.
Chapter Title : Bogoshipo
.
.
.
Suatu pagi Jaejoong terbangun dengan suara bel apartemen yang tak berhenti berbunyi.
"OMO!" Teriak Jaejoong panik. Dia menyadari dalam keadaan telanjang dan bersandar pada lengan Yunho.
"Siapa itu baby?" Tanya Yunho dengan malas.
"Molla, pasti Junsu atau Changmin. Atau bahkan keduanya. Eotokhee..." Jaejoong dengan panik langsung mengenakan pakaiannya.
"Yunn...kau harus bersembunyi." Pinta Jaejoong.
Yunho menghela nafas. "Bagaimana apabila aku tidak bersembunyi?" Tanyanya sambil berpakaian.
"Yunnie-ah, belum saatnya. Aku harus menemukan waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya pada mereka tentang kita. Kita bertiga selalu terbuka dan aku menutupi sesuatu yang besar. Aku berbohong terlalu lama dan aku takut mereka membenciku." Jelas Jaejoong.
"Baby, waktu terus berjalan. Apabila kau masih menyimpannya sebagai rahasia itu berarti kau akan terus berbohong sedangkan aku akan bersamamu esok hari. Mereka adalah sahabatmu. Disamping itu aku ingin berkenalan dengan mereka."
Jaejoong menghela nafas dan duduk disamping Yunho. "Aku membutuhkan waktu. Aku membutuhkan waktu yang benar-benar tepat Yun."
Yunho menatap Jaejoong. "Mengapa dulu kau tidak langsung bercerita kepada mereka?"
"Molla. Dulu aku hanya... sebenarnya aku ingin... tapi..." Jaejoong tergagap. Tak tau harus menjawab apa.
Tatapan Yunho menajam. "Aku tau." Yunho berhenti sejenak. "Kau tidak menceritakannya karena kau tidak akan mengira hubungan kita akan selama ini. Benarkan?" Ucap Yunho meninggikan suaranya.
Yunho adalah makhluk yang sangat cerdas. Batinnya.
Jaejoong menggigit bibirnya. Ekspresi menyesal terlihat diwajahnya. Kemudian bel berbunyi lagi. Jaejoong memandang Yunho dengan tatapan memohon. "Yunnie...please..."
Yunho mengankat kedua tangannya keudara tanda menyerah. "Arra... Arra... aku tidak akan menampakkan diriku. Aku akan pergi."
Yunho lalu menuju jendela yang terhubung dengan apartemennya dan menghilang di balik pandangan Jaejoong.
Jaejoong memandang kepergian Yunho dengan sendu.
Setelah menghela nafas dalam, Jaejoong langsung membukakan pintu untuk kedua sahabatnya.
"Kau lama sekali Hyung." Sembur Changmin langsung.
"Aku tidur terlalu lelap." Jelas Jaejoong.
"Pagi Joongie..." Sapa Junsu ceria seperti biasa. "Omona!" Pekik Junsu kaget.
Jaejoong menyadari bahwa bunga lily yang dibawa Yunho masih berada di ruang tamu dan di balkon gelas wine masih belum ia bereskan.
"Hyung kekasihmu kemari? Apakah akhirnya ia menghabiskan malamnya disini?" Tanya Changmin menggoda.
Jaejoong menggelengkan kepalanya. Dia merasa sangat bersalah. Setelah malam sempurna yang Yunho berikan padanya. Dan ia tadi harus melihat raut kekecewaan Yunho padanya. Yunho terdengar sangat serius ketika ia meminta Jaejoong untuk berkata jujur saja kepada sahabatnya. Tetapi Jaejoong memang butuh waktu yang tepat. Karena ia telah berbohong sejak awal.
"Lalu dimana dia Joongie?" Tanya Junsu.
Jaejoong menggelengkan kepalanya lagi. "Ia tidak disini." Jaejoong menghela nafas, menatap kedua sahabatnya dan memutuskan untuk berkata yang jujur. "Sebenarnya, aku bersama namja lain" Jaejoong berhenti sejenak. "Aku bersama Yunho." Ucapnya jelas.
Junsu mengangkat alisnya. "Yunho nugu?"
Jaejoong menghela nafas lagi. "Jung... Yunho." Ucapnya dengan jelas.
Junsu dan Changmin bertatapan satu sama lain kemudian kembali menatap Jaejoong. Jaejoong gugup menunggu respon apa yang akan diterimanya. Ia mengigiti bibirnya.
Kemudian tiba-tiba Changmin dan Junsu tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perut dan terduduk. Bahkan Changmin berguling-guling di sofa.
"Whoooaaa...tak kusangka Hyung... itu yang terbaik dari semua leluconmu...hahaha." Ucap Changmin disela tawanya.
"Omonaa Joongie hahaha...dia namja yang sangat sempurna di ranjang ania? Dia juga kemarin mampir ke apartemenku Joongie...dan apa yang bisa kukatakan. Dia sangat liar...Hahaha!" Ucap Junsu.
Jaejoong menggigit bibirnya keras. Berusaha menahan tangis. Sahabatnya mengira apa yang ia katakan tadi adalah lelucon. Tetapi nyatanya memang ia benar-benar dengan Yunho. Bagaimana lagi ia harus menjelaskan kepada mereka kalau seperti ini.
Jaejoong menunggu mereka selesai tertawa.
"Best joke Joongie." Ucap Junsu setelah ia tenang.
"Dari selama aku mengenalmu hyung." Sambung Changmin terkekeh.
Jaejoong menaikkan sudut bibirnya. "Sangat tidak mungkin, ania?" Tanya Jaejoong miris.
"Jung Yunho hanya tidur dengan supermodel. Dan kau terlihat terlalu pintar untuk tidur dengannya! Kau menjaga tubuhmu hanya untuk seseorang yang akan menjadi pelabuhan terakhirmu. Kau terlalu pintar untuk menyerahkan dirimu kepada namja playboy. Itulah bagaimana kau tidak dapat memutuskan Hyun Joong sampai saat ini! Kau terlalu bermain aman dan hati-hati hyung." Ucap Changmin.
"Plus, kau akan menceritakan kepada kita sahabatmu... maksudku, aku tak akan memaafkanmu apabila kau bahkan bercakap-cakap dengannya tanpa menceritakannya kepada kami" Sambung Junsu sambil terkekeh.
Oh God!
Jaejoong menelan ludahnya berat setelah mendengar apa yang dikatakan Junsu. Mereka tidak akan memaafkannya apabila mendapati ia dan Yunho telah berhubungan lebih dari enam minggu.
"Kalungmu baru Joongie...?" Junsu dan Changmin mendekat mengamati kalung yang dipakai Jaejoong.
Jaejoong merutuki dirinya tidak melepasnya tadi.
"Kepala Hyun Joong pastinya telah terendam air cuka atau apa. Bagaimana bisa ia menjadi begitu loyal dan romantis!" Ucap Changmin.
"Whoooa...ini produk Cartier kan" Tanya Junsu
Jaejoong mengangguk.
"Kalung ini pasti berharga puluhan juta. Apa Kau mengatakan akan meninggalkannya sehingga ia memberikanmu hadiah ini Joongie?"
"Siapa bilang ini kalung dari dia?" Ucap Jaejoong tajam lalu mengambil rokok dan menyalakannya.
Kedua sahabatnya terdiam. Mereka menyadari Jaejoong tidak dengan mood baik. Jaejoong menuju balkon dan merokok disana. Ia mengigit bibirnya menahan tangis. Kini ia menyadari berbohong kepada sahabatnya dari awal adalah kesalahan besar. Yunho tidak akan senang bersembunyi terus menerus. Tetapi Junsu memperingatkannya seperti tadi. Jadi sekarang ia harus bagaimana?
"Aku ingin bercerita kepada kalian." Akhirnya Junsu memecah keheningan. Melepaskan topik kalung Jaejoong. "Kemarin aku berada di kantor Heechul dan bisa kalian tebak siapa yang aku temui?"
Jaejoong pastilah tau Junsu akan bercerita tentang siapa. Dan ini akan menambah rasa bersalahnya.
"Jung Yunho!" Ucap Junsu jelas. "Dia sangat tampan. Tetapi yah... selalu dengan kaca mata hitamnya. Tetapi itu membuatnya semakin hot. Layaknya model cover majalah. Dan begini ceritanya. Ketika ia masuk kantor heechul dia berkata 'anneong heechul-ssi' dan kemudian ia melihatku dan berkata 'anneong Junsu-ssi'. Bagaimana bisa ia tau namaku? Tidak dapat dipercayaa!" Cerita Junsu dengan antusias.
Jaejoong menatap Junsu dengan bersalah.
Tentu saja ia tau kau Su-ie! Dia seseorang yang selalu bersembunyi dari kalian hampir dua bulan lamanya karena aku tidak mau kalian tau kalau aku tidur bersamanya hampir setiap malam!
Jaejoong memejamkan matanya sejenak.
"Hyung kau masih mengantuk?" Tanya Changmin.
"Aku membaca beberapa buku sampai larut tadi malam." Jaejoong berbohong lagi.
"Apa yang akan aku katakan apabila aku bertemu Yunho lagi? Apakah aku akan mengatakan 'anneong Yunho-ssi' kepadanya? Apakah terdengar aneh?" Junsu tidak menyerah membicarakannya.
"Kau harus mencobanya hyung. Dan pastinya kau harus menceritakan kepada kita hasilnya. Iya kan Joongie hyung?" Tanya Changmin yang melihat Jaejoong melamun.
"Hyung..."
"Eh...ah ne." Jawab Jaejoong sekenanya. Dia tak bisa berkonsentrasi. Dia tidak bisa melepaskan Yunho dari pikirannya. Terus mengulang percakapan terakhirnya dengan Yunho dikepalanya. Itu adalah pertama kalinya mereka bertengkar. Dan apakah mereka akan segera memperbaikinya segera seperti pasangan normal lainnya?
Jaejoong masuk ke dalam guna mengecek ponselnya. Apakah ada pesan atau panggilan dari Yunho. Ternyata memang terdapat satu pesan dari Yunho.
.
Yunnie :
Aku akan pergi ke Busan selama satu minggu. Panggilan mendadak dari appa. Aku akan berangkat dengan penerbangan pukul sepuluh pagi ini. Jelasnya, aku tidak dapat berpamitan denganmu dan memberikan ciuman. Jadi, aku akan melihatmu lagi pada saat kembali.
.
Jaejoong menghela nafas, Yunho meninggalkannya selama seminggu dalam keadaan seperti ini. Ia sangat ingin meminta maaf kepada Yunho dan memberikannya ciuman selamat jalan.
"Apa sih yang mengganggumu Joongie? Kau tidak seperti biasanya. Kau terus melamun dan tak banyak bicara. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Junsu.
Jaejoong mengangkat bahunya. Ia tidak bisa terus berkata bohong. Ia memutuskan untuk menjawab Junsu dengan sesuatu yang terdapat pembenaran didalamnya. "Hyun Joong. Semua yang berhubungan dengannya tidak berjalan dengan baik. Kita banyak beradu argumen akhir-akhir ini. Dan aku merasa tidak lagi peduli. Aku tidak peduli jika kita bertengkar. Aku tidak peduli apabila ia keluar dengan Karam. Akankah ini pertanda baik?"
Junsu dan Changmin menatap Jaejoong. Tidak satupun mengeluarkan suara.
"Maksudku, kita sangat bertentangan. Semua yang kita bicarakan akan berakhir dengan beradu argumen. Aku ingin merasakan pengalaman baru dalam hidupku. Aku jelas banyak berubah dan aku merasa baik dengan diriku saat ini. Seperti menemukan jati diriku yang sebenarnya setelah bertahun-tahun terkurung dalam sangkar. Aku merasa luar biasa dengan diriku. Aku tidak harus hidup dengan bayangan orang lain setiap waktu. Dan... aku ingin merasakan pengalaman baru dengan seseorang. Seseorang yang tidak harus mencintaiku. Tetapi bisa membuatku merasa dipuja, dikagumi. Seakan aku sempurna dengan diriku sendiri"
Seperti Yunho yang sangat memahamiku. Tetapi hanya Tuhan yang tau sampai kapan hubungan ini akan berjalan.
Junsu meraih tangan Jaejoong. "Kita sudah berusaha memberitahumu selama ini Joongie... tetapi kau mencintai namja itu."
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Sekarang tidak lagi. Iya aku menyukainya. Tetapi aku menyadari memang aku menerimanya karena ingin membuat eomma bangga kepadaku. Tetapi aku menyerah sekarang. Eomma tidak akan mencintaiku seperti ia mencintai Karam. Aku tidak peduli lagi." Jelas Jaejoong.
"Tapi eommamu mungkin tidak akan memaafkanmu Hyung. Ia sangat berambisi untuk membuat Hyun Joong menjadi menantunya, aniya?" Ucap Changmin disertai anggukan Junsu.
"Apakah kalian mencoba untuk merubah pikiranku untuk ini." Tanya Jaejoong.
Mereka kompak menggelengkan kepalanya. "Anii hyung, tapi kami ingin kau siap secara emosional dan mental. Karena ini seperti berperang melawan eommamu. Dan kami tau kau sangat membenci bertengkar dengannya."
Jaejoong jelas telah mempertimbangkan keputusannya ini dengan matang. Ia bahkan mengingat kebelakang tentang hubungannya dengan Hyun Joong. Tetapi ia bahkan tidak mendapati momen spesial yang bisa diingat. Ia sangat yakin dengan keputusannya saat ini.
...
Sudah beberapa hari, Jaejoong tidak dapat melakukan sesuatu dengan benar. Ia lebih sering melamun. Ia selalu terlonjak ketika ponselnya berdering. Ia menunggu Yunho menghubunginya atau mengiriminya pesan. Tetapi Yunho tidak melakukannya sama sekali. Sudah empat hari ia tidak mendapatkan kabar dari Yunho.
Ia tidak pernah merasa seperti ini dengan Hyun Joong. Ia akan biasa saja apabila Hyun Joong tak meghubunginya dan mengirimi pesan. Tetapi mengapa berbeda dengan Yunho? Mengapa ia merindukannya setiap menit? Ia sangat takut apabila ini benar-benar berakhir.
Jaejoong berfikir mungkin Yunho telah kembali dengan akal sehatnya. Mengapa juga ia harus bersamanya? Ia mungkin bisa bersama namja atau yeoja yang lebih menarik darinya, kaya dan lebih percaya diri. Seseorang yang pastinya akan bangga apabila terlihat bersamanya. Bukan dirinya yang rendah diri dan tidak ingin terlihat bersamanya.
Jaejoong memutuskan untuk berendam sebelum ia tidur. Dia bersandar pada bathtube dan merenung. Tidak menyadari apabila air mata keluar dari kedua matanya. Dia tak ingin mengakuinya, tetapi ia benar-benar merindukan Yunho. Ia mengingat setiap momen ia habiskan dengan Yunho. Sejak Yunho berada di sisinya ia selalu tersenyum dan menjadi lebih percaya diri.
Positif, ia tidak mencintai Hyun Joong lagi. Ia bahkan bertanya pada dirinya sendiri mungkin memang dia tidak pernah mencintai Hyun Joong. Bahkan selama dengan Hyun Joong apakah ia merasakan bagaimana itu cinta? Tidak sama sekali. Dan kini mungkin ia telah jatuh cinta kepada yang lain...
Jaejoong mengganti baju dengan piama warna pastel kesukaannya. Ia memutuskan mengirim pesan kepada Yunho sebelum ia sakit menahan rindu.
.
To Yunnie :
Anneong Yunnie, aku harap kau baik-baik saja. Jangan sampai telat makan, arraseo? Bogoshippo, miss you ;)
.
Jaejoong menekan SEND sebelum ia berfikir ulang dan menghapus kata-katanya atau menambahkan saranghae didalamnya.
Ia menunggu berjam-jam. Tetapi Yunho tak kunjung membalas. Air mata turun membasahi pipinya. Merasa takut Yunho menghilang. Pertama dulu, ia bersikap seolah tidak senang berhubungan dengan Yunho. Dan sekarang, ia bahkan memberikan suatu tanda akan apa yang ia rasakan kepadanya.
Mungkinkah Yunho hanya mempermainkannya? Karena dari awal ia tidak pernah menuntut apapun padanya. Ia juga awalnya menganggap hubungannya dengan Yunho tidak akan selama ini. Kini sudah terlampau dalam.
Mungkin Yunho memang benar menyukainya. Ia memberikannya bunga dan juga kalung yang sangat mahal. Tetapi tunggu dulu, ia seorang yang sangat kaya. Harga dari kalung itu mungkin hanya setengah dari yang ia dapatkan setiap harinya. Benda itu juga tak mengatakan kalau ia mencintainya, bukan? Mungkin mengatakan ia menyukainya saat ini... bukan untuk selamanya...
Jajeoong tidur dengan menangis. Ia memeluk bantalnya erat. Mengingat moment ia berada di pelukan Yunho, saling menggenggam, dan memberikannya semangat sehingga ia merasa aman.
Akhirnya Jaejoong tertidur. Ia bermimpi Yunho memeluknya. Membisikkan namanya. Mereka bersama dan tidak bertengkar lagi.
...
Alarm Jaejoong berbunyi pukul setengah delapan pagi. Ia merasa sedikit pusing karena banyak menangis. Ia masih memeluk bantalnya, tetapi ada yang mengganjal. Sepasang lengan kokoh melingkar dipinggangnya.
Ia berputar dan menemukan Yunho dibelakangnya. Jaejoong mengedip-kedipkan matanya untuk meyakinkan ia sudah bangun dari mimpinya. Ia memejamkan matanya lama sambil mengambil nafas dalam. Ia berdoa dalam hati. Jika ini mimpi Tuhan... jangan bangunkan aku karena ini terlalu romantiss ahh...
Ia membuka matanya dan mengamati Yunho yang hanya memakai celana piama seperti biasa. Ternyata ia nyata.
Bagaimana bisa ia berada disini? Bukankan ia bilang akan pulang dua minggu lagi? Ini baru empat hari. Batin Jaejoong.
Jaejoong mengambil ponselnya. Tidak ada pesan dari Yunho sebelumnya. Lalu ia memutuskan mengirim pesan kepada Junsu memberitahu apabila ia tidak dapat masuk hari ini.
.
To Su-ie :
Aku tidak kekantor hari ini, sedikit pusing. Jangan khawatir. Aku akan meneleponmu nanti.
.
Jaejoong merasa sangat bahagia yang membuncah dengan Yunho disisinya saat ini. Pikiran buruknya tadi malam sama sekali tidak terbukti. Ia segera meraih bibir Yunho dan menciumnya. Yunho setengah terbangun tetapi tidak membuka matanya.
"Baby...emphh" Gumamnya lemah disela ciumannya. Jaejoong terkikik geli, Yunho masih mengantuk rupanya. Entah pukul berapa ia masuk ke apartemennya tadi. ia lalu menelusupkan diri bersandar pada dada Yunho dan ikut memejamkan matanya, kembali tidur.
Jaejoong kembali terbangun sejam kemudian. Ia mendapati Yunho menatapnya dengan mata masih mengantuk.
"Selamat pagi." Sapa Yunho.
Jaejoong menyentuh pipi Yunho dengan jari-jarinya yang lentik.
"Pagi Yunnie" Jaejoong tersenyum manis. "Apa yang kau lakukan disini eum? Katamu kau pergi selama seminggu?"
Yunho tersenyum. "Aku menyelesaikan urusan bisnisku lebih cepat. Dan disamping itu..."
Jaejoong mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"
"Kau bilang merindukanku." Yunho tersenyum menggoda.
Blush
Pipi Jaejoong merona ia lalu menundukkan kepalanya.
Yunho mengangkat dagu Jaejoong agar menatapnya lagi. "Benarkah itu?" tanyanya.
Jaejoong mengangguk malu-malu. "Apakah kau juga merindukanku?" Jaejoong balik bertanya.
Yunho memajukan wajahnya. Ketika bibirnya hanya berjarak beberapa inchi dari Jaejoong ia berkata "Like hell!" kemudian mencium bibir merah Jaejoong. Memberikan lumatan yang dalam. Melepas rindu selama empat hari ini.
Setelah mereka puas berciuman. Yunho menyatukan dahinya dengan dahi Jaejoong. Nafas mereka terengah-engah dengan bibir yang basah. "Kau akan terlambat untuk kekantor baby." Ucap Yunho.
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Tidak hari ini."
Yunho mengangkat alisnya. "Benarkah? Mengapa?"
"Karena aku saaangaaatt... merindukanmu." Ucapnya antusias.
Yunho menyeringai. " Tunjukkan padaku."
Jaejoong langsung menindih Yunho. Yunho membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu tetapi Jaejoong dengan cepat membungkamnya dengan ciuman. Jaejoong melumat bibir Yunho dengan keras. Yunho terkekeh melihat keagresifan Jaejoong, iapun membalas ciuman Jaejoong dengan lebih bergairah.
Yunho melenguh merasakan Jaejoong kini mulai menggesekkan bagian selatan tubuhnya. Bibir Yunho kini menjelajah disepanjang leher Jaejoong dan tangannya kini bergelirya membuka kancing piama Jaejoong.
"Sshhhhh... Andwae!" Jaejoong mendongak dan mencekal tangan Yunho. Menguncinya di samping kanan dan kiri kepalanya. Jaejoong menunduk menuju telinga Yunho dan memberikan bisikan.
"Biarkan aku memuaskanmu kali ini. Kau diam saja, arraseo?" Bisik Jaejoong seduktif.
Yunho hanya mengangguk sambil tersenyum.
Mereka melewati pagi itu dengan gairah dan nafsu yang tinggi. Menyalurkan kerinduan masing-masing sampai akhirnya meneriakkan nama masing-masing dengan penuh kepuasan.
...
Setelah selesai melepas rindu, mereka berbaring dengan keadaan masih telanjang. Kaki mereka saling melilit dan Yunho memeluk erat Jaejoong dari belakang. Jaejoong menggenggam tangan Yunho yang melingkar diperutnya.
"Baby... maafkan aku kala itu meninggikan suaraku." Ucap Yunho sambil mengecup ringan pundak Jaejoong.
"Eumm... aku juga minta maaf. Kita bertengkar untuk yang pertama kalinya."
Yunho tersenyum. "Aku tau, kau belum siap untuk bercerita kepada sahabatmu tentang kita. Dan aku meminta maaf sudah menekanmu. Tetapi kadang, aku tidak mengerti mengapa kau tak mau bercerita. Setidaknya kepada sahabatmu. Maksudku... mereka sahabatmu bukan? Mereka pasti memahamimu. Apa kau berfikir aku benar-benar namja brengsek sehingga kau tidak ingin mereka tau kita bersama? Apakah kau malu denganku atau..."
Jaejoong membalikkan badannya. Menatap Yunho dengan bersalah. Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak Yunnie... Aku hanya khawatir mereka tidak akan memaafkanku karena menyembunyikan sesuatu yang besar seperti ini. Kau bukan namja brengsek seperti yang aku pikir sebelumnya."
Yunho menaikkan alisnya. "Kau berfikir aku seperti itu?"
"Jangan marah. Aku hanya berfikir kau namja angkuh yang hanya memberikan harapan palsu. Itu hal yang buruk kau tau?"
Yunho hanya terdiam beberapa saat. Kemudian ia berkata dengan hati-hati. "Aku juga tidak mencari kekasih. Aku tidak berhubungan dengan mereka lebih dari dua kali kencan. Aku tidak pernah memberi janji kepada mereka. Dan juga memberikan hatiku kepada mereka. Jadi salah jika mereka mengataiku pemberi harapan palsu."
"tidak pernahkan kau mencoba untuk lebih serius?" Tanya Jaejoong hati-hati.
Yunho terdiam beberapa saat seperti larut kedalam pikirannya. Ia lalu membelai lembut surai Jaejoong dan menatapnya. "Menurutku kau tidak perlu mencoba untuk jatuh cinta. Apabila cinta itu datang, kau akan merasa putus asa untuk menghentikannya terjadi. Bahkan jika... kau tau kau tidak boleh jatuh cinta. Tetapi rasa itu akan tetap menggerogoti jiwamu." Jelas Yunho.
"Apakah aku boleh bertanya?" Tanya Jaejoong.
"Ne"
"Apakah kau akan menikah karena cinta? Atau karena reputasi, kekuasaan atau kekayaan?"
Yunho memberikan ciuman pada dahi Jaejoong. "Reputasi, kekuasaan dan kekayaan bukanlah syarat utama suatu pernikahan. Aku akan menikah karena cinta. Karena aku mencintainya."
"Apakah orangtuamu menikah karena cinta?"
"Ne. Orangtuaku jatuh cinta satu sama lain seperti yang orang lain lakukan."
Jaejoong mengangguk mengerti. Ternyata tidak semua keluarga kaya menikah karena harta.
Yunho menatap Jaejoong sambil menghalau rambut halus didahinya. "Kau sangat cantik." Bisik Yunho.
Jaejoong mendengus. "Aku tidak suka orang-orang mengataiku cantik. Aku namja." Ucap Jaejoong kesal. Tetapi ia lalu mengalungkan lengannya pada leher Yunho. "Tapi entah mengapa aku senang apabila pujian itu keluar dari bibirmu." Jaejoong tersenyum dan memberikaan ciuman pada bibir Yunho.
Tiba-tiba Yunho terkekeh. "Kau berfikir aku namja brengsek kala itu dan kau masih mau pulang denganku ketika kita di Mirotic"
Jaejoong menyeringai. "Karena tequila yang kuminum membuat aku melihatmu seperti seorang dewa mungkin. Sisi lainku berbisik 'ayolah, tidurlah dengan si brengsek itu!' tidakkah ia terlihat seperti dewa?"
Yunho tertawa. "Katakan kepadaku kau tidak melihatku seperti itu."
"Tetapi benar. Tequila membuatku buram ." Jaejoong terkekeh sejenak. "Tetapi bisikan dan ciuman yang kau berikan padaku mempengaruhiku lebih jauh. Kau benar-benar menghilangkan pikiran warasku."
Yunho tertawa terbahak. "Jadi aku salah memilih malam itu. Aku pikir kau akan memandangku dengan lebih tinggi tanpa pengaruh minuman."
Jaejoong mencibir. "Hanya karena kau adalah namja paling diinginkan se Seoul bukan berarti aku berfikir kau adalah seorang dewa dengan sendirinya."
"Aku benar-benar salah memilih malam itu." Ucap Yunho dengan terkekeh.
"Arraseo, Jadi sekarang kau menyesalinya?" Bentak Jaejoong kesal lalu beranjak dari ranjangnya.
Yunho dengan segera meraih pinggang Jaejoong. Merebahkan Jaejoong lalu menindihnya.
"Ckckck... kau benar-benar mempunyai tempramen yang buruk. Kau mudah sekali marah. Aku hanya bercanda baby Joongie-ah... Aku tidak pernah menyesali bertemu denganmu malam itu. Aku juga tidak memandangmu seperti yeoja dan namja lain."
Yunho tersenyum. "Karena aku melihat kau satu-satunya orang yang tidak sama seperti kau sebelumnya. Membuatku penasaran. Membuatku lebih menginginkanmu."
"Jadi aku seperti sebuah tantangan untukmu" Sembur Jaejoong.
Yunho mendekati telinga Jaejoong dan berbisik "Begitu kuatnya aku tertarik padamu sehingga aku menantang diriku sendiri untuk menaklukkanmu. Ternyata kau sekarang berada dibawahku seperti ini. Aku sangat bersyukur."
"Euunghh Yunnie..." Jaejoong melenguh karena Yunho lebih menekan tubuhnya. Ia dapat merasakan kejantanan Yunho menekan kejantanannya. Sangat keras, pertanda ia mengingikannya lagi. Jaejoong pasrah, sepertinya sesi melepas rindu part dua akan segera dimulai.
Heheheheh...
...
To Be Continued...
.
.
Haduuuu... smpe mimisan aq nulisnya...
gimana chingu tanggapannya chapter ini?
adakah yang membingungkan? yah, yang membingungkan cuma kjelasan hub mreka. ckckkck...
.
Kamsahamnida semuaa yang udah baca... ditunggu apresiasinyaaaaa...
Chapter masih panjang ... anneoong..
Wkwkwkwkwk...
