.
.
Chapter : Gomawo Chunnie-yah
.
.
Jaejoong mengambil tisu untuk mengelap air mata di pipi dan matanya. Kemudian ia mengambil tas kerjanya dan keluar dari ruangannya. Ia sangat berterimakasih karena saat ini adalah jam makan siang. Tidak ada orang di kantor, tidak ada orang yang melihat Yunho masuk ke ruangannya dan bertengkar dengannya.
Jaejoong keluar dari gedung kantornya dengan blank, ia tak tau ingin pergi kemana. Ia jelas tak ingin pulang ke apartemennya. Bisa-bisa ia berlari kearah Yunho tanpa berfikir. Yunho pasti sangat marah dan kecewa padanya saat ini. Jaejoong juga sangat marah padanya oleh setiap kata yang Yunho katakan tadi. Apa Yunho mengatakan yang sebenarnya? Perkataan Yunho tadi malah membuat ia bingung.
Saat ini Jaejoong membutuhkan seseorang untuk bercerita. Tetapi siapa? Sahabatnya? Tidak mungkin!. Adiknya? Dia pasti akan menghinanya. Hyun Joong? Tentu tidak, karena masalah ini juga menyangkut dirinya.
Dua puluh menit kemudian, Jaejoong terlihat sedang duduk di bar sebuah hotel sambil minum soju. Mungkin soju akan membantu menenangkan pikiran Jaejoong.
Jaejoong merasa canggung minum sendiri seperti ini. Ia benar-benar membutuhkan pundak untuk bersandar dan seseorang untuk bercerita.
"Tak kusangka kita bertemu kembali di tempat seperti ini. Kim Jaejoong-ssi." Ucap seseorang disamping Jaejoong.
Jaejoong memutar tubuhnya dan melihat namja yang terlihat familiar duduk disebelahnya. Namja itu memberi tanda kepada bartender untuk memberinya minuman. Bartender yeoja tersenyum lebar pada namja itu sembari mengedipkan matanya menggoda.
Jaejoong memutar matanya. Saat ini ia tak mood melihat hal seperti itu.
"Apa yang terjadi denganmu, Mr Kim?" Tanya Park Yoochun sambil meneguk beernya.
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Aku tak apa-apa."
"Haha, kau tak bisa menipuku!" Ucap Yoochun dengan enteng. Ia ingin membuat Jaejoong tersenyum.
"Aku tak mendiskusikan masalah pribadiku dengan seorang klien, Mr Park."
Yoochun nyengir. "Lihatlah... Apa kau melihatku memakai setelan jas?" Tanyanya.
Jaejoong memperhatikan penampilan Yoochun kali ini. Yoochun memakai T-shirt lengan panjang bewarna hijau dan celana jeans. Rambutnyapun ia gel berantakan. Yoochun tidak terlihat seperti pimpinan saat Jaejoong temui beberapa hari lalu.
"Ne, kau terlihat seperti remaja pembangkang sekarang." Ejek Jaejoong disambut kekehan Yoochun. "Tapi, mengapa juga aku harus menceritakan masalahku kepadamu?"
"Karena aku disini adalah orang asing." Yoochun menyeringai. "Jadi kau tak perlu khawatir bercerita padaku. Tak ada kemungkinan aku menyebar gosip tentangmu. Aku bukan namja seperti itu. Dan... Aku juga tak akan menghakimimu."
Jaejoong sangat butuh berbicara dengan seseorang. Dan sekarang, Yoochun menawarinya sebagai teman berbicara. Akankah Yoochun merasa kasihan padanya setelah ia bercerita?
Jaejoong mengambil nafas panjang, ia memanggil bartender untuk memberinya soju lagi.
"Arra, Aku pasti sudah sangat gila karena bercerita padamu." Ucap Jaejoong.
Yoochun tersenyum. "Sejujurnya, kau lebih terlihat putus asa dimataku dibanding gila."
"Kau benar." Dan Jaejoong akhirnya bercerita kepada seseorang... Bagaimana ia pertama bertemu dengan Yunho, bagaimana ia berakhir di apartemennya, dan bagaimana ia menyimpan rahasia hubungannya dari semua orang selama empat bulan terakhir ini. Ia menceritakan alasan ia bersama Yunho padahal ia mempunyai kekasih. Menceritakan mengapa ia tidak bisa memberitahu sahabatnya. Jaejoong bercerita kepada Yoochun hampir semuanya... Kecuali detail seperti kehidupan sexnya dan nama orang yang terlibat didalam ceritanya. Tapi sepertinya Yoochun tau siapa orang yang Jaejoong maksud dalam ceritanya.
"Jadi, namja ini yang bersama denganmu di bar dan menjemputmu di hotel waktu itu? Apakah ia kekasih resmimu atau... simpananmu?"
Jaejoong menaikkan alisnya lalu terkekeh atas sebutan yang Yoochun berikan untuk Yunho. Simpanan!
"Ania, dia kekasih tidak resmiku." Jawab Jaejoong.
"Tetapi ia terdengar seperti satu-satunya yang kauinginkan untuk bersama."
Jaejoong mengangguk. "Aku mencintainya." Air mata turun membasahi pipi Jaejoong. Ia menghapus dengan punggung tangannya, lalu memanggil bartender untuk memberinya minuman lagi.
"Sekarang aku mengerti." Ucap Yoochun.
"Mengerti tentang?"
"Malam itu di bar, setelah aku bertemu denganmu. Aku mencarimu untuk memastikan apa aku perrnah bertemu denganmu sebelumnya. Aku sangat penasaran, di lorong toilet waktu itu kau dan namja itu seperti sepasang kekasih. Namja itu menatapku seperti ingin membunuhku kau tau. Tapi setelahnya aku melihat kalian duduk terpisah. Kau dengan teman-temanmu, ia dengan teman-temannya. Sekarang aku paham, ia adalah kekasih rahasiamu."
"Ya seperti itu."
"Mengapa kalian putus?"
Jaejoong menceritakan kepada Yoochun tentang yeoja yang ia lihat di apartemen Yunho.
"Yeoja itu sangat cantik!" Ucap Jaejoong putus asa. "Bagaimana bisa aku menerima alasannya setelah apa yang kulihat dengan jelas. Yeoja itu keluar dari kamarnya dan menggunakan jubah mandinya."
"Dia namja tampan, Jaejoong-ssi. Aku yakin banyak yang menggoda dan berharap padanya." Ucap Yoochun.
"Dia playboy!" Ucap Jaejoong emosi. "Reputasinya mengatakan seperti itu."
"Dan kau mempercayainya?" Tanya Yoochun. Jaejoong menatap Yoochun dengan diam.
Yoochun mendesah. "Biar kutebak...apa namja itu kaya, pintar, pewaris suatu perusahaan atau anak seorang pengusaha, banyak namja dan yeoja mendekatinya dan ia bisa dengan bebas memilih, tidak pernah menjalani hubungan yang stabil. Tidak pernah berkomitmen kepada siapapun?"
Jaejoong mengangguk. "Ne, seperti itu."
"Daebak! Wow! Maka selamat datang diduniaku." seru Yoochun antusias.
Jaejoong mengamati Yoochun, Yah, benar Yoochun versi lain dari Jung Yunho.
"Tapi, tidak semua dari kita tidak mempunyai hati, Jaejoong-ssi. Tidak semua hanya berfikir tentang nafsu saja." Terang Yoochun.
"Hanya karena dia tidak berkomitmen dengan seseorang bukan berarti ia hanya memikirkan tentang sex. Kadang-kadang memang ia tidak bisa. Atau ia memang menunggu seseorang yang dicintainya. Mungkin itu kau. Kau diberinya kesempatan untuk melihat kedalam dirinya lebih jauh. Dan... kau masih saja percaya tentang pendapat orang lain?"
Jaejoong meatap Yoochun. Air mata tak terkontrol lagi mengalir membasahi pipinya.
Yoochun benar!
"Hiks... A...a...apakah... aku harus menghubunginya sekarang?" Tanya Jaejoong terisak.
Yoochun menaikkan alisnya. "Apa kau single? Apa kau sudah putus dengan pacar resmimu? Apakah kau sudah menceritakan semuanya kepada sahabatmu?"
Jaejoong menggigit bibir sambil menggeleng. "Ani. Ani. Ania..."'
"Maka jangan dulu." Ucap Yoochun pelan. "Jika kau ingin kembali kepada namja yang sudah kausakiti, maka kembalilah tanpa membawa beban untuknya. Maksudku kau sebagai namja bebas yang bisa memberikan apapun yang ia mau tanpa terhalang apapun lagi. Selesaikan dulu semua masalahmu. Setelah mendengar ceritamu aku mengerti dia hanya menginginkan satu hal darimu." Yoochun meneguk beernya. "Aku pikir kau tau apa itu."
Jaejoong menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Tuhan! Aku ingin menghubungi namjachinguku dan memutuskannya sekarang juga!" Ucap Jaejoong frustasi.
"Kupikir dalam kasusmu, mengambil tindakan terlalu tergesa-gesa tidak akan berhasil." Ucap yoochun. "Kau bersamanya untuk alasan yang salah. Kau bersamanya hanya untuk menyenangkan eommamu. Lakukan disaat yang tepat dengan persiapan yang matang. Jika kau dan dia berakhir baik-baik saja atau dapat menjadi teman. Itu akan meringankanmu dalam menghadapi eommamu."
Jaejoong meneguk sojunya. Dunianya seperti berputar sekarang. Ia lalu menatap Yoochun.
"Kau sangat bijak dan dewasa untuk usia dua puluh tiga tahun." Ucap Jaejoong.
Yoochun tersenyum. "Aku dilahirkan dan dibersakan oleh eomma yang sangat luar biasa. Mengdengar tentang eommamu...hmmm sepertinya ia eooma yang sangat buruk. Bagaimana bisa ia tidak peduli dengan perasaanmu?"
Dan seketika itu juga Jaejoong ingin menangis mendengar kebenaran dari kata-kata Yoochun. Ia merasa Yoochun merasa kasihan padanya sekarang.
"Ne, ia eomma yang buruk bagiku." Gumam Jaejoong. "Ia mencintai dosaengku, tapi tidak pernah mencintaiku. Adikkupun begitu, ia membenciku. Appaku tidak bisa diharapkan, ia terlalu menuruti eomma." Jaejoong tiba-tiba tertawa datar. "Hahaha... Dan kini... aku telah kehilangan seseorang yang bisa membuatku lebih berharga hiks..." Kemudian Jaejoong menangis.
Yoochun melingkarkan tangannya ke punggung Jaejoong dan memeluknya. Jaejoong menangis di bahu Yoochun, tidak bisa berhenti. Ia merasa sangat berterima kasih Yoochun ada disini saat ini. Memberinya saran dan nasihat secara bijak.
Jaejoong mendongak menatap Yoochun sambil menghapus air matanya. "Gomawoyo sudah mendengarkan aku dan memberiku nasehat chunie-yah." Ucapnya.
Yoochun tersenyum. "Tidak masalah... Hy...yaakkk..!" Yoochun tak menyelesaikan kalimatnya karena Jaejoong tiba-tiba rubuh. Ia pingsan karena mabuk. Yoochun mendesah ia lalu memapah Jaejoong keluar bar.
.
.
To be continued...
.
Anneong ...^O^...
Wow Chapter kmaren Cici dapet review 2x lipat n smua responnya pada marah-marah..,, haduuuuhhh,, -_-
APalagi Chp ini pendek bgt ya! hohoho.. karena emang chp kmaren n ini sbnerny satu chapter ttp aq pisah. Biar greget aja...#ngeek
Selalu ada chapter tersendiri untuk Chunnie... 'angel' Chunnie disini ...^0^...
Aq mau sedikit nanggepin reviewan chinguu niii :
-Ya emang karakter Jae dsini feminim. Hla gmana lagi aq remake bkn dr novel yaoi. Main roleny bener2 Co n Ce tulen. N dsini kuubah k Yaoi jadi ya gitu dah, JJ ngikutin. Anggep aja y JJ dsini sebagai namja Uke punya perasaan yg cencitip. Hihihi :)
-Unt karakter Co aka 'Yundut' (Aku suka panggilan ini :D) setuju kalau disebut tabu belaka, hahaha khayal bgt ya... hampir sempurna, karakter co impian lah. Karena itu didunia nyata kita hanya bisa bermimpi aja, ga bakalan ada wes tho...Tapi aku suka banget baca novel yg karakter Cony hanya khayalan sprt itu, tampan lah, billionaire lah, dominant lah, posesive lah, itu bacaan q... Hahaha :D
.
At last... makasii... semuanya makasii yaaa ^_^
Review lagi yaaa... gimana2 pendapat chingu ttg Yoochun disini? Ato ttg JJ?
Sbnrny Chpter selanjutny udah selesai, tapi-tapi aq mau update klo ada berita ttg Yunho ah (Kangen soalny ^0^)
Hohohohoho #senyumsetan
