyun Joong karena selama menerimanya Jaejoong hanya diam dan terlihat bosan.
"Eummm... aku harus pergi. Atasanku memberiku beberapa pekerjaan tambahan. Aku harus segera menyelesaikannya." Ucap Jaejoong berbohong kepada Hyun Joong.
"Darling... pekerjaan macam apa yang menghabiskan banyak waktumu? dengan gaji yang sedikit tetapi menghabiskan waktumu. Kau juga membutuhkan waktu untuk dirimu sendiri." Ucap Hyun Joong.
"Dan menjadi seorang dokter dengan 10 jam bekerja setiap hari. Tidak terima kasih." Balas Jaejoong sarkatis.
"Tetapi setidaknya pekerjaan itu mempunyai gaji yang tinggi." Mulai Hyun Joong.
Jaejoong mendesah, suaranya meninggi. "Kau lakukan apa yang kau sukai. Aku lakukan apa yang kusukai. Aku tidak menyukai menjadi dokter dan kau tidak bisa menjadi penulis! Sekarang aku harus pergi. Aku tutup teleponnya. Bye-bye" Jaejoong menutup teleponnya sepihak.
Jaejoong menutup matanya dan menghela nafas untuk meredakan emosinya.
Yunho mendekat. "Aku harus mengingat untuk tidak beradu argumen denganmu, baby." Yunho terkekeh. "Kau mengerikan ketika marah."
Jaejoong mengerucutkan bibirnya.
"Mianhe... lupakan semuanya." Ucap Jaejoong.
"Kau ingin menceritakannya?"
"Mengapa kau ingin mendengar tentang Hyun Joong?" Tanya Jaejoong heran.
"Aku tidak ingin. Tetapi apabila kau ingin bercerita, aku siap menjadi pendengar yang baik." Jawab Yunho sambil tersenyum.
Jaejoong menggeleng. Kemudian ia melemparkan dirinya kepelukan Yunho. "Aku tidak ingin membicarakannya. Aku hanya ingin bersamamu." Bisik Jaejoong.
"Baby, kulihat ia selalu membuatmu emosi. Dan... eumm kau masih bertahan dengannya?" Tanya Yunho pelan.
Jaejoong mengangkat kepalanya menatap Yunho. "Aku... tidak tau bagaimana Yun, eommaku mungkin tidak akan memaafkanku apabila aku putus dengan Hyun Joong. Disamping itu, aku tidak mungkin memutuskannya di telepon. Aku harus merencanakannya dengan matang. Aku hanya tidak ingin memikirkannya sekarang."
Yunho menghela nafas kemudian mengangguk. "Aku hanya berharap kau melakukannya suatu hari." Gumam Yunho lalu melesakkan kepalanya di ceruk leher Jaejoong. Memeluknya erat.
Jaejoong memejamkan matanya menikmati kehangatan yang melingkupinya.
"Aku lihat tadi kau membawa sesuatu?" Tanya Jaejoong.
Yunho mengambil sebuket bunga lily. "Untukmu."
"Hmmm...Aku tidak tau kalau Jung Yunnie itu romantis."Goda Jaejoong.
"Tidak semua kesan pertama itu benar." Ucap Yunho. "Dan sekarang kau mengenalku satu bulan lebih, kau pasti sudah mengenalku ania?"
Jaejoong mengangguk "Yup, aku tau, Yunnie adalah namja teromantis yang pernah Joongie temui." Jaejoong memang sudah melupakan reputasi Yunho. Sebulan ia mengenalnya, Yunho sangat berbeda dengan apa yang orang katakan. Yunho tertawa mendengar ucapan imut dari Jaejoong. Ia tidak tahan untuk melumat bibir merah didepannya. Merekapun berciuman dengan bergairah.
"Dan untuk apa wine itu?" Tanya Jaejoong setelah mereka puas berciuman.
Yunho tersenyum. "Seseorang telah dipromosikan untuk jabatan baru. Tidakkah kita harus merayakannya?"
Jaejoong sangat tersentuh. Ia bahkan tidak menceritakan apapun pada Yunho. Bagaimana ia bisa tau?
"Gomawo Yunnie... tetapi bagaimana kau tau?"
"Aku bekerja part time di Trend, kau ingat? Dan pastinya aku mendengarkan gosip-gosip. Dan sahabatmu Junsu sepertinya terlalu bersemangat menceritakan tentangmu." Jelas Yunho.
"Huft...pasti Su-ie membesar-besarkannya." Jaejoong membayangkan Junsu bergosip pada teman-teman sekantornya tentang dirinya.
"Aku sangat bangga padamu baby." Ucap Yunho.
Jaejoong memeluk Yunho erat. "Gomawo..." Sekarang ia benar-benar merasa mempunyai kekasih! Ia bahkan merasa Yunho lebih dari sekedar kekasih. Apa yang ia harapkan Hyun Joong lakukan untuknya sebagai kekasih, Yunho telah melakukannya dengan sempurna.
Jaejoong menyiapkan makan malam. Ia memasak makanan favorit Yunho sebagai balasan. Setelah makan, mereka melanjutkan minum wine di balkon.
"Aku mempunyai sesuatu untukmu baby." Ucap Yunho tiba-tiba.
"Benarkah? Bukankah kau sudah membawakanku bunga dan top wine ini sebagai hadiah?" Jaejoong tersenyum.
Yunho tak menjawab. Ia lalu mengambil sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah kotak merah maroon, lalu memberikan kepada Jaejoong.
Jaejoong mengkerutkan dahinya. "Apa ini?"
"Sebuah hadiah selamat dariku." Yunho tersenyum. "Bukalah"
Jantung jaejoong berdebar. Box itu bertulisan cartier dan ia mengira-ira apa isinya. Ia dengan perlahan membuka kotaknya.
Ia seakan tidak bisa bernafas ketika melihat apa yang ada didalamnya.
Sebuah kalung emas putih dengan bandul berbentuk dua cincin bertahtakan berlian yang saling mengait. Benar-benar kalung yang cantik.
"Yunho..." Jaejoong melotot kearah Yunho sambil mengambil nafas berat.
Yunho tersenyum. "Kau suka? Pasti sangat cantik apabila kalung itu menempel di lehermu yang putih."
"Ani... ini terlalu mahal. Kau tidak harus memberikanku..."
Yunho meraih bibir Jaejoong dengan bibirnya. Membungkamnya dengan lumatan lembut. "Tetapi aku ingin baby." Bisik Yunho. "Kau tidak menyukainya eoh?"
Jaejoong menggigit bibirnya. "Aku menyukainya. Kalung ini sangat cantik. Tetapi ini tidak benar, kalung ini sangat mahal kan Yun? Oh God! Yun, jangan memanjakanku seperti ini."
Yunho terkekeh. "Tidak apa-apa baby. Aku sedang berlajan-jalan melewati sebuah toko, dan aku melihat sebuah kalung yang aku pikir akan sangat cantik melingkar di lehermu. Hahaha, aku memanjakan diriku sendiri, Baby."
Jaejoong mencondongkan tubuhnya kedepan dan memberi Yunho ciuman.
"Gomawoyo..." Ucap Jaejoong lirih. Air tanpa bisa ditahannya menggenang di pelupuk mata. Ia merasa emosional. Tidak pernah seorangpun memberinya hadiah secantik dan semahal ini. Dan Yunho terlihat dengan tulus memberikannya.
"Ne baby, tidak usah berfikir terlalu berat ok." Yunho menghapus setitik air mata yang lolos dari mata Jaejoong.
Yunho lalu memakaikannya pada leher Jaejoong. Mengaitkannya dengan sempurna.
Yunho membalikkan badan Jaejoong. Diam hanya memandangnya dengan intens. Membuat Jaejoong gugup.
"Wae? Apa terlihat jelek padaku? Kau bisa mengembalikannya lagi ke toko." Ucap Jaejoong panik.
Yunho tersenyum lembut. "Cantik, kalung itu terlihat seribu kali lebih cantik dilehermu dari pada hanya berkilau di jendela."
Jaejoong mengalungkan tangannya disepanjang leher Yunho. Membawa dirinya merapat pada Tubuh Yunho kemudian memberikan ciuman yang dalam. Yunho dengan bersemangat menyambut ciuman Jaejoong. Membalasnya dan yang pasti mendominasinya.
.
.
To Be Continued...
.
.
Annyeong chingu-yaa ... cepet kan update q? hohoho, chapter ini pendek y? tp masih bikin diabetes kan? Xixixi
Q: Kapan sih yunjae pisahnya? Kapan konfliknya datang?
A: Chapter yg membuat chingu diabetes msh eksis beberapa chapter kdepan. Aq yg nerjmhin novel ini gx bisa potong cerita smbarangan n mmpercpat jlanny cerita. Takutnya ntar ada poin pnting yg kelewatan.
Bagi yang udah baca cerita sbenerny di wattpad pasti tau chapterny puanjaaaang bgt.
Yah itung2 memeriahkan ff yunjae yg sudah jarang skrng :D. Bisa maklum krn fans DBSK/TVXQ (Cassiopeia) pasti udah pda berumah tangga n bekerja. Ga ad banyak waktu unt nulis. Akupun jg begitu hohoho...
Tapi, semangatin aq aj y moga isa smpe slese. ;)
.
.
Kamsahamnida semuaa... apresiasinya yaa... kritik n saran bebas, saya bisa menerimanya kog...
Sampai jumpa di chp selanjutnya... tpi aq ga mau janji kpn :D, soalny takut ingkar lagi.
wkwkwkwk...
