.

.

Chapter title : Freedom

.

.

Ketika Jaejoong terbangun Yunho tidak ada disisinya. Ia kemudian menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

"Kau darimana Yunnie?" Tanya Jaejoong pada Yunho yang masuk kamar dengan pelan.

"Ah, Kau sudah bangun. Dari cockpit, bercakap-cakap dengan pilot."

"Apa kau bisa menerbangkan pesawat?" Tanya Jaejoong penasaran.

Yunho menyeringai. "Aku mempunyai lisensi. Tapi kupikir mereka tak akan membiarkan sembarang orang menerbangkan pesawat."

Jaejoong terkejut. "Wow, Jung Yunho seorang pilot. Apalagi yang aku tak tau tentangmu?"

Yunho merengkuh pinggang Jaejoong. Memberikan ciuman hangat dibibirnya. "Banyak. Kau mempunyai date denganku sepanjang weekend kan? Jadi kau bisa menilai apa yang baru pada diriku."

"Arraseo..." Ucap Jaejoong sambil balas mengecup bibir Yunho.

Tak lama pesawat mendarat. Yunho memberikan kejutan lain padanya. Waktu pintu pesawat terbuka sebual limousine terparkir didekat pesawat. Jaejoong memandang Yunho protes, tetapi yunho hanya mengangkat alisnya dan menggandeng tangan Jaejoong memasuki limousine. Mereka langsung menuju mall terdekat.

Jaejoong menyalakan ponselnya. Seketika pesan ataupun miss call dari Junsu dan Changmin membanjirinya.

.

Su-ie:

Kau dimana Joongie? Mengapa kau mematikan ponselmu?

.

Minnie:

Hyung kau dimana? Bagaimana kalau kita ke cafe siang ini.

.

Jaejoong lalu membalas pesan mereka mengatakan bahwa ia pulang ke Chungnam untuk mengunjungi orang tuanya. Jaejoong mendesah, ia berbohong lagi. Ia berdoa semoga sahabatnya tidak bertanya macam-macam.

Mereka sampai di mall siang hari buta. Disepanjang jalan Yunho melingkarkan tangannya disepanjang pundak Jaejoong. Merapatkan tubuhnya, sesekali mencium puncak kepalanya. Jaejoong tersenyum senang tanpa khawatir.

Jaejoong membeli beberapa underware, kaos panjang, celana, sweater, mantel tipis dan sarung tangan. Ia rasa cukup untuk tiga hari kedepan. Ketika ia meletakkan belanjaannya di kasir, Yunho dengan cepat menyerahkan kartu kreditnya kepada penjaga kasir.

"Andwae Yun, ini belanjaanku. Biarkan aku membayarnya sendiri." Protes Jaejoong.

Yunho tersenyum. "Tidak apa-apa. Itu kewajibanku. Aku tidak akan membiarkan pasanganku mengeluarkan uang selama kencan ."

"Tapi ini bukan kencan! Ini... shopping!"

Yunho memutar matanya. "Dari awal aku menyeretmu kemari adalah kencan, arraseo! Disamping itu, aku tak membiarkanmu membawa pakaian. Tentu aku harus bertanggung jawab."

Petugas kasir lalu menggesek kartu kredit Yunho, tanpa memperdulikan perdebatan didepannya. Jaejoong mendesah menyerah.

Jaejoong memandang Yunho. "Gomawoyo..." Ucap Jaejoong.

"Sama-sama, baby." Balas Yunho lalu mencium pipi Jaejoong.

Mereka menjelajahi toko-toko kecil disepanjang jalan. Selalu bergandengan tangan. Kadang-kadang Yunho memeluknya dan menciumnya. Jaejoong merasa bebas. Ia tidak peduli dengan pandangan orang-orang disekelilingnya, tak peduli apa yang mereka pikirkan dan katakan. Yang ia pedulikan sekarang ini hanya namja disampingnya. Yang tangannya melingkar disepanjang bahunya, dan bibirnya yang selalu menciumnya.

Pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan seperti mempunyai seorang kekasih. Merasakan menjalin suatu hubungan yang sebenarnya.

Mereka check in disebuah hotel yang bisa terbilang cukup jauh dari kota. Jaejoong tidak hentinya mengejek Yunho tentang ini.

"Kenapa?"

"Kau bilang tidak akan bersembunyi. Tetapi hotel ini sedikit jauh dari keramaian. "

Yunho tertawa. "Aku punya alasan sendiri, baby."

Jaejoong mengangkat alisnya.

"Sabar dulu tuan Kim, ini termasuk salah satu surprise yang kusiapkan untukmu."

"Kau selalu membuat surprise yang membuat jantungku berdebar-debar. Apa lagi kali ini?" Desak Jaejoong sambil merengut.

Yunho hanya mengedipkan matanya.

Setelah check in yang dilakukan Jaejoong pertama kali adalah mengirim pakaian barunya untuk dilaundry express.

Malamnya, mereka melakukan candle light dinner di restoran hotel.

"Dimana pesawatmu?" Tanya Jaejoong.

"Dalam perjalanan menuju Busan." Jawab Yunho. "Salah satu sepupuku mungkin membutuhkannya, atau mungkin appa. Mereka sering terbang untuk meninjau cabang perusahaan di luar negeri."

"Kau juga sering melakukannya?"

Yunho menggelengkan kepalanya. "Tidak." Jawabnya singkat. Ia mengambil nafas berat.

Apa hubungan dengan keluarganya sedang tidak harmonis? Yunnie selalu terdiam kalau aku bertanya tentang keluarganya. Batin Jaejoong.

"Jadi... apa lagi yang aku tidak tau tentangmu, Yun?" Jaejoong mengubah pembicaraan untuk mengembalikan mood Yunho lagi. "Kau mempunyai kakak atau adik ?"

Yunho menatap Jaejoong serius. "Aku mempunyai saudara kembar."

Jaejoong sangat terkejut.

"Kembar identik?"

Yunho mengangguk.

Jaejoong berimajinasi mungkin Seoul akan semakin ramai apabila mempunyai dua 'Jung Yunho'.

"Lalu... saudara kembarmu..."

Yunho mendesah. "Aku delapan menit lebih tua darinya. Aku hidup, dan ia tidak."

Jaejoong meraih tangan Yunho, menggenggamnya. "Mungkin memang itu jalan yang terbaik bagi saudaramu. Ia sudah tenang di alam sana." Ucap Jaejoong menenangkan.

Yunho tersenyum lemah.

"Aku yakin apabila saudaramu masih hidup, hubunganmu dengannya akan lebih baik dari hubunganku dengan Karam. Kita sama sekali tak akur. Ia membenciku. Aku tau itu walaupun ia tidak mengakuinya."

"Aku kadang bertanya-tanya apabila Younjo masih hidup, seperti apakah kehidupanku?. Aku selalu menginginkan adik."

Jaejoong tersenyum. "Akupun begitu. Tetapi yang aku dapat adalah adik yang sangat berbeda jauh sifatnya denganku... aku merasa tidak ada yang sama antara aku dan Karam kecuali DNA."

"Apa kau mirip Appamu?" Tanya Yunho.

Jaejoong mengangguk. "Karam adalah gambaran eommaku. Rambut kecoklatan dan mata coklat terang. Sedangkan Appa mempunyai coklat gelap dan rambut hitam legam. Ne, aku sangat mirip Appaku."

"Bagaimana dengan sepupu? Kadangkala sepupu juga bisa menggantikan posisi adik atau kakak."

Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah mengetahui salah satu dari mereka. Aku hanya tau Karam sebagai saudaraku."

"Aku mempunyai banyak sepupu kau tau." Ucap Yunho terkekeh. "Kita sama-sama tinggal dalam satu atap. Orang tuaku mempunyai rumah yang sangat besar di Busan. Seperti rumah dengan sepuluh kamar. Sepupu-sepupuku mempunyai kamar mereka sendiri. Rumah orang tuaku menjadi sangat ramai dan bising. Ya, mereka tentu saja mempunyai rumah sendiri. Tetapi entah mengapa mereka suka tinggal di rumah pamannya."

Jaejoong tersenyum. "Kau sangat beruntung bila itu menyankut keluargamu. Aku sangat iri denganmu Yunnie."

Yunho terdiam lagi. Tetapi kemudian ia berkata. "Suatu hari eommamu pasti akan mengubah pikirannya tentangmu. Ia akan menyadari mempunyai putra yang baik, cantik dan pintar. Dan ia akan belajar menyayangimu sebesar ia menyayangi adikmu."

Jaejoong mengigit bibirnya untuk menahan tangis. Ia kemudian mengangguk. "Aku harap semua itu terjadi."

...

Mereka kembali ke kamar hotel sekitar pukul sepuluh malam. Ketika Jaejoong telah siap untuk pergi tidur, ia terkejut dengan Yunho yang berada di balkon. Ia duduk dengan selimut tebal panjang dipangkuannya.

"Yunnie, kau tidak tidur?" Tanya Jaejoong.

Yunho tersenyum manis. "Surprise yang kukatakan padamu akan dimulai, kemarilah."

Yunho mendudukkan Jaejoong dipangkuannya. Jaejoong merapatkan diri ketubuh Yunho untuk mencari kehangatan karena memang cuaca diluar sangat dingin. Yunho menarik selimut, dan menghampirkannya disekeliling tubuhnya dan Jaejoong.

Jaejoong sangat lelah karena perjalanan tadi cukup jauh. Ia menyandar pada perpotongan leher Yunho. Menghirup aroma segar Yunho yang menenangkannya. Jaejoong menutup matanya sejenak.

Setelah beberapa lama ia mendengar Yunho berkata. "Buka matamu, baby."

Jaejoong melenguh malas untuk membuka matanya. Tetapi ketika ia membuka matanya, cahaya berkilauan warna-warni dan suara cukup keras menyambutnya. Langit kini bagaikan korden bewarna yang menutupi pegunungan dibelakangnya.

"OMO...Ya Tuhan!" Jaejoong tersentak. Tangannya menutupi mulutnya.

Pertunjukkan kembang api itu sangat spektakuler. Air mata mengalir turun ke pipi Jaejoong. Jaejoong tidak percaya ini nyata. Ia hanya berani bermimpi untuk melihat kembang api dengan suasana romantis seperti ini. Tetapi ini sangat nyata! Ia melihat langit berubah menjadi warna-warni cantik ditemani dengan Yunho yang memeluknya dari belakang dan selimut membungkus mereka.

"Kau menyukainya?" Bisik Yunho ditelinga Jaejoong.

Jaejoong berbalik sambil menyeka air matanya. "Hiks... bagaimana mungkin aku tidak menyukainya. Sangat indah... aku tidak akan pernah melupakannya." Gumam Jaejoong.

"Gomawo Yunnie." Jaejoong memajukan kepalanya dan mencium bibir Yunho dengan perasaan meluap-luap. Jaejoong tak membantah untuk jatuh cinta semakin dalam pada sosok Jung Yunho

...

Pagi hari, Jaejoong terbangun dengan memeluk Yunho. Ia ingat tadi malam tertidur di pangkuan Yunho setelah melihat pertunjukan kembang api. Sepertinya, Yunho menggendongnya ke ranjang.

Jaejoong tersenyum menatap wajah tampan Yunho. Ia tidak tau berapa lama lagi hubungan ini akan berjalan. Tetapi yang pasti ia tidak akan menyesalinya. Ia tidak pernah merasakan sehidup ini, sebebas ini sampai ia bertemu Yunho. Ia tidak pernah gagal untuk membuatnya merasa dipuja, diperhatikan. Yunho membuatnya merasakan semua hal berkesan untuk pertama kalinya.

Yunho membuka matanya dan langsung menatap Jaejoong. "Pagi."

Jaejoong tersenyum manis. "Pagi Yunnie." Ia memajukan tubuhnya dan mencium bibir Yunho.

Dalam semenit ciuman yang Jaejoong berikan sebagai ciuman selamat pagi berubah menjadi ciuman penuh gairah dan kebutuhan. Yunho kini berada di atas tubuh Jaejoong dan menciumnya ganas. Jaejoong menyadari mereka belum bercinta selama dua hari.

"Hmmmphh... Yunh..." Desah Jaejoong. Yunho menciumnya tanpa ampun, sampai ia susah bernafas.

"Aku menginginkanmu, baby." Bisik Yunho serak.

Jaejoong menggeliat karena Yunho menjilati telinganya. "Ahh... lakukhan... aku milikmu Yunh..."

Yunho menyeringai. "Kau memang milikku." Ia langsung melesakkan kepalanya di leher Jaejoong.

"Aarghhh Yunniee..." Teriak Jaejoong karena Yunho mengigit lehernya.

Pagi hari yang dingin menusuk tulang, tak dirasakan Yunho dan Jaejoong. Karena mereka melakukan sesuatu yang benar-benar panas. Jaejoong senang gairah Yunho tidak pernah padam padanya.

...

Setelah sarapan, Jaejoong bertanya kepada Yunho apa yang akan mereka lakukan setelahnya.

"Apa kau bisa bermain ski?"

Jaejoong mengingat, ketika ia berada di high school dan masih sebagai anak nakal. Ia sesekali berbohong kepada orang tuanya. Menyelinap untuk pergi bermain ski bersama teman-temannya. Ia tidak diperbolehkan bermain ski karena appanya sangat protektif kepadanya dan eommanya berfikir bermain ski tidak bermanfaat sama sekali.

"Aku bukan profesional, tapi tentu saja aku bisa menyeimbangkan diriku dengan baik." Jawab Jaejoong antusias. Pikirannya tentang bermain ski lagi membuatnya gembira.

Yunho benar mengajaknya untuk bermain ski di resort terdekat. Yunho membeli peralatan ski untuknya dan dirinya sendiri.

"Kenapa harus membeli, kita bisa meminjamnya kan?" Protes Jaejoong.

Yunho menggelengkan kepalanya. "Ani. Siapa tahu kau ingin bermain ski lagi. Kau bisa menggunakannya. Disamping itu... apabila kau mengubah pikiranmu untuk memutuskan namja itu. Aku ingin sesuatu di apartemenmu yang mengingatkanmu tentang perlakuan manisku kepadamu."

Jaejoong menatap Yunho. Ia ingin menangis. "Yunnie-ah..." Mulainya.

Yunho membungkam Jaejoong dengan bibirnya. "Aku tau. Aku tidak menenkanmu. Lakukan itu apabila kau benar-benar siap, baby."

Yunho menolongnya memakai sepatu boot, helm dan kacamata ski. Mereka menaikki lift menuju ketinggian. Jaejoong berusaha menyeimbangkan diri di papan ski. Berkali-kali ia terjatuh, sudah terlalu lama dari terakhir kali ia bermain. Karena bimbingan Yunho, akhirnya ia dapat berdiri dengan sempurna. Mereka meluncur menuruni bukit. Jaejoong berteriak kegirangan, adrenalin terpompa sepanjang sistem tubuhnya.

Yunho meluncur tidak pernah jauh dari Jaejoong, menjaganya tetap aman. Dan apabila Jaejoong terjatuh ia bisa mencapainya dengan cepat.

Ketika mereka akan mendekati tempat pemberhentian, Jaejoong merasa lelah tetapi sangat bahagia. Kakinya bergetar, iapun terjatuh. Yunho dengan cepat meluncur menhampirinya.

Yunho berlutut, memandang Jaejoong dengan cemas. "Gwencanha?

Jaejoong melepas tiang ski dan mengambil segenggam penuh salju. Ia melemparkannya tepat mengenai muka Yunho.

"Yaaaakkkk..." Teriak Yunho. Salju memburamkan kaca mata skinya.

Jaejoong tertawa terkikik. Ia dengan cepat melepas peralatan skinya dan menjauh dari Yunho.

Yunho juga melepas papan skinya. Mengejar Jaejoong dengan segenggam salju ditangannya.

Sebelum Yunho bisa membalas. Jaejoong sudah melemparnya lagi, dan tepat mengenai kepala Yunho.

"You're dead!" Ancam Yunho. Ditanggapi kekehan oleh Jaejoong.

Yunho berlari mengejar Jaejoong. Jaejoong yang sibuk tertawa terlambat untuk menghindar. Yunho mendapatkan ujung topi Jaeket Jaejoong. Ia lalu meraih pinggang Jaejoong. Karena kemiringan bukit, dan salju yang dalam Jaejoong tidak bisa menyeimbangkan dirinya. Iapun terjatuh membawa Yunho yang memeluk pinggangnya. Mereka bergulingan diatas salju.

Akhirnya mereka berhenti. Jaejoong tertawa, ia berusaha berdiri dari atas tubuh Yunho. Tetapi Yunho menariknya dan membalik posisinya. Kini Jaejoong berada di bawah Yunho. Ia membuka kacamata ski Jaejoong, lalu membuka miliknya. Yunho menatap intens does eyes Jaejoong yang berbinar.

Blush

Rona merah kembali menghampiri pipinya.

"Yunnie..." Gumam Jaejoong lirih.

Dengan pelan Yunho memberikan ciuman di dahi Jaejoong, turun menuju kedua matanya, hidungnya dan yang terakkhir bibir cherry Jaejoong.

Jaejoong membalas ciuman Yunho. Mereka berciuman semakin dalam, tetapi suara 'klik' kamera menginterupsinya.

Mereka segera melepaskan diri dan melihat siapa gerangan yang mengganggu kegiatannya.

Jaejoong melihat namja tampan dengan perawakan seperti model dan mata yang sama dengan Yunho. Rambutnya lumayan panjang mengintip disela helmnya.

"Wuhuhuuuu... pemandangan yang tidak dapat dilihat setiap hari. Perfect!" Ucap namja itu sambil melihat hasil jepretannya. Namja itu seperti mengejek mereka... terutama Yunho.

"Apa yang kau lakukan disini." Tanya Yunho dengan mendesis.

"Itu mengapa pesawat kembali ke Seoul kemarin? Ah, ternyata kita pergi ketempat yang sama. Maengapa kau tak memberitahu sebelumnya? Kita bisa berangkat bersama. Tapi... sepertinya kau tak ingin berbagi..." Namja itu lalu melihat kearah Jaejoong yang diam mematung. Ia mengamati Jaejoong dari atas sampai bawah. "Ah... aku pahamm sekarang." Lanjutnya.

"Pergilah Yonghwa!" Ucap Yunho pada namja itu.

"Relax...brother, Apakah kau tidak akan mengenalkanku pada namja cantik itu?" Namja itu berlagak membuat ekspresi shock, menikmati ekspresi Yunho yang seperti terganggu.

Yunho mendesah. "Baiklah... Jaejoong, Yonghwa. Yonghwa, Jaejoong." Yunho hanya menunjuk dan menyebut nama. Perkenalan yang cukup singkat. "Sudahkan? Sekarang bisakah kau menyingkir?"

Namja itu tidak berbalik untuk pergi. Tetapi ia malah melompat dihadapan Jaejoong sambil mengulurkan tangannya.

"Jangan khawatir ia adalah sepupuku." Jelas Yunho yang melihat raut wajah khawatir Jaejoong.

"Sepupu?" Tanya Jaejoong kurang jelas.

Yunho dan namja itu mengangguk bersamaan.

Jaejoong kemudian tersenyum. Ia melepas sarung tangannya dan menyambut jabat tangan namja itu.

"Jung Yonghwa imnida." Ucap Namja itu memperkenalkan diri.

"Kim Jaejoong imnida." Balas Jaejoong ramah.

Yonghwa tersenyum. "Aku bisa melihat, mengapa akhir-akhir ini seorang Jung Yunho jarang mengunjungi kediaman Jung lagi." Ia menatap intens Jaejoong. "Ternyata kau menemukan bidadarimu."

Blush

Wajah Jaejoong merona karena pujian Yonghwa.

Yunho memberikan death glare kepada sepupunya itu. "Jangan menggombali milikku."

Yonghwa menyeringai. "Posesif Jung always." Ia lalu kembali menatap Jaejoong. "Apa sih yang kau lihat dari namja Jung itu?" Tanyanya pada Jaejoong.

"Yunho namja hebat." Jawab Jaejoong sambil memandang Yunho.

Yunho meraih pinggang Jaejoong merapatkan dirinya. "Sekarang kau bisa tinggalkan kami dengan damai."

Yonghwa mundur satu langkah. "Aw..Aw... padahal aku ingin menunjukkan kepada Jaejoong kemampuan bermain ski ku."

"Tidak akan." Yunho menaikkan alisnya.

"Wae? Takut untuk berkompetisi tuan Jung?"

Mata Yunho menyipit, ia menyeringai. "Tidakkah kau ingat siapa yang mengajarimu berdiri sehingga kau tidak terus-terusan mengeluh mengenai pantatmu yang pegal, huh?"

Yonghwa merasa tak terganggu dengan ejekan Yunho. "Maka dari itu seosangnim, tidakkah kau ingin menunjukkan kemampuanmu kepada namja cantikmu itu?"

Jaejoong terkekeh mendengar Yunho dipangil seosangnim. "Itu akan sangat menarik." Ucapnya antusias. "Ayolah Yun..."

Yunho menatap Jaejoong. "Benarkah? Kau ingin aku...?" Yunho menghentikan ucapannya ketika melihat Jaejoong mengangguk antusias.

"Baiklah..." Yunho menyerah.

"Aku hanya ingin melihat sisi lain Jung Yunho." Ucap Jaejoong.

Yunho menyeringai. "Sisi lain Jung Yunho adalah tidak pernah kalah." Ucapnya angkuh. Ia kemudian berbalik menatap Yonghwa. "Asal kau tau, sangat buruk mengganggu kencan orang lain."

"Asal kau tau juga, sangat buruk menyingkirkan sepupumu disaat kau sedang berkencan." Ucap Yonghwa tak mau kalah.

"Satu kata lagi aku akan menendangmu dari rumahku!" Ancam Yunho.

Yonghwa hanya terkekeh.

"Sampai jumpa di atas eumm... hyung." Ia lalu beranjak pergi.

"Good Luck." Ucap Jaejoong pada Yonghwa.

"Namja di sampingmu itu yang membutuhkannya." Balas Yonghwa sambil melambaikan tangannya.

Jaejoong tertawa.

"Ia memanggilmu hyung? Tetapi tadi..."

"Aku memang lebih tua darinya. Tetapi ia selalu memanggilku seenaknya. Kadang ia memanggilku hyung, tapi kadang hanya nama atau hey, bro. Ah... dia namja yang bebas. Aku tidak pernah mempermasalahkannya." Jelas Yunho.

Jaejoong mengangguk-angguk. "Kulihat kalian sangat akrab satu sama lain."

"Ne, dia salah satu adik sepupu teribut yang aku punya." Jawab Yunho sambil mendesah.

Jaejoong kemudian teringat Yonghwa tadi mengambil fotonya dengan Yunho ketika mereka berciuman.

"Omo.. Yunn... ia tadi mengambil foto kita." Panik Jaejoong.

"Jangan khawatir tentang itu. Yang akan ia lakukan dengan foto itu hanyalah memerasku agar meminjamkannya salah satu mobilku. Untuk mengesankan para gadis."

Setengah Jam kemudian, Jaejoong menyaksikan Yunho dan sepupunya beradu teknik bermain ski. Ia sangat kagum dengan kemampuan Yunho berpindah dari satu sisi ke sisi lainnya dengan cepat. Mereka menunjukkan kemampuan freestyle dalam bergerak. Yunho melakukan atraksi jungkir balik 360 derajat diudara.

Jaejoong dengan cepat merekam video Yunho. Sangat kagum dengan kemampuan Yunho. Ia bahkan bisa menjadi salah satu atlet apabila ia mau. Yonghwa juga sangat bagus. Tetapi ia kemudian teringat yang Yunho katakan. Ia adalah yang mengajarkan Yonghwa bagaimana cara bergerak. Tentu saja Yunho sebagai seorang guru adalah yang terbaik.

Jaejoong tersenyum lebar menghampiri mereka di tempat pemberhentian.

"Jadi...aku lebih hebat darinya kan?" Tanya Yonghwa pada Jaejoong.

"Kau luar biasa." Jawab Jaejoong. Yunho menaikkan alisnya kepada Jaejoong. "Tetapi... Yunho sungguh sangat luar biasa." Sambungnya.

Yunho tertawa bangga sambil memeluk Jaejoong.

Yonghwa mencibir. "Kau mengatakan seperti itu karena kau mengencaninya."

"Memang, ia yang mempunyai pesawat dan menculikku kemari. Jadi kau bisa melihat tanganku yang terikat olehnya." Jaejoong memperlihatkan tangannya yang seolah-olah terikat.

Yonghwa tertawa "Yeahh benar.. memang ia mempunyai pesawat yang membawa kita kemari. Mari kita berikan kemenangan itu padanya."

Yunho mendesah "Kalian berdua sangat tidak bisa dipercaya." Kemudian ia berkata lagi. "Karena aku menjadi pemenangnya, kalian harus mentraktirku kopi."

Jaejoong dan Yonghwa hanya terkekeh.

Yonghwa ternyata namja yang lucu dan menyenangkan. Ia berumur 22 tahun dan masih kuliah. Ia mempunyai saudara kembar. Jaejoong menebak, gen kembar pasti berasal dari keluarga Yunho.

Malamnya, ketika mereka kembali ke hotel. Jaejoong menunjukkan pada Yunho video rekaman yang ia ambil. Yunho tak menyangka Jaejoong merekamnya. Ia sangat senang.

"Kau sangat, sangat, sangat bagus dalam bermain ski Yun. Apa kau sering melakukannya?" Tanya Jaejoong.

"Ne. Ketika aku mempunyai waktu luang. Aku terbang kemari bersama sepupu-sepupuku untuk bermain ski. Kurang lebih sebulan sekali." Jawab Yunho.

"Tetapi gerakan jungkir balik yang kau lakukan terlalu berbahaya." Jaejoong memandangnya cemas.

Yunho tersenyum lembut. "Iya kalau kau tidak tau tekniknya. Aku melakukan sesuatu tidak sembarangan."

"Sombongnya..." Cibir Jaejoong.

Malam itu mereka kembali bercinta. Pelan dan penuh gairah. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Jaejoong merasa menjadi milik Yunho, dan Yunho adalah miliknya.

Jaejoong merebahkan kepalanya pada lengan Yunho yang tertidur. Ia memandang langit melalui jendela. Berfikir Yunho tidak pernah mengatakan kepadanya bagaimana perasaannya. Apakah ia merasakan sama seperti yang Jaejoong rasakan kepadanya? Ia sangat ingin tau.

Banyak resiko yang akan ia hadapi kedepannya. Hyun Joong, yang merupakan kebanggaan eommanya. Sahabatnya, mungkin akhirnya ia akan kehilangan mereka. Tetapi dari semua yang ditakutinya adalah kehilangan Yunho.

.

.

To Be Continued...

.

ANNNEEEEOOOOONNG...^_^...

Chinguuu-yaaaahhh... Aq bahagiaaaaaaaaaaaa bangetttt hari ini... Akhirnya pernantian selama 6 tahun terbayar sudah... Hiks...hiks :'(

Aq lagi overdoes sama Yunjae moment hari ini. Dari tadi jam 9 pagi aq viewing twitter trus ga bisa berhenti, mantengin CassieOT5, CassieOT2, JYJ fans, Yunho stand, Jaejoong stand, Yunjae Shipper, semuaaanyaaa... Buat cari info...

Dan akhirnyaaa... Terbayar sudah... Dua sahabat yang terpisah akhirnya bertemu huhuhuhu :'(

Mau tau apa aj? Nii aq kasi infony :

- Tiba2 tadi pagi ada kabar klo Jaejoong akan tampil di main stage, tempat Yunho mc. Dan benerrrr... Mereka satu panggung:D, Yunho dengan senyumnya, perhatiin jaejoong yg nyanyi dari belakang. Bahkan sepanjang jaejoong nyanyi ia tepuk tangan. Jaejoong disini keliatan lebih ceria dari biasanya, senyumnya lebar bgt kyk dulu. Hehehe.

-sehabis nyanyi jaejoong kyk membuat gesture fighting, mungkin ntu unt yunho-yaah...hihihi...

-Seusai acara, Yunho, Ayahnya dan manajernya duduk2 di luar tenda. Jae dari tenda besar keluar n nyamperin Yunho n ngasi salam (bow) sama ayahnya Yunho. Trus mereka bercakap2. Tak lama, Kakak keenam jaejoong ma anaknya dateng, Yunho memberi salam ke kakak Jaejoong n main2 sama keponakanny Jaejoong itu...

-n mereka melakukan kontak fisik chingu, ktnya sih setelah itu jaejoong pamit mereka saling berpelukan(Tp yg ini buktiny blm ad), lalu menepuk punggung satu sama lain (ini ada buktinya)

-dan yg paling sweet menurut q waktu Yunho bawain Jaket biru Jaejoong yg tertinggal. Waktu mereka ktmuan Jaejoog terlihat pakai kaos putih aja, n ad jaket biru kesampir di kursi. Sepertiny punya Jaejoong:D. Trus Jaejoong pulang duluan. Nah waktu Yunho pulang, ia bawa tuh jaket... OMG... Sang leader sejati, always take care everything about his member :D

-N msh bnyk lagi Yunjae momentny, cari sndiri aj yaaaa ^_^

...

Fuihhhh... Waktu itu aq ketawa2 sndiri, guling2...greget deh pokoknya...

Swweeett bingit sweeettt...

Apalagi smbil baca ff chapter ini, (Perfect date ever)

Gimana chingu? Double sweet? Or Overdose?#hehetiba2EXO :D

Krn aq janji klo ad Yunjae moment aq bakal update :), so aq update walaupun udah malammmm...

Aq jg mau jwb pertnyyan chingu nii...

-Kenapa aq pilih Hokaiddo?

Karena novel asliny pergi ke Alaska. Trus aq bingung mau ubah dimana yaaaa... Di Korsel ada si Sky resort terkenal. Tetapi ceritanya butuh penerbangan yang lumayan lama.(chp kmren Jaejoong smpt tidur siang kan?) jd aq pilih Hokkaido coz itu d Jepang n butuh waktu lama. Dan juga aq pernah baca komik Conan yg settingny bermain Sky di Hokkaido. Jd y aq pilih dsana aj.

-Emmm mengenai ktmu Hyun Joong d Jepang? Jwbnny Gak! Yeehh mereka tuh lagi asyik bulan madu. Uppps... Kencan:* jd ga ad pengganggu2 yg namany Hyun Joong merusak suasana aj...Haha...

Tp kenapa reader pengen bngt yak Hyun Joong muncul?

-Yg terakhir knapa aq pilih Yonghwa sbg sepupu Yunho? Itu cuma karna aq pilih aj idol yg bermarga 'jung'. N Yonghwa dsini bukan apa2 kog, hany selian...

-unt yg tny apa kwajiban Yunho? Hmmmm...apa ya?:? kwajiban Yunho selanjutnya adl nyanyi ama Jaejoong. wkwkwk#ngarep...^_^... (kewajiban Yunho adl rahasia jalannya cerita. Klo aq bocorin ga asyik, tp lo penasaran baca d wattpad aj ;)

.

Udah...udahh...ya ampunnn ocehan q banyak banget...

Reviewny 2 y chingu, ttg Yunjae moment hari ini ma jalannya cerita chpter ini...makasiiiiiiiiiiiii...^_^...

(eh, btw Yunho ma appanya putihan appanya loo, haha :D)