.
.
Chapter Title : Kidnapped
.
.
Esok harinya Jaejoong terbangun dengan kepala yang bersandar nyaman pada bahu Yunho. Ia ingat tadi malam pulang pukul dua pagi. Yunho menyusulnya 30 menit kemudian, memakai dalaman putih dan celana piama dari Calvin Klein.
Awalnya Yunho berlagak terlihat kecewa. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena ia tak tahan untuk tidak memeluk Jaejoong dan memberikan ciuman selamat tidur.
"Ireona... tukang tidur." Ucap Yunho. "Kau mempunyai janji kencan denganku dalam dua jam lagi."
Jaejoong langsung memandang Yunho. Matanya melebar. "Dalam dua jam? Yunnie... ini sudah jam 10. Kau ingin berkencan di siang hari buta?"
Yunho menaikkan alisnya. "Ne, memang kenapa?
"Kau tau kita tidak bisa. Orang-orang akan mengenali kita! Bagaimana apabila mereka memfoto kita lalu memasukkannya di sosial media? Pasti Junsu akan segera mengetahuinya. Dan... Junsu telah memperingatkanku tentang... persahabatan yang berakhir."
Yunho mendesah. "Lalu apa rencananu Joongie-ah? Kau juga tidak akan memperkenalkanku dengan mereka kan?"
"Aku juga belum putus dengan Hyun Joong." Jaejoong membenamkan kepalanya pada bantal.
Yunho meraih dagu Jaejoong agar memandangnya. "Jae... sebelumnya tidak ada satupun yang malu karenaku."
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Tuhan! aku tidak malu berada di sampingmu... keadaan kita berbeda. Jika aku tidak mempunyai kekasih, tentu aku akan bangga terlihat bersamamu."
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Yunho bertanya dengan serius.
Jaejoong mengangguk dengan gugup.
"Apa kau berencana untuk memutuskan Hyun Joong?"
Jaejoong memandang Yunho dan tersenyum. "Ne."
Yunho menatap Jaejoong sejenak. Mencari sesuatu kebenaran dalam mata Jaejoong. Kemudian akhirnya ia tersenyum. "Maka itu sudah cukup untuk saat ini." Yunho memajukan kepalanya dan meraup bibir Jaejoong. Menciumnya penuh.
"Aku akan menghampirimu dalam satu setengah jam lagi." Perintah Yunho.
"Yun..." Jaejoong ingin protes tapi Yunho membungkamnya dengan bibirnya lagi.
"Apa kau tidak percaya padaku, baby?"
Jaejoong tersenyum. "Ne, aku percaya padamu."
"Bagus. Sampai nanti." Yunho memberikan kecupan ringan di pipi Jaejoong dan beranjak pergi.
Jaejoong menghela nafas. Kemudian ia memutuskan untuk bersiap.
Selesai mandi Jaejoong memutuskan memakai kaos kasual lengan panjang dengan celana jeans. Tetapi kemudian ponselnya berdering.
"Ya Yunnie ada apa?" Tanya Jaejoong langsung.
"Penampilanmu tidak terlihat cukup hangat." Ucapnya.
Jaejoong berbalik melihat kearah jendela, dan menemukan Yunho memandangnya dari jendela apartemennya.
"Aku akan membawa mantel nanti."
"Masih belum cukup. Pakailah sweater sebelum mantel."
"Tetapi tidak turun salju diluar, dan ini siang hari." Protes Jaejoong.
Yunho menyeringai. "Tidakkah kau lupa tadi malam kau berjanji untuk tidak protes?"
Jaejoong tertawa. "Arraseo, apa lagi yang harus kukenakan?"
"Pakailah sepatu boot."
"Okay." Kemudian Jaejoong menutup sambungannya.
Jaejoong memakai sweater biru langit. Ia juga melingkarkan syal di lehernya. Kemudian memakai mantel hitam panjang. Ia seperti orang yang tidak ingin terlihat oleh siapapun. Seperti idol yang menyamar. Mungkin itu tujuan Yunho menyuruhnya berpakaian seperti ini. Menyamar.
Jaejoong merasa tidak enak sebenarnya. Mungkin Yunho lelah bersembunyi sepanjang waktu. Ia memutuskan untuk secepatnya berbicara dengan Hyun Joong. Tidak masalah apabila ia harus pergi ke Jepang.
Jaejoong mengambil ponselnya memutuskan untuk mengirimi Hyun Joong pesan.
.
To Hyun Joong:
Kita butuh bicara bedua. Beritahu aku kalau kau mempunyai waktu luang. Aku akan menemuimu.
.
Jaejoong harap Hyun Joong cukup pintar mengetahui apa yang akan terjadi. Ia bisa menerima keputusannya.
Bel apartemennya berbunyi. Jaejoong mengambil dompetnya dan membuka pintu. Yunho menatapnya sejenak.
"Penampilanku seperti manusia kutub, ania?" Tanya Jaejoong.
"Ani, kau masih terlihat sexy seperti biasanya." Jawab Yunho menggoda.
Jaejoong mencibir. "Kau pasti sudah tergila-gila padaku. Penampilan seperti roti lapis ini kau bilang sexy huh?"
Yunho terbahak. "Hahaha... arraseo, kau seperti roti lapis yang lezat untuk dimakan." Yunho lalu memberikan ciuman singkat pada bibir Jaejoong.
Ferrari Yunho berkaca sangat gelap. Tidak ada yang dapat melihat kedalam walaupun di siang hari yang sangat cerah. Jaejoong bertanya-tanya kemana Yunho akan membawanya.
Jaejoong menyadari mereka sampai di bandara dan Yunho memasuki jalur khusus.
"Kemana kita akan pergi Yun?"
Yunho tersenyum menyeringai.
Akhirnya, Yunho menghentikan mobilnya. Mereka seperti berada di area parkir pribadi.
Yunho keluar mobilnya dan membukakan pintu untuk Jaejoong. Yunho meraih tangan Jaejoong, berjalan sambil menggandengnya. Jaejoong menyadari ada beberapa orang dibelakangnya. Mengikutinya sambil membawa tas kecil untuk bepergian.
Jaejoong memandang Yunho dengan gugup.
"Yunnie... kau akan membawaku kemana, aku ketakutan sekarang." Gumam Jaejoong.
Yunho tertawa. "Baby, masalahmu adalah kau tak mau terlihat bersamaku. Kau selalu ketakutan jika seseorang mengetahui kita ketika kita bersama. Aku... disisi lain ingin merasa bebas berkeliling kota denganmu, berjalan santai dengan menggenggam tanganmu. Ke cafe, menonton bioskop, shoping, ke taman hiburan denganmu. Merasa bebas untuk memeluk dan menciummu. Semua itu tanpa khawatir sahabatmu akan menemukan kita."
Jaejoong menggigit bibirnya. Ia merasa senang, bersalah dan menyesal disaat yang bersamaan. Ia meremas tangan Yunho.
Pintu didepannya terbuka. Jaejoong merasa terkejut melihat landasan terbang didepannya. Ia melihat sebuah pesawat pribadi terparkir seratus meter jauhnya. Ia sangat terkejut dengan tulisan yang terdapat pada badan pesawat tersebut, "Jung Corp".
Jaejoong menatap Yunho. "Yunnie..."
Yunho tersenyum. "Aku akan membawamu ketempat dimana tidak ada yang akan mengenali kita. Masalahmu selesai bukan?"
Jaejoong meleleh seketika. Yunho merencanakan kencan mereka sampai seperti ini. Bagaimana bisa ia tidak jatuh cinta kepadanya? Yunho extremely romantic.
Pramugari menyambutnya dengan hangat. "Selamat siang, Tuan Jung." Dan kepadanya ia berkata. "Selamat bergabung dengan penerbangan kami Tuan Kim."
Jaejoong terkejut pramugari itu tau namanya. Tapi ia pikir Yunho telah menyiapkannya dengan rapi tadi malam sejak ia setuju berkencan.
Interior pesawat itu klasik dan mewah. Terdapat sofa berbahan kulit. Meja kursi makan dan bar. Semua sangat mewah dengan kombinasi warna putih dan emas. Jaejoong duduk di sofa dan Yunho mengikuti duduk disampingnya.
"Pesawatmu?"
Yunho menggeleng. "Pesawat keluarga."
"Jadi... ketika kau pulang ke Busan menggunakan pesawat ini?"
"Ne, apa kau lapar?"
Jaejoong mengangguk. Ia belum sarapan dan ini sudah siang hari.
"Kita akan makan siang setelah pesawat take-off."
"Kemana kita akan pergi Yun?"
Yunho memandang Jaejoong, tersenyum. "Ketempat dimana tidak akan dikenali."
Jaejoong memutar matanya. "Iyaa...dimana itu?" Tanyanya tidak sabar.
"Hokkaido."
Jaejoong menganga terkejut. Suara perintah untuk mengencangkan sabuk pengaman menyadarkannya.
"Yun, kau tak bilang padaku kalau akan bepergian jauh. Dan... Hokkaido kau bahkan membawaku keluar negeri." Ucap Jaejoong terkejut.
"Surprise baby." Balas Yunho tenang.
"Tapi setidaknya kau bilang akan pergi jauh. Jadi aku akan membawa baju ganti. Disamping itu berapa lama kita akan pergi?"
"Sampai senin."
Jaejoong panik. "Kau tau aku bekerja di hari senin Yun!"
"Libur dihari senin tidak masalah kan?"
"Lalu apa yang akan kukatakan pada Junsu?"
Yunho tersenyum. "Kau adalah penulis handal dan kreatif di Trend kan?"
Jaejoong mengangguk.
"Maka kau bisa mengarang dengan indah!"
Jaejoong mendesah. Ia menyadarkan punggunya pada sofa sementara pesawat lepas landas. Akhirnya pesawat mengudara. Pilot menginformasikan sabuk pengaman bisa dilepas.
Yunho melepas sabuk pengaman Jaejoong dan membawa ke pangkuannya.
"Apa kau tidak suka?"
Jaejoong mempout lucu kemudian memberikan pukulan ringan pada dada Yunho. Jaejoong tertawa dan memeluk Yunho. Membenamkan wajahnya pada perrpotongan leher Yunho.
"Siapa yang tidak suka diperlakukan seperti ini. Romantis dan penuh kejutan. Neomu-neomu chowahae Yunnie." Bisik Jaejoong ditelinga Yunho. "Tetapi aku tidak membawa baju ganti."
"Aku tau. Aku juga tidak menyuruhmu untuk berkemas. Apabila aku mengatakannya, pasti kita masih di apartemenmu beradu argumen. Maka dari itu aku menculikmu saja."
Jaejoong mempoutkan bibirnya ."Jadi sekarang aku harus bagaimana?"
"Relax ok. Setelah mendarat, kita akan langsung pergi ke mall terdekat. Kau bisa belanja apapun yang kaubutuhkan."
"Dan mengenakan pakaian baru itu tanpa dicuci terlebih dahulu? Shireo!"
"Annia... kita akan check in di sebuah hotel. Kau bisa mengirim pakaian barumu itu untuk di laundry. Aku akan membayarnya express. Aku yakin dua atau tiga jam lagi bajumu akan siap dipakai." Jelas Yunho.
Jaejoong mendesah.
"Smile ok." Ucap Yunho sambil mencubit ujung hidung Jaejoong.
Jaejoong mengangguk, memberikan senyum terbaiknya.
Pramugari mengatakan makan siang telah siap. Jaejoong dengan segera beranjak dari pangkuan Yunho. Antusias menyambut makan siangnya.
Setelah makan, Yunho mengajaknya ke bagian lain dari pesawat. Jaejoong terkejut dengan ruangan kecil tetapi didalamnya terdapat ranjang untuk dua orang. Meja kopi kecil dan dua kursi.
Yunho membuka pintu lagi disebelah kirinya. "Kamar mandinya disini, apabila kau ingin mencuci muka baby."
Kamar mandi itu kecil. Tetapi untuk ukuran kamar mandi pesawat lumayan besar. Terdapat shower, toilet dan wastafel. Jaejoong menemukan dua sikat gigi baru di wastafel. Ia lalu memutuskan untuk menggosok gigi dan cuci muka.
Yunho tau bagaimana cara membuat seseorang jatuh pingsan karenanya. Kekasih resminya tidak pernah menunjukkan sikap romantis sekalipun tetapi kekasih tidak resminya membuatnya akan merindukan semua yang ia lakukan.
Yunho berbaring malas-malasan di ranjang ketika Jaejoong keluar dari kamar mandi. Ia lalu melepas sepatu boot dan mengantinya dengan sandal rumahan.
Yunho berdiri dan mencium Jaejoong sejenak sebelum masuk ke kamar mandi. Jaejoong melihat sekeliling. Ruangan yang bisa disebut kamar itu kecil tetapi dengan furniture mahal dan ditata dengan cermat membuatnya menjadi cukup luas. Sangat nyaman serasa dirumah. Ia menyadari beberapa foto terpajang didinding.
Jaejoong melihat foto keluarga Yunho. Ia terkejut, ternyata eomma Yunho seorang namja. Pantas saja Yunho dari awal tidak keberatan berhubungan dengannya. Appa Yunho mempunyai rambut hitam legam seperti Yunho. Ia sangat gagah. Eommanya mempunyai rambut dark brown agak panjang. Ia mempunyai wajah kecil sehingga terkesan imut. Ia terlihat begitu muda di foto. Jaejoong tak menyangka apabila ia telah melahirkan Yunho.
Jaejoong merasakan lengan yang melingkar di sekeliling pinggangnya dan kecupan di tengkuknya.
"Jung Siwon, Jung Kibum dan Jung Yunho." Ucap Yunho memperkenalkan keluarganya.
"Yunnie... eommamu seorang namja?" Tanya Jaejoong.
"Ne, eommaku sangat cantik. Seperti dirimu." Jawab Yunho memuji.
Jaejoong terkekeh. Ia tak mau lagi berdebat kecantikannya dengan Yunho. "Dan..kau sangat mirip dengan appamu."
Yunho meletakkan dagunya dibahu Jaejoong. "Ne, setiap orang juga berkata seperti itu."
Jaejoong terkekeh. "Eommamu terlihat sangat muda. Tak bisa dipercaya ia telah melahirkanmu yang seperti beruang ini."
"Yak, kau mengejekku." Protes Yunho. "Aku tidak tau juga, tetapi memang ia tak pernah terlihat tua setiap tahunnya. Apa karena eomma bertubuh kecil. Ah, kalau kau bertemu dengannya kau tanyakan saja sendiri."
Deg
Bertemu dengan orangtua Yunho? Benarkah?
Jantung Jaejoong bergemuruh seketika.
"Mungkin juga karena mereka menikah di usia yang cukup muda. Appa waktu itu berumur 23 tahun dan eomma 20 tahun." Jelas Yunho.
"Jeongmalyo? Wow sangat jarang pasangan menikah di usia awal kerja seperti itu. Apalagi di Korea Selatan. Mereka pastilah sangat jatuh cinta satu sama lain saat menikah."
Yunho tiba-tiba terdiam. Kemudian Jaejoong mendengar helaan nafas berat dibelakangnya. Yunho membalikkan tubuh Jaejoong menghadapnya, lalu memeluknya.
"Gwenchana?" Tanya Jaejoong karena Yunho tiba-tiba diam dan memeluknya.
Yunho mengangguk. "Apakah kau lelah?" Tanya Yunho. "Kita telah terbang beberapa Jam. Kau mungkin ingin tidur siang."
"Ne aku ingin tidur siang." Jaejoong mengajak Yunho ke ranjang. "Aku ingin berbaring bersamamu."
Mereka berbaring di ranjang dengan diam. Jaejoong bertanya-tanya apakah gerangan yang membuat Yunho tiba-tiba terdiam. Ia hanya menyebut betapa saling mencintai mereka karena menikah di usia muda. Apakah itu buruk?
Jaejoong mendongak dan menemukan Yunho melamun.
"Yunnie." Panggilnya. "Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?"
Yunho memandang Jaejoong. Ia menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku, baby. Aku hanya mengingat sesuatu tentang permintaan orang tuaku." Yunho menatap Jaejoong dalam.
"Apa itu? Semacam tugas kah?" Tanya Jaejoong antusias.
"Lebih dari itu, semacam...suatu kewajiban." Yunho mendesah.
Jaejoong menopang kepala dengan satu tangannya. Sehingga ia sejajar dengan Yunho. "Dan kau belum menyelesaikan kewajiban itu?"
Yunho menyingkirkan rambut halus yang hampir mengenai mata Jaejoong. "Aku malah melupakannya." Jawab Yunho.
"Maka kau harus kembali dan menyelesaikannya." Saran Jaejoong.
Yunho menggelengkan kepalanya kuat. "Aku tak mau kembali sekarang. Sudah terlambat"
"Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki sesuatu." Ucap Jaejoong.
Yunho memejamkan matanya. "Ani. Aku tidak ingin melakukannya."
Jaejoong mengernyit tidak mengerti apa kewajiban itu sebenarnya. Ia ingin bertanya lebih lanjut, tetapi sepertinya Yunho tidak ingin membahasnya lagi. Ia juga tidak ingin terlalu menekan Yunho.
.
.
To Be Continued ...
.
.
Anneong ^_^
Waaa kencanny Yunjae bikin iri :D
Siapa yg ga mau diculik n diajak kencan dengan pesawat pribadi :D :D :D
Hohoho gimana chapter ini? berikan pendapat chingu di kolom review ne...
Chapter depan masih kencan tu Yunjaeny. Diikutin terus yaa..
.
Makasi semuaaaaaa...
Have a great day ^_^
wkwkwkwkwkwk...
