.

Title : All The Wrong Reason

Author : Jerileekaye

Translate and Remake to FF : Cici ^o^

Genre : Romance, hurt, family, comfort

Main Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong (Yunjae)

Sub Cast : Kim Junsu. Shim Changmin, Park Yoochun, Hyun Joong, Karam etc

Rating : M

Lenght : Long Chaptered

Warning : Yaoi, maleXmale, alur lambat buanget

Disclaimer :

Cerita ini terinpirasi dari novel dengan judul yang sama karya Jerileekaye. Cerita ini aku buat versi Yunjae. Sebisa mungkin sesuai dengan keadaan fanfic yunjae sebagaimana mestinya. Aku juga membuat cerita ini yang notabene cerita "straight" menjadi "yaoi". Jadi tidak ada genderswitch, karena kalau dengan fanfic aku lebih suka "yaoi".

Alur cerita lambat, karena akan menerangkan segala sesuatunya secara mendetail. Ada adegan yang diperuntukkan bagi dewasa (NC-19). Cerita dikondisikan adanya toleransi penuh kepada sesama jenis menjalin kasih di Korea Selatan. (gay lumrah lah...) ada "seme" dan "uke" Hubungan "bi" sudah biasa terjadi. Karena ini hanya imajinasi n untuk hiburan semata. Jangan disangkut-sangkutkan ke kehidupan nyata. Nanti pusing sendiri ^o^

Apabila penasaran dengan alur ceritanya bisa membaca novel aslinya di Wattpad. Dan bila penasaran dengan versi yunjae dan yaoi diharap sabar menunggu. Bagi yang tidak berkenan dengan yang saya tulis, WAJIB JANGAN BACA! Simpel.

.

Chapter Title : End and Enough

.

.

Hari berikutnya Jaejoong melihat Yunho di Trend. Apa yang terjadi? Apa Yunho menemui Jaejoong? Apa mereka berbicara satu sama lain?

Jawabannya adalah Tidak!

Bahkan Yunho tidak melihat kearah Jaejoong seperti yang biasa ia lakukan. Jaejoong berusaha keras untuk tidak menangis saat itu. Hal yang ingin ia lakukan adalah melemparkan dirinya kepelukan Yunho. Meminta maaf karena telah bersikap bodoh. Tetapi nampaknya terlambat sekarang. Ia harus menanggung apa yang telah ia lakukan.

Jaejoong tau ia menyakiti Yunho sangat dalam. Dan ia tau apapun yang ia lakukan tidak dapat mengembalikan Yunho. Setidaknya, tidak sekarang. Ia harus membebaskan dirinya dulu. Suatu hari apabila semua berjalan lancar, ketika ia tidak merasa rumit dengan kehidupannya. Ia akan mencoba... Mencoba untuk memenangkan kembali hati Yunho. Karena namja yang ia harapkan hanya Yunho.

Namun, nampaknya Yunho terlihat begitu cepat move on. Karena Jaejoong mendengar sekarang hampir setiap malam ia kembali ke club dan berpesta dengan teman-temannya.

"Kau tau hyung-deul? Temanku kemarin melihat Yunho kembali ke Mirotic. Clubbing dengan seseorang. Dan kau tau itu siapa? Yeoja Go Ahra." Ucap Changmin di Jum'at malam ketika mereka makan malam bersama.

Jaejoong mendesah pelan. Di video ia berkata tidak mengenal yeoja itu? Dan sekarang apa? Ia bahkan pergi ke club bersama. Batin Jaejoong muram.

"Yah pastilah, yeoja tipe sepertinya itu selalu mendapatkan apa yang ia mau." Balas Junsu.

"Aku penasaran apa yang terjadi pada orang yang telah membuat seorang Jung Yunho jatuh terlalu dalam itu?" Ucap Changmin.

Junsu mengangkat bahunya. "Mungkin ia sedang meratapi kebodohannya. Ia bahkan tidak mau mendengar penjelasan Yunho. Aku pikir Yunho telah melakukan usaha terbaiknya. Hmmm... Beruntungnya Yunho, kehilangan satu datang satu yang baru. Dalam kasus ini, sepertinya Go Ahra yang akan menang. Kita lihat saja, tak lama Yunho pasti akan mengganti plat mobilnya dengan 4-H-R-4."

"Tapi sampai sekarang ia tidak mengubahnya, hyung. Pasti Yunho sangat tergila-gila dengan orang itu." Tambah Changmin.

Jaejoong ingin menutupi telinganya. Apa yang dikatakan Changmin dan Junsu membuat dirinya semakin buruk. Sejak tadi mereka hanya membicarakan Yunho, ia sudah berusaha mengusai dirinya. Dan kini ditambah dengan yeoja Go Ahra itu. Jaejoong ingin pulang sekarang Juga. Tidak taukah sahabatnya tentang perasaannya saat ini? Ia terluka.

Ponsel Jaejoong berdering, Hyun Joong menelepon. Baru kali ini Jaejoong bersyukur karena Hyun Joong meneleponnya. Jadi ia bisa mengalihkan dirinya dari mendengar percakapan tentang Yunho-Ahra.

"Yeoboseo darling." Sapa Hyun Joong. "Acaraku di Seoul telah selesai, orangtuaku mengajak kita semua pergi ke pulau Jeju weekend ini. Otte?"

"Joong-ah, dapatkah kita berbicara lebih dahulu?" Tanya Jaejoong. "Aku tidak yakin bisa ikut dan bertemu dengan orangtuamu,"

"Mwo?" Jaejoong mendengar pekikan, tapi bukan suara Hyun Joong. "Appa dan eomma sudah setuju dan besok mereka akan langsung terbang ke Jeju. Mereka akan bertemu kita di Jeju Toscana Hotel pada siang hari. Semua sudah diatur, kau tidak bisa menghindar." Cerocos Karam.

Jaejoong memutar matanya malas.

"Aku akan menjemutmu pukul tujuh pagi." Suara Hyun Joong kembali.

"Tapi, kita benar-benar perlu bicara." Paksa Jaejoong.

"Maka kita akan bicara disana. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu."

Jaejoong mendesah berat. "Arraseo. Sampai jumpa kalau begitu."

Kemudian Jaejoong menutup sambungannya lalu bercerita kepada sahabatnya tentang weekend ini.

"Kajja kita pergi!" Ucap Changmin. "Kita akan pergi denganmu, hyung."

"Ne Joongie kami akan menemanimu." Sambung Junsu.

Jaejoong tersenyum kepada sahabatnya. "Gomawo, aku akan selalu membutuhkan kalian."

"Pukul berapa kau berangkat, dan dimana kau menginap?" Tanya Junsu.

"Hyun Joong menjemputku pukul tujuh. Karam bilang di Jeju Toscana Hotel." Jawab Jaejoong.

"Oke, aku akan memesan hotel disana. Tapi sepertinya kita akan sampai disana siang hari karena aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu di Trend." Jelas Junsu diikuti anggukan Changmin.

"Kami selalu bersamamu apapun yang terjadi. Aku yakin setelah kau lepas dari Hyun Joong. Kau akan menemukan kebahagiaan lebih besar." Ucap Changmin. "Lihat dirimu sekarang, hyung. Sejak kau membeli apartemenmu sendiri kau banyak berubah. Kau berhenti menggunakan kacamatamu, merubah penampilanmu, menjadi lebih percaya diri. Bahkan kau diangkat menjadi Assistant Editor-in-Chief."

"Aku juga menghasilkan di perdagangan saham." Tambah Jaejoong.

"Kau bermain saham Joongie?" Tanya Junsu.

"Aku hanya coba-coba. Tetapi rupanya aku pemula yang beruntung. Menyenangkan mengetahui aku menghasilkan di tempat lain." Jawab Jaejoong.

"Wow kau sangat beruntung, hyung! Tinggal mencari pasangan, hidupmu sempurna." Tambah Changmin.

Ya sempurna, apabila Yunnie masih disisiku saat ini! Batin Jaejoong muram.

"Setelah ini menjelajahlah Joongie, carilah seseorang yang dapat membangkitkan semua syaraf ditubuhmu hanya karena sentuhannya." Ucap Junsu dengan senyum nakal.

Aku sudah menemukannya Su-ie, dan aku kehilangannya. Ratap Jaejoong.

...

"Ayo cepat... Cepatt... Kita harus sampai bandara 30 menit lagi." Teriak Karam dari pintu apartemen Jaejoong.

Jaejoong yang sudah siap segera menghampiri Karam supaya berhenti berteriak. Hyun Joong mengikuti dari belakang sambil membawakan salah satu tas Jaejoong.

"Arra, aku sudah siap." Ucap Jaejoong masih mengantuk. Ia tidak bisa tidur nyenyak semalam. Ia terus berfikir apa yang akan ia katakan pada Hyun Joong untuk mengakhiri hubungan ini. Apabila mereka dalam satu pikiran yang sama, maka Jaejoong tidak akan khawatir. Akan berakhir dengan mudah. Tetapi apabila Hyun Joong keras kepala dan tidak mau melepaskannya. Itu akan menjadi mimpi buruk bagi Jaejoong.

Ditambah lagi pikiran tentang Yunho dan Ahra.

Jaejoong bertanya-tanya. Apa ia nanti akan berpapasan dengan Go Ahra di lift? Apakah Ahra menghangatkan ranjang Yunho semalam? Apa Yunho perhatian padanya seperti yang ia lakukan pada dirinya? Apa Yunho telah berhasil membuat yeoja itu jatuh hati padanya?

...

Selama perjalanan, Jaejoong lebih banyak diam. Ia hanya merespon singkat apa yang ditanyakan Hyun Joong. Di pesawat ia memilih tidur, membiarkan dua orang disampingnya berbicara omong kosong tentang penyakit.

Hari menjelang siang ketika mereka tiba di hotel. Hyun Joong bertanya kepada resepsionist apabila salah satu orang tua mereka sudah sampai, tetapi ternyata mereka belum datang.

"Orang tuaku akan datang bersama orang tuamu siang ini." Ucap Hyun Joong pada Jaejoong. Lalu ia berputar menghadap Karam. "Karam-ah kamarmu nomor 204" Lalu menghadap Jaejoong lagi. "Darl, kita akan berada di kamar nomor 313."

Jaejoong membelalak. "Mwo...?!"

Ania... Ini tidak boleh terjadi!

"Ani..ani,,Joong-ah" Jaejoong menghirup nafas dalam. "Aku sekamar dengan Karam saja."

"Wae?" Tanya Hyun Joong dengan tajam.

"A..a..ku hanya ingin bersama dosaengku." Jawab Jaejoong gugup.

"Tetapi aku kekasihmu, Jae. Tugasmu adalah selalu berada di sisiku." Geram Hyun Joong.

Jaejoong menghela nafas. Ia harus tegas dan berani menghadapi Hyun Joong. "Ania, aku bukan bodyguardmu Joong-ah!"

Hyun Joong memalingkan wajahnya. "Arra. Lakukan apa yang kau suka. Aku tak akan bisa menandingi sifat keras kepalamu."

Jaejoong mendesah lega. Masa bodoh apa yang Hyun Joong pikirkan tentangnya sekarang.

Kamar karam terlihat agak kecil. Hanya ada satu ranjang dan satu sofa.

"Aku akan tidur di sofa, kau tak usah khawatir." Ucap Jaejoong pada Karam. "Sepertinya Hyun Joong memang tidak mengira aku tak mau sekamar dengannya."

"Oh, come on... Jangan terlalu kolot. Kau bertindak seperti seorang yang masih suci saja." Ucap Karam sarkatis. "Aku akan tidur dengan kekasihku apabila kita bersama."

Jaejoong tak percaya apa yang barusan ia dengan dari Karam. Seorang Karam yang sangat alim. Rupanya...

"Jangan munafik. Ketika kau masih single, kau sering bersenang-senang, berpesta dengan teman-temanmu. Kau pasti meikmati free sex kan? Tidur bersama beberapa namja dan yeoja berbeda." Tuduh Karam santai.

Sekarang ini Jaejoong sedang membawa tas tangannya. Ingin sekali ia menampar Karam dengan tas itu. "Dengarkan aku Karam. Asal kau tau, aku tidak pernah tidur dengan siapapun "Aku berada di high school ataupun di university. Yah, sangat menyedihkan memang kita tidak pernah berkomunikasi layaknya saudara. Jadi jangan menuduhku. Kau berbicara seakan-akan free sex hal yang biasa saja." Ucapnya dengan emosi.

Jaejoong terkejut Karam malah tertawa. "Hahaha, Ayolaah...hyungie... jangan menjadi namja yang boring... hanya karena kau menerima tekanan dari eomma, kau melalukan apa yang ia katakan terus menerus. Kau hanya perlu menunjukkan apa yang ia mau apabila didepannya. Dan ketika ia tak ada, kau bebas! Lalukan apapun semaumu. Kau terlalu datar dan jujur."

"Dan kau munafik." Sembur Jaejoong. "Asal kau tau juga, aku tidak mau sekamar dengan Hyun Joong bukan untuk mengesankan eomma. Tetapi karena memang aku tidak ingin."

"Wow, maka kupikir hubunnganmu dengannya tidak akan bertahan lama lagi. Sangat terkejut mengetahui hubungan kalian bertahan selama tiga tahun!"

"Mungkin itu semua karena memang Hyun Joong tidak ingin melepaskanku." Ucap Jaejoong dengan nada angkuh. Ia tak ingin kalah dari Karam.

Skakmat

Karam memutar matanya lalu pergi meninggalkan Jaejoong.

Jaejoong menghela nafas, tak menyangka adiknya yang terlihat alim bisa berkata seperti itu.

Kemudian ponsel Jaejoong berbunyi.

"Hyung, kami sudah sampai." Seru Changmin.

Jaejoong mendesah lega."Ah, syukurlah... Aku tidak tahan berlama-lama satu ruangan dengan Karam."

Changmin terkikik dari seberang telepon. "Hehehe, sabar hyung, kami baru akan chek in. Setelah itu akan aku sms nomor kamarnya."

"Arraseo. Sampai jumpa nanti." Jaejoong menutup ponselnya.

Jaejoong pergi kekamar mandi. Mencuci muka untuk menyegarkan diri dari rasa kesal di hatinya kepada Karam. Ketika selesai, ia menemukan Karam yang sedang duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya.

"Aku akan pergi menemui sahabatku, Changmin dan Junsu. Mereka juga berllibur disini." Ucap Jaejoong pada Karam yang hanya ditanggapinya dengan "Hmmmm..."

Jaejoong menghela nafas ketika ia sedang menunggu lift. Ia berfikir tentang apa yang Karam ucapkan tadi. Karam benar-benar munafik kalau begitu. Melakukan apa yang eomma inginkan didepannya, dan melakukan hal semaunya dibelakang.

Ding

Pintu lift terbuka, Jaejoong terkejut sampai mundur satu langkah kebelakang ketika melihat Yunho ada didalam lift.

Yunnie...

Apa yang ia lakukan disini?

Mereka membeku beberapa detik, namun Yunho segera memalingkan wajahnya. Jaejoong menguatkan hatinya, lalu masuk ke dalam lift itu.

Yunho seperti biasa mengenakan kaca mata hitam pekat. Sehingga Jaejoong tidak tau apakah Yunho melihatnya, meliriknya atau menatapnya saat ini. Jaejoong memencet nomor lantai yang dituju dan langsung menunduk. Ia meremas kuat jari-jarinya. Yang ia inginkan sampai mati saat ini adalah melemparkan dirinnya ke pelukan Yunho. Merasakan kembali kehangatan dan kenyamanan yang sering Yunho berikan padanya. Menyadarkan dirinya bahwa Yunho memang nyata dan bersamanya selama ini.

Hanya satu kata...jebal, satu kata... dan aku akan melemparkan diriku kepelukannya...

Tetapi pintu lift terbuka dan Yunho langsung keluar tanpa menoleh sedikitpun pada Jaejoong. Seakan Jaejoong tak ada disana. Seakan ia tak pernah mengenal Jaejoong.

Air mata dengan sendirinya keluar dan turun membasahi pipi Jaejoong. Yunnienya yang dulu sangat hangat kepadanya kini menjadi sedingin es. Ya itu memang salahnya, ia harus menerimanya.

Sebelum mengetuk pintu kamar sahabatnya, Jaejoong mengusap air mata dan menghela nafas menenangkan dirinya.

"Kau sudah berbicara dengan Hyun Joong?" Tanya Junsu segera setelah Jaejoong masuk.

Jaejoong menggeleng lemah.

"Joongie-ah, nasihat dariku adalah kau secepatnya berbicara dengannya. Sebelum orangtua kalian tiba." Saran Junsu.

Changmin tiba-tiba datang dan berseru. "Aku tadi melihat Jung Yunho di hotel ini."

"Ya, aku juga melihatnya tadi di lobby." Sambung Junsu. "Pagi tadi aku bertabrakan dengannya. Aku mengatakan kepadanya kalau aku sedang diburu waktu untuk pergi kesini. Ia lalu tersenyum padaku. Semenjak wawancara itu ia sama sekali tidak sombong lagi padaku."

"Yah kau beruntung, hyung. Tapi ingat, Jangan terlalu terpesona padanya. Ia hanya berminat dengan seseorang yang berstandar high class." Ucap Changmin memperingatkan.

Junsu tertawa. "Hahaha, aku tidak berfikir sampai sana Minnie. Hanya tau ia mengenalku saja aku sudah senang."

Jaejoong terdiam mendengar apa yang dibicarakan sahabatnya. Memang seperti mimpi saja hubungan dengan Yunho yang ia jalin selama ini mengingat ia hanya namja biasa, pegawai biasa. Jauh dari kata high class.

"Apa ia bersama dengan seseorang? Apa ia bersama dengan yeoja Go Ahra?" Tanya Changmin,

"Molla, aku tadi tidak melihat ia bersama seorang yeoja. Aku di loby hanya melihat ia bercakap-cakap dengan beberapa namja yang kupikir teman-temannya. Tapi apabila mereka dalam sebuah hubungan bisa saja. Mungkin Go Ahra akan kemari malam hari. Ia pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bersama Yunho kan?" Jawab Junsu.

"Tapi kurasa mereka tidak berkencan. Yunho mengatakan di video kemarin ia tidak sedang berhubungan dengan orang lain karena hatinya masih terikat pada orang itu. Tapi apabila benar, aku yakin yeoja itu hanya menjadi maninan Yunho selama tidak lebih dari satu bulan. Digunakan lalu dicampakkan. Menyedihkan sekali." Timpal Changmin.

Jaejoong ingin menyangkal pernyataan Changmin. Ia ingin mengatakan Yunho tidak seburuk itu. Dengannya, Yunho tidak seperti itu.

...

Jaejoong makan siang bersama Junsu dan Changmin. Ia sebenarnya merasa tidak enak karena tidak makan siang bersama Hyun Joong dan Karam. Tetapi ia butuh untuk menyegarkan kepalanya dan menyiapkan tenaga. Karena setelah ini ia akan menemui Hyun Joong dan memintanya putus. Junsu benar, lebih cepat lebih baik.

Setelah makan siang, Jaejoong merasa ini saat yang tepat. Ia tidak membutuhkan skenario. Ia hanya butuh mengatakan apa adanya saja. Bahwa ia tidak mencintainya.

Jaejoong mengetuk pintu kamar Hyun Joong. Tapi tidak ada jawaban. Ia tetap mengetuknya beberapa kali. Nampaknya Hyun Joong memang tidak berada di kamarnya. Sepertinya ia masih makan siang dengan Karam. Jaejoong mendesah, lalu ia memutuskan untuk kembalik ke kamarnya.

Ya Tuhan! Buatlah ini menjadi lebih mudah... Doa Jaejoong.

Jaejoong membeku. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang.

Sesaat setelah membuka pintu kamarnya, ia melihat pemandangan yang tak terduga.

Didepan matanya sendiri...

Jaejoong melihat Karam. Lebih tepatnya punggung telanjang Karam. Kepalanya terlonjak-lonjak kebelakang. Kakinya terpisah. Dan ia bergerak naik turun. Bergerak diatas... Hyun Joong. Tangan Hyun Joong berada di pinggang Karam. Dan mereka... Mendesah!

Jaejoong masih terdiam. Ia bertahan berdiri disana menyaksikan adegan didepannya. Ia shock, adiknya dan Hyun Joong... Ternyata memang ini yang mereka lakukan dibelakangnya. Ia tidak marah tetapi malu, malu mempunyai adik seperti Karam.

Tiba-tiba Hyun Joong menyadari Jaejoong berdiri disana.

"OMO!" Pekik Hyun Joong terkejut. Ia lalu mendorong Karam dari atas tubuhnya dan berdiri. Tidak perduli bahwa ia masih telanjang.

Jaejoong tersenyum sarkatis. Ia bersyukur tidak perlu menunggu dan berbicara bertele-tele untuk memutuskan Hyun Joong saat ini. Semuanya jelas.

"Ah, aku mencarimu tadi karena aku ingin mengatakan sesuatu yang penting. Tetapi aku tiba-tiba menemukan suatu adegan yang tak terduga. Rupanya kau tengah sibuk. Okay, aku tidak akan berlama-lama Hyun Joong-ah. Terimakasih karena telah membuat apa yang ingin aku katakan menjadi lebih mudah." Ucap Jaejoong dengan mengontrol suaranya agar tetap kalem. "Kita Putus! Selamat tinggal!" Ucapnya dengan jelas didepan muka Hyun Joong.

Jaejoong beralih ke Karam yang tengan memegang selimut menutupi tubuhnya. "Wuhuu, Karam-ah, selamat untukmu. Eomma pasti sangat-sangat senang dengan berita anak kebanggaannya tidur dengan calon menantu kebanggaannya. Chukkae! Aku yakin eomma tidak keberatan walaupun calon menantu itu adalah kekasih kakakmu sendiri!"

Dan Jaejoong keluar Kamar itu, menutup pintu dengan suara keras. Mengabaikan dua manusia yang sedang berdiri kaku didalamnya.

Jaejoong bergetar ketika ia memencet tombol lift. Ketika lift terbuka ia langsung beradu pandang dengan Yunho yang berada di dalamnya.

Ya Tuhan! Tak bisakah ini menjadi tidak lebih buruk! Teriak Jaejoong dalam hati.

Jaejoong berusaha sangat keras untuk tidak menangis. Ia memencet tombol nomor lantai kamar sahabatnya. Melihat Yunho berdiri disampingnya saat ini... Disaat ia sangat membutuhkan seseorang... Ia ingin berada di pelukan Yunho. Menangis sekencang-kencangnya disana.

Tetapi selangkah ia ingin melakukannya. Ponsel Yunho berdering.

"Yeoboseo. Nuguseo?" Tanya Yunho pada seseorang diseberang. "Ahra? Ahra...hmm Go Ahra?"

Deg

Deg

Deg

Jantung Jaejoong berdetak keras. Ternyata Tuhan membuat semuanya menjadi lebih buruk.

"Oh, ne. Aku baik-baik saja. Aku ..."

Jaejoong tidak mendengar apa yang Yunho katakan selanjutnya. Karena tepat saat itu pintu lift terbuka dan ia langsung berlari meninggalkan Yunho.

Cukup!

Cukup sudah kepahitan yang ia terima satu hari ini. Jaejoong tidak akan bisa menerima kepahitan yang lain.

.

.

To Be Continued ...

.

Hueeeee poor Joongie...TT_TT...chapter ini perasaan JJ diaduk-aduk ga karuan.

Tapi akhirnya mereka putus kan? Karena adegan tak terduga. Hehehe Greget y si Karam? ^O^

Tetapi tenang chingu-yaa chapter besok mereka akan kembali bersama :)

Ada chingu yang pingin bsok tgl 31 Cici update n Yunjae dah balikan. Okay, Cici memang akan update d tgl itu kog ^-^

.

Makasii semuanya yang sudah memberi review :)

Kalian semangatku (^3^)

Jangan lupa Pendapatnya chapter ini y chingu...

-Hyun Joong n Karam gituan? Oh my God Sun #JunsuScream

-Ada apa dngn Yunho? kenapa ia slalu muncul dimanapun Jaejoong berada?

-Apakah Ahra akan muncul untuk memperkeruh suasana?

Yang udah tau 'stttss' dulu ya ^_^

Review Juseyoo...

Chapter selannjutnya tunggu tgl 31 nee...

Gidaryeoo...